Kamis, April 25, 2013

SEMBARANGAN MENUDUH ORANG LAIN SESAT

Sembarangan menuduh orang lain sesat. Kita tidak bisa menerima perbuatan demikian. Ini adalah perbuatan yang sangat tidak terpuji. Bahkan ini adalah perbuatan seorang pengecut yang tidak intelek. Orang Kristen lahir baru seharusnya tidak melakukan perbuatan demikian. Bagaimanakah seseorang boleh menuduh orang lain sesat tanpa alasan yang jelas? Bukankah orang Kristen harus saling mengasihi, lalu mengapa ada orang yang menuduh orang lain sesama Kristen sesat? Dan bukankah ada firman Tuhan yang mengajar kita untuk tidak menghakimi orang lain?

Logika Dalam Memfitnah atau Mengajar
Orang yang berhikmat tidak akan sembarangan menuduh orang lain sesat. Bahkan menuduh orang lain sesat tanpa alasan adalah sebuah fitnah. Petugas kepolisian tidak boleh sembarangan menangkap orang, dan anggota kejaksaan tidak boleh sembarangan menuntut orang, apalagi seorang hakim, tentu ia tidak boleh sembarangan memutuskan perkara yang disidangnya. Semua itu harus dilakukan atas dasar yang kuat, berdasarkan pada bukti-bukti atau saksi-saksi.

Orang yang menyatakan bahwa dua tambah dua sama dengan lima itu salah harus sanggup membuktikan bahwa yang benar dua tambah dua adalah empat, bukan lima. Ketika ia sanggup membuktikan bahwa dua ditambah dua sama dengan empat, maka orang tersebut bukan pemfitnah melainkan seorang guru yang patut dihormati dan dihargai. Ketika orang-orang berpendapat bahwa kota Washington DC ada di Amerika Latin, lalu seseorang datang mengatakan bahwa pendapat itu salah, yang benar kota Washington DC itu di Amerika Serikat, dan ia sanggup membuktikan dengan membuka peta dunia serta menunjukkan letak kota Washington DC, maka ia bukan pemfitnah melainkan seorang guru yang patut dihormati dan dihargai.

Seorang dosen mengajar di depan kelas, beberapa minggu kemudian ia mengedarkan kertas ulangan (tes). Mahasiswanya menjawab dengan susah payah. Jawaban dari mahasiswa yang puluhan orang itu beraneka ragam. Selanjutnya dosen harus membuat penghakiman, jawaban yang dianggapnya benar dan yang dianggapnya salah. Mustahil sekali seseorang bisa menjadi guru atau dosen dengan tidak menjadi hakim atas murid-muridnya.

Pembaca pasti dapat membedakan antara seorang pemfitnah dengan seorang guru, bahkan seorang pahlawan kebenaran. Tuhan Yesus berkata dalam Injil Matius, "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang ka-mu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu (Mat.7:1-2). Boleh menghakimi asal siap dihakimi, itu maksud Tuhan.

Sikap “Orang Lain Tidak Boleh Benar”
Tuhan sama sekali tidak pernah melarang orang menghakimi, namun Tuhan memarahi orang-orang yang mau menghakimi orang lain sambil dirinya sendiri tidak senang ketika ia dihakimi orang dengan ukuran yang sama. Misalnya ketika Martin Luther dengan gagah perkasa memakukan poin-poinnya di gerbang gereja Wittenberg untuk memprotes Gereja Roma Katolik, maka baik Luther maupun pengikutnya harus rela dan bersedia diprotes juga oleh orang lain. Dan kelompok gereja apapun juga, harus bersikap kalem, dan tetap berkepala dingin ketika diprotes atau dinyatakan salah oleh pihak manapun.

Jadi, bolehkah seseorang memprotes pengajaran sebuah gereja yang dinilainya menyimpang dari ayat-ayat Alkitab? Apakah Martin Luther telah membuat kesalahan besar atau sebaliknya ia adalah seorang pahlawan kebenaran? Ada yang menjawab, “Alkitab kan ditafsirkan manusia dan hasilnya berbeda-beda.” Pembaca yang bijak, itu juga yang dikatakan oleh Gereja Roma Katolik dalam menanggapi Martin Luther, dan Gereja Roma Katolik berprinsip bahwa selain Gereja Roma Katolik orang lain tidak boleh menafsirkan Alkitab. Pada zaman pelaksanaan Inquisisi, siapapun yang ditemukan membaca Alkitab maka selanjutnya Anda tidak akan bertemu dengannya lagi.

Tercatat di dalam sejarah, pada tahun 1618, pernah terjadi perdebatan di Dort, Belanda, antara Kalvinis dan Arminianis, yang berlangsung selama 6 bulan, dengan 154 sesi pertemuan. Sebenarnya kelompok Arminianis yang menang. Namun sesudah perdebatan, 200 Gembala (pastor) dari pihak Arminian dipecat, dan pemimpin mereka, Grotius akan ditangkap tetapi untung ia berhasil melarikan diri, sementara pemimpin yang lain, Oldenbarnevelt dipenggal. Kelompok Kalvinis berhasil memenangkan keberpihakan pangeran Maurich dan atas kekuasaannya kelompok Armenianis dianiaya.. (En.Wikipedia-History of Calvinist-Arminian debate).

Dalam sejarah, ada banyak pemimpin denominasi yang mengambil sikap seperti Gereja Roma Katolik dan Calvinis. Mereka membangun sikap tidak toleran terhadap kebebasan berpikir dan kebebasan menafsirkan Alkitab. Maksud mereka adalah bahwa orang lain tidak boleh menafsirkan Alkitab, melainkan hanya mereka saja. Mereka bersikap bahwa mereka adalah yang paling benar dan orang lain tidak boleh benar. Mereka tidak mau mendengarkan orang lain. Mereka juga tidak mau membaca tulisan orang lain yang tidak persis sama dengan pengajaran mereka.

Mereka marah sekali ketika ada orang yang mencoba menyatakan bahwa pengajaran mereka salah. Tentu mereka tidak mau mengintrospeksi untuk melihat, apakah benar pengajaran mereka salah? Mereka menganggap bahwa pengajaran mereka adalah yang paling benar, sambil tidak memperbolehkan ada pihak yang mengatakan diri mereka benar. Jadi, sesungguhnya mereka menganut sikap “orang lain tidak boleh benar.” Dan pengikut mereka tidak diperbolehkan membandingkan pengajaran mereka dengan pengajaran lain.

Misalnya, pengikut kelompok Saksi Jehovah diindoktrinasi bahwa tidak ada satu orang pun yang bisa menafsirkan Alkitab dengan benar selain tujuh orang dewan pimpinan mereka yang telah diurapi di Broklyn Heights. Karena prinsip ini maka ketika GRAPHE menantang mereka untuk berdebat, tidak ada satu pun pemimpin mereka di Indonesia yang berani dan diizinkan untuk mewakili Saksi Jehovah. Karena pemimpin tertinggi di Indonesia pun telah diindoktrinasi bahwa ia tidak bisa menafsirkan Alkitab secara independen.

Sikap Percaya Bahwa Kita Benar
Sikap percaya bahwa kita benar itu berbeda dengan Sikap Orang Lain Tidak Boleh Benar. Semua orang yang jujur dan setia harus percaya bahwa ia sedang mempercayai sesuatu yang benar dan ia sedang mengajarkan kebenaran. Jika sambil mengajar orang lain, dirinya sendiri tidak yakin bahwa yang sedang ajarkan adalah yang paling benar, maka itu bisa disebut plin-plan bahkan bisa dituduh ingin menipu. Karena kalau dirinya sendiri saja tidak yakin pengajarannya benar, lalu ia berusaha meyakinkan orang bahwa itu benar, bukankah ini adalah sebuah sikap munafik dan plin-plan?

Kita harus yakin bahwa pengajaran kita benar, sambil kita mengamati pengajaran orang lain. Jika pengajaran orang lain tidak lebih benar dari pengajaran kita, maka kita katakan bahwa pengajaran itu salah. Namun jika pengajaran orang lain ternyata lebih benar daripada pengajaran kita, maka dengan jujur kita nyatakan bahwa pengajaran orang lain itu benar.

Yakin bahwa pengajaran kita benar, namun tidak marah kepada orang lain yang mengajarkan sesuatu yang berbeda dengan pengajaran kita adalah sikap yang sepatutnya. Kita tidak boleh marah ketika orang lain menyatakan pengajaran kita salah. Ketika kita mendengar orang lain menyatakan bahwa pengajaran kita salah, maka kita harus dengan rendah hati memeriksa pengajaran kita. Siapa tahu ternyata pernyataan orang tersebut benar, bahwa pengajaran kita salah. Tetapi jika setelah kita periksa dengan seksama serta membandingkan pengajaran kita dengan pengajaran orang tersebut dan ternyata pengajaran kita lebih memiliki dasar Alkitab serta lebih sesuai dengan kerja akal-sehat, tentu tidak salah bagi kita untuk mengajak yang bersangkutan untuk berdialog, bertukar argumentasi atau berdebat. Dan tentu dalam berargumentasi harus sangat sopan untuk membuktikan bahwa kita adalah orang yang telah lahir baru, yang di dalamnya terdapat Roh Kudus. Kalau kita kalah dalam bertukar argumentasi, tidak boleh marah, apalagi mengacam orang.

Pandangan dan Sikap GRAPHE
Graphe sangat percaya bahwa doktrin yang diyakini dan diajarkannya adalah yang sesuai dengan Alkitab dan akal sehat. Atas keyakinan ini maka baik Rektor GITS, Gembala-gembala, Penginjil-penginjil, dan Guru-guru menyampaikan keyakinan mereka sedemikian percaya diri.

Oleh karena rasa percaya diri dan keinginan yang gigih untuk membagikannya kepada orang lain, oleh pihak tertentu dilihat sebagai sombong. Bahkan mungkin karena pengajaran GRAPHE yang jujur dan tegas sehingga ada pihak yang merasa terpojok. Yang merasa terpojok dapat diprediksi biasanya akan marah-marah sebelum berpikir jernih.

Padahal GRAPHE selalu berusaha untuk menyampaikan doktrin yang diyakininya dengan cara yang selembut mungkin namun setegas mungkin artinya tidak ada ruang sedikit pun untuk berkompromi. Tentu ini adalah posisi yang sangat sulit, yaitu di satu sisi kita ingin menjadi teman semua orang, namun di sisi lain kita harus mematuhi Tuhan untuk menyampaikan kebenaran yang seutuh-utuhnya.

1 Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya: 2 Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. 3 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. 4 Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. (2 Tim 4:1-4 )

Pembaca yang terkasih, menurut Anda nubuatan Rasul Paulus di atas, itu sedang terjadi sekarang atau masih ratusan tahun lagi? Waktu orang tidak dapat menerima ajaran sehat itu sedang terjadi atau masih ratusan tahun lagi? Masa orang mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan telinganya itu sedang terjadi atau masih ratusan tahun lagi? Apakah saat orang memalingkan telinga dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng (kesaksian) itu sedang terjadi atau masih lama lagi?

GRAPHE berusaha mematuhi firman Tuhan, menyampaikan kebenaran yang diketahuinya dengan jujur dan penuh rasa takut kepada Tuhan. GRAPHE tidak sembarangan menuduh orang lain sesat. Kami mengadakan seminar secara akademik dan menarik kesimpulan. Setelah melalui penjelasan panjang lebar, biasanya berlangsung satu hari penuh, bahkan banyak seminar yang berlangsung beberapa hari, akhirnya kesimpulan ditarik, dan ternyata ada pihak yang harus disimpulkan telah salah bahkan sesat. Kesimpulan itu adalah kebenaran. Kemudian kami menyampaikan kebenaran itu dengan penuh kasih, sambil menghimbau untuk mengikuti pengajaran yang benar.

Graphe tidak bertindak kasar, bahkan tidak memakai kata-kata yang kasar. Kepada alumni GITS maupun jemaat, Dr. Liauw selalu mengingatkan untuk bersikap santun, sekalipun di internet. Jika ada orang yang memakai kata-kata makian, kita tidak boleh membalas mereka, melainkan dengan kasih menunjukkan fakta akan kesalahan-kesalahannya. Tentang fakta kesalahan dan kesimpulan doktrinal, GRAPHE tidak pernah dan tidak akan mundur satu langkah pun. GRAPHE bahkan bersiap membayar harga atas kebenaran yang dikumandangkannya dengan harga tertinggi, yaitu harga kepalanya. Kiranya sikap GRAPHE ini akan menyenangkan hati Tuhan. Halleluyah.***

Sumber: Dr. Suhento Liauw, Th.D dalam Jurnal Teologi PEDANG ROH 75 Edisi April-Juni 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar