Rabu, Mei 07, 2008

Kesendirian yang Tiada Tara

(Refleksi atas Seruan Yesus di Kayu Salib)

Eli, Eli, Lama Sabakhtani

Pada detik-detik terakhir menjelang kematian-Nya di atas kayu salib, Yesus berseru: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" (Matius 27 : 46). Seruan yang tercatat di dalam Injil Matius ini setengahnya memakai bahasa Ibrani dan setengahnya lagi menggunakan bahasa Aram. Agak berbeda sedikit, Injil Markus mencatat seluruh kalimat itu dengan memakai bahasa Aram: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?" (Markus 15:34). Makna sesungguhnya dari kalimat tersebut, sebagaimana yang diterjemahkan langsung di dalam Alkitab, adalah "Allah-Ku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Kalimat macam apakah ini gerangan?

Saudara-saudariku sekalian, apabila pada saat dahulu seruan itu sedang diucapkan dari mulut Yesus, engkau berdiri di bawah salib, pikiran apakah yang muncul? Bila telingamu mendengarkan secara langsung: "Eli, Eli, lama sabakhtani?", apakah yang terbersit di dalam sanubarimu? Andaikata engkau hidup sezaman dengan Kristus pada waktu kalimat itu diucapkan: "Allah-Ku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?", perasaan apakah yang timbul di dalam hatimu? Takutkah? Pilukah? Gemetarkah? Ibakah? Sedihkah? Kasihankah?

Ditinjau dari teologi sistematika kalimat itu sangat kontroversial. Tidak tanggung-tanggung, persoalan Trinitas atau Tritunggal diperdebatkan dengan hangat bahkan sangat mungkin disangsikan keabsahannya. Mereka yang menolak doktrin Trinitas sering memakai ayat ini sebagai dukungan. Bagi mereka, bagaimanakah mungkin Sang Putra terpisah dari Sang Bapa? Bukankah Tritunggal: Bapa, Putra dan Roh Kudus, tak terpisahkan satu sama lainnya?

Ditinjau dari teologi biblika, sumber dan latar belakang teks ini dipersoalkan. Banyak penafsir mensinyalir kalimat itu mengambil latar belakang seluruhnya dari Mazmur 22. Dengan membaca Mazmur 22 maka kita tahu bahwa seruan Yesus sama dengan seruan Pemazmur pada ayat 2a. Memang ada kesamaan konteks antara seruan Yesus dengan seruan Pemazmur namun harus diakui juga zaman dan pergumulannya berbeda.

Dalam tulisan ini kita tidak hendak menyelesaikan kedua persoalan di atas, baik dari teologi biblika maupun sistematika. Kita akan lebih menyoroti pergumulan batiniah Yesus. Coba kita renungkan kembali kalimat itu: Allah-Ku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Kristus bergumul dengan problem ditinggalkan oleh Allah Bapa. Perasaan kesendirian muncul di dalam diri-Nya.

Tidak ada yang menemaninya, termasuk Allah Bapa. Bapa pun sampai meninggalkan-Nya sendirian di kayu salib. Singkatnya, very very very alone....Timbul satu perasaan kesendirian yang tiada taranya. Biasakah engkau turut merasakannya?

Bagaimana tidak, sepanjang hidup-Nya Yesus menunaikan tugas agung nan mulia? Dia mengajarkan kebenaran dan keadilan. Dia mempraktekkan kebenaran dan keadilan. Tak sekalipun dalam hidup-Nya Dia berbuat yang tak benar dan tak adil. Kini, apa hasilnya? Air susu dibalas air tuba! Yesus harus mati begitu tragis, yakni dengan penyaliban. Tidak adakah cara kematian lain yang lebih wajar dan manusiawi? Dia harus mati dengan terhitung sebagai seorang penjahat besar padahal tak satu kesalahan kecil pun yang pernah diperbuat-Nya. Mengapa Allah Bapa sendiri tidak peduli pada-Nya? Mengapa Bapa meninggalkan-Nya seorang diri?

Jangan lupa pula bahwa seruan itu diteriakan-Nya dengan suara nyaring. Di satu pihak memang penyaliban itu sangat menyakitkan tubuh jasmani-Nya. Terpaku, kehausan, darah sedikit demi sedikit mengalir sebelum akhirnya habis. Akan tetapi, hati batiniah-Nyalah yang lebih sakit, ditinggalkan seorang diri bahkan juga termasuk oleh Allah Bapa. Betapa memilukan hati! Kesendirian yang tiada tara!

Satu Demi Satu Meninggalkan-Nya

Setelah memulai karya-Nya mengajar berkeliling, banyak orang mulai mengikuti-Nya. Kelemahlembutan-Nya menyegarkan jiwa banyak orang yang sedang merana. Penyembuhan penyakit, pengusiran setan, mujizat demi mujizat membuat khalayak ramai berbondong-bondong mengikuti-Nya. Namun, perlahan-lahan satu per satu mulai meninggalkan-Nya.

Manakala Dia mengingatkan khalayak ramai akan segala risiko mengikuti-Nya maka orang-orang mulai mengundurkan diri. Di taman Getsemani, Dia bergumul seorang diri. Pada saat keringat-Nya mengalir seperti darah, Petrus, Yakobus dan Yohanes, tiga orang yang menemani di Getsemani, tidur terlelap. Justru di saat-saat hati-Nya amat sedih, seperti mau mati rasanya, ketiga murid-Nya tidak mampu berjaga-jaga. Yesus dibiarkan bergumul sendirian.

Sepanjang pelayanan sekitar tiga setengah tahun, Dia disertai dua belas orang murid. Kedua belas orang murid itu selalu mengiringi-Nya ke mana pun Dia pergi. Akan tetapi, salah seorang di antara murid-Nya itu akhirnya mengkhianati-Nya. Yudas begitu tega menjual Yesus dengan harga tiga puluh uang perak. Seorang guru dikhianati oleh muridnya sendiri. Betapa pedih hati-Nya!

Salah seorang murid-Nya pernah bersumpah setia untuk berbela-Nya sampai mati. Sumpah itu dibuktikan oleh sang murid, yakni Petrus, dengan memotong telinga Malkhus, seorang perwira yang menangkap-Nya. Namun, tidak lama berselang, sang murid menyangkal dan mengutuk bahwa dia tidak pernah mengenal Yesus. Tidak tanggung-tanggung, penyangkalan itu sampai dilontarkan tiga kali. Baru tatkala ayam berkokok, Petrus menyadari dan menyesal atas kepengecutannya. Pil pahit berupa penyangkalan dari Simon Petrus harus ditelan-Nya. Bagaimana mungkin hati-Nya tidak hancur?

Sewaktu memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai, Dia disambut meriah. Khalayak ramai menghamparkan pakaian mereka di jalan dan melambai-lambaikan daun. Salam kebesaran dipersembahkan pada-Nya: Hosana bagi anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan. Sambutan hangat itu begitu membesarkan hati-Nya. Akan tetapi, hampir dapat dipastikan, sebagian orang itu kemudian berbalik menentang-Nya. Kali ini mereka mengganti sambutan kehormatan itu dengan sumpah serapah. Maka terdengarlah teriakan penghinaan: Salibkan Dia! Salibkan Dia! Salibkan Dia! Awalnya Dia diterima tapi akhirnya ditolak. Kembali Yesus ditinggalkan seorang diri.

Satu demi satu meninggalkan Yesus. Kesendirian-Nya mencapai titik kulminasi pada saat Dia berseru:"Eli, Eli, lama sabakhtani?" Allah Bapa di Surga pun meninggalkan-Nya. Dan jangan lupa, seruan itu diucapkan dengan suara nyaring. Betapa sepi kesendirian-Nya kala itu! Kesendirian yang tiada tara. Kesendirian itu sudah tak tertahankan. Di kayu salib, menjelang kematian-Nya, Yesus merasakan sunyi..., sepi..., sendiri ....

Sedang Sendiriankah Engkau Sekarang?

Saudara-Saudariku sekalian, apabila seseorang berbuat kejahatan maka sangat wajar dia ditinggalkan orang. Massa akan menghindarinya. Khalayak ramai akan mencaci makinya, menolaknya dan menyumpahinya. Akan tetapi, sebaliknya, bagaimana terhadap orang yang berbuat kebenaran dan keadilan?

Orang-orang yang mau teguh berpegang pada kebenaran dan keadilan pun cepat atau lambat akan ditinggalkan khalayak ramai. Sampai pada satu saat kelak, orang yang tetap bersiteguh bertahan dalam kesetiaan pada firman Tuhan juga akan mengalami kesendirian. Satu demi satu orang meninggalkannya. Satu demi satu teman-sahabat meninggalkannya. Bahkan tak jarang, anggota keluarga sendiri pun akan meninggalkannya.

Pernahkah engkau menghadapi kenyataan hidup seperti itu? Setiap orang yang mau tetap berpegang teguh pada kebenaran dan keadilan harus bersiap diri untuk menghadapinya. Kenyataan itu hampir tak terhindari dan kenyataan hidup itu pasti akan engkau tempuh.

Pada saat-saat sedemikian, yang engkau rasakan hanyalah sunyi..., sepi...dan sendiri.... Apa yang paling engkau butuhkan bukanlah nasehat, penghiburan atau pengajaran doktrinal. Cukuplah bilamana ada satu orang saja yang mau menemanimu, duduk bersamamu dan bila perlu menangis bersamamu. Jika begitu beratnya sampai satu orang pun tak ada yang bersamamu, engkau tetap harus berdiri kokoh. Masih ada Allah yang akan bersamamu. Saudara-Saudariku sekalian, bila oleh karena mempertahankan kebenaran dan keadilan, engkau sampai ditinggalkan orang-orang, teman-sabahat, bahkan keluarga sendiri, engkau harus bersiap hati merasakan kesendirian hidup itu. Sesunyi-sunyinya, sesepi-sepinya, dan sesendiri-sendirinya, perasaaan jiwamu saat itu, jauh lebih berat situasi-kondisi yang pernah dirasakan oleh Yesus Kristus di kayu salib. Tetaplah ingat selalu ada satu pujian yang mengatakan:

Allah mengerti, Allah perduli

Segala persoalan yang kita hadapi

Tak akan pernah dibiarkanNya

Kubergumul sendiri

Sebab Allah mengerti


From my brother: Ev. Hali Daniel Lie M.Th

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar