Tampilkan postingan dengan label BIDAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BIDAT. Tampilkan semua postingan

Kamis, November 25, 2010

Saksi Yehovah: Politeisme Terselubung

by Dr. Steven E. Liauw, Graphe International Theological Seminary

Hal utama yang membedakan organisasi Menara Pengawal (Watchtower) dengan kekristenan pada umumnya adalah pengajaran mereka tentang Allah, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Ini bukanlah isu yang kecil atau sekedar suatu topik sampingan. Kepercayaan seseorang tentang Allah, Yesus Kristus, dan Roh Kudus, adalah inti dari imannya dan akan mempengaruhi masa depannya dalam kekekalan. Oleh karena itu, penting sekali untuk memastikan pengajaran Alkitab mengenai hal-hal ini.

Organisasi Menara Pengawal menolak doktrin Tritunggal. Mereka menyebarkan konsep bahwa doktrin Tritunggal barulah muncul ratusan tahun setelah para Rasul, yaitu melalui Konstantin dalam Konsili Nicea. Berbarengan dengan penolakan mereka terhadap doktrin Tritunggal, mereka juga menolak bahwa Yesus Kristus adalah Allah yang Mahakuasa yang sejajar dengan Bapa. Sebaliknya, mereka mengajarkan bahwa Yesus Kristus adalah ciptaan yang paling pertama. Menara Pengawal mengajarkan bahwa Yesus pada awalnya adalah makhluk roh yang diciptakan sama seperti malaikat-malaikat, yang lalu turun ke bumi menjadi manusia. Lebih lanjut lagi, mereka menolak Roh Kudus sebagai pribadi, melainkan menganggapNya hanya sekedar “tenaga aktif” Allah. (Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal? Pennsylvania: Watch Tower Bible and Tract Society, 1989)


Sabtu, November 20, 2010

Apakah Kolose 1:15 dan Wahyu 3:14 Mengajarkan Bahwa Yesus Adalah Ciptaan?


"Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain" (2 Petrus 3:15-16).

Memutarbalikkan Firman Tuhan adalah salah satu keahlian Iblis dan sekaligus senjata pamungkasnya. Ia telah memutarbalikkan Firman Tuhan sejak di taman Eden terhadap orang tua pertama kita, Adam dan Hawa. Terhadap Hawa, Iblis dengan licik memutarbalikkan dan menyangkal Firman Tuhan. Ia sukses membuat Hawa tertipu, sehingga senjata ini ia pergunakan terus sepanjang zaman. Bahkan, terhadap Adam kedua, yaitu Yesus Kristus, datang ke dunia ini, Iblis juga berusaha untuk memutarbalikkan Firman Tuhan terhadapNya. Ketika mencobai Tuhan Yesus, Iblis memakai Alkitab juga. Tetapi tentu Iblis tidak dapat menipu sang Firman itu sendiri! Tuhan kita menunjukkan bahwa cara paling ampuh untuk melawan pemutarbalikkan Firman Tuhan adalah dengan menerapkan dan mengerti Firman Tuhan itu secara benar.

Minggu, Mei 30, 2010

A WARNING ABOUT SEVENTH-DAY ADVENTISM

Republished May 26, 2010 (first published October 14, 2008) (David Cloud, Fundamental Baptist Information Service, P.O. Box 610368, Port Huron, MI 48061, 866-295-4143, fbns@wayoflife.org)

Di Indonesia dikenal dengan Masehi Advent Hari ke-tujuh (Gereja Advent-red). This report is excerpted from AVOIDING THE SNARE OF SEVENTH-DAY ADVENTISM. This book has been called the best on the subject by the editor of The Baptist Challenge. Now it has been throughly updated and enlarged. It is diligently researched from official publications of the Seventh-day Adventist organization and proves conclusively that the Seventh-day Adventist gospel is false. The book begins with a chapter entitled “Adventists Wanted Me to Revise This Book,” describing a deceptive attempt by Seventh-day Adventists to have me change the book. The major divisions of the book are: “Adventist History Proves It is Heretical” and “Adventist Doctrine Proves It Is Heretical.” The book analyzes Adventist doctrines such as Sabbath-keeping, Soul-sleep, Annihilation of the wicked, Ellen White as a Prophetess, Investigative Judgment, Misuse of the Mosaic Law, and Vegetarianism. The chapter “Why Some Have Considered Seventh-day Adventism Evangelical" analyzes Walter Martin’s (author of Kingdom of the Cults) faulty view of Adventism. The book includes selections from D.M. Canright’s 1898 book Seventh-day Adventism Renounced. Canright was an early leader in Adventism who left and became a Baptist pastor. Third edition updated and enlarged September 2008. 206 pages, 5 X 8”, perfect bound, $8.95.

___________________________________

The Seventh-day Adventist denomination was established in 1860 in America. “Seventh-day” refers to sabbath worship. “Adventist” refers to their belief that God raised them up to announce the coming of the Lord. They have 15 million members worldwide in 61,000 churches, and they are working in 203 countries.

Kamis, Maret 04, 2010

Mengupas Tuntas Bidat Saksi-Saksi Jehovah (Jehovah's Witnesses)

Artikel-artikel yang Mengupas Tuntas Bidat/Sekte Saksi-Saksi Yehuwa (SSY)

Bagaimana menaklukkan Saksi Yehovah ?






Buku-Buku yang mengungkap tentang Saksi Yehuwa

Tim Redaksi LLB(Lembaga Literatur Baptis), Bagaimana Menghadapi Saksi Yehuwa, Lembaga Literatur Baptis, Bandung, 1998



4 Buku Pdt. Budi Asali:

Saksi-Saksi (palsu) Yehuwa (jilid I).................................................... Rp 25.000,-

Saksi-Saksi (palsu) Yehuwa (jilid II).................................................. Rp 27.500,-

Saksi-Saksi (palsu) Yehuwa (jilid III)..................................................Rp 20.000,-

Saksi-Saksi (palsu) Yehuwa (jilid IV)..................................................Rp 27.500,-

Rabu, Februari 03, 2010

INJIL ANAK-ANAK SKEWA

Juga beberapa tukang jampi Yahudi, yang berjalan keliling di negeri itu, mencoba menyebut nama Tuhan Yesus atas mereka yang kerasukan roh jahat dengan berseru, katanya: "Aku menyumpahi kamu demi nama Yesus yang diberitakan oleh Paulus." Mereka yang melakukan hal itu ialah tujuh orang anak dari seorang imam kepala Yahudi yang bernama Skewa. Tetapi roh jahat itu menjawab: "Yesus aku kenal, dan Paulus aku ketahui, tetapi kamu, siapakah kamu?" Dan orang yang dirasuk roh jahat itu menerpa mereka dan menggagahi mereka semua dan mengalahkannya, sehingga mereka lari dari rumah orang itu dengan telanjang dan luka-luka (Kis.19:13-16).

Anak-anak Skewa, seorang imam Yahudi, jelas bukan orang Krisen lahir baru. Mereka tidak mengaminkan bahwa diri mereka adalah orang berdosa, dan bahwa Yesus Kristus telah dihukumkan di kayu salib menggantikan mereka. Mereka tidak mengerti Injil Keselamatan Yesus Kristus.

Namun mereka sudah sering mendengar tentang nama Yesus. Kalau kondisi zaman sekarang mungkin mereka sekolah di Sekolah Kristen, atau mereka adalah orang-orang yang sudah sering menghadiri kebaktian di berbagai gereja, namun tidak mengerti Injil yang benar sehingga belum diselamatkan atau belum dilahirkan kembali ke dalam Yesus Kristus.

Anak-anak Skewa mungkin pernah mendengar atau bahkan menyaksikan Rasul mengadakan mujizat atau melihat murid Tuhan berdoa dan mujizat terjadi. Wow, luar biasa nama itu, rupanya dengan hanya menyebut Yesus saja orang sakit bisa sembuh, pikir mereka. Akhirnya mereka mencoba-coba memakai nama Yesus mengusir iblis. Hasilnya sangat mengagetkan mereka. Iblis bukannya lari melainkan berkata bahwa Yesus mereka kenal, dan Paulus mereka ketahui, lalu siapakah kamu. Ini tidak berarti iblis tidak mengenal bahwa mereka itu anak-anak Skewa, melainkan itu lebih berarti “kami tidak takut kamu.”

Injil anak-anak Skewa bukan injil untuk menyelamatkan orang, melainkan injil yang menggembar-gemborkan kekuasaan, atau injil perdukunan rohani. Anak-anak Skewa tidak peduli pada berita tentang dosa, tentang pertobatan, beritatentang penyaliban Kristus untuk menanggung hukuman dosa. Yang dipedulikan oleh anak-anak Skewa hanyalah bagaimana mereka terlihat jago, hebat, mengesankan, singkat kata, gayanya meyakinkan, menggetarkan.

Kalau mereka hidup di abad 21 pasti mereka mengadakan KKR mujizat, dengan tambahan kata-kata promosi “bisa mengusir Setan,” orang-orang yang maju ke ke depan akan dibuat bertumbangan, dan saat pulang bisa membawa pulang “jimat” untuk dioleskan di tempat-tempat tertentu untuk mengusir iblis, menghilangkan sakit.

Lucifer memang melakukan kesalahan saat dia menggagahi anak-anak Skewa. Dia terlalu emosi, tidak rela diolok-olok oleh anak-anak ingusan. Kini Lucifer telah jauh lebih berpengalaman, dia malahan memanfaatkan “anak-anak Skewa” untuk membajak nama Yesus, menjadi dukun rohani.

Bukankah masa kini banyak orang melakukan seperti yang hal dilakukan oleh anak-anak Skewa? Bukankah ada banyak orang yang tidak lahir baru memakai nama Yesus mengusir iblis? Mengapa iblis tidak menggagahi mereka? Jawabannya, Lucifer kini sudah jauh lebih pintar, lebih berpengalaman. Dan tentu setelah ribuan tahun ia jadi lebih pintar bermain sandiwara.

Anak-anak Skewa tidak peduli pada kebenaran. Injil mereka hanyalah menggembar-gemborkan kuasa dan mujizat. Masa kini ada orang Kristen yang berpikir bahwa kalau tidak ada mujizat terjadi atas nama Yesus, maka tidak ada bukti bahwa Yesus hidup atau Yesus hebat. Orang Kristen demikian biasanya adalah yang malas mempelajari Alkitab.

Yesus Kristus mengadakan mujizat adalah demi menggenapi nubuat bahwa apabila Mesias hadir maka, “mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai” (Yes.35:5-6). Dan Yesus Kristus mengusir setan untuk menunjukkan bahwa Ia berkuasa atas Setan. Yesus Kristus telah memberitahukan murid-muridNya bahwa jika orang itu tidak terima kebenaran maka iblis akan kembali dan membawa tujuh temannya. Itulah sebabnya sekarang Ia tidak menyuruh kita mengusir iblis melainkan memberitakan kebenaran dan kalau orang menerima kebenaran maka ia otomatis akan terlepas atau dimerdekakan (Yoh.8:31-32).

Rasul-rasul mengadakan mujizat adalah karena mereka Rasul Kristus dan menerima wahyu sebelum kita memiliki sebuah standar firman Tuhan (Alkitab). Dan hanya Rasul saja yang diberi KARUNIA untuk mengadakan mujizat (II Kor.12:12).

Nah, sekarang pembaca pasti dapat mengerti mengapa pada akhir zaman Tuhan berkata bahwa Ia tidak mengenal mereka yang melakukan tiga hal berikut; membuat mujizat, bernubuat, dan mengusir setan (Mat.7:22-23). Seharusnya tidak ada orang yang menggembar-gemborkan diri bisa melakukan mujizat karena Tuhan tidak memberikan Karunia melakukan mujizat selain kepada Rasul-rasul. Dan seharusnya tidak ada orang yang bernubuat karena setelah pewahyuan sampai kitab Wahyu pasal 22:21 proses pewahyuan telah dihentikan. Dan kini kebenaran telah di tangan kita, dan orang-orang harus dimerdekakan oleh kebenaran, bukan dengan show of power model anak-anak Skewa.

Injil yang benar kini telah tertulis dalam Alkitab. Kita memberitakan Yesus Kristus yang disaksikan oleh para Rasul. Kita tidak bertemu dengan Yesus Kristus melainkan percaya pada kesaksian para Rasul. Kita percaya bahwa tulisan para Rasul diilhami Yesus Kristus melalui bukti karunia melakukan mujizat. Itulah sebabnya kita memperlakukan tulisan Paulus sebagai firman Tuhan tetapi tulisan orang tua kita atau pengkhotbah anu bukan firman Tuhan.

Tetapi kini muncul banyak “anak-anak Skewa” zaman akhir yang tidak mengerti Injil yang benar, namun dengan penuh yakin diri seperti anak-anak Skewa mengumumkan KKR mujizat, mengumumkan diri sebagai spesialis pengusir setan dan lain sebagainya. Zaman sekarang beredar lebih banyak injil anak-anak Skewa, yaitu injil yang tidak mementingkan kebenaran, melainkan lebih mementingkan show of power dan berbagai atraksi supranatural. Mereka menjelaskan Alkitab alakadarnya saja, cetek-cetek saja, tetapi penekanan mereka pada mujizat, kuasa mengusir setan, kuasa membuat orang miskin jadi kaya, lengkap dengan “jimatnya”. Pembaca, waspadalah! ***

Sumber: Pedang Roh Edisi 62 Tahun XV Januari-Februari-Maret 2010

INJIL GALATIA

Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia (Gal.1:6-8).

Rasul Paulus mensinyalir di Galatia telah berkembang injil lain yang berbeda dengan Injil yang telah diberitakannya. Injil ini dilihat Rasul Paulus sangat membahayakan kekristenan yang masih bayi. Rasul Paulus menyatakan bahwa sebenarnya itu bukan injil, melainkan tipu-muslihat iblis yang memutarbalikkan Injil.

Di Galatia tetap diajarkan tentang memegang hari-hari tertentu dan kelihatannya masih mengajarkan untuk memegang teguh ketetapan hari Sabat (Gal.4:10). Injil Galatia juga mengajarkan orang Kristen harus tetap melakukan sunat sesuai hukum Taurat (Gal.5:3-4).

Ini nyata sekali, injil Galatia tidak memahami maksud dan tujuan hukum Taurat dan ibadah simbolik yang diperintahkan dalam kitab Taurat dan kitab para Nabi. Mereka tidak memahami pernyataan Tuhan Yesus bahwa segala sesuatu yang tertulis dalam kitab Taurat, kitab para Nabi dan Kethubim adalah tentang diriNya (Luk.24:44).

Seharusnya setiap orang yang mengerti kebenaran menyadari bahwa perintah ibadah simbolik penyembelihan binatang korban adalah untuk mengingatkan umat manusia bahwa Allah berjanji untuk mengirim Juruselamat yang akan dihukumkan seperti binatang korban menanggung dosa umat manusia.

Ibadah simbolik ini pertama diperintahkan untuk dijaga oleh seorang ayah, namun kebobrokan manusia pada zaman Nuh membuktikan kegagalan para ayah. Kemudian Allah membangun sebuah bangsa sebagai penjaga ibadah simbolik melalui keturunan Abraham. Setiap laki-laki yang termasuk bangsa yang bertugas sebagai penjaga ibadah simbolik ditandai dengan disunat. Tuhan hampir membunuh Musa ketika ia bertugas memimpin bangsa itu keluar dari Mesir namun tidak menyunatkan anaknya. Zipora, sang istri yang penuh hikmat, berhasil menyelamatkannya dengan memohon kepada Jehovah agar menganggap mereka sebagai pengantin baru.

Setiap orang yang mencintai kebenaran harus mengerti bahwa perintah tentang makanan yang diharamkan beserta berbagai peraturan Perjanjian Lama adalah paket dari ibadah simbolik yang sifatnya mengingatkan manusia pada janji Allah. Melalui pelarangan makanan Allah mengajarkan makna kesucian hati yang dituntut Allah.

Sejak kedatangan Yesus Kristus, Juruselamat yang dijanjikan Allah, maka seluruh rangkaian ibadah simbolik tergenapi (terpenuhi), dan selesailah tugasnya. Itulah sebabnya kini tidak perlu lagi melakukan acara penyembelihan binatang korban karena Domba Allah, pusat dari seluruh ibadah simbolik, telah dikorbankan. Umat manusia memasuki ibadah hakekat, menyembah Allah secara rohani dan bersifat kebenaran (Yoh.4:23). Itulah sebabnya kita meninggalkan ibadah yang menekankan waktu, tempat, dan postur tubuh. Kini kita menyembah dengan hati, tanpa dibatasi waktu sehingga tidak ada ketentuan hari tertentu, artinya kapan saja bahkan setiap saat. Sikap hati kita setiap saat itulah ibadah kita. Otomatis tidak ada keharusan di tempat tertentu, dan dengan bentuk postur tertentu (berlutut).

Gereja Advent adalah gereja modern yang mengajarkan injil Galatia. Bahkan banyak gereja juga terlibat dalam pelestarian injil Galatia. Gereja-gereja pembaptis bayi tidak mengerti makna praktek sunat yang Allah perintahkan kepada Abraham, sebagian mereka memakai kasus sunat untuk membenarkan tindakan mereka membaptis bayi.

Banyak gereja tidak mengerti tentang peralihan ibadah dari simbolik ke hakekat dengan tetap memasukkan upacara-upacara simbolik kepada acara kebaktian mereka. Ada yang berkata, “mari kita masuk ke dalam penyembahan!” Ada juga yang meminta hadirin mengangkat tangan untuk melakukan penyembahan. Bahkan hampir semua orang Kristen menyebut acara kebaktian hari Minggu sebagai acara ibadah. Ini sebuah bukti bahwa mereka tidak mengerti bahwa ibadah orang Kristen adalah ibadah hakekat, yaitu bentuk penyembahan dengan hati, yang terjadi setiap saat dalam hidup mereka. Adalah kesalahan jika seseorang melihat acara hari Minggu pagi sebagai penyembahan(ibadah). Kelihatannya selain terpengaruh injil Galatia juga terpengaruh konsep Islam. Orang Kristen tidak beribadah hanya pada hari Minggu, melainkan SETIAP SAAT dalam hidup mereka. Sikap hati setiap saat di hadapan Tuhan itulah ibadah yang sesungguhnya.

Bahkan Lembaga Alkitab Indonesia terpengaruh konsep Islam yang mirip injil Galatia dalam menerjemahkan Alkitab. LAI menambahkan kata ibadah padahal tidak ada kata itu di bahasa aslinya (contoh: Ibr.10:25).

Banyak pemimpin gereja masih melarang jemaatnya memakan darah, bahkan mungkin masih ada (Advent) yang seperti Petrus, tidak membolehkan dirinya memakan makanan-makanan yang diharamkan di kitab PL (Kis.10:9-18). Petrus pun saat itu masih belum mengerti sepenuhnya kebenaran Perjanjian Baru dengan ibadah Hakekat. Memang wahyu dari Allah bersifat progresif, diturunkan secara bertahap. Kebenaran diungkapkan secara bertahap, karena mereka akan shock setelah seribu lima ratus tahun tidak boleh makan babi, darah, lalu secara tiba-tiba menjadi boleh. Oleh sebab itu dalam rapat di Yerusalem masih diputuskan tidak boleh makan darah (Kis.15:20). Padahal Tuhan Yesus sendiri telah membuat pernyataan yang sangat tegas bahwa tidak ada yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang lagi (Mrk.7:18-19). Mereka sungguh belum faham bahwa di zaman ibadah hakekat kesucian yang dituntut bukan lagi kesucian jasmani melainkan kesucian hati maka tidak ada sangkut-pautnya lagi dengan sesuatu yang masuk ke dalam mulut melainkan hanya yang keluar dari mulut.

Masih banyak gereja yang menyelenggarakan acara doa-puasa, dan lain sebagainya yang adalah praktek-pratek acara ibadah simbolik. Ada pengkhotbah yang berpuasa hari Sabtu agar memiliki kekuatan untuk berkhotbah hari Minggu. Konsep ini telah membuat acara puasa sebagai aktivitas dalam dunia perdukunan yang mendatangkan kekuatan magis. Berdoa puasa semalam suntuk katanya akan lebih didengar Tuhan. Ini adalah praktek asketikisme budhisme, yang intinya menyiksa diri untuk menimbulkan belas kasihan dari Tuhan, semacam tindakan mogok makan menuntut sesuatu dari pihak pemerintah.

Ternyata injil Galatia yang dikutuk oleh Rasul Paulus tidak mati melainkan masih hidup, bahkan berkembang dalam berbagai bentuk dan rupa hingga di abad ke-21. Pembaca yang saya kasihi, waspadalah, ingat injil ini dikutuk oleh Rasul Paulus. Supaya mengerti dengan mantap segala sesuatu tentang ibadah yang benar yaitu yang hakekat, anda perlu membaca buku-buku terbitan GRAPHE, anda bisa melihat-lihat di <www.grapheministry.org>.

Sumber: Pedang Roh Edisi 62 Tahun XV Januari-Februari-Maret 2010

Injil Perut

Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata- mata tertuju kepada perkara duniawi (Fil.3:18-19).

Dunia Berhala

Jika sungguh-sungguh direnungkan, apakah hakekat dari penyembahan berhala? Mengapa orang sampai tertarik menyembah berhala, atau menyembah iblis, padahal tahu bahwa itu adalah iblis? Rasul Paulus dalam suratnya kepada orang-orang kudus di Kolose, ia mengatakan: “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (Kol.3:5-6).

Rupanya Rasul Paulus nyatakan melalui ilham Roh Kudus, bahwa penyembahan berhala itu sama dengan keserakahan. Mengapa demikian? Karena pada hakekat-nya semua bentuk penyembahan berhala adalah meminta berkat materi, jasmani dan duniawi. Mengapa orang-orang pergi ke gunung Kawi? Apakah karena mereka mencintai hantu gunung Kawi? Tidak mungkin! Seluruh usaha mereka yang bersusah payah mendaki dan memenuhi persyaratan yang diberikan adalah demi mendapatkan berkat materi, jasmani dan duniawi.

Bandingkan penyembahan berhala dengan Theologi Sukses yang intinya adalah mendapatkan berkat materi, jasmani dan duniawi. Pada prinsipnya adalah sama, yaitu mengharapkan berkat materi, jasmani, dan duniawi.

Pembaca yang budiman, penulis persilakan memperhatikan khotbah yang disampaikan di gereja anda masing-masing. Adakah Pendeta anda menyinggung masalah materi? Adakah pendeta anda menggembar-gemborkan bahwa Tuhan akan memberkati jemaatnya secara materi? Adakah pendeta anda berusaha menarik orang dengan berkata bahwa Tuhan akan memberkati mereka secara materi? Adakah pendeta anda mencoba memberikan contoh orang-orang yang diberkati secara materi untuk menarik orang? Perhatikanlah!

Kalau ada maka sangat mungkin anda sedang dalam gereja yang memberitakan injil perut. Injil yang dipelintir untuk menarik orang-orang dengan iming-iming berkat materi. Dan orang-orang datang berduyun-duyun ke gereja demikian sama seperti mereka datang berduyun-duyun ke rumah berhala.

Saya tidak berkata bahwa Tuhan tidak akan memberikan berkat materi atau orang Kristen akan selalu hidup susah secara materi. Berkat Tuhan diturunkan dengan penuh hikmat dan penuh kebenaran. Berkat Tuhan diberikan kepada orang yang mengasihi Tuhan bukan kepada yang mengejar berkat Tuhan. Mengasihi Tuhan dan melaksanakan firmanNya harus lebih diutamakan daripada berkatNya. Bahkan tanggung jawab anak-anak Tuhan ialah mengasihiNya, sedangkan urusan berkat adalah hak prerogatif Tuhan. Adalah sikap kedurhakaan jika seseorang datang kepada Tuhan karena menginginkan berkat daripada mengasihiNya.

Injil perut ini kini banyak dikumandangkan oleh gereja-gereja dan pendeta-pendeta yang menjanjikan berkat, dan bicara berkat dan berkat terus. Tentu yang datang kepada mereka tidak mendapatkan berkat melainkan kehilangan materi karena biasanya pendeta demikian adalah orang-orang yang matanya tertuju pada materi dan tidak segan-segan melakukan apa saja demi mendapatkan materi. Mereka biasanya menjadikan orang yang memiliki cerita sukses sebagai contoh orang yang diberkati oleh pelayanan mereka. Tentu itu adalah kesaksian subyektif yang tidak mungkin dapat dibuktikan kebenarannya.

Cerita-cerita subyektif demikian jugalah yang menggerakkan banyak orang untuk mencoba. Seperti seorang bocah yang bernama Ponari yang memiliki sebuah batu yang digembar-gemborkan berkekuatan gaib, dan telah menarik perhatian ribuan orang dari berbagai wilayah Indonesia.

Mujizat Palsu

Bersamaan dengan gembar-gembor berkat materi, penyembahan berhala juga kental dengan mujizat-mujizat palsu, lengkap dengan berbagai jimat dari berupa batu hingga berupa minyak. Para dukun biasanya berani menyakinkan orang-orang yang datang kepadanya dengan berkata“pasti sembuh” dan kalau ternyata tidak sembuh biasanya ia tinggal mencari kambing hitamnya. Kalau terjadi kesembuhan, biasanya adalah penyakit yang bersifat psikis atau kejiwaan, dan pasti akan dibesar-besarkan serta dijadikan bukti kekuatan yang dimilikinya. Mereka biasanya memiliki “media” yang bisa berupa batu, gigi binatang, minyak atau air untuk membuat mangsanya yakin dan tersugesti.

Pembaca yang berhikmat, bukankah sudah banyak pendeta yang melakukan praktek perdukunan dengan nama Yesus? Mereka mencoba-coba dan berharap-harap ada yang sembuh. Biasanya penyakit psikis dan kejiwaan (stress) atau kesalahan diagnosa dokter yang belum dikonfirmasi, dinyatakan sembuh dan digembar-gemborkan.

Padahal sangat jelas telah dikatakan dalam II Kor 12:12 bahwa karunia melakukan mujizat adalah BUKTI KERASULAN yang artinya hanya dimiliki oleh rasul saja. Jadi secara logis setelah tidak ada rasul maka tidak ada lagi karunia melakukan mujizat.

Saya sama sekali tidak berkata bahwa tidak bisa terjadi mujizat, melainkan tidak ada lagi KARUNIA MELAKUKAN MUJIZAT. Tentu mujizat bisa saja terjadi sebagai wujud jawaban doa. Artinya tidak ada orang yang mengklaim sebagai yang diberi karunia melakukan mujizat, melainkan semua orang boleh berdoa dan Tuhan kiranya yang menjawab doa. Tentu berarti tidak harus doa seorang pengkhotbah melainkan bisa doa siapa saja. Karena Tuhan menjawab doa, apa saja bisa terjadi, namun tidak boleh ada orang yang menyombongkan diri, mengangkat diri sebagai orang yang diberi karunia melakukan mujizat, karena itu adalah karunia khusus rasul.

Keduniawian Menonjol

Biasanya satu paket dalam injil perut ialah keduniawian yang menonjol. Hidup yang menekankan materi dan jasmani serta menghidupi gaya hidup yang duniawi. Model pakaian, rambut, caramake-up Kristen duniawi hampir tidak dapat dibedakan dari manusia duniawi. Demikian juga dengan film yang ditonton dan musik yang didengar. Bahkan di dalam gereja yang memberitakan injil perut biasanya musiknya sangat hingar bingar dan hampir tidak dapat dibedakan dari musik di night-club. Sebenarnya, jika irama musik gereja anda tidak dapat dibedakan dari irama musik dunia, maka kalau bukan dunia sudah semakin rohani pasti gereja anda yang semakin duniawi.

Pembaca yang berhikmat, sebenarnya anda gampang menemukan gereja injil perut karena gereja demikian sedang populer. Ia ada dimana-mana, bahkan saya sangat kuatir anda sedang berada di dalamnya. Waspadalah! ***

Sumber: Pedang Roh Edisi 62 Tahun XV Januari-Februari-Maret 2010

INJIL FILIPI

Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik. Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil, tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara. Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita (Filipi 1:15-18).

Injil Iri Hati

Rasul Paulus mensinyalir ada injil yang agak aneh beredar di Filipi. Ternyata selain ada Injil yang benar dan yang diberitakan dengan tulus ikhlas dan maksud yang baik, terdapat juga injil yang diberitakan dengan maksud tidak ikhlas atau kepentingan sendiri.

Orang-orang yang memberitakan injil tidak ikhlas itu berpikir bahwa dengan berbuat itu mereka akan menambah berat hukuman Paulus. Mungkin mereka berkata, “Paulus mengatakan bahwa Yesus, seorang Nazaret yang telah dihukum mati adalah raja, adalah juruselamat manusia. Siapa pun yang mau masuk Sorga harus melalui Yesusnya Paulus” dengan nada mengejek dan dengan maksud agar kaisar dan para raja tersinggung sehingga memperberat hukuman Paulus.

Tetapi yang menarik di sini adalah bahwa tuduhan mereka terhadap berita yang disampaikan Rasul Paulus ternyata benar dan itu adalah kebenaran. Memang benar bahwa Yesus Kristus adalah raja, dan memang benar bahwa Dia adalah Juruselamat satu-satunya. Terhadap Injil yang mereka sampaikan tentu Rasul Paulus tidak keberatan karena memang benar, hanya mereka membawakannya dalam sikap sinis dan dengan maksud yang jahat.

Jika anda search di Internet nama Suhento Liauw, kalau mereka belum menghapusnya, anda akan bertemu dengan blog yang berjudul “Suhento Liauw MEMBUAL Karena Yesus Hanya Menebus Dosa Orang Pilihan.” Di dalam blog Hai-hai itu mereka membahas bahwa Dr. Suhento Liauw telah membual karena mengatakan bahwa Yesus Kristus menebus dosa seisi dunia. Menurut mereka, tentu kaum Calvinis, Yesus hanya menebus dosa orang-orang pilihan saja.

Kasus ini mirip dengan kasus di Filipi, dimana tuduhan mereka terhadap Injil yang diberitakan Rasul Paulus sesungguhnya adalah kebenaran. Demikian juga dengan tuduhan mereka terhadap Injil yang diberitakan oleh Dr. Liauw, itu adalah kebenaran. Mengenai Yesus Kristus menebus dosa seisi dunia, itu bukan tidak ada dasar ayatnya, coba baca ayat-ayat berikut;

Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia (Yoh.1:29).

Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya (I Tim.4:10).

Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia (Ibr.2:9).

Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia (I Yo.2:2).

Perbedaan antara orang Filipi dengan kelompok Calvinis yang menuduh Dr. Suhento Liauw adalah bahwa orang Filipi masih dalam kerangka Injil yang benar hanya maksud/tujuan tidak tulus, sedangkan Calvinis mungkin kebalikannya yaitu tujuannya masih baik namun injilnya justru yang salah.

Kelompok Calvinis karena saking menjunjung tinggi John Calvin telah kehilangan akal sehat dan menjadi buta, tidak sanggup membaca dan memahami ayat-ayat Alkitab yang sangat gamblang dan jelas bahwa Yesus Kristus dihukumkan di kayu salib bagi dosa seisi dunia. Akal sehat mereka tersendat sehingga memaksakan bahwa Yesus Kristus disalibkan hanya untuk orang-orang pilihan saja sambil memelintir ayat-ayat di atas yang sudah sangat jelas.

Tujuan Salah Atau Injilnya Salah

Injil kelompok Calvinis (gereja Reformed & Presbyterian) itu tidak seperti Injil Filipi melainkan kebalikannya. Sebenarnya itu terjadi di Roma ketika Rasul Paulus dipenjarakan. Tetapi karena diungkapkan di dalam surat kepada jemaat Filipi, saya menyebutnya Injil Filipi. Injil Filipi adalah Injilnya (doktrin Keselamatannya) masih benar tetapi motivasinya salah. Sedangkan Injil Calvinisme adalah motivasinya masih benar, namun Injilnya (doktrin Keselamatannya) salah. Coba renungkan yang manakah yang lebih berbahaya, Injilnya benar dengan motivasinya salah atau motivasinya benar dengan injil yang salah? Injil yang benar, diberitakan dengan motivasi yang salah, masih dapat menyelamatkan orang yang mendengarkan Injil itu. Tetapi injil yang salah dengan motivasi yang benar tidak dapat menyelamatkan orang yang mendengarkannya sekalipun disampaikan dengan maksud tujuan yang murni.

Inilah yang menyebabkan penulis sangat kuatir dengan injil calvinistik yang telah merusak kekristenan di Eropa. Jika seseorang mendengar bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu dalam sebuah dekritnya di dalam kekekalan, maka kesimpulannya ialah bahwa Allahlah yang telah menetapkan orang miskin dan kaya, orang cacat dan sehat, penindas yang tertindas, termasuk semua kejahatan yang muncul di muka bumi. Daripada mempercayai Allah yang sedemikian jahat ini, lebih baik percaya tidak ada Allah (atheis).

Jumlah persentase orang Kristen di Eropa yang menghadiri kebaktian semakin menurun. Yang hadir kebaktian saja sedikit sekali (sekitar 5%), bayangkan hanya berapakah jumlah mereka yang benar-benar lahir baru. Injil Calvinisme yang mengajarkan bahwa Allah menetapkan Adam jatuh ke dalam dosa, menghancurkan nalar sehat dan meruntuhkan keharuman pribadi Allah sebagai pencipta yang maha kasih. Injil ini telah menyebabkan berkembangnya atheisme, karena ketika nalar sehat mereka tidak bisa terima keberadaan Allah yang demikian, batu akal sehat mereka mengayun ke sisi lain, yaitu tidak ada Allah.

Injil yang benar sekalipun disampaikan dengan motivasi yang salah ia masih tetap akan menyelamatkan pendengarnya. Itulah sebabnya Rasul Paulus tidak keberatan dengan injil demikian karena isi Injilnya benar. Tetapi sebaliknya injil yang salah sekalipun dengan motivasi yang tulus ia tidak dapat menyelamatkan, ia akan meruntuhkan kekristenan dan akan menenggelamkan pendengarnya ke dalam neraka. Waspadalah!

Sumber: Pedang Roh Edisi 62 Tahun XV Januari-Februari-Maret 2010

AWAS! INJIL TIPU MUSLIHAT!

Manusia pada dasarnya diciptakan sebagai mahkluk berpengertian, berkesadaran diri dan berkehendak bebas. Dengan demikian manusia bukan hanya bisa menyembah apa saja yang disukainya, bahkan bisa menciptakan sesuatu untuk disembah dirinya dan manusia lain. Dan manusia bukan hanya bisa percaya kepada ajaran yang salah, bahkan juga mampu membelokkan ajaran yang benar atau menciptakan ajaran yang sesat untuk diikuti manusia lain.

Ketika murid-murid Tuhan ingin tahu tanda-tanda kedatangan Sang Guru, Tuhan Yesus menjawab dengan menempatkan intensitas penyesatan sebagai tanda utama kedatanganNya, dengan berkata "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang” (Mat.24:4-5).

Pertama, Tuhan mengingatkan agar murid-muridNya yang hidup pada periode waktu menjelang kedatanganNya, hidup sebagai orang percaya yang penuh waspada. Jangan tertidur bahkan jangan bodoh karena menjelang kedatanganNya intensitas penyesatan akan semakin tinggi, dan akan muncul berbagai pengajaran yang aneh-aneh.

Tentu ajaran kekristenan tidak terlepas dari jamahan Lucifer. Celakalah orang yang tidak waspada yang tidak menaruh curiga pada setiap pengajaran dan yang tidak berusaha mempelajari dan mencermati berbagai ajaran.

Kedua, Tuhan memberitahukan kita bahwa penyesat akan memakai namaNya. Hal ini seharusnya menyadarkan kita bahwa kita tidak boleh asal percaya kepada ajaran-ajaran yang mengatasnamakan Yesus/Yeshua Hamasiah atau dengan kata lain, urusan nama atau sebutan sudah diberitahu oleh Tuhan bahwa itu akan dibajak. Jadi tidak boleh didasarkan pada sebutan atau penamaan melainkan harus memperhatikan isi ajarannya.

Ketiga, penyesat itu akan berkata “akulah mesias.” Arti kata mesias sama dengan kristus atau orang yang diurapi. Jadi penyesat itu akan berkata, atau orang lain akan mengatakan, dia orang yang diurapi. Menjelang kedatangan Tuhan, ketika intensitas penyesatan semakin tinggi, penyebutan orang yang diurapi akan semakin marak sebagai bentuk penyamaran atau pembiasaan istilah orang yang diurapi sehingga orang-orang tak berhikmat semakin bingung tentang tanda-tanda kedatangan Sang Yang Diurapi yang asli.

Anti Kristus/Mesias, yaitu penentang Kristus/Mesias yang menyamar sebagai Kristus/Mesias. Banyak orang tidak menyadari arti kata “anti”, dalam bahasa Yunani itu selain menentang juga artinya menggantikan. Jadi anti-Kristus atau anti-Mesias adalah orang yang menentang Kristus dengan menyatakan bahwa dirinya adalah Kristus, atau orang yang diurapi.


Sabtu, Desember 05, 2009

MENGENAI PENYESAT-PENYESAT

By: Gembala GBII (Gereja Baptis Independen Indonesia) Malioboro, Jogjakarta, Gmb. Yakub Harianto

Nats: Matius 24:11; 24:23-24; 2 Timotius 3:8; 3:13; 1 Timotius 4:1,2; 1 Yohanes 2:26.

Iblis telah mengubah strateginya. Dia mempelajari dari dahulu bahwa dia tidak dapat mengalahkan Kristus dan orang-orang kristen dengan permusuhan dan penganiayaan. “Darah para martir adalah benih gereja.” Pekerjaan Tuhan selalu bertumbuh dalam masa kesusahan, penganiayaan dan pengorbanan. Setan telah mengubah caranya. Dia telah “mengikut serta dengan kita.” Paulus memperingatkan para Penatua mengenai hal ini dalam Kisah Para Rasul 20:28-30. Bandingkan juga dengan Yudas 4; Efesus 4:14; Matius 7:15; Ulangan 13:1-5; Efesus 5:6; 2 Tesalonika 2:3,4; II Yohanes 7.

Musuh yang paling hebat bagi iman kristen bukan musuh yang diluar, yaitu musuh yang secara terang-terangan melawan dan mencari kesempatan untuk menghancurkan iman kristen dan Alkitab. Musuh yang paling ditakuti dan paling efektif ialah musuh yang di dalam – yang mengaku diri sebagai orang kristen, yang memakai gaya bicara dan kata-kata kristen, yang mengenakan pakaian/jubah kristen, memakai titel kristen dan berpartisipasi dalam upacara keagamaan yang dianggap kristiani—namun sebenarnya mereka adalah srigala-srigala yang memakai pakaian domba.

A. Liberal – Injili – Fundamental.
Tidak seperti yang disangka umum, pada masa kini bukan hanya ada dua posisi teologia – Liberal atau Fundamental. Ada suatu kelompok yang berada di tengah-tengah, yang dikenal sebagai kelompok Injili. Pendapat kaum noe-ortodoks ini dinyatakan oleh salah seorang pemimpin mereka. Dia berkata bahwa orang-orang “liberal” telah pergi terlalu jauh dari iman nenek moyang mereka. Mereka harus berbalik kembali. Akan tetapi ke mana seharusnya mereka pergi – bukan kepada fundamental yang ekstrem yang dianut nenek moyang mereka. Mereka harus mencari suatu perpaduan, suatu kompromi, suatu tempat ditengah-tengah di mana para fundamentalis dan liberal dapat menyetujui. Tempat ditengah-tengah itu –adalah suatu bahaya yang mengerikan seperti seekor srigala berpakaian domba.

Urantia, ajaran apakah itu?

Di Indonesia belakangan ini masuk suatu ajaran baru, yang seperti biasanya berasal dari Amerika Serikat, dan menamakan dirinya dengan nama 'Urantia.' Urantia di Indonesia dengan rajin menyelusup ke web-web Kristen yang bisa ditembusnya dan mengajak para subscriber web-web tersebut untuk membuka website mereka. Sebagai informasi bagi para netters bila menjumpai ajaran ini, artikel ringkas ini disusun berdasarkan bahan-bahan dari web tersebut dan disorot dari ajaran Alkitab.

BUKU URANTIA
Homepage tersebut diawali dengan argumentasi bahwa pada masa sekarang ajaran agama-agama makin ketinggalan dan kacau balau sehingga diperlukan pencerahan baru. Para agamawan sudah tidak mampu menjawab pertanyaan semacam 'Siapa itu Allah, bagaimana alam semesta diciptakan dan dikelola, apa yang harus dilakukan agar masuk sorga, bisakah manusia menjadi ilahi, dan apakah tujuan hidup manusia di bumi?' Karena itu diperlukan wahyu baru agar manusia tidak tersesat, dan wahyu baru itu ada dalam buku 'Urantia.' 

Buku wahyu 'Urantia' lahir pada tahun 1935 dan dicetak dalam bahasa Inggeris di Chicago, USA pada tahun 1955. Buku itu disebut sebagai hasil dari 'Tim Pewahyu' yang beranggotakan puluhan mahluk roh dan malaikat, mulai dari Konselor Ilahi, Malkisedek, Utusan Perkasa, Malaikat Serafim sampai Midwayers, dan para petinggi roh yang lain. Buku wahyu ini cukup tebal setebal 2097 halaman, dua kali tebal Alkitab Kristen bahasa Indonesia.

Buku ini berisi berbagai ajaran seperti ajaran tentang 'Allah' yang menunjuk pada semua PRIBADI ketuhanan. Pribadi Allah yang pertama yang menjadi pusat dari alam semesta adalah Allah Bapa (Universal Father), wujudnya adalah Roh. Bapa menciptakan Anak sebagai pernyataan pribadi yang mutlak, Anak adalah pusat dari gravitasi dan administrasi dunia ROH (Spirit). Bapa dan Anak menciptakan Sorga sebagai pernyataan MATERI, maka harus ada yang menjembatani keduanya. Saat itulah muncul Allah Roh (Infinite Spirit). Allah Roh adalah pusat AKAL-BUDI (Mind) semesta. Allah Roh adalah Allah yang bertindak.

Sabtu, November 21, 2009

Menjawab Saksi Yehova

Kebebasan beragama adalah hal yang baik. Sebelum masa reformasi, Indonesia tidak memiliki kebebasan beragama yang sebebas-bebasnya. Hal itu karena hanya ada lima agama yang diakui oleh negara, padahal di dunia ini ada banyak sekali agama. Agama-agama yang tidak ternaungi oleh Depag, akhirnya nebeng di bawah nama agama lain, atau sama sekali tidak mendaftarkan diri dan “beroperasi” secara diam-diam.

Semenjak jatuhnya Soeharto, ada sedikit perbaikan dalam hal ini. Kini, Departemen Agama mengakui lebih dari lima agama, antara lain Kong Hu Cu. Gereja-gereja juga kini tidak perlu lagi berada di bawah sinode-sinode yang telah diakui pemerintah. Memang, seharusnya negara tidak perlu menentukan agama mana yang sah, atau yang tidak sah, karena masing-masing orang memiliki hak asasi untuk mempercayai apa yang diingininya. Negara sama sekali tidak berhak menilai “aliran” manakah yang benar dan yang salah, sehingga tugas negara seharusnya hanyalah menjaga agar tidak terjadi pelanggaran hukum oleh pihak manapun.

Bertambahnya kebebasan beragama di Indonesia, bukan hanya dipakai oleh orang-orang percaya demi pekabaran Injil, tetapi juga dipakai oleh Iblis untuk memajukan penyesatan. Salah satu aspek yang paling kentara adalah bangkitnya sekte Saksi Yehova (SY). Golongan yang tidak diakui selama Orde Baru ini, kini sudah resmi terdaftar di Departemen Agama dan sedang meningkatkan aktivitas mereka. Banyak orang Kristen yang salah pengertian, lalu mengecam kebebasan beragama sebagai sesuatu yang kurang baik karena memberi kesempatan bagi SY untuk berkembang. Sebenarnya tidak boleh bersikap demikian.

Yang Paling Sesat Dari Segala Yang Sesat

Manusia Jatuh Kedalam Dosa

Pada zaman PL, Allah membangun sebuah bangsa untuk menjadi tiang penopang dan dasar kebenaran. Fungsi bangsa ini adalah untuk menjaga ibadah yang Allah perintahkan untuk dilakukan manusia supaya tetap ingat pada janji Allah untuk mengirim Juruselamat. Janji untuk mengirim Juruselamat pertama kali Allah ucapkan kepada Adam dan Hawa sesaat setelah mereka jatuh ke dalam dosa.

Supaya jika mereka mati mereka tidak dihukumkan di Neraka bersama dengan iblis, Allah berencana menanggung dosa mereka, bahkan dosa semua manusia (Yoh.1:29). Ia akan berinkarnasi (kenosis) dalam Filipi pasal dua kata ini diterjemahkan dengan “menghampakan” diri, menjadi manusia dan akan dihukumkan di kayu salib. Pilatus menyangka bahwa dialah yang memutuskan melepaskan atau menyalibkan Yesus. Padahal Tuhan Yesus berkata kepadanya bahwa ia tidak berkuasa sedikit pun (Yoh.19:11) atas diriNya. Peristiwa penyaliban Kristus adalah keputusan Allah untuk menjatuhkan hukuman atas dosa seisi dunia.

Sebelum Sang Juruselamat tiba, Allah perintahkan Adam dan Hawa melakukan ibadah simbolik, yaitu menyembelih seekor domba di atas mezbah, tentu sambil beriman kepada Sang Juruselamat yang disimbolkannya, sebagai tanda bahwa dosa mereka akan ditanggung oleh Sang Juruselamat yang disimbolkan oleh domba itu. Jadi, Adam dan Hawa dan setiap orang yang hidup sebelum penyaliban Kristus akan diselamatkan apabila mereka beriman kepada Sang Juruselamat sambil menyembelih seekor domba untuk menggambarkannya.

Sampai pada zaman Nuh hampir tidak ada orang yang melakukannya lagi kecuali Nuh. Itulah sebabnya Allah berkenan kepada Nuh dan menghapus semua manusia kontemporernya. Hal pertama yang dilakukan Nuh setelah keluar dari bahtera adalah mempersembahkan domba bakaran dan Tuhan bersukacita ketika mencium baunya.

Pada saat itu ayah berfungsi sebagai imam bagi keluarganya dan tentu sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran juga. Jika seorang ayah tidak becus, maka anak-cucunya bisa dalam bahaya besar, mereka bisa masuk Neraka.

Setelah peristiwa menara Babel, manusia tersebar sesuai dengan kelompok bahasanya. Dan makin hari makin banyak ayah yang tidak bertanggung jawab sehingga tidak mengajarkan kebenaran kepada anak-cucu mereka.

Bangsa Yahudi Tiang Penopang

Pada saat kondisi seperti inilah, Allah membangun sebuah bangsa untuk menjadi tiang penopang dan dasar kebenaran menggantikan posisi ayah, dan mengangkat Harun beserta keturunannya sebagai imam. Pada awalnya Allah sendiri adalah raja mereka, tetapi kemudian mereka meminta raja dan Allah mengabulkan kehendak hati mereka dan otomatis tugas dan tanggung jawab sang raja yang paling utama ialah memastikan ibadah simbolik yang Allah sempurnakan di Sinai (kemah Tuhan) terlaksana dengan baik.

Daud sangat disayang Tuhan karena ia sangat memperhatikan tugas utamanya yaitu bukan hanya menjaga ibadah itu melainkan menggantinya dari bentuk tenda yang gampang rusak menjadi rumah (bait) yang lebih permanen. Tuhan sungguh-sungguh mengasihi Daud karena ia memperhatikan hal yang paling diperhatikan Tuhan. Sementara itu Saul sangat dibenci Tuhan karena ia “menciderai” ketetapan Tuhan. Yang boleh mempersembahkan korban hanyalah imam, tetapi karena didesak-desak oleh rakyat akhirnya Saul memberanikan diri melakukannya sebelum Samuel datang. Saul dianggap gagal oleh Tuhan karena tidak bisa berdiri teguh menghadapi desakan rakyat.

Pada masa dari Hukum Taurat diturunkan di gunung Sinai hingga Yohanes Pembaptis tampil (Luk.16:16, Mat.11:13-14), adalah masa periode bangsa Yahudi sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran. Tuhan menetapkan hukum yang sangat keras atas bangsa ini; seperti mata ganti mata dan jika ada yang berzinah maka harus dirajam dan berbagai ketentuan yang sangat keras. Semua ini dilakukan Allah hanya agar tiang penopang dan dasar kebenaran (bangsa Yahudi) menjadi bangsa yang betul-betul tidak terkontaminasi iman lain. Segala bentuk penyembahan berhala, bahkan petenung harus dimatikan. Segala macam ketetapan makanan untuk mensimbolkan bahwa mereka adalah bangsa yang kudus, dibuat Tuhan. Dengan kata lain, semua bangsa lain di muka bumi yang ingin mendapatkan kebenaran ilahi harus mengarah ke bangsa Yahudi (I Raj.10:1-13, Kis.8:2638).

Apakah Saul lebih berdosa daripada Daud? Sama sekali tidak! Lalu mengapakah Tuhan lebih sayang Daud daripada Saul? Jawabnya adalah Daud melakukan dosa moralitas, yaitu berzinah dan membunuh orang yang tidak bersalah. Tetapi Saul melakukan dosa doktrinal, yaitu mempersembahkan korban bakaran padahal itu adalah tugas seorang imam.

Jemaat PB adalah Tiang Penopang

Sejak Yohanes Pembaptis tampil (Mat.11:13-14), maka tugas bangsa Yahudi sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran berakhir, karena Sang Juruselamat yang disimbolkan oleh semua rangkaian tata-ibadah simbolik telah tiba. Dengan kata lain, fungsi ibadah simbolik telah tergenapi.

Sang Juruselamat mengumpulkan murid yangdisebut JEMAAT (ekklesia) yang tadinya dikumpulkan oleh Yohanes Pembaptis tetapi kemudian dipimpin oleh Sang Juruselamat sendiri. Fungsi jemaat ini sangat penting terlebih setelah penolakan bangsa Yahudi atas Sang Juruselamat dunia yang sekaligus akan menjadi raja mereka. Karena mereka menolakNya menjadi raja mereka, maka untuk suatu waktu Ia tidak menjadi raja mereka, tetapi Ia tetap adalah Juruselamat dunia.

Setiap manusia berdosa yang bertobat dan percaya kepadaNya, semua dosanya akan dihitungkan telah tertanggungkan kepadaNya ketika Ia terhukum di kayu salib dan turun ke Neraka.

Selanjutnya Tuhan menjadikan murid-muridNya, yang kumpulan mereka disebut JEMAAT, dan disebutNya juga sebagai tubuhNya, sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran menggantikan posisi bangsa Yahudi (ITim.3:15). Ibadah simbolik dihapuskan dan digantikan dengan ibadah hakekat (Ibr.10:1dst.) Atau beribadah secara lahiriah jasmaniah digantikan dengan ibadah di dalam roh (rohani/hati) dan kebenaran. Tiap-tiap orang percaya adalah imam dengan Tuhan Yesus sebagai imam besar (I Pet.2:9,Ibr.4:14-5:9).

Tuhan menetapkan aturan-aturan bagi Jemaat-Nya yang juga disebut dengan tubuh-Nya yang berbeda dari bangsa Yahudi. Kitab PL adalah latar belakang yang memberitahukan kita tentang perjalanan ibadah dari simbolik ke hakekat. Kitab PB adalah pengajaran yang harus difahami dan dijalankan oleh jemaat Perjanjian Baru yang berfungsi sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran.

Setiap orang yang bertobat dan percaya kepada Injil harus bergabung ke dalam sebuah jemaat lokal untuk membuat jemaat lokal selalu eksis hingga Tuhan datang. Tiang penopang dan dasar kebenaran ini harus kokoh kuat hingga Tuhan mengangkatnya. Jemaat atau tiang penopang kebenaran harus sungguh-sungguh berdiri di atas firman Tuhan, tidak boleh bergoyang dan harus berjalan lurus, tidak boleh menyimpang ke kiri atau ke kanan.

Hal yang terpenting pada zaman ini adalah bahwa Jemaat Perjanjian Baru ini adalah kelompok orang yang berdisiplin tinggi. Anggota jemaat tiang penopang adalah terdiri dari orang-orang yang bertobat dan percaya, bukan karena keturunan, apalagi karena paksaan atau hasil intimidasi. Bahkan jika ada yang bersalah setelah ditegur tidak mau bertobat harus diusir atau dikeluarkan (Mat.18:15-20, I Kor.5:13).

Dosa Yang Paling Besar

Kalau dosa Saul dianggap sangat besar, bahkan lebih besar dari dosa Daud yang membunuh dan berzinah, maka di zaman Perjanjian Baru ini tidak ada dosa yang lebih besar daripada dosa membawa jemaat menyimpang dari kebenaran atau menganiaya jemaat. Wahai Pemberita Injil, Pengajar Alkitab, atau apa saja sebutan anda (pendetakah, penginjilkah, atau guru), camkanlah, jika anda berkompromi dan menyesatkan orang atau menyebabkan penghargaan orang terhadap Alkitab menurun, ITU ADALAH KESALAHAN YANG TERBESAR.

Dan pada zaman PB, dimana menetapkan Jemaat LokalNya sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran, adalah terdiri dari orang-orang yang bertobat dan percaya kepada Injil (lahir baru), bukan karena keturunan apalagi hasil intimidasi.

Penulis mendapat laporan dari alumni yang pergi membangun jemaat, bahwa mereka mendapat intimidasi dari orang-orang Kristen bahkan “pendeta”, supaya tidak membangun jemaat di wilayah mereka. Aneh tapi nyata! Siapakah yang mematok yang ini wilayahnya denominasi ini? Mengapa mereka menjaga jemaat mereka dengan pengajaran, melainkan dengan cara intimidasi? Anggota jemaat yang tetap di sebuah gereja bukan karena yakin bahwa gereja itu melainkan tidak berani pindah karena diancam akan dianiaya, tindakan mereka sekaligus membuktikan bahwa ia sedang di dalam gereja yang tidak benar! Dan tindakan para pemimpin gereja demikian membuktikan mereka bukan murid Kristus yang cinta damai, melainkan murid orang-orang Farisi, atau murid para imam yang menyalibkan Yesus Kristus.

Bukankah orang-orang yang kita gembalakan adalah milik Tuhan, bukan milik kita? Bukankah mereka adalah domba Tuhan, bukan domba kita? Mengapa ada “pendeta” yang menuduh “pendeta” lain mencuri dombanya? Tidakkah “pendeta” yang kehilangan domba perlu merenung, siapa tahu kepergian dombanya adalah suatu teguran Tuhan agar ia melakukan introspeksi. Intinya, TIDAK ADA MURID TUHAN YANG MELAKUKAN KEKERASAN UNTUK MEMPERTAHANKAN JEMAAT/UMAT.

Apalagi yang namanya menyerang orang yang sedang belajar Alkitab, atau sedang bernyanyi memuji Tuhan, itu adalah dosa yang sangat besar yang bukan terhadap manusia tetapi terhadap Tuhan. Karena ketika sekumpulan orang bernyanyi dan belajar firman Tuhan, itu adalah tubuh Tuhan. Siapapun yang menyerang mereka adalah menyerang tubuh Tuhan, atau menyerang TUHAN.

Yang lebih buruk lagi adalah orang Kristen yang memakai tangan pemerintah untuk menindas orang lain. Orang Kristen demikian perlu membaca ulang-ulang I Korintus 6:1. Pemerintah tidak berhak menentukan pengajaran yang ini salah dan yang itu benar.

Tugas pemerintah ialah menjaga, melindungi rakyat dari tindakan kejahatan. Jika saya percaya bahwa komputer saya adalah Tuhan, itu hak saya, dan tidak ada urusannya dengan orang lain. Dan jika saya memberitahukan orang lain dan orang itu juga mau ikut percaya bahwa komputer saya adalah Tuhan, itupun tidak ada urusan dengan pemerintah. Tetapi jika saya memukul orang, menipu uang orang, berbuat mesum, atau apapun yang bersifat pidana, barulah pemerintah berhak turun tangan.

Kebebasan mempercayai sesuatu, bahkan pindah gereja adalah HAK ASASI MANUSIA. ***

Sumber: PEDANG ROH Edisi 44 Tahun XI Juli-Agustus-September 2005

MEREKA MENYESATKAN DAN DISESATKAN

sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan. II Tim 3:13

Rasul Paulus pada kalimat-kalimat sebelum yang kita kutip di atas, menyatakan bahwa perjuangannya dalam memberitakan kebenaran sungguh berat. Ia telah dianiaya di Antiokhia, Ikonium dan di Listra yang dirasakan juga oleh Timotius. Pada ayat ke-12 ia menyimpulkan bahwa orang yang benar-benar hidup beribadah akan menderita aniaya. Alasannya adalah karena orang jahat akan semakin jahat, dan mereka akan saling menyesatkan.

Penyesatan Merajarela

Berita yang paling baru, majalah Tempo, 3 Juli 2005 halaman 58, dengan judul Gereja Nyaris Bertauhid, mengisahkan Pendeta Robert P. Walean, Sr. yang mengajarkan “Islam Hanif” kepada jemaat Advent, sehingga menyebabkan prokontra di kalangan Jemaat bahkan pendeta Gereja Advent.

Dan Brown menulis novel yang berjudul The Da Vinci’s Code untuk menghujat Tuhan dengan cerita novel isapan jempol bahwa Yesus telah menghamili Maria Magdalena sebelum penyaliban, dan akhirnya Maria Magdalena melahirkan anak di Prancis Selatan.

Sementara itu Jurnal Theologi dan Gereja, Penuntun (Paidagogos), yang diterbitkan oleh GKI JAWA BARAT, pada Vol.5 No.19, 2003, pada makalah Kristen Fundamentalis dan Masa Depan Hubungan antar Agama, oleh Martin Hartono Sutedja, S.Th., bukan hanya menyerang kaum Kristen Fundamentalis, namun sesungguhnya menyerang Alkitab.

Terlebih lagi dalam artikel Klaim Palsu dan Sikap Eksklusif Fundamentalis-Injili: Suatu Ancaman bagi Masa Depan Hubungan antarAgama, oleh Adji Ali Sugito, S.Th., yang telah terang-terang menyatakan bahwa, “Alkitab bukanlah Firman Allah yang setiap kata-kata atau pemikirannya harus ditaati secara mutlak oleh manusia di sepanjang zaman.”(Hal.263).

Lebih mengagetkan lagi, seorang pengikut Saksi Yehova datang ke kantor penulis untuk berargumentasi bahwa Yesus bukanlah Allah. Ketika dihadapkan kepadanya beberapa ayat yang telah terang-terangan menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Allah (1 Yoh.5:20, Fil.2:6,Yoh.1:1-3), yang bersangkutan dengan enteng mengeluarkan Alkitabnya dan membacakan ayat-ayat tersebut yang ternyata bunyinya berbeda dari Alkitab penulis. Rupanya Alkitabnya adalah terjemahan dan terbitan kelompok mereka sendiri. Sungguh mengagetkan!

Belum lagi kita hadapi gereja-gereja yang penyimpangannya tidak sejauh kondisi tersebut di atas, namun telah kehilangan “cahaya” dan rasa “asin”nya karena sikap kompromi terhadap arus penyesatan zaman ini.

Segala macam racun yang diciptakan untuk membinasakan jiwa ke Neraka, telah tersebar ke seluruh muka bumi dengan gampang melalui media cetak maupun visual yang sangat canggih di zaman ini. Dari jenis yang terlihat sangat ilmiah (kaum Liberal [National Geography Society]) hingga yang sangat mistik (kaum Kharismatik). Akhirnya seorang patut bertanya, apakah yang disebut Kristen sejati, dan apakah komentar Kristen sejati atas semua ini?

Identifikasi Masalah

Robert P. Walean berdasarkan satu ayat saja, yaitu Yesaya 60:7 yang berbunyi, “Segala kambing domba Kedar akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan dipersembahkan di atas mezbah-Ku sebagai korban yang berkenan kepada-Ku, dan Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku.” Berdasarkan ayat ini Robert yakin bahwa orang Islam adalah golongan yang diterima Tuhan, karena orang Kedar di situ menunjuk pada bangsa Arab.

Kemudian ia mengkombinasikan dengan ayat Al-Quran surat An-Nahl ayat 123, yang berbunyi, “kemudian kami wahyukan kepadamu, ikutlah agama Ibrahami secara hanif.” Dari satu ayat Alkitab dan satu ayat Al-Quran Robert mendirikan “Islam Hanif” yang hari sucinya adalah hari Sabtu sesuai dengan keyakinan Gereja Advent.

Bayangkan, tanpa sekolah theologi, atau tidak pernah belajar tentang sistem penafsiran Alkitab yang benar, setelah bangkrut sebagai exportir furniture, demikian kata Tempo, ia mendirikan sebuah aliran campuran Islam-Kristen, dan sudah ada 500 orang pengikut atau anggota jemaat.

Di luar negeri, Dan Brown, menulis sebuah novel yang berjudul The Da Vinci’s Code. Ia telah menulis berdasarkan kode lukisan Leonardo Da Vinci yang hidup antara tahun 1452-1519 bahwa Yesus Kristus menghamili Maria Magdalena, dan memiliki keturunan yang hidup hingga kini. (Rangkuman bukunya ada di halaman 5)

Yang konyol adalah, sekalipun berbentuk novel dan dengan nama-nama samaran, ternyata banyak orang mempercayainya sehingga buku tersebut telah laku jutaan copy. Sehingga pada Jumat malam, tanggal 1 Juli 2005, Channel TV National Geography membahas buku ini dengan mewawancarai berbagai pribadi. Seorang Pastor ditanya apakah ia bisa percaya bahwa Yesus memiliki keturunan yang hidup hingga kini, ia menjawab “saya tidak tahu.”

Bukan hanya buku The Da Vinci’s Code ini, bahkan The Last Temptation juga menceritakan tentang hal yang hampir sama. Juga ada sebuah buku yang ditulis oleh Holger Kersten yang berjudul Jesus Lived in India, dan kita harus bersiap-siap mendengar munculnya buku lain yang mungkin lebih berani dengan isi yang lebih kontroversial lagi.

Sementara itu GKI Jawa Barat menerbitkan artikel yang menyatakan bahwa Alkitab bukan catatan firman Allah yang akurat yang patut dipercayai seluruh pernyataannya.

Bahkan, digambarkan bahwa keakuratannya jauh lebih tidak bisa dipercayai jika dibandingkan dengan laporan para wartawan masa kini.

Dimanakah letak kepala semua benang kusut ini sesungguhnya? Jawabnya, ketika orang Kristen tidak tahu dasar imannya, dan ketika orang Kristen menghancurkan dasar imannya, atau ketika orang-orang Kristen duduk di ujung dahan sambil memotong pangkal dahannya, maka kalau bukan dungu, ia adalah antek-antek iblis yang disusupkan ke dalam kekristenan.

Diagnosa Penyebab Penyesatan

Pemazmur dalam Mzm.11:3 menyatakan sebuah kebenaran yang sangat hakiki, katanya, “apabila dasar-dasar dihancurkan, apakah yang dapat dibuat oleh orang benar itu?” Sebelumnya di ayat dua pemazmur mengajak melihat tingkah orang fasik (ungodly), mereka memasang anak panah untuk memanah orang yang tulus hati di tempat gelap. Iblis sedang membidik manusia-manusia di dunia dengan segala jenis “anak panah” untuk menghancurkan iman kekristenan.

Sasaran yang paling utama untuk dihancurkan ialah DASAR-DASAR (foundations) kekristenan itu sendiri. Jika fondasi kekristenan berhasil dihancurkan, maka tidak ada lagi yang bisa dipertahankan. Daripada menyesatkan secara individu, tentu jauh lebih menguntungkan bagi iblis untuk menghancurkan dasar-dasarnya. Jika ia berhasil menghancurkan dasar-dasar kekristenan, maka Injil yang diberitakan pun tidak ada arti lagi.

Ketika Alkitab tidak dihormati, maka Injil tidak perlu diberitakan lagi. Kalau Alkitab bukan firman Allah yang tiap-tiap katanya harus diimani dan dipatuhi maka berarti dasar kekristenan telah dihancurkan. Semua buku theologi yang pernah ditulis adalah bohong jika Alkitab bukan firman Allah yang tidak ada salah. Sebab kalau Alkitab adalah catatan atau refleksi religius belaka maka ia tidak memiliki otoritas untuk dipatuhi.

Kalau Alkitab kehilangan otoritas maka tentu Yohanes 14:6 juga kehilangan otoritas sehingga Yesus akan menjadi salah satu juruselamat, bukan satu-satunya Juruselamat. Padahal baik ayat Yoh.14:6, maupun Kis.4:12, jelas-jelas menegaskan absolutisme bahwa HANYA Yesus SAJA satu-satunya Juruselamat. Siapapun yang tidak bertobat dan percaya kepada Yesus sebagai Juruselamatnya, akan mati dan binasa di Neraka. Atas dasar inilah maka Injil harus diberitakan kepada umat agama lain. Tindakan ini bukan kristenisasi, melainkan sebuah rescue mission. Bagi yang percaya pada Alkitab, dan yang mengaminkan bahwa di bawah kolong langit ini tidak ada keselamatan pada nama lain selain nama Yesus, pemberitaan Injil adalah sebuah tindakan terpuji dan penuh kasih atau sebuah rescue mission.

Tetapi sebaliknya ketika seseorang tidak menjunjung tinggi Alkitab, melainkan menganggap Alkitab sekedar tulisan refleksi iman para murid Tuhan, dan melihat ada kebenaran ilahi pada kitab-kitab suci lain, maka otomatis yang bersangkutan akan melihat Yesus hanya SALAH SATU juruselamat, bukan satu-satunya juruselamat. Kalau Yesus sekedar salah satu Juruselamat, dan umat agama lain bisa masuk Sorga tanpa melalui Yesus Kritus, maka tidak perlu ada usaha penginjilan. David Livingstone, Hudson Taylor, William Carey, Adoniram Judson semuanya adalah orang bodoh yang telah menjerumuskan hidupnya untuk pekerjaan yang tidak perlu.

Betulkah umat Islam bisa masuk Sorga tanpa bertobat dan percaya Yesus? Betulkah orang bisa mengikuti ajaran Khong Hu Cu dan bisa masukSorga? Betulkah orang berpantang makan daging dan bertapa untuk mengosongkan diri bisa masuk Sorga? Kalau betul, maka tidak perlu pemberitaan Injil. Kalau betul maka perintah Yesus Kristus dalam Mark.16:15 “pergilah ke seluruh dunia, dan beritakan Injil,” serta “menjadi saksiku di Yerusalem dan diseluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi,” adalah perintah konyol yang tidak perlu.

Sesungguhnya semua penyesatan dalam kekristenan bisa muncul, penyebab utamanya ialah penghormatan terhadap Alkitab yang menurun. Kelompok Saksi Yehova berani merubah arti ayat sesuai dengan kemauan mereka adalah karena mereka tidak takut pada ancaman dalam Wahyu 22:18-19.

Dimanakah Sumber Otoritas Alkitab?

Kitab Perjanjian Lama, 39 kitab, yang terdiri dari tiga kelompok kitab (Torah, Nabium, dan Ketubim), adalah firman Allah yang diturunkan oleh : 1. Tradisi Yahudi dengan penuh hormat. Mereka adalah orang yang sangat menghormati Allah dan firmanNya. Dalam penyalinan ulang, ketika hendak menulis kata YHWH mereka mencuci tangan terlebih dulu. Seandainya teks PL dipelihara Martin Hartono Sutedja,S.Th.,atau Adji Ali Sugito, S.Th., maka sudah pasti akan banyak berubah. Semua 2. penulis kitab PB mengutip kitab-kitab PL dan terang-terangan menyatakannya firman Allah, bukan catatan refleksi iman para penulisnya. Dan yang terutama adalah 3. pernyataan Yesus Kristus bahwa ketiga kelompok kitab tersebut menulis tentang Dia (Luk.24:44), yang mengandung arti bahwa kitab-kitab itu adalah petunjuk dari Allah tentang Sang Mesias.

Berdasarkan sekurang-kurangnya tiga alasan tersebut di atas maka kitab PL tidak diragukan sedikit pun adalah firman Allah yang tidak ada salah. Di dalamnya terdapat petunjuk tentang ibadah simbolik, sejarah, pengajaran moral, nubuat tentang Mesias dan hal-hal lain di depan, bahkan berbagai aturan khusus untuk bangsa Yahudi sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran untuk periode waktu dari Taurat diturunkan hingga Yohanes tampil (Luk.16:16, Mat.11:13-14).

Karena di dalamnya terdapat berbagai hal tersebut di atas, maka untuk orang Kristen periode sesudah Yohanes tampil hingga hari pengangkatan (Rapture), harus dapat membedakan antara perintah-perintah untuk bangsa Yahudi yang berhenti hingga Yohanes tampil dengan perintah moral yang berlaku sepanjang masa. Hukum-hukum (KUHPer) yang Tuhan berikan untuk menertibkan bangsa Yahudi dan banyak aturan ibadah simbolik hanya berlaku hingga Yohanes tampil.

Sementara itu orang Kristen harus dapat memilah perintah-perintah yang bersifat kekal, misalnya item-item sepuluh hukum kecuali hukum keempat yaitu penghormatan hari Sabat yang adalah simbol menghormati Allah yang telah digenapi oleh Tuhan Yesus karena kita tidak lagi beribadah dalam simbolik melainkan dalam hakekat (Mat.12:1-8, Mrk.2:28, Luk.6:5). Para Rasul kemudian beribadah bukan pada hari Sabtu melainkan pada hari Minggu (Kis.20:7, I Kor.16:2).

Kitab PL diterima sebagai firman Tuhan dan umat Kriten yang adalah tiang penopang dan dasar kebenaran periode (Yohanes Tampil hingga rapture [Mat.11:13-14, Luk.16:16 bandingkan dengan I Tim.3:15]). Kitab PL bagi orang Kristen adalah dasar latar belakang tentang Mesias. Jika tanpa kitab PL, lalu tiba-tiba anak Yusuf dan Maria menyebut dirinya Juruselamat, itukan membingungkan. Kita tahu bahwa kita tidak perlu menyunat anak kita pada hari kedelapan karena itu adalah perintah Tuhan kepada Abraham untuk keturunan sebagai tanda kontrak bahwa mereka akan menjadi bangsa tiang penopang dan dasar kebenaran hingga Sang Juruselamat tiba. Sistem penafsiran Alkitab yang benar akan memperlihatkan hubungan antara PL dan PB yang indah dan harmonis.

Kitab-kitab PB diterima sebagai firman Tuhan sama sekali bukan melalui persidangan Nicea, melainkan karena jemaat-jemaat mula mula tahu bahwa tulisan tersebut: 1. ditulis langsung oleh Rasul, dan yang 2. di-back up oleh Rasul, serta yang 3. di-proofread atau beredar selagi Rasul masih hidup adalah firman Allah. Ke-27 kitab PB yang di tangan kita telah memenuhi salah satu dari ketiga syarat di atas. Karena iblis tahu tiga syarat tersebut sangat penting, maka ia memakai theolog Liberal untuk mengutak-atik kitab-kitab PB melalui higher-criticism. Mereka berkata bahwa Injil Matius bukan Rasul Matius yang tulis, dan Surat Timotius bukan tulisan Rasul Paulus, yang tujuan kesemuanya adalah untuk membuat tulisan-tulisan tersebut tidak memenuhi syarat tersebut di atas. Mereka selalu membuat teori bahwa kitab tertentu ditulis pada abad ke-2 bahkan ke-3 agar terkesan tulisan itu dibuat sesudah tidak ada kehadiran Rasul lagi.

Kitab PL adalah kesaksian para Nabi yang adalah firman Allah untuk menuntun manusia mengenal Sang Mesias (Juruselamat) yang dijanjikan. Kesaksiannya lebih penting daripada kesaksian manusia yang mati dan hidup lagi (Luk.16:19-31).Dan kitab-kitab PB adalahkesaksian paraRasul,yang adalah saksi mata atas segala yang diperbuat Yesus. Jelas orang pintar lebih percaya kepada Rasul Petrus yang mengatakan bahwa Yesus tidak berdosa sama sekali (I Pet.2:22) daripada kepada Dan Brown. Hanya orang bodoh yang lebih percaya pada Dan Brown yang telah menjadi kaya raya dari novel hasil fantasinya.

Sementara itu Leonardo Da Vinci yang hidup pada abad-15, bahkan tidak pernah melihat wajah Yesus maupun wajah Maria Magdalena. Semua lukisannya adalah hasil imajinasi fantasinya. Orang Kristen fundamentalis tidak terpengaruh sedikit pun oleh fantasi konyol dan cerita bohong Dan Brown.

Kekokohan Fondasi Kekristenan

Ketika proses pewahyuan sampai kitab Wahyu pasal terakhir ayat terakhir, maka Allah tidak menurunkan wahyu lagi. Jadi, yang disebut firman Allah hanyalah 66 kitab yang ada dalam Alkitab, dimana 39 kitab PL kita diwarisi dari bangsa Yahudi, dan 27 kitab PB adalah kesaksian dan pengajaran para Rasul. Oleh sebab itu fondasi kekristenan yang paling dasar adalah tulisan para Nabi dan para Rasul yang hanya terdapat dalam Alkitab.

Jika semua orang Kristen faham akan kebenaran hakiki ini dan menolak keberadaan nabi manapun yang datang kemudian, maka penyesatan pasti akan jauh berkurang dan Injil lebih gampang diberitakan.

Untuk meyakinkan manusia bahwa seseorang itu Nabi yang berbicara atas nama Allah, mereka para Nabi mengatakan sesuatu sebelum hal tersebut terjadi. Inilah yang disebut bernubuat, artinya memberitahukan hal yang akan terjadi di masa depan. Belakangan ini banyak nabi palsu menubuatkan pada pemilu yang lalu bahwa Megawati akan jagi presiden lagi, bahkan Ruyandi Hutasoit akan jadi presiden dan lain sebagainya.

Munculnya orang-orang yang menyebut dirinya nabi sesudah pewahyuan selesai adalah program iblis untuk membuat para Nabi penulis Alkitab menjadi kehilangan kekhususan. Sebab kalau si Rudi yang minggu lalu bernubuat adalah nabi, apa bedanya ia dengan Musa dan Yesaya? Kalau si Amat yang bernubuat dan menulis buku menyebut dirinya nabi, maka apa bedanya isi kitab Daniel dengan isi buku Amat? Oleh sebab itu sesudah pewahyuan berhenti, maka tidak ada seorang pun boleh dipercayai sebagai nabi. Untuk kebenaran ini tidak boleh ada kompromi sedikit pun.

Lalu bagaimana dengan Rasul? Tuhan Yesus sendiri menetapkan 12 murid yang disebut Rasul, dan ketika Yudas tersingkir dipilihlah seorang yang syaratnya bersama-sama dengan rombongan sejak baptisan Yohanes. Mengapakah Tuhan Yesus menetapkan 12 orang sebagai Rasul? Karena Tuhan tahu bahwa nanti akan muncul orang seperti Dan Brown, Holger Kersten, dan mungkin akan ada lagi yang mengarang cerita sesuai dengan daya fantasi mereka. Murid-murid Tuhan sepanjang masa harus tahu bahwa orang bisa mengarang cerita apa saja tentang kehidupan Yesus, tetapi yang benar adalah yang diceritakan oleh 12 RasulNya yang hidup bersamanya siang malam selama tiga setengah tahun.

Orang bisa mengarang cerita bahwa Yesus merampok, mengawini Maria Magdalena, atau membunuh orang Farisi atau apa saja. Tetapi semua itu jangan dipercaya, karena mereka tidak bersama-sama Tuhan Yesus sehari 24 jam seperti kedua belas RasulNya.

Mengapa kita tidak terima Injil apokripa seperti Injil Petrus, Injil Thomas, Injil Barnabas dll.? Jawabnya adalah semua kitab itu muncul setelah Petrus tidak ada, setelah Thomas tidak ada dan setelah Barnabas tidak ada. Siapakah yang bisa tahu bahwa itu betul tulisan Barnabas? Sedangkan empat Injil dan surat-surat yang ada dalam kitab PB kita adalah kitab-kitab yang beredar selagi Rasul Yohanes masih hidup (sebelum tahun 95 AD).

Rasul Paulus dipanggil Kristus menjadi Rasul dan telah diterima oleh semua Rasul lain sebagaimana pernyataan Rasul Petrus (II Pet.315-16). Iabukan dipanggil untuk menulis riwayat hidup Yesus tetapi dipanggil untuk mengajarkan dan menuliskan konsep theologi Perjanjian Baru yang berbeda dengan konsep theologi Perjanjian Lama. Konsep theologi PL bersifat ibadah simbolik sedangkan konsep theologi PB bersifat ibadah hakekat (dalam roh dan kebenaran).

Jadi, iblis memakai theolog Liberal untuk menghancurkan Alkitab dari segi tipuan intelektual yang ujungnya memberi kesan bahwa Alkitab bukanlah firman Allah yang patut dipercayai apalagi dipatuhi setiap katanya. Di sisi lain ia memakai “pebisnis” rohani kalangan kharismatik untuk bernubuat palsu dan berbahasa lidah palsu untuk mengesankan bahwa zaman sekarang masih ada nabi dan rasul. Dengan berbuat demikian mereka menurunkan derajat para Rasul asli. Sebab, kalau si Toni bisa bernubuat berarti posisinya sama dengan Petrus dong! Kalau di Ani berbahasa lidah maka berarti jika bahasa lidahnya diterjemahkan maka itu adalah firman Allah yang sama tingkatannya dengan isi Alkitab dong!

Jika hari ini ada nabi dan rasul, maka dimanakah keistimewaan para Nabi Perjanjian Lama, dan dimanakah keistimewaan para Rasul yang menulis kitab Perjanjian Baru?

Lihatkah pembaca alasan iblis memunculkan nabi palsu dan rasul palsu? Tujuan utama semua itu adalah agar Alkitab kehilangan keistimewaannya, agar Alkitab kehilangan otoritasnya di hati manusia. Orang Kristen alkitabiah harus dengan tegas berkata bahwa sesudah pewahyuan kitab Wahyu pasal terakhir dan ayat terakhir, Allah tidak menurunkan wahyu lagi. Dan sejak saat itu Allah tidak mengangkat orang menjadi Nabi atau Rasul. Dan tentu Allah tidak menurunkan wahyu untuk dinubuatkan lagi.

Lihatkah pembaca bagaimana cara iblis menurunkan otoritas Alkitab? Dalam buku Behind the Scenes: The True Face of the Fake Healers, Yves A. Brault menulis bahwa suatu ketika di depan penonton TBN, Benny Hinn ditanya oleh reporter tentang banyak nubuatannya yang tidak akurat, ia menjawab bahwa sama seperti para Nabi dan para Rasul ia juga manusia yang bisa salah. Ia menaikkan derajatnya dengan cara menurunkan derajat para Nabi dan para Rasul. Padahal Tuhan telah mengatakan dalam Ulangan 18:17-18, kalau ada orang menyebut dirinya nabi dan bernubuat dan ternyata nubuatannya tidak terjadi, maka ia pasti bukan nabi dari Tuhan. Pada zaman itu demi sacral-society Tuhan perintahkan orang tersebut dirajam.

Untuk menunjukkan bahwa semua omongan dan tulisan Nabi dan Rasul tidak akan salah karena diilhamkan Allah, mereka diberi kuasa melakukanmujizat(IIKor.12:12). Oleh sebab itu, selain Nabidan Rasul tidak ada orang yang mendapat kuasa melakukan mujizat dari Allah. Yves A. Brault, orang yang telah mengikuti Benny Hinn bertahun-tahun mengungkapkan tipu muslihat dibalik setiap orang yang diklaim telah disembuhkan.

Tuhan sengaja memberikan kuasa kepada Rasul Paulus, bahkan sapu tangannya, bisa menyembuhkan orang. Dan Tuhan memberikan kuasa kepada Petrus, bahkan bayangannya bisa menyembuhkan orang. Untuk apakah semuanya itu? Agar Paulus dan Petrus jadi keren? Bukan! Melainkan untuk membuktikan bahwa kesaksian dan pengajaran mereka dari Tuhan. Tulisan mereka bukan sekedar refleksi iman, melainkan firman Allah. Kalau firman Allah, sudah pasti tidak ada salah, karena Allah mahabenar dan Allah sempurna.

Kalau Allah sanggup menciptakan langit dan bumi, tidak sanggupkah Ia menuliskan sebuah kitab yang tidak ada salah? Demi memenuhi kebutuhan akal sehat manusia yang diciptakanNya, Allah sengaja memakai lebih dari satu orang menuliskan hal-hal yang bersifat sejarah. Allah tentu tahu bahwa akan ada perbedaan hal-hal kecil antara penulis yang satu dengan yang lain, yang bukan kesalahan melainkan perbedaan penekanan. Jika hanya satu koran saja yang menulis sebuah peristiwa, jelas tidak akan ada pertentangan. Tetapi kalau lima-enam koran yang menulis peristiwa yang sama, walaupun ada perbedaan detail, masyarakat puas dengan perbedaan-perbedaan karena itu melengkapi pengetahuan mereka. Apa yang kurang mendapat perhatian oleh wartawan yang satu ternyata menjadi perhatian wartawan lain.

Kalau semua koran itu dibaca dua ribu tahun ke depan, tentu akan ada masalah. Tetapi jelas bahwa para wartawan telah menulis dengan jujur. Apalagi para Rasul yang telah mati bagi tulisan mereka dan dipimpin Roh Kudus.

Lalu, bagaimana dengan kesalahan-kesalahan yang ditunjuk Adji Ali Sutedja, S.Th.? Sikap yang terlalu cepat menyalahkan Alkitab adalah sikap SOMBONG yang menganggap diri lebih tahu dari Allah, atau menganggap diri mahahadir dan mahatahu. Kalau hari ini di Suara Pembaruan menulis mahasiswa pada tanggal 1 Agustus 2005 berdemonstrasi menuntut penyelesaian kasus Bulog-gate lalu koran Kompas menulis 1 Agustus 2005 mahasiswa berdemonstrasi menuntut penyelesaian kasus Akbar Tanjung, dan kedua koran itu dibaca oleh orang-orang pada tahun 4000 masehi, lalu berkata bahwa wartawan Suara Pembaruan dan wartawan Kompas ngaco, sangat tidak akurat, dan berbagai penilaian negatif, maka itu masih tidak apa-apa. Tetapi jika menyangkut firman Allah, jelas ada resikonya di hadapan Allah. Sering kali seseorang yang tidak sanggup memahami cerita yang seolah-olah kontradiksi dengan pikirannya yang cetek, daripada rendah hati mengaku belum mampu atau masih perlu waktu untuk menyelidikinya, malah lebih memilih menyalahkan penulis Alkitab yang jujur, bahkan diilhamkan oleh Roh Kudus. Ini kesombongan yang bisa menuntun dirinya dan orang lain ke Neraka.

Kesimpulan

Ketika catatan para Rasul yang bersama-sama Tuhan Yesus 24 jam sehari-semalam direndahkan, terlebih lagi ketika kitab yang diilhamkan Allah untuk menyelamatkan manusia dari hukuman dosa diremehkan, dan ketika theolog Liberal menyerang Alkitab dengan alasan mencari kebenaran, lebih-lebih lagi para “dukun rohani” seperti Benny Hinn cs meninggikan diri dengan cara merendahkan posisi penulis Alkitab, maka novel hasil imajinasi Dan Brown akan laris keras sehingga dalam sekejap ia menjadi kaya-raya. Robert P. Walean bisa menyimpulkan seluruh kebenaran Alkitab hanya dengan satu ayat tanpa perlu konfirmasi dari ayat-ayat lain Alkitab, adalah lintasan keanehan-keanehan yang menyentakkan.

Ketika firman Allah dinetralisir menjadi tulisan umum, ketika satu-satunya firman Allah menjadi salah satu firman Allah, dan ketika di muka bumi ini tidak ada satu kitab yang betul-betul diyakini firman Allah, maka fondasi untuk mendapatkan kebenaran lenyaplah sudah. Ketika Alkitab berhasil dilencengkan maka Iblis telah berhasil menghancurkan dasar atau fondasi kekristenan, bukan hanya di hati orang-orang yang fasik (ungodly) namun juga di hati kalangan orang Kristen bahkan theolog, terutama yang mencari makan dengan Alkitab. Pada saat dunia tiba pada kondiri tidak ada standar kebenaran, nilai kesaksian para Nabi dan para Rasul dinihilkan, maka perkataan Rasul Paulus sangat tepat dan nyata, bahwa orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.

Akhirnya kita patut berseru seperti seruan pemazmur, “tolonglah kiranya, Tuhan, sebab orang saleh telah habis, telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia” atau dalam bahasa Inggrisnya “Help, LORD; for the godly man ceaseth; for the faithful fail from among the children of men” (Mzm.12:2).

Sumber: PEDANG ROH Edisi 44 Tahun XI Juli-Agustus-September 2005