Hazrat Inayat Khan dalam bukunya, "Dimensi Mistik Musik dan Bunyi" mengangkat pandangan para pemikir Timur, bahwa ada empat perkara yang memabukkan. Pertama, mabuk kecantikan, masa muda dan kekuatan. Kedua, mabuk kekayaan. Ketiga, mabuk kekuasaan, kewenangan, dan perintah. Dan yang keempat, mabuk pengetahuan, belajar mengejar ilmu setinggi mungkin. Tetapi, keempat hal yang memabukkan ini musnah seperti bintang di hadapan matahari karena adanya mabuk musik. Alasannya, karena musik menyentuh bagian terdalam dari diri manusia.
Untuk membuktikan hal itu, diangkatnya kisah syair Hafiz dari Persia, bahwa, ketika Tuhan menciptakan tubuh, lalu roh diminta untuk masuk ke dalam tubuhnya, tetapi roh orang itu menolak. Maka Tuhan memerintahkan para malaikat menyanyi, dan ketika mendengarkan para malaikat menyanyi, roh masuk ke dalam tubuh yang ia takutkan menjadi sebuah penjara. Hal ini menunjukkan, roh manusia gampang diperdaya oleh musik. Sama halnya dengan Confusius (551-479 BC) menghubungkan musik dengan hati manusia dan dunia kekal. Demikian juga Plato (427-347 BC) menekankan pentingnya pendidikan melalui musik, karena "Irama dan harmoni meresapi jiwa manusia secara kuat."
Konon hal ini bukan rahasia lagi, para ahli kebatinan dari berbagai aliran dan zaman paling menyukai musik, sebab musik dianggap sebagai suatu kekuatan dan bahkan menjadi pusat kultus atau upacara ritual mereka. Karena itulah para Sufi menganggap musik sebagai sumber meditasi. Kaitan musik dengan dunia rohani bukanlah suatu hal yang baru, juga bukan hanya dimonopoli oleh orang Kristen. Jika demikian, dimana letak perbedaan musik gereja, musik dunia dan musik kepercayaan-kepercayaan agama lainnya?
