Jumat, Mei 03, 2013

Bagaimana Menjadi Bijak dengan Uangmu?

Artikel asli oleh David Cloud, diperluas dan direvisi oleh Dr. Steven Liauw

Ayat-Ayat Hafalan: Amsal 3:9-10; Maleakhi 3:10; Lukas 6:38; 2 Korintus 9:6-7
Alkitab banyak berbicara mengenai uang. Amsal banyak berbicara mengenai penggunaan uang, dan banyak dari khotbah-khotbah Yesus menyinggung topik ini. Ia mengajarkan bahwa hati manusia terikat kepada hartanya. Oleh karena itu, penting untuk memahami apa kata Allah tentang uang dalam hidup orang percaya.
Praktekkan Persepuluhan dan Memberi kepada Allah (Mal. 3:8-11)
Persepuluhan, yaitu memberikan minimal 10% dari penghasilan seseorang kepada Allah, adalah suatu cara untuk menghormati Allah dan mendukung pekerjaanNya yang agung di dunia yang memerlukan ini. Allah telah berjanji untuk memberkati persepuluhan, dan banyak sekali orang percaya yang telah menemukan bahwa mereka lebih diberkati ketika hidup dari 90% penghasilan mereka (atau 80% atau lainnya) daripada 100%.
a. Persepuluhan dipraktekkan sebelum diberikannya Hukum Musa. Abraham adalah orang pertama yang tercatat memberikan persepuluhan (Kejadian 14:18-20). Dia tidak memberikan persepuluhan karena diharuskan oleh Hukum; dia memberikan persepuluhan untuk menghormati Allah melalui perwakilan Allah, yaitu raja/imam Melkisedek. Yakub melanjutkan praktek persepuluhan (Kejadian 28:20-22). Jadi kita lihat bahwa persepuluhan bukanlah sesuatu yang bermula dari Hukum Musa. Persepuluhan adalah suatu prinsip yang telah dimengerti oleh umat Allah sejak permulaan waktu.

b. Persepuluhan dipratekkan di bawah Hukum Musa. Di bawah Hukum Musa, bahkan ada persepuluhan ganda. Orang Israel diharuskan untuk memberikan 10% dari semua hasil mereka (Bil. 18:24-28; Neh. 10:38), dan tambahan lagi mereka diharuskan membawa persembahan ke hari raya tahunan (disebut persepuluhan kedua atau persepuluhan hari raya) (Ul. 14:22-25). Orang Israel juga diharuskan untuk memberi kepada orang-orang miskin (Kel. 23:11; Im. 19:10; 23:22).
Maleakhi 3:8-12

(1)
Allah mengatakan bahwa mereka yang menahan persepuluhan sedang menipu Dia. Ini karena di bawah Hukum Musa, Allah memerintahkan persepuluhan dan persepuluhan adalah milikNya. Entahkah seseorang percaya bahwa persepuluhan secara persis adalah suatu keharusan di Perjanjian Baru, yang jelas orang percaya memiliki banyak kewajiban finansial di jemaat lokal, dan gagal memenuhinya sama saja dengan menipu Allah.

(2)
Allah berjanji untuk memberkati mereka yang memberikan persepuluhan. Orang percaya bisa menjalani hidup dengan jauh lebih baik jika ia memberikan persepuluhan dan persembahan, dan hidup dari sisanya, daripada jika ia tidak memberikan kepada Allah dan mencoba untuk hidup dari 100% penghasilannya. Ribuan orang percaya telah belajar bahwa Allah sungguh memberkati mereka yang memberikan persepuluhan. Ketika Allah berkata bahwa Ia akan menghardik belalang pelahap, itu berarti Ia tidak akan membiarkan hal-hal tertentu terjadi yang akan menghabiskan uang kita. Ini bukan berarti bahwa orang yang mengembalikan persepuluhan itu tidak pernah akan mengalami kesulitan, atau bahwa atap mereka tidak akan pernah bocor, atau alat-alat mereka tidak pernah akan rusak, atau anak-anak mereka tidak akan pernah sakit. Tetapi artinya adalah bahwa ada banyak hal yang bisa saja terjadi, tetapi dihentikan dan tidak terjadi karena berkat Allah.
(3) Persepuluhan seharusnya dibawa masuk ke rumah perbendaharaan. Dalam Perjanjian Lama, rumah penyimpanan ini adalah Bait di Yerusalem. Hari ini, jemaat lokal adalah rumah tangga (keluarga) Allah (1 Tim. 3:15). Di jemaat pertama (di Yerusalem), umat membawa pemberian mereka dan meletakkannya di bawah kaki para pemimpin (Kis. 4:34-35). Ini adalah teladan bagi kita hari ini. Jemaat memiliki lebih banyak tugas daripada Bait Perjanjian Lama. Jemaat lokal telah diperintahkan untuk memberitakan Injil ke ujung bumi (Mat. 28:18-20). Ini adalah pekerjaan yang sangat memakan biaya, dan hal ini ditanggung oleh umat Allah. Para pemberita Injil seharusnya didukung oleh jemaat-jemaat (1 Kor. 9:14; Tit. 3:13-14; 3 Yoh. 1:5-8).
Amsal 3:9-10
(1) Orang tua sebaiknya mengajari anak-anaknya bagaimana memberikan persepuluhan. Perhatikan ayat 1, dan kita menyadari bahwa pasal ini berisikan instruksi dari seorang ayah kepada putranya. Orang tua tidak bisa mengajarkan persepuluhan kepada anaknya jika mereka sendiri tidak pertama-tama memberikan persepuluhan. Ketika orang tua mengajari anaknya persepuluhan, pertama-tama mereka memberikan kepadanya sejumlah kecil uang untuk dia masukkan ke kantong persembahan tiap minggu. Ketika anak itu mendapat uangnya sendiri, tidak peduli sekecil apapun, orang tua mengajari dia untuk memberikan 10% kepada Allah. Ketika persepuluhan menjadi kebiasaan sejak kecil, akan mudah untuk melanjutkannya pada saat dewasa. Pada bulan Oktober 2012, ada kejadian yang menggegerkan banyak orang. Baylor Bonham, seorang anak lelaki 11 tahun dari Oklahoma, mengatakan bahwa ia akan memberikan persepuluhan dari uang $106.000 yang ia peroleh hasil penjualan banteng kesayangannya. Tetapi ia memang sudah memberikan persembahan sejak kecil dan ini sudah menjadi prinsip dan suatu sukacita dalam hidupnya. Ketika ia memenangkan $27.000 tahun sebelumnya, pada usia 10 tahun, ia memberikan sebagiannya ke pelayanan pemuda di gerejanya.

(2)
Persepuluhan seharusnya diberikan dari "segala penghasilanmu" (Ams. 3:9). Ini berarti bahwa kapan saja kita menerima atau mendapatkan uang, kita perlu memberikannya persepuluhan kepada Tuhan dari hasil itu.
(3) Allah berjanji untuk memberkati orang yang mengembalikan persepuluhan. Janji ini diulang-ulang di dalam Kitab Suci karena Allah ini menekankan kepastiannya. Kita bisa mempercayai Firman Allah!
Hagai 1:6-9
Di sini Allah memperingatkan umatNya bahwa karena mereka telah melalaikan pembangunan rumahNya setelah kembali dari pembuangan Babilon, maka mereka tidak mendapatkan berkatNya. Mereka bekerja dan mencoba untuk sukses, tetapi Allah melubangi pundi-pundi uang mereka! Jika kamu mendapatkan $100, jauh lebih bijak untuk menghormati Allah dengan persepuluhan atau lebih, dan menaruh $90 atau $80 di kantong yang tidak berlubang, daripada mengejek Allah dan menyimpan semuanya untuk dirimu sendiri, sementara menaruhnya di kantong yang berlubang.

c. Beberapa ayat Perjanjian Baru tentang persepuluhan/memberi
Matius 23:23
Banyak orang yang tidak mau mengembalikan persepuluhan memakai alasan bahwa persepuluhan tidak ada dalam Perjanjian Baru. Tetapi sebenarnya ini tidak tepat. Yesus ada menyebut persepuluhan dalam Matius 23:23. Ia memarahi orang-orang Farisi yang memberikan persepuluhan tetapi mengabaikan hal-hal lain dalam Hukum Tuhan. Solusi yang Yesus tekankan bukanlah menghilangkan persepuluhan, tetapi bahwa keduanya perlu dilakukan.
Kembali akan ada yang berkata bahwa Yesus mengucapkan ini kepada orang-orang Farisi yang sedang hidup di bawah Taurat, sehingga persepuluhan tidak berlaku untuk orang Kristen. Tetapi perhatikan bahwa Tuhan Yesus tidak pernah malu-malu untuk menyatakan Sabat tidak lagi berlaku, bahkan ketika berbicara kepada orang Farisi. Sebagai contoh adalah Markus 2:27-28 "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat;" dan Yohanes 5:18, "Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat." Jadi, Yesus tidak malu-malu untuk menyatakan bahwa Sabat tidak lagi berlaku kepada orang Kristen. Jika memang Yesus juga meniadakan persepuluhan, kenapa tidak dikatakan dengan jelas? Faktanya, tidak ada satu pun ayat dalam Perjanjian Baru yang meniadakan persepuluhan.
Lukas 6:38
Di sini Yesus menyatakan suatu janji yang sangat indah berkaitan dengan memberi. Di ayat ini Tuhan kita tidak berbicara secara khusus mengenai perspuluhan, tetapi tentang memberi secara umum. Allah menyukai pemberi yang memberi dengan sukacita. Hal ini adalah sesuatu yang Tuhan perhatikan, dan Ia memberkati dengan berlimpahnya.
1 Korintus 16:1-2
Dalam perikop ini, kita melihat bahwa orang-orang percaya di jemaat-jemaat abad pertama menjalankan persembahan ketika mereka berkumpul di hari pertama suatu minggu. Persembahan yang khusus dibicarakan Paulus adalah suatu persembahan khusus yang sang Rasul sedang kumpulkan untuk orang-orang Kristen di Yerusalem yang sedang menderita karena kelaparan (Roma 15:26). Bahkan dalam kasus inipun, Paulus mengajar mereka untuik memberi "sesuai dengan apa yang kamu peroleh." Ini berarti bahwa orang Kristen sepatutnya memberi secara proporsional dengan penghasilannya. Ini adalah prinsip yang sama dengan persepuluhan. Mereka yang mendapat lebih banyak memberi lebih banyak.
2 Korintus 9:6-7
Perikop ini sekali lagi mengacu kepada persembahan khusus yang Paulus sedang kumpulkan untuk orang-orang percaya di Yerusalem.
Kita melihat bahwa ada persembahan sukarela, yang berarti bahwa setiap orang percaya membuat keputusannya sendiri mengenai berapa banyak yang akan ia beri (2 Korintus 9:7).
Paulus menegaskan bahwa Allah berjanji akan memberkati semua pemberian mereka.

d. Persepuluhan harus dilakukan dengan konsep yang benar
Bisa saja seseorang memberikan persepuluhan, tetapi dengan konsep yang salah. Memberikan persepuluhan dengan konsep yang benar adalah sangat penting, apalagi di zaman Perjanjian Baru, zaman penyembahan di dalam Roh dan kebenaran.
Adalah salah jika menganggap persepuluhan sebagai semacam "pajak" rohani. Pajak adalah sesuatu yang memberatkan. Tuhan ingin agar orang percaya memberi dengan sukacita, dan dengan kerelaan hati (2 Kor. 9:7).
Adalah salah untuk menganggap bahwa 10% adalah milik Tuhan dan 90% adalah milik saya. Sebenarnya seluruh hidup orang percaya adalah milik Tuhan (Roma 12:1; Gal. 2:20). Jadi, termasuk, seluruh harta dan uang orang percaya adalah milik Tuhan yang Tuhan percayakan kepada anak-anakNya. Dari Firman Tuhan, kita tahu bahwa Tuhan ingin kita menaruh minimal 10% dari harta yang Ia percayakan itu, ke tiang penopang dan dasar kebenaran (Israel/Bait Suci di PL dan jemaat lokal di PB). Sisanya, tetap adalah milik Tuhan yang kita kelola. Jadi, orang percaya tidak boleh sembarang menggunakan uang"nya" apalagi untuk berdosa. Dengan penuh doa, ia menggunakan uang"nya" dengan bijak.
Adalah salah untuk berpikir bahwa memberi persepuluhan adalah semacam sogok kepada Tuhan, sehingga seseorang bebas untuk "berdosa" asal ia membayar persepuluhan. Tuhan tidak berkenan kepada persembahan lebih daripada ketaatan! Baca 1 Samuel 15:22-23.
Adalah salah untuk berpikir bahwa persepuluhan adalah satu-satunya persembahan yang perlu diberikan. Di dalam Perjanjian Lama, orang Israel memberikan persepuluhan, dan juga sering memberikan persembahan khusus, misalnya ketika ada pembangunan Kemah Suci, dan peristiwa-peristiwa lainnya. Persepuluhan adalah permulaan yang baik, tetapi jangan stop dengan persepuluhan. Justru semakin kita belajar memberi kepada Tuhan, semakin kita dimampukan untuk memberi lebih dan lebih lagi. Tidak ada yang lebih baik daripada ketika Tuhan berkenan untuk memakai kita sebagai saluran berkatNya, untuk pekerjaanNya di bumi ini. Saluran berkat tidak akan kekurangan berkat.
Adalah salah untuk memberikan persepuluhan dengan motivasi "investasi duniawi," mengharapkan berkat materi dalam jangka waktu pendek. Tuhan memang berjanji akan memberkati orang yang memberikan persepuluhan, tetapi janganlah mengukur berkat Tuhan secara materi belaka. Persepuluhan seharusnyalah diberikan dengan motivasi utama cinta akan Tuhan, dan cinta akan pekerjaan Tuhan. Berkat akan diurus oleh Tuhan pada waktuNya.

e. Persepuluhan harus dilakukan dengan iman
Satu-satunya cara untuk melakukan persepuluhan dengan efektif adalah untuk melakukannya dengan iman. Kita harus percaya akan janji-janji Allah bahkan di masa-masa yang sulit. Dan kita harus ingat bahwa Allah menguji iman untuk melihat apakah itu iman sejati, dan untuk membuat iman itu semakin kuat (Yak. 1:2-4). Banyak kali ketika seorang Kristen memutuskan untuk mulai memberi persepuluhan, ia akan terkena masalah keuangan untuk menguji keputusannya itu.
John R. Rice bercerita tentang seorang penginjil bernama Kuykendahl di Texas pada awal abad ke-20. Dia memiliki pelayanan khotbah keliling dan persembahan yang ia dapatkan sangatlah kecil, sehingga keluarganya yang besar mengalami masa yang sulit. Satu tahun, seorang pebisnis yang kaya berkunjung ke daerah itu untuk membagikan kesaksiannya di beberapa gereja, dan penginjil Kuykendahl adalah tuan rumahnya, mengantarkan dia dari kebaktian ke kebaktian di kereta kudanya. Di antara hal-hal lain, si pebisnis menantang orang-orang untuk memberikan persepuluhan. Ketika mereka berperjalanan satu hari, pebisnis itu bertanya kepada sang penginjil apakah ia percaya akan persepuluhan.
Ia menjawab, "Ya, saya akan senang sekali memberikan persepuluhan, tetapi saya sangat miskin dan harus membiayai keluarga saya yang besar."
Pebisnis itu menjawab, "Saya akan memberikanmu suatu penawaran. Jika kamu mau persepuluhan untuk satu tahun penuh, saya akan menjaminmu. Jika pada suatu waktu, kapan saja selama tahun ini, kamu mendapatkan bahwa kamu tidak bisa memenuhi kewajiban keuanganmu, dan tidak ada lagi tempat lain untuk berpaling, hubungi saja saya, dan saya akan mengirimkan uang yang diperlukan. Saya seorang yang kaya, dan saya seorang yang tepat janji."

Kuykendahl
menjawab dengan antusias, "Saya akan dengan senang menerima tawaran ini."
Sang penginjil menepati janjinya dan memberikan persepuluhan dengan setia, tetapi ia tidak pernah perlu menghubungi si pebisnis. Pada akhir dari 12 bulan, penginjil itu merenungkan apa yang terjadi. Allah telah memberkati dia dengan berlimpah tahun itu dan telah memenuhi semua keperluan. Orang-orang memberikan banyak barang kepadanya, lebih dari sebelumnya, dan keluarganya merasakan banyak berkat khusus. Sambil dia memikirkan hal-hal ini, hatinya tiba-tiba terpukul, ketika ia menyadari bahwa ia telah mempercayai kata-kata seorang pebisnis, tetapi ia tidak rela mempecayai Firman dari Allah yang hidup, yang telah memberikan janji yang lebih hebat!

f. Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa persepuluhan tidak berlaku bagi orang percaya Perjanjian Baru?
(1) Ingat bahwa persepuluhan sudah ada sebelum Hukum Musa. Jadi, bukanlah karena Hukum maka Abraham memberi persepuluhan; ia memberi persepuluhan karena ia ingin menghormati Allah dan mendukung pekerjaan Allah yang diwakili oleh Melkizedek. Ini adalah contoh yang baik bagi orang-orang percaya Perjanjian Baru, karena kita adalah anak-anak Abraham melalui iman (Roma 4:16-17).

(2)
Perjanjian Lama diberikan untuk menjadi contoh bagi kita (Roma 15:4; 1 Kor. 10:11). Paulus menggunakan sistem Musa tentang memberi sebagai otoritas bagi pengajarannya bahwa orang-orang percaya Perjanjian Baru harus mendukung para pengkhotbah Injil (1 Kor. 9:8-14).
(3) Tidak ada ayat PB yang menghapuskan persepuluhan. Ada ayat yang menyebut persepuluhan sebagai sesuatu yang harus dilakukan (Mat. 23:23). Ada ayat yang mengilustrasikan prinsip persepuluhan dalam jemaat-jemaat PB, yaitu 1 Korintus 16:2, "...hendaklah kamu masing-masing sesuai dengan apa yang kamu peroleh menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah..." Persembahan orang percaya PB diinstruksikan agar "sesuai dengan apa yang kamu peroleh," artinya berbanding lurus dengan penghasilan. Orang dengan penghasilan banyak, memberi banyak. Tetapi berapa persen-kah yang sebaiknya diberikan? Minimal 10% sudah menjadi teladan orang percaya dari zaman Abraham hingga hari ini.
(4) Persepuluhan di dalam Perjanjian Lama bukanlah sekedar suatu perintah seremonial atau simbolik. Persepuluhan memiliki fungsi yang sangat penting dan praktis: terpeliharanya bani Lewi, keimamatan Harun, dan Bait Suci. Jadi, persepuluhan bukanlah perintah seremonial atau simbolik yang hilang oleh kedatangan Kristus. Memang, di PB tidak ada lagi bani Lewi, dan semua orang percaya adalah imam. Tetapi, Bait Suci yang adalah pusat tiang penopang dasar kebenaran di PL, kini digantikan oleh jemaat-jemaat lokal di PB. Jadi, persepuluhan tetap memainkan fungsi praktis dan penting di PB.
(5) Adalah kehendak Kristus yang dinyatakan jelas bahwa umatNya menjadi umat yang pemberi (Lukas 6:38). Banyak orang yang saya temui yang "tidak percaya persepuluhan" adalah orang-orang yang kikir. Mereka tidak mau menarik beban yang sepatutnya di dalam jemaat. Kekikiran dan kepelitan tidak seharusnya menjadi ciri khas seorang anak Allah. Bahkan jika engkau tidak percaya bahwa persepuluhan adalah hukum yang diharuskan, engkau seharusnya tetap malu jika menyimpan lebih dari 90% penghasilanmu untuk dirimu sendiri, mengingat besarnya kebutuhan pekerjaan Allah di dunia sekarang ini. Saya harus menambahkan bahwa tidak semua orang yang tidak percaya persepuluhan itu pelit. Tetapi, biasanya orang yang menentang persepuluhan adalah karena ia tidak mau memberi sampai 10%, sedangkan orang yang rela memberi lebih dari 10% biasanya tidak masalah dengan persepuluhan.

(
6) Orang percaya memiliki banyak kewajiban finansial. Amanat Agung adalah suatu kewajiban. Kita diperintahkan untuk membawa Injil ke setiap orang di setiap bangsa (Mar. 16:18; Kis. 1:8). Ini disebut sebagai "Amanat Agung" Kristus karena diulang lima kali dalam Perjanjian Baru, jadi ada penekanan pada pentingnya hal ini. Pemberitaan Injil ke seluruh dunia terhubung intim dengan kematian Kristus, karena penderitaan Kristus bagi dosa manusia menjadi tidak efektif jika Injil tidak diberitakan (Luk. 24:46-47). Misi memenangkan dunia adalah tugas yang mahal. Setiap orang percaya memiliki kewajiban untuk melakukan apa yang ia bisa untuk memajukan tugas ini, termasuk memberitakan Injil secara pribadi, berdoa, dan juga memberi. Menyokong para pengkhotbah dan penginjil adalah suatu kewajiban (1 Kor. 9:14; Fil. 4:15-17; Tit. 3:13-14; 3 Yoh. 1:5-8). Jemaat lokal adalah suatu kewajiban. Jemaat adalah tiang penopang dan dasar kebenaran untuk zaman ini (1 Tim. 3:15). Jemaat adalah markas penginjilan dunia (Kis. 14:1-4). Jadi, setiap orang percaya memiliki kewajiban untuk menyokong jemaat lokal secara finansial sehingga jemaat bisa melaksanakan fungsinya yang diberikan Tuhan bagi dunia yang sangat memerlukan ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar