Senin, Januari 05, 2009

Apa Yang Membuat Amerika Serikat Hebat?

MUNCULNYA SISTEM DEMOKRASI


Sejak tahun 1998, ketika mahasiswa berkumpul di gedung DPR, dan di korankoran diberitakan serta dibahas segala sesuatu tentang demokrasi, rakyat Indonesia tersentak oleh kata "demokrasi". Kata demokrasi berasal dari kata bahasa Yunani "demos" dan "kratos" dengan arti "demos" sama dengan people atau rakyat dan "kratos" adalah rules atau memerintah, sehingga kata demokrasi berarti pemerintah oleh rakyat (Worldbook Dictionary, Thorndike Benhard).


Sebenarnya masalah demokrasi tentu sudah lama sekali populer, tetapi karena Soeharto bertindak diktator, demokrasi baru populer pada tahun 1998 ketika mahasiswa berusaha menumbangkannya. Masyarakat Indonesia baru berkenalan dengan demokrasi yang sudah lama dikenal bangsa lain. Baron de Montesquieu (1689 - 1755) telah mencetuskan sistem pemerintahan yang didasarkan pada keseimbangan kekuasaan antara eksekutif, legislatif dan yudikatif.


Amerika Serikat (AS) adalah negara pertama yang mempraktekkan sistem pemerintahan demokrasi (1776) dengan sistem federasi. Kemudian pada 14 Juli 1789, terjadi revolusi yang menumbangkan raja Louis XVI di Perancis, yang kemudian dipimpin lagi oleh Jenderal Napoleon Bonaparte secara diktator.


Sejak merdeka dari Inggris (4 Juli 1776), United States of America (USA) menjadi negara demokratis pertama di muka bumi. Presiden pertama AS, George Washington, adalah orang Kristen lahir baru yang tadinya berasal dari gereja Episkopal, namun bertobat dan dibaptis ulang menjadi anggota gereja Baptis. Ia memberi contoh untuk tidak menerima pendaulatan dalam bentuk apapun untuk terus menjadi presiden. Seterusnya USA adalah negara demokrasi yang bebas dan memberi penghargaan tertinggi bagi hak asasi manusia. Terlebih lagi setelah Abraham Lincoln berhasil menghapus perbudakan pada tahun 1865.


Negara-negara di Eropa tersipu-sipu dengan sistem demokrasi di Amerika, sehingga akhirnya para raja dan ratu satu persatu merelakan terpangkasnya kekuasaan mereka untuk menjadi monarchi konstitusional, dengan raja atau ratu yang hanya sekedar lambang saja. Hanya Perancis-lah yang rakyatnya bertindak amat kasar terhadap raja

Louis XVI.


Amerika Serikat (AS) adalah negara pertama di dunia yang memakai sistem demokrasi sebagai sistem pemerintahannya, dan negara pertama yang memakai sistem federasi juga. Kedua sistem ini adalah yang terbaik bagi manusia di muka bumi ini.


PENCETUS AWAL DEMOKRASI


Sebenarnya Anabaptis adalah pencetus awal sistem demokrasi, bukan Montesquieu, karena tercatat Anabaptis dari Eropa yang teraniaya melarikan diri ke benua baru yang ditemukan Columbus, sehingga menjadi masyarakat pertama di benua Amerika. Setelah dua bulan di lautan, mereka mendarat di pantai yang sekarang disebut Harbor of Provincetown pada tanggal 19 November 1620 . Sebelum mereka turun ke darat, satu persatu mereka maju ke depan untuk bersumpah dan menandatangani sebuah perjanjian (sumpah) bahwa mereka akan mematuhi hukum yang mereka buat bersama.

Dengan demikian mereka memulai sebuah masyarakat demokratis pertama di bumi, enam puluh sembilan tahun sebelum Montesquieu lahir. Perjanjian tersebut diberi nama Mayflower Compact.


Atas pimpinan kapten John Smith, mereka akhirnya pindah ke Plymouth. Pada tanggal 25

Desember, mereka berusaha membangun sebuah gedung yang mereka sebut common house dan mereka pertama hidup dengan sangat ketakutan terhadap orang-orang Indian. Di musim dingin pertama ini, separuh dari mereka yang berangkat telah meninggal dan pada akhir musim dingin, mereka dapatkan ternyata orang-orang Indian bersahabat, malah membantu mengajar mereka bercocok tanam, mengajar mereka menangkap ikan dan mengeringkannya (ikan kering / ikan asin). Mereka menjalani kehidupan dengan sangat baik bersama orang-orang Indian. Sampai musim gugur pertama, mereka telah berhasil membangun tujuh rumah dan sebuah gereja.


Pada bulan November, setelah satu tahun mereka berada di benua Amerika, datang lagi kapal dari Inggris dengan 30 orang pendatang baru. William Bradford, gubernur pertama mengajak orang-orang Indian yang berjumlah 100 orang ikut mengucap syukur kepada Tuhan atas berkatNya. Kemudian datang lagi kapal dari Inggris terus menerus dengan orang-orang yang pindah. Awalnya mereka hidup bersahabat dengan orang-orang Indian hingga datang orang-orang jahat dari Inggris yang menciptakan permusuhan dengan mereka.


DEMOKRASI & IMAN ALKITABIAH


Tidak ada satu agama pun selain kekristenan yang mengajarkan tentang demokrasi. Yudaisme mengajarkan theocracy karena memang Jehovah sedang menjadikan bangsa Yahudi sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran.

Sesungguhnya Jehovah adalah raja mereka, oleh sebab itu selama 400 tahun masa hakim-hakim, mereka tidak memiliki raja manusia karena Jehovah adalah raja mereka. Dulu Sang Pencipta memperkenalkan diriNya kepada manusia PL dengan nama Jehovah sedangkan di PB Ia memperkenalkan diriNya dengan nama Yesus.


Bahkan kekristenan yang tidak alkitabiah tidak mengerti arti demokrasi. Gereja Roma yang Am telah bertindak otoriter selama ribuan tahun. Mereka tidak mengenal, bahkan tidak menyenangi sistem demokrasi karena sistem ini akan menyebabkan manusia berpikir dan kemudian menentang mereka. Calvinist lebih lagi, John Calvin bahkan menjadi penguasa yang sangat otoriter ketika ia kebetulan berhasil menguasai kota Geneva. Siapapun yang mencoba menentangnya, bahkan sedikit tidak setuju dengannya, bisa berakhir di tiang pembakaran seperti Servetus.


Luther yang kemudian menyatukan gerejanya dengan pemerintahan Jerman tentu tidak mungkin menasehati raja Jerman untuk melucuti wewenang kerajaannya berbagi dengan rakyat jelata. Sejarah mencatat tidak ada denominasi awal yang mengerti arti demokrasi selain kelompok Anabaptis. Karena sesungguhnya demokrasi itu sepasang dengan kebebasan beriman. Itulah sebabnya baik Katolik, Calvinis, Lutheran maupun Anglikan yang melarang pihak lain menafsirkan Alkitab berbeda dengan mereka tidak mengerti arti demokrasi yang sesungguhnya.


Setelah Anabaptis di Amerika berkembang, benua baru Amerika menjadi tempat terindah bagi pencari kebebasan beriman, sehingga kerajaan Inggris menetapkan wilayah benua Amerika sebagai wilayah koloninya dan kerajaankerajaan di Eropa berlomba-lomba merebut wilayah koloni di benua Amerika. Setelah kedatangan penguasa dari Eropa, kaum Anabaptis kehilangan kebebasan mereka lagi.


Kebebasan dari penjajah dan kebebasan dari intimidasi rohani, mendorong sejumlah pahlawan berjuang untuk kemerdekaan Amerika. Patrick Henry, seorang yang pernah menunggang kuda berpuluh-puluh mil untuk tampil di pengadilan membela tiga pengkhotbah Baptis yang sedang diadili, pada 23 Maret 1775, di sebuah gereja di kota Richmond menyampaikan pidato yang diakhiri dengan sebuah teriakan give me liberty or give me death. Ini menggetar hati siapapun yang mendambakan kebebasan beragama.


Gereja Episkopal/Anglikan tidak mengerti arti demokrasi atau kebebasan beragama. Demikian juga dengan gerejagereja reformasi lain, apalagi Katolik. Anabaptis-lah yang telah sungguh-sungguh mengerti arti kebebasan beragama dan demokrasi. Dan karena perjuangan kaum Anabaptis-lah Amerika Serikat menjadi sebuah negara demokratis.


DEMOKRASI / KEKRISTENAN?


Karena negara-negara Kristen baik AS maupun Eropa akhirnya menganut sistem pemerintahan demokratis, sekalipun masih dengan raja dan ratu yang bersifat seremonial, maka mereka semakin maju. Baik teknologi maupun ekonomi negara demokratis terbukti semakin maju karena ada persaingan yang sehat dan penghargaan terhadap meritrokrasi yang tinggi. Pendidikan pun semakin maju sehingga menarik imigran dari negera-negara non-Kristen. Mereka berbondong-bondong menuju negara Kristen yang demokratis dengan tetap keras kepala pada keyakinan iman mereka yang bersifat destruktif.


Dengan kehadiran imigran dari negara Amerika Latin yang mayoritasnya Katolik, terlebih lagi setelah kedatangan imigran dari negara Asia yang beragam iman, tatanan masyarakat AS yang jujur dan ramah terdistorsi. Ditambah lagi dengan semakin bertambahnya masyarakat AS yang atheis, maka sesungguhnya sistem demokrasi dan pasar bebas yang dianut tidak compatible lagi dengan komposisi masyarakatnya.


Masyarakat Asia yang beragam agama menyangka yang membuat AS hebat itu hanyalah sistem demokrasi dan pasar bebasnya. Padahal sistem demokrasi dan pasar bebas itu hanya compatible dengan kekristenan yang alkitabiah. Amerika Latin tidak bisa mentas dari kemiskinan, sebagaimana Christianto Wibisono selalu menyangka penyebabnya adalah karena mereka tidak demokratis, padahal yang benar adalah karena kekristenan di sana tidak alkitabiah sehingga tidak bisa demokratis.


Sistem demokrasi itu baik jika mayoritas masyarakatnya baik. Jika ada sepuluh orang, delapannya orang baik dan dua orang jahat, demokrasi pasti akan membawa keadaan yang baik. Tetapi jika ada delapan orang jahat, dan hanya dua orang baik, maka sistem demokrasi akan menjadi alat orang-orang jahat melaksanakan kejahatan mereka. Jadi, dengan berduyun-duyun orang dari Afrika, Timur Tengah dan Asia yang pergi ke Eropa dan Amerika sambil mempertahankan kebudayaan dan agama mereka, telah merubah tatanan masyarakat Eropa dan Amerika yang dasarnya adalah kekristenan.


Ketika penulis tinggal di AS, hampir semua supermarket hanya dijaga oleh satu orang kasir saja, yang kalau di negara dunia ketiga, pasti lebih banyak yang tidak bayar daripada yang bayar. Supermarket barang elektronik dan komputer menjanjikan satu bulan money-back guarantee tanpa alasan. Artinya jika anda tidak suka, dalam waktu 30 hari, barang boleh dikembalikan tanpa alasan. Kalau ini dilakukan di negara dunia ketiga, pasti dalam satu bulan langsung bankrut. Pada saat sesudah Natal, penulis melihat banyak orang antri di department store untuk mengembalikan atau menukar hadiah Natal yang tidak cocok ukurannya dan lain sebagainya.


Demokrasi dan pasar bebas sesungguhnya hanya cocok dengan kekristenan alkitabiah yang masyarakatnya mayoritas orang Kristen lahir baru. Kondisi AS yang semakin banyak homosex dan atheis, ditambah lagi dengan imigran dari negara non-Kristen dan dari negara Kristen KTP, tentu telah menyebabkan distorsi sistem yang seharusnya bagus menjadi malapetaka. Bisa digambarkan dengan sebuah keluarga dengan anak-anak yang rapi, baik dan sopan, tiba-tiba kedatangan anak orang lain yang numpang dan tidak tahu diri, yang kencing tidak siram, tissue dibuang sembarangan, maka suasana keluarga tersebut pasti akan kacau-balau.


Pasar yang tadinya terdiri dari pedagang jujur semakin kedatangan pedagang licik yang penuh penipuan. Pasar saham yang seharusnya dibeli oleh investor sesungguhnya belakangan digantikan dengan para spekulan bursa. Akhirnya disinyalir bahwa kekacauan di Wall Street itu disebabkan oleh short-term selling. Jelas sekali bahwa yang melakukan short-term selling itu bukan investor melainkan spekulan. Jelas masyarakat Kristen lahir baru tidak biasa dengan pedagang yang penuh penipuan. Ketika penulis masih kecil sempat menyaksikan orang kampung memasukkan tanah atau batu ke dalam gumpalan karet (kulat) supaya lebih berat timbangannya. Kini orang-orang mengoplos bensin dengan minyak tanah, mencampur beras dengan batu, mengawetkan ikan atau makanan bukan lagi dengan es tetapi dengan formalin, menambahkan melamin ke dalam susu supaya terasa lebih gurih. Semua ini tidak terpikirkan oleh orang Kristen lahir baru. Pohon tengkawang ditebang, pohon durian dikarbit supaya buahnya rontok serentak, ikan ditubah atau dibom. Semua ini merusak secara jangka panjang dan adalah hal-hal yang tidak ada di benak orang Kristen lahir baru. Kalau gerombolan DPR lebih banyak koruptor daripada idealis yang rela kelaparan demi prinsip, orang berhikmat tahu bahwa negara demokrasi demikian pasti akan semakin buruk keadaannya.


Jadi, yang membuat AS hebat itu demokrasi atau kekristenan yang alkitabiah? Jelas kekristenan yang alkitabiah yang telah menyebabkan masyarakat memilih sistem yang demokratis, dan sistem itu dengan nilai kekristenan telah bergandengan tangan menciptakan kebaikan dalam segala bidang. Kini, setelah sekian abad, iblis mengirim imigran ke AS sambil merusak masyarakat tersebut dengan memanfaatkan kebebasannya

dengan mesin Hollywood. Iblis menyerang melalui bidang pendidikan sehingga semakin banyak profesor yang bukan hanya sekedar Kristen KTP, bahkan non-Kristen juga mengajar di universitas-universitas yang didirikan oleh orang-orang Kristen yang sangat mengasihi Tuhan. Mahasiswa Kristen AS tidak sanggup mempengaruhi imigran non-Kristen yang belajar di sana, melainkan mereka yang dipengaruhi sehingga semakin tidak percaya diri sebagai orang Kristen.


Oh...iblis sedang menghancurkan AS, negara yang didirikan oleh orang-orang yang mengasihi Tuhan, negara yang paling banyak mengirim misionari ke berbagai belahan bumi. Melalui krisis keuangan yang baru terjadi, iblis sedang menghancurkan AS secara ekonomi dan pasti akan membawa efek ke segala bidang. Rakyat AS yang kesulitan ekonomi akan memilih presiden yang pokoknya bisa memberikan peningkatan ekonomi, tidak masalah dia itu memegang prinsip kekristenan atau tidak. Bahkan umat agama lain pun suatu hari akan dipilih mereka jika yang bersangkutan bisa memimpin kepada kejayaan ekonomi. Herankah kita kalau anti-Kristus muncul menawarkan diri kepada dunia sebagai Economy-Champion dan dunia serta-merta menyanjungnya? Saat itulah ia akan menguasai dunia dan tidak ada yang bisa menjual atau membeli tanpa seijinnya.***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar