Rabu, Februari 03, 2010

AWAS! INJIL TIPU MUSLIHAT!

Manusia pada dasarnya diciptakan sebagai mahkluk berpengertian, berkesadaran diri dan berkehendak bebas. Dengan demikian manusia bukan hanya bisa menyembah apa saja yang disukainya, bahkan bisa menciptakan sesuatu untuk disembah dirinya dan manusia lain. Dan manusia bukan hanya bisa percaya kepada ajaran yang salah, bahkan juga mampu membelokkan ajaran yang benar atau menciptakan ajaran yang sesat untuk diikuti manusia lain.

Ketika murid-murid Tuhan ingin tahu tanda-tanda kedatangan Sang Guru, Tuhan Yesus menjawab dengan menempatkan intensitas penyesatan sebagai tanda utama kedatanganNya, dengan berkata "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang” (Mat.24:4-5).

Pertama, Tuhan mengingatkan agar murid-muridNya yang hidup pada periode waktu menjelang kedatanganNya, hidup sebagai orang percaya yang penuh waspada. Jangan tertidur bahkan jangan bodoh karena menjelang kedatanganNya intensitas penyesatan akan semakin tinggi, dan akan muncul berbagai pengajaran yang aneh-aneh.

Tentu ajaran kekristenan tidak terlepas dari jamahan Lucifer. Celakalah orang yang tidak waspada yang tidak menaruh curiga pada setiap pengajaran dan yang tidak berusaha mempelajari dan mencermati berbagai ajaran.

Kedua, Tuhan memberitahukan kita bahwa penyesat akan memakai namaNya. Hal ini seharusnya menyadarkan kita bahwa kita tidak boleh asal percaya kepada ajaran-ajaran yang mengatasnamakan Yesus/Yeshua Hamasiah atau dengan kata lain, urusan nama atau sebutan sudah diberitahu oleh Tuhan bahwa itu akan dibajak. Jadi tidak boleh didasarkan pada sebutan atau penamaan melainkan harus memperhatikan isi ajarannya.

Ketiga, penyesat itu akan berkata “akulah mesias.” Arti kata mesias sama dengan kristus atau orang yang diurapi. Jadi penyesat itu akan berkata, atau orang lain akan mengatakan, dia orang yang diurapi. Menjelang kedatangan Tuhan, ketika intensitas penyesatan semakin tinggi, penyebutan orang yang diurapi akan semakin marak sebagai bentuk penyamaran atau pembiasaan istilah orang yang diurapi sehingga orang-orang tak berhikmat semakin bingung tentang tanda-tanda kedatangan Sang Yang Diurapi yang asli.

Anti Kristus/Mesias, yaitu penentang Kristus/Mesias yang menyamar sebagai Kristus/Mesias. Banyak orang tidak menyadari arti kata “anti”, dalam bahasa Yunani itu selain menentang juga artinya menggantikan. Jadi anti-Kristus atau anti-Mesias adalah orang yang menentang Kristus dengan menyatakan bahwa dirinya adalah Kristus, atau orang yang diurapi.



Sederhananya demikian, misalnya kalau Benny Hinn berkata bahwa dirinya adalah orang yang diurapi itu sama dengan berkata bahwa dirinya adalah Mesias atau Kristus. Melalui pernyataannya atau pernyataan orang lain kepadanya yang disetujuinya dapat kita simpulkan bahwa ia adalah anti-Kristus. Karena pada saat mendekatnya kedatangan Yesus Kristus yang asli akan muncul banyak Yesus Kristus palsu terlebih dulu (I Yoh.2:18-19).

Pemakaian istilah “orang yang diurapi” akhir-akhir ini yang semakin marak tentu bukan kebetulan. Tuhan sendiri yang telah mengatakan bahwa akan datang banyak mesias palsu. Bahkan Tuhan berkata, “apabila Anak Manusia datang adakah Ia mendapati iman di bumi?" Dalam ayat ini terlihat Tuhan sendiri pesimis tentang jumlah pengikutNya pada saat kedatangan-Nya.

Banyak orang memakai patokan yang salah untuk menilai pengajaran. Bahkan ada yang berpatokan pada jumlah orang, yaitu bahwa yang ramai itulah yang benar. Kedengarannya agak konyol, namun cukup banyak yang berpikiran demikian. Ada juga yang berpatokan pada kerapian organisasi, misalnya seorang Saksi Jehovah berkata kepada penulis bahwa ia menilai Saksi Jehovah benar karena organisasinya yang sangat rapi.

Cara Menilai Pengajaran

Lalu bagaimanakah cara kita menilai sebuah pengajaran? Allah memberikan kita dua alat yang telah baku, pertama adalah akal budi, dan kedua adalah firmanNya yang tertulis. Alat pertama, akal budi. Tuhan menciptakan akal-budi bagi manusia agar ia bisa berpikir, bisa menilai segala sesuatu dan bisa memilih di antara yang benar dan yang salah. Alkitab selalu memperingatkan agar jangan bodoh. Itu artinya kita harus memakai akal budi yang diberikan kepada kita dengan sebaik mungkin. Pemakaian akal budi yang paling menyenangkan hati Tuhan bukanlah untuk mencari uang tetapi untuk mencari kebenaran, karena Allah sendiri adalah kebenaran. Mendapatkan kebenaran itu sama dengan mendapatkan Sang Pencipta sendiri.

Ada kelompok yang mengharamkan pemakaian akal budi dalam urusan rohani. Sudah pasti kelompok ini akan berakhir dalam iman yang penuh mistik dan takhayul. Binatang tidak bisa memahami Penciptanya karena tidak diberi cukup akal budi. Mereka hanya diberi akal budi untuk bertahan hidup yaitu kepintaran untuk menemukan makanan dan melangsungkan hidup sesuai insting yang diberikan kepada masing-masing jenis binatang. Tetapi manusia diberikan akal budi untuk mencari Penciptanya. Bahkan manusia diberi akal budi untuk menciptakan pesawat dengan berat ratusan ton untuk terbang di udara.

Sebagaimana manusia memakai akal budinya untuk menyelidiki sebuah kasus pembunuhan hingga terungkap pembunuh-nya, menyelidiki fosil-fosil, menyelidiki dan merangkai peristiwa sejarah lampau, demikianlah seharusnya manusia memakai akal budinya untuk menyelidiki segala sesuatu untuk mengenal Penciptanya.

Sang Pencipta mau kita memakai akal budi kita semaksimal mungkin, yang akhirnya akan sampai pada DiriNya. Batasan maksimal pemakaian akal budi kita yang terakhir adalah Sang Pencipta. Tentu manusia tidak boleh malas berpikir dan segera lari pada kesimpulan akhir. Karena Ia yang memberikan kita akal-budi, maka akal budi kita tidak mungkin bertentangan dengan firmanNya.

Alat kedua ialah firman tertulis, yaitu Alkitab. Hanya dengan akal-budi manusia tidak bisa sampai kepada kebenaran ilahi karena sesungguhnya tidak ada satu manusia pun yang dapat mengenal Sang Pencipta jika bukan Sang Pencipta memperkenalkan diriNya. Manusia tidak mungkin bisa mengenal Sang Pencipta yang maha kuasa, maha suci dan maha benar.

Alkitab adalah wahyu dari Sang Pencipta untuk menyingkapkan Diri Sang Pencipta beserta rencana-rencanaNya. Konsekuensinya, jika Alkitab salah, maka salahlah seluruh pengenalan yang didasarkan pada Alkitab, demikian juga dengan umat agama lain yang mendasarkan iman mereka pada kitab suci mereka.

Apakah iman kekristenan adalah iman yang benar, sepenuhnya tergantung pada kredibilitas Alkitab. Bukan hanya Alkitab, tetapi kitab manapun yang mengklaim dirinya firman dari Allah yang maha benar, maha suci, dan maha tahu harus dapat membuktikan dirinya.

Firman dari Allah yang maha benar seharusnya tidak mengandung kesalahan. Apakah Alkitab memenuhi persyaratan yang satu ini? Tentu! Siapa saja yang menemukan dugaan kesalahan pada Alkitab, silakan konfirmasikan kepada kami karena kami telah membacanya berulang-ulang namun tidak menemukan kesalahannya.

Firman dari Allah yang maha suci juga seharusnya mengajarkan tingkat moral yang tertinggi. Apakah Alkitab memenuhi syarat sebagai firman dari Allah yang maha bermoral? Tentu! Hanya di dalam Alkitab kita menemukan perintah untuk mengasihi musuh, untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Perintah untuk melakukan apa yang kita ingin orang lakukan kepada kita (Mat.7:12).

Firman dari Allah yang maha tahu sepatutnya sanggup memberitahukan hal-hal yang lama telah berlalu dan hal-hal yang masih jauh di depan. Siapapun yang tulus mencari kebenaran sepatutnya terpukau oleh nubuatan Alkitab. Hal-hal yang ratusan bahkan ribuan tahun di depan sanggup diungkap dengan jelas. Ini adalah bukti otentik bahwa Alkitab diinspirasikan oleh Allah yang maha tahu.

Alkitab adalah firman tertulis (written revelation) yang sudah pasti (definite) artinya tidak boleh ditambah atau dikurang. Jadi, tidak bisa untuk tidak menganut konsep KANON TERTUTUP, yaitu bahwa Alkitab adalah firman Allah yang sudah fixed, dan memang sepatutnya demikian. Kalau tidak, maka semua doktrin yang disimpulkan dari Alkitab bukan doktrin yang sudah fixed. Oleh sebab itu tidak ada pilihan bagi yang berakal sehat untuk menyimpulkan bahwa proses pewahyuan telah dihentikan sejak wahyu terakhir, ketika sampai kitab Wahyu 22:21. Kesimpulan akhirnya ialah bahwa siapapun yang kemudian menyatakan menerima wahyu atau bernubuat, maka seratus persen bukan dari Allah. Hanya di atas firman tertulis yang pasti, yang tidak ditambah-kurang lagi, maka doktrin yang dihasilkan akan pasti pula.

Pembaca yang terkasih, dengan akal budi yang diberikan Tuhan untuk merenungkan firman tertulisNya yang definite maka seseorang akan mendapatkan doktrin yang pasti. Salah satu aturan yang harus diperhatikan adalah dukungan ayat-ayat Alkitab dan tidak boleh ada satu ayat pun yang bertentangan dengan kesimpulan yang diambil. Prinsip inilah yang tidak diperhatikan oleh semua aliran sesat, termasuk Saksi Jehovah. Misalnya mereka ngotot bahwa Yesus bukan Allah sambil mengabaikan I Yohanes 5:20, dan banyak ayat lain lagi. Bahkan demi memenuhi keyakinan yang telah terbentuk terlebih dulu di otak mereka, ayat tersebut diubah dalam Alkitab terjemahan mereka. Tetapi tentu mereka tidak bisa menghapus fakta dalam bahasa aslinya. ***

Menghasilkan Injil Yang Benar

Dengan cara penafsiran yang benar, yaitu yang dilakukan dengan akal sehat dan mempertimbangkan semua ayat Alkitab, dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu, maka akan menghasilkan Injil yang benar. Dan dengan Injil yang benar jemaat yang adalah tiang penopang dan dasar kebenaran (I Tim.3;15) akan dapat menyelamatkan manusia berdosa.

Injil yang benar menyatakan bahwa manusia telah jatuh ke dalam dosa dan tidak mungkin kembali berkumpul bersama Allah atau masuk Sorga dengan posisinya yang berdosa. Untuk menghampiri Allah yang mahakudus dosa harus diselesaikan.

Berbagai agama mengajarkan cara penyelesaian dosa yang sifatnya adalah usaha manusia (amal, ibadah, asketikisme, dll). Namun Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa dosa hanya terselesaikan dengan penghukuman (Rom.6:23). Inilah titik perbedaan antara kekristenan dengan semua agama di muka bumi. Agama lain mengajarkan penyelesaian dosa melalui usaha manusia, kekristenan mengajarkan penyelesaian dosa melalui penghukuman.

Itulah sebabnya sejak kejatuhan manusia, Allah segera berjanji untuk mengirim Juruselamat. Sang Juruselamat akan dihukumkan untuk menggantikan manusia yang telah berdosa. Agar dosa mereka terhitung ditanggungkan kepada Sang Juruselamat yang akan datang, mereka harus bertobat dan percaya akan janji Allah tersebut. Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa karena tidak percaya kepada Allah.

Maka selanjutkan jika dosa mereka mau diselesaikan, maka mereka harus mengaku salah dan menyesal (bertobat), dan percaya pada Allah bahwa Ia akan mengirim Juruselamat untuk dihukumkan menggantikan mereka. Kemudian Allah memerintahkan mereka melaksanakan ibadah simbolik sederhana, yaitu menyembelih domba di atas mezbah, agar janji Allah tetap diingat melalui ibadah simbolik itu dan generasi berikut bisa diberitahukan sehingga mereka juga diselamatkan oleh iman kepada Sang Juruselamat yang akan datang.

Dengan berbagai cara dan peristiwa Allah mengingatkan manusia pada janji-Nya bahwa Ia akan mengirim Juruselamat untuk menyelamatkan manusia. Ular tembaga yang didirikan Musa di padang gurun jelas-jelas menunjuk kepada Sang Kristus (Yoh.3:14-15). Mengapa dilambangkan dengan ular? Karena ketika Kristus di atas salib, Dia adalah manusia paling berdosa karena sedang menanggung dosa seisi dunia. Ia adalah Allah sendiri (Yes.9:5, 45:15,. Hos.13:4, I Yoh.5:20), yang menghampakan diri menjadi manusia (Fil.2:5). Umat Islam dan kelompok Saksi Jehovah hanya sanggup melihat sisi kemanusiaanNya saja, dan memang Ia adalah manusia, karena kalau tidak menjadi manusia Ia tidak mungkin bisa dihukum mati. Tetapi Ia adalah Allah yang benar (I Yoh.5:20).

Sesudah penyalibanNya, yang bagaikan domba yang disembelih di atas mezbah (I Pet.1:18-19), maka dosa seisi dunia terhukumkan atas dirinya (Yoh.1:29, I Yoh.2:2), bukan hanya dosa orang pilihan sebagaimana disangka oleh John Calvin. Selanjutnya setiap orang yang bertobat dan percaya kepada Juruselamat yang SUDAH menggantikannya dihukumkan, akan dihitung sebagai orang kudus, yaitu orang yang semua dosanya telah terselesaikan melalui penghukuman.

Jadi, orang-orang yang hidup sebelum penyalibanNya, misalnya Adam, Abraham, Musa, akan selamat melalui bertobat dan percaya kepada Juruselamat YANG AKAN menggantikan mereka dihukumkan. Sedangkan orang-orang yang hidup sesudah penyalibanNya harus bertobat dan percaya kepada Juruselamat YANG SUDAH menggantikan mereka dihukumkan. Benarlah pernyataan bahwa tidak ada seorang pun akan sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Sang Juruselamat.

Injil, yang artinya kabar baik, harus diberitakan kepada semua manusia. Bahwa Sang Juruselamat telah dihukumkan untuk menanggung dosa SEISI DUNIA, sehingga posisi orang berdosa yang disebabkan oleh Adam telah diselesaikanNya (Rom.5:18). Setiap bayi dan orang yang cacat mental sejak lahir atau yang idiot, kalau mati pasti masuk Sorga. Sedangkan yang sehat dan bertumbuh mencapai umur akil balik (accountable) harus bertobat dan percaya bahwa Sang Juruselamat telah menggantikannya dihukumkan atas semua dosanya.

Masih Bisa Jatuh Ke Dalam Dosa

Selama masih hidup di dalam daging, walaupun telah bertobat dan percaya, tetapmasih bisa jatuh ke dalam dosa. Tetapi selama yang bersangkutan tidak menyangkali Juruselamatnya, semua dosa yang terjadi sebelum dan sesudah pertobatannya telah tertanggungkan pada Sang Juruselamat. Namun jika ia menyangkali Juruselamatnya, atau meninggalkan imannya (Ibr.10:35,38), maka selanjutnya tidak ada pengampunan lagi (Ibr.10:26). Dosa meninggalkan iman akan dilihat sebagai dosa menyalibkan Kristus kedua kali (Ibr.6:6).

Lalu bolehkah orang yang sudah bertobat dan percaya melakukan dosa-dosa dengan sesukanya? Tentu tidak, bukankah dia telah bertobat? Tidak boleh melakukan dosa sesukanya, yang ada hanyalah jatuh ke dalam dosa. Bukan seperti bebek yang berenang di dalam air (dosa) melainkan seperti ayam yang jatuh ke dalam air. Orang yang telah bertobat dan percaya bahwa Sang Juruselamat telah menggantikannya dihukumkan adalah orang-orang yang telah melakukan transaksi rohani dengan Sang Juruselamat, bahwa Juruselamat menggantikannya dihukumkan dan iatahu bahwa ia sedang menggantikan Sang Juruselamat hidup atau hidup bagi Sang Juruselamat. Juruselamat menjadi orang berdosa sehingga dihukumkan baginya, dan ia menjadi orang kudus, atau salah satu anak Allah (Yoh.1:12, I Kor.1:2). Itulah sebabnya kita disebut anak-anak Allah, dan orang di Korintus disapa orang-orang kudus.

Inilah Injil yang benar, yang sesuai dengan nalar akal sehat dan disimpulkan dari seluruh ayat Alkitab, serta tidak bertentangan dengan satu ayat pun. Injil ini harus dikumandangkan kepada segala makhluk (Mrk.16:15). Jika pembaca mau bertanya lebih banyak tentang Injil ini lebih banyak lagi, silakan melalui email di . Waspadailah injil-injil yang menyesatkan, karena resikonya tidak ringan melainkan akan berakhir di neraka selamanya. Waspadalah terhadap Injil tipu muslihat. ***

Sumber: Pedang Roh Edisi 62 Tahun XV Januari-Februari-Maret 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar