Jumat, April 22, 2016

Renungan Doktrinal: KARTINI dan WANITA KRISTEN



Pada saat penciptaan Allah menciptakan Adam, kemudian Ia menciptakan Hawa sebagai penolong Adam. Dan kemudian manusia jatuh ke dalam dosa, selanjutnya hubungan pria dan wanita di berbagai suku bangsa tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.

Melalui Rasul Paulus yang terilhami Roh Kudus, dikatakan bahwa istri harus tunduk kepada suami, dan suami harus mengasihi istri, kepala rumah tangga adalah suami (Ef.5:22,25). Ayah yang baik selalu menasehati anak-anaknya untuk mengasihi ibu mereka dan memberi contoh. Ibu yang baik selalu menasehati anak-anaknya untuk tunduk kepada ayah mereka dan memberi contoh. Ini adalah pola keluarga yang Tuhan mau. Tentu tidak berarti istri tidak boleh usul atau berargumentasi, tetapi kepala keluarga adalah suami, dan suami adalah the last decision maker. Dan bisa saja dalam prakteknya ada banyak istri yang lebih pintar dan lebih jago dari suaminya. Tetapi Tuhan tidak mau karena adanya hal-hal itu pola yang ditetapkannya dirusak.

Sehubungan dengan keadaan di rumah tangga, maka Rasul Paulus yg menulis surat Efesus, juga menulis surat penggembalaan kepada Timotius, “Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri.” (1 Tim. 2:11-12 ITB). Artinya, sebagaimana di rumah tangga istri tunduk kepada suami, maka di dalam jemaat semua istri harus memberi contoh tetap tunduk kepada suami, bukan mengkhotbahi suami. Untuk itu wanita tidak menjabat jabatan jemaat yang bersifat otoritatif. Tidak ada rasul wanita, dan Gembala wanita karena ini adalah jabatan yang memiliki wewenang otoritatif. Ada nabi wanita karena nabi sifatnya jurubicara, kalau tidak mau dengar ya terserah Anda. Dan sebenarnya penginjil mirip dengan nabi, sifatnya memberitahukan orang tentang jalan keselamatan. Namun di banyak gereja fungsi penginjil telah menyimpang menjadi orang yang telah sekolah theologi dan belum ditahbiskan, dan banyak penginjil yang menggembalakan jemaat. Guru wanita yang mengajar para wanita dan anak2 tentu tidak ada masalah, demikian juga dengan diaken yang arti katanya adalah pelayan.

Tuhan tidak menetapkan pola ini di dalam perusahaan dan negara dan institusi2 sekuler. Bahkan Tuhan mau ada keterpisahan antara gereja dan negara.
Ketika gereja2 Liberal di Eropa dan Amerika menabrak ketetapan Alkitab dan membolehkan wanita menjadi Gembala, tanpa mereka sadari bahwa mereka sedang merusak pola rumah tangga juga. Karena ketika di gereja wanita boleh mengkhotbahi bahkan menggembalakan suaminya dan suami orang lain, maka sikap tunduk istri kepada suami di rumah pasti terdampak. Hasilnya, di Eropa dan Amerika sulit ditemukan pasangan suami-istri yang tidak bercerai. Gereja telah merusak rumah tangga. Anehnya, banyak pria di sana yang kemudian tertarik kepada yang memakai jilbab karena ketundukan mereka. Tentu kalau mau menikah dengan mereka, akan disuruh membaca dua kalimat. Dan lebih parah lagi, para wanita Kristen Liberal pasti akan kekurangan stock pria dan akhirnya mereka juga terpaksa ikut memakai jilbab dan membaca dua kalimat.
Banyak wanita marah dan berkata bahwa itu tidak adil, bahkan ada yang berkata bahwa Tuhan tidak mengasihi wanita. Tentu tidak demikian, tidak diijinkannya wanita mengajar dan memerintah laki2 sama sekali tidak membenci wanita, karena Tuhan perintahkan kepada laki2 untuk mengasihi wanita.
Fenomena Kartini, atau emansipasi, bagi orang Kristen, terutama yang alkitabiah, harus diingat bahwa bukan wanita lawan pria, tetapi pola yang telah dirusak oleh dosa harus diperbaiki kembali kepada pola yang semula, bukan yang kelebihan. Kembali kepada pola Allah yang semula.
Jika Anda mau tahu lebih banyak kebenaran alkitabiah, silakan berkunjung ke  
Dr. Suhento Liauw

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar