Selasa, April 14, 2009

IBLIS SEDANG MENGHANCURKAN GEREJA TIONGHOA

Sejarah Singkat Pemberitaan Injil Kepada Orang Tionghoa

Menurut catatan sejarah yang tersedia, orang Tionghoa pertama kali mendengar Injil adalah pada abad ke-7, oleh misionari dari kelompok Nestorian. Di antara mereka ada yang cukup dikenal yang bernama Olopun dan Subchaljune yang datang ke Tiongkok pada tahun 696. Pada abad ke-9 pengajaran Yahudi dan Islam masuk juga ke wilayah Tiongkok. [McClintock, John & Strong, James. Cyclopedia of Biblical, Theological, and Ecclesiastical Literature. Grand Rapids: Baker Book House, 1981.]

Kemudian pada abad ke-13, ketika Marco Polo, petualang dari Italia, menjelajah wilayah Timur. Marco Polo tinggal 20 tahun di Tiongkok, berkenalan dengan Kubilai Khan dan memperkenalkan kekristenan kepadanya. Kublaikhan sangat tertarik dan meminta dikirimkan seratus orang misionari. Pada perjalanan pulang dari Tiongkok (th.1275), melalui pamannya disampaikan permintaan Kublaikhan tersebut kepada Paus Katolik.

Sayang sekitar dua puluh tahun kemudian yaitu tahun 1294, setelah Kubilai khan mati baru dikirim John of Montecorvino, dan diterima oleh putra Kubilai khan yang bernama Timur. John of Montecorvino membangun gereja dan tercatat hingga tahun 1305 membaptis enam ribu orang, yang tentu bukan orang Kristen lahir baru. [Roger Steer, J. Hudson Taylor a Man in Christ (Singapore: Overseas Missionary Fellowship Ltd., 1991), p. 12.]

Seandainya Paus Katolik memenuhi permintaan Kublaikhan maka Tiongkok bisa menjadi negara Katolik. Kalau Kublaikhan menjadi orang Katolik, siapa lagi yang bisa menghalangi pendirian gereja-gereja dan biara-biara di seluruh Tiongkok?

Misi Protestan masuk di abad modern dipioniri oleh Dr. Morrison (1807). Dialah yang pertama kali menerjemahkan Alkitab ke dalam tulisan Tionghoa. Selama 40 tahun, pelayanan misi mereka telah banyak menghasilkan orang Kristen.

Pada tanggal 19 September 1853, Hudson Taylor menuju daratan Tiongkok, yang akhirnya mendarat di Shanghai. Pada saat meninggalnya, tahun 1905, telah dibangun 205 tempat pemberitaan Injil, dengan 489 misionari, dan orang Tionghoa yang telah dikristenkan 125000 orang.

Dan sesungguhnya yang menggelorakan semangat Injil orang Tionghoa adalah Dr. John Sung, seorang yang sangat cerdas yang membuang semua medali penghargaannya ke laut pada saat berlayar pulang tahun 1927. Bersama Watchman Nee, Wang Ming Dao, Andrew Gih, Frank Lin, Lim Puay Hian, dan Ting Li Mei, mereka telah menggetarkan hati orang Tionghoa dengan Injil bukan hanya di dataran Tiongkok, melainkan meluas hingga ke Asia Tenggara. Mereka telah memperkenalkan Yesus Kristus kepada jutaan orang Tionghoa.

Kegairahan Kini Memudar

Sekitar sepuluh tahun menjelang Perang Dunia II hingga dua puluhan tahun sesudahnya, orang Tionghoa sangat bergairah terhadap Injil. Terutama orang Tionghoa di luar daratan Tiongkok. Kegairahan itu diwujudkan dengan berdirinya gereja-gereja berbahasa Tionghoa dan juga Sekolah Alkitab berbahasa Tionghoa di mana-mana. Banyak pemuda Tionghoa yang mempersembahkan diri untuk dididik sebagai pengkhotbah. Sekolah Alkitab bahasa Tionghoa penuh siswa, bahkan hingga perlu diterapkan penyeleksian yang sangat ketat sehubungan dengan terbatasnya asrama.

Namun kini telah mundur teratur. Banyak Sekolah Alkitab berbahasa Tionghoa telah tutup, dan yang masih berjalan sudah sangat kekurangan murid. Silakan pembaca selidiki,

dan tentu mereka yang cukup berumur masih ingat masa gereja dan sekolah Alkitab Tionghoa berjaya.

Mungkin ada yang berkata, "ah... ada-ada saja, siapa bilang gereja Tionghoa dihancurkan? lihat gedungnya masih tetap tinggi menjulang, bahkan ada yang baru, serta sangat besar lagi." Tetapi tahukah anda sudah banyak gereja Tionghoa yang tidak bisa mendapatkan pengkhotbah orang Tionghoa, sehingga tidak sedikit gereja Tionghoa yang digembalakan oleh orang Jawa, Batak, Manado atau Nias. Penulis sama sekali tidak mengecilkan suku bangsa lain dalam hal ini. Jangan ada yang salah mengerti. Bahkan suku lain harus bangga karena gairah mereka melayani Tuhan tidak menurun. Yang perlu introspeksi diri dalam hal ini adalah orang-orang Tionghoa, termasuk penulis sendiri.

Kita harus mencari tahu penyebab kehancuran gereja yang sudah sangat jelas ini. Untuk apa gedung yang mewah dan mahal kalau suatu hari kubahnya mungkin diganti dengan lambang bulan dan bintang seperti banyak gedung gereja di Inggris sekarang? Fakta yang jelas di depan mata adalah generasi muda Tionghoa kurang bergairah melayani Tuhan.

Tidak Dibangun Di Atas Batu Karang

Dari sejarah pendirian gereja-gereja Tionghoa, terlihat jelas fondasi doktrinal mereka sangat rapuh. Banyak gereja Tionghoa di Indonesia didirikan dari hasil Kebaktian Kebangunan Rohani Dr. John Sung. Penulis sama sekali tidak memandang rendah Dr. Sung. Namun beliau bukan pengajar doktrinal, lagi pula kedatangan beliau di suatu daerah sangat singkat (Shortterm). Jadi, banyak pemimpin gereja Tionghoa adalah hasil KKR seminggu yang sangat bersemangat namun tidak memiliki pengetahuan doktrinal yang mamadai.

Kekurangan pengetahuan doktrinal telah menyebabkan mereka mencampur-adukkan doktrin dari satu denominasi dengan yang lain sehingga doktrin mereka saling bertentangan. Begitu semangatnya mereka menginjil sepertinya mereka percaya pada tanggung jawab manusia, sementara di sisi lain mereka percaya pada predestinasi Calvinisme.

Mendirikan sebuah gereja, yang mungkin suatu hari akan menjadi sebuah denominasi, tidak bisa dengan fondasi semangat yang dihasilkan dari KKR seminggu. Bahkan Martin Luther, seorang reformator yang hebat, tidak sanggup menancapkan fondasi yang kokoh bagi gereja Protestan, sehingga gereja Protestan masih mamakai blue-print Gereja Roma Katolik. Demikian juga John Calvin yang mencampur-adukkan pemerintahan gereja dengan pemerintahan negara ketika gereja Reformed/Presbyterian berawal di kota Geneva.

Karena dasarnya tidak kokoh, ya tentu tidak kuat untuk menahan angin Liberalisme dan badai Kharismatik. Khusus untuk gereja Tionghoa Indonesia, malah mendapat tambahan serangan dari aspek politik Orde Baru yang melarang pemakaian bahasa Tionghoa, sehingga terjadi kelangkaan generasi penerus yang berbahasa Tionghoa. Semua itu menjadi faktor penghancur gereja-gereja Tionghoa.

Pendiri Sekolah Tinggi Theologi (STT) tidak mementingkan doktrin sehingga STT menjadi tempat pengadukan berbagai doktrin. Para dosen mereka berlomba mengejar titel

yang lebih tinggi tanpa peduli masuk ke seminari Liberal atau Kharismatik, yang penting dapat gelar. Tentu dosen-dosen demikian pulang segera menjadikan STT mereka "warung gado-gado doktrin".

Lebih Mencintai Ras Daripada Kebenaran

Bagi setiap orang yang berakal sehat pasti tahu bahwa dua hal yang berbeda tidak mungkin dua-duanya benar. Yang mungkin adalah dua-duanya salah atau salah satunya benar. Dan siapapun yang cinta kebenaran pasti akan berusaha memastikan dan memegang yang diyakininya benar.

Penulis mensinyalir sikap yang salah bukan hanya di kalangan theolog Tionghoa, bahkan kebanyakan orang Kristen. Sikap salah itu ialah menyatakan suatu pengajaran salah sekaligus memusuhi orangnya, atau memusuhi orang yang menyatakan kesalahannya. Seharusnya kita tidak memusuhi orang Buddha sementara tetap menyatakan bahwa pengajaran Budha itu salah. Kita harus tetap tegur-sapa dengan Saksi Jehova sambil dengan tegas menyatakan bahwa doktrin mereka salah. Dan kita seharusnya tetap bersikap baik bahkan ramah terhadap orang Mormon namun tidak mencampurkan doktrin gereja kita. Sikap memusuhi orang yang menyatakan kesalahan kita itu bukan sikap yang diajarkan Kristus.

Sikap mengejar kebenaran, mencermati perbedaan doktrin satu denominasi dengan yang lain untuk mendapatkan doktrin yang paling benar, bukan hanya kurang dimiliki pemimpin gereja Tionghoa bahkan juga kebanyakan pemimpin gereja lain. Mencintai suku atau ras kita lebih daripada kebenaran adalah hal yang sangat menyakitkan hati Tuhan. Seharusnya setelah seseorang dilahirkan kembali di dalam Kristus, yang lebih dicintainya adalah saudara di dalam Kristus daripada orang sesuku dengannya.

Penulis pernah berkata kepada seorang "majelis" bahwa seandainya China berperang dengan sebuah negara Kristen, hati saya memihak kepada orang-orang Kristen karena mereka saudara saya di dalam Kristus. Orang-orang yang satu suku/ras dengan kita itu karena kebetulan bahasa sama, warna kulit sama, dan kalau ditarik jauh ke atas mungkin satu nenek moyang. Namun mereka tidak akan bersama dengan kita di Sorga kelak. Sedangkan orang Kristen yang telah dilahirkan kembali di dalam Kristus adalah orang-orang yang akan menikmati kekekalan bersama kita.

Sebuah fenomena mencintai ras lebih dari kebenaran di kalangan pemimpin gereja Tionghoa terlihat ketika mereka mengambil sikap lebih memihak gereja Tionghoa atas dasar suku atau ras daripada doktrin. Sebagai contoh, doktrin yang dianut oleh pendiri banyak gereja Tionghoa, seperti Gepembri, GKJ, GSRI, GKNI, GKK, dll. sebenarnya lebih dekat ke Graphe daripada Reformed maupun SAAT yang kalvinistik. Tetapi mungkin karena faktor bahasa (ketionghoaan) atau faktor almamater pemimpinnya yang notabene ada unsur ras, mereka memilih menggeser ketetapan doktrin mereka. Tiga puluh tahun lalu kebanyakan gereja Tionghoa tidak menerima perempuan sebagai gembala. Tetapi karena para dosen SAAT, SBC,dll. banyak yang mengambil gelar di seminari Liberal pulang, maka kini telah lebih banyak mahasiswi daripada mahasiswa di sana, gereja-gereja Tionghoa pun berkompromi, mula-mula mengijinkan perempuan menjadi pejabat gembala, dan kemudian menjadi gembala penuh bahkan ditahbiskan.

Sikap lebih cinta ras daripada kebenaran ini mematikan semangat dan antusiasme generasi muda terhadap kebenaran. Sikap ini sangat menyakitkan hati Tuhan, karena Tuhan sendiri adalah kebenaran. Jika pergi ke gereja atau terlibat dalam pelayanan hanyalah sebuah aktivitas lumrah sebagai orang Kristen, mengapa mesti bertanya, mana yang lebih benar, dan yang lebih alkitabiah? Kalau diselam dan dipercik sama-sama benar, kalau istilah Perjamuan Tuhan tidak berbeda dari Perjamuan Kudus, kalau gereja yang Am dan yang lokal tidak ada bedanya, apa yang perlu dicermati? Mencintai ras lebih dari kebenaran telah mematikan sense terhadap kebenaran. Camkanlah!

Sistem Bergereja Tidak Alkitabiah

Penulis pernah mendengar seorang pemimpin gereja Tionghoa berkata bahwa Tuhan tidak menetapkan sistem pengurusan gereja. Benarkah? Masakan Tuhan yang maha tahu, maha teratur, maha perancang tidak menetapkan sebuah sistem untuk jemaat yang direncanakanNya? Apalagi jemaat ini direncanakan sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran (I Tim.3:15). Kalau tidak tahu, sebaiknya jangan berkata tidak ada!

Jelas sekali telah terjadi kekacauan sistem bergereja di kalangan gereja-gereja Tionghoa. Tidak sedikit di antara mereka yang terjebak dalam sistem perusahaan. Gembalanya dikontrak, bahkan ada ketua majelis mereka yang melihat gereja sebagai salah satu anak perusahaannya.

Sistem penggajian mereka telah menyebabkan harga diri penyampai firman di gereja demikian amat direndahkan. Adalah fakta yang sulit dipungkiri bahwa siapapun yang menentukan gaji anda itu artinya anda bekerja padanya, atau setidak-tidaknya ia adalah atasan anda.

Bahkan sistem kontrak telah menelantarkan hamba Tuhan di hari tua mereka. Dengan direndahkannya martabat pelayan Tuhan full time, telah membawa efek negatif yang sangat parah, yang tidak cukup waktu satu generasi untuk memperbaikinya. Dan faktor inilah yang menyebabkan anak-anak pelayan Tuhan tidak berani bercita-cita melayani Tuhan seperti ayah mereka, orang-orang muda ketakutan jika didorong untuk menjadi hamba Tuhan. Jujur kata, para majelis yang menguasai gereja pasti tidak mendorong anak-anak mereka untuk menjadi hamba Tuhan. Bisakah kita simpulkan bahwa ini adalah salah satu faktor yang telah menyebabkan minimnya mahasiswa theologi Tionghoa?

Semangat kalangan Tionghoa melayani Tuhan pada tahun lima puluhan dan enam puluhan sangat luar biasa. Pada saat itu berdiri banyak Sekolah Alkitab berbahasa Tionghoa. Tetapi karena latar belakang akademik guru mereka hanya bermodalkan gemblengan para misionari yang kebanyakan hanya dilatih beberapa bulan di negaranya, maka lulusan mereka sudah pasti memiliki kemampuan akademik yang rendah. Tentu tidak mungkin menyalahkan mereka karena mereka adalah orang-orang yang sangat bersemangat melayani Tuhan. Yang patut disalahkan adalah pemimpin yang tidak mengusahakan upgrading yang berkesinambungan. Mengapa? Karena pemimpin gereja justru orang awam. Yang ada di kepala mereka tentu bukan keadaan gereja 30 tahun mendatang, melainkan perusahaan mereka.

Karena tidak mengerti sistem berjemaat yang alkitabiah, maka sistem kacau-balau yang dipergunakan. Dalam situasi demikian sudah pasti yang paling pintar, paling berpendidikan, paling banyak duit, dan paling terpandang di masyarakat, yang akan secara de facto memimpin jemaat. Akhirnya gereja saling mencontoh bahkan mencontoh sistem berbagai perkumpulan sosial.

Pada tahun lima puluhan di kalangan masyarakat Tionghoa memang terdapat semacam dewan (wui yen hui) yang terdiri dari pemuka masyarakat yang dibentuk untuk mengurus sekolah-sekolah Tionghoa. Dewan tersebut mengundang guru, menetapkan gaji guru dsb. Tentu dengan sangat gampang sistem ini dibawa masuk ke dalam jemaat yang tidak diajarkan sistem yang alkitabiah. Karena situasi demikian maka terciptalah sistem kekuasaan majelis, dan hamba Tuhan mereka perlakukan seperti mereka perlakukan guru-guru di sekolah sekuler yang mereka gaji. Di satu sisi para hamba Tuhan memang kurang mengerti doktrin Ekklesiologi, kurang pengetahuan umum, kurang duit, dan tentu kurang percaya diri sehingga menyerah menjadi pekerjaan upahan.

Akhirnya hampir semua gereja Tionghoa ada di bawah kendali majelis atau pengurus sinode yang berprofesi pengusaha bukan rohaniwan. Mereka enggan mengeluarkan uang untuk membiayai hamba Tuhan belajar keluar negeri karena kalau nanti hamba Tuhan tersebut lebih pintar dari mereka, maka itu akan merepotkan mereka. Itulah sebabnya tahun tujuh puluhan dan delapan puluhan sedikit sekali hamba Tuhan Tionghoa yang belajar ke luar negeri. Situasi tidak sehat demikian telah menyebabkan orang muda tidak bercita-cita menjadi hamba Tuhan, melainkan menjadi majelis saja. Sementara itu para majelis yang telah menghancurkan gereja Tuhan secara perlahan-lahan justru menyangka mereka telah melayani Tuhan dan menyenangkan hati Tuhan.

Falsafah Materialistik Mempengaruhi Gereja

Gereja yang dikendalikan oleh pengusaha tentu akan cenderung materialistik sebab kecenderungan kerja otak mereka memang mencari duit, karena telah terkondisi demikian sejak kecil. Kondisi jemaat yang dipacu ke arah materi tentu sangat subur untuk persemaian theologi sukses. Memandang dan menilai segala sesuatu dari segi materi, dan menghormati bahkan menyanjung orang yang sukses secara materi.

Efek dari falsafah materialistik bisa dilihat jelas dari pembangunan gereja yang mewah sebagai lambang kesuksesan. Anggota jemaat tidak diarahkan untuk mengerti theologi apalagi mencari yang paling alkitabiah. Biasanya anggota jemaat gereja yang telah terhanyut hal-hal materialistik tidak membanggakan pengajaran mereka yang alkitabiah melainkan membanggakan kemewahan gedung dan fasilitasnya yang lengkap dan mewah.

Herankah kita jika Tuhan Yesus sangat pesimis dengan jumlah orang Kristen lahir baru akhir zaman? Jumlah yang menyebut diri Kristen bisa saja masih cukup banyak, dan secara materi juga terlihat hebat. Namun Tuhan pernah berkata, Luk. 18:8 "... Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?"

Kesimpulan Kita

Dari ungkapan pesimistis Tuhan Yesus, dan berbagai pernyataan serta teguran lain dari Tuhan, kita dapat simpulkan bahwa yang Tuhan inginkan bukanlah jumlah orang yang banyak dan gereja yang besar (kuantitas) melainkan yang benar (kualitas). Jangan kehilangan dorongan untuk mencari dan memihak yang paling benar, sekalipun mungkin harus membayar harga yang mahal.

Jangan membanggakan hal-hal yang bersifat jasmani, materi, dan duniawi. Dorong orang

orang muda untuk menggali dan mengejar kebenaran, dan nasehati mereka untuk memilih sekolah theologi dari orientasi doktrinnya, bukan dari fasilitasnya.

Salahkah penulis jika penulis mengajak pemimpin gereja-gereja Tionghoa untuk duduk tenang merenungkan doktrin yang diajarkan orang gereja masing-masing selama ini? Apakah khotbah yang disampaikan benar sesuai dengan pengajaran Alkitab (alkitabiah)? Bolehkah doktrin yang sedang dipegang selama ini diuji? Kalau emas murni ia pasti tahan api. GRAPHE membangun tradisi auto introspection dengan mempersilakan orang yang menemukan kesalahan pada pengajaran GRAPHE untuk memberitahu GRAPHE. Dijamin tidak akan dimarahi, apalagi dibenci.

Tulisan ini dibuat sama sekali tidak didasarkan pada sikap dan perasaan negatif. Karena penulis kenal baik gereja-gereja Tionghoa, maka mengajak pemimpin gereja Tionghoa untuk mengintrospeksi doktrin yang diajarkan masing-masing gereja. Sementara itu pemimpin bahkan orang Kristen siapa saja yang membaca kiranya juga melakukan tindakan introspeksi agar ketika Tuhan datang kembali Ia masih mendapati iman (yang benar) di bumi. ***

"Orang benar akan diterima baik di antara orang benar, demikian juga orang sesat di antara orang sesat. Karena dunia ini dihuni orang benar dan orang sesat, maka tentu tidak semua orang akan menerima anda. Berbahagialah jika anda dapatkan bahwa yang menerima anda adalah orang-orang benar, dan celakalah anda jika kebaikannya."

Dr. Suhento Liauw

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar