Selasa, Februari 23, 2010

Tentang YOGA

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.

Definisi dan Sejarah Singkat

Bagi sebagian besar masyarakat Barat, yoga sering kali hanya dipahami sebagai salah satu sistem latihan fisik untuk perenggangan tubuh, peningkatan kelenturan dan penyembuhan penyakit ringan. Jika kita menyelidiki sejarah dan filosofi di balik yoga, maka kita akan mengetahui bahwa yoga lebih dari sekedar latihan fisik. Yoga adalah jalan kuno menuju kerohanian. Jalan ini berasal dari literatur-literatur kuno India.

Konsep ini sudah tersirat dari nama yang dipakai. Istilah “yoga” berasal dari bahasa Sansekerta. Istilah yang berasal dari akar kata yuj (artinya “mengontrol”, “memasang kuk” atau “menyatukan”) ini memiliki arti yang beragam. Arti yang paling populer adalah “penyatuan”. Yang dimaksud penyatuan di sini adalah penyatuan antara jiwa yang terbatas (diri yang fana) dengan jiwa yang tidak terbatas (Brahma/Diri yang kekal). Brahma adalah realitas tertinggi, suatu allah yang tidak berpribadi, suatu substansi ilahi yang menyerap, melingkupi dan melandasi segala sesuatu.

Dalam Larson’s New Book of Cults dijelaskan bahwa yoga terdiri dari beberapa aliran/bentuk: Karma Yoga (persatuan rohani melalui perbuatan baik), Bhakti Yoga(persatan dengan Yang Mutlak melalui devosi kepada seorang guru), Juana atau Gyana Yoga (jalan masuk kepada keilahian melalui pengetahuan mistik) dan Raja Yoga (kesadaran ilahi melalui kontrol mental). Jenis yoga yang sering diperbincangkan dan dipraktikkan orang termasuk dalam Raja Yoga.

Dilihat dari sisi historis, perkembangan yoga dapat dibagi dijelaskan sebagai berikut: (1) akar tertua dapat ditelusuri sampai pada Upanishads (sekitar 1000-500 SM). Dalam buku tua ini diajarkan “satukan terang di dalam dirimu dengan terang yang ada di dalam Brahma”; (2) kata “yoga” berikutnya juga ditemukan dalam buku Bhagavad Gita (sekitar abad ke-5 SM).

Di pasal 6 buku ini Krishna berkata, “maka sukacita tertinggi datang kepada Yogi (orang yang melakukan yoga)…yang menjadi satu dengan Brahma, allah itu”; (3) pada pertengahan abad ke-2 M, Panjali dalam bukunya Yoga Sutras membagi yoga menjadi 8 cabang seperti anak tangga, masing-masing: yama (pengendalian diri/asketisisme) , niyama (ibadah keagamaan), asana (posisi tubuh), pranayama (latihan pernafasan), pratyahara(pengendalianindera), dharana (konsentrasi) , dhyana (kontemplasi yang dalam) dan samadhi(pencerahan) .

Filosofi Di Balik Yoga

Sebagai salah satu fenomena keagamaan yang berasal dari Timur, yoga memiliki beberapa karakteristik yang sama dengan aliran lain dalam Gerakan Zaman Baru. Prinsip dasar yang ada reatif sama, tetapi beberapa memang sedikit berbeda. Apa saja filosofi di balik praktik yoga?

Pertama, dualisme. Dalam agama-agama kuno di India dikenal konsep yang dualistik antara jiwa (spiritual) dan tubuh (material). Tubuh dianggap sebagai sesuatu yang lebih rendah daripada jiwa. Tubuh adalah sumber segala kejahatan. Apa yang tampak hanyalah sebuah ilusi, sedangkan realita sebenarnya terletak pada hal-hal yang spiritual. Tidak heran, para yogi pada zaman dahulu dikenal sebagai “orang yang telah mengambil sumpah untuk hidup dalam kemiskinan, kesucian, gaya hidup selibat dan meditasi sepanjang hari”. Para penganut yoga juga cenderung melihat kehidupan fana di dunia sebagai kehidupan yang rendah dan tidak layak dihidupi (Moti Lal Pandit).

Kedua, pembebasan (liberation). Dilihat dari sisi istilah “yoga” yang berarti “memasang kuk” atau “mengontrol”, kita mungkin heran bagaimana pembebasan dapat menjadi filosofi dasar dalam yoga. Kebingungan ini akan hilang jika kita memahami apa yang dimaksud dengan pembebasan dalam yoga. Pembebasan bukan berarti bebas mengumbar hawa nafsu. Sebaliknya, pembebasan di sini berkaitan dengan pembebasan dari diri sendiri. Diri sendiri bersifat kafir dan menghalangi terjadinya pencerahan. Orang harus mendisiplin pikiran, tubuh dan jiwanya supaya bisa terfokus pada Allah. Sehubungan dengan prinsip ini, pengosongan pikiran, posisi tubuh dalam pose tertentu dan meditasi sangat ditekankan dalam yoga. Semua ini dipercaya akan memberikan kebebasan.

Ketiga, pencapaian pengetahuan/hikmat yang tertinggi. Melalui yoga orang yakin bahwa dia akan memperoleh pencerahan-pencerah an yang membuat dia menjadi lebih berhikmat. Meditasi dianggap sebagai instrumen yang efektif untuk menumbuhkan pengetahuan rohani seseorang. Dia akan semakin mengerti tentang hakekat manusia, alam semesta dan alam. Dia akan dibebaskan dari kebodohan metafisik yang dia alami selama ini, yaitu ketidaksadaran bahwa manusia (segala sesuatu) adalah ilahi.

Keempat, spiritisme. Dalam kasus-kasus tertentu, meditasi dalam yoga mencakup pemanggilan berbagai roh ke dalam diri seseorang maupun upaya seseorang masuk ke dalam dunia roh tersebut. Keterlibatan yang “paling ringan” dalam hal ini adalah perenungan yang dalam tentang suatu allah yang berbeda dengan Allah dalam Alkitab.

Kelima, kesatuan dengan allah. Dalam yoga seseorang tidak hanya memikirkan tentang allah, tetapi dia sendiri juga berusaha menyatu dengan kekuatan ilahi itu. Dia mencoba membebaskan “dirinya” dan benar-benar menyatu secara hakekat dengan apa yng dia percayai sebagai allah. Ketika seseorang sudah mencapai tingkatan yoga yang tertinggi, maka orang itu akan mengalami kesadaran dan pengalaman sebagai allah.

Daya Tarik Yoga

Salah satu fakta yang tidak disangkal adalah popularitas yoga yang semakin menanjak. Yoga tidak hanya digemari oleh orang Timur, tetapi juga orang Barat. Yoga bukan lagi monopoli para penganut agama Hindu dan Budha, tetapi para penganut agama lain juga. Beberapa penganut agama non-Hindu – termasuk Kekristenan – bahkan telah mencoba mengembangkan sebuah yoga yang disesuaikan dengan agama mereka. Dari perspektif Hindu, sinkretisme seperti ini sah-sah saja, karena mereka percaya bahwa ada banyak jalan menuju persatuan dengan Allah.

Mengapa yoga begitu diminati oleh banyak orang, bahkan di dunia Barat sekalipun? Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi hal tersebut. Faktor utama adalah kehidupan di Barat yang serba cepat dan menekan. Kondisi seperti ini membuat manusia cepat lelah, baik secara fisik maupun mental. Yoga berhasil menawarkan dua macam kelegaan itu sekaligus.

Faktor lain adalah kekecewaan terhadap materialisme. Di dunia Barat kelimpahan secara materi merupakan sesuat yang sudah biasa. Mereka mudah mendapatkan segala macam materi yang mereka inginkan. Semua ini ternyata tidak memberikan kepuasan bagi mereka. Mereka membutuhkan hal-hal lain yang non-material. Mereka menginginkan kepuasan psikologis, mental dan kerohanian. Semua ini juga ditawarkan oleh yoga.

Faktor lain berkaitan dengan wajah Kekristenan yang dianggap terlalu kering. Sebagian orang Kristen yang mempraktikkan yoga mengaku bahwa mereka selama ini merasa kering dengan Kekristenan. Kekristenan hanya diidentikkan dengan liturgi dan dogma. Mereka tidak mendapatkan sentuhan emosional dalam kehidupan Kekristenan mereka. Kekosongan inilah yang akhirnya dianggap dapat diisi melalui yoga.

Apakah Latihan Fisik Dalam Yoga Dapat Dipisahkan dari Filosofi Di Baliknya?

Beberapa orang Kristen yang mengetahui filosofi di balik yoga mengaku bahwa praktik ini merupakan pelanggaran terhadap Alkitab. Bagaimanapun, sebagian dari mereka tetap bersikeras bahwa tidak semua yoga adalah salah. Menurut mereka, yoga yang hanya berhubungan dengan latihan fisik boleh diikuti oleh orang-orang Kristen.

Apakah pandangan di atas dapat diterima? Untuk menjawabnya, mari kita memfokuskan pembahasan pada salah satu jenis yoga yang dianggap “paling aman” karena hanya mengajarkan latihan-latihan fisik. Yoga ini disebut Hatha Yoga. Yoga jenis ini hanya terdiri dari asana (posisi tubuh) dan pranayama (latihan pernafasan).

Dua hal di atas ternyata tidak terpisahkan dari filosofi di baliknya. David Fetcho, seorang peneliti terkenal dalam bidang yoga, menyatakan bahwa latihan fisik yoga tidak mungkin dipisahkan dari metafisika Timur yang melandasinya. Para ahli yoga yang lain juga sepakat bahwa asana dan pranayama merupakan bagian integral dari keseluruhan yoga. Tujuan dari Hatha Yoga adalah menghilangkan halangan-halangan fisik untuk menuju pada tingkatan yang lebih tinggi. Pranayama merupakan cara untuk mengontrol energi mistis/vital dalam tubuh. Energi ini dipercayai sebagai energi ilahi yang universal, tidak terbatas dan mahahadir, yang berada di balik dunia materi (akasa). Jika seseorang mampu mengontrol energi secara sempurna, maka dia akan menjadi mahahadir dan mahakuasa. Jiwanya dapat berada di mana saja dan melakukan apa saja.

Posisi tubuh yang sudah diatur sedemikian rupa (asana) juga bertujuan untuk memanipulasi kesadaran. Masing-masing posisi tubuh memiliki filosofi dan tujuan tersendiri. Tujuan ini lebih ke arah psikologis atau spiritual daripada fisik (somatis). Dengan demikian Hatha Yoga bukan sekedar latihan fisik, tetapi latihan psikosomatis yang melibatkan tubuh dan jiwa.

Bagaimana dengan latihan perenggangan tubuh yang ditemukan juga dalam berbagai latihan pemanasan di olah raga? Untuk hal ini kita sebaiknya mengakui bahwa jika latihan itu benar-benar dipisahkan dari konteks yoga, maka latihan tersebut dapat dibenarkan.. Bagaimanapun, jika latihan ini dilakukan sebagai latihan yoga, maka hal ini harus dihindari. Orang yang sudah merasakan manfaat dari latihan yoga yang paling dasar sangat mungkin akan tergoda untuk melanjutkan ke tahap berikutnya. Kalau sekedar ingin mendapatkan manfaat fisik dari beberapa latihan perenggangan di dalam yoga, kita dapat menggantinya dengan beberapa olah raga lain yang menfaatnya sama atau bahkan lebih besar daripada beberapa gerakan yoga, misalnya aerobik, senam di dalam air dan latihan pemanasan yang lain.

Bahaya-bahaya Yoga

Terlepas dari keuntungan fisik yang didapat dari latihan yoga, yoga ternyata dapat menyebabkan berbagai masalah yang serius. Para ahli yoga sudah lama memahami kemungkinan terjadinya bahaya-bahaya tersebut. Dari segi fisik, latihan pernafasan yang tidak tepat dapat menyebabkan kerusakan pada otak. Swami Prabhavananda mengatakan, “kecuali dilakukan dengan tepat, ada sebuah kemungkinan besar untuk membahayakan otak. Mereka yang melakukan latihan pernafasan tanpa pengawasan yang memadai dapat menderita sebuah penyakit yang ilmu pengetahuan maupun dokter tidak dapat mengobatinya.

Dari segi kejiwaan, yoga tidak kalah berbahaya. Gopi Krishna, salah seorang ahli dalam kundalini, mengungkapkan pengalamannya bahwa selama bertahun-tahun dia mengalami berbagai macam bentuk kejiwaan. Dia pernah merasa begitu terobsesi, sakit, gila sampai dijadikan medium dari berbagai roh. Ia mengakuinya bahwa hidupnya kadangkaa berpindah-pindah dari keadaan gila ke normal, begitu sebaliknya.

Dari segi spiritual, yoga jelas sangat berbahaya. Salah satunya adalah pengalaman spiritual dalam yoga yang disebut dengan istilah “kundalini” (kekuatan ular). Swami Vivekananda menjelaskan pengalaman ini sebagai berikut: jika dibangkitkan melalui latihan disiplin-disiplin rohani, maka [kekuatan] ini naik melalui tulang belakang, melewati berbagai pusat saraf dan akhirnya mencapai otak, di mana yogi mengalami samadhi atau penyerapan total dalam keilahian”. Pengalaman ini jelas merupakan penyembahan berhala, karena allah yang dalam yoga bukanlah Allah yang benar (Kel. 20:3-6; Gal. 5:19-21).

Perspektif Alkitab tentang Yoga

Beberapa orang Kristen melihat ada kesamaan antara yoga dan Alkitab. Dalam yoga diajarkan tentang kesatuan dengan allah, natur manusia yang ilahi dan perlunya menguasai keinginan tubuh yang jahat. Berdasarkan kesamaan ini, mereka kemudian berusaha untuk mengembangkan sebuah yoga yang bernuansa Kristen. Usaha ini hanyalah sebuah utopia atau bahkan tipu daya iblis atas orang-orang percaya.

Pertama, para ahli yoga berpendapat bahwa yoga bukanlah prinsip yang diadopsi oleh agama Hindu. Yoga adalah prinsip yang berasal dari agama Hindu. Selain itu, beberapa elemen dalam yoga jelas tidak dapat diganti dengan yang lain, misalnya yama danniyamas. Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah tujuan akhir dari yoga. Jika yoga tidak berujung pada kesadaran bahwa manusia adalah ilahi, maka yoga tersebut tidak bisa disebut yoga, karena tidak memenuhi tujuan utama yoga. Berdasarkan tujuan inilah, semua elemen yoga telah diatur sedemikian rupa.

Kedua, beberapa kesamaan antara yoga dan Kekristenan hanya terbatas pada kesamaan secara umum. Kebenaran Allah memang terletak di mana-mana dan segala kebenaran adalah kebenaran Allah. Allah memberikan wahyu umum kepada seluruh umat manusia. Walaupun demikian, jika diselidiki lebih mendalam, maka di balik kesamaan-kesamaan yang ada kita justru akan menemukan perbedaan-perbedaan yang jauh lebih fundamental.

· Pentingnya kesatuan dengan Allah.

Yesus berdoa agar semua orang percaya bersatu dan berada di dalam Allah (Yoh. 17:21). Dia juga mengajarkan bahwa orang percaya harus terus-menerus berada di dalam Dia (Yoh. 15:4). Perbedaan kesatuan ini dengan kesatuan versi yoga terletak pada jenis kesatuan dan cara untuk mencapai kesatan. Alkitab tidak pernah mengajarkan kesatuan dalam arti penyatuan hakekat. Cara yang dipakai pun bukan melalui disiplin mental seperti di dalam yoga, tetapi melalui ketaatan kepada firman Tuhan (Yoh. 15:10).

· Natur ilahi dalam diri manusia.

Dalam salah satu suratnya Petrus pernah berkata bahwa orang percaya “mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (2Ptr. 1:4). Dari konteks yang ada terlihat bahwa partisipasi dalam kodrat ilahi ini tidak berarti bahwa orang percaya menjadi allah atau mewarisi natur keilahian.. Partisipasi ini sangat berhubungan dengan kehidupan kekal yang akan diterima oleh orang percaya. Makna inilah yang sering dijumpai dalam literatur Yahudi tentang partisipasi dalam kodrat ilahi (4Mak. 18:3; Keb. Sal.2:23).

· Perlunya menguasai keinginan tubuh.

Yakobus mengingatkan bahwa dalam diri manusia ada hawa nafsu yang terus berjuang untuk menguasai (4:1). Petrus juga mengakui adanya keinginan daging yang terus berjuang melawan keinginan jiwa (1Ptr. 2:11). Karena itu, orang percaya harus berusaha mematikan keinginan-keinginan tersebut. Perbedaan dengan yoga, penguasaan atas tubuh manusia yang berdosa ini dilakukan melalui kekuatan Roh (Rm. 8:13 “oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu”).

Ketiga, Alkitab secara tegas menentang beberapa konsep yang salah dalam yoga.

· Tubuh bukanlah jahat. Tubuh ditebus oleh Tuhan Yesus (1Kor. 6:19-20) dan harus dipersembahkan kepada Tuhan (Rm. 12:1).

· Masalah utama bukan terletak pada tubuh itu sendiri, tetapi pada dosa yang telah merusak natur manusia (Rm. 7:19-20).

· Jalan keluar bagi masalah ini bukanlah disiplin rohani yang bersifat anthroposentris, tetapi melalui kasih karunia Allah di dalam Kristus (Rm. 7:24-25) dan pertolongan Roh Kudus (Rm. 8:8-9).

· Hidup di dalam daging tetap merupakan hidup yang bermakna, sejauh hal itu dihidupi di dalam iman di dalam Kristus (Gal. 2:20).

· Segala bentuk asketisisme adalah tindakan yang salah. Kolose 2:23 “peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi”.

· Manusia sangat terbatas dan sangat bergatung pada kehendak Allah (Yak. 4:15).

· Penyamaan diri dengan Allah adalah cara yang dipakai iblis untuk menjatuhkan Adam dan Hawa (Kej. 3:1-5).

· Penyamaan diri dengan Allah pasti diberi hukuman yang sangat berat (Yes. 14:4-20; Kis. 12:22-23).

Sumber:http://www.gkri- exodus.org/ page.php? BIB-Dunia_ Roh-11

Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M., yang lahir di Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya (www.gkri-exodus. org) dan dosen di Institut Theologi Abdiel Indonesia (ITHASIA) Pacet serta dosen tetap di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari GKRI Exodus, Surabaya.. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological Studies di International Center for Theological Studies (ICTS), Pacet–Mojokerto; dan Master of Theology (Th.M.) di International Theological Seminary, U.S.A. Mulai tahun 2007, beliau sedang mengambil program gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) part time di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), Leuven–Belgia.

Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.

“Mengenal Allah merupakan hal penting untuk menjalani hidup kita.”

(Prof. J. I. Packer, D.Phil.; Mengenal Allah, hlm. 5)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar