Rabu, Maret 16, 2011

BOLEHKAH ALKITAB PAKAI KATA “ALLAH”?

Pada tahun 2008 ada berita bahwa kaum ulama di Malaysia melarang orang Kristen memakai kata Allah. Di Indonesia sendiri juga muncul kelompok yang menyerukan kepada orang Kristen untuk tidak memakai kata Allah, bahkan ada yang mencoba menuntut Lembaga Alkitab Indonesia ke pengadilan. Ada banyak keanehan dan kesimpang-siuran di seputar kata Allah.

GITS sebagai institusi akademis tentu merasa terpanggil untuk meluruskan segala kekusutan yang terjadi di seputar kata Allah agar orang Kristen Indonesia memiliki sikap yang mantap terhadap Alkitab dan penyebutan nama Sang Pencipta.

Studi Etimologi Kata Allah
Webster’s New World Dictionary, Third College Edition, 1989. memberi definisi demikian “Allah (al’a) [ al, the + ilah, god, akin to Heb. Eloah, God] The Muslim name for God.” Sudah jelas bahwa Webster Dictionary bukan buku biasa melainkan kamus bahasa yang sangat terpandang. Sedangkan The Encyclopedia Americana International Edition, 1978, menulis kata Allah “Allah is an Arabic word meaning “God” or more properly, “the God.” Encyclopedia Americana adalah sumber informasi yang sangat bergengsi dan terpercaya. McClintock, John & Strong, James. Cyclopedia of Biblical, Theological, and Ecclesiastical Literature. Grand Rapids: Baker Book House, 1981, menulis sebagai berikut; Allah (contracted from the Arabic al-ilah, “the God”, the usual name for God among the Mohammedans.

Di atas sudah kita kutip tiga sumber yang sangat credible yang menyatakan bahwa kata Allah itu berasal dari al + ilah, yang secara literal berarti the god karena al itu definit artikel seperti the, dan ilah itu god. Kata ilah bahasa Aramiknya eloah, artinya sesembahan atau yang disembah.

Jadi jika pembaca memahami bahwa kata Allah itu sama dengan God atau lebih tepatnya the God maka anda tidak mungkin salah karena sekurang-kurangnya anda didukung oleh Webster Dictionary, Encyclopedia of Americana, dan Cyclopedia of Biblical, Theological, and Ecclesiastical Literature dan masih banyak lagi.

Seorang fanatik pemakaian kata Yahweh meng-sms saya; “pembantu saya saja tahu bahwa Allah itu nama dewa orang Islam, mengapa Pak Suhento yang punya gelar doktor lebih bodoh dari pembantu saya?”

Saya sedih juga membaca sms orang yang sedemikian kasar, dan kemudian saya membalasnya demikian; “baiklah, anda sama pintarnya dengan pembantu anda, dan saya sama bodohnya dengan para penulis Webster Dictionary, dan berbagai Encyclopedia.”

Kata Allah secara etimologi itu sama dengan kata eloh dalam bahasa Ibrani, dan sama dengan kata theos dalam bahasa Yunani, juga sama dengan kata god dalam bahasa Inggris, serta sama dengan kata shen dalam bahasa Tionghoa. Berbeda dengan kata Jehovah, itu adalah nama pribadi yang dipilih Sang Pencipta untuk menyatakan diriNya kepada manusia di zaman PL, sama seperti Yesus adalah nama pribadi yang dipilih Sang Pencipta untuk menyatakan diriNya kepada manusia di zaman PB.

Jadi, secara etimologi, Jehovah dan Yesus tidak boleh diterjemahkan karena itu adalah nama pribadi. Sedangkan elohim di PL dan theos di PB boleh diterjemahkan dengan kata Allah.

Sejarah Pemakaian Kata Allah
Sejak awal kata Allah telah dipakai oleh masyarakat Arab untuk menyabut sesembahan mereka. Alkitab terjemahan yang sangat awal misalnya Peshitta menyapa theos dengan alaha . Dan masih banyak Alkitab terjemah kuno memakai kata yang serumpun dengan kata Allah untuk menerjemahkan kata elohim di PLdan theos di PB.

Jauh sebelum Muhammad lahir, orang-orang Kristen di Jazirah Arab telah ratusan tahun memakai kata Allah untuk menunjuk Sang Pencipta. Paman Muhammad sendiri, yang adalah orang Kristen, bernama Abdullah, yang artinya “abdi Allah.” Ada banyak catatan pemakaian kata Allah kepada Sang Pencipta sebelum Muhammad lahir. Bahkan sampai hari ini di negara pemakai bahasa Arab, semua orang Kristen menyebut elohim PL dan Theos PB dengan sebutan Allah.

Ada yang berkata bahwa namun juga ada catatan pemakaian kata Allah untuk dewa bulan, dewa air dan lain-lain. Itu memang bisa benar karena manusia memang pada dasarnya bebas memakai kata-kata untuk apa saja. Orang bahkan boleh menamai anjingnya presiden. Apalagi kata Allah yang artinya yang mereka sembah bisa saja mereka memanggilnya Allah. Kasusnya sama dengan kata theos yang juga dipakai oleh orang Yunani untuk memanggil apa saja yang mereka sembah. Demikian juga orang Tionghoa menyebut yang disembah di Klenteng dengan kata shen, dan kata yang sama dipakai untuk menerjemahkan elohim. Justru hal ini membuktikan bahwa itu bukan nama melainkan sebutan kepada sesuatu yang mereka sembah.

Tanggapan Terhadap Kaum Muslim
Ketika orang Muslim mengklaim kata Allah adalah nama sesembahan mereka, bukan sebutan, dan melarang umat agama lain memakainya, maka kita harus bertanya kepada mereka, apakah Allah yang mereka sembah sama dengan yang menampakkan diri kepada Abraham dan Musa? Kalau mereka menjawab, beda, maka mengertilah kita bahwa Allah mereka adalah dewa lokal di Jazirah Arab. Berarti itu adalah sesembahan salah satu suku, satu level Nyi Lorokidul.

Tetapi jika mereka menjawab bahwa Allah yang mereka sembah adalah sama dengan yang menampakkan diri kepada Abraham dan Musa, maka kita katakan bahwa waktu itu jelas Ia memperkenalkan namaNya Jehovah (hwhy). Sejak kapankah Jehovah mengganti namaNya menjadi Allah? Kalau Ia ganti nama pasti Ia memberitahukan kepada bangsa Yahudi bukan Arab. Dan memang Ia datang, dan Ia katakan namanya diganti jadi Yesus.

Teman Muslim kita harus dapat melihat dari aspek studi kata maupun sejarah pemakaian kata, bahwa Allah itu bukan nama melainkan sebutan. Karena sebelum Muhammad lahir kata itu telah dipakai oleh bangsa Arab Kristen untuk menyapa Sang Pencipta. Dan seharusnya orang Kristen yang berpengertian tidak terpengaruh oleh pengklaiman bahwa Allah itu sebuah nama. Kasusnya seperti presiden adalah sebutan untuk kepala negara republik. Jika ada orang yang baru keluar dari hutan mengklaim itu bukan sebutan melainkan nama seorang ibu yang di dagunya ada titik hitam, tentu kita tidak perlu terpengaruh apalagi ribut dengannya, cukup senyum-senyum saja.

Belakangan ini ada sejumlah orang Kristen yang ngotot bahwa Allah itu nama dewa bulan, dewa orang Islam, dan kita tidak boleh memakainya, memberikan saya buku-buku yang menyatakan itu. Pembaca silakan menilai, lebih bijak mempercayai Webster Dictionary dan berbagai Encyclopedia atau buku kecil yang ditulis oleh si ini dan si itu yang sama sekali tidak credible?

Kita tahu persis bahwa kata sutradara itu sebutan untuk seseorang yang memimpin pembuatan film. Tetapi ada juga orang yang memberi anaknya nama Sutradara. Dengan demikian terjadilah bahwa sutradara itu bisa berarti seseorang yang memimpin pembuatan film dan nama pribadi seseorang.

Setelah seratus tahun kemudian, ketika kita menyebut sutradara dengan maksud seseorang yang memimpin pembuatan film, sekelompok orang memprotes kita dan melarang kita memakai nama kakek mereka. Diperparah lagi karena seratus tahun kemudian kata sutradara sudah jarang dipakai karena yang lebih sering dipakai adalah film director. Sesungguhnya demikianlah permasalahan di balik kata Allah.

Kita semua tahu bahwa kata Laksamana itu sebutan untuk seorang jendral angkatan laut. Tetapi ada orang yang memakai Laksamana sebagai nama pribadi. Seratus tahun kemudian ketika orang memakai kata laksamana, tiba-tiba ia ditunjukkan buku, atau surat lahir atau semacam dokumen bahwa itu bukan sebutan melainkan nama pribadi kakek buyut mereka.

Mereka berkata bahwa Allah itu nama dewa bulan, bahkan Dave Hunt, penulis banyak buku yang saya sukai, juga terperangkap ikut berkata demikian, kita berkata bahwa bisa saja kata Allah itu pernah dipakai untuk dewa bulan, atau dewa matahari atau dewa angin. Bisa saja laksamana itu nama pribadi kakek seseorang, atau nama anjing orang, namun salah satu arti yang dinyatakan dalam kamus adalah itu sebutan jendral angkatan laut.

Kesimpulan
Nyata sekali bahwa argumentasi mereka yang menolak kata Allah dalam Alkitab tidak akademis dan tanpa perngertian yang benar. Mereka bahkan tidak peduli pada Webster Dictionary maupun berbagai Encyclopedia. Dalam banyak argumentasi yang mereka kemukakan telah menunjukkan tingkat akedemik dan nalar mereka yang sangat rendah. Mereka bagaikan memakai kaca mata kuda dan fokusnya hanya tertuju pada buku-buku kecil yang ditulis oleh Kiai-kiai dan mantan-mantan Muslim yang menjadi Kristen, serta orang-orang Barat yang tidak mengerti kasus ini.

Mereka termakan oleh pernyataan kaum Muslim karena sebagian tadinya memang Muslim dan sudah sangat meyakini bahwa kata Allah itu nama, bukan sebutan. Ketika mereka menjadi Kristen, sebagian orang Kristen sangat mengagumi mereka dan turut meyakini bahwa Allah itu nama, bukan sebutan.

Akhirnya, orang Kristen harus penuh pengertian. Elohim, Adonai, Theos, dan Kurios adalah sebutan, demikian juga Allah. Sedangkan Jehovah dan Yesus adalah nama Pribadi yang tidak boleh diterjemahkan. Kasus dalam Septuaginta kata Jehovah diterjemahkan dengan Kurios itu karena terpengaruh aturan ibadah simbolik yang memerintahkan penghormatan kepada Allah dengan menghormati namaNya dengan perintah ke-3 hukum Taurat. Kini kita di dalam ibadah hakekat. Kita menghormati hakekat Sang Pencipta itu sendiri dan menuliskan namaNya dengan rapi dan tidak menyebutnya sembarangan. Elohim dan Theos harus diterjemahkan dengan kata Allah kalau diganti dengan kata lain adalah salah. Sedangkan kata Jehovah tidak boleh diterjemahkan karena itu nama.***

Berita yang paling klasik adalah berita tentang janji keselamatan dari Allah kepada manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, bahwa Allah akan mengirim Juruselamat untuk menyelesaikan masalah dosa manusia.

Sumber: Jurnal Teologi PEDANG ROH Edisi 61 Oktober-Desember 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar