Kamis, Januari 14, 2010

Cukup Nggak Dengan Makasih?

“Maaf Bu Benia, saya batal bergabung dengan perusahaan Anda, ada masalah di pabrik yang harus saya tangani.”

“Benia, setelah saya pikir-pikir saya lebih suka bekerjasama dengan kamu dalam bentuk bisnis lain, bagaimana kalau kamu jadi marketing celana jeans yang kami produksi saja?”

“Jaga diri baik-baik Benia, sekarang saya harus konsentrasi untuk pemulihan kesehatan, mungkin saya bisa bergabung setelah pulang dari Australia, tahun depan.”


Aku memejamkan mata, dalam hitungan detik, tiga calon klienku telah berubah jadi gunung-gunung es yang tidak mungkin bisa tercairkan dalam waktu dekat.

“Fine! I’m lose,” kata-kata itu terus berputar-putar di kepalaku seperti lingkaran anak-anak ayam yang menciap-ciap di samping induknya, membuat urat-urat di kepala berdenyut-denyut sampai mataku basah.

Berarti targetku sama sekali tidak tercapai, padahal dari mereka aku berharap bisa memenuhi targetku. Apa yang salah denganku? Apakah aku bekerja kurang maksimal, kurang smart, kurang fokus, kurang…ah demi dewa badai, I hate this planet!

Aku menarik nafas panjang, I need an encouragement, but how? Semua orang di sekitarku tampak tergesa-gesa pulang, aku membutuhkan seseorang tapi aku tidak ingin menghubungi siapa-siapa. Aku naik ke lantai paling atas gedung tempatku bekerja dan menghabiskan waktu menatap matahari sampai benar-benar tenggelam di ujung barat kota, drowning at evening and shining at morning, always. How could be?


Aku memilih pulang naik angkot dengan pikiran beku. Di perhentian lampu merah seorang pengamen cilik naik, dia membagikan amplop kepada setiap penumpang yang berjejal, tanpa melihat amplopnya, aku letakkan di atas tas dan meneruskan lamunan kegagalanku, anak itu menyanyi terus sepanjang jalan di pintu angkot.



Di Jalan Palasari penumpang pada turun hingga tinggal aku, sopir dan pengamen cilik itu. Dia mengumpulkan amplopnya yang ditinggalkan begitu saja oleh penumpang yang berebutan turun. Dia memeriksa isi amplop tapi semua kosong. Aku berpikir, dia pasti sedih amplopnya telah diabaikan, tapi wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, dia menyimpan amplop-amplopnya di saku, kembali duduk di pintu angkot dan terus menyanyi.

Mengapa dia nggak berhenti saja, turun dan pulang ke rumah, atau ikut melamun di sampingku, setidaknya aku punya teman senasib hari ini. Atau apakah dia berpikir aku kesempatannya yang terakhir? Melihat sikapnya, aku iseng mengambil amplop di atas tasku.


“Assalamualaikum Wr Wb.

Mohon bantuannya untuk biaya sekolah saya dan adik, saya ingin sekali sekolah tapi tidak punya uang. Saya kelas tiga, adik kelas dua, bantuan yang diberikan sangat berguna buat kami. Terimakasih. Assalamualaikum Wr. Wb.”

Hmm, mengemis dengan cara sedikit lebih terhormat, tulisannya rapi dan bagus, aku jadi ingin tahu siapa yang menulisi belakang amplop itu. Aku menepuk bahunya pelan

“Siapa yang menulis ini?” Tanyaku.

“Aku,” jawabnya.

“Ah, masa?” Aku tidak percaya, “Emang tulisanmu sebagus ini?”

“Iya, “ katanya sambil mengangguk, dia bergeser sedikit duduk di sampingku.

“Coba, kamu nulis apa di amplop ini?” Tanyaku. Dia mengulang persis seperti yang tertulis di amplop itu. Dari obrolan kami, aku tahu ibunya sedang sakit, ayahnya dulu tukang baso tapi sudah meninggal dua tahun lalu karena ditabrak mobil besar, dia mau bayar uang sekolah tapi tidak punya uang, jadi dia membuat cara itu, membagikan amplop kepada penumpang sementara dia menyanyi.

“Saya menyanyi dari jam lima sampai jam delapan, kadang-kadang tidak ada yang mau ngasi uangnya, tapi saya coba lagi besoknya.”

“Oh,” kataku mendesah, ingat penolakan yang kuterima hari ini. “Kalau kamu ngamen gini, kapan kamu belajarnya, gimana kamu pinternya?” tanyaku, sorot matanya yang polos memandangku.

“Aku sekolah pagi, pulang siang, aku belajar dulu dengan adik, jam lima aku mulai ngamen, adik jaga ibu.”

Dimana kamu sekolah?” Tanyaku mulai menikmati obrolan kami.

“Di Jamaika.”.

“Pelajaran apa yang paling kamu sukai?” tanyaku.

“Matematika dan Bahasa Inggris,” jawabnya singkat.

“Hah, Bahasa Inggris?”

Dia mengangguk

“Coba kata apa yang kamu tahu?”

Dia melafalkan nama-nama sayur dan buah dalam bahasa inggris. Aku tertawa- tawa mendengar cara pengucapannya yang kaku dan beberapa yang salah, suaranya yang serak-serak membuat kata-kata yang dia ucapkan terdengar lucu. Aku mengoreksi cara pengucapan kata mother, grape, pine apple dan coconut.

Angkot sudah memasuki Jalan Rhamdan, aku menyelipkan sedikit uang di amplopnya,

”Yang ini kasih ke ibu,” kataku memberikan amplopnya dan memberikan selembar lagi yang lebih besar di luar amplop. “Kalau yang ini kamu harus membeli buku pelajaran, ya?”

Dia menatapku sambil melotot.

“Cukup nggak dengan makasih?” Tanyanya polos, aku tertawa.

“Iya,” aku mengangguk, “Aku hanya ingin kamu menghapal kata ini, God Bless You.”

“Apa artinya?” Dia menatapku sambil mendekap uang yang kuberikan.

“Tuhan memberkatimu.”

Dia mengulang kata-kata itu beberapa kali sampai aku turun di tempat biasa.

“Atoswe Neng, wios,” (Sudah Neng, Biarin alias tidak usah bayar) si sopir tersenyum ke arahku. Dia menolak ongkosku, wajahnya berbinar penuh keramahan, apa dia melihat dari kaca spionnya obrolan kami di belakang tadi?

“Nuhun Pak,” (Terimakasih Pak) aku akhirnya mundur ke tepi jalan tanpa membayar ongkos, sopirnya mengangguk, masi tersenyum.

“Mangga Neng, sawangsulna.” (Monggo Neng, Sama-sama)

Kupikir wajah kami bertiga sangat cerah malam itu, manis penuh senyuman, hehehe…

Sebelum angkot bergerak jauh, pengamen cilik itu berteriak dari pintu angkot, “God bless you!”

Aku tersenyum, hatiku terasa hangat karena sudah tersenyum.

Apa yang sanggup bertumbuh di gunung es?

Jadi tersenyumlah...:)


by Benia Herawati Sumber: http://www.sabdaspace.com/cukup_nggak_dengan_makasih_0

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar