Minggu, November 08, 2009

Berita Mingguan 31 Oktober 2009

VISI MASA DEPAN YANG MENAKUTKAN DARI CHARLES DARWIN
Charles Darwin percaya bahwa manusia berevolusi dari dunia binatang melalui proses seleksi alami (natural selection) atau yang disebut juga survival of the fittest (yang paling fit yang bertahan hidup), dan dia memprediksikan bahwa pergumulan ini akan mengakibatkan punahnya “ras-ras” manusia yang kurang berevolusi. Dalam bukunya yang terbit tahun 1871, The Descent of Man, Darwin menulis, “Di suatu periode di masa depan, tidak perlu sampai berabad-abad lagi, ras-ras manusia yang beradab hampir pasti akan memunahkan, dan menggantikan, ras-ras buas di seluruh dunia. Pada saat yang sama, kera-kera yang mirip manusia, sebagaimana dikomentari oleh Profesor Schaaffhausen, pastinya akan terpunahkan. Perbedaan antara manusia dan sekutunya yang paling dekat akan semakin jauh, dan akan memisahkan antara manusia yang lebih beradab dibandingkan dengan ras Kaukasian, dengan kera-kera yang rendah seperti babon, bukan lagi dengan ras negro atau Australian dan gorilla” (bab vi).

Jadi, Darwin percaya bahwa orang-orang Negro dan para aborigin di Australia berada lebih rendah dalam skala evolusi dibandingkan dengan ras Kaukasian, dan bahwa “ras-ras buas” ini akan segera punah dan digantikan dengan manusia yang telah berevolusi “bahkan” lebih superior dibandingkan Kaukasian. Pernyataan seperti ini adalah bentuk rasisme yang paling parah, dan “ilmu pengetahuan” demikian, yang adalah hasil dari skeptikisme anti-Allah di mana Darwin tumbuh besar, yang akhirnya memimpin kepada kamp-kamp pembunuhan Hitler. Kata “eugenics” diciptakan oleh sepupunya Darwin, Francis Galton. Eugenics adalah usaha untuk memperbaiki “ras” manusia dengan cara kontrol kelahiran, aborsi, dan euthanasia. Dalam bukunya, Hereditary Genius, Galton menantikan suatu waktu “ketika populasi bumi akan secara ketat diatur dalam hal jumlah dan kecocokan ras, sama seperti domba-domba dalam peternakan yang terorganisir baik. Putri Charles Darwin, Henrietta, dan suaminya Robert Litchfield, adalah pendukung eugenics yang bersemangat. Putra Charles, Leonard, adalah presiden dari First International Congress of Eugenics. Ia menyayangkan bahwa orang-orang yang “tidak fit” tidak lagi dibunuh oleh kelaparan dan penyakit, tetapi “dipertahankan dengan penuh perhatian, dan karenanya dapat mereproduksikan jenis seperti mereka.” Putra lainnya, George Darwin, mendukung mempermudah perceraian dan kontrasepsi untuk agar survival of the fittest (yang paling fit yang bertahan hidup) dapat berlansung dengan baik, dan ini bahkan sebelum revolusi seksual di tahun 1960an. Seorang cucunya, Charles Galton Darwin, seorang tokoh besar dalam Proyek Manhattan, adalah presiden dari Masyarakat Eugenics dari tahun 1953-59. Margaret Sanger, sang atheis yang mendirikan Planned Parenthood, adalah seorang pendukung eugenics yang bersemangat. Hitler memuji eugenics dalam Mein Kampf, tetapi sebagaimana Dr. Benjamin Wiker, dalam bukunya The Darwin Myth, mengatakan, “masalah fundamental dalam Darwinisme bukanlah karena ia memimpin kepada Nazisme, tetapi bahwa ia dapat memimpin kepada apa saja” (hal. 147). Darwinisme menghancurkan dasar dari hukum moral apapun.

PEMIMPIN EMERGING CHURCH MENGATAKAN BAHWA OSAMA BIN LADEN MEMILIKI “PERCIKAN ILAHI”
Shane Hipps, co-pastor dengan Rob Bell di Mars Hill Bible Church di Grandville, Michigan, membuat pernyataan berikut tanggal 5 Oktober 2008, dalam sebuah seri khotbah tentang Injil Yohanes: “Yesus adalah penyatu terhebat berbagai cara yang berbeda untuk melihat dunia. Memiliki suatu identitas agamawi dengan batasan tertentu, mengetahui bahwa anda berbeda dengan agama lain, ini semua bukan masalah. Yohanes bukan mencoba untuk menghilangkan itu. Ia mencoba untuk menunjukkan sesuatu yang mengatasi hal-hal ini. Kehilangan identitas agama anda sama seperti kehilangan layar kapal di tengah lautan. Layar kapal itu ibarat agama. Angin adalah roh. Anda memerlukan layar untuk dapat menangkap angin, untuk mempergunakan angin. Tetapi anda perlu sadar bahwa layar itu bukanlah angin….Hanya karena kita mengklaim Yesus sebagai pusat dari agama kita, tidak membuat kita menjadi anginnya Allah. Ini hanya berarti bahwa kita memiliki layar yang berbeda…..Inilah yang Yohanes lakukan, dan hal ini sangat inovatif, dan sangat mengganggu, bahwa ia sedang menundang kita melampaui hal-hal yang menciptakan perbedaan di antara kita….Oleh sebab itulah dikatakan [logos atau firman] adalah terang dan hidup dari semua orang. Tidak dikatakan ia adalah terang dan hidup bagi orang-orang yang percaya Yesus. Logos ini mempengaruhi semua orang, termasuk Osama bin Laden. Selama dia bernafas, di dalam dirinya ada percikan ilahi”
CATATAN DARI SDR. CLOUD: Hipps mengutip suatu “terjemahan” yang aneh akan Yohanes 1:9 atau membuat terjemahannya sendiri, sehingga mengubah kata-kata “terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia,” menjadi “ia adalah terang dan hidup bagi semua orang.” Sebenarnya, Yesus memberikan terang kepada semua orang melalui penciptaan (Rom. 1:20), hati nurani (Rom 2:14-15), dan Kitab Suci (Mar. 16:15), tetapi ini tidak membenarkan kesesatan yang parah dari gerakan emerging churches bahwa ada “percikan ilahi” dalam setiap manusia atau bahwa setiap agama adalah “layar kapal” bagi Roh Allah.
EDITOR: Seperti yang bisa kita lihat, kesesatan akhir zaman semuanya mengarah kepada relativisme. Inti dari zaman post-modernisme yang sekarang ini adalah bahwa tidak ada yang absolut. Anda boleh mengatakan Yesus Juruselamat, tetapi tidak boleh mengatakan bahwa Yesus SATU-SATUNYA Juruselamat. Banyak gereja yang sesat, seperti gerakan emerging church ini, yang pada intinya mengatakan bahwa semua agama benar, semua agama memimpin kepada Allah dengan cara yang berbeda-beda. Mereka membuang perkataan Yesus bahwa Dialah satu-satunya jalan menuju Bapa (Yoh. 14:6). Banyak gereja belum separah itu, tetapi sudah menuju ke sana dengan cara mengatakan bahwa semua doktrin sama. Banyak orang Kristen tidak mau menyelidiki Alkitab untuk mengetahui doktrin yang benar dan memegang doktrin itu. Jadi, mereka akan senang ke gereja mana saja yang relativistik. Baptis percik boleh, baptis selam boleh. Bahasa lidah ok, tidak bahasa lidah ok. Musik apapun jadi. Ini adalah gereja-gereja bunglon yang telah kehilangan kebenaran. Dan mereka akan “protes” terhadap gereja yang menyerukan kebenaran, yang berani mengekspos kesesatan dan kesalahan berbagai doktrin.

ROMA MEMBUKA PINTU BAGI “ANGLIKAN YANG KECEWA”
Vatikan telah mengumumkan sebuah program baru yang akan mempermudah orang-orang Anglikan untuk masuk ke dalam Gereja Roma Katolik. Tujuannya adalah untuk menarik “orang-orang tradisional yang menentang imam-imam wanita, pendeta-pendeta yang terang-terangan gay, dan pemberkatan nikah sesama seks” (“Vatican Seeks to Lure Disaffected,” Denver Post, 20 Okt. 2009). Program ini memperbolehkan para Anglikan untuk masuk Gereja Katolik sambil masih mempertahankan praktek-praktek mereka sendiri, termasuk imam yang boleh menikah. Mereka juga bisa “bertobat” secara rombongan dan bukan sendiri-sendiri. Rowan Williams, Uskup Agung Canterbury (Editor: pemimpin Anglikan), diberitahu tentang program ini hanya beberapa jam sebelum pengumumannya (ke mana hilangnya saling menghormat dalam ekumenisme?). Uskup Agung Katolik William Levada mengatakan bahwa ada antara 30-40 uskup Anglikan yang berkomunikasi dengan Vatikan dan sedang mempertimbangkan membawa jemaat mereka masuk ke dalam kandang Katolik. John Hind, uskup di Chichester, mengatakan bahwa dia akan senang menjadi seorang imam Katolik (Daily Mail, 26 Okt. 2009). John Broadhurst, uskup di Fulham, mengatakan “eksperimen Anglikan telah berakhir,” dan Martyn Jarrett, uskup di Beverley memperingatkan bahwa kemampuan Gereja Inggris bertahan hidup amat dipertanyakan.

Editor: Alkitab sudah memprediksikan bahwa di akhir zaman, semua agama akan bersatu. Tentunya sebelum itu, semua gereja akan bersatu dulu. Gerakan ekumenisme adalah gerakan persatuan gereja-gereja yang tidak mengindahkan kebenaran. Artinya, persatuan ini bukanlah bersatu dalam iman yang benar, melainkan bersatu tanpa usah banyak berpikir tentang kebenaran (doktrin). Ini akan membuat semua gereja bersatu ke dalam Katolik. Nantikan saja tanggal mainnya. Pertanyaannya: apakah gereja anda akan ikut bergabung dengan katolik? Apakah gereja anda terseret dalam ekumenisme, dan satu agama dunia? Anda ingin tahu lebih lanjut? Seminar terdekat di Graphe adalah pada tanggal 27 November 2009, tentang doktrin Gereja (Ekklesiologi). Jangan ketinggalan, daftarkan diri anda!

PERCOBAAN PEMBUNUHAN KEHORMATAN ISLAMI DI AMERIKA
Menurut polisi di Peoria, Arizona, Falen Hassan Almaleki dituduh sengaja menabrak putrinya (dengan mobil) pada tanggal 20 Oktober karena dia telah menjadi terlalu “kebarat-baratan” (“Police: Strict Iraqi Father Ran Daughter Down,” myfoxphoenix.com, 22 Okt. 2009). Wanita berumur 22 tahun tersebut, Noor, masuk rumah sakit dengan luka-luka yang membahayakan hidupnya. Sepertinya ini adalah sebuah percobaan “pembunuhan kehormatan” (honor killing), yang didefinisikan oleh Human Rights Watch sebagai “tindakan-tindakan kekerasan, biasanya pembunuhan, yang dilakukan oleh anggota keluarga laki-laki terhadap anggota keluarga wanita, yang ditenggarai telah mendatangkan kehinaan bagi keluarga.” Hal ini sangat sering terjadi di Timur Tengah dan Turki. Menuurt PBB, 5000 wanita dibunuh setiap tahun (“Murder in the Family,” Fox News, 26 Juli 2008). Para pelakunya biasanya bebas atau kena hukuman ringan. Para pembela Islam berpura-pura bahwa pembunuhan-pembunuhan kehormatan ini berasal dari “kebudayaan” setempat dan bukanlah produk Islam, tetapi Jihad Watch melaporkan bahwa di tahun 2003, Parlemen Yordania memilih untuk menolak sebuah undang-undang yang akan memperberat hukuman bagi pembunuhan kehormatan, dengan ALASAN-ALASAN ISLAMI, dan Al-Jazeera melaporkan bahwa “para Islamis dan konservatif mengatakan bahwa hukum tersebut melanggar tradisi religius dan akan menghancurkan nilai-nilai dan keluarga” (“Muslim Ran Down Daughter,” Jihad Watch, 22 Okt. 2009). Pembunuhan kehormatan sedang meningkat di Amerika Serikat. Kasus yang pertama kali terdokumentasi adalah pada November 1989, ketika Zein Isa, seorang teroris Palestina yang tinggal di St. Louis, membunuh putrinya yang 16 tahun, Tina, karena dia memiliki seorang pacar, menghadiri sebuah acara dansa di sekolah, dan melamar untuk kerja di restoran Wendy’s. Ibunya memegangi dia sambil ayahnya menusukkan sebuah pisau 9-inci ke dadanya 13 kali, dan sang ibu berteriak “Diam!” ketika anak perempuan itu meminta tolong (Ellen Harris, Guarding the Secrets: Palestinian Terrorism and a Father’s Murder of His Too-American Daughter, 1995). Pada bulan April 2004, Ismail Peltek dari Rochester, Minnesota, membunuh istrinya dan memecahkan tulang tengkorak putrinya karena dia “khawatir kehormatan keluarga saya sedang diambil” (Rochester Democrat & Chronicle, 24 April 2004). Pada bulan Januari 2008, ketika dua orang putri yang bersaudara, Amina dan Sarah Said, ditembak mati di Irving, Texas, oleh bapa mereka, Yaser Abdel Said, tante mereka, Gail Gartrell memberitahu para wartawan, “Ini adalah pembunuhan kehormatan” (“Honor Killing in Texas,” Human Events, 8 Jan. 2008). Pada bulan Juli 2008, Chaudhry Rashid mencekik putrinya hingga mati di Jonesboro, Georgia, “untuk mengembalikan kehormatan keluara” setelah putrinya itu berniat mengakhiri pernikahnnya yang karena dijodohkan. Pada bulan yang sama, di negara bagian New York sebelah atas, Waheed Mohammad yang berumur 22 tahun mencoba untuk membunuh saudarinya sendiri karena dia memakai pakaian barat. Ia menjelaskan penusukan yang dia lakukan dengan berkata bahwa saudarinya itu adalah “seorang wanita muslim yang buruk” (“An American Honor Killing,” New York Post, 23 Juli 2008). Pada bulan Februari 2009, Muzzammil Hassan memancung kepala istrinya, Aasiya, di New York bagian utara setelah dia mengajukan cerai. Phyllis Chesler, penulis buku “Are Honor Killings Simply Domestic Violence,” mengatakan “sifat buas dan mengerikan dari pembunuhan ini mensinyalkan bahwa ini adalah pembunuhan kehormatan” (“Beheading Appears to Be Honor Killing, Experts Say,” Fox News, 17 Feb. 2009). Baru-baru ini seorang hakim di Florida memerintahkan agar Fathima Rifga Bary yang 17 tahun itu dikembalikan ke Ohio walaupun dia menyatakan bahwa bapanya telah mengancam membunuhnya karena dia menjadi orang Kristen.

Sumber: Way of Life Ministry, Friday Church News Notes
Penerjemah: Dr. Steven E. Liauw
Graphe International Theological Seminary
Untuk berlangganan, kirim email ke: gits_buletin-subscribe@yahoogroups.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar