Sabtu, November 13, 2010

Penganiayaan Terhadap Kaum Baptis

Gereja Orthodoks Rusia telah memiliki sejarah yang panjang dalam penganiayaan terhadap kaum Baptist di Rusia. Sejak 20 Agustus 1867 ketika seorang Baptist Jerman yang bernama Martin Kalweit membaptis selam Nikita Voroin di sebuah sungai kecil dekat sungai Kura di Kaukasus sebelah selatan Rusia. Penganiayaan gereja Orthodok Rusia terhadap kaum Baptis semakin nyata.

Akhirnya pada tahun 1879 ‘sekte’ Baptis diakui secara hukum namun toleransi sebenarnya tidak terjadi, karena gereja Orhodoks takut dengan penginjilan yang agresif dan misi yang dilakukan kaum Baptis. Sebelum 1917 ketika sebagian besar kekaisaran jatuh ke tangan Komunis, gereja Orthodok adalah gereja negara dan mereka memakai kepolisian untuk menganiaya kaum Baptis. Ada seorang pemimpin Baptis menulis hal ini mengenai hari-hari penganiayaan pada masa itu. “ini adalah masa-masa yang sulit, mengerikan, dianiaya, diusir, dipenjara, dipukul adalah hal-hal yang dialami orang-orang percaya yang terus menerus terjadi bagi mereka yang sungguh-sungguh percaya. Di dalam rasa takut yang terus menerus ditangkap polisi mereka tetap mengadakan pertemuan jemaat di hutan, di bawah tanah, di kuburan, di rumah-rumah.

Tulisan mengenai penderitaan saudara Baptis kita di rezim Komunis semakin banyak dikumpulkan. Tempat penyimpanan arsip KGB (agen rahasia Rusia) dibuka oleh Georgi Vins tahun 1995 dan ia pun menyelidiki rahasia yang selama ini disimpan ayahnya Rev. Peter Yakuvlech Vins. Ia menemukan file ayahnya yang terdiri dari 450 halaman, ia dapatkan bahwa ayahnya ditembak mati pada tanggal 26 Agust 1937.

Pada tahun 1996 David L. Cummins mendapat kehormatan untuk bertemu dengan Rev. Vladimir Zinchenko, gembala dari gereja Baptis yang tidak terdaftar di Moskow. Ia menceritakan pengalamanya dipenjarakan dua kali baru-baru ini. Vladimir Zinchenko lahir pada tanggal 13 Juni 1950 dari keluarga Kristen Baptis yang taat. Di awal tahun 1960, ayahnya P.S. Zinchenko adalah salah seorang pemimpin Baptis yang mewakili kaum Baptis dan Georgi Vins bertemu dengan Nikita Khrushchev, pemimpin Uni Soviet. Namun usaha mereka tidak berhasil untuk memperjuangkan kebebasan beragama di negara tersebut.

Ibu Vladimir, Vera adalah seorang wanita Kristen yang taat dan luar biasa. Dalam bimbingan rohani yang baik akhirnya pada tanggal 20 Juni 1963, Vladimir mengakui imanya di depan publik dengan dibaptis selam. Enam tahun kemudia Vladimir ditangkap dan dipenjara karena memimpin pujian disebuah kebaktian di dalam hutan. Ia dituduh bersalah dan dikirim ke camp pengasingan Ukraina, tidak jauh dari perbatasan Rumania. KGB berusaha mencuci otaknya namun tidak berhasil. Saudara Vladimir, Paul juga dipenjarakan karena imannya. Pada tamggal 2 september 1972, Vladimir pun dibebaskan.

Setelah dibebaskan ia pun semakin giat melayani Tuhan dan menikah lalu melanjutkan studinya. Pada tangaal 10 Agustus 1980, ia ditahbiskan menjadi gembala disebuah gereja local tempat ia dulu melayani. Namun pencaobaan kembali datang, tanggal 24 Februari 1984 ia ditangkap KGB dan dipenjarakan. Ia dibawa ke penjara Matroska disebelah utara Moskow. Istrinya yang setia dan 2 anak perempuanya yang masih kecil diberi kesempatan mengunjungi setahun satu kali. Pada tahun 1987, Valdimir dibebaskan, namun ia diberitahu bahwa ia tidak boleh tinggal di Moskow lagi. Dalam waktu 72 jam ia harus segera meninggalkan Moskow.

Oleh karena kesulitan ekonomi, Uni Soviet, Mikhail Gorbachev dalam pertemuanya dengan presiden George Bush meminta bantuan, namun Bush menolak. Bush meminta Uni Soviet terbuka dan mengijinkan kebebasan beragama di negara tersebut. Oleh karena kesulitan ekonomi akhirnya pemimpin Komunis tersebut menyerah pada permintaan Bush. Akhinrnya Vladimir Zinchenko bebas untuk kembali pada kawanan dombanya dan mengembalakan mereka. Kedua anak mereka sekarang sedang belajar dan melayani di Amerika dan Tuhan memberkati mereka dengan anak ketiga.

Pada saat ini kebebasan beragama sedang dalam keadaan buruk. Di Indonesia diskriminasi terhadap kaum Baptis semakin meningkat, oleh sebab itu kita harus terus berdoa agar Tuhan memberi kekuatan kepada kita untuk berjuang. Tunas jemaat yang terus didirikan di seluruh daerah kiranya semakin bertumbuh dan semangat, mumpung kesempatan kita melayani masih ada.

Sumber: Blog GBIA Pontianak

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar