Selasa, April 02, 2013

GEREJA ANDA TERMASUK KELOMPOK MANA?

Banyak orang bertanya, “Mengapakah di dunia ada begitu banyak denominasi gereja? Manakah yang benar-benar sesuai dengan Alkitab? Apakah ada cara untuk mengetahui gereja yang benar dan yang salah? Bolehkah seseorang menilai sebuah gereja? Apakah ketika seseorang menilai sebuah gereja, itu disebut menghakimi? Apakah yang harus dilakukan seseorang agar terhindar dari jebakan gereja yang salah? Tentu masih ada banyak pertanyaan yang bisa muncul di kepala pencari kebenaran yang serius.

Jika seseorang tidak boleh mempertanyakan doktrin yang dipegang dan diajarkan oleh sebuah gereja, bagaimanakah orang itu bisa tahu bahwa ia sedang berada di gereja yang benar atau salah? Dan jika seseorang tidak memberi perhatian pada pengajaran (doktrin), dan tidak serius merenungkan pengajaran gerejanya, bagaimanakah ia bisa menyadari bahwa ia sedang berada di gereja yang benar atau salah? Jika seseorang tidak menelusuri pengajaran gerejanya, dan segala kebijakan gerejanya, bagaimana ia tahu bahwa gerejanya salah atau benar?

Banyak orang baru akan menyadari bahwa gerejanya adalah gereja yang salah setelah ia berada di Neraka. Dan itu tentu sudah sangat terlambat. Dan ada banyak orang Kristen membela gerejanya secara membabi buta tanpa pengertian padahal gerejanya adalah gereja yang tidak sesuai  dengan Alkitab. Bahkan ada kelompok gereja yang dengan sengaja merubah Alkitab dengan menerjemahkannya sesuai dengan alur penafsiran mereka.

Kalau demikian, betapa berbahayanya aktivitas beriman itu. Lalu, bolehkah seseorang berkata, kalau begitu lebih baik saya tidak mempercayai apapun karena beriman ternyata adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Bukankah tidak beriman itu lebih berbahaya, karena jika ada Allah Pencipta langit dan bumi, maka orang yang tidak beriman sudah pasti akan masuk Neraka?

Tetapi percaya ada Allah tidak berarti otomatis sudah pasti berada dalam kebenaran, karena lingkupnya masih terlalu luas. Kalau kita persempit, selain percaya adanya Allah, orang Kristen harus percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman Allah. Karena ketika seseorang percaya adanya Allah namun tidak percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman Allah, itu berarti orang tersebut percaya adanya Allah namun tidak mempercayai sebuah otoritas sumber informasi tentang Allah. Iman orang demikian bisa diibaratkan dengan sebidang tanah yang tidak ada batasannya yaitu yang masih berupa hutan belantara. Tanah yang bersertifikat tentu telah memiliki patok batas wilayah yang jelas.

Ada banyak kelompok yang percaya tentang keberadaan Allah. Yang imannya dibatasi Weda itu disebut Hinduisme, dan yang dibatasi Tripitaka disebut Budhisme, dan yang dibatasi Al Quran itu Muhammadisme. Sedangkan yang dibatasi oleh Alkitab itu adalah kekristenan.

Alkitab Satu-satuNya Firman Allah
Istilah alkitabiah sesungguhnya hanya berlaku bagi kelompok Kristen yang percaya Alkitab satu-satunya firman Allah. Karena jika ada kelompok Kristen yang mempercayai kitab lain sebagai firman Allah, maka kelompok itu tidak mungkin alkitabiah. Ketika bagi sebuah kelompok, Alkitab bukan satu-satunya ukuran kebenaran, maka kelompok itu bukan hanya tidak alkitabiah, bahkan tidak mungkin bisa dilakukan diskusi Alkitab dengannya.

Diskusi Alkitab itu hanya bisa dilakukan dengan kelompok yang mengakui Alkitab satu-satunya standar kebenaran. Pada saat kita berdiskusi dengan kelompok yang mempercayai Alkitab plus kitab lain sebagai firman Allah, maka jika terjadi ketidakseragaman pendapat, orang tersebut akan merujuk kitab lain sebagai landasan kesimpulannya. Contoh, ketika orang Kristen mengritik Katolik yang berdoa untuk orang yang telah mati, maka pihak Katolik menunjuk kitab Apokripa sebagai dasar mereka.

Tetapi terhadap kelompok yang mengakui Alkitab satu-satunya firman Allah, dapat dilakukan diskusi, adu argumentasi dan lain sebagainya. Sebaliknya jika ada penambahan atau pengurangan otoritas dasar maka tindakan diskusinya bukan pada kesimpulan yang dihasilkan melainkan pada masalah otoritas atau dasar manakah yang paling benar.

Keputusan, bahkan ketetapan, bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman Allah adalah mutlak bagi kekristenan. Dan orang yang berhikmat tahu persis bahwa Allah yang hikmatnya maha tinggi tidak mungkin tidak membatasi firmanNya.

Kita tahu bahwa program Allah dari penciptaan hingga masuk ke dalam kekekalan berlangsung secara berkesinambungan. Dan wahyu dari Allah bersifat progresif dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu. Kitab Kejadian adalah kitab yang Allah ilhamkan kepada Musa. Sedangkan kitab Wahyu adalah kitab yang Allah ilhamkan kepada Rasul Yohanes, dan itu adalah wahyu penutup. Ketika pewahyuan hingga kitab Maleakhi, itu belum merupakan wahyu terakhir dari Allah. Namun ketika pewahyuan sampai kitab Wahyu, itu adalah wahyu terakhir dari Allah. Jadi, Alkitab satu-satunya firman Allah adalah harga mati bagi gereja alkitabiah.

Berbagai Kesesatan Muncul
Sepeninggalnya para Rasul, para murid mengerti bahwa tulisan para Rasul adalah tulisan yang diilhami. Bahkan semua tulisan yang diketahui keberadaannya, artinya tulisan itu beredar selagi para Rasul masih ada, juga diyakini adalah literatur yang diilhami. Karena jika Rasul tidak menolaknya, itu artinya Rasul menyetujui isinya. Dan semua murid sepeninggal Rasul tahu bahwa kitab Wahyu adalah surat dari Rasul terakhir. Semua murid tahu bahwa Rasul Yohanes adalah Rasul terakhir dan penerima wahyu terakhir. Oleh sebab itu bagi jemaat awal, kitab PL yang telah baku dan telah diterima bahkan oleh Tuhan Yesus, adalah firman Allah. Ini mutlak dan absolut. Selain PL mereka tahu bahwa tulisan yang ada kaitannya dengan Rasul juga sama tingkatannya dengan kitab PL, yaitu firman Allah.

Jadi, murid-murid awal telah bertindak benar oleh pimpinan Roh Kudus bahwa firman Allah terdiri dari kitab-kitab PL dan kitab-kitab yang beredar dan berkaitan dengan Rasul, yaitu 27 kitab PB. Memang dalam sejarah, ada juga tokoh yang tidak menerima kitab tertentu, misalnya surat Yakobus yang dianggap bertentangan dengan surat Ibrani, padahal sama sekali tidak bertentangan, demikian juga dengan surat Yudas.

Namun baik surat Yakobus maupun surat Yudas, telah beredar selagi Rasul Yohanes masih hidup. Karena Rasul Yohanes tidak membantah kedua surat tersebut, maka tidak ada alasan untuk tidak menerima kedua surat yang telah beredar di kalangan orang Kristen sebagai tulisan yang diilhamkan Allah. Orang Kristen awal yang masih murni telah dipimpin Roh Kudus sehingga mengetahui persis bahwa Alkitab, dari Kejadian hingga Wahyu, adalah kanon tertutup, artinya tidak ada penambahan wahyu lagi. Proses pewahyuan dari Allah telah ditutup. Siapapun yang di kemudian hari mengklaim mendapat wahyu berupa penglihatan, suara, bahasa lidah atau apapun juga bentuknya, harus diyakini itu bukan dari Allah melainkan dari pihak musuh (setan) yang berusaha mengacaukan. Ini adalah prinsip utama kekristenan, dan ini adalah harga mati doktrin kekristenan serta fondasi yang kokoh kuat.

Namun kemudian tercatat dalam sejarah kekristenan ada sejumlah orang yang tidak mengerti kebenaran, telah menambahi dan mengurangi standar ukur kekristenan. Konstantin, sang Kaisar, yang sudah pasti adalah orang yang tidak mengerti kebenaran berhasil mengawinkan kekaisaran Romawi dengan gereja sehingga terbentuklah Gereja Roma Raya, atau Gereja Roma Universal atau Roma Katolik. Gereja Roma Katolik inilah yang pertama melanggar prinsip Alkitab kanon tertutup. Pemimpinnya tidak mengerti kebenaran karena tidak lahir baru. Mereka tidak lahir baru karena tadinya kekristenan dimusuhi negara, lalu tiba-tiba menjadi agama negara dan semua orang berbondong-bondong menjadi Kristen, sehingga terbentuklah Kristen-kristen tanpa pertobatan.

Kristen tanpa pertobatan yang bersekutu erat dengan pejabat negara itu kemudian menambahi standar kebenaran kekristenan. Mereka mengakui Alkitab PL dan PB sebagai firman Allah, namun menambahinya dengan kitab-kitab Apokripa, tradisi-tradisi gereja, dan keputusan pimpinan tertinggi mereka (paus). Kalau Apokripa, Tradisi, dan Keputusan Paus sejajar dengan kitab PL dan PB, pembaca bisa bayangkan tingkat kesesatan pengajaran yang mereka ajarkan.

Para Paus, banyak yang kehidupan moralnya luar biasa bejat, memiliki kuasa mengeluarkan dekrit yang otoritasnya setingkat Alkitab. Tak perlu heran kalau kemudian Gereja Roma Katolik menyimpang sangat jauh dari Alkitab. Pembaptisan yang tidak didasarkan pada pertobatan, misalnya pembaptisan bayi, secara gradual menambah jumlah anggota yang tidak lahir baru ke dalam gereja.

Jadi, karena tidak setia pada prinsip dasar kekristenan bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman Allah, maka gereja berubah menjadi barang aneh. Sistem penyembahan berhala diadopsi sehingga di gereja penuh patung berhala. Filosofi Yunani dengan dewa-dewi dikristenkan menjadi santo-santa. Padahal seharusnya setiap orang yang telah bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus adalah orang kudus, karena posisinya yang berdosa diambil alih Tuhan dan dia telah diberikan posisi kudus, milik Tuhan. Konsep santo-santa telah menjungkil-balikkan makna orang kudus yang alkitabiah.

Agama penyembahan Dewa Matahari (Ra) Mesir diadopsi juga. Misalnya lukisan-lukisan bayi Yesus, Yusuf dan Maria dengan kepala yang dilingkari sinar. Tindakan yang menyolok sekali adalah dijadikannya tanggal 25 Desember sebagai hari lahir Kristus. Padahal tanggal 25 Desember adalah hari penyembahan Dewa Matahari di Eropa. Padahal Yesus tidak pernah lahir pada bulan Desember, melainkan sekitar bulan Juni dan Juli. Dalam Luk.1:26 dikatakan bahwa Maria mulai hamil pada bulan ke enam (bulan Yahudi) yang dikonversi ke kalender kita adalah bulan September-Oktober, dan ia hamil 9 bulan, maka akan lahir sekitar bulan Juni-Juli. Lagi pula pada saat Yesus lahir ada gembala di padang yang dapat kita pastikan itu musim semi atau panas, demikian juga dengan acara sensus yang dapat dipastikan dilaksanakan pada musim panas bukan musim dingin.

Penyimpangan Gereja Roma Katolik dari Alkitab sangat hebat. Cyprian kemudian mengajarkan keselamatan oleh gereja bukan oleh iman kepada Yesus Kristus. Keselamatan oleh gereja diwujudkan melalui misa dan eukharisti, yaitu perjamuan yang mereka sebut kudus karena akan menguduskan pesertanya. Keselamatan melalui upacara, baptisan bayi, dan sistem organisasi gereja yang berbeda dari ketentuan Alkitab.

Puncaknya ialah ketika mereka memerlukan uang untuk pembangunan katedral di Roma. Paus memerintahkan agar kepada orang yang menyumbang jumlah tertentu, imam Katolik mendoakan agar dosa mereka diampuni, dan mereka diberi semacam sertifikat, tanda telah menyumbang dan dosa mereka telah diampuni. Tindakan ini membuat Martin Luther shock karena itu sama dengan menjual surat pengampunan dosa.***

Sumber: Suhento Liauw, Th.D dalam Jurnal Teologi PEDANG ROH 74 Edisi Jan-Maret 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar