Senin, November 14, 2011

Kristen Tak Perlu IMB Tempat Ibadah


BEDA KONSEP  ISLAM DENGAN KRISTEN
Kekristenan di  Indonesia, dan mungkin di seluruh negara Islam, terkontaminasi konsep  Islam. Semua  ini  akibat dari para pemimpin  Kristen  yang  tidak  paham tentang  hakekat  kekristenan  itu  sendiri. Bahkan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menerjemahkan  Ibrani  10:25,  dengan menambahkan  kata  “ibadah”  ke  dalam kalimat yang sesungguhnya tidak ada kata itu di dalam bahasa aslinya.
Orang Kristen harus  tahu bahwa kita sekarang  sudah  berada  di  Zaman  Ibadah Hakekat  (ZIH)  bukan  berada  di  Zaman Ibadah  Simbolik  (ZIS)  lagi.  Bahwa  kita berada di zaman menyembah dengan hati, bukan di zaman menyembah dengan  tubuh. Bahwa kita sudah berada di dalam zaman beribadah  secara  rohaniah  dan  bersifat kebenaran,  bukan  beribadah  secara  ritual dengan berbagai upacara  lahiriah.
Ibadah  simbolik  diperintahkan  sejak manusia jatuh ke dalam dosa. Orang berdosa  tidak  bisa masuk  Sorga  karena  Sorga adalah  tempat  yang  maha  kudus.  Orang berdosa juga tidak bisa menghampiri Allah yang maha kudus. Karena Allah maha adil, dosa  tidak  dapat  dihilangkan  begitu  saja melainkan  harus  dihukumkan.  Selanjutnya agar masalah dosa Adam dan Hawa selesai, mereka harus mengaku  salah dan menyesal  serta menerima penghukuman. Sifat  Allah  yang  maha  suci  tidak  bisa dihampiri  dosa,  dan  sifatNya  yang maha adil menuntut penghukuman. Dan sifatNya yang maha kasih mendorongNya menjadi Juruselamat untuk menyelamatkan manusia.  Tentu  keselamatan  yang  datang  dari Allah  tidak  akan  bahkan  tidak  boleh bertentangan  dengan  sifat  Allah.  Kalau bertentangan, maka  itu  pasti  bukan  jalan keselamatan dari Allah.
Adam harus bertobat (mengaku salah dan menyesal), dan dosa Adam harus dihukumkan. Karena kasihNya, Allah menjanjikan Juselamat yang akan dapat meremukkan kepala ular sekalipun  tumitnya  terpatuk. Selanjutnya penyelamat ini digambarkan melalui sebuah prosesi simbolik sederhana, yaitu menyembelih binatang korban di atas mezbah. Intinya, Juruselamat akan diutus  untuk  dihukumkan  menanggung dosa  seisi dunia.
Ibadah simbolik sederhana, yaitu menyembelih binatang korban di atas mezbah, sesungguhnya adalah sebuah upacara simbolik yang Allah perintahkan kepada manusia  untuk mengingatkan manusia  pada janjiNya untuk mengirim Juruselamat yang akan  dihukumkan  bagaikan  binatang korban yang disembelihkan. Sayang sekali banyak  kelompok  tidak  memahaminya. Sebagian besar orang Yahudi tidak memahaminya,  dan  orang  Muslim  juga  tidak memahami makna  kambing  korban  yang mereka  sembelih pada hari  Idul Adha. Akhirnya baik kelompok Yahudi maupun kelompok Muslim, mereka sama-sama masih terjebak dalam ibadah simbolik jasmaniah yang penuh dengan ritual upacara. Mereka  gagal  melihat  bahwa  hakekat ibadah  simbolik  yang  Allah  perintahkan sesungguhnya  sudah  tiba. Ketika Yohanes Pembaptis menunjuk kepada  Yesus  sambil  berseru,  “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh.1:29), maka  tercapailah  tujuan seluruh  ibadah  simbolik  yang  Tuhan perintahkan  sejak  Adam.  Yesus  Kristus, Sang Hakekat, telah tiba menggenapi janji Allah. Dialah domba Allah yang disimbolkan oleh ribuan bahkan jutaan domba yang telah disembelih  sejak Adam.
Adam,  Abraham,  Musa,  dan  semua orang PL akan dihitung selesai dosa mereka apabila mereka bertobat dan percaya kepada  Juruselamat  yang  AKAN  DATANG untuk dihukumkan menggantikan mereka. Dan setiap orang yang hidup sesudah penyalibanNya akan dihitung selesai dosanya apabila  ia  bertobat  dan  percaya  kepada Juruselamat  yang  SUDAH  DATANG dihukumkan menggantikan mereka.
Jadi, konsep Islam dan Yudaisme masih  terperangkap dalam konsep  ibadah simbolik,  ritual,  jasmaniah.  Sedangkan konsep Kristen adalah ibadah Hakekat, rohaniah.   Islam dan Yudaisme karena tidak menerima  Yesus  sebagai  Sang  Hakekat masih  terperangkap  dalam  ibadah  badaniah,  sedangkan Kristen  sudah  beribadah secara  rohaniah dengan hati.
IBADAH TERIKAT TEMPAT  vs IBADAH DALAM ROH &  KEBENARAN
Akhirnya  terdapat  perbedaan  yang sangat besar antara ibadah jasmaniah Islam dan Yudaisme dengan ibadah kekristenan. Ibadah  Islam  adalah  ibadah  simbolik, jasmaniah,  ritual,  sedangkan  ibadah Kristen  adalah dengan hati dan  rohaniah. Ibadah  dengan  hati  dan  rohaniah  tidak terikat  pada  ruang  dan  waktu  maupun postur tubuh. Sikap hati yang menjunjung tinggi dan memuja Allah sepanjang waktu itulah  ibadah hakekat kekristenan.  Ibadah hakekat  tidak  membutuhkan  waktu  yang khusus,  tidak membutuhkan  tempat  yang khusus dan juga tidak membutuhkan sikap postur  tubuh  yang  khusus  pula.  Orang Kristen maupun umat agama harus paham bahwa acara yang misalnya diadakan pada hari Minggu pagi itu sesungguhnya adalah acara BERJEMAAT, bukan acara ibadah. Ibadah Kristen sesungguhnya terjadi setiap waktu  bukan  hanya  terjadi  pada Minggu pagi  saja.
Lembaga  Alkitab  Indonesia  (LAI), menerjemahkan  kata  Ibrani  ה ד ב ע (abodah) dalam kitab-kitab PL dengan kata ibadah.  Kita  tahu  bahwa  zaman  PL memang  ibadahnya  masih  simbolik  dan lahiriah. Tetapi kemudian menerjemahkan
kata Yunani  εὐσέβεια, yang dalam bahasa Inggris  diterjemahkan  godliness  dengan kata  ibadah  adalah  kurang  tepat.  Dan banyak  kata  lain  seperti  λυθείσης  δὲ  τῆς συναγωγῆς   (Kis. 13:43), mestinya diterjemahkan  “setelah  selesai  acara  sinagoge”. Namun  karena  LAI  sangat  terpengaruh konsep  Islam  maka  menerjemahkannya menjadi,  “Setelah selesai ibadah,” padahal sama  sekali  tidak  ada  kata  sembah-menyembah di situ.   Selain contoh di atas kata  λειτουργίᾳ  (Fil  2:17),  juga  biasa diterjemahkan dengan kata  ibadah.
Memang  adalah  hal  sangat  sulit, bahkan bagi Allah sendiri, untuk mengubah kebiasaan  manusia  yang  ribuan  tahun menyembah  secara  ritual  jasmaniah menjadi  menyembah  secara  hati  dan rohaniah.  Tuhan  pernah  berkata  bahwa anggur baru tidak boleh disimpan di kirbat yang  lama,  adalah  salah  satu  cara Tuhan mengajarkan bahwa Injil Kebenaran yang baru tidak boleh disimpan di dalam sistem ibadah  lama yang  jasmaniah dan  ritual.
Karena  sistem  ibadah  kekristenan yang bersifat hakekat dan dengan hati serta berlangsung di seluruh waktu, maka orang
Kristen tidak membutuhkan tempat khusus untuk  ibadah. Orang Kristen hanya membutuhkan tempat berkumpul, sebagaimana orang berkumpul untuk acara pernikahan, berkumpul  untuk  olah  raga  dan  lain-lain.
Jadi, izin membangun gedung (IMB) khusus untuk  rumah  ibadah  tidak dibutuhkan oleh  orang Kristen sebagaimana dibutuhkan  oleh  umat  Islam,  umat  Hindu,  atau umat  Budha  yang  sifat  ibadah  mereka secara  ritual dan  lahiriah. Kekisruhan  bahkan  kekacauan  sehubungan  dengan  IMB  rumah  ibadah  ini sepenuhnya  disebabkan  karena  aparat pemerintah  yang  tidak  mengerti  kekristenan ditambah dengan pemimpin Kristen yang  tidak  memahami  kebenaran, telah menerapkan  konsep  agama  Islam  pada kekristenan. Orang Kristen cukup membangun gedung dengan IMB untuk pertemuan,  karena  memang  sesungguhnya  tidak ada acara  sembah-menyembah melainkan hanya bertemu untuk bernyanyi dan belajar Alkitab. ***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar