Sabtu, November 01, 2008

Berita Mingguan 01 November 2008

GURU OBAMA MENGHORMATI LUCIFER
Saul Alinsky, seorang guru Barack Obama, menghormati Lucifer dalam bukunya "Rules for Radicals." Di halaman depan bukunya ia mengatakan, "Jangan kita lupa untuk memberi penghormatan, minimal sekedar lambaian tangan, kepada radikal yang paling pertama....radikal pertama yang manusia kenal yang memberontak terhadap kemapanan dan melakukannya dengan sedemikian efektif sehingga ia setidaknya memenangkan kerajaannya sendiri." Buku ini telah disebut sebagai "Alkitabnya golongan kiri jauh." Alinsky, yang mati tahun 1972, adalah bapa pengorganisasi gerakan rakyat liberal di Amerika. Sementara bekerja untuk Proyek Developing Communities di Chicago selatan, Obama belajar dan mengajarkan metode-metode Alinsky ("A Common Ideological Touchstone," The Washington Post, 25 Maret 2007). Di sanalah Obama belajar untuk membangkitkan ketidakpuasan masyarakat dan mengajari orang-orang yang "tidak punya" untuk mengambil dari orang-orang yang "punya." Obama belajar sedemikian hebatnya, sehingga ia disebut "guru revolusi sosial yang tidak berdarah" ("Obama's Alinsky Jujitsu," American Thinker, 8 Jan. 2008). Alinsky adalah seorang atheis yang mengajarkan relativisme moral, yang mengatakan bahwa "standar moral haruslah elastis sehingga dapat ditarik ulur untuk mengikuti zaman," dan ia mendorong murid-muridnya untuk "membenci dogma dan melawan definisi moralitas yang terbatas" (Rules for Radicals, hal. 30, 73). Ia mengajarkan bahwa tujuan menghalalkan cara dan memuji para pembunuh rakyat seperti Lenin dan Mao sebagai "pemimpin-pemimpin dunia yang hebat." Sejak hari-harinya sebagai mahasiswa, Barack Obama telah berasosiasi secara intim dengan orang-orang berpandangan Marxisme, anarkis, teroris, dan rasisme, dan jika ia memenangi kursi kepresidenan Amerika, maka itulah hukuman Tuhan bagi Amerika karena kesesatan gereja-gerejanya.

USKUP ANGLIKAN MENGATAKAN BAHWA BEATLES LEBIH EFEKTIF DARIPADA ALKITAB DALAM MENJAWAB "PERTANYAAN- PERTANYAAN BESAR DALAM HIDUP."
Nick Baines, uskup Anglikan dari Croydon, mengatakan bahwa musik Rock lebih efektif daripada Alkitab dalam hal mengkomunikasikan konsep-konsep theologi yang dalam ("Beatles Songs as Effective as the Bible," newkerala.com, 19 Okt. 2008. Dalam bukunya Finding Faith, Baines mengatakan bahwa Alkitab telah menjadi "biasa" dan musik Rock "lebih masuk ke dalam jiwa daripada sekedar membaca sebuah buku kuno." Baines merekomendasikan antara lain musiknya Eric Clapton, Bob Dylan, dan John Lennon, dan juga merekomendasikan memakai lagu-lagu Beatles dalam kebaktian gereja. Rowan Williams, Uskup Agung dari Canterbury, merekomendasikan bukunya Baines, dan menyebutnya "mendalam dan menantang." Tidak heran ada begitu banyak atheis di Inggris, dengan gereja-negaranya yang begitu sesat.

MENGAPA DUNIA MENCINTAI U2?
Band rock `n roll U2 tetap menjabat sebagai salah satu band favorit dunia setelah lebih dari 20 tahun lalu pertama kali muncul dalam halaman depan majalah Rolling Stone edisi Maret 1985 dengan judul "Our Choice: Band of the Eighties." Dunia mencintai U2 karena U2 berasal dari dunia, dan dunia mengenali miliknya sendiri. Baru-baru ini, Fox News melaporkan bahwa Bono berpesta dengan cewek-cewek remaja di sebuah perahu yacht di St. Tropez. Laporan itu, yang menyertakan sebuah foto Bono sedang bercengkerama dengan dua remaja wanita berpakaian bikini, menjelaskan, "Bono, Carmody, dan perempuan-perempuan berpesta sepanjang malam di atas yacht" ("Facebook Pictures Show Married U2 Singer Bono's Rendezvoux with Sexy Teens," Fox News, 27 Okt. 2008). Yesus Kristus mengatakan, "Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu" (Yoh. 15:19). Kekristenan samar-samar yang dikhotbahkan oleh Bono adalah ciptaannya sendiri. Saya telah membaca banyak sekali wawancara dengan U2, tetapi tidak pernah satu kalipun saya mendengar mereka memberitakan Injil kelahiran kembali melalui pertobatan dan iman dalam darah Yesus Kristus atau memperingatkan orang-orang yang tidak selamat akan neraka yang kekal. U2 tidak menegur kejahatan dan immoralitas. Cinta yang dinyanyikan oleh Bono adalah cinta dunia. Filosofi U2 adalah filosofi dunia. Perhatikan kalimat berikut dari lagu "Vertigo" dari album mereka How to Dismantle an Atomic Bomb: "Perasaan jauh lebih kuat daripada pikiran." Ini merangkumkan filosofi rock & roll. Alkitab mengatakan bahwa kita harus hidup menurut hukum Allah, tetapi rock & roll mengatakan "hiduplah sesuai dengan perasaanmu." Alkitab mengatakan bahwa hati itu lebih licik dari segala sesuatu, tetapi rock & roll berkata, "ikutilah hatimu." Alkitab mengatakan bahwa kita hanya dapat mengenal Allah melalui doktrin yang benar dari pewahyuanNya dalam Kitab Suci, melalui pemikiran yang benar yang datang dari pengertian yang benar akan Firman Allah, tetapi rock & roll berkata, "perasaan lebih penting daripada pikiran." Inilah mengapa dunia mencintai U2, dan ini juga alasannya mengapa orang-orang Injili dan Kharismatik mencintai U2. Lihatlah 2 Timotius 4:3-4.

APAKAH KASIH KARUNIA HANYA MEMBEBASKAN, ATAUKAH JUGA MENDISIPLINKAN?
Berikut ini adalah dari "Are Fundamentalists Legalists: A Reply to Charles Swindoll" oleh Ernest Pickering, almarhum direktur Baptist World Mission: "Gambaran yang diberikan oleh Chuck Swindoll [dalam bukunya Grace Awakening] adalah bahwa satu-satunya fungsi kasih karunia adalah untuk membebaskan. Ia terus menerus merayakan `kebebasan' orang percaya, `pembebasan, ' dan `pelepasan' dari ikatan-ikatan baik yang riil maupun yang dibayangkan. Kasih karunia memberi kita `izin untuk menjadi bebas' (hal. 5). Kita memiliki `kasih karunia yang membebaskan' (hal. 8). `Semua yang menerima kasih karunia menjadi "benar-benar merdeka"' (hal. 46). `Anda akan menjadi bebas' (hal. 53). Anda seharusnya `menikmati kebebasan anda' (hal. 132). Semua di atas hanyalah beberapa contoh. Dalam menulis bukunya itu, saudara kita sepertinya agak terobsesi dengan perbudakan besar yang menekan orang percaya. Setelah membaca bukunya, saya tidak dapat lepas dari pertanyaan: `Mengapakah saya tidak pernah merasakan beban besar "perbudakan" yang dia tuliskan ini?' Saya dibesarkan di rumah yang beraliran `holiness' ketat. Saya belajar di perguruan tinggi Kristen, dan banyak orang akan melihat perguruan tinggi itu memiliki aturan-aturan yang sangat mengikat. Saya telah melayani dan menjadi gembala dari gereja-gereja yang menerapkan standar moral yang tinggi sekali bagi para anggotanya dan juga pemimpinnya. Dalam tahun-tahun pelayanan saya, saya tidak pernah merasa bahwa saya ada dalam perbudakan atau saya disalahgunakan oleh orang lain. Saya tidak pernah merasa tidak nyaman di bawah aturan-aturan atau batasan-batasan itu. Sungguh menarik bahwa dalam tahun-tahun belakangan ini, hal ini menjadi masalah bagi banyak orang. Mengapa? Saya percaya ini adalah karena tekanan yang luar biasa dari zaman yang jahat ini di mana kita tinggal. Hidup yang kudus, yang saleh, dan yang terpisah, tidak lagi menjadi "style." Hidup seperti ini dilihat sebagai ketinggalan zaman dan suatu `kesusahan.' Kasih karunia Allah dipakai oleh banyak orang sebagai alasan untuk memperbolehkan orang Kristen melakukan hal-hal yang tidak pernah mereka lakukan, dengan ide bahwa semuanya boleh-boleh saja. Ada pemimpin-pemimpin Kristen dan para pengikut mereka yang `menyerah' kepada semangat zaman ini. Memang benar bahwa kasih karunia membebaskan kita, tetapi sama benarnya bahwa kasih karunia memperhambakan kita. Jika tidak demikian, maka Yakobus sungguh salah saat ia memperkenalkan diri sebagai "Yakobus, hamba [budak] Allah dan Tuhan Yesus Kristus' (Yak. 1:1). Perjanjian Baru bukanlah semata-mata mengenai apa yang bisa kita lakukan, tetapi juga banyak berbicara mengenai apa yang tidak dapat kita lakukan. Penekanan `grace awakening' menghilangkan aspek yang satu ini dari kasih karunia. Kasih karunia nyata secara penuh dalam Yesus Kristus. Kata "nyata" (Tit. 2:11) berfokus pada inkarnasi Kristus. Paulus sedang berargumen dalam surat Titus bahwa kehidupan yang saleh adalah mandat dari kebenaran Allah. Ia memberikan kepada kita pelajaran penting tentang kasih karunia yang tidak boleh dilupakan: `Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini' (Tit. 2:11-12). Inilah yang kita sebut sebagai `pengendalian diri' atau `kontrol' dari kasih karunia. Kasih karunia tidak membiarkan kita untuk `berlari dengan liar,' untuk `melakukan sesuai kehendak kita,' tetapi ia memberi kita kekuatan untuk `mengatakan tidak' kepada kefasikan sekitar kita dan untuk menghidupi kehidupan yang penuh pengendalian. Kasih karunia, dengan kata lain, bukan hanya membebaskan, tetapi juga mengendalikan. Seorang Kristen yang berjalan dalam kasih karunia dibebaskan dari kuasa dosa, tetapi berada di bawah kendali dan pembatasan dari Tuhan."

Sumber: Way of Life Ministry, Friday Church News Notes
Penerjemah: Dr. Steven E. Liauw (Graphe International Theological Seminary)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar