Tampilkan postingan dengan label BAPTIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAPTIS. Tampilkan semua postingan

Sabtu, November 13, 2010

Penganiayaan Terhadap Kaum Baptis

Gereja Orthodoks Rusia telah memiliki sejarah yang panjang dalam penganiayaan terhadap kaum Baptist di Rusia. Sejak 20 Agustus 1867 ketika seorang Baptist Jerman yang bernama Martin Kalweit membaptis selam Nikita Voroin di sebuah sungai kecil dekat sungai Kura di Kaukasus sebelah selatan Rusia. Penganiayaan gereja Orthodok Rusia terhadap kaum Baptis semakin nyata.

Akhirnya pada tahun 1879 ‘sekte’ Baptis diakui secara hukum namun toleransi sebenarnya tidak terjadi, karena gereja Orhodoks takut dengan penginjilan yang agresif dan misi yang dilakukan kaum Baptis. Sebelum 1917 ketika sebagian besar kekaisaran jatuh ke tangan Komunis, gereja Orthodok adalah gereja negara dan mereka memakai kepolisian untuk menganiaya kaum Baptis. Ada seorang pemimpin Baptis menulis hal ini mengenai hari-hari penganiayaan pada masa itu. “ini adalah masa-masa yang sulit, mengerikan, dianiaya, diusir, dipenjara, dipukul adalah hal-hal yang dialami orang-orang percaya yang terus menerus terjadi bagi mereka yang sungguh-sungguh percaya. Di dalam rasa takut yang terus menerus ditangkap polisi mereka tetap mengadakan pertemuan jemaat di hutan, di bawah tanah, di kuburan, di rumah-rumah.

Rabu, Februari 17, 2010

TIDAK MEMBAPTIS?

Baptisan adalah topik yang sudah banyak dibahas. Namun demikian tentu tidak ada larangan untuk membahasnya lagi terutama karena topik ini membawa pengaruh yang sangat besar, karena dihubungkannya oleh kelompok tertentu dengan keselamatan. Sehingga timbul perdebatan tentang posisi baptisan dalam keselamatan jiwa kita.

APAKAH BAPTISAN MENYELAMATKAN?

Jawaban terhadap pertanyaan di atas sangat mempengaruhi kondisi keselamatan seseorang termasuk juga kondisi gereja yang mengajarkannya. Sesungguhnya tidak ada satu ayat pun yang mendukung konsep dibutuhkannya baptisan dalam keselamatan jiwa kita. Jelas sekali bahwa kita diselamatkan dengan iman yang didahului atau bersamaan dengan pertobatan (Ef.2:8-9).

Manusia berdosa tidak bisa pergi ke Sorga karena Allah selain mahakasih, Ia juga mahasuci dan mahaadil. Ia tidak dapat menyangkal diriNya, sebab itu tidak mungkin hanya karena salah satu sifatNya “kasih” lalu orang berdosa bisa menghampiri diriNya tanpa terhalangi oleh sifat lainnya yaitu mahasuci dan mahaadil. Itulah sebabnya satu-satunya jalan penyelesaian dosa manusia ialah melalui penghukuman. Dan untuk itulah maksud kedatangan Yesus dan penyalibanNya di kayu salib. Penyaliban Kristus adalah penghukuman atas dosa seisi dunia.

Kita diselamatkan hanya melalui bertobat dan percaya bahwa penghukuman Yesus adalah penghukuman atas semua dosa kita. Yesus menggantikan saya dihukumkan atas semua dosa saya, dan kini saya hidup bagi-Nya.Tidak boleh ditambah dengan apapun.

Jika diperlukan baptisan untuk memastikan seseorang masuk Sorga, maka jasa seorang“pendeta” untuk memasukkan orang ke Sorga akan sangat besar. Dan akan banyak sekali orang yang berakhir di Neraka karena pendeta terlalu sibuk, atau ia bertobat hari Senin dan mati hari Sabtu sebelum sempat dibaptis pada hari Minggu. Jadi, pembaca bisa berpikir bahwa konsep dibutuhkan baptisan untuk masuk Sorga itu bukan hanya tidak alkitabiah bahkan tidak masuk akal.


Senin, Desember 29, 2008

CARA BAPTIS PERCIK ATAU SELAM?

Apakah yang harus menjadi cara baptisan? Tak perlu diragukan bahwa Perjanjian Baru mengajarkan bahwa orang-orang percaya benar-benar dibenamkan, yakni dimasukkan ke dalam air dan dikeluarkan lagi. Apakah itu Yohanes Pembaptis yang membaptis di Sungai Yordan, ataupun Filipus yang membaptis sida-sida Ethiopia, teks Alkitab memberitahu kita bahwa mereka turun ke dalam air dan kemudian keluar dari air. Cara inilah yang paling baik melukiskan penjelasan Paulus tentang baptisan Roh sebagai kematian, penguburan, dan kebangkitan (Roma 6:1-4).

Rabu, Desember 03, 2008

SEJARAH BAPTIS (Bag 3)

PERJUANGAN MELAWAN PENYELEWENGAN
Pada mulanya tercapai kesatuan didalam doktrin-doktrin dan praktek-praktek yang fundamental. Selangkah demi selangkah beberapa gereja mulai menyimpang dari jalur-jalur yang lama dan mencari-cari berbagai temuan. Disiplin menjadi lemah dan pribadi-pribadi berpengaruh yang dulunya tidak ditoleransi, diperbolehkan untuk mengambil bagian didalam kehidupan pelayanan. Waktu berubah dan beberapa gereja juga berubah seiring dengan waktu. Diantara mereka ada yang telinganya gatal dan mereka mengejar hal-hal yang baru. Dogma tentang baptisan yang menyelamatkan pada mulanya diterima banyak kalangan, sehingga orang lebih suka mencuci dosa mereka didalam air daripada didalam darah Kristus. Para pelayan menjadi ambisius dengan kuasa dan menginjak-injak independensi gereja. Mereka menyesuaikan diri dengan kebiasaan duniawi dan kesenangan masyarakat.

SEJARAH BAPTIS (Bag 2)

JEMAAT (GEREJA) PURBA

Periode gereja purba (100-325 AD) sangat tidak jelas. Banyak bahan yang telah hilang; kebanyakan bahan yang tersisa telah ditambahi oleh para penulis dan penerjemah Kepausan Abad Pertengahan; dan kebanyakan telah diliputi kontroversi. Karena itu, peringatan harus diperhatikan sungguh-sungguh sebelum sampai pada kesimpulan yang tetap. Generalisasi terburu-buru terhadap kesalahan doktrinal yang meliputi seluruh Kekristenan dan gereja harus diterima dengan kewaspadaan yang tinggi. Tuduhan yang aneh dan mengerikan terhadap orang-orang Kristen mulai menjadi biasa. Kerahasiaan pertemuan kebaktian mereka dianggap kebencian yang disengaja karena tidak tahan menghadapi terang, bukan karena penyebab yang sebenarnya, yakni karena ketakutan terhadap penganiayaan. Orang-orang Yahudi khususnya getol membuat-buat dan menyebarkan kisah-kisah demikian. Dengan cara demikian, nama orang Kristen didiskreditkan.

Senin, November 24, 2008

SEJARAH BAPTIS (BAPTIST'S HISTORY)

BAB I

JEMAAT (GEREJA) PERJANJIAN BARU

Setelah Tuhan Yesus menyelesaikan pekerjaan di atas bumi dan sebelum terangkat ke dalam kemuliaan, Ia memberikan amanat kepada murid-muridNya sebagai berikut: "KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat. 28: 18-20). Sehubungan dengan amanat ini Yesus memberikan otoritas kepada jemaatNya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia.

Sebuah jemaat Perjanjian Baru adalah sekelompok orang percaya yang sudah dibaptis yang secara sukarela menggabungkan diri bersama untuk memelihara (mempertahankan) ordinansi dan pemberitaan Injil Yesus Kristus.

Kamis, November 13, 2008

TUHAN YESUS IMAM BESAR KITA

GBII--Selama masa pelayanan-Nya yang singkat, yaitu tiga setengah tahun, Yesus telah mengerjakan lebih banyak hal dibandingkan dengan apa yang dikerjakan oleh orang lain yang pernah hidup. Alkitab menyatakan bahwa jika seandainya seluruh pekerjaan Yesus dituangkan dalam bentuk tulisan, bahkan seluruh dunia sekalipun tidak dapat memuatnya.

Sebelum memulai pekerjaan-Nya di hadapan umum, Yesus dibaptis dalam air oleh Yohanes Pembaptis, dan melalui baptisan-Nya oleh Roh Kudus Ia diteguhkan menjadi anak Allah. Itu membuktikan bahwa seluruh pekerjaan Yesus berasal dari Allah, dan sesuai dengan kehendak Allah. Sesudah berpuasa selama 40 hari 40 malam di padang gurun, Yesus digoda oleh Setan. Namun, Ia berhasil mengusir setan itu dengan jalan mengutip Firman Allah. Sejak saat itu pelayanan-Nya yang penuh dengan kuasa dimulai, dan kehidupan Yesus yang singkat itu dapat diringkaskan sebagai berikut : kelahiran, penderitaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya. Pelayanan Yesus terutama meliputi hal pemberitaan kabar baik tentang kerajaan surga, penyembuhan orang sakit, dan penghancuran pekerjaan iblis.

Bila Kita Adalah PengikutNya, maka kita wajib menjalankan perintah dan mencontoh kehidupan Tuhan Yesus.

1. Tuhan Yesus Dibaptis
Matius 3:13-17
"Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya."
Roma 6:15
Makna dan pentingnya baptisan.
Meskipun Yesus Anak Allah, Ia dibaptis sebagaimana kita orang berdosa yang harus dibaptis. Yesus dibaptis oleh siapa? (Matius 3:13)
Yesus dibaptis bersama siapa ?(Lukas 3:21)

Dua hal yang dilakukan Yesus ketika langit terbuka, dan Roh Kudus turun ke atas-Nya. (Lukas 3:21-22)
Dipadang gurun, Yohanes Pembaptis berteriak menyampaikan berita Illahi yang diamanatkan Allah melalui dirinya, "Bertobatlah karena kerajaan surga sudah dekat." Di samping itu, Ia juga membaptis orang banyak di Sungai Yordan. Sesudah menjalani kehidupan pribadi-Nya selama tiga puluh tahun di Galilea, Yesus datang ke Sungai Yordan dengan tujuan dibaptis. Sesudah melihat bahwa Yesus siap dibaptis, Yohanes Pembaptis cepat-cepat menolak sambil berkata, "Akulah yang seharusnya Engkau baptis. Tetapi kini ternyata justru Engkau yang meminta supaya aku baptis?" tetapi Yesus menjawab, "Biarlah hal itu terjadi, karena demikian sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah" (Matius 3:15)

Ia kemudian menawarkan diriNya agar dibaptiskan oleh Yohanes. Ketika Yesus dibaptis sebagaimana orang-orang yang lain, dan sementara dibaptis, Ia berdoa. Tiba-tiba langit pun terbuka dan Roh Kudus turun ke atas diri-Nya seperti seekor burung merpati (Lukas 3:21). Melalui pembaptisan Yesus, kita dapat mempelajari beberapa hal yang diajarkan Allah.

Baptisan air
Sebelum melayani orang banyak, Yesus menerima baptisan air yang dilakukan oleh Yohanes. Tentu saja Yesus Kristus tidak mengenal dosa, dan ia tidak melakukan suatu dosa pun. Ia tidak bercacat cela, namun menerima baptisan pertobatan sebagaimana yang kita terima sebagai orang berdosa. Tujuan-Nya adalah supaya Yesus dapat menebus manusia dari dosa. Dengan kasih itulah Allah mengasihi kita. Baptisan Yesus itu mengajarkan hal berikut kepada kita : Pada waktu bertobat, kita pun harus dibaptis sebagai tanda atau kesaksian kepada dunia, bahwa kita betul-betul menyesali kehidupan lama yang berdosa, dan bersedia untuk menghasilkan buah pertobatan. Turun ke dalam air berarti makanan yang ada. Mungkin tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa akan terdapat kelebihan makanan. Tetapi ternyata sesudah dikumpulkan dan dihitung, kelebihannya sampai dua belas bakul penuh.

Kunci keberhasilan dalam kehidupan kita terletak pada sikap kita. Kita pun punya banyak persoalan yang harus diselesaikan. Sebab itu marilah kita miliki sikap seperti Andreas jika menghadapi persoalan-persoalan kita. Marilah kita selalu mengingat prinsip ini, "kalau persoalanku aku bawa kepada Yesus, Ia selalu mempunyai jalan keluarnya."

Benih iman
Yang berada di balik mujizat besar itu adalah adanya iman seorang anak laki-laki kecil. Baginya, mengurbankan bekal makan siangnya yang terdiri dari 5 ketul roti dan 2 ekor ikan tentulah sesuatu yang besar artinya. Seperti orang-orang dewasa yang berada di sekelilingnya, anak kecil yang sedang bertumbuh itu tentulah juga merasa sangat lapar pada petang hari itu. Tetapi saat ia mengurbankan jatah makanannya, anak itu menanamkan benih iman. Pada saat Yesus memberkati benih iman yang kecil itu, mujizat pelipatgandaan makanan yang cukup untuk 5.000 orang itu pun terjadilah. Bahkan kelebihannya sampai mencapai dua belas bakul penuh.

Kebenaran-sejati yang perlu dipelajari dan dihayati adalah perintah Yesus kepada para murid-Nya agar secara seksama mengumpulkan kelebihan makanan yang ada. Berkat Allah yang diberikan kepada kita tidak pernah dimaksudkan agar kita boroskan atau sia-siakan. Kita harus memperlakukan sebaik-baiknya berkat yang diberikan Allah. Kita harus membagikannya kepada orang-orang lain yang memerlukan. Segala sesuatu yang telah dijadikan atau dikerjakan Allah bagi kita tidak boleh diboroskan.

Di manakah terjadinya mujizat pelipatgandaan makanan yang dibuat Yesus dari 5 ketul roti dan 2 ekor ikan itu ? (Lukas 9 : 10) Berapa banyak makanan yang diberikan Yesus kepada orang banyak itu ? (Lukas 9 : 17)
Ke manakah Yesus pergi seorang diri sesudah mengadakan mujizat itu? (Yohanes 6 : 15)

PENERAPAN
1. Sekalipun dihimpit oleh permasalahan yang kelihatannya mustahil dapat dipecahkan, marilah kita selalu mempertahankan sikap yang positif seperti Andreas. Andreas mengajarkan pada kita bahwa kita memiliki Yesus yang selalu dapat mengadakan mujizat dalam kehidupan kita. Dalam keadaan hidup yang bagaimanapun, marilah kita hidup secara positif, dan bertindak dalam iman.

2. Seperti anak laki-laki kecil yang mengurbankan makanannya itu, marilah kita memberikan dengan penuh sukacita apa yang telah kita miliki kepada Yesus. Jika kita mau menabur benih, kita akan menuai kehidupan yang melimpah sesuai dengan apa yang sudah kita tabur.

2. Yesus Dicobai Iblis
Matius 4:10 "Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah Engkau berbakti."

Kejadian 3:6; Ibrani 4:15
a. Ketahuilah bahwa Yesus menjadi Juru Selamat orang berdosa dengan jalan melawan pencobaan Setan (I Korintus 15:45).

b. Ketahuilah bahwa Yesus senantiasa menolong kelemahan kita, dan menuntun kepada kemenangan.

c. Arahkan selalu kehidupan kita yang berpusatkan pada Firman Allah, sebagaimana yang diteladankan oleh Yesus sendiri.

Bagaimanakah keadaan tubuh jasmani Yesus pada saat Ia dicobai? (Matius 4:2)Tulislah ketiga pencobaan yang dihadapi Yesus. (Matius 4:3, 6, 9) Bagaimanakah cara Yesus mengalahkan pencobaan Setan? (Matius 4:4, 7, 10)

Setelah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan, seketika itu juga Yesus dituntun Roh Kudus memasuki padang gurun. Sesudah berpuasa selama 40 hari 40 malam, Ia dicobai Setan dengan tiga percobaan. Tetapi, melalui Firman Allah Yesus mengalahkannya. Melalui pelajaran tentang kemenangan Yesus atas pencobaan, hari ini kita akan mempelajari tentang kasih Allah terhadap kita. Kita juga akan belajar tentang campur tangan Allah yang luar biasa dalam melepaskan kita dari jerat serta pencobaan si Setan.

Mengapa Yesus Dicobai?
Segera setelah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Yesus dituntun Roh Kudus memasuki padang gurun. Sesudah berpuasa selama 40 hari 40 malam, Yesus dicobai oleh Setan. Yesus membuktikan diri bahwa Ia juga seorang manusia biasa yang sama sekali tidak berbeda dari Adam. Itulah alasan pertama mengapa Yesus dicobai oleh iblis.

Kedua, Yesus dicobai dengan tujuan diuji ketaatanNya kepada Allah. Adam yang pertama tidak dapat mengalahkan pencobaan yang menghadang dirinya,dan akhirnya memakan buah pohon pengetahuan tentang baik dan yang jahat. Dengan kata lain, Adam menginjak-injak otoritas Allah, dan berlaku tidak taat. Kini pencobaan yang sama itu datang lagi dan menghadang diri Yesus. Dapat diistilahkan bahwa pencobaan itu adalah suatu "persimpangan jalan." Dalam hal itu Yesus harus memilih salah satu di antara dua arah yang dapat dipilihNya: melaju ke arah jalan yang mengakui hak kedaulatan mutlak Allah dan berlaku taat, ataukah menyimpang ke tindakan-tindakan yang melawan Dia. Pada saat diuji, Yesus menaklukkan pencobaan itu, dan patuh kepada Allah sehingga mati di kayu salib.

Tiga Pencobaan Yesus
Ada dua macam pencobaan yang disebutkan dalam Firman Allah. Yang pertama adalah dokimajo dalam bahasa Yunaninya. Ujian itu diberikan oleh Allah sebagai batu loncatan untuk menerima berkat-berkat lebih besar yang rindu dianugerahkan Allah kepada anak-anakNya. Allah mengijinkan kita melewati jenis-jenis ujian dan pencobaan semacam itu. Kalau kita dapat bertahan menghadapi kesukaran dan dengan iman yang tertujukan kepada Kristus menjadi menang, kita masing-masing dinyatakan lulus, dan diakui sebagai orang kudus yang memenuhi syarat.

Dalam bahasa Yunani, jenis ujian yang lain dinamakan peirajo. Itu adalah jenis percobaan yang berasal dari Setan, yang dalam bahasa Indonesia paling tepat dinamakan `godaan'. Melaluinya Setan mendatangkan musibah, penderitaan, sengsara dan kesesakan. Tujuannya adalah untuk merampok, membunuh danmembinasakan kita. Setan tidak pernah memberi kita dohimajo `ujian' yang membuat iman kita dapat naik kelas. Setan hanya membuat kita tersandung dengan jalan membuat kita terperangkap dalam jerat dosa-dosa kita.

Setan tahu bahwa sekali kita menyerah dan terjatuh ke dalam godaannya, kita pasti akan menerima hukuman Allah. Jadi Setan selalu berkeliling mengendap-endap seperti seekor singa lapar yang mengaum-aum, dan bermaksud hendak memangsa kita (I Petrus 5:8). Kini kita sendiri dapat mengerti bahwa di tempat-tempat tertentu Allah tidak dapat memakai kita. Sebab kita selalu menyerah kalah terhadap godaan-godaan setan yang dibuat untuk membinasakan kita, kecuali kalau kita benar-benar hidup mendekatkan diri kepada Allah. Itulah sebabnya, bagaikan singa yang lapar layaknya, si iblis mengaum-aum dan mencari mangsa yang dapat dilahapnya.

Setan mencobai Adam dan Hawa dengan memakai peirajo `godaan' itu. Nenek moyang pertama kita gagal karena mereka menyerah kalah kepada godaan keinginan daging, keinginan mata dan kesombongan kehidupan (I Yohanes 2:15-17). Itu sebabnya mereka diusir keluar dari hadirat Allah. Kali ini, sekali lagi si setan mengiming-imingi Yesus dengan peirajo `godaan' itu. Tetapi Yesus tidak menyerah kalah kepada tipu daya Setan. Stan pun tahu betapa laparnya Yesus sesudah berpuasa selama 40 hari 40 malam. Pertama-tama ia mencobai Yesus supaya mengisi perutNya yang kosong itu dengan jalan membuat roti dari batu. Setan menggunakan keinginan daging atau nafsu kedagingan sebagai batu penguji. Dalam hal itu Hawa gagal dan memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, yang lezat bagi keinginan dagingnya. Tetapi minat utama Yesus adalah taat kepada Firman Allha semata-mata. Minat agung itu jauh lebih mulia daripada keinginan daging, dan itu dibuktikan Yesus melalui ucapanNya,

"Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah" (Matius 4:4)

Sesudah gagal dengan godaan pertamanya, kini Setan beralih ke godaan yang kedua. Itu dilakukannya dengan jalan mengutip ayat-ayat dalam Mazmur 91:11 dan 12. Ia membujuk Yesus supaya melompat dari atas puncak bait Allah. Setan bermaksud hendak menghasut Yesus supaya mencobai kemahakuasaan Allah, dan bergaya memperagakan jati diriNya sebagai anak Allah yang sesungguhnya di hadapan mata orang Yahudi. Di Taman Eden, Hawa juga terjerat oleh keinginan matanya dan terjatuh. Hawa memetik buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Tidak perlu disebutkan di sini bahwa sebenarnya dengan mudah bisa saja Yesus melompat tanpa mencelakakan diriNya. Kalau Ia mau, sekalipun Ia melompat dari puncak bait Allah sampai ke lembah maut Kidron yang amat sangat jauh letaknya, jari kakiNya pun tidak akan sampai terkilir. Kalau Yesus sampai tergoda dan mau mengadakan lompatan acrobat semacam itu pada saat orang Yahudi sedang mengadakan kurban petang hari, tentu hal itu merupakan suatu pemandangan yang amat mencengangkan bagi orang banyak yang menyaksikanNya. Dan mungkin seketika itu juga orang banyak itu mengangkat Dia sebagai pemimpin besar mereka dan mengikut Dia.

Tetapi Yesus menaklukkan keinginan mata itu. Ia melawan Setan dengan jalan mengutip Firman Allah,

"Ada tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" (Matius 4:7).

Yang terakhir, setan si pencoba itu membawa Yesus ke sebuah gunung yang tinggi, dan menunjukkan kepadaNya seluruh kemuliaan kerajaan-kerajaan yang berada di dunia ini. Setan menawarkan hendak memberikan semua itu kepada Yesus, kalau Dia mau menyembahnya. Tindakan itu dapat saja merupakan suatu cara yang dipakai Yesus untuk merampas kembali jagad raya dan umat manusia yang secara sah telah diserahkan hak kekuasaannya kepada Setan karena kejatuhan Adam. Bukankah Yesus datang ke dunia ini untuk tujuan itu? Tetapi Yesus betul-betul tahu, bahwa kalau Ia menerima begitu saja cara licik yang ditawarkan Setan, hal itu hanya akan mendatangkan kehancuran. Yesus tidak memilih atau bertindak menurut kemauanNya sendiri. Dia tidak mengambiljalan pintas yang begitu mudah itu untuk menyelesaikan permasalahan umat manusia. Sebaliknya, Ia memilih jalan kematian di atas kayu salib, yaitu cara yang telah ditentukan oleh Allah sendiri. Melalui pengakuan mulutNya, Yesus Kristus menunjukkan ketaatan mutlakNya terhadap Allah, "Enyahlah, iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah Engkau berbakti." (Matius 4:9)

Tetapi Hawa yang memburu kesombongan kehidupan berani mencoba-coba untuk menjadi bijaksana seperti Allah, menurut cara licik yang disodorkan Setan. Dan ternyata ia jatuh.

Yesus mengalahkan semua peirajo `godaan' Setan itu. Melalui ketaatan mutlakNya terhadap Allah, Yesus menjadi kurban dosa bagi kita.

Bila Kita Dicobai
Apakah pelajaran-pelajaran yang dapat kita petik melalui semua pencobaan yang dihadapi Yesus itu?

Pertama, Yesus dicobai Setan tepat sesudah Roh Kudus turun kepada diriNya seperti burung merpati, dan juga setelah ada suara dari surga yang terdengar. Saat ini keadaannya juga sama. Setan mencobai kita pada saat segala sesuatu berjalan lancar dalam kehidupan kita: pada saat kita sedang mengalami kenaikan pangkat, dipuji oleh banyak orang, mulai hidup nyaman, menjadi kaya raya, atau ketika memasuki hubungan yang lebih erat dengan Allah atau menerima berkat pertumbuhan yang luar biasa pesatnya. Justru pada saat-saat itulah Setan mencobai kita. Setan betul-betul sangat membenci iman dan kehidupan kita, pada saat segala sesuatunya berjalan lancar. Setan mencobai kita pada saat kita segar bugar, seperti seorang pemburu yang hanya mengarahkan bidikan senjatanya kepada binatang yang hidup, bukan yang sudah mati dan menjadi bangkai busuk. Jadi Rasul Paulus mengingatkan kita, "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (I Korintus 10:12)

Kedua, kita dapat memperhatikan tempat Yesus dicobai, yaitu padang gurun. Di sini kita juga dapat melihat kesejajaran rohani. Padang gurun adalah kehidupan kita yang sekarang ini. Bangsa Israel memang dilepaskan dari perbudakan di Mesir, tetapi sebelum memasuki Tanah Perjanjian Kanaan, mereka melewati masa peralihan dengan jalan terputar-putar, tak menentu selama empat puluh tahun di padang gurun. Pada saat menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, kita pun dilepaskan dari dunia yang jahat yang adalah Mesir kita. Tetapi kita juga telah ditentukan untuk menghayati kehidupan seorang musafir di "padang gurun" yang adalah dunia tempat kita hidup sekarang ini. Kelak di dalam surga, sekali kita memasuki kerajaan kekal itu, tidak akan ada pencobaan yang menghadang jalan kita.

Tetapi sementara menghayati kehidupan di padang gurun kehidupan kita pada saat ini, kita tidak mempunyai pilihan lain. Mau tidak mau kita harus memperhadapi badai, kelaparan, kehausan, kesalahpahaman, dan panasnya terik matahari yang terasa sangat tajam menyengat. Itulah sebabnya, dalam padang gurun kehidupan sekarang ini kita harus senantiasa berjaga-jaga dan berdoa kepada Bapa kita, "Janganlah menuntun kami ke dalam pencobaan." (Matius 6:13)

Ketiga, bila dicobai, secara tegar kita harus mendisiplin diri agar tetap berlaku taat kepada Allah! Jangan pernah meninggalkan keyakinan iman kita. Sebaliknya kita justru harus tetap berpegang teguh kepada kebenaran sejati ini: yaitu bahwa Allah adalah Allah yang baik, dan Dia akan menyelamatkan kita. Tidak peduli apapun keadaan kehidupan yang sedang menimpa, dengan tetap teguh kita harus memutuskan untuk selalu taat kepada Allah. Kitapun harus melawan pencobaan itu dengan Firman Allah sebagaimana yang dilakukan Yesus, dimulai dengan pengakuan teguh, "' Ada tertulis ..." Kita harus memiliki kepastian yang teguh dan mantap di dalam hati serta akal kita, bahwa secara mutlak kita mau bersandar percaya dan taat kepada Allah. Tanpa dipersenjatai dengan hal-hal itu, tidakmungkin kita dapat menjadi pemenang yang dengan mudah sanggup mengalahkan pencobaan Setan. Firman Allah bukanlah mantera yang sekadar perlu kita kutip saja begitu saja. Hanya mengakui atau mengucapkannya tidak akan membuat kita mengalahkan Setan. Bukankah kadang-kadang ia sendiri juga mengutip Firman Allah? Lebih lanjut, dalam setiap pencobaan kita harus senantiasa mencari pertolongan Roh Kudus, karena Dia adalah Penghibur yang diutus Bapa, dan yang senantiasa siap melepaskan kita setiap kali kita terjerumus ke dalam kesukaran.

Siapakah satu-satunya yang harus kita sembah dan layani? (Matius 4:10) Bagaimana cara suatu pencobaan mulai menarik perhatian kita? (Yakobus 1:14) Kita dilarang mengasihi hal-hal duniawi. Apakah yang dihasilkan oleh "kasih terhadap hal-hal duniawi" itu di dalam diri seseorang, yang kemudian berkembang ke arah pencobaan? (I Yohanes 2:16)

1. Marilah kita berusaha sekeras-kerasnya untuk menjadi anak Allah yang secara mutlak taat kepada Allah.

2. Marilah kita menjadi orang-orang percaya yang dipenuhi Roh Kudus, yang sanggup melawan pencobaan si Setan.

3. Renungkanlah selalu Firman Allah. Simpanlah isinya di dalam hati anda. Kutiplah sebagai senjata yang Anda perlukan untuk mengalahkan Setan.

3. Yesus Memberitakan Kabar Baik Tentang Kerajaan Surga
Matius 4:12-17
"Sejak waktu itulah Tuhan Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"
Markus 1:15; Lukas 17:20, 21
a. Marilah kita menyebarluaskan kabar baik tentang kerajaan Allah sebagaimana yang dilakukan Tuhan Yesus.
b. Marilah kita selalu ingat bahwa bila kita memberitakan Injil, iblis akan lari, dan kerajaan Allah akan berkembang. Kita tidak boleh melupakan fakta itu.

Nubuat siapa yang digenapkan pada saat Yesus meninggalkan Nazaret dan pindah ke Kapernaum? (Matius 4:13, 14) Injil apa yang diberitakan Tuhan Yesus? (Markus 1:14) Mengapa Tuhan Yesus berkata, "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil"? (Markus 1:15)

Sesudah dibaptis dan dicobai Iblis, Tuhan Yesus pergi ke daerah Galilea. Sebagai perintis, Yohanes Pembaptislah yang lebih dahulu memberitakan kabar baik dan mempersiapkan jalan bagi Tuhan Yesus. Sesudah Yohanes Pembaptis menyelesaikan tugasnya dan dimasukkan ke dalam penjara, barulah Tuhan Yesus mulai memberitakan kabar baik. Itu dapat kita baca dalam Markus1:15, "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" Hari ini kita akan mempelajari intisari Injil yang diberitakan Yesus itu.

Kerajaan Allah Sudah Dekat
Tuhan Yesus memberitakan, "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat."
Ucapan itu memberitahu kita bahwa kegenapan waktu yang ditetapkan Allah untuk menebus umat manusia telah tiba, dan kerajaanNya sudah dekat. Makna yang terkandung dalam ucapan Tuhan Yesus bahwa "Kerajaan Allah sudah dekat" jauh lebih dalam daripada yang biasa kita artikan. Itu bukan sekadar berarti bahwa kerajaan Allah sudah sangat dekat, di ambang pintu, atau bahwa kerajaan itu sudah hadir di sini.

Sebagai Putra Allah, Tuhan Yesus sendiri juga Allah. Di mana dan bilamana Allah berada, kerajaan Allah pun berada disana juga. Itulah sebabnya, bilamana dan dimana Allah Sang Putra itu berdiri, terbungkus dalam daging manusia, kerajaan Allah pun berada di tempat itu juga. Jadi, pada saat kaum Farisi bertanya, bilakah kerajaan Allah akan datang, Tuhan Yesus menjawab mereka, "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu" (Lukas 17:20-21).

Karena pada saat kita mengakui Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, pada saat kita mengundang Dia masuk ke dalam hati dan kehidupan kita agar Dia hidup danmemerintah di dalamnya, pada saat kita mulai bergantung kepadaNya... di situlah kerajaan Allah berada, itulah kerajaan Allah.

Ketika orang-orang Farisi memfitnah Tuhan Yesus, "Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan." Fitnahan itu ditangkisNya, "Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu" (Bacalah Matius 12:24, 28). Bukan hanya itu. Pada waktu Yohanes Pembaptis mengutus para muridnya supaya menanyai Yesus, "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?"

Jawaban yang diberikanNya ialah, "Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik" (Matius 11:2-6).

Sebenarnya Yohanes Pembaptis sedang mengajukan pertanyaan, "Benarkah kerajaan Allah telah tiba ataukah belum?", dan pada saat itu Tuhan Yesus menegaskan kehadiran kerajaan Allah yang telah berada di tengah-tengah mereka, yang disertai dengan beraneka ragam tanda ajaib yang membuktikan kebenarannya. Pada saat inipun Tuhan Yesus Kristus berada di dalam diri kita melalui RohNya yang kudus itu. Roh itu adalah Penghibur yang lain (Yohanes 14:16). Pada hakikatnya Dia adalah Allah yang sama, sebagaimana Tuhan Yesus sendiri. Dimanapun Tuhan Yesus berada, di tempat itu juga terdapat kerajaan Allah. Bila kerajaan Allah datang, iblis lari tunggang langgang, orang yang sakit disembuhkan, dosa diampuni, Injil diberitakan. Pekerjaan-pekerjaan ini terus menerus terjadi. Dan sekarang gereja adalah kerajaan Allah, dimana di dalamnya keajaiban karya-karya Allah itu terjadi terus menerus tanpa henti-hentinya.

Bertobatlah dan Percayalah kepada Injil
Dalam bahasa Yunani, Injil adalah "euaggelion" yang berarti "kabar baik". Sebenarnya, apakah yang dapat menjadi "kabar baik' yang terbaik bagi manusia? Apakah yang benar-benar didambakan oleh umat manusia, dari generasi ke generasi, sesuatu yang didambakan dari dalam lubuk hatinya?

Yang dirindukannya tidak lain adalah berita tentang dosa-dosa yang diampuni dan pemulihan hubungan yang benar dengan Allah. Sejak kejatuhan Adam dan Hawa, umat manusia menjadi "sebuah keberadaan yang hilang." Manusia kehilangan penciptanya, yaitu Allah. Manusia kehilangan sukacita kehidupan ini yang dahulu didapatkannya di Taman Eden. Manusia kehilangan sesamanya. Manusia kehilangan jati diri yang sebenarnya. Orangtidak tahu mereka berasal dari mana, mengapa mereka hidup, dan kemana mereka akan pergi. Mereka berputar-putar kesana kemari tanpa ada ujung pangkalnya. Bagi umat manusia yang terhilang itulah kabar baik yang berasal dari Allah tiba.

Baik dahulu maupun sekarang, kabar baik itu tetap sama yaitu: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:16).

Kabar baik itu adalah Tuhan Yesus Kristus. Dimanapun Injil itu diberitakan, yang artinya dimanapun Tuhan Yesus bekerja, ada banyak hal baik yang terjadi. Orang buta melihat. Orang tuli mendengar. Yang dirasuk setan dilepaskan. Yang miskin dan terbuang dihormati. Mereka yang diasingkan, misalnya wanita Samaria dan Zakheus, mencicipi sukacita kehidupan yang sebelumnya sama sekali tidak pernah mereka rasakan. Itulah sebabnya, pada saat Tuhan Yesus berkata, "Percayalah kepada Injil", sebenarnya yang dimaksudkanNya adalah, "Percayalah kepadaKu, Yesus Kristus!" Ia mempersamakan diriNya dengan InjilNya dengan mengatakan, "Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya" (Markus 8:35).

Selasa, November 04, 2008

Baptisan: Arti, Subjek, Cara & Pentingnya

ARTI DAN MACAM-MACAM BAPTISAN

8 JENIS BAPTISAN
Secara Teologis, baptisan bisa didefinisikan sebagai suatu tindakan untuk bersatu atau berkenalan dengan seseorang, kelompok tertentu, pesan tertentu, atau kejadian tertentu.
Baptisan dalam agama misteri Yunani menghubungkan para calon penganut dengan agama tersebut.
Baptisan dalam agama Yahudi menghubungkan pemeluk agama baru itu dengan Yudaisme.
Baptisan Yohanes Pembaptis menghubungkan para pengikut Kristus dengan BeritaNya tentang kebenaran (secara kebetulan, Yohanes Pembaptis nampaknya merupakan orang pertama yang pernah membaptiskan orang lain—biasanya baptisan dilakukan sendiri). Karena Yakobus dan Yohanes dibaptis dengan Baptisan Kristus, maka berarti
Baptisan Kristus dihubungkan dengan penderitaanNya (Markus 10:38-39).
Dibaptis dengan Roh Kudus menghubungkan seseorang dengan tubuh Kristus (1 Kor 12:13) dan dengan kehidupan baru di dalam Kristus (Rm 6:1-10).
Dibaptis di dalam Musa berarti mengakui kepemimpinanannya dalam membawa orang Israel keluar dari Mesir (1 Kor 10:2).
Dibaptis bagi orang mati berarti berada di pihak kelompok Kristen dan mengambil tempat sebagai orang Percaya yang telah meninggal (1 Kor 15:29).
Baptisan Kristen berarti pengenalan terhadap berita Injil, pribadi Juruselamat, dan kelompok orang-orang percaya.

Beberapa baptisan yang disebutkan tadi tidak menggunakan air.

Bayangkan betapa menyedihkannya kita jika tidak mempunyai pengertian yang tepat tentang arti dan macam-macam baptisan.(Ryrie)

Subjek Baptisan

Apakah hanya orang percaya saja yang dibaptis atau haruskah bayi (dari orang tua yang percaya) juga dibaptis?
Pendapat yang menyetujui Baptisan anak/bayi antara lain sebagai berikut:
1. pendapat Sunat. Kolose 2:11,12 dengan jelas menghubungkan sunat dengan baptisn. Karena menurut Perjanjian Lama setiap bayi disunat, maka menurut Perjanjian Baru mereka harus dibaptiskan. Pendapat ini berdasarkan Teologi Perjanjian (Covenant Theology) yang mengandung arti bahwa sunat sebagai langkah awal untuk menerima janji keselamatan dalam Perjanjian Lama dan baptisan dalam Perjanjian Baru. Upacara ini menunjukkan keanggotaan dalam perjanjian itu, tidak perlu iman pribadi (bacalah James Buswell, A Systematic Theology of The Christian Religion [Grand Rapids: Zondervan, 1962], 2:262)
2. pendapat Historis. Sejak semula gereja mempraktikkan baptisan anak; karena itu baptisan tersebut diperbolehkan. Bapa-Bapa gereja sangat mendukung baptisan anak, seringkali menghubungkannya dengan sunat, namun fakta bahwa gereja mula-mula melakukan atau mempercayai sesuatu tidak dengan sendirinya membenarkan hal itu (membuat hal itu ALKITABIAH-sesuai ajaran Alkitab—penekanan Dede). Beberapa orang dalam gereja mula-mula mengajarkan Kelahiran Kembali melalui Baptisan, dan hal itu merupakan pengajaran BIDAT.
3. pendapat seisi rumah. Seisi rumah dibaptiskan dalam zaman Perjanjian Baru. Mungkin sekali bahwa beberapa bayi setidak-tidaknya termasuk dalam seisi rumah tersebut (Kis 11:14, 16:15,31, 18:18, 1 Kor 1:16). Beberapa orang juga mengatakan bahwa menurut 1 Kor 7:14 bukan saja mengizinkan, namun bahkan mengharapkan baptisan bayi dalam suatu rumah tangga di mana salah satu orang tuanya telah menjadi percaya.

Pihak yang menentang Baptisan bayi/anak kecil dan karena itu mendukung Baptisan untuk orang yang percaya menyatakan:
1. Bahwa Alkitab selalu mengajarkan percaya dahulu, dan kemudian baru dibaptiskan (Mat 3:2-6; 28:19; Kis 2:37,38; 16:14,15,34).
2. Bahwa Baptisan merupakan upacara yang harus dijalani orang yang hendak masuk ke dalam suatu kelompok orang percaya, gereja; karena itu, baptisan hanya boleh dilakukan bagi orang percaya. Sebaliknya, sunat memasukkan oarng (termasuk bayi) ke dalam suatu teokrasi yang di dalamnya juga terdapat orang yang tidak percaya.
3. Bahwa usia anak tidak pernah disebutkan dibagian manapun yang menyebutkan tentang baptisan seisi rumah. Tapi dikatakan bahwa semua yang dibaptis di dalam rumah itu menjadi percaya. Jadi hal ini tidak meungkin memasukkan bayi dalam baptisan tersebut.
4. Jika 1 Kor 7:14 mengizinkan atau mengharuskan baptisan anak-anak dalam satu rumah tangga/keluarga dimana salah satu orang tuanya telah percaya, maka hal itu juga akan mengizinkan atau mengharuskan baptisan bagi orang dewasa yang belum percaya.

ORANG2 YANG DIBAPTIS
”Baptisan diperuntukkan bagi orang-orang yang secara pribadi dan sukarela bersedia menanggapi panggilan keselamatan. Dalam Perjanjian Baru, calon baptisan adalah orang yang akan diajar (Matius 28:20), yang telah menerima Firman Allah (Kisah 2:41), dan yang telah menerima Roh Kudus (Kisah 10:47). Beberapa orang dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya (Kisah 10:48; 16:15,33;18:8; I Kor 1:16), sehingga ada yang menafsirkan bahwa berarti bayi-bayi juga dibaptis. Telah dianjurkan bahwa baptisan bayi semacam ini sama dengan upacara sunat dalam Perjanjian Lama. Untuk menanggapi pendapat semacam ini, kami mengatakan bahwa ”seisi rumah” seperti dipakai di atas belum tentu berarti bahwa BAYI; dan selanjutnya, dalam kasus-kasus tersebut maka mereka yang dibaptis itu adalah orang-orang yang sudah mendengar pemberitaan Firman Allah (Kisah 10:44) dan percaya (kisah 16:31,34). Tidak pernah Alkitab mengajarkan bahwa bayi harus dibaptis. Penyerahan anak kepada Tuhan oleh orang tuanya merupakan cara yang lebih dapat dipertanggungjwabkan daripada baptisan bayi.” (Henry Clarence Thiessen, Teologi Sistematika, Gandum Mas)

Baptisan Ulang
Hanya ada satu contoh yang jelas tentang orang yang dibaptis 2 kali (Kis 19:1-5). Ke-12 orang ini, yang telah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, dibaptis kembali oleh Paulus setelah mereka mepercayai berita tentang Kristus. Hal ini memberikan suatu contoh tentang perlunya konseling bagi mereka yang telah dibaptis entah sebagai bayi, remaja, atau orang dewasa yang belum percaya kepada Kristus. Hal ini juga merupakan pendapat yang menentang baptisan bayi, karena mengapa membaptis bayi, jika kemudian, setelah ia secara pribadi menerima Kristus, ia harus dibaptiskan kembali?

(Tambahan dari Dede:
Jika seorang Dibaptis Percik, kemudian diBaptis Selam alias dibaptis ulang, apakah SALAH? Jelas Tidak salah, karena ketika diBaptis Selam, masih tetap dibaptis dalam Nama yang SAMA entah itu hanya dalam nama Yesus, atau dalam nama Bapa, Anak/Putra,dan Roh Kudus.
Keyakinan bahwa Baptis Percik tidak SAH dan Tidak ALKITABIAH/tidak sesuai dengan Ajaran Alkitablah yang membuat seseorang mau dibaptis ulang atau dibaptis SELAM, atau karena meyakini cara Baptisnya TIDAK BENAR menurut Alkitab, makanya ia ingin dibaptis ulang dngen CARA YANG BENAR)

SAAT BAPTISAN
Contoh-contoh dalam Perjanjian Baru menunjukkan bahwa orang percaya dibaptiskan segera setelah mereka percaya. Tidak ada petunjuk tentang masa percobaan/katekisasi, walaupun hal semacam itu mungkin dibenarkan untuk membuktikan kemurnian iman.

CARA BAPTISAN
1. dengan cara dipercik.
Argumen dan Bukti yang diajukan
(1) beberapa upacara untuk pengudusan dalam Perjanjian Lama termasuk pemercikan (Kel 24:6,7; Im 14:7; Bil 19:4,8), dan semua ini digolongkan sebagai ”baptisan” dalam Ibrani 9;10
(2) pemercikan dengan jelas menggambarkan penyucian yang dilakukan oleh Roh Allah seperti tercatat dalam Yeh 36:25
(3) baptisan mempunyai arti tambahan (sekunder) sebagai ”membawa ke dalam pengaruh”, dan pemercikan dengan mudah dapat menggambarkan hal itu.
(4) Cara selam tidak mungkin dapat dilakukan dalam keadaan-keadaan tertentu (Kis 2:41, terlalu banyak orang; 8:38, terlalu sedikit air di padang gurun; 16:33, terlalu sedikit air di dalam rumah)
(5) Mayoritas terbesar dari gereja yang kelihatan mempraktikkan baptisan dengan cara bukan selam

2. dengan cara dituangkan atau dicurahkan
Argumen dan Bukti yang diajukan
(1) penuangan dengan baik sekali menggambarkan pelayanan Roh yang datang dan msuk ke dalam kehidupan orang percaya (Yl 2:28,29; Kis 2:17,18).
(2) Ungkapan ”ke dalam air” dan ”keluar dari air” dengan cara yang sama baiknya bisa diterjemahkan dengan ”menuju ke air” dan ”menjauhi” air. Dengan kata lain, orang yang akan dibaptis itu menuju ke air, mungkin bahkan masuk ke dalam air, tetapi tidak di bawah permukaan air seluruhnya.
(3) Lukisan-lukisan di katakombe menunjukkan orang yang sedang dibaptis sedang berdiri kira-kira setinggi pinggang di dalam air, sedangkan orang yang sedang membaptiskan menuangkan air ke atas kepala orang tadi dari sebuah bejana yang dipegangnya.

3. dengan cara SELAM
Argumen dan Bukti yang diajukan
(1) Penyelaman memang merupakan arti utama dari kata BAPTIZO. Bahasa Yunani memiliki kosakata yang berarti pemercikan (rantiso) dan penuangan yang tidak pernah digunakan untuk menjelaskan tentang baptisan
(2) Penyelaman menggambarkan dengan tepat sekali arti tentang baptisan, yaitu mati terhadap kehidupan yang lama dan bangkit dalam kehidupan baru (Rm 6:1-4)
(3) Penyelaman sangat mungkin telah dilakukan dalam setiap keadaan. Cukup tersedia banyak kolam di Yerusalem sehingga memungkinkan 3000 orang yang bertobat dibaptis (SELAM) pada Hari Pentakosta. Jalan ke Gaza itu sepi dan gersang, namun bukan berarti tak ada air. Rumah-rumah seringkali memiliki kolam-kolam di luar rumah dimana, misalnya, keluarga kepala penjara Filipi sangat mungkin telah dibaptis selam
(4) Baptisan proselit dilakukan dengan cara menyelamkan diri sendiri ke dalam sebuah tangki air. Cara baptisan seperti inilah yang mungkin biasa dilakukan dalam gereja Kristen
(5) Penuangan air, bukan pemercikan, merupakan pengecualian pertama terhadap penyelaman dan diizinkan dalam kasus untuk penderita sakit. Hal ini disebut ”baptisan klinis”. Cyprian (pada 248-258 SM) merupakan orang pertama yang menyetujui cara pemercikan. Bahkan mereka yang tidak menganut Baptis Selam menyatakan bahwa penyelaman merupakan Praktik yang umum (universal) dalam gereja pada zaman para rasul (Bacalah Calvin, Institutes, 4:15:19).

Sebuah pengamatan: Mereka yang ingin membenarkan cara pemercikan nampaknya memiliki jalan pemikiran sebagai berikut: Jika Anda dapat menunjukkan bahwa cara lain dari penyelaman (seperti penuangan/pencurahan) dipraktikkan pada awalnya, maka secara sah Anda dapat mempraktikkan pemercikan, walaupun hal itu terbukti tidak dilakukan dalam gereja pada zaman para rasul. Dengan kata lain, jika Penuangan dapat menjadi suatu alternatif lain dari cara penyelaman yang universal, maka pemercikan juga dapat. Akan tetapi, seandainya ada, bukti yang ada hanya menunjukkan bahwa penuangan (jika hal itu pernah dilakukan) dapat dinggap sama dengan penyelaman, tetapi pemercikan TIDAK DAPAT dianggap SAH sebagai BAPTISAN.

PENYELAMAN sebanyak 3 Kali: dengan cara ini orang yang dibaptiskan diselamkan sebanyak 3 kali (biasanya ke depan) untuk melambangkan hubungan dengan Tuhan Trinitas/Tritunggal.
Didache menyatakan bahwa apabila baptisan dengan cara SELAM TIDAK MUNGKIN DILAKUKAN, maka air harus dituangkan sebanyak 3 kali di atas kepala (pasal 7). Perhatikan cara ini mula-mula tidak berarti untuk menyelamkan sebanyak 3 kali, namun hanya menuangkan sebanyak 3 kali. Para pendukung cara ini menunjukkan bahwa beberapa leksikon mengatakan, BAPTIZO berarti menyelamkan ke dalam air berulang-kali (tapi beberapa leksikon tidak menyebutkan demikian). Bukti terhadap pandangan ini tidak kuat.

PENTINGNYA BAPTISAN

1. Kristus dibaptis (Mat 3:16). Walaupun arti baptisanNya berbeda sama sekali dari arti baptisan orang Kristen, namun hal itu mengandung arti bahwa kita mengikuti Tuhan apabila kita dibaptis. Harus disadari, kita tidak akan pernah mampu meniru pribadi yang tidak berdosa; namun kita harus mengikuti langkah-langkahNya, dan baptisan merupakan salah satu langkahNya (1 Petrus 2:21).
2. Tuhan menyetujui murid-muridNya untuk membaptiskan (Yoh 4:1-2).
3. Kristus memerintahkan supaya orang percaya dibaptiskan pada zaman ini (Mat 28:19). Perintah ini jelas bukan hanya untuk para rasul yang mendengarnya, namun untuk para pengikutnya di sepanjang zaman, karena Ia berjanji akan menyertai mereka senantiasa sampai pada kesudahan zaman.
4. Gereja mula-mula sangat mementingkan Baptisan (Kisah 2:38,41; 8:12,13,36,38; 9:18; 10:47,48; 16:15,33; 18:8; 19:5). Gereja mula-mula sama sekali tidak menerima orang percaya yang tetap tidak dibaptiskan.
5. Perjanjian Baru menggunakan ordonansi (upacara yang diperintahkan Tuhan untuk dilaksanakan Gereja) itu untuk menggambarkan atau melambangkan kebenaran teologis yang PENTING (Rm 6:1-10; Gal 3:27; 1 Ptr 3:21).
6. Penulis surat Ibrani mengatakan Baptisan merupakan suatu Kebenaran yang Mendasar (Ibr 6:1-2). Baptisan bukan lagi merupakan pilihan atau kurang penting bila dibandingkan dengan pengajaran tentang pertobatan, kebangkitan, dan penghakiman.

Sumber: Teologi Dasar 2, Charles Caldwell Ryrie, PBMR ANDI, hal 223-228

AMSAL 23:23 Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.

www.webkristiani.co.cc
http://www.sabdaspace.org/blog/dedewijaya
http://www.in-christ.net/blog/dedewijaya