Kamis, Januari 14, 2010

DOSA YANG TAK TERAMPUNI

Studi Biblika-Sistematika atas Matius 12:31-32

Hali Daniel Lie**

Pendahuluan

Di dalam doktrin keselamatan, kita mengetahui bahwa melalui iman kepada Yesus Kristus kita diselamatkan oleh anugerah Allah. Dengan perkataan lain, anugerah Allah di dalam Yesus Kristus akan memimpin kita untuk beriman kepada-Nya. Demikianlah caranya manusia diselamatkan.

Melalui Yoh. 14:6, Yesus menegaskan: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Tanpa melalui Yesus Kristus tidak ada seorang pun yang mempunyai akses kepada Bapa. Pada diri-Nya satu-satunya jalan, satu-satunya kebenaran dan satu-satunya hidup. Jelas sekali di sini, keselamatan hanya melalui Yesus Kristus.

Tidak perlu diperdebatkan lagi, Yoh. 3:16 merupakan ayat emas yang paling banyak dihafalkan oleh orang-orang Kristen, baik anak Sekolah Minggu, remaja-pemuda maupun orang dewasa. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Setiap orang, barang siapa atau siapa pun yang percaya kepada Yesus Kristus akan diselamatkan.

Kalau sudah sedemikian kenyataannya, kenapa masih disebut-sebut adanya dosa yang tak dapat diampuni? Dosa macam apakah itu yang begitu beratnya sampai tak terampuni? Adakah kemampuan Yesus Kristus untuk mengampuni dosa manusia memiliki keterbatasan? Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, marilah kita mengikuti uraian-uraian dalam tulisan ini. Di bagian pertama kita akan menyaksikan Yesus Kristus sendiri memperingatkan tentang dosa yang tak terampuni. Dilanjutkan pada bagian kedua, kita akan mengadakan studi yang terperinci atas nas Alkitab yang terdapat pada Mat. 12:31-32. Lantas pada akhirnya, kita mesti mempelajari maksud dari pernyataan Yesus Kristus mengenai dosa menghujat Roh Kudus, dan mengapa sampai Dia menegaskan bahwa dosa ini tak terampuni.

Dosa Yang Tak Terampuni

Penulis tidak tahu apa yang tebersit di dalam pikiran dan benak saudara-saudari sewaktu membaca ayat berikut ini: “Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni.” Tidak berhenti sampai di situ saja, ayat di atas langsung dilanjutkan dengan peringatan yang lebih keras lagi: “Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.“ Kedua ayat di dalam Mat. 12:31-32 ini diucapkan melalui mulut Yesus sendiri.

Sepengetahuan penulis, tidak sedikit orang Kristen yang sempat dibuat terperanjat sewaktu mereka membaca kedua ayat tersebut. Timbul ketakutan yang luar biasa di dalam hati mereka!

Bahkan, seorang penulis menegaskan adanya orang-orang Kristen yang dihantui ketakutan telah menghujat Roh Kudus.[1] Mereka mulai bertanya-tanya: “Adakah dalam kehidupan ini saya telah menghujat Roh Kudus, menentang Roh Kudus?” “Pernahkah saya menghujat Roh Kudus Allah?“ Konsekuensi dari tanda tanya di atas akan segera diteruskan dengan pertanyaan: “Masihkah Tuhan Yesus akan mengampuni dosa-dosa saya?” Harus diakui bahwa banyak anak Tuhan yang dibuat ketakutan oleh kedua ayat tersebut.

Selain timbul perasaan takut yang teramat sangat, ada pula orang-orang Kristen yang dibuat bingung. Mengapa mereka bisa dibuat bingung? Karena selama ini kita berpegang kepada ayat seperti: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampunisegala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1Yoh. 1:9). Senada dengan ayat tadi, “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia,” (1Yoh. 2:2). Perhatikanlah dengan saksama frasa-frasa yang dicetak miring! Segala dosa dan semua kejahatan kita akan diampuni! Hal ini senada dengan apa yang telah Allah nyatakan di dalam PL: “Marilah, baiklah kita beperkara! - firman TUHAN - Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yes. 1:18). Artinya, seberat apa pun, separah apa pun, dosa kita akan diampuni. Lantas, kenapa Yesus masih mengumumkan adanya dosa yang tak terampuni?

Bukan itu saja, Yesus malah membedakan antara berdosa atau menghujat Diri-Nya dengan berdosa menghujat Roh Kudus. Apakah berdosa terhadap Roh Kudus akan lebih besar tanggungannya daripada berdosa terhadap Yesus, sampai-sampai Yesus menegaskan dosa itu tak akan diampuni?

Apa pun pertanyaan yang kita ajukan, walaupun seberapa takutnya kita, bagaimanapun bingungnya kita, tidak dapat dipungkiri bahwa di dalam Mat. 12:31-32 Yesus memberitahukan adanya dosa yang tak terampuni. Secara harfiah memang sudah tertulis demikian di dalam Alkitab.

Studi atas Matius 12:31-32

Sekarang, kita akan menelaah secara saksama kedua ayat di dalam Mat. 12 ini. Secara kritik tekstual, di dalam kedua ayat ini tidak terdapat masalah yang serius. Setelah memeriksa aparatus kritis dari kedua ayat tersebut, penulis sampai pada keputusan untuk menerima teks yang disajikan oleh Novum Testamentum Graece (NA27)[2] yang mana teks kedua ayat tersebut sama dengan teks hasil kompilasi dari UBS4.[3] Inilah teks Mat. 12:31-32 yang disajikan oleh NA27 dan UBS4:


Dia. tou/to le,gw u`mi/n( pa/sa a`marti,a kai. blasfhmi,a avfeqh,setai toi/j avnqrw,poij( h` de. tou/ pneu,matoj blasfhmi,a ouvk avfeqh,setaiÃ…kai. o]j eva.n ei;ph| lo,gon kata. tou/ ui`ou/ tou/ avnqrw,pou( avfeqh,setai auvtw/|\ o]j dV a'n ei;ph| kata. tou/ pneu,matoj tou/ a`gi,ou( ouvk avfeqh,setai auvtw/| ou;te evn tou,tw| tw/| aivw/ni ou;te evn tw/| me,llontiÃ…

Adapun kosakata yang penting untuk diselidiki artinya ialah hujat. Naskah Yunani pada kedua ayat tersebut memakai terminologi blasfhmi,a. Kata blasfhmi,a dapat diterjemahkan menjadi “calumny, slender, defamation, railing, reproach, blasphemy.”[4] Artinya, perkataan-perkataan jahat yang tidak secara langsung ditujukan terhadap Allah,[5] yang mana di dalam bahasa Indonesia lazim diterjemahkan dengan hujat atau menghujat. Jangan lupa bahwa di dalam istilah tersebut terkandung unsur memfitnah.

Berkenaan dengan menghujat, PL mencatat suatu peristiwa di dalam 1Raj. 21:10, 13.[6]Nabot difitnah oleh kaki tangan ratu Izebel bahwa Nabot telah mengutuk Allah dan mengutuk raja. Beberapa versi Alkitab menerjemahkannya sebagai “mengutuk” (NASB, NJB, NRSV) sementara versi lainnya menerjemahkannya dengan “menghujat” (KJV, NKJV). Tuduhan atau tepatnya fitnahan tersebutlah yang menyebabkan Nabot harus dihukum mati. Jadi, di dalam PL, berdasarkan hukum Taurat, dosa menghujat akan menerima hukuman dirajam dengan batu sampai mati.[7]

Sesudah menyelesaikan kritik teks dan penelusuran arti kosakata menurut kamus, kita perlu membuat penerjemahan yang baik. Beginilah penulis menerjemahkan kedua ayat tersebut: “Karena itu, Aku berkata kepadamu, semua dosa dan hujat akan diampuni bagi orang-orang, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni. Barangsiapa mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, akan diampuni bagi dia tetapi jika ia menentang Roh Kudus tidak akan diampuni bagi dia, di dunia ini tidak dan di dunia yang akan datang pun tidak.” Terjemahan kita ini terdapat sedikit perbedaan dengan Terjemahan Baru dari LAI namun makna dasarnya tetaplah sama. Bagian yang dicetak miring memperlihatkan letak perbedaannya.

Kedua ayat ini berkaitan erat sekali. Dengan mencermati susunan dan hubungannya, kita dapat membuat struktur sebagai berikut:

Karena itu, Aku berkata kepadamu:

X Semua dosa dan hujat akan diampuni bagi orang-orang

Y Tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni.

X’ Barangsiapa mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia akan diampuni bagi dia

Y’ Tetapi jika ia menentang Roh Kudus tidak akan diampuni bagi dia,

Z’ Di dunia ini tidak dan di dunia yang akan datang pun tidak.

Struktur di atas memperlihatkan hubungan di antara bagian-bagian dari kedua ayat tersebut. Jelas ada paralelisme di antara keduanya. Selain paralelisme itu, kedua ayat ini mencapai titik klimaksnya pada bagian akhir dari ayat 32. Secara eksplisit, kedua ayat ini mendapatkan penekanan pada Y dan Y’ di mana Y’ masih ditegaskan lagi melalui munculnya Z’. Adapun X dan X’ serta Z’ hendak menggarisbawahi pesan di dalam Y dan Y’. Jadi, Matius mengajak pembacanya untuk memperhatikan perkataan Yesus pada Y dan Y’. Di sinilah terletak titik fokus berita dari kedua ayat ini.

Adapun Y dan Y’ masih dapat diteliti lebih lanjut. Perbedaan Y dan Y’ terletak pada bagian akhir dari Y’ yang mana tidak terdapat di dalam Y. Frasa “bagi dia” dalam Y’ tidak muncul pada Y. Tambahan pula, Y’ masih diperjelas lagi melalui kemunculan Z’, yang mana hal ini tidak kita temukan di dalam Y dan juga tidak terdapat Z.

Kedua ayat ini terdapat di dalam perikop Mat. 12:22-37. Dua Injil lainnya juga mencatat kejadian yang sama, yakni pada Mrk. 3:20-30 dan Luk. 11:14-23; 6:43-45. Konteks pada perikop ini menceritakan tentang peristiwa pengusiran setan. Kisahnya adalah demikian: Ada seorang yang kerasukan setan. Kerasukan itu mengakibatkannya buta dan bisu. Yesus menolongnya dengan mengusir setan di dalam dirinya sehingga kebutaan dan kebisuannya disembuhkan. Kesembuhan orang itu menimbulkan dua macam reaksi. Hal ini terlihat dari komentar kedua macam kelompok orang di sana. Pertama, orang banyak takjub dan berpendapat: “Ia ini agaknya Anak Daud.” Kedua, orang Farisi berpendapat: “Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan.” Reaksi dari orang-orang Farisi inilah yang ditanggapi dengan tegas dan keras oleh Yesus.

Bagi Yesus, komentar dari orang-orang Farisi sudah termasuk kategori menghujat. Dalam hal ini, mereka bukannya sedang menghujat Yesus, melainkan menghujat Roh Kudus. Adapun maksud orang-orang Farisi adalah hendak meruntuhkan popularitas Yesus. Didorong oleh perasaan iri-dengki, orang-orang Farisi telah mengeluarkan kata-kata kutuk dan hujat terhadap Roh Kudus, bukan lagi terhadap diri Yesus.

Ada satu hal yang seringkali dipermasalahkan oleh sebagian teolog dan orang Kristen. Apakah menghujat Roh Kudus akan lebih berat dosanya daripada menghujat Yesus? Apakah Roh Kudus lebih tinggi derajatnya daripada Yesus? Menanggapi pertanyaan-pertanyaan seperti ini D. A. Carson menerangkan dengan panjang lebar:


The distinction between blasphemy against the Son of Man and blasphemy against the Spirit is not that the Son of Man is less important than the Spirit, or that the first is prebaptismal and the second is postbaptismal, still less that the first is against the Son of Man and the second rejects the authority of Christian prophets. Instead, within the context of the larger argument the first sin is rejection of the truth of the gospel (but there may be repentance and forgiveness for that), whereas the second sin is rejection to the same truth in full awareness that that is exactly what one is doing – thoughtfully, willfully, and self-consciously reject the work of the Spirit even though there can be no other explanation of Jesus’s exorcisms than that.[8]

Melalui konteksnya, sebagaimana yang telah kita tandaskan sebelumnya, persoalannya terletak pada komentar dari orang-orang Farisi. Mereka dengan kesadaran penuh menolak Yesus mengusir setan dengan kuasa Roh Kudus Allah. Sebagai gantinya, mereka menyebut Yesus memakai kuasa Beelzebul, penghulu setan. Dalam kejadian tersebut, semua orang sudah mengetahui dengan jelas Yesus bekerja dengan kuasa Roh Kudus. Lebih lagi orang-orang Farisi yang notabene adalah kalangan terpelajar, yang mengenal Kitab Suci dan kebenaran, seharusnya juga sudah mengetahui hal ini. Ayat 28 mengingatkan orang-orang Farisi bahwa Yesus mengusir setan dengan kuasa Roh Allah. Sesungguhnya hal ini sudah jelas bagi orang-orang Farisi. Penolakan mereka terhadap diri Yesus tidak seharusnya dinyatakan dengan mengatributkan kuasa Roh Allah sebagai kuasa penghulu setan. Jelas sekali di sini, orang-orang Farisi telah melakukan suatu dosa fatal.

Ayat 32 diakhiri dengan klausa: “di dunia ini tidak dan di dunia yang akan datang pun tidak.” Penyebutan dua dunia: kini dan mendatang, hendak merujuk kepada “tidak pernah (never).”[9] Arti ini senada dengan Mrk. 3:29 yakni tidak mendapat ampun selama-lamanya karena melakukan dosa kekal. Sehingga, pada akhirnya kita dapat menarik suatu kesimpulan. Orang-orang Farisi benar-benar telah menghujat Roh Kudus. Mereka sudah melakukan dosa fatal atau dosa kekal atau dosa yang tak terampuni. Mereka tidak akan mendapatkan pengampunan. Tidak ada lagi kesempatan bagi mereka untuk mendapatkan pengampunan dosa.

Di bagian akhir perikop ini Yesus masih menambahkan satu perumpamaan (ayat 33-37), yakni mengenai pohon dan buahnya. Dari hati yang jahat akan keluar kata-kata dan perbuatan yang jahat. Itulah orang-orang Farisi, yang pada ayat 34 dicap sebagai keturunan ular beludak yang jahat. Sebaliknya, hati orang yang baik mengeluarkan kata-kata dan perbuatan yang baik. Hati merupakan pusat kepribadian manusia. Pada dua ayat terakhir Yesus Kristus menegaskan tentang ucapan. Setiap ucapan manusia harus dipertanggungjawabkan pada hari penghakiman. Kembali kita melihat bahwa persoalan orang Farisi adalah menghujat Roh Kudus dengan ucapannya. Itu semua muncul dari hati mereka yang jahat.

Menghujat Roh Kudus

Di atas sudah kita simpulkan bahwa memang terdapat dosa yang tak terampuni, yakni dosa menghujat Roh Kudus. Selanjutnya kita akan meneliti tentang menghujat Roh Kudus an sich. Apakah batasan atau kriteria dari dosa menghujat Roh Kudus itu?

Daripada mengemukakan uraian atau pandangan secara sistematika mengenai dosa menghujat Roh Kudus, adalah lebih objektif jika kita memusatkan perhatian pada perikop Mat. 12:22-37 melalui studi biblika. Marilah kita menelaah lebih jauh apa yang dikatakan sendiri oleh perikop ini tentang dosa menghujat Roh Kudus.

Orang-orang Farisi sangat mengenal Yudaisme. Di kalangan mereka juga ada orang yang mengusir setan. Terdapat dua kemungkinan dalam kasus pengusiran setan: orang itu adalah seorang dukun (petenung) atau orang itu seorang nabi (utusan Allah). Pengikut Farisi tentu mengandalkan kuasa Roh Allah. Lalu bagaimanakah dengan Yesus? Di dalam diri Yesus sama sekali tidak tampak ada tanda-tanda seorang dukun. Di dalam perikop ini terdapat jawaban yang terus terang dari Yesus. Dia memberikan pengakuan pada ayat 28: “Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah.” Bukan itu saja, ayat ini dilanjutkan dengan: “Maka sesungguhnya Kerajaan Allahsudah datang kepadamu.”

Kerajaan Allah merupakan satu tema teologis yang paling menonjol di dalam Injil Matius. Hanya, Matius cenderung memilih untuk memakai terminologi Kerajaan Surga. Seluruh Injil Matius memakai paling sedikit 32 kali istilah “Kerajaan Surga” sedangkan frasa “Kerajaan Allah” muncul 5 kali saja.[10] Matius sebisa-bisanya menghindari penggunaan istilah Kerajaan Allah berhubung penyebutan nama Allah dinilai terlalu sakral bagi bangsa Yahudi. Akan tetapi, pada ayat 28, Matius justru memilih istilah Kerajaan Allah. Sebenarnya Matius bisa saja tetap memakai frasa Kerajaan Surga. Namun, di sini ada sesuatu yang hendak ditegaskan oleh Matius. Gundry, yang dikutip olehCarson, menafsirkan hal ini sebagai berikut: “Matthew’s phrase makes clearer connection with 12:18 (Isa 42:1) and a more specific contrast with Beelzebul.”[11] Di samping itu, Carsonmenambahkan bahwa ada kepentingan lain: “he may use ‘Kingdom of God’ stylistically to go with ‘Spirit of God.’”[12] Yesus mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, pada waktu itulah sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang di tengah-tengah orang-orang yang menyaksikannya. Matius sengaja menggarisbawahi keselarasan antara kuasa Roh Allah dengan Kerajaan Allah, dan sama sekali bukan memakai kuasa penghulu setan, Beelzebul.

Pada peristiwa eksorsis itu, Yesus mengusir setan dengan kuasa Roh Allah. Pada saat itu pula, sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepada mereka. Dengan kata lain, Kerajaan Allah telah dinyatakan secara jelas di tengah-tengah mereka. Akan tetapi mereka bukan hanya menyangkali realitas tersebut, melainkan mereka mengatributkan kuasa Roh Allah dengan kuasa penghulu setan. Berhadapan dengan kedegilan hati mereka, Yesus menyebutkan hal itu sebagai dosa menghujat Roh Kudus. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa dosa menghujat Roh Kudus ialah sebuah peristiwa di mana kuasa Roh Allah sedang bekerja dengan nyata, namun seseorang secara sadar mengeraskan hati menyangkalinya, lantas mengatributkannya sebagai kuasa setan.

Sesudah jelas definisi dari dosa menghujat Roh Kudus, apakah orang-orang yang sudah percaya kepada Yesus Kristus dapat melakukan dosa yang tak terampuni itu? Billy Graham menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan: “menghujat Roh Kudus hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak percaya.[13] Hampir senada dengan Billy Graham, Joseph Tong, dalam sebuah percakapan dengan penulis, mengatakan bahwa apabila ada orang yang menyangka dirinya telah berbuat dosa menghujat Roh Kudus maka itu membuktikan sesungguhnya dirinya tidak berbuat dosa yang menghujat Roh Kudus. Itu berarti, seandainya ada orang yang telah bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya secara pribadi, namun suatu ketika dilingkupi ketakutan lalu berpikir jangan-jangan dirinya telah pernah berbuat dosa menghujat Roh Kudus, ketakutan ini justru membuktikan dia tidak pernah menghujat Roh Kudus.

Bagi yang telah berbuat dosa menghujat Roh Kudus, orang itu telah dan akan terus-menerus mengeraskan hatinya, menekan hati nuraninya, tidak memedulikan bukti kentara dari penyataan kuasa Roh Allah. Hati yang keras dan sudah membatu itu tidak akan menimbulkan ketakutan sedikit pun apalagi berpikir dirinya menghujat Roh Kudus. Itulah kenyataan yang kita saksikan pada diri orang Farisi.

Secara sistematika, Roh Kuduslah yang melahirbarukan seseorang sampai orang itu datang dan menerima Yesus sebagai Juruselamat. Apabila seseorang menghujat Roh Kudus maka pastilah orang tersebut tidak pernah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Kalau begitu, dosa menghujat Roh Kudus hanya mungkin dilakukan oleh orang yang belum lahir baru atau tidak pernah lahir baru.

Kesimpulan

Apa yang Yesus tegaskan di dalam Mat. 12:31-32 mengenai dosa yang tak terampuni sungguh-sungguh ada. Dosa tak terampuni yang dimaksudkan oleh Yesus ialah menghujat Roh Kudus. Menghujat Roh Kudus dilakukan oleh orang-orang yang dengan kesadaran penuh menyangkali penyataan kuasa Allah yang sudah terbukti kentara sekali, lalu mengatributkan kuasa Roh Allah itu sebagai kuasa setan. Mereka dengan sengaja dan sadar memutuskan untuk mengeraskan hatinya. Dengan demikian, ketakutan yang menghantui sebagian orang percaya bahwa dirinya pernah menghujat Roh Kudus sangatlah tidak beralasan. Adanya perasaan ketakutan dan tebersit pikiran bahwa dirinya pernah menghujat Roh Kudus justru membuktikan bahwa dirinya tidak pernah menghujat Roh Kudus. Pada diri orang-orang yang telah menghujat Roh Kudus tidak akan pernah muncul rasa takut sedikit pun akan dosanya itu.


Daftar Pustaka

Allen, Willoughloy C., “Gospel according to S. Matthew” ICC, eds. Driver, Plummer, Briggs. Edinburgh: T. & T. Clark, 1977.

Boice, James M., The Gospel of Mattew Vol. 1. Grand Rapids: Baker Books, 2001.

Boles, H. Leo, “Matthew” NTC Based on the ASV. Nashville: Gospel Advocate, 1989.

Calvin, John, “Harmony of Matthew, Mark, Luke,” Calvin Commentaries XVI, terj. William Pringle. Grand Rapids: Baker, 1979. 73-77.

Carson, D. A., “Matthew” EBX 8, ed. Frank E. Gabelein. Grand Rapids: Zondervan, 1984.

Fenton, J. C., “Saint Matthew” Westminster Pelican Commentaries. Philadelphia: The Westminster, 1963.

Green, Michael, Matthew for Today. Dallas: Word Publishing, 1988.

Heer, J. J. de, Tafsiran Alkitab Injil Matius. Jakarta: BPK GM, 1996.

Morris, Leon, The Gospel According to Matthew. Leicester, IVP, 1992.

* Artikel ini telah dimuat di dalam Jurnal Amanat Agung Volume 5 No. 1, April 2009.

** Hali Daniel Lie, dosen STT Bandung, mengajar Perjanjian Baru, menyelesaikan S.Th. & M.A. di STTB (1993-1998), M.Th. di SAAT Malang (2000-2002), menempuh studi bahasa Mandarin dua tahun di Shaanxi Normal University, China, telah mempublikasikan tujuh buku, di antaranya: Mujizat Versus Rasio? (Bandung: Agiamedia, 1999); Agama Versus Sains: Studi atas Hidup & Pemikiran Agustinus (Bandung:Agiamedia, 2005); Intisari Agama-Agama Sedunia(Bandung: Agiamedia, 2005); Kitab Suci Agama-Agama Sedunia (Bandung: Mitra Pustaka, 2006).



1. J. J. de Heer, Tafsiran Alkitab Injil Matius (Jakarta: BPK GM, 1996), 319.

2. BibleWorks 5.0: Software for Biblical Exegesis and Research (Bigfork: LLC, 2001); Nestle-Aland, Novum Testamentum Graece (Stuttgart: Deutsche Bibelgesellschaft, 1991), 31.

3. Perjanjian Baru: Indonesia-Yunani (Jakarta: LAI, 2002), 89.

4. William F. Arndt dan F. Wilbur Gingrich, A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature (Cambridge: The University of Chicago, 1967), 142; Wesley J. Perschbacher, The New Analytical Greek Lexicon(Peabody: Hendrickson, 1990), 71.

5. Arndt dan Gingrich, A Greek-English Lexicon, 142.

6. T. Rees, “Blasphemy,” dalam ISBE I, editor umum. Geoffrey W. Bromiley (Grand Rapids: Eerdmans, 1979), 521-22.

7. Ibid.

8. D. A. Carson, “Matthew” dalam EBC 8, ed. Frank E. Gaebelein (Grand Rapids: Zondervan, 1984), 291-92. (Garis bawah oleh penulis – red.).

9. Carson, 293; de Heer, 239.

10. Leon Morris, Teologi Perjanjian Baru. terj. Dr. H. Pidyarto O Carm (Malang: Gandum Mas, 2006), 174.

11. Carson, 289.

12. Ibid.

13. Billy Graham, Roh Kudus: Kuasa Allah dalam Hidup Anda (Bandung: LLB, 1986), 194.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar