Tampilkan postingan dengan label KESELAMATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KESELAMATAN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Mei 26, 2018

DOSA YANG MENDATANGKAN MAUT

Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut,  hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang  berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa. (1 Jo 5:16 ITB)

Banyak orang bertanya-tanya ketika mereka membaca Surat Yohanes sampai pasal 5:16, apa gerangan  dosa yang tidak mendatangkan maut, dan yang mendatangkan maut? Pembela OSAS tidak mungkin bisa menjawab karena mereka telah terlebih dahulu dikungkung oleh filsafat OSAS. Padahal untuk menelaah semua ayat Alkitab seseorang tidak boleh ada pra-prosisi terlebih dulu.

Sabtu, Mei 19, 2018

INTI BAHASAN SURAT IBRANI

Surat Ibrani ditulis kepada orang-orang Ibrani (Yahudi) diaspora, yang dapat dipercayai bahwa penulisnya adalah Rasul Paulus. Pertama, penulis adalah orang dekat dengan Timotius sesuai dengan salam di akhir surat (13:23). Kedua, dalam lingkaran orang dekat Timotius tidak ada orang yang memiliki pemahaman lebih tentang kitab PL dan keyahudian selain Rasul Paulus. Ketiga, jemaat mula-mula tidak mungkin menerima sembarangan tulisan sebagai firman Tuhan. Sekurang-kurangnya tulisan tersebut diketahui oleh Rasul dan disetujui oleh Rasul.

Jangan Mengabaikan Keselamatan
Di pasal 1 surat Ibrani, Paulus menekankan bahwa Yesus Kristus adalah Mesias yang dinanti-nantikan oleh segenap bangsa Yahudi (1:8-9). Bahwa Yesus adalah Anak Allah. Di pasal 2 Paulus berkata bahwa keselamatan dari Allah itu sedemikian nyata, dan pertama-tama diberitakan oleh Tuhan sendiri (2:3) dan kemudian dilanjutkan oleh mereka yang pernah mendengarnya dengan cara yang dapat dipercaya. Tuhan meneguhkan pemberitaan mereka dengan mujizat dan berbagai pernyataan kekuasaan. 

Jumat, Mei 18, 2018

MENYALIBKAN YESUS LAGI

Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum. Sebab tanah yang menghisap air hujan yang sering turun ke atasnya, dan yang menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi mereka yang mengerjakannya, menerima berkat dari Allah; tetapi jikalau tanah itu menghasilkan semak duri dan rumput duri, tidaklah ia berguna dan sudah dekat pada kutuk, yang berakhir dengan pembakaran. (Ibrani 6:4-8 ITB)

Coba bandingkan kalimat ayat ini dari yang bahasa asli dengan yang bahasa Indonesia dan yang bahasa Inggris, maka akan dapatkan bahwa yang LAI redaksinya agak membingungkan.

Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad, tidak mungkin dibaharui untuk bertobat lagi, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum. (terjemahan yang sesuai bahasa aslinya).

Senin, Maret 10, 2014

Jumat, Februari 17, 2012

Peta Jalan Ke Kota Kekal



Bacalah Lembaran Ini Tanpa Prasangka.
Anda Tidak Harus Mengaminkan
Semua Yang Disampaikan Jika Menurut Anda Bahwa Itu Tidak Benar.

Kebenaran Bukanlah Sesuatu Yang Boleh Dipaksakan,
Melainkan Sesuatu Yang Perlu Dipikirkan dan Direnungkan.

Kebenaran Juga Bukan Sesuatu Yang Bisa Diperoleh Melalui Kekuasaan Atau Kekerasan.
Maka Itu Kebenaran Tidak Perlu Dipertahankan Dengan Kekerasan Melainkan Dengan Argumentasi dan Pemikiran.
Jika Anda Membaca Lembaran Ini Dan Ingin Mengetahui Lebih Lagi, Silakan Mengunjungi Website Kami, Di Website Kami Terdapat Banyak Artikel Yang Perlu Anda Baca.

Minggu, November 20, 2011

BAGAIMANA DENGAN MEREKA YANG TIDAK PERCAYA YESUS SECARA PRIBADI?

Apakah semua orang yang tidak beriman kepada Kristus akan masuk neraka, apa itu neraka, dan apakah penghakiman itu kekal sifatnya, adalah topik-topik yang penting dalam pemberitaan Injil. Apakah Allah "menyelamatkan sebagian orang yang tidak pernah beriman kepada Yesus Kristus?" Alkitab mengatakan sama sekali tidak! Efesus pasal dua memberitahu kita tentang kondisi setiap individu di luar iman yang menyelamatkan dalam Kristus Yesus. Dia mati dalam pelanggaran dan dosa (ay. 1), dikuasai dan hidup menurut kuasa Setan (ay. 2), orang durhaka (ay. 2), menuruti hawa nafsu daging (ay. 3), pada dasarnya orang yang harus dimurkai (ay. 3), tanpa Kristus (ay. 12), tidak mendapat bagian dalam janji Allah (ay. 12), TANPA PENGHARAPAN (ay. 12), TANPA ALLAH DI DALAM DUNIA (ay. 12), jauh dari Allah (ay. 13). Alkitab sama sekali tidak memberikan pengharapan bagi mereka yang mati tanpa iman pribadi kepada Kristus. Tuhan Yesus Kristus telah menuntaskan masalah ini sebelum kitab Efesus ditulis. Dalam percakapanNya dengan Nikodemus, Kristus mengatakan dengan tegas, "Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah" (Yoh. 3:3). Nikodemus adalah seorang Yahudi yang sangat beragama dan tulus, dan jikalau ada tipe orang yang bisa ke Surga tanpa lahir kembali, mestinya itu adalah orang seperti dia. Yesus Kristus mengatakan bahwa itu tidak akan terjadi. Dalam percakapan yang sama Yesus mengatakan, "Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia TELAH BERADA DI BAWAH HUKUMAN, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah" (Yoh. 3:18), dan "Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya" (Yoh. 3:36). Puji Tuhan untuk keselamatan penuh yang dibeli oleh darah Yesus Kristus bagi semua yang mau berseru kepadaNya dalam pertobatan dan iman. Allah ADALAH BAIK; Dia membayar harga penuh keselamatan dengan diriNya sendiri. Kita berdosa, tetapi Allah menderita menggantikan kita. Tidak ada tuduhan ketidakbenaran yang dapat dilontarkan kepada Allah. Marilah kita yang mengenal Tuhan tidak bersalah dalam hal malas memberitakan Injil ke segala penjuru bumi.

Jumat, November 18, 2011

Kitab Kehidupan dan Dampaknya pada Doktrin Keselamatan

Dr. Steven E. Liauw, Graphe International Theological Seminary

Kitab Kehidupan adalah salah satu misteri di dalam Alkitab. Tuhan memberitahu manusia melalui FirmanNya tentang eksistensi sebuah kitab yang disebut “book of life” atau “Kitab Kehidupan.” Nama dari kitab ini saja sudah cukup untuk membangkitkan rasa ingin tahu kita, apalagi ketika perikop-perikop Firman Tuhan menyingkapkan bahwa apa yang tertulis dalam Kitab Kehidupan ini akan membawa dampak yang sangat besar bagi setiap individu.


Ada banyak teori mengenai Kitab Kehidupan ini. Sama seperti banyak topik menarik lainnya dalam Alkitab (misalnya Melkisedek), kita seringkali berharap seandainya Tuhan memberikan lebih banyak informasi lagi. Bagaimana bentuk kitab ini? Seberapa panjangkah ia? Kapankah persisnya nama seseorang muncul dalam Kitab ini? Masih banyak informasi yang orang percaya rindukan tentang topik ini. Namun, Tuhan memberitahukan orang percaya, apa yang perlu untuk kita ketahui, dan semua yang tercatat dalam Firman Tuhan berguna bagi kita (2 Tim. 3:15-17). Hal-hal yang Tuhan tidak singkapkan berarti adalah hal-hal yang tidak penting bagi kehidupan kita sebagai orang percaya. Kita tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berspekulasi dalam hal-hal tersebut. Sebaliknya, kita harus berfokus pada apa yang Tuhan singkapkan, menerimanya dengan iman, dan menerapkannya dalam doktrin dan praktek kita, apapun resikonya. 

Sabtu, Oktober 22, 2011

Seminar DOKTRIN KESELAMATAN ALKITABIAH 10 Desember 2011 Jogjakarta

Seminar “Doktrin Keselamatan Alkitabiah“

Tema-tema yang akan dibahas: Benarkah Semua Agama Benar dan Pasti membawa ke Surga? Benarkah hanya ada SATU JALAN menuju SURGA? Cara Allah menghapus Dosa, Apa yang menjamin Anda yakin PASTI MASUK SURGA? Apa itu TULIP/Kalvinisme, Arminianisme, Masuk Surga karena Perbuatan Baik atau Iman, KIta selamat karena Dipilih Allah atau karena Bertobat dan Percaya kepada Tuhan Yesus?

Bayi Mati bagaimana nasibnya Masuk Surga atau Neraka? Orang Gila, Keterbelakangan Mental Matinya masuk Surga atau Neraka? Euthanasia atau Bunuh Diri apakah masuk Surga juga? Apa itu Dosa yang TAK TERAMPUNI? Bagaimana Nasib orang Kristen yang terus-menerus hidup di dalam DOSA?

Dapatkah orang Kristen Murtad dan Terhilang alias Binasa? Sekali Selamat Tetap Selamat?  Iman Pemberian Tuhan atau Respon manusia? Di Surga manusia bisa berbuat Dosa? Masihkah ada Kehendak Bebas di Surga nanti? Keselamatan itu Bersyarat atau Tidak Bersyarat? Bisakah orang menolak Anugerah Keselamatan?

Ikuti Pembahasannya bersama Suhento Liauw, D.R.E., Th.D (Gembala Sidang GBIA GRAPHE, Rektor Graphe International Theological Seminary), pada

Hari/Tanggal: Sabtu, 10 Desember 2011,

Pkl 15.00-21.00,

Tempat: Griya Eirene, Jl. Jambon 2 No 3, (Belakang TK/SD Kalam Kudus)

GRATISSSS!
Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.  (1 Tes 5:21)
Kontribusi: GRATIS, disediakan Makan Malam.

Pendaftaran ke:
Dede Wijaya 0898.5116.980
Ev. Teguh Sujarwo 0888.2740.986


Tempat TERBATAS 100 orang saja. Pendaftaran ditutup 10 Desember 2011.
                                                                       Denah Lokasi

Mari kita mengajak rekan dan teman serta anggota keluarga kita yang lain untuk dapat menghadirinya. Buruan Daftar ya. Seminar Penting nech!

Jumat, Agustus 20, 2010

Regenerasi

Orang-orang percaya bukan sekedar orang-orang baik, tetapi lebih dari itu, mereka adalah-manusia baru. C. S. Lewis dalam bukunya Mere Christianity, meminjam dua kata yunani untuk membedakan dua jenis kehidupan: Bios dan Zoe. Bios merupakan bentuk kehidupan yang dimiliki oleh setiap orang, yaitu kehidupan biologis yang dipertahankan dengan makanan, air dan udara, tetapi pada akhirnya akan berakhir dengan kematian kekal. Sedangkan Zoe, merupakan kehidupan rohani, yaitu jenis kehidupan yang diberikan Allah ketika kita dilahirkan kembali yang berlangsung selamanya. Kedua jenis kehidupan ini bukan saja berbeda, bahkan berlawanan satu sama lain. Bios pada dasarnya merupakan suatu kehidupan yang berpusat pada diri sendiri, sedangkan Zoe merupakan suatu kehidupan yang berpusat pada Allah dan pada orang lain.


Minggu, Mei 30, 2010

From Atheism to Christ: A Doctor's Testimony

May 12, 2010 (Fundamental Baptist Information Service, P.O. Box 610368, Port Huron, MI 48061, 866-295-4143, fbns@wayoflife.org)

The following is by our friend Shem Dharampaul of Alberta, Canada, MD (University of Alberta), FRCPC (Fellow of the College of Physicians of Canada), and trained in Nuclear Medicine. He is published in the Journal of Parasitology, Journal of Rehabilitation, Clinical & Experimental Immunology, Virchow’s Archives, and the Journal of Medical Entomology.
____________________________

I want to share with you the account of a day that began as the worst day in my life and ended as the best day in my life. I will tell you first how I got to that day, and then I will tell you what happened on that day.

I was born in a small country in South America, although my grandparents were from somewhere in the Indian Subcontinent. I often attended a Lutheran Church with my mother when I was a child. My parents divorced when I was eleven years old, and my mother, two brothers, and I, immigrated to Canada when I was fourteen years old.

Kamis, Februari 18, 2010

MENGINJIL BAYI DALAM KANDUNGAN?

Ada pemimpin gereja yang mungkin karena kebingungan tentang topik keselamatan, mengajarkan kepada anggota jemaatnya konsep keselamatan yang kedengarannya agak aneh, yaitu penginjilan terhadap bayi, bukan hanya kepada yang telah lahir, bahkan kepada yang masih di dalam kandungan. Memang agak aneh, tetapi ini bukan cerita bohong, betul-betul ada gereja yang mengajarkan bahwa mereka perlu menginjil bayi yang masih di dalam kandungan. Mendengar itu, seorang teman berguyon, bahwa yang sanggup melakukan tugas itu hanya dokter kandungan.

AKIBAT DOKTRIN KESELAMATAN YANG SALAH

Calvinis, karena percaya bahwa nasib orang telah dipredestinasikan dalam satu dekrit Allah sejak kekekalan, percaya bahwa tiap-tiap orang yang akan dijumpai mereka di Sorga kelak adalah yang dipilih Allah tanpa kondisi (Unconditional Election).

Dengan konsep demikian, maka dapat disimpulkan bahwa keselamatan bayi juga masuk dalam lingkup unconditional election sebagaimana orang dewasa. Sebagaimana orang dewasa masuk Sorga karena dipilih secara tanpa kondisi, maka tentu pemilihan itu termasuk bayi.

Jika Calvinis berterus terang, maka mereka tidak tahu, serta tidak ada cara untuk mengetahui apakah seseorang termasuk dalam pilihan atau tidak. Dengan kata lain, sesungguhnya bagi Calvinis mereka tidak tahu siapa masuk Sorga atau tidak, bahkan mereka tidak memiliki cara bagi seseorang untuk memastikan dirinya masuk Sorga, karena tidak ada orang yang tahu apakah dirinya termasuk dalam pilihan atau tidak. Jika terhadap orang dewasa saja Calvinis tidak akan tahu dan tidak ada kepastian siapa masuk Sorga siapa masuk Neraka, apalagi bayi mereka.

TULIP. Dimana T = Total Depravity dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan“hancur total” dan U= Unconditonal election dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan “pemilihan tanpa kondisi. L = Limited Atonement dalam bahasa Indonesia bisa disebut “penebusan terbatas.” Dan I = Irresistable Grace dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan “anugerah yang tidak bisa ditolak” serta yang terakhir P = Perseverance of the saints atau dalam bahasa Indonesianya adalah “ketekunan orang-orang kudus”. Calvinis sendiri sudah semakin meninggalkan lima poin mereka karena bukan hanya tidak alkitabiah, yaitu tidak didukung ayat-ayat Alkitab, bahkan tidak masuk akal. Akhirnya para Calvinis menyebut diri merekathree-point Calvinis, two-point Calvinis, bahkan one-point Calvinis. Hampir tidak ditemukan Calvinis yang benar-benar percaya pada keseluruhan dari lima poin Calvinis. Mereka makin langka karena terlalu sulit untuk mempertahankan bahwa Tuhan Yesus mati di kayu salib hanya menebus sebagian orang, yaitu yang dipilih Allah dalam kekekalan sementara Alkitab dengan begitu jelas menyatakan bahwa Allah mengasihi semua manusia, dan Kristus mati bagi semua manusia (Yoh.3:16, I Yoh.2:2, Ibr.2:9).

Selasa, Juli 14, 2009

SINYAL YANG SALAH

Please Vote my Blog at SINI

Kejatuhan Manusia

Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, manusia tidak bisa hidup bersama Allah yang maha kudus di Sorga yang maha kudus. Di dalam hati manusia pernah muncul keinginan jahat untuk menyamakan dirinya dengan Allah. Manusia pernah menyangsikan Allah dan mempercayai iblis. Kejahatan ini harus dihukumkan baru bisa selesai. Sifat kemahaadilan Allah tidak bisa membiarkan kesalahan tanpa mendapatkan penghukuman. Penghukuman yang telah diumumkan Allah ialah hukuman mati.

Namun karena kasih Allah yang sangat besar, Ia merencanakan untuk mengirim Juruselamat yang akan dihukumkan. Adam dan Hawa harus mengaku salah dan menyesali kesalahan (bertobat), dan percaya kepada janji Allah bahwa Ia akan kirim Juruselamat untuk menggantikan mereka dihukumkan. Mereka pernah tidak percaya kepada Allah. Selanjut­nya jika mereka mau dosa mereka terhitung ditanggungkan pada Sang Juruselamat maka mereka harus percaya. Mereka harus bertobat dan percaya kepada Juruselamat yang dijanjikan. Dan sebagai tanda percaya mereka harus melakukan ibadah simbolik yang menggambarkan penghukuman yang akan dijatuhkan kepada Sang Juruselamat dengan menyembelih seekor binatang di atas mezbah sambil mengaku salah. Ibadah ini akan selalu mengingatkan mereka pada janji Allah.

Ayah Pemberi Sinyal Pertama

Seorang ayah harus mengajarkan kebenaran ibadah simbolik sederhana ini kepada anak-anaknya. Demikianlah praktek ibadah simbolik ini diteruskan dari satu generasi ke generasi berikut agar mereka ingat terus pada janji Allah. Ayah harus memberitahukan kepada anak-anaknya bahwa dosa mereka harus diakui dan disesali (bertobat) dan mereka harus percaya kepada janji Allah bahwa Ia akan mengirim Juru­selamat untuk dihukumkan menggantikan mereka.

Kalau seorang ayah mengajarkan konsep yang salah, itu sama artinya memberi sinyal yang salah kepada anak­anaknya sehingga mereka tersesat. Pada zaman itu ayah adalah tiang penopang dan dasar kebenaran bagi anak-anaknya. Secara rohani mereka berjalan berpandukan pada sinyal yang diberikan oleh ayah mereka. Kalau sinyal dari sang ayah salah, maka tersesatlah anak-anaknya. Itulah yang mung-kin dialami oleh Nimrod dari kakeknya Ham.

Bangsa Israel Pemberi Sinyal Untuk Semua Bangsa

Setelah manusia tersebar ke berbagai penjuru dunia, maka Allah membangun sebu­ah bangsa untuk memberi sinyal yang tepat kepada bangsa lain. Allah akan menggenapi janjiNya untuk mengirim Juruselamat. Setiap manusia yang ingin dosanya diperhitungkan telah selsai terhukumkan harus bertobat dan percaya kepada Juruselamat yang dijanjikan. Ia harus percaya bahwa Sang Juruselamat AKAN menggantikannya dihukumkan atas semua dosanya.

Seluruh rangkaian ibadah simbolik yang dipusatkan di Kemah Kudus, dan kemudian di Bait Kudus yang dibangun Salomo, adalah upacara pengingat akan janji Allah bahwa Ia telah berjanji untuk mengirim Juruselamat. Sang Juruselamat akan dihukumkan untuk menanggung dosa seisi dunia (Yoh.1:29), dan setiap orang yang percaya kepadaNya maka Allah akan menghitung dia sebagai orang yang telah dijatuhi hukuman. Juruselamat telah menggantikannya dihukumkan. Kebenaran ini adalah sinyal yang harus dipancarkan bangsa Yahudi kepada semua bangsa di muka bumi.

Jika bangsa Israel lalai maka bangsa­-bangsa lain akan sesat dan celaka karena si­nyalnya ternyata menyesatkan. Itulah sebab­nya Allah sangat marah ketika bangsa Yahudi tidak setia pada peran mereka. Seluruh rang­kaian ibadah lengkap dengan keimamatan Harun yang didirikan adalah acara simbolik yang sedang dipakai Allah untuk mengajar­kan kebenaran hakekat yang akan datang (Ibr.10:1-3). Itulah sebabnya juga Allah sangat marah kepada Saul yang tidak setia pada aturan (doktrinal) bahwa hanya imam yang boleh membakar korban. Dosa Daud bersangkut paut dengan moral, sedangkan dosa Saul bersangkut paut dengan doktrin keselamatan.

Kesalahan moral memang dosa, namun dosa seisi dunia telah ditanggung Yesus Kris­tus. Manusia yang berdosa secara moral hanya perlu mengaku salah dan menyesali­nya. Kesalahan doktrinal akan menyebabkan kebinasaan, akan menyebabkan penyimpang­an iman, bahkan akan menyesatkan banyak orang yang mendengarkannya, karena akan menyebabkan manusia salah mengerti program penyelamatan dari Allah. Tuhan marah pada Saul dan Tuhan benci setiap raja yang menyebabkan kesalahan doktrinal (menuntun kepada kesesatan). Bangsa Israel ditunjuk sebagai pemberi sinyal, kalau sinyalnya salah maka bangsa lain akan sesat.

Jemaat Lokal Pemberi Sinyal Zaman Perjanjian Baru

Tugas bangsa Israel sebagai pemberi sinyal bagi bangsa lain selesai pada saat Yohanes muncul mengumumkan kedatangan Sang Juruselamat (Luk.16:16, mat.11:13). Zaman ibadah simbolik yang sifatnya mengingatkan manusia akan janji Allah bahwa Ia akan mengirim Juruselamat telah digenapi dengan datangnya Sang Jurselamat. "Saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran" (Yoh 4:23).

Kini Tuhan membangun jemaatNya yang tidak dikuasai sekalipun oleh alam maut (Mat.16:18) dan ditargetkan akan tersebar ke seluruh muka bumi (Kis.1:8). Tuhan memakai jemaat memberitakan tentang kedatangan Sang Juruselamat kepada setiap manusia, bahkan dihiperbolkan hingga setiap makhluk (Mark.16:15-16). Setiap orang yang percaya dididik untuk menjadi murid dengan didahului sebuah upacara yang menandakan Injil yang telah menyelamatkan mereka, yaitu diselamkan ke dalam air (Mat.29:19-20, Rom.6:3-4). Setelah itu maka terbentuklah kawanan "domba" yang perlu digembalakan dengan penuh kasih kepada Tuhan (Yoh.21:15-17). Kumpulan domba Allah ini juga disebut jemaat Perjanjian Baru, Tiang penopang dan dasar kebenaran (I Tim.3:15). Jemaat inilah yang ditugaskan untuk memberi sinyal yang benar kepada dunia tentang keselamatan jiwa tiap-tiap manusia. Jemaat harus memberitakan Injil keselamatan yang setepat-tepatnya agar setiap manusia yang mendengar dan percaya bisa mendapatkan kepastian masuk Sorga. Tidak boleh ada kesalahan sedikit pun karena kesalahan kecil pasti akan berkembang menjadi kesalahan besar. Dan Injil yang telah salah tidak akan dapat menyelamatkan pendengarnya lagi.

Betapa pentingnya posisi jemaat lokal di zaman Perjanjian Baru ini. Ia sama dengan posisi ayah pada zaman Adam hingga hukum Taurat diturunkan, dan juga sama posisinya dengan bangsa Yahudi dari Taurat diturunkan hingga Yohanes tampil. Zaman ayah sebagai imam dan tiang penopang adalah zaman family-altar, sekarang bukan zaman family-altar. Kelompok "abba-love" yang ingin mempertahankan posisi keimamatan ayah lahir ketelatan. Jika mereka ingin memperta­hankan keimamatan ayah semestinya mereka lahir pada zaman Abraham. Bahkan sejak Harun ditetapkan sebagai imam, keimamatan ayah dihentikan, itulah sebabnya sejak penetapan Harun tidak ada lagi ayah yang memberkati anak-anaknya seperti seorang imam seperti yang dilakukan Yakub (Kej.49). Tentu seorang ayah boleh bahkan harus berdoa kiranya Tuhan memberkati anak-­anaknya.

Iblis Mengacaukan Sinyal

Sebagaimana ia telah lakukan baik terhadap para ayah dari zaman Adam hingga zaman Musa, dan mengacaukan bangsa Israel dari sejak di gunung Sinai hingga tampilnya Yohanes, demikian jugalah Iblis tidak tinggal diam membiarkan jemaat Tuhan bertugas memberi sinyal yang tepat kepada dunia.

Seandainya para ayah sejak Adam kokoh mempertahankan kebenaran yang disampai­kan Allah kepada mereka, setia melakukan ibadah simbolik sederhana sambil mengaku salah dan percaya kepada Juruselamat yang dijanjikan, maka peristiwa Nuh tidak perlu terjadi. Tetapi Kain sengaja membangkang secara doktrinal dengan mempersembahkan hasil tanaman bukan binatang yang bisa mencurahkan darah. Allah menetapkan binatang (domba) sebagai simbol Sang Juruselamat yang dijanjikan. Namun Kain berusaha menggantikannya dengan benda lain (hasil tanaman).

Setelah ditegur Kain bukannya bertobat, malahan membunuh adiknya. Seterusnya keturunan Kain merusak bumi dengan pembangkangan mereka dan menghasilkan manusia bejat pada zaman Nuh. Untunglah Nuh masih setia, dan tetap melakukan ibadah simbolik yang Tuhan perintahkan. Bahkan ketika kapalnya mendarat di gunung Ararat, hal pertama yang Nuh lakukan ialah men­dirikan sebuah mezbah dan mempersem­bahkan seekor binatang halal (domba). Tetapi cucu Ham yang bernama Nimrod menguasai bumi dan memimpin penentangan kepada Sang Pencipta. Sebagai penghukuman, Allah mengacaukan bahasa mereka sehingga manusia tersebar sesuai kelompok bahasa masing-masing.

Sejak Allah mendirikan sebuah bangsa sebagai pemancar sinyal kepada segenap bangsa yang tersebar, iblis tidak berdiam diri. Bahkan pada hari peresmian mereka sebagai bangsa, ketika Musa dan Yoshua sedang menjemput UUD (Taurat) di atas bukit, di bawah iblis memanfaat situasi dan menyebab­kan dosa yang sangat besar, yaitu pembuatan dan penyembahan lembu emas.

Ketika Allah memilihkan sebuah lokasi, yaitu Timur Tengah, tempat yang paling strategis untuk memancarkan sinyal ke Eropa, Afrika dan Asia, iblis berusaha menggagalkan sehingga mereka tertunda 40 tahun. Namun akhirnya mereka memasuki tanah Kanaan dan bertugas memancarkan sinyal dari Allah. Ibadah simbolik yang berpusat pada Kemah Suci sesungguhnya adalah rangkaian ibadah pengingat akan janji Allah bahwa Ia akan mengirim Juruselamat untuk menyelesaikan dosa manusia. Semua orang yang percaya pada janji Allah harus bertobat dan meman­dang ke depan, kepada Sang Juruselamat yang akan datang sambil dengan setia melakukan ibadah simbolik yang menggambarkanNya.

Pada zaman Salomo adalah puncak kesuksesan bangsa Yahudi memancarkan kebenaran dan kebesaran Jehovah ke segala arah. Ratu negeri Syeba yang nun jauh dari Selatan mendapat sinyal dan datang ke Yerusalem, selain mengagumi Salomo tentu termasuk mengagumi ibadah simbolik dan semua pengajaran para nabi.

Raja Yerobeam yang seharusnya tetap setia kepada Allah karena telah mendapatkan sebagian besar kerajaan Daud, ternyata malah memimpin sepuluh suku menyembah berha­la. Zaman raja Manasye adalah zaman yang paling dahsyat penyimpangannya. Bangsa Israel yang sepatutnya memberi sinyal tentang Sang Pencipta langit dan bumi, yang dipanggil Jehovah dengan janji penyelamat­an yang direncanakan malah memberi sinyal yang salah.

Seandainya bangsa Israel sukses meman­carkan kebenaran, maka Sidharta Gautama akan mendapat penerangan (buddha) melalui mengunjungi Yerusalem seperti Ratu Syeba. Kong Fu Tse akan mendengar tentang hukum Taurat, hukum pertama di bumi yang sangat lengkap. Dan para filsuf Yunani sepatutnya tidak berfilsafat secara ngacok memperta­nyakan makna kehidupan dan mempertanya­kan asal-usul kehidupan. Sayang sekali bangsa israel banyak kali gagal memancarkan sinyal dengan benar sehingga bangsa-bangsa kehilangan arah. Sayang sekali bangsa israel banyak kali gagal memancarkan sinyal dengan benar sehingga bangsa-bangsa kehilangan arah. Hanya segelintir orang yang SANGAT AMAT mencintai kebenaran, yang walaupun sinyal-nya agak kacau namun karena mereka berusaha mengamati dengan sangat seksama sehingga masih menemukan arah. Mereka adalah sida-sida dari Etiopia, Kornelius seorang komandan pasukan yang berbangsa Romawi dan lain-lain.

Iblis Mengacaukan Sinyal Gereja

Kalau iblis mengacaukan ayah pada zaman ayah berfungsi sebagai penopang kebenaran, dan mengacaukan bangsa Israel saat bangsa itu sebagai tiang kebenaran, mungkinkah ia akan diam dan tidak mengutak-atik jemaat lokal di masa jemaat lokal berfungsi sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran (I Tim.3:15)? Mustahil!

Hal pertama yang iblis lakukan dalam rangka mengacaukan gereja adalah mengacaukan pemahaman antara doktrin dan kehidupan sehari-hari. iblis berusaha mengen dalikan pengajar di gereja untuk memberi perhatian lebih besar pada topik kasih daripada pengajaran. Betul sekali, "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu

saling mengasihi" (Yoh.13:34-35). Tetapi tentu tidak boleh lupa perkataan Tuhan, "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerde kakan kamu" (Yoh.8:31-32). Dan juga perintah Tuhan dalam Amanat Agung, "Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu" (Mat.28:20).

Tidak ada satu denominasi kekristenan pun yang berani mengabaikan kasih karena itu jelas-jelas perintah yang tertera di dalam Alkitab. Namun banyak yang salah menerapkannya, misalnya yang terang-terangan salah seperti yang diajarkan The Children of God. Namun banyak denominasi gereja salah menerapkan kasih jika lebih menekankan kasih di luar doktrin yang benar. Bahkan lebih salah lagi jika mementingkan kasih sambil mengabaikan doktrin. Kasih tanpa doktrin kekristenan yang alkitabiah sesungguhnya bukan lagi kasih kekristenan melainkan Buddhisme. Bahkan kelompok Buddha telah sedemikian mengekspos kasih hingga mendirikan stasiun TV yang bernama DAAI (kasih besar).

Ketika orang Kristen bingung antara memancarkan kasih (charity) atau doktrin keselamatan alkitabiah, maka kesuksesan iblis mulai terlihat. Orang Kristen dan organisasi Kristen mengumpulkan dana untuk menolong masyarakat miskin dunia ketiga (Negara Islam) dengan mematuhi tekanan pemerintah untuk hanya memberi bantuan tanpa berita Injil, maka iblis mulai tertawa. Iblis membisikan "terima sum-bangannya, jangan percaya pada Tuhannya. Sambut makanan yang diberikan dan tutup telinga terhadap Injilnya." Itulah yang terjadi di Afrika bahkan di Aceh dan di mana-mana.

Kasih yang benar, yang alkitabiah,memberi kebutuhan yang terutama bersamaan dengan kebutuhan lainnya. Kebutuhan utama ialah keselamatan jiwa, kesempatan berdamai dengan Allah. Doktrin alkitabiah adalah paket kasih yang tak terpisahkan, bahkan komposisi utama dalam seluruh paket kasih kekristenan.

Dalam perjalanan sejarah, gereja telah berkali-kali menyimpang. Bahkan di saat Rasul-rasul masih hidup, di Galatia telah berdiri gereja "Advent" yang menggabungkan kekristenan dengan Yudaisme. Oleh Kaisar Konstantin iblis juga telah berhasil menjadi kan kekristenan agama gabungan dengan memasukkan konsep penyembahan dewa matahari dan dewa-dewi Yunani. Hasilnya doktrin GEREJA ROMA yang AM memancarkan sinyal yang kacau selama seribu tahun lebih. Agustinus pendiri Gereja Roma yang Am mengajarkan bayi harus dibaptis untuk menghilangkan dosa asalnya. Dan ia menciptakan acara Perjamuan Kudus yang bermanfaat untuk keselamatan. Ini pengajaran yang sangat sesat yang di kemudian hari diadopsi oleh John Calvin. Baik Agustinus maupun John Calvin telah memancarkan sinyal yang menyesatkan.

Kelompok Kristen Nestorian yang berkembang di wilayah Jazirah Arabiah juga sangat sesat sehingga memberi sinyal yang salah. Kalau tidak, pasti Muhammad menga minkan ketritunggalan Allah. Dan seandainya Kristen Nestorian mengerti bahwa proses pewahyuan hanya sampai kitab Wahyu 22:21, maka keluarga Muhammad pasti mengerti bahwa tidak ada wahyu tambahan yang turun pada abad ke-6, dan bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman Allah. Kesalahan Nestorian yang percaya Allah yang satu pribadi kini diperbarui dan dipromosikan kelompok Saksi Jehova, dan keyakinan proses pewahyuan yang masih berjalan dikembang­ kan kelompok Kharismatik.

Kini, di abad 21 muncul ribuan denomi­nasi dengan segala macam ragam penafsiran. Tentu fenomena ini akan sangat mempersulit manusia menemukan kebenaran, karena begitu banyak pengajaran yang harus disortir. Namun sesungguhnya apapun keadaannya, manusia yang ingin masuk Sorga tetap bertanggung jawab untuk menilai mana yang benar untuk diyakininya. Seperti seorang kapten yang sedang berada di tengah lautan kehidupan, menyadari bahwa iblis mendirikan begitu banyak mercusuar palsu, itu sama sekali tidak berarti ia lepas tanggung jawab untuk menyandarkan kapalnya di pelabuhan dengan selamat. Memang fenomena itu akan sangat menyulitkannya sehingga ia harus mengerahkan segenap konsentrasinya untuk mendeteksi mercusuar yang benar dari yang palsu. Dan apa jadinya jika ia putus asa dan dengan sembarangan menabrakkan kapal kehidupannya? Celaka! Hati-hati, saya sama sekali tidak memaksudkan seseorang selamat oleh usaha dirinya atau kepintaran dirinya menjalankan kapal kehidupannya. Anugerah keselamatan sepenuhnya dari Allah, manusia tidak berjasa sedikitpun melainkan hanya menerima saja. Namun sekalipun hanya menerima, jika iblis juga berlagak sebagai, Allah dan menawarkan anugerah keselamatan semu, maka orang yang akan selamat adalah yang menerima anugerah keselamatan asli dari Allah yang asli.

Banyak orang Kristen, bahkan penyampai Firman dan Gembala Jemaat yang bingung serta putus asa, berkata bahwa kita tidak mau berbicara tentang doktrin. Gereja kami tidak mau bicara tentang doktrin. Aneh bukan? Apakah artinya yang dibicarakan gerejanya adalah dongeng nenek tua?

Apa yang membedakan satu agama dengan yang lain? Doktrin! Apa yang membedakan satu denominasi dengan yang lain? Doktrin! Dan apa yang membedakan satu gereja dengan yang lain? DOKTRIN! Seorang Gembala atau Pengkhotbah harus mempelajari doktrin dan harus membanding­kan berbagai doktrin dan menghakimi dengan Alkitab serta memutuskan yang menurutnya paling benar, dan memancarkannya. Gereja atau jemaat adalah tiang penopang dan dasar kebenaran, adalah pemancar sinyal kebenaran (mercusuar) ke sekelilingnya. Dunia menga­mati sinyal-sinyal yang dipancarkan gereja. Bayangkan, kalau gereja menolak tanggung jawab yang Tuhan berikan kepadanya, dengan tidak peduli hal doktrinal sehingga bertindak sembarangan. Ia tidak mau bahkan tidak tertarik hal doktrinal, namun tetap terus memancarkan sinyal. Sudah pasti sinyalnya Kristen akan menyesatkan banyak orang. Renung­kanlah!

(Suhento Liauw, DRE, Th.D, Buletin PEDANG ROH 60 Juli-Sept 2009)

Rabu, Maret 04, 2009

Jalan Keselamatan

Tahukah anda bahwa hal terpenting dalam kehidupan seseorang justru bukanlah menyangkut kehidupannya saat ini? Ya, itu benar. Hal terpenting dalam kehidupan seseorang adalah tentang kehidupan setelah ini, yaitu apa yang akan terjadi setelah ia meninggal dunia. Mengapa justru hal-hal setelah kematian yang paling penting? Benar, karena manusia hanya menghabiskan waktu kira-kira 60 hingga 80 tahun saja di dunia ini, sedangkan setiap pribadi akan menghabiskan kekekalan di suatu tempat setelah ia mati. Enam puluh hingga delapan puluh tahun itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekekalan. Oleh sebab itulah, keberadaan dirimu pada saat kekekalan itu jauh lebih penting daripada hidupmu hari ini. Bagaimana dengan anda? Sudahkah anda menyelesaikan masalah yang paling penting ini? Tahukah anda ke mana anda akan pergi ketika anda mati? Maukah anda tahu cara pergi ke Surga? Firman Tuhan memberitahukan jalannya bagi kita. Silakan baca terus.

Allah Menciptakan Manusia, Surga, dan Neraka

Langkah pertama kepada keselamatan adalah percaya bahwa Allah ada. Penulis kitab Ibrani mengatakan bahwa mereka yang tidak mau mengakui keberadaan Allah, tidak dapat berseru kepadaNya (Ibr. 11:6). Seluruh alam semesta sebenarnya menyerukan bahwa ada Allah yang menciptakan. JIka anda menemukan sebuah arloji di atas pasir di pinggir pantai, apa yang akan terlintas di benak anda? Apakah arloji tersebut hadir dengan sendirinya, melalui berpuluh-puluh atau beratus-ratus tahun sapuan gelombang terhadap unsur-unsur hara dalam pasir? Tentu tidak, anda akan berpikir bahwa ada seseorang yang membuat arloji tersebut, dan ada yang meninggalkannya di situ. Sebenarnya, alam semesta kita jauh lebih kompleks, lebih tertata, lebih indah, dan penuh tujuan dibandingkan sebuah arloji Seluruh dunia, tubuh manusia yang penuh pesona, hukum-hukum Fisika, semuanya menunjuk kepada seorang Desainer Agung. Dan Desainer itu adalah Allah.

Allah menciptakan segala sesuatu, termasuk manusia. Artinya, Allah memiliki otoritas atas manusia. Manusia wajib hidup menurut aturan Tuhan, dan bahkan segala sesuatu di alam semesta ini haruslah demikian, karena Allah adalah Pencipta yang Berdaulat. Surga juga adalah ciptaan Allah. Surga digambarkan sebagai tempat kediaman Allah, tetapi bukanlah berarti Allah tinggal di suatu tempat seperti manusia, tetapi Surga adalah tempat di mana kehadiran dan kemuliaan Tuhan paling nyata. Oleh sebab itu, untuk masuk Surga kita harus mengikuti instruksi Tuhan, bukan kehendak atau keinginan manusia.

Penghalang Masuk Surga: Dosa

Ketika Allah pertama kali menciptakan manusia, Ia menamai manusia pertama itu Adam, dan istrinya Hawa. Mereka diciptakan sempurna dan suci. Adam dan Hawa tidak ada masalah bersekutu dengan Allah pada waktu itu. Tetapi semuanya berubah tidak lama setelah mereka diciptakan. Mereka berdosa. Sejak Adam dan Hawa berdosa, mereka tidak dapat lagi mendekati dan bersekutu dengan Allah sebagaimana sewaktu mereka masih kudus. Allah adalah kudus, dan karena itu tidak dapat didekati oleh makhluk yang penuh dosa. Jadi kita lihat di sini bahwa penghalang kepada Allah adalah dosa. Seorang laki-laki atau perempuan yang berdosa, tidak dapat masuk Surga karena Allah pemilik Surga adalah maha kudus, dan tidak dapat mentolerir dosa.

Bukan saja si orang berdosa tidak dapat masuk surga, ia bahkan harus masuk neraka. Neraka adalah ciptaan Allah juga, tetapi pada awalnya tidak dimaksudkan untuk manusia. Allah menciptakan neraka untuk menghukum malaikat yang memberontak, yang disebut setan atau iblis (Mat. 25:41). Namun demikian, setiap orang yang telah melakukan dosa, harus dihukum di neraka karena dosa-dosanya (Roma 6:23).

Semua Manusia Berdosa

Jadi, setiap orang berdosa berada di bawah hukuman kematian dan neraka. Sebelum seseorang dapat diselamatkan, ia harus sadar dulu bahwa ia orang berdosa. Allah telah mengumumkan bahwa semua manusia di dunia ini adalah orang berdosa (Rom. 3:23). Suka atau tidak suka, anda adalah orang berdosa juga. Orang berdosa bukanlah jabatan hanya bagi mereka yang merampok bank, yang membunuh, atau yang berzinah. Seorang berdosa adalah ia yang telah melanggar satu saja dari hukum Allah. Seseorang sudah dapat disebut pembunuh jika ia membunuh satu orang. Seseorang sudah dapat disebut perampok bank jika ia sudah merampok satu bank, tidak perlu menunggu hingga ia merampok 10 bank. Demikian juga, orang berdosa adalah orang yang telah melakukan dosa sekecil apapun, bukan menunggu dosanya extra banyak. Namun demikian, jika kita jujur, toh setiap dari kita memiliki dosa yang teramat banyak. Allah berkata bahwa melanggar satu hukumNya, sama fatalnya dengan melanggar seluruh hukum itu (Yak. 2:10).

Solusi bagi Dosa

Hanya ada satu solusi untuk dosa. Karena Allah adalah maha kudus dan suci, Ia tidak dapat menutup sebelah mata terhadap dosa. Ia juga tidak dapat mencabut kembali FirmanNya bahwa dosa harus dihukum dengan kematian. Allah tidak dapat membiarkan dosa begitu saja.

Banyak orang yang telah mencoba menyelesaikan dosa dengan berbagai cara. Cara manusia menyelesaikan dosa adalah dengan mencoba menyenangkan Allah menggunakan perbuatan baik, atau ritual-ritual, atau menyiksa diri sendiri. Semua hal ini tidak cukup baik bagi Allah, karena perbuatan baik tidak mungkin dapat menghilangkan hukum Allah bahwa dosa harus dihukum (Yesaya 64:6). Jadi, satu-satunya cara menyelesaikan dosa adalah melalui penghukuman.

Ketika seolah-olah keadaannya tanpa pengharapan, dan seluruh umat manusia akan masuk neraka, Allah memberikan jalan keselamatan. Hanya Allah yang dapat menyelamatkan manusia dan mengembalikan hubungan yang sudah rusak itu. Semua usaha manusia tidak mencukupi.

Jalan keselamatan dari Allah tidak dapat berlawanan dengan aturanNya sendiri dan sifatNya sendiri. Allah masih tetapi maha kudus dan maha adil, namun juga maha kasih. Jadi, Allah mengutus diriNya sendiri, yaitu Yesus Kristus, untuk dilahirkan dari seorang perempuan perawan, dan menjadi manusia, Allah-manusia, dan tinggal bersama-sama manusia. Hal ini terjadi pada abad pertama. Yesus, sang Allah-manusia, berjalan di muka bumi ini dan menjalani kehidupan yang tidak berdosa, karena Ia adalah Allah. Ia melakukan berbagai mujizat yang membuktikan keilahianNya.

Setelah beberapa waktu, Yesus lalu menyerahkan diriNya untuk disalib. Banyak orang yang iri kepadaNya, dan dengan senang membunuhNya. Ia tidak melawan, karena Ia memang datang ke dunia dengan tujuan untuk menyerahkan nyawaNya. Ketika Ia mati di atas kayu salib, bukan saja Ia mati secara fisik, tetapi seluruh murka Allah terhadap dosa seisi dunia dicurahkan pada diriNya (Yesaya 53:3-6). Di sanalah, di atas salib, Yesus mengambil penghukuman atas dosa seluruh dunia, dan meletakkannya pada diriNya sendiri (1 Yoh. 2:2).

Jalan Keselamatan

Yesus telah mati pada kayu salib untuk seluruh dunia. PengorbananNya akan diriNya sendiri berkenan dan diterima oleh Allah. Jadi, jalan keselamatan untuk manusia telah selesai. Yesus berteriak dari salib, "Sudah selesai," mengacu pada jalan ke surga bagi manusia (Yohanes 19:30).

Kini, Allah menuntut, bahwa barangsiapa hendak diselamatkan, maka ia harus bertobat dari dosa-dosa mereka dan percaya pada Yesus Kristus. Ia harus mengakui dirinya sebagai orang berdosa, setuju dengan Allah tentang status dosa-dosanya, dan ia harus berseru pada Yesus untuk menyelamatkannya (Roma 10:13). Jika ada orang yang melakukan hal ini, Yesus akan menyelamatkannya, dan pengorbanan Yesus di kayu salib akan dihitungkan bagi orang yang bertobat dan percaya tersebut. Kebenaran Yesus akan ditaruh pada dirinya, dan ia akan memiliki hidup yang kekal (Yoh. 3:16; 1 Yoh. 5:13).

Keputusan

Teman, hari ini anda bisa mendapatkan keselamatan. Hal yang paling penting dan paling berharga dalam hidup ini dapat menjadi milik anda. Tetapi engkau harus bertobat dari dosa-dosamu, dan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadimu. Mengapa tidak melakukan itu hari ini dan saat ini? Tundukkanlah kepalamu dan berdoalah kepada Yesus, mengaku akan kondisimu sebagai orang berdosa, dan terimalah anugerah keselamatan dariNya yang cuma-cuma.

sumber: http://www.graphe-ministry.org/bahasa/keselamatan.html