Senin, November 09, 2015

PERAN IBLIS DI AKHIR ZAMAN

Malaikat di Sorga bersorak-sorai ketika seorang berdosa bertobat (Luk. 15:10). Sebaliknya tentu Iblis mengucapkan sumpah serapahnya karena merasa kehilangan seorang pengikut yang akan menemani mereka di neraka. Pada masa Perjanjian Lama Iblis berusaha untuk menyesatkan manusia dengan mengacaukan konsep keselamatan yang sudah Tuhan ajarkan kepada manusia, yaitu dengan memerintahkan ibadah pengorbanan domba, Allah berusaha menutup kemungkinan munculnya konsep penyelesaian dosa yang akan dimunculkan Iblis. Iblis menawarkan konsep penyelesaian dosa tanpa pencurahan darah, misalnya dengan berbuat amal, sesajian yang berupa berbagai makanan (hasil tanaman seperti yang dilakukan Kain).

Beberapa kalangan masyarakat primitif ditemukan dalam bentuk-bentuk penyembahan tersembunyi dalam mengorbankan manusia. Iblis sengaja mengacaukan konsep penggantian (substitution) juruselamat simbolik dengan domba (binatang bersih) melalui penggantian manusia langsung atau edngan hasil tanaman. Penolakan akal sehat terhadap upacara pengorbanan manusia akan mengacaukan program Allah yang sedang merencanakan penghukuman atas dosa seisi dunia pada diri Kristus.

Bahkan pada akhir zaman yang sudah dimulai sejak zaman Perjanjian Baru (Ibrani 1:2) Iblis terus berjuang agar jalan penyelesaian dosa yang telah dilaksanakan oleh Allah bisa diselewengkan. Aktifitas Iblis dalam menentang program Allah dilaksanakan dengan berbagai cara. Pembunuhan bayi di Betlehem dan beberapa usaha untuk membunuh Yesus ketika Ia sedang melayani, adalah contoh usaha Iblis untuk menghindarkan pelaksanaan secara sempurna pengorbanan Anak Domba Allah. Setelah pengorbanan tak terelakkan, Iblis memunculkan berbagai sekte sesat yang tidak mengakui kemanusia Kristus, atau tidak mengakui ketuhanan Kristus. Misalnya: Gnostic Doceism tidak mengakui kemanusiaan Kristus, sedangkan Nestorian tidak mengakui ketuhanan Kristus.

Iblis dengan berbagai berusaha cara untuk menyimpangkan ibadah simbolik dan menganggu semua program kedatangan Sang Juruselamat. Bangsa Israel dihasut dengan berbagai cara dan silih berganti untuk meninggalkan ibadah simbolik yang ditetapkan Allah. Ia memunculkan nabi palsu dari zaman ke zaman, serta memakai berbagai bangsa yang kebetulan berbatasan dengan bangsa Israel untuk menggoda mereka. Tujuan utama Iblis ialah agar ibadah simbolik ditinggalkan sehingga kedatangan Kristus dan segala upaya penyelamatan-Nya tidak dapat dipahami manusia. Oleh karena itu kita harus tahu melihat sabotase-sabotase yang dilakukan Iblis terhadap program Allah. Apa saja peran Iblis dalam usahanya untuk menyabotase program Allah tersebut?

1. Iblis Menyabotase Kedatangan Mesias.
Ketika kedatangan Mesias tiba, iblis berjuang keras untuk menggagalkannya. Iblis bahkan memakai Herodes untuk membunuh setiap bayi dua tahun ke bawah di kota Betlehem (Matius 2:16-18). Dalam pelayanan Sang Mesias, Iblis juga berusaha mengganggu pada masa pelayanan-Nya, iblis mencobainya dengan tujuan untuk menjatuhkan-Nya, untuk membuat Dia  tidak layak menjadi Penyelamat (Mat. 4). Ia mendatangkan berbagai penyakit pada orang-orang zaman itu. Namun tanpa disadari hasil perbuatannya itu justru memuliakan Allah, karena orang-orang yang menderita oleh gangguannya disembuhkan oleh Sang Mesias. Apa yang dirancang negatif oleh Iblis diputar-balik oleh Sang Mesias sebagai faktor kemuliaan-Nya.

Kristus sendiri yang menyatakan bahwa iblislah yang merasuki Yudas Iskariot untuk melaksanakan sebuah persengkokolan (Yoh. 13:2,27). Ketika Sang Mesias sedang melaksanakan tugas Agung-Nya menanggung dosa seisi dunia, Iblis ada di situ melampiaskan caci maki, dan berbagai kata-kata hujat, serta memakai tangan orang-orang yang tak berakal untuk menyakiti tubuh Kristus.

2. Iblis Mengurangi Injil.
Di dalam Alkitab memang tercatat perintah Tuhan kepada murid-murid-Nya untuk pergi hanya kepada orang Yahudi saja (Mat. 10:5). Dalam dunia theology, Matius pasal sepuluh disebut Go Not Commission (Perintah jangan pergi). Jika seorang tidak memahami akan Plan A dan Plan B, Yaitu rencana A kedatangan untuk orang Yahudi, dan sesudah mendapatkan penolakan dari orang Yahudi maka rencana dialihkan kepada bangsa non-Yahudi, yaitu rencana B (Roma 1:1). Sebelum penolakkan bangsa Yahudi, memang kedatangan Mesias adalah untuk menggenapi janji Allah kepada Daud bahwa akan datang keturunannya yang akan memerintah Israel (II Samuel 7:16).

Karena tidak paham akan kebenaran Plan A dan Plan B, sebagian theology menyimpang dari kebenaran sehingga mengajarkan kebenaran yang tidak menyeluruh. Pihak Muslim juga sengaja mengekspos ayat-ayat demikian dengan argumentasi bahwa ajaran Yesus itu bukan untuk manusia Universal melainkan hanya untuk orang Yahudi saja. Iblis berusaha mengurangi jangkauan Injil pada hanya orang Yahudi saja agar orang-orang non-Yahudi menolak Injil sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Muslim.

Sambil di satu pihak menyerukan bahwa pengajaran Yesus adalah untuk orang Yahudi saja, di pihak lain mereka mengurangi isi Injil (Substansi) itu sendiri. Yesus yang di dalam Injil maupun dalam fakta sejarah disalibkan oleh pemerintah Roma dinyatakan tidak mati disalib. Sekilas seolah-olah penyangkalan ini hanya efek ketidakpahaman Muhammad terhadap makna salib, tetapi jika direnungkan, maka akan terlihat bahwa ini adalah bagian dari keseluruhan program penggagalan rencana penyelamatan Allah. Injil yang isinya tanpa penyaliban Kristus itu sama sekali bukan Injil. Ini adalah cara Iblis untuk mengurangi makna Injil. 

Sebagian gereja menyerukan Injil tanpa pertobatan. Mereka menarik orang untuk percaya kepada Injil dengan menggembar-gemborkan Injil sukses yang menawarkan kepada seorang yang percaya Yesus. Memancing orang untuk datang ke gereja dengan berbagai cara selain menyerukan pertobatan adalah penipuan atas nama Yesus Kristus. Tuhan Yesus tidak pernah merestui pemberitaan Injil yang tidak tulus, misalnya jangan menegur dosa dulu biar dia datang untuk mendengar hal-hal yang manis dulu. Kalau segera menyinggung dosa maka dia akan marah bahkan lari serta tidak mau kembali lagi. Yang mengusulkan taktik demikian seolah-olah sangat ingin menyelamatkan orang, atau sangat mengasihi jiwa yang terhilang. Tetapi tanpa disadarinya bahwa cara penginjilannya adalah cara yang tidak tulus. Seolah-olah gereja memasang perangkap dengan perangkap dengan hal yang manis-manis dan nanti yang bersangkutan tidak bisa keluar lagi. Ini sebenarnya bukan penginjilan melainkan menjebak orang untuk menjadi Kristen.

Tuhan menghendaki kita memberitakan Injil dengan setulus-tulusnya. Jika orang tersinggung, bukan kita yang menyinggungnya melainkan firman Tuhan. Dan lagi pula jika orang tidak tersinggung dulu, maka tidak akan ada pergumulan di dalam hatinya dan kalau tidak ada pergumulan di dalam hatinya maka tidak aka nada pertobatan. Sama sekali tidak benar untuk memberitakan Injil yang hanya satu sisi saja, yaitu sisi positifnya. Injil yang benar memiliki sisi positif dan negatif, yaitu anugerah kutukan dari Allah bagi yang menolaknya. Kalau bertobat akan mendapatkan pengampunan, dan kalau tidak mau bertobat maka kebinasaan hanya tinggal waktu saja. Ini sesungguhnya adalah Injil yang tidak penuh, bukan full-Gospel melainkan half-Gospel yang tidak menyelamatkan bahkan  bersifat menipu.

Calvinis mengajarkan bahwa manusia masuk sorga karena dipilih tanpa kondisi, jika diteliti ke titik intinya, theology ini sudah mengurangi Injil. calvinis mengajarkan bahwa manusia diselamatkan semata-mata karena dipilih Allah tanpa sebab (Unconditional election).

Unconditonal election berarti tanpa pertobatan dan tanpa iman. Sebagian Calvinis karena tidak enak dengan kesimpulan demikian mencoba berargumentasi bahwa Allah memilih melalui Foreknowledge-Nya, maka itu artinya bukan Unconditional melainkan Conditional yaitu setelah melihat bahwa orang yang dipilih itu akan beriman. Tanpa pertobatan dan tanpa iman yang benar tidak terjadi kelahiran kembali ke dalam Kristus.

Injil yang dikurangi adalah Injil yang disimpulkan hanya dari sebagian ayat Alkitab, bukan keseluruhan ayat Alkitab. Cntohnya, Calvinis anya memperhatikan ayat Alkitab yang menekankan aspek kedaulatan Allah (Efesus 1:4). Mereka sama sekali tidak mempedulikan ayat Alkitab yang menekankan aspek tanggung jawab manusia, sehingga menyimpulkan bahwa keselamatan seseorang itu melalui pemilihan tanpa syarat (Unconditional election) tanpa peduli pada ayat-ayat yang menyerukan pertobatan, dan iman (Matius 3:2, 4:17, 11:28, Roma 10:17 dst.).

Saksi Yehovah juga mengurangi Injil dengan berita Yesus yang hanya manusia saja, padahal Alkitab jelas-jelas menyatakan bahwa Yesus adalah Allah (I Yohanes 5:20). Ayat tersebut bagi Saksi Yehovah tidak ada nilainya, sebaliknya ayat Kolose 1:15 dilihat sangat bernilai.

Waspadailah Injil yang dikurangi karena Injil demikian tidak memiliki kuasa penyelamatan dari Allah. Karena hanya Injil yang murni saja yang memiliki kuasa penyelamatan sebagaimana diungkapkan oleh rasul Paulus (Roma 1:16-17).
Injil yang murni tidak selalu berbau keharuman, tetapi ia juga berbau kematian. 2 Korintus 2:15-16. “Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa. Bagi yang terakhir kami adalah bau kematian yang mematikan dan bagi yang pertama bau kehidupan yang menghidupkan….”
Apa yang dikatakan oleh rasul Paulus itu betul sekali. Bagi Allah, dan tentu bagi orang-orang yang mengasihi Allah dan yang dengan setia mencari kebenarannya, rasul Paulus adalah bau harum. Tetapi tidak demikian bagi musuh-musuh Allah, dan orang-orang yang tidak mencari kebenaran melainkan yang mencari kenikmatan hidup, terlebih lagi bagi yang memanfaatkan nama Allah untuk mencari keuntungan, rasul Paulus adalah bau kematian, karena khotbah Paulus menyerukan penghukuman dan kebinasaan atas mereka yang tidak mau bertobat.
Injil yang benar, yang masih memiliki rasa asin, atau lampu yang masih memancarkan terang, pasti membawa pertentangan bagi dunia yang gelap. Ketika sekelompok penjahat mendapat sorotan sinar, mereka pasti akan bereaksi. Kalau orang berdosa mendengar Injil yang anda beritakan namun tidak ada reaksi sama sekali, maka periksalah komposisi Injil yang anda beritakan, sangat mungkin anda telah memberitakan Injil yang dikurangi.

3. Iblis Menambahi Injil Dengan Pribadi Lain

Keputusan bertobat dengan ketetapan hati untuk percaya sepenuhnya kepada Yesus Kristus harus didasarkan kepada pengajaran yang Alkitabiah dan ketulusan hati. Percaya sepenuh hati bahwa Yesus Kristus telah dengan penuh kasih menanggung semua dosa manusia dan termasuk semua dosa pribadi yang percaya kepada-Nya. peristiwa ini dalam istilah rohani disebut dilahirkan kembali karena Roh Kudus masuk ke dalam hati (Efesus 1:13),  dan yang bersangkutan segera menempati posisi kudus milik Kristus oleh sebuah transaksi rohani bahwa Yesus mati baginya dan ia hidup bagi Yesus. Yang bersangkutan segera menepati posisi Kristus sehingga dipanggil orang kudus (1 Korintus 11:2; Efesus 1:1).

Sama sekali tidak dibenarkan untuk percaya kepada siapapun dan apapun sebagai Juruselamat atau pribadi yang memiliki kuasa illahi. Tindakan penambahan pribadi illahi atau penyelamat, dapat dilihat sebagai pengkhianatan terhadap Kristus atau perzinahan rohani. Misalnya teman-teman dari Roma Katolik yang berdoa kepada Maria bahkan mengajarkan bahwa Maria dikandung tanpa dosa (immaculate conception). Sungguh aneh karena semua manusia yang lahir dari keturunan Adam adalah orang berdosa kecuali Maria? Kepercayaan ini sempat menjadi ajang pertentangan di kalangan Roma Katolik cukup lama. Tetapi Paus Clement XI pada tahun 1708 malah memerintahkan agar seluruh Gereja Roma Katolik merayakan immaculate conception ini.

Tentu saja tidak boleh menambahinya dengan percaya kepada Maria, tetapi tidak boleh menambah dengan percaya kepada siapa pun sebagai Juruselamat atau sebagai pribadi illahi. Setiap orang yang telah dilahirkan kembali adalah orang kudus di hadapan Allah, bukan hanya orang-orang tertentu ditetapkan oleh gereja sebagai orang kudus.

Dalam hal menambahkan sesuatu untuk dipercayai sebagai juruselamat, bisa termasuk benda-benda. Jimat atau benda yang mensimbolkan perlindungan Iblis dapat dilihat sebagai pengganti Juruselamat yang membebaskan. Jika seseorang percaya bahwa Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, maka tindakannya memakai jimat adalah sebuah pengkhianatan terhadap Yesus Kristus. Ia tidak berharap lagi kepada Yesus Kristu, melainkan kepada jimat untuk melindungi atau memberkatinya.

4. Iblis Menambahi Injil Dengan Upacara Sunat.
Jemaat Galatia dikecam oleh Rasul Paulus atas tindakan mereka menambahi iman mereka kepada Yesus dengan upacara sunat (Galatia 5:2-4). Apa yang dilakukan sebagian jemaat Galatia, juga dilakukan oleh gereja Advent yang menambahi mereka dengan sunat, atau ketaatan kepada perintah-perintah upacara simbolik hukum Taurat yang sesungguhnya sudah tergenapi dalam Yesus Kristus. Mereka tidak memahami bahwa perintah upacara simbolik hukum Taurat adalah perintah Tuhan yang sifatnya mengingatkan pada janji Sang Juruselamat. Ketika Sang Hakekat (Juruselamat/Mesias) tiba, maka semua ibadah simbolik beserta perangkat ibadahnya langsung tergenapi. Jika mereka tidak mau menerima anugerah di dalam Yesus Kristus, melainkan mau masuk Sorga dengan mengandalkan upacara simbolik hukum Taurat., maka sebagaimana kata Paulus, “mereka di luar Kristus atau di luar kasih karunia”.

5. Iblis Menambahi Injil Dengan Upacara Perjamuan Tuhan.
Upacara perjamuan Tuhan juga salah satu upacara yang telah mengirim banyak orang ke Neraka. Gereja Roma Katolik mengajarkan bahwa roti (wafer) benar-benar berubah menjadi tubuh Tuhan dan mereka semua mengkanibalkan daging Tuhan dan meminum darah-Nya. serta mengajarkan bahwa dari perjamuan, para peserta akan mendapat kekudusan sehingga memberi nama kepadanya “perjamuan kudus”.
Ada yang menjadikan upacara perjamuan ’kudus’ sebagai jimat untuk menyembuhkan berbagai penyakit, mendapatkan kuasa dan berbagai kekuatan magis. Untuk yang satu ini sudah jelas ada keterlibatan Iblis dalam membelokkan kemurnian iman Kristen. Kesimpulan yang benar dan alkitabiah tentang perjamuan Tuhan adalah bahwa ia sebuah upacara simbolik yang Tuhan perintahkan untuk dilaksanakan di gereja agar anggota jemaat mengingat pada Injil yang telah menyelamatkan mereka. Tidak boleh lebih dari itu!
Kalau Injil keselamatan tidak  boleh ditambahkan dengan upacara-upacara yang tercatat di dalam Alkitab, apalagi dengan upacara-upacara adat istiadat berbagai suku bangsa. Tiap-tiap suku bangsa memiliki adat istiadat . orang Kristen alkitabiah harus waspada, setiap upacara adat istiadat yang bertentangan dengan Injil keselamatan harus ditolak dengan tegas. Untuk masuk Sorga manusia hanya perlu bertobat dan percaya, tidak boleh ditambah dengan apapun.

6. Iblis Menambahi Injil Dengan Perbuatan Baik
Setiap orang Kristen lahir baru harus berbuat baik adalah inti pengajaran moral kekristenan. Setelah mendapatkan kesucian secara posisi dan hati (nature), orang Kristen diperintahkan untuk membangun karakter yang suci supaya kesucian orang Kristen menjadi
sempurna (II Kor. 7:1). Posisi orang kudus (Ef. 1:1), adalah syarat untuk masuk Sorga. Karena hati telah ditempati Roh Kudus, maka secara otomatis orang Kristen tersebut berusaha membangun karakter yang kudus. karakter bukanlah sesuatu yang didapat melalui doa, puasa dan lain sebagainya, melainkan melalui ketaatan kepada perintah Allah (I Kor. 7:1, Rom. 1:5, 16:26).
Namun hendaknya perintah  berbuat itu jangan sampai menciptakan kesalahpahaman antara mendapatkan kepastian masuk Sorga dengan berhasil membangun karakter yang kudus. mendapatkan kepastian masuk Sorga caranya hanyalah dengan bertobat dan percaya, sedangkan membangun karakter yang kudus bukan faktor untuk masuk Sorga melainkan untuk bersaksi di dunia. Walaupun usaha hidup kudus adalah tindakan otomatis dari setiap orang Kristen lahir baru, jelas masih ada kemungkinan jatuh ke dalam dosa. Jika orang Kristen lahir baru yang tidak menyimpang dari kebenaran jatuh (bukan hidup) dalam dosa dana mati, tentu ia akan masuk  sorga. Seluruh dosanya (dulu hingga saat matinya) telah ditanggung Yesus Kristus di kayu salib. ketika ia bertobat dan percaya, telah terjadi transaksi rohani bahwa Yesus mati baginya dan ia hidup bagi Yesus. Kepastian keselamatan adalah miliknya selama ia tidak meninggalkan imannya (Ibrani 3:14). Kejatuhannya ke dalam dosa memang suatu kesalahan terhadap Yesus yang telah mati gantinya, tetapi karena ia tetap di dalam imannya, maka ia tetap akan masuk sorga  dan akan menghadap pengadilan Kristus (bema) untuk mempertanggungjawabkan kejatuhannya. Transaksi rohani tersebut batal hanya jika yang bersangkutan tidak lagi percaya kepada Yesus atau menyimpang dari iman.
Iman dan perbuatan baik ialah bahwa perbuatan baik kekristenan itu adalah buah dari iman. Karena sudah beriman, atau sudah mendapatkan kepastian masuk Sorga, maka orang Kristen berbuat baik, bukan berbuat baik agar masuk Sorga. Orang Kristen harus berbuat baik karena sudah pasti masuk Sorga, bukan aar bisa masuk Sorga. Berbuat baik adalah salah satu aktifitas pembentukan karakter agar orang Kristen memancarkan cahaya karakter Bapanya yang di Sorga, bukan untuk masuk Sorga.

7. Iblis Menambahi Injil Dengan Kerajinan Ibadah.
Kerajinan ibadah adalah ekspresi dari hati yang rindu akan Tuhan dan kebenaran-Nya. sama seperti pembentukan karakter yang kudus, kerajinan ibadah adalah dorongan otomatis dari dalam diri setiap orang Kristen lahir baru. Hati yang telah menerima Sang Juruselamat tidak terlihat oleh manusia selain Tuhan, tetapi dorongan hati yang salah satunya adalah kerinduan datang berbakti sebagai bukti luar yang diperlukan manusia sekeliling kita.
Jangan sampai ada orang yang berpikir bahwa ia perlu sangat rajin beribadah dan melayani agar bisa masuk sorga. Justru kerajinan berbakti dan melayani adalah ekspresi dari kepastian masuk Sorga kalau ia telah betul-betul bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus. Rajin beribadah karena telah pasti masuk Sorga, bukan rajin ibadah supaya masuk Sorga. Siapapun yang membalikkan kebenaran ini akan membuat keselamatan merupakan hasil usaha manusia.

8. Iblis Menambahi Injil Dengan Upacara Baptisan.
Upacara lain yang banyak mengirim orang ke Neraka ialah upacara baptisan. Baptisan memang penting, tetapi untuk menjadi murid atau menjadi anggota jemaat, bukan untuk masuk Sorga. Baptisan adalah upacara yang dilakukan oleh manusia. Jika upacara baptisan dibutuhkan untuk masuk Sorga, maka sama artinya dibutuhkan pekerjaan manusia untuk masuk Sorga. Berarti para “pendeta” yang membaptiskan orang sangat berjasa karena atas jerih payah mreka melaksanakan upacara baptisan maka seseorang diselamatkan. Dan celakalah orang yang tidak sempat dibaptis, atau yang kebetulan setelah bertobat dan percaya ternyata di tempatnya belum ada orang yang memiliki otoritas untuk membaptis, atau terlebih lagi mereka yang ditolak untuk dibaptis oleh seorang “pendeta” dengan berbagai alasan.
Jika baptisan diperlukan untuk masuk Sorga, maka masuk Sorga bukan lagi hanya dengan iman melainkan perlu perbuatan manusia yaitu penyelenggaraan upacara pembaptisan yang artinya jasa seorang pembaptis sangat dibutuhkan oleh orang yang mau masuk Sorga. Jika hal itu benar, maka tanpa seorang yang berhak membaptis, pupuslah harapan seseorang untuk masuk Sorga sekalipun ia telah bertobat dan percaya dengan segenap hati kepada Tuhan Yesus.
Jika seseorang menambahkan komposisi iman keselamatannya dengan upacara baptisan, maka tercemarlah kemurnian imannya. Banyak orang telah diturunkan ke Neraka dengan upacara pembaptisan, terutama oleh para pendeta yang membaptis orang yang sedang sakit di rumah sakit, dan kemudian mati. Orang itu mati dalam iman yang salah. Ketentraman palsu yang dihasilkan konsep yang salah yang mengajarkan bahwa baptisan memastikan seseorang masuk Sorga, justru akan menyebabkan mereka menuju ke Neraka. Mereka yang hampir mati sangat membutuhkan Injil yang alkitabiah, yaitu bahwa Yesus Kristus telah menanggung semua dosa mereka di kayu salib. mereka harus mengaku diri orang berdosa yang tidak mungkin bisa masuk Sorga dan menerima anugerah Tuhan Yesus yang telah menggantikan mereka dihukumkan. Dengan iman inilah sebaiknya mereka menghebuskan nafas mereka yang terakhir, yaitu sebuah keyakinan bahwa Yesus telah menyelamatkan mereka, dan mereka siap setiap saat bertemu dengan-Nya. mereka tidak memerlukan upacara manusia yang disebut baptisan.

Tuhan Yesus memproklamirkan keselamatan tanpa baptisan menggaransi penjahat di samping-Nya yang bertobat pasti akan masuk Sorga tanpa perlu dibaptis (Lukas 23:43). Dan Rasul Paulus menyatakan kepada kepala penjara di Filipi bahwa cukup hanya percaya kepada Tuhan Yesus ia akan diselamatkan (Kisah Para Rasul 16:32).

Yohanes Pembaptis berkata “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan,….” Pertobatan yang terjadi di dalam hati adalah faktor utama bagi Tuhan, sedangkan tandanya yaitu baptisan adalah faktor untuk kesaksian bagi manusia. Allah tidak berkepentingan pada tanda karena Ia melihat sampai ke dalam hati. Hanya manusialah yang membutuhkan tanda karena tidak bisa melihat sampai ke dalam hati. Jadi baptisan itu bukan untuk Allah melainkan untuk manusia.

Selain tanda pertobatan dan iman, baptisan juga sebuah symbol Injil. inti dari Injil ialah kematian,, penguburan dan kebangkitan Yesus Kristus (Roma 6:4). Baptisan yang alkitabiah, yang diselamkan ke dalam air, adalah sebuah symbol kematian, penguburan dan kebangkitan Yesus Kristus atau Injil Keselamatan. Adalah kehendak Allah bahwa Yesus Kristus yang akan menjalani Injil yang sesungguhnya terlebih dulu mengenakan symbol Injil itu. Jadi, sebelum Ia mati, dikubur dan bangkit, Ia terlebih dulu memperagakan sesuatu yang akan dijalani-Nya.

Selanjutnya setiap orang yang percaya kepada Injil diperintahkan untuk mengenakan symbol Injil sekaligus sebagai tanda pertobatan dan iman kepada Injil itu. Sehingga tidak ada satu orang murid pun yang tidak mengenakan symbol itu termasuk Sang Guru. Kini ada gereja yang tidak melaksanakan pembaptisan, padahal Tuhan perintahkan agar selama proses pemuridan masih berlangsung, maka baptisan harus dilaksanakan. Dalam paket Amanat Agung, Tuhan perintahkan proses pemuridan dengan perintah pembaptisan dan berjanji akan menyertai para murid sampai akhir zaman. Dari sini terimplisit bahwa dilakukan pemuridan dan baptisan hingga akhir zaman.

Gereja-gereja yang membaptiskan bayi pasti ada masalah pada Doktrin Keselamatannya. Jika pemimpin mereka mengerti Doktrin Keselamatan yang alkitabiah, mereka pasti tidak membaptis bayi karena bayi memang tidak perlu dibaptis. Jika mereka meninggal pada masa bayi maka mereka pasti akan masuk Sorga karena dosa manusia yang berhubungan dengan Adam dan Hawa telah terselesaikan oleh Tuhan Yesus. jika bayi tumbuh dewasa dan melakukan dosa atas kesadarannya, maka ia menjadi orang berdosa bukan karena Adam melainkan karena perbuatannya dengan sadar, dan untuk itu ia harus bertobat dan beriman kepada Injil Keselamatan dari Tuhan. Ia sendirilah yang harus menyerahkan dirinya untuk dibaptis bukan diserahkan oleh orang tuanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar