Jumat, November 20, 2009

MENJAGA STT GRAPHE BUKAN DARI SERANGAN LUAR, MELAINKAN PENYUSUP DARI DALAM

Belajar dari sejarah sekolah theologi lain, yang pada awal didirikan memiliki tujuan yang sangat agung, dan juga pengajaran doktrin yang sangat fundamental konservatif, namun hanya dalam tempo yang sangat singkat berubah menjadi sekolah theologi liberal atau kharismatikal, maka segenap keluarga besar STT GRAPHE beserta seluruh pendukungnya harus sungguh-sungguh waspada. Sekali STT GRAPHE jatuh ke pimpinan yang tidak cinta kebenaran, maka pupuslah harapan kita akan sebuah institusi efektif yang memproduksi pelayanan Tuhan yang menyenangkan hati Tuhan.

Sering kali pada awalnya seseorang terlihat sepertinya sangat mencintai kebenaran, misalnya berseru-seru dimimbar, bahkan mungkin hingga pernah mengajarkan kebenaran, namun kemudian kita mendengar bahwa ia telah membuang doktrin alkitabiah yang pernah dipegang dan ajarkannya, dengan mengkompromikan kebenaran untuk mencapai kesuksesan materi dan duniawi.

Dari pengalaman yang masih sangat sedikit namun sudah cukup untuk menyadarkan pimpinan STT GRAPHE bahwa sebelum ada pembuktian melalui cobaan dan himpitan dalam suatu jangka waktu, janganlah terlalu cepat menyimpulkan bahwa seseorang benar-benar cinta kebenaran.

Seseorang yang berani kelaparan demi kebenaran, belum tentu ia berani mati demi kebenaran. Seseorang yang kalau dibantu secara finansial akan tetap berdiri tegak di atas kebenaran, namun kalau tidak dibantu lalu berkompromi adalah orang yang melayani perut bukan melayani Tuhan. Dan seseorang yang mengkompromikan kebenaran agar bisa diterima oleh berbagai kelompok, atau menjadi terkenal, atau bisa terlihat berhasil secara jasmani, materi dan duniawi adalah Demas abad modern. Seorang yang sungguh-sungguh cinta kebenaran adalah seorang yang siap kelaparan, bahkan siap mati demi kebenaran, yaitu yang memikul salibnya tiap-tiap hari sambil mengikut Tuhan. Sama sekali bukan berarti orang yang cinta kebenaran harus selalu hidup miskin dan menderita setiap saat. Jika ada berkat Tuhan yang alkitabiah, tentu boleh diterima dan disyukurkan. Tetapi jika tidak ada, ia tidak menukarkannya dengan kebenaran yang dimilikinya. Sebaliknya ia akan mempertahankan kebenaran dengan nyawanya.

Sumber: PEDANG ROH Edisi 41 Tahun X Oktober-November-Desember 2004

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar