Rabu, Februari 09, 2011

UNTA MASUK LUBANG JARUM

Pernyataan Tuhan Yesus bahwa lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk Kerajaan Allah (Mrk 10:25), telah sangat mengagetkan banyak orang. Sebab, bagaimana mungkin seekor unta, binatang terbesar dalam kehidupan sehari-hari orang Timur Tengah, bisa melewati lubang jarum yang begitu kecil. Jangankan untanya, bahkan sesungguhnya bulu unta saja agak sulit untuk dimasukkan ke dalam lubang jarum jika jarumnya adalah jarum untuk jahit baju.

Karena shock, theolog Liberal menafsirkan bahwa lubang jarum yang dimaksud Tuhan Yesus adalah pintu samping kecil gerbang kota Yerusalem yang disediakan sebagai pintu alternatif setelah pintu gerbang utama ditutup. Tetapi dari sikap murid-murid yang juga kaget saat itu, tentu bukan pintu samping yang Tuhan Yesus maksudkan. Karena kalau pintu samping itu yang dimaksudkan, tentu murid-muridNya saat itu tidak perlu kaget. Markus yang mencatat Injilnya dari tuturan Petrus menulis, “Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" (Mrk.10:26).

Selama dua bulan ketika penulis memilih judul ini untuk Pedang Roh edisi ini, penulis berusaha mengingat-ingat orang kaya yang diselamatkan, ternyata dalam hampir tiga puluh tahun pelayanan penulis tidak melihat satu pun orang kaya diselamatkan. Atau mungkin ada namun tidak berhasil penulis mengingatnya. Tentu yang penulis maksud diselamatkan itu bukan sekedar menjadi Kristen, melainkan dilahirkan kembali di dalam Tuhan. Ada orang Kristen kaya yang penulis kenal, namun mereka percaya Tuhan selagi masih miskin. Sebaliknya penulis berhasil mengingat banyak orang Kristen yang tadinya miskin dan sangat setia, kemudian diberkati Tuhan menjadi kaya lalu meninggalkan Tuhan.

Mengapa kekayaan begitu berbahaya? Bukankah kekayaan adalah sesuatu yang sangat menyenangkan dan sangat diinginkan orang? Mengapa kekayaan bisa menjadi penghalang utama seseorang diselamatkan? Tidak adakah orang yang berpikir, kalau kekayaan bisa menghalangi saya masuk Sorga, saya memilih menjadi orang miskin saja dan kemudian masuk Sorga.

Selalu Mengandalkan Materi
Pernyataan Tuhan tersebut dilontarkan pada saat seorang muda kaya datang bertanya kepadaNya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Mrk.10:17). Pemuda kaya ini datang kepadaNya dengan sebuah pikiran tendensius yang salah, bahwa hidup yang kekal diperoleh dari perbuatan. Dia tidak tahu bahwa hidup yang kekal diperoleh dari iman kepada Yesus Kristus sesuai Doktrin Keselamatan yang alkitabiah.

Apa yang ada di pikiran pemuda kaya ini adalah yang juga ada di dalam kepala hampir semua orang kaya, yaitu membeli Sorga sama seperti mereka membeli materi apa saja dengan kekayaan mereka. Kebanggaan orang kaya adalah kekayaannya, dan mereka selalu berpikir mereka bisa berbuat apa saja termasuk membeli Sorga dengan kekayaan mereka. Pikiran ini telah menjadi jerat bagi mereka.

Pemuda kaya ini pasti sudah terbiasa menyelesaikan segala sesuatu dengan uangnya, dan berhasil melewati berbagai kesulitan dan rintangan dengan uangnya. Berdasarkan pengalaman ini ia berpikir untuk masuk Sorga pun dapat diatasi dengan uangnya. Ia bertanya, “apa yang harus kuperbuat?” menunjukkan bahwa ia siap melakukan sesuatu, bahkan kalau perlu ia akan membayar dengan uangnya.

Suka Basa-basi
Sekilas terlihat pemuda kaya ini rendah hati. Namun sesungguhnya betapa angkuhnya dia. Mendengar pertanyaannya, Tuhan balik bertanya, "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.” Maksud Tuhan, engkau sekedar basa-basi atau engkau yakin bahwa saya adalah Allah. Bisakah engkau terima bahwa saya adalah Allah? Karena hanya Allah saja yang baik, dan engkau menyebut saya guru yang baik, engkau ini percaya saya sekedar guru atau Allah?

Salah satu karakter khas orang kaya adalah suka berbasa-basi. Biasanya pensiunan militer memiliki karakter yang berbeda dengan pebisnis. Pensiunan militer biasanya keras dan kaku, sedangkan pebisnis biasanya sangat luwes dan kompromis. Pemuda kaya ini tidak merenungkan tiap-tiap kata yang diucapkannya.

Seringkali Injil sulit diberitakan kepada orang yang tidak serius, melainkan yang terlalu banyak berbasa-basi. Dalam pengalaman penginjilan puluhan tahun, penulis dapatkan banyak kasus menghadapi orang yang tidak serius memikirkan perkara rohani namun sok memikirkannya. Kadang mereka bertanya seolah-olah ingin tahu, namun di otak mereka sedang memikirkan perkara materi dan untung ruginya menjadi Kristen. Mereka datang ke gereja bukan untuk mencari perkata rohani, melainkan materi. Keinginan ini diketahui oleh pebisnis rohani sehingga men-trik mereka kembali dengan acara pelepasan kutuk kebangkrutan, akhirnya sudah bangkrut masih disuruh sumbang ini dan itu, doa melepaskan hutang-piutang dan berbagai-bagai trik jitu para pebisnis rohani. Penulis melihat bahwa para pebisnis materi yang di pikiran mereka penuh dengan tipu muslihat untuk mendapatkan kekayaan materi, ternyata masih kalah jauh dari para pebisnis rohani yang memakai alasan rohani untuk menipu materi pengikut mereka.

Menyebabkan Mata Yang Angkuh
Tuhan Yesus tidak menunggu jawabannya melainkan langsung menyodorkan resep yang diinginkannya, “Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!" Membaca ini sebagian orang yang berpikiran pendek langsung menyimpulkan bahwa Yesus mengajarkan keselamatan melalui perbuatan. Padahal Tuhan sedang menggiring orang itu untuk mengakui bahwa dia tidak bisa masuk Sorga melalui perbuatan, karena tidak ada seorang pun yang sempurna melaksanakan hukum Taurat. Kalau ternyata ada orang yang sama sekali tidak melanggar hukum Taurat, memang dia pantas masuk Sorga, karena berarti ia sama sekali tidak berdosa.

Pemuda ini sebenarnya luar biasa sombongnya. Ia bahkan berani sesumbar bahwa ia sudah melakukan seluruh hukum Taurat. Sesungguhnya Tuhan dengan sangat mudah bisa menunjukkan salah satu kegagalannya dalam melaksanakan hukum Taurat. Tetapi Tuhan yang penuh hikmat tahu bahwa sumber kesombongannya adalah hartanya. Di dunia ini banyak orang berpikir bahwa orang kaya itu lebih hebat, lebih baik, lebih patut didengar, bahkan lebih suci. Oleh sebab itu Tuhan memprioritaskan untuk mengurus hartanya karena itu adalah fondasi kesombongannya.

Tuhan menantangnya untuk membayar harga Sorga yang ditanyanya, “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Ia tidak menyangka harga sorga sedemikian mahal. Ternyata orang yang sedemikian sombong tidak berani membeli Sorga.

Kekayaan Penghalang Utamanya
Penulis bertemu dengan banyak orang kaya yang belum diselamatkan. Celakanya, penulis tidak tahu mengapa mereka kok bisa tahu tentang persepuluhan. Seharusnya masalah persepuluhan hanya disampaikan kepada orang Kristen yang telah lahir baru. Dan semestinya persepuluhan itu hanya diberikan oleh orang yang telah lahir baru. Tetapi ada orang kaya yang belum lahir baru langsung bertanya, apakah benar menjadi orang Kristen harus membayar 10% dari penghasilan? Di dalam otak mereka hanya ada masalah keluar uang dan masuk uang. Biasanya mereka langsung hitung untung-rugi dari segi materi untuk menjadi orang Kristen. Dan hal ini sangat menyandung mereka dari memperoleh keselamatan.

Pemuda kaya ini disuruh menjual semua miliknya dan hasilnya dibagikan kepada orang miskin. Ia pergi dengan hati yang sedih dan kecewa. Ia tidak sanggup melihat keselamatan jiwanya jauh lebih mahal dari seluruh hartanya. Seseorang yang tidak sanggup melihat Sorga lebih mahal dari hartanya tidak mungkin bisa diselamatkan.

Bisa jadi pemuda kaya ini menyangka Tuhan mau duitnya. Penulis pernah diajak oleh seorang ibu mengunjungi seorang Konglomerat dengan maksud memberitakan kepadanya kebenaran. Setelah sampai di rumah Konglomerat tersebut yang tentu melalui berlapis penjagaan, ternyata yang bersangkutan tidak tertarik dengan kebenaran. Ketika pulang, seorang penginjil yang turut serta berkata, “mungkin dia kaget karena baru kali ini dia bertemu dengan pendeta yang tidak berbicara tentang uang dengannya.”

Banyak pendeta datang kepadanya untuk meminta sumbangan, tetapi penulis sama sekali tidak menyinggung uang, melainkan tentang bertobat dan mengaminkan Yesus Kristus yang tersalibkan untuknya dan dia bersedia hidup bagi Yesus. Tentu dia setuju Yesus mati baginya, tetapi tidak begitu happy mendengar bahwa dia harus hidup bagi Yesus. Mengenai Yesus mati baginya, dia tidak keberatan, itu terserah Yesus. Namun hidup bagi Yesus? Itu menyangkut pengorbanan, menyangkut menyukakan hati Yesus, tentu tidak gampang untuk diiyakannya.

Orang Kristen Juga Tersandung Duit
Pada awal masa perjalanan Gereja Baptis Independen Alkitabiah (GBIA) GRAPHE pernah ada seorang pengusaha datang. Tetapi kemudian ia hilang perlahan-lahan. Informasi yang penulis dapatkan dari seorang Diaken temannya bahwa ia dinasehati oleh temannya untuk tidak berbakti di gereja yang baru mulai, karena dia akan menjadi sasaran himbauan berbagai persembahan. Akhirnya ia tinggalkan gereja yang benar, dan Ia bukan hanya menjerumuskan dirinya, namun juga istri beserta anak-anaknya hanya untuk menyelamatkan uangnya. Sesungguhnya mereka bisa miliki kesempatan untuk diselamatkan dan satu keluarga bahagia dalam kebenaran, namun karena dia tidak melihat Sorga lebih mahal dari hartanya, mereka tidak berkesempatan menikmati pesta rohani di GRAPHE.

Sungguh, dalam hampir tiga puluh tahun pelayanan, penulis sudah melihat banyak orang jauh dari kebenaran karena uang. Banyak orang yang jika mereka miskin, sangat mungkin mereka akan diselamatkan. Tetapi karena mereka kaya, mereka jauh dari kebenaran.

Penulis juga melihat banyak orang Kristen terjerumus ke dalam perangkap iblis karena uang. Ada banyak di antara mereka yang tidak rela uangnya dipakai Tuhan di gereja yang benar, justru tertipu oleh pendeta penjilat yang pintar memuji, memberkati, dan berbagai jurus tipu muslihat rohani. Bahkan ada yang nama gereja atau persekutuannya pakai kata succesful untuk menarik orang-orang yang ingin sukses materi.

Unta tidak mungkin bisa melewati lubang jarum. Orang kaya mustahil bisa masuk Sorga dengan uangnya. Lalu Tuhan berkata, “sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah.” Apa maksud Tuhan? Tentu bukan dengan cara membolehkan mereka masuk Sorga tanpa melalui bertobat dan percaya. Maksud Tuhan ialah, Allah sanggup membuat orang tersebut bangkrut total agar ia bisa diselamatkan, jika hatinya ingin namun harta adalah penghalang satu-satunya. Sama sekali tidak berarti Tuhan akan membuat orang kaya itu masuk Sorga dengan tidak perlu bertobat dan mengaminkan Yesus mati baginya dan ia setuju hidup bagi Yesus.***

Sumber: Jurnal Teologi PEDANG ROH Edisi 66 Januari-Februari-Maret 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar