
Artikel Rohani menarik, Isu Teologi, Cinta, Humor dan perenungan. Fundamental-Baptist-Independent-Alkitabiah, Dispensational in theology, Pre-Tribulational Rapture Pre-millennial, Textus Receptus and Masoretic Text (traditional-text based), Baptism by immersion, Six-day literal creation, Literal and Grammatical and Historical in hermeneutics
Kamis, Januari 07, 2010
10 Cerita Heboh Karena Facebook

6 Bencong Diskusi Book...
Ketika dalam perjalanan menuju ke kampus, aku melihat seorang bencong sedang berjalan kaki dengan penampilan yg cantik dan menor. Seandainya dia didandani lebih lagi dalam soal pakaian, maka bisa jadi orang yang memandang akan menyangka dia adalah perempuan cantik benaran. Oops...setidaknya kalo tampak belakang, kalo tampak depan dengan kondisi berpakaian seperti yang kulihat sekilas dari perjalanan dengan motorku, maka jelas dia bukan wanita.
Setelah keluar dari kampus, aku menelusuri sebuah perempatan yang tidak jauh dari kampusku. Maka aku berhenti karena ada Bang Jo (Lampu merah maksudku Book...) di perempatan itu. Kulihat 6 bencong diseberang persimpangan sebuah Mall, dan dipojok alias sudut jalan umum trotoar yang tidak panas. Mereka asyik ngobrol dan diskusi Book.... aku tidak tahu apa yang mereka diskusikan.
Saat itu mungkin mereka diskusi alias Briefing sebelum memulai pekerjaannya sebagai Bencong jalanan yang mengamen untuk sesuap nasi. Mungkin saja salah seorang di antara mereka mengajak, "Sebelum kita mulai berkerja hari ini, marilah kita berdoa menurut agama dan keyakinan kita masing-masing agar Tuhan memberkati kita hari ini." Ada perasaan jijai dan sedih alias prihatin juga. Mungkin di kota J, banyak bencong di jalan-jalan yang mengamen dari satu perempatan Bang Jo ke perempatan yang lain, atau dari satu tempat makan ke warteg yang lain.
Tidak kulihat mereka membawa Gitar, namun biasanya mereka membawa Krincingan sebagai alat musik. Tidak berani juga aku mengambil foto dari kamera Hpku yang kubawa, "eike takut Book....."
Bang Jo pun menjadi Hijau...aku berlalu begitu saja dengan sebuah perasaan risau sejenak dengan kondisi mereka dan kota J. Mungkin ini adalah potret sebagian kecil rakyat bangsaku yang sudah berputus asa dalam mencari kerja. Mungkin mereka mendapat uang lumayan banyak sehari seperti pengamen pada umumnya. Mungkin itu juga yang membuat mereka tetap menjadi Bencong Pengamen Jalanan. So... ada ide apa untuk membuat terobosan kecil untuk menolong mereka? Pertanyaan itu mengusik hatiku.
Ketika makan, mereka ada, ketika di Bang Jo, mereka ada, Oopps...dimana-mana ada mereka...aku jadi teringat lagu Project Pop, JANGAN GANGGU BANCI.....
Saya mau meralat lagu Project Pop tersebut dengan menjadi JANGAN JADI BANCI.... JANGAN JADI BANCI....tapi gimana caranya gitu lho? Mungkin itu akan mereka tanyakan kepada anda dan saya....
SO What gitu lho, kami enjoy dengan kondisi kami saat ini, so jangan ganggu kami, jangan ganggu Banci Boook.... lebih lagi jika ditanya ke dalam hati sanubari mereka, apa benar mereka mau jadi Banci/Bencong seumur hidup atau lama jadi begitu. Tentu saja mereka setuju dengan lagu plesetanku “JANGAN JADI BANCI”.
Rabu, Januari 06, 2010
Mirisnya Hukum Indonesia

Ada lagi, dua petani asal Cileles, Lebak, Banten, Y (19) dan R (32) terpaksa mendekam di penjara selama tiga bulan lebih, hanya karena didakwa mencuri getah karet yang nilainya tak seberapa.
Getah karet yang mereka curi itu milik PT WJ. R mencuri 32 kg, sedangkan Yanto hanya mencuri 3 kg getah karet. Belum sempat menjual barang curiannya itu, keduanya kepergok mandor yang kemudian melaporkannya ke Polsek Pabuaran, Serang. Merekapun akhirnya mendekam di balik jeruji besi, sembari menjalani proses persidangan.
Dua kasus terbaru yang penulis saksikan baru saja di TV One (5 Jan 2010, Kabar Siang), yaitu kasus pencurian 3 batang kayu yang jika dinilai seharga 90 ribu rupiah, yang dijerat dengan hukuman 8 bulan penjara oleh seorang Bapak dengan alasan untuk perbaikan rumahnya, sang bapak meminta keringanan hukuman dari Hakim dan memohon hakim mau mempertimbangkan lagi.
Minggu, Januari 03, 2010
Download 2 Buku Membongkar Gurita Cikeas dan LEFT BEHIND Indonesia

Bagaimana dan Dengan Apa Perempuan itu MENGADUK?
“Perempuan itu”, yang dalam Wahyu 17 dipersonifikasikan juga dengan sebutan Pelacur Besar, dan dalam Yesaya 14:12 dalam bahasa Latin disebut Lucifer, adalah aktor utama seluruh proses pengadukan. Tujuan ia mengaduk pengajaran gereja-gereja adalah agar bisa menularkan pengajaran gereja yang salah kepada gereja yang benar dan hasil akhirnya tidak ada lagi gereja yang benar.
Pertama, ia berusaha memimpin para pemimpin gereja dan para theolog hingga pada konsep “Kebenaran Alkitab Adalah Kebenaran Yang Relatif, Bukan Kebenaran Absolut.” Ketika seseorang menerima kebenaran Alkitab hanya sebagai kebenaran relatif, maka ia tidak berani meyakini bahwa hanya di dalam Alkitab saja ada kebenaran yang menyelamatkan. Ia akan mulai berpikir bahwa kekristenan bisa jadi hanyalah salah satu kebenaran yang relatif. Bisa jadi juga terdapat kebenaran dalam kitab lain. Orang Kristen dengan pandangan demikian pasti akan kehilangan kegairahan untuk bersaksi dan menginjil. Tentu ia lebih tidak bergairah lagi untuk mempertahankan kebenaran Alkitab, karena kalau itu kebenaran relatif maka sebenarnya sama dengan ‘belum tentu benar’, jadi untuk apa dipertahankan?
Pemicu munculnya konsep ini bisa jadi karena peperangan rohani yang melelahkan dan kurangnya pendidikan doktrinal. Anabaptis berperang habis-habisan secara doktrinal dengan Roma Katolik bahwa pengajaran Soteriologi mereka salah, bahwa Bibliologi mereka salah, dan bahwa Ekklesiologi mereka juga salah sehingga jumlah martirnya tak terhitung.
Kemudian muncul Reformator yang juga menentang Roma. Tetapi sayang sekali pokok pengajaran yang direformasi tidak tuntas. Mereka hanya mereformasi Soteriologi dan Bibliologi dengan semboyan Sola-Gracia dan Sola Scriptura.
Hebat Sekali Perempuan Itu!
Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya." (Mat.13:33)
Banyak orang telah mencoba menafsirkan perumpamaan-perumpamaan yang disampaikan Tuhan Yesus dalam Matius pasal 13. Setelah penulis membaca lebih dari sepuluh komenteri, terkesan bahwa para penulis komenteri yang tentu berpendidikan dan berpengetahuan cukup, tidak dapat menemukan kunci masuk ke dalam ruang perumpamaan tersebut.
Mata mereka tertutup oleh sebuah kesalahfahaman terhadap kata “Kerajaan Sorga” sehingga mereka melihat bahwa perumpamaan Tuhan Yesus adalah tentang segala sesuatu yang di Sorga atau tentang Kerajaan Sorga itu sendiri.
Padahal kunci untuk memahami perumpamaan tersebut justru disembunyikan oleh Tuhan Yesus di balik kata “Kerajaan Sorga” sama seperti, Dr. Rod Bell (di Greenville, USA) yang menerima kami dan ia harus pergi berkhotbah ke kota lain sehingga meninggalkan kami dengan pesan agar kalau kami akan pergi, kunci rumahnya disembunyikan di bawah sebuah patung anjing yang terletak di samping pintu rumahnya.
Siapapun yang ingin masuk ke rumahnya tidak akan berhasil jika yang bersangkutan terpukau pada patung anjing tanpa menyadari ada kunci rumah di bawahnya.
Pada ayat 11 dalam pasal yang sama, Tuhan memberitahu murid-muridNya tentang “letak kunci” untuk masuk ke dalam ruang perumpamaanNya, kataNya, “kepadamu diberi karunia untuk mengetahui RAHASIA Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.”