Sabtu, November 01, 2008

PENGANIAYA ATAS NAMA YESUS

REFORMASI KEPALANG TANGGUNG
Pada 31 Oktober 1517, seorang rahib yang bernama Martin Luther memakukan 95 dalil yang bertentangan dengan kebijaksanaan Gereja Roma Katolik di gerbang gereja kota Wittenberg. Tentu Paus pada saat itu menjadi kalang kabut. Luther sampai pada kesimpulan bahwa Gereja Roma Katolik telah MENYIMPANG JAUH DARI KEBENARAN. Mereka mengajarkan jalan keselamatan yang melalui perbuatan manusia. Contoh yang paling konkrit pada saat itu ialah ‘surat pengampunan dosa’ yang diperjualbelikan.

Sayang sekali Luther tidak melihat bahwa akar permasalahannya ialah baptisan keselamatan (baptism regeneration), yaitu paham tahyul tentang baptisan yang dimulai jauh-jauh sebelumnya yang mengajarkan bahwa baptisan dapat melindungi seseorang dari gangguan iblis, dari sakit-penyakit, dan memastikan keselamatan.

Luther menyerukan agar kembali kepada iman. Nats Alkitabnya yang paling terkenal ialah Roma 1:17, ”Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ’Orang benar akan hidup oleh iman.’."

Kaum Anabaptis yang sedang bersembunyi merasa sangat senang pada perjuangan Martin Luther. Mereka menyangka bahwa mereka mendapat teman baru di dalam peperangan iman. Banyak di antara mereka segera menggabungkan diri dengan Luther. Demikian juga para Anabaptis yang di Swiss. Mereka sangat bersukacita atas perjuangan Calvin dan Zwingli dan keluar dari persembunyian untuk menggabungkan diri dengan mereka.

Namun kemudian mereka sangat kecewa karena menyadari rupanya para reformator itu tidak sanggup melihat inti permasalahan yang menyebabkan berdirinya Satan’s Millenium. Rupanya baik Luther, Calvin, maupun Zwingli tidak menyadari bahwa kesalahpahaman tentang makna baptisan adalah awal penyebab dari malapetaka yang telah berlangsung ribuan tahun. Baik Luther, Calvin maupun Zwingli tetap membaptiskan bayi yang tidak mengerti apa-apa. Mereka tidak menyadari bahwa tindakan itu berarti memasukkan orang-orang yang belum dilahirkan kembali ke dalam gereja. Mereka menganggap masalahnya bukan dari baptisan karena mereka tidak sanggup menyadari bahwa lebih gampang menghimbau orang yang belum dibaptis untuk bertobat dan menerima Kristus daripada orang yang telah dibaptiskan ke dalam gereja.

Yang lebih mengecewakan kaum Anabaptis lagi ialah ternyata para Reformator tidak mengerti apa perbedaan konsep Doktrin Gereja Lokal dengan Doktrin Gereja Universal. Mereka tidak sanggup melihat bahwa Gereja Roma Katolik menjadi sedemikian sesat itu gara-gara dikawinkan dengan negara oleh si Constantine.

Baik Luther, Calvin, maupun Zwingli adalah orang-orang yang dibaptis sejak bayi di Gereja Roma Katolik. Mereka sendiri belum pernah dibaptis dengan Baptisan Alkitabiah, yaitu baptisan yang didahului Pengakuan percaya (Kis 8:36-38). Kemudian mereka membaptiskan semua pengikut mereka dengan cara yang sama, yaitu yang mereka tiru dari Gereja Roma Katolik. Lalu kalau ada pengikut mereka yang menyadari kesalahan mereka dan ingin menggabungkan diri dengan para Anabaptis, salahkah kalau para Anabaptis meminta agar mereka mengaku percaya di depan jemaat dan kemudian membaptiskan mereka dengan baptisan Alkitabiah? Reformasi yang mereka lakukan ternyata sebuah reformasi yang kepalang tanggung.

GILIRAN MENJADI PENGANIAYA
Sesungguhnya apa yang dilakukan para reformator itu malu sekali untuk diceritakan. Para reformator menjadi marah sekali kepada kaum Anabaptis dan berusaha membunuh mereka. Oh..oh..oh.. darimana mereka belajar sikap membunuh orang yang tidak setuju dengan mereka? Kalau tidak salah, itu dari nenek moyang rohani mereka, yaitu Gereja Roma Katolik yang telah membunuh banyak orang. Bahkan Galileo seorang ilmuwan yang mengatakan bahwa Bumi ini bulat, dipenggal kepalanya oleh Gereja Katolik.
Reformator yang tercatat paling banyak membunuh Anabaptis ialah Zwingli. Ketika Zwingli mendengar bahwa pengikutnya yang meninggalkannya itu menggabungkan diri dengan Anabaptis dan mereka dibaptis ulang, ia sangat tersinggung dan marah sekali. Ia menganggap orang-orang Anabaptis tidak menghargai baptisannya. Zwingli mengumumkan bahwa barangsiapa yang dibaptis kedua kali, kepadanya akan dilaksanakan baptisan ketiga, yaitu ditenggelamkan ke dalam air.

Tulisan ini akan berubah dari booklet menjadi buku yang tebal sekali jika membicarakan semua Anabaptis yang dibunuh oleh Gereja Roma Katolik dan reformator. Orang pertama yang dibunuh oleh Zwingli ialah Conrad Grebel, seorang pengikut Zwingli yang kemudian menyadari bahwa iman harus mendahului baptisan. Orang berikut yang dibunuh ialah Felix Manz. Ia ditenggelamkan di sungai Limmat. Felix Manz, sesuai dengan keputusan pengadilan, dibawa terikat dari penjara Wellenberg melewati pasar ikan menuju sebuah perahu. Sepanjang jalan ia bersaksi kepada anggota dewan dan semua orang yang berdiri di pantai sungai Limmat, sambil memuji Allah karena walaupun ia seorang berdosa namun diizinkan untuk mati demi kebenaran. Kemudian ia menyerukan bahwa baptisan orang percaya adalah baptisan yang benar sesuai dengan firman Tuhan dan pengajaran Kristus. Suara ibunya terdengar dari jauh mengikuti arus sungai yang memohonnya dengan amat sangat agar ia tetap setia di saat-saat menghadapi pencobaan. Setelah mereka mengumumkan hukumannya, ia dinaikkan ke dalam perahu kemudian mengikuti arus hingga ditengah-tengah sungai Limmat, lalu mereka menurunkan jangkar. Ketika tangan dan kakinya diikat ia berseru dengan suara nyaring, ”In manus tuas, Domine, commendo spiritum meum” (ke dalam tanganMu, Tuhan, kuserahkan rohku). Beberapa saat kemudian air sungai yang dingin menutupi kepala Feliz Manz. Menurut catatan Bernhard Wyss, hukuman itu dijatuhkan pada 5 Januari 1527, hari Minggu, jam 3 sore.

Anabaptis lain korban pembunuh Zwingli ialah George Blaurock. Ia adalah seorang pelayan Anabaptis yang lebih efektif dari Greble dan Manz. Pada saat Felix Manz dihukum mati, George Blaurock hanya dihukum cambuk. Selanjutnya, dua setengah tahun kemudian ia dibakar hidup-hidup di sebuah tiang oleh kelompok Zwingli.

Para reformator berpikir bahwa dengan penganiayaan yang mereka lancarkan maka kaum Anabaptis akan menggabungkan diri dengan mereka. Mereka betul-betul tidak menarik pelajaran dari apa yang mereka alami dari Gereja Roma Katolik. Bagi para reformator baptisan itu bukan masalah besar yang perlu ditekankan dan diperdebatkan. Namun yang tidak dapat dijelaskan ialah, mengapa sesuatu yang mereka katakan tidak berarti itu bisa menyebabkan mereka membunuh orang?

Di pihak lain orang juga bertanya, mengapa kaum Anabaptis mau mati hanya demi beberapa perbedaan yang ”kecil”? Jawabannya, kecil bagi orang-orang yang tidak mengerti kebenaran, dan besar bagi yang sungguh-sungguh ingin mematuhi Tuhan. Kaum Anabaptis menyadari bahwa kalau gereja terus membaptiskan orang-orang yang belum dilahirbarukan, maka itu akan menjadi penyebab utama kesesatan gereja pada aspek lain di kemudian hari. Hal kedua ialah konsep sacral-societyyang menghasilkan perkawinan gereja dan negara. Itu adalah malapetaka bagi gereja yang tidak bisa dianggap sepele.

Munculnya konsep sacral-society dalam diri para reformator ialah karena menafsirkan gereja sebagai Israel rohani. Kalau gereja adalah Israel rohani maka cara Israel mengahadapi penyesat sebagaimana yang tertulis di dalam Taurat bisa diterapkan kepada orang-orang yang menentang penafsiran mereka. Konsep bahwa gereja adalah Israel rohani ini diciptakan untuk membenarkan baptisan bayi yang diargumentasikan sebagai pengganti sunat. Padahal firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa sunat jasmani itu digantikan dengan SUNAT HATI, bukan dengan baptisan (Roma 2:28-29).

Dengan konsep sacral-society para reformator mengawinkan gereja mereka dengan negara mereka. Calvin dan Zwingli mengawinkan gereja Presbyterian/Reform mereka dengan pemerintah Swiss, dan membunuh setiap orang yang tidak setuju dengan mereka. Luther mengawinkan gerejanya, Gereja Protestan, dengan pemerintah Jerman. Mereka membagi wilayah-wilayah kekuasaan gereja serta menyiksa bahkan membunuh orang-orang yang tidak setuju dengan mereka.

Sekalipun tidak tercatat bahwa Luther membunuh Anabaptis, namun ia tidak pernah mengkritik perbuatan Zwingli. Calvin teman Zwingli tidak menjatuhkan tangannya secara langsung seperti Zwingli, namun secara diam-diam ia menyetujuinya. Sikapnya yang tidak secara terang-terangan menentang Anabaptis itu mungkin dikarenakan ia mengawini janda seorang Anabaptis yang telah terbunuh di Holand, Idelette de Bure.

Servetus, bukan Anabaptis, melainkan seorang penentang Baptisan Bayi, dibakar oleh pemerintah kota Geneva yang dikendalikan oleh John Calvin. Sementara api menyiksanya ia berseru, ”Jesus, thou Son of the eternal God, have mercy upon me!” (Yesus, Engkau putra Allah yang kekal, kasihanilah aku!). Hal itu sangat memilukan hati orang-orang yang menyaksikan. Namun Calvin menyetujui dan berusaha membela tindakan pembunuhan atas Servetus.

“Calvin felt it necessary, therefore, to come out with a public defense of the death-penalty for the heresy, in the spring of 1554. he appealed to the Mosaic law against idolatry and blasphemy,….”
Terjemahannya, “Selanjutnya Calvin merasa perlu memberikan pembelaan terhadap tindakan hukuman mati bagi penyesat yang terjadi pada musim semi 1554. Ia menerapkan hukum Musa untuk menghadapi penyembah berhala dan penghujat.”

Sekalipun para pengikut Calvin berusaha mencuci nama Calvin dari percikan darah orang-orang yang tidak menyetujui theologinya, namun bercak-bercak Darah Kaum Martir Yang Belum Kering tetap terlihat jelas. Ia merekomendasi bahkan berusaha membenarkan tindakan pembunuhan penentangnya dengan konsep sacral-society Perjanjian Lama. Di antara doktrin-doktrin Calvin yang salah, Doktrin Gereja (Ecclesiology)nya adalah yang paling parah karena ia tidak dapat keluar dari konsep gereja Katolik (universal) dan masyarakat suci (sacral-society) hasil penggabungan gereja dan negara yang diprotesnya. Ia tidak dapat melepaskan diri dari konsep sacral-society PL itu disebabkan karena penafsirannya bahwa gereja adalah Israel rohani.

Didalam konsep sacral-society, yang mana agama dan negara disatukan, maka musuh agama adalah musuh negara, dan sebaliknya. Karena Yudaisme PL ada dalam lingkup sacral-society, maka kita bisa mengerti mengapa ada perintah untuk membunuh para pengajar ajaran sesat dan yang menghujat. Tetapi Tuhan menginginkan agar Jemaat Perjanjian Baru tidak menerapkan sistem sacral-society, dengan mengatakan bahwa hukum Taurat dan masa para nabi itu berhenti pada saat pemunculan Yohanes Pembaptis (Matius 11:13). Oleh sebab itu sama sekali tidak dibenarkan untuk membunuh orang apapun alasannya.

Sikap yang Tuhan inginkan dari murid-murid Perjanjian BaruNya terhadap orang yang tidak percaya itu bukan membunuh mereka, melainkan menginjili mereka. Sedangkan kepada orang yang menentang, itu bukan dengan menyiksa mereka, melainkan menjelaskan kepada mereka kebenaran dan mendoakan mereka.

Penganiayaan terhadap kaum Anabaptis ternyata meluas seturut dengan berdirinya gereja-gereja yang dipersatukan dengan negara. Ketika gereja Anglikan (Episkopal) disatukan dengan pemerintah Inggris, maka menderitalah kaum Anabaptis di Inggris. Namun penganiayaan tidak membuat orang jera, melainkan membuat orang-orang berotak bertanya-tanya untuk mencari kebenaran di balik penganiayaan itu.

Benjamin Keach, seorang yang berhasil menulis 33 buku akhirnya menyadari iman kaum Anabaptis adalah iman Alkitabiah. Dialah yang mendirikan jemaat yang kemudian digembalakan C.H. Spurgeon. Ketika pemerintah, pemilik gereja Episkopal, menyadari bahwa buku-bukunya mengandung pengajaran Anabaptis, akhirnya mereka menjatuhkan hukuman denda, penjara, dan sebelumnya di-pillory (dihadapkan di depan umum untuk dilempar dengan telor, batu dan lain sebagainya). Kesempatan ini dipakai Keach untuk berkhotbah kepada orang-orang yang datang menontoninya. Semua buku-bukunya dibakar dihadapannya, dan kemudian ia dipenjarakan berkali-kali.

John Bunyan, pengarang buku Perjalanan Seorang Musafir yang dikenal baik oleh orang Kristen Indonesia, menulis buku itu di dalam penjara Bedford, Inggris. Pemerintah Inggris ingin mengeluarkannya dari penjara jika ia mau berjanji tidak akan mengkhotbahkan doktrin Anabaptis. Rupanya Bunyan memilih tinggal di dalam penjara daripada tidak dizinkan mengkhotbahkan iman yang benar. 12 tahun lamanya ia dipenjarakan. Satu-satunya penghiburan yang berharga ialah putrinya yang buta yang selalu hadir menghiburkannya. Buku Perjalanan Seorang Musafir itu sebenarnya adalah cerita yang ditulisnya untuk menghibur putrinya.

Pembaca sekalian, Anabaptis tidak pernah membunuh siapapun, karena ketika ia membunuh untuk membenarkan pengajarannya, maka ia bukan seorang Anabaptis lagi. Yang dilakukan oleh seorang Anabaptis terhadap orang-orang yang tidak menyukai pengajarannya hanyalah berusaha menjelaskan kebenaran kepada mereka dan mendoakan mereka agar Allah mencelikkan mata rohani mereka.

Sumber: PEDANG ROH: Jurnal Teologi, Sarana Pendidikan Teologi dan Pemberitaan Kebenaran oleh GITS, Edisi 57, Triwulanan Oktober-Desember 2008, Suhento Liauw (STh., M.R.E., D.R.E., Th.D)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar