Minggu, November 08, 2009

Berita Mingguan 24 Oktober 2009

FRANKLIN GRAHAM BERKHOTBAH DI GEREJA TIGA-MANDIRI YANG KOMUNIS
Mengikuti jejak kaki ayahnya, Franklin Graham baru-baru ini berkhotbah di sebuah gereja Tiga-Mandiri (Three-Self) yang terdaftar di Cina. Gereja tersebut, Gereja Bethel di Baoding, adalah gereja kedua terbesar di Cina. Ini adalah kesempatan kedua Franklin berkhotbah di gereja-gereja Tiga-Mandiri. Di Cina, adalah ilegal bagi gereja untuk eksis kecuali jika gereja tersebut mendaftar ke pemerintah dan mengikuti segala peraturan pemerintah yang tidak mengizinkan mereka untuk melakukan hal-hal seperti mengadakan sekolah minggu atau memberitakan Injil di luar dari waktu-waktu dan tempat-tempat yang disetujui oleh pemerintah komunis. Mereka yang menolak untuk tunduk kepada peraturan-peraturan ini dan yang lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia telah dianiaya dengan kejam. Bahkan hari ini banyak pengkhotbah yang tidak terdaftar yang dipenjara karena iman mereka, sebagaimana yang sering kami laporkan melalui Berita Mingguan ini. Gerakan Patriotik Tiga Mandiri dan organisasi China Christian Council didirikan oleh Mao Tse Tung yang brutal sebagai alat untuk mengontrol gereja-gereja.

Berkhotbah di sebuah gereja yang terdaftar komunis dan yang berkompromi habis-habisan, adalah pengkhianatan terhadap Tuhan Yesus Kristus, kepala satu-satunya dari gereja. Keluarga Graham akan memberi pertanggungan jawab kepada Allah akan kompromi mereka terhadap FirmanNya dan cara mereka mengolok-olok fundamentalis Alkitabiah yang hanya ingin serius menerapkan Alkitab. Mereka telah mencari keagungan dan popularitas dunia, tetapi Yesus berkata, “Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu” (Luk. 6:26). Editor: Gerakan Gereja Tiga-Mandiri diciptakan oleh Mao, satu paket dengan gerakan patriotisnya di bidang-bidang lain. Yang dimaksud dengan Tiga Mandiri (Three-Self) adalah: Self-Governance, Self-Support, Self-Propagation. Walaupun tiga konsep ini tidak terdengar terlalu buruk, namun ini hanyalah topeng agar gereja-gereja Cina tidak terpengaruh oleh orang-orang Kristen lain dan dapat dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah komunis. Seorang fundamentalis Alkitabiah boleh berkhotbah di mana saja jika diundang. Tetapi jika ia diundang oleh gereja yang sesat atau dalam kompromi yang besar, dan ia tidak menegur kesalahan mereka, maka ia sendiri telah berkompromi, dan motivasinya untuk berkhotbah di sana bukan lagi untuk memberitakan kebenaran, melainkan mungkin untuk amplop atau ketenaran. Seorang fundamentalis yang alkitabiah, tidak mungkin akan sering diundang oleh gereja yang kompromistis, karena ia akan menegur mereka, dan mereka akan bertobat atau tidak mengundang dia lagi.

ELIZABETH CLARE PROPHET, PEMIMPIN BIDAT NEW AGE, MENINGGAL
Elizabeth Clare Prophet, seorang pemimpin bidat New Age, meninggal usia 70 pada tanggal 15 Oktober di Bozeman, Montana. Dia mendirikan Gereja Universal and Triumphant pada tahun 1970an. Pertama-tama berlokasi di Pasadena, California, yang adalah tempat subur para bidat, gereja itu lalu pindah pada tahun 1981 ke sebuah lahan peternakan seluas 12000 acre di Montana. Prophet tumbuh besar dalam lingkungan “Christian Science” dan menghadiri banyak gereja sebelum akhirnya memutuskan bahwa dia menemukan kebenaran “dalam diri sendiri.” Pada tahun 1962, dia menikahi Mark Prophet, pemimpin dari sebuah bidat dengan nama Summit Lighthouse. Prophet mengajarkan suatu pesan “kerohanian” yang tersinkretisasi dengan berbagai agama. Pada tahun 1980an, Elizabeth Prophet memprediksikan bahwa Uni Soviet akan menyerang Amerika Serikat dengan bom nuklir. Sebagai hasilnya, lahan peternakan tempat Gereja Universal dibanjiri oleh para pengikut yang mencari tempat perlindungan. Mereka menumpuk senjata dan bahan makanan dan mendirikan tempat perlindungan bom yang sangat besar. Semuanya sia-sia, karena dia terbukti adalah seorang nabi palsu. Salah satu bukunya, “The Lost Years of Jesus” (Tahun-tahun Yesus yang Hilang), mengajarkan mitos bahwa Yesus belajar hikmat dari para petapa timur dalam perjalanan 17 tahunnya ke India, Nepal, dan Tibet. Prophet mengklaim menerima pengajarannya dari “para Master yang telah Naik.” Dia mengajarkan evolusi jiwa dan reinkarnasi, mengklaim bahwa setelah banyak kehidupan menjalani karma seseorang melalui perbuatan baik dan pengorbanan dan hal-hal seperti itu, jiwa lalu dapat kembali kepada Allah dalam suatu peristiwa yang disebut “kenaikan.” Mereka yang telah mencapai level ini adalah para Master yang telah naik, dan termasuk adalah para ilah Hindu Brahma, Vishnu, dan Shiva, termasuk juga Yesus, Maria, dan Budha. Dalam buku kami The New Age Tower of Babel, kami telah mendokumentasikan bagaimana filosofi New Age menyebar dengan cepat, bahkan dalam gereja-gereja.

HASIL DARI PENDIDIKAN SEKS DI SEKOLAH-SEKOLAH PUBLIK USA
Para humanis yang mengendalikan sekolah publik di Amerika telah mendorong pendidikan seks untuk usia-usia muda sebagai alat restrukturisasi sosial. Tidak mengherankan, hasilnya adalah meledaknya immoralitas. Telah dilaporkan baru-baru ini bahwa 115 wanita muda di Sekolah Menengah Robeson sedang hamil atau sudah memiliki anak (”Officials Say a Mix of Factors Are to Blame,” CBS2 Chicago, 15 Okt. 2009). Itu berarti satu dari setiap tujuh anak perempuan! Foto dari remaja-remaja yang sudah menjadi ibu ini memenuhi kira-kira enam halaman buku tahunan sekolah menengah tersebut. Tentu saja ini belum menghitung wanita-wanita muda yang telah mengakhiri kehamilan mereka melalui aborsi. Apa masalahnya? Sama sekali tidak perlu menjadi seorang jenius untuk mengidentifikasi biang keladinya. Pertama, penolakan akan Alkitab sebagai Firman Allah, dan menggantikan kebenaran absolut dengan humanisme yang relatif. Kepala sekolah Gerald Morrow mengambil pendekatan yang sama sekali tidak-menghakimi menghadapi immoralitas yang merajalela tersebut, dan dia berkata, “Kami tidak akan memandangi mereka dan berkata `Ooh kamu sudah membuat kesalahan.’” Relativisme moral yang telah menjadi inti filosofi sekolah publik di USA selama lebih dari setengah abad telah sangat dapat diprediksi menghasilkan generasi yang hidup seenak mereka. Faktor-faktor lain dalam hancurnya moralitas adalah pendidikan seksual dalam sistem sekolah publik; kultur pop, terutama musiknya yang kotor; sistem jaringan sosial yang menghancurkan unit keluarga; tidak adanya ayah dalam keluarga; dan mentalitas aborsi yang memperlakukan anak-anak yang belum lahir sebagai “benda” yang dapat dilempar ke tong sampah.

BUAH DARI MUSIK ROCK
Ilustrasi berikut ini adalah dari khotbah “The Quiet Judgment of God” oleh R. B. Ouellette (The Preacher’s Page, October 1997, First Baptist Church, Bridgeport, MI. 517-777-0210). “Saya baru selesai berkhotbah di sebuah kamp Kristen. Seorang wanita muda yang bekerja di sana sebagai konselor meminta untuk berbicara dengan saya. Dia memberitahu saya sebuah kisah yang sangat sedih, bagaimana setelah dia lulus dari sebuah SMA Kristen, dia mulai mengencani seorang lelaki yang beberapa tahun lebih tua daripadanya dan kehilangan keperawanannya melalui lelaki itu. Walaupun dia tidak sadar, ternyata dia hamil saat dia masuk ke sekolah Alkitab dan karena itu terpaksa harus pulang. Dia memberitahu saya akan kesedihannya, penyesalannya, dan dia lalu berkata, “Ini semua mulai dari kelas enam saat saya mulai mendengarkan musik rock and roll.” Mendengarkan musik rock yang pertama itu tidak membuat dia kehilangan keperawanannya. Mendengarkan musik rock yang pertama itu tidak membuat dia mundur total secara rohani dan kehilangan persekutuan dengan Allah. Namun mendengarkan musik rock yang pertama itu memimpin dia untuk mendengarkan musik-musik yang lain, mengeraskan hati dia melawan instruksi-instruksi orang tuanya, khotbah-khotbah gembalanya dan tusukan-tusukan Roh Kudus. KESIMPULAN DARI SDR. CLOUD: Saudara, semakin hari semakin sedikit khotbah yang jelas untuk melawan musik rock dalam gereja-gereja fundamental Baptis. Para pengkhotbah harus berkhotbah melawan musik rock karena musik itu menghancurkan secara rohani. Terlalu banyak gembala sidang yang menelan kebohongan kontemporer bahwa bukanlah urusan mereka berkhotbah melawan musik tertentu karena musik adalah netral, namun musik tidaklah netral. Salah satu alasan, barangkali, mengapa mimbar-mimbar sangat hening mengenai musik rock adalah karena banyak gembala sidang yang mendengarkan musik rock dalam kehidupan sehari-hari mereka sendiri melalui radio atau program-program olahraga. Faktanya, saya menemukan banyak gembala dan diaken fundamental Baptis yang mendengarkan Musik Kontemporer Kristen dalam kehidupan pribadi dan rumah tangga mereka walaupun mereka mendukung musik tradisional di kebaktian. Bukankah ini kemunafikan? Musik kedagingan akan menyulut kedagingan dan merampas dari kita kuasa dan berkat rohani. Firman Allah memperingatkan kita bahwa “pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” dan apapun yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya; sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya.”

Sumber: Way of Life Ministry, Friday Church News Notes
Penerjemah: Dr. Steven E. Liauw
Graphe International Theological Seminary
Untuk berlangganan, kirim email ke: gits_buletin-subscribe@yahoogroups.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar