Rabu, Desember 11, 2013

Sakitnya Kehilangan Kesenangan

Setiap orang berusaha untuk hidup berkenan di hadapan Tuhan akan mengalami "sakit" nya ketika harus melakukan keinginan Bapa dan membunuh keinginan sendiri. Proses melepaskan kesenangan sendiri ini dimulai dari hal-hal sederhana yang tidak sulit untuk dilepaskan. Tapi pada akhirnya ia harus melepaskan kesenangan yang sudah menyatu dengan dirinya, yaitu kesenangan yang seharga dengan nyawa atau hidupnya. Kesenangan-kesenangan yang tidak mudah bisa dilepaskan. Kesenangan itu bisa berupa seseorang atau sesuatu, kekayaan, kehormatan, kedudukan, kenikmatan makan minum atau pesta, libido seks, hobby, perhiasan, model pakaian dan lain sebagainya. Kesenangan yang paling dianggap tidak melanggar kehendak Tuhan adalah hidup wajar seperti manusia lain. Sebenarnya itu juga kesenangan yang harus dilepaskan. Kehidupan sebagai anak-anak Tuhan adalah kehidupan yang tidak wajar menurut dunia, kehidupan yang tidak memiliki kesenangan selain menyukakan hati Allah Bapa. Kesenangan-kesenangan hidup ini menjadi seperti wilayah dalam kerajaannya yang tidak akan diserahkan kepada pihak manapun. Melepaskan suatu kesenangan seperti mencabut nyawa. Sungguh sangat menyakitkan. Hal inilah yang membuat seseorang menahan diri untuk mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan secara benar. Dalam hal ini seseorang bisa membuktikan kecintaannya kepada Tuhan, yaitu ketika ia bersedia melepaskan segala sesuatu dan menjadikan Tuhan sebagai kesukaan hidupnya. Akhirnya tidak ada lagi kesenangan yang disisakan kecuali menyenangkan hati Tuhan. Orang-orang seperti ini di Alkitab katakan sebagai perawan suci yang tidak menajiskan diri dengan "pasangan lain", artinya tidak memiliki berhala (2 Kor. 11:2-3). Harus diingat bahwa orang yang tidak mengasihi Tuhan, adalah terkutuk.

Banyak orang merasa sudah mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan atau menyerahkan diri kepada-Nya dan merasa sudah meninggalkan kenyamanan. Padahal yang ditinggalkan hanyalah kesenangan-kesenangan kecil yang sangat mudah untuk dibuang. Di dalam kedalaman hatinya masih bertahta banyak kesenangan yang tidak terbaca oleh siapapun. Ia sendiri jangan-jangan tidak bisa mendeteksi karena selain tidak jujur terhadap dirinya sendiri, ia pun tidak memiliki kecerdasan untuk mengenalinya dengan baik. Kalau seseorang sungguh-sungguh berhasrat mau berkenan kepada Tuhan, maka Tuhan pasti membuka pikirannya untuk mengenali dirinya dengan benar. Tetapi kalau seseorang memang tidak berhasrat untuk itu, ia tidak akan pernah mengenali dirinya dengan benar dan tidak akan pernah berkanan kepada Tuhan.

Melepaskan suatu kesenangan seperti mencabut nyawa. Sungguh menyakitkan!
Seseorang bisa membuktikan kecintaannya kepada Tuhan, yaitu ketika ia bersedia melepaskan segala sesuatu dan menjadikan Tuhan sebagai kesukaan hidupnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar