Senin, Februari 02, 2009

Berita Mingguan 31 JANUARI 2009

GEREJA-GEREJA YANG SEMAKIN 'KEREN': THE PURPLE PEOPLE LEADER
Gembala Sidang, Steven Furtick, dari Elevation Church, di Charlotte, North Carolina, telah mengeluarkan suatu seri ceramah prinsip-prinsip kepemimpinan yang diberi judul "Purple People Leader." Banyak hal yang bisa dikatakan tentang gambaran pemimpin-pemimpin yang akan disajikan, tetapi satu hal yang pasti: mereka semua keren di mata dunia. Nama "Purple People Leader" adalah semacam pelesetan dari lagu pop konyol yang muncul tahun 1950an, "Purple People Eater." Semenjak menjadi hit nomor 1 di chart 1958, lagu ini telah terjual seratus juta kopi. Lagunya tentang "pemakan manusia warna ungu (purple people eater), bermata satu, bertanduk satu, yang bisa terbang" yang datang ke bumi untuk bermain dalam sebuah band rock & roll. Furtick mengatakan, "Daripada melarikan diri dari kultur, kami lebih memilih untuk mempergunakannya. .." (Elevation Church, "Basis Beliefs").

Tetapi Alkitab memperingatkan bahwa Iblis adalah ilah dunia ini (2 Kor. 4:4), dan umat Allah tidak boleh menjadi sama dengan dunia tersebut (Roma 12:2). Kita harus dengan hati-hati menimbang kepantasan apapun juga yang kita adaptasi dari "kultur." Hal yang konyol tidak mungkin dapat secara efektif merepresentasikan hal-hal rohani yang serius dan mendalam, hal yang fasik tidak dapat digunakan untuk hal yang bajik, juga yang tidak bersih untuk yang bersih, atau yang kotor bagi yang kudus. Pemikiran Furtick merefleksikan kepercayaan Mark Driscoll dan jaringan penanaman gereja Kisah Rasul 29 yang salah. Driscoll mengklaim bahwa dirinya "KONSERVATIF SECARA THEOLOGIS, LIBERAL SECARA KULTURAL" ("Pastor Provocateur, " Christianity Today, 21 Sept. 2007). Ia mengkritik "fundamentalisme garis keras yang melempar batu kepada kultur." Ia mendefinisikan dirinya sendiri sebagai "relevan," "kontekstual, " dan "keren" (cool) ("Conference examines the emerging church," Baptist Press, 25 Sept. 2007). Gereja Mark Driscoll mneyediakan sebuah "bar champagne" dalam pesta tahun barunya. Mereka jug memberikan "pelajaran membuat bir" bagi kaum lelaki, mempertunjukkan film-film dengan rating R, dan menggunakan Theater Paradox untuk mengadakan konser rock sekuler. Scott Thomas, direktur dari organisasi Kisah Rasul 29, mengatakan, "Kami tidak akan melemahkan theologi kami untuk menjangkau lebih banyak orang, dan kami juga tidak akan menyerang kultur atas nama kekristenan" (http://www.acts29ne twork.org/ about/welcome/). Ini adalah pernyataan yang bertentangan. Anda tidak bisa setia kepada Alkitab (memiliki theologi yang sekuat batu) jika anda "mengkontekstualisa si Injil" dan menolak untuk menyerang sisi kultur yang penuh dosa dan dikuasai Iblis, yang mencakup bagian besar dari kultur di sebuah dunia di mana Iblis adalah ilah! Firman Allah memerintahkan, "JANGANLAH turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya TELANJANGILAH perbuatan-perbuatan itu" (Ef. 5:11). Yohanes Pembaptis kehilangan kepalanya karena ia menegur (menelanjangi perbuatan) seorang pemimpin politis akan immoralitasnya. Sayang sekali waktu itu ia tidak memiliki salah satu bukunya Driscoll untuk mengajari dia bagaimana caranya menjadi liberal secara kultural. Yohanes yang "emerging" tentunya akan jauh, jauh lebih keren.

KARAOKE BINTANG ROCK DI GEREJA SADDLEBACK
Edisi terakhir publikasi gereja Saddleback, "The Slice of Life," mengiklankan "Karaoke Bintang Rock." Pengumuman itu berbunyi, "Apakah anda seorang dewasa single yang ingin melepaskan ketegangan dan menyanyi sepenuh hati? Kalau begitu bergabunglah dengan kami untuk Karaoke Bintang Rock, Sabtu ini, 24 Januari, jam 8:00 pm di Tenda 2, dan nyanyikanlah hit-hit favorit anda dan saksikan orang lain melakukan hal yang sama! Inilah kesempatan bagi anda untuk merasa seperti seorang bintang rock, jadi bawalah teman-teman anda!" Gereja tidak fun seperti ini di zaman Paulus, tetapi kita harus ingat bahwa Paulus masih terbelenggu oleh mentalitas "janganlah menjadi serupa dengan dunia" (Roma 12:2) yang sangat kuno itu. Wah, semua itu sungguh membosankan, tetapi gereja-gereja seeker hari ini telah dibebaskan dari urusan bosa seperti itu.

PELAYAN-PELAYAN OPRAH MENGKLAIM BAHWA "GAY ADALAH KARUNIA DARI ALLAH"
Dua orang "pelayan Tuhan" yang muncul dalam Oprah Winfrey Show pada awal bulan ini, mengklaim bahwa homoseksualitas adalah karunia Allah. Ed Bacon, dari Gereja Episcopal All Saints di Pasadena, California, mendeklarasikan, "Menjadi gay adalah karunia dari Allah" ("Oprah Tackles New Issue," WorldNetDaily, 19 Jan. 2009). Michael Beckwith, pendiri Agapa International Spiritual Center di Los Angeles, dengan antusias setuju akan hal itu, dan memberikan Bacon "tos." Bacon mengatakan bahwa dalam surat-surat yang ia terima, 30 banding 1 setuju dengan posisinya, dan orang-orang yang protes dia gambarkan sebagai "berhati jahat." Bagi pemberontak yang tidak bertobat, adalah jahat dan tidak mengasihi untuk mengkhotbahkan Alkitab secara literal dan "menyatakan apa yang salah, menegor dan menasihati" sebagaimana Allah perintahkan (2 Tim. 4:2). Orang-orang Farisi tentunya merasa bahwa Yesus jahat saat Ia menegur mereka akan kesalahan-kesalahan mereka sebagaimana tercatat dalam Matius 23. Pemberontak salah menganggap koreksi sebagai penganiayaan. "Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan" (Amsal 1:7). Faktanya, memberitakan kebenaran Firman Allah dalam dunia yang gelap ini adalah tindakan yang paling mengasihi.

KEHEBATAN MIKRO MATA MANUSIA
Berikut ini disadur dari Creation Moments, http://www.creation moments.com/ radio/transcript .php?t=2294: "Chip komputer yang kecil -- inti dari komputer-komputer modern -- adalah sebuah wafer silikon yang tipis dengan diameter hanya sekitar 7 milimeter. Chip yang kecil ini dapat ditanami dengan 100.000 transistor. Walaupun ukurannya kecil, ratusan koneksi dapat dipasang padanya. Desain sebuah chip komputer adalah sesuatu hal yang luar biasa, yang hanya dapat dikalahkan oleh teknologi yang hebat yang membuatnya. Jika anda menemukan sebuah chip silikon di pasir-pasir di pantai, anda tidak mungkin bisa meyakinkan satu pun insinyur bahwa chip itu terjadi melalui gerakan ombak yang secara kebetulan mengatur semua silikon di pasir tersebut! Sekarang coba perhatikan mata manusia. Retina di lapisan belakang mata adalah sebuah membran yang sangat tipis, lebih tipis daripada plastik wrap manapun. Retina ini mengandung, bukan transistor, tetapi foto-reseptor yang lebih kompleks, yang tiap-tiap reseptornya adalah bagaikan sebuah amplifier. Retina bukan memiliki 100.000 reseptor, melainkan 200.000 untuk setiap milimeter persegi luas retina! Tetapi yang lebih mengherankan lagi adalah mengapa ada ilmuwan yang dapat berkata bahwa mata yang sedemikian hebat ini adalah hasil kesalahan-kesalahan genetika yang tidak diarahkan, yang muncul karena kebetulan. Sungguh, sidik jari Allah muncul di mana-mana dalam dunia ciptaan ini, sama seperti karya manusia terlihat dalam chip komputer. Bagaimanakah pribadi yang mendesain sekedar sebuah chip komputer dapat berani mempertanyakan Pribadi yang mendesain mata -- dan banyak lagi hal-hal lain!"

INDUSTRI ENTERTAINMENT MEMANDANG RENDAH PERNIKAHAN
Industri entertainment, seperti biasa, merendahkan hukum pernikahan Allah yang kudus. Belakangan ini dilaporkan bahwa aktor populer, Johnny Depp, sedang berencana menikah dengan "partner jangka panjangnya," Vanessa Paradis. Keduanya telah tinggal bersama selama bertahun-tahun dan memiliki dua orang anak. Paradis "telah kerap kali menjelaskan bahwa dia bukanlah fans konsep pernikahan yang tradisional" (The Kathmandu Post, "City Post," 19 Jan. 2009, hal. 3). Pada bulan Oktober 2008, ia memberitahu majalah Elle, "Mungkin suatu hari, tetapi saya sungguh lebih suka tidak usah" [tentang menikah]. Alkitab mengatakan: "Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan penzinah akan dihakimi Allah" (Ibrani 13:4).

Sumber: Friday Church News, Way of Life Ministry
Penerjemah: Dr. Steven E. Liauw (Graphe International Theological Seminary)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar