Selasa, Februari 05, 2008

Menjadi Pemimpin Sejati

Oleh : Dede Wijaya

30-Jan-2008, 22:56:51 WIB - [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia - Menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah, banyak orang muda yang mengalami kesulitan ketika diberi tanggung jawab untuk mengorganisasikan suatu sistem. Akan tetapi banyak pula yang menganggap memimpin adalah hal yang mudah, tak ubahnya seperti layaknya seorang bos yang menerapkan otoritas pada bawahan, cukup dengan memberi job description yang harus dikerjakan, membuat bawahan agar mematuhi aturan/kebijakan yang berlaku dalam company tersebut, dan membuat bawahan tidak bersuara (tidak melakukan aksi protes/menyuarakan hak-haknya yang dapat merugikan bos dan company).

Banyak tokoh Alkitab yang bisa kita teladani kepemimpinannya diantaranya: Musa, Yosua, Yesus Kristus, Paulus, dan para hakim, para Nabi, Raja Daud, dan lain-lain. Memimpin adalah salah satu Karunia Roh. I Korintus 12:28 berbunyi, "Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh."

Para profesional muda mengganggap bahwa tingkat pendidikan, jabatan/posisi yang mereka duduki saat ini sudah menunjukkan bagaimana hebatnya kepemimpinan yang mereka terapkan. Banyak orang salah kaprah mengatakan bahwa manajer adalah seorang pemimpin. Manajer benar adalah seorang pimpinan akan tetapi belum tentu manajer adalah seorang pemimpin. Banyak manajer yang ditakuti oleh bawahan dan banyak juga manajer yang bertangan besi dalam memimpin sehingga acapkali kita mendengar label dari bawahan untuk bosnya yakni bos macan, bos harimau, bos bertangan besi, bos berkicau, bos berwajah hantu, dan lain sebagainya.

Mungkin anda memiliki labeling lain buat pimpinan anda di perusahaan. Mengapa banyak labeling-labeling yang muncul yang kadangkala menjadi bahan lelucon/humor segar di kalangan bawahan?? Atau mungkin malahan si “bos“ merasa bangga dengan labeling yang dia peroleh, yang membuat dia merasa ditakuti oleh bawahan dan menjadi orang yang hebat yang dapat membuat orang lain tak berani berkutik di hadapannya. Menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah, untuk memimpin sekelompok orang saja yang terdiri dari grup kecil 3-4 orang, tidak semua orang dapat melakukannya.

Menyatukan berbagai perbedaan sudut pandang, pola pikir, dan karakter masing-masing orang bukanlah hal yang mudah seperti melipat tangan atau menendang sebuah bola. Banyak benturan yang akan terjadi selama proses penyatuan berbagai perbedaan tersebut, di sinilah dibutuhkan seorang pemimpin. Dapat kita bayangkan betapa sulitnya memimpin grup kecil apalagi dalam lingkup yang lebih luas seperti company atau bahkan sebuah negara. Abad 21 ini diwarnai dengan banyaknya sistem dan kompleksitas dalam setiap bidang kehidupan, birokrasi yang panjang dan bertele-tele juga menjadi semakin kompleks.

Efisiensi dan efektivitas sudah jarang kita temui dalam aspek kehidupan kita. Di abad ini kita semua membutuhkan sosok pemimpin yang mampu menciptakan tidak hanya kuantitas tetapi juga kualitas yang dapat memberikan nilai tambah yang lebih dalam aspek kehidupan umat manusia. Hal ini menjadikan wacana yang tak pernah habis untuk dibicarakan. Sosok pemimpin bagaimana yang menjadi idaman dan bagaimana kriteria pemimpin yang ideal. Kriteria Seorang Pemimpin Pimpinan yang dapat dikatakan sebagai pemimpin setidaknya memenuhi beberapa kriteria, yaitu memiliki:


A. Pengaruh

Seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki orang-orang yang mendukungnya yang turut membesarkan nama sang pimpinan. Pengaruh ini menjadikan sang pemimpin diikuti dan membuat orang lain tunduk pada apa yang dikatakan sang pemimpin. John C Maxwell, penulis buku-buku kepemimpinan pernah berkata: Leadership is Influence (Kepemimpinan adalah soal PENGARUH). Mother Teresa dan Lady Diana adalah contoh Kriteria seorang Pemimpin yang punya Pengaruh.


B. Kekuasaan/power

Seorang pemimpin umumnya diikuti oleh orang lain karena dia memiliki kekuasaan/power yang membuat orang lain menghargai keberadaannya. Tanpa kekuasaan atau kekuatan yang dimiliki sang pemimpin, tentunya tidak ada orang yang mau menjadi pendukungnya. Kekuasaan/kekuatan yang dimiliki sang pemimpin ini menjadikan orang lain akan tergantung pada apa yang dimiliki sang pemimpin, tanpa itu mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Hubungan ini menjadikan hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme, dimana kedua belah pihak sama-sama saling diuntungkan.

Percaya atau tidak, hubungan antar manusia di dunia ini pada dasarnya dilandasi oleh hubungan bisnis yang saling menguntungkan, hubungan cinta antara pria dan wanita sekalipun didasari atas prinsip ini. Pria merasa mendapat sosok idaman yang dia cari yang mampu memenuhi kekurangan dan mengisi berbagai kelemahannya, sementara si wanita merasa dilindungi dan dipenuhi semua kebutuhannya oleh si pria, sehingga si wanita merasa aman berada di dekat pria. Dapat dibayangkan apabila masing-masing dari pria/wanita tidak mendapat hal yang dia butuhkan/inginkan malahan merasa dirugikan maka hubungan cinta tersebut tidak akan berjalan lama. Setulus apapun cinta yang diucapkan, seiring dengan berlalunya waktu hubungan tersebut akan mengalami keretakan dan tidak akan menghasilkan kebahagiaan.


C. Wewenang

Wewenang di sini dapat diartikan sebagai hak yang diberikan kepada pemimpin untuk menetapkan sebuah keputusan dalam melaksanakan suatu hal/kebijakan. Wewenang di sini juga dapat dialihkan kepada bawahan oleh pimpinan apabila sang pemimpin percaya bahwa bawahan tersebut mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan baik, sehingga bawahan diberi kepercayaan untuk melaksanakan tanpa perlu campur tangan dari sang pemimpin.


D. Pengikut

Seorang pemimpin yang memiliki pengaruh, kekuasaaan/power, dan wewenang tidak dapat dikatakan sebagai pemimpin apabila dia tidak memiliki pengikut yang berada di belakangnya yang memberi dukungan dan mengikuti apa yang dikatakan sang pemimpin. Tanpa adanya pengikut maka pemimpin tidak akan ada. Pemimpin dan pengikut adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan tidak dapat berdiri sendiri.

Hal-hal yang disebutkan di atas adalah kriteria yang setidaknya pasti kita jumpai pada seorang pemimpin. Lalu bagaimana menjadi seorang pemimpin yang ideal? Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk membahas hal tersebut perlu kita pahami terlebih dahulu apa itu pengertian Pemimpin.

Pemimpin berasal dari akar kata pimpin. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata “Pimpin” mempunyai pengertian bimbing atau tuntun, sedangkan pemimpin adalah orang yang memimpin. (Memimpin: memegang tangan seseorang sambil berjalan (untuk menuntun, menunjukkan jalan, dan sebagainya), mengetuai atau mengepalai (rapat, perkumpulan, dsb), memandu, memenangkan paling banyak, melatih (mendidik, mengajari, dan sebagainya).

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi kedua, Balai Pustaka: Depdikbud), dari pengertian memimpin kita banyak sekali menjumpai kata kerja/verb. Berarti dalam pengertian memimpin lebih banyak bersifat aktif dan bukan pasif. Di sini dapat kita lihat pemimpin harusnya adalah seorang yang proaktif yang menjadi perintis/pionir bagi orang-orang di sekitarnya. Bukan sebaliknya menunggu bawahan untuk bersifat proaktif dalam menyelesaikan pekerjaan dan menyelesaikan sisa pekerjaan bawahan yang belum beres. Lalu bagaimana kriteria seorang pemimpin yang ideal?

Ketika saya menulis artikel ini saya teringat kepada kisah Alkitab tentang Nasehat Yitro kepada Musa untuk mengangkat para pemimpin di bawah Musa untuk membantunya mengatasi dan menyelesaikan setiap masalah bangsa Israel yang meminta pengadilan daan putusan Musa. Hal ini mengilhami saya pertama kali bagaimana menjadi seorang pemimpin yang ideal. Kisahnya bisa kita baca dari Keluaran 18:13-27.

Kita perhatikan nasehat Yitro: Tetapi mertua Musa menjawabnya: "Tidak baik seperti yang kaulakukan itu. Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja. Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau. Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kau hadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah. Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan. Di samping itu kau carilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya. Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya."

Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya. Saudara, kita melihat bahwa Yitro menasehatkan setidaknya ada 5 hal yaitu:

1. Pekerjaan Musa Overloaded (Terlalu Berat)
2. Mewakili Bangsa Israel di hadapan Tuhan
3. Mengajarkan ketetapan-ketetapan dan keputusan, memberitahukan bangsa itu apa yang harus mereka lakukan.
4. Mencari dan memilih orang-orang yang berintegritas tinggi dan menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin sesuai dengan kapasitas dan porsi tanggung jawab.
5. Bangsa Israel akan menjadi puas.

Yitro adalah Mertua Musa yang bijaksana yang akhirnya mengenal Allah yang disembah Bangsa Israel. Lalu kata Yitro: "Terpujilah TUHAN, yang telah menyelamatkan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan Firaun. Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN lebih besar dari segala allah; sebab Ia telah menyelamatkan bangsa ini dari tangan orang Mesir, karena memang orang-orang ini telah bertindak angkuh terhadap mereka." Dan Yitro, mertua Musa, mempersembahkan korban bakaran dan beberapa korban sembelihan bagi Allah; lalu Harun dan semua tua-tua Israel datang untuk makan bersama-sama dengan mertua Musa di hadapan Allah. (Kel 18:10-12).

Yitro adalah Bapak Manajemen pertama di dunia yang pernah tercatat dalam sejarah Alkitab dan diakui oleh dunia modern. Satu prinsip utamanya adalah kemampuan untuk mendelegasikan tugas dan tanggung jawab yang tidak mungkin sanggup dilakukan oleh satu orang (single fighter) kepada orang-orang lain yang berintegritas dan ahli. Dalam kepemimpinan apapun, prinsip ini tidak oleh dilupakan (Kemampuan Mendelegasikan).

John C. Maxwell, seorang ahli kepemimpinan dan mengajarkannya dalam buku-buku bermutunya dan lewat VCD-VCD Kepemimpinan. Seorang Pria yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mendidik dan memberi transfer ilmu dan juga nilai-nilai yang berharga bagi setiap orang di dunia dan mempunyai visi menghasilkan sejuta Pemimpin di seluruh dunia (One Million Leader).

Dari ilmu yang saya dapatkan, pengalaman, dan juga apa yang saya saksikan pada diri seorang pemimpin saya merangkum setidaknya ada 4 hal yang dapat dijadikan kriteria sebagai pemimpin yang ideal. Dan untuk selanjutnya sebutan pemimpin ideal ini saya ganti menjadi pemimpin sejati.

Pemimpin sejati, ketika kata tersebut muncul di benak saya, saya membayangkan seseorang yang luar biasa seperti dosen saya tersebut, para pakar kepemimpinan seperti Kenneth Blanchard dan Spencer Johnson, Zig Ziglar, Stephen R. Covey, Michael Angier, (Alm) Norman Vincent Peale dan bahkan pemimpin dunia yang luar biasa dan telah banyak berdedikasi serta melakukan hal-hal yang berani yang jarang terpikirkan atau dilakukan manusia pada umumnya. Pemimpin sejati adalah seorang pemimpin yang dinanti-nantikan oleh setiap orang. Empat Kriteria Pemimpin Sejati yaitu:

1. Visioner: Punya tujuan pasti dan jelas serta tahu kemana akan membawa para pengikutnya. Tujuan hidup anda adalah poros hidup anda. Andy Stanley dalam bukunya Visioneering, melihat pemimpin yang punya visi dan arah yang jelas, kemungkinan berhasil/sukses lebih besar daripada mereka yang hanya menjalankan sebuah kepemimpinan.

2. Sukses Bersama: Membawa sebanyak mungkin pengikutnya untuk sukses bersamanya. Pemimpin sejati bukanlah mencari sukses atau keuntungan hanya bagi dirinya sendiri, namun ia tidak kuatir dan takut serta malah terbuka untuk mendorong orang-orang yang dipimpin bersama-sama dirinya meraih kesuksesan bersama.

3. Mau Terus Menerus Belajar dan Diajar (Teachable and Learn continuous).

Banyak hal yang harus dipelajari oleh seorang pemimpin jika ia mau terus survive sebagai pemimpin dan dihargai oleh para pengikutnya. Punya hati yang mau diajar baik oleh pemimpin lain ataupun bawahan dan belajar dari pengalaman diri dan orang-orang lain adalah penting bagi seorang Pemimpin. Memperlengkapi diri dengan buku-buku bermutu dan bacaan/bahan yang positif juga bergaul akrab dengan para Pemimpin akan mendorong skill kepemimpinan akan meningkat.


4. Mempersiapkan Calon-calon Pemimpin Masa Depan

Pemimpin Sejati bukanlah orang yang hanya menikmati dan melaksanakan kepemimpinannya seorang diri bagi generasi atau saat dia memimpin saja. Namun, lebih dari itu, dia adalah seorang yang visioner yang mempersiapkan pemimpin berikutnya untuk regenerasi di masa depan. Pemimpin yang mempersiapkan pemimpin berikutnya barulah dapat disebut seorang Pemimpin Sejati. Di bidang apapun dalam berbagai aspek kehidupan ini, seorang Pemimpin sejati pasti dikatakan sukses jika ia mampu menelorkan para pemimpin muda lainnya. "Hadiah terbesar yang diberikan oleh kehidupan adalah kesempatan untuk bekerja keras dalam pekerjaan yang layak dilakukan." -
Theodore Roosevel

(dimuat Tabloid GLoria MInggu II dan III Februari 2008)

http://dedewijaya.blogspot.com
http://dedewijaya.blogs.friendster.com
Penulis: Dede Wijaya, Penulis Buku Pesona Alkitab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar