Sabtu, Mei 07, 2016

MENAFSIR ALKITAB DENGAN BENAR

Banyak orang bertanya, mengapakah dalam kekristenan muncul banyak denominasi?Apakah pengajaran semua denominasi kekristenan sama-sama benar? Apakah pengajaran yang berbeda satu dengan yang lain bisa sama-sama benar? Apakah kebenaran Alkitab adalah kebenaran absolut atau kebenaran relatif? Orang Kristen yang masih sehat pikiran pasti tahu bahwa jika Alkitab adalah firman dari Allah yang satu-satunya, maka kesimpulan yang berbeda-beda tidak mungkin sama-sama benar. Kalau begitu, berarti ada gereja yang salah dan yang benar? Mengapakah bisa demikian? Jawabannya adalah dari cara para pemimpinnya menafsirkan Alkitab. Cara menafsirkan Alkitab adalah penyebab utama adanya kesimpulan yang berbeda-beda. Lalu, cara yang benar seharusnya bagaimana?

1. Alkitab Adalah Satu Kesatuan
Penafsir Alkitab harus melihat Alkitab sebagai satu kesatuan, satu penulis yang maha tahu dengan banyak sekretaris. Allah adalah yang mengilhami isi Alkitab kepada pada pemegang pena. Tidak boleh menarik kesimpulan yang tidak cocok dengan satu ayat Alkitab pun. Kalau ada ayat Alkitab yang tidak setuju pada kesimpulan penafsir, maka kesimpulannya harus dipikir ulang.

2. Kebenaran Alkitab Bersifat Progresif
Sifat Alkitab sama dengan kitab hukum dalam hal progresifitasnya. Artinya, sama seperti undang-undang yang diterbitkan hari ini bisa digantikan atau dianulir oleh pembuat undangundang lima tahun ke depan. Tetapi harus di ingat bahwa yang boleh menganulir tentu adalah pihak yang berwenang, dalam hal Alkitab tentu adalah Allah sendiri yang berhak.
Contoh, Pada awal sekali manusia hanya memakan tumbuh-tumbuhan, kemudian diperbolehkan memakan daging halal, dan kemudian diperbolehkan memakan semua daging. Pada saat awal Sang Juruselamat disimbolkan dengan domba, dan kemudian yang disimbolkan tiba maka sambil tidak perlu lagi. Di PL diperintahkan ibadah simbolik, dan di PB diperintahkan ibadah Hakekat.

3. Harus Memperhatikan Kebenaran Terdahulu Sebagai Pertimbangan 
Kita tahu bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang dipilih menjadi pemelihara dan pemberita kebenaran sampai Yohanes tiba. Dan bangsa Yahudi menerima banyak wahyu tentang masa yang akan datang. Ada banyak nubuatan ke depan dalam PL yang harus dipertimbangkan ketika menyimpulkan kebenaran finalnya.
Dalam kitab Daniel dinubuatkan tentang masa pemerintahan yang akan datang. Ada nubuatan yang sudah tergenapi dan ada yang masih belum. Dengan melihat kebenaran terdahulu dan mengamati kebenaran (wahyu) belakangan, bisa menyimpulkan kebenaran yang utuh.

4. Isi Semua Kitab Mengarah Kepada Yesus Kristus
Rasul Paulus sudah pernah coba mengerti kitab PL tanpa melihat kepada Yesus Kristus, dan dia gagal memahami inti kitab PL. Akhirnya ia menulis, “Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya.” (II Kor 3:14 ITB). Yesus Kristus sendiri menyatakan bahwa seluruh isi kitab PL sesungguhnya menulis tentang Diri-Nya (Luk.24:44). Sida-sida dari Etiopia kebingungan ketika membaca kitab Yesaya tanpa terhubungkan dengan Yesus Kristus. Roh Kudus memakai Filipus menjelaskan hubungan nubuatan-nubuatan PL dengan Yesus Kristus.

5. Ternyata Ada Plan A dan Plan B
Walaupun hanya satu kata, yaitu “jika” Yunaninya “εἰ” dalam Matius 11:14, kata itu sangat penting. JIKA besok hujan, kita tidak berangkat, dan JIKA tidak hujan maka kita berangkat. Jika bangsa Yahudi terima Yohanes maka ia adalah Elia, kata Tuhan Yesus. Berarti karena kalian tidak terima dia, maka dia tetap dipanggil Yohanes. 

Jika bangsa Yahudi menerima pelayanan Yohanes yang menyebut dirinya “suara yang berseru-seru” (Yes 40:3), maka mereka akan semakin menyadari bahwa dialah Elia (Mal 4:5). Dan kalau mereka menerima dia sebagai Elia, maka mereka akan menerima Yesus sebagai Jehovah. Selanjutnya konsekuensinya ialah baik Yohanes, maupun Yesus akan disalibkan Roma sebagai pemberontak, dan bangsa Yahudi akan masuk Tribulation satu kali tujuh masa (Dan 9:27), Dan di akhir Tribulation Tuhan akan datang dalam awan dan memerintah di tahta Daud. Ini adalah Plan A.

Tetapi karena bangsa Yahudi tidak terima Yohanes sebagai Elia, maka dia tetap Yohanes, dan Yesus disalib atas permintaan bangsa Yahudi yang tidak percaya kepadaNya. Dan selanjutnya Injil diberitakan kepada bangsa-bangsa lain sampai jumlahnya penuh (Rom 11:25). Sesudah penuh maka yang percaya dan masih hidup akan diangkat, kemudian bangsa Yahudi masuk masa Tribulation satu kali tujuh masa, dan di akhir Tribulation Tuhan datang dalam awam untuk mewujudkan tahta Daud seribu tahun. Ini adalah Plan B, yang terjadi sekarang.

6. Harus Literal Kecuali Ada Tanda Figuratif 
Hampir semua denominasi sesat muncul, penyebabnya ialah penafsiran figuratif. Saksi Jehovah menafsirkan neraka sebagai figuratif, dan ada banyak kelompok yang menafsirkan Kerajaan 1000 tahun sebagai figuratif.

Tetapi fakta memberitahukan bahwa hampir seluruh nubuatan PL digenapkan secara literal. Yesus dilahirkan oleh Perawan, Yesus menunggang keledai muda, bahkan Yesus disalibkan, semuanya digenapkan secara Literal. Lucu sekali, sekelompok Yahudi di New York frustasi menantikan Mesias, mereka mau memfiguratifkan nubuatan Mesias yang menunggang keledai muda dengan figuratif keledai mudanya adalah Boing 747.

Alasan pemimpin sesat suka menafsir secara figuratif ialah mereka mempunyai keleluasaan untuk membelokkan kebenaran sesuka mereka, karena figuratif tidak memiliki standar. Oleh sebab itu yang benar ialah jika tidak ada tanda bahwa itu adalah figuratif maka tidak boleh menafsirkannya secara figuratif. Apakah tandanya? Misalnya kata “perumpamaan” maka kita tahu itu perumpamaan, itu figuratif.

7. Melihat ke Bahasa Aslinya
Sering kali para penafsir Alkitab yang tidak menguasai bahasa asli Alkitab saling berdebat atas suatu kata, tetapi kemudian mendapatkan bahwa kata itu tidak ada dalam bahasa aslinya. Kita tahu bahwa PL ditulis dalam bahasa Ibrani dan PL dalam bahasa Yunani, dan sama sekali tidak ada kesalahan di bahasa aslinya. Oleh sebab itu, adalah keharusan, untuk memeriksakan setiap keragu-raguan dalam kesimpulan kepada bahasa aslinya. Pastikan bahwa bahasa aslinya memang berkata sama dengan terjemahannya. Kalau tidak mengerti bahasa asli maka periksa kepada terjemahan yang terdekat.***

Sumber: Jurnal Teologi STT Graphe, PEDANG ROH Edisi 87 April-Juni 2016, Suhento Liauw, Th.D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar