Jumat, Juli 18, 2014

Tuhan Sangat Mengasihi Orang Batak

Ketika  berbagai  suku  bangsa  di muka  bumi  masih  hidup  dalam  penyembahan  berhala  dan animisme, Tuhan sudah  menggerakkan  dua orang misionari ke  tanah  Batak. Samuel  Munson dan Henry Lyman tiba di tanah  Batak tahun 1834. Mereka di kirim oleh Gereja Baptis di  kota Boston dengan satu  tujuan,  untuk menyelamatkan orang Batak. Karena mereka belum bisa berbahasa  Batak dan membawa penerjemah yang adalah  seorang  Muslim, tidak  ada yang  tahu  apakah  yang  dikatakan  sang penerjemah  yang  kemudian lari  meninggalkan  mereka.  Karena  kesalahpahaman,  tragis  sekali,  kedua  misionari  itu  terbunuh.


Injil, kabar baik, yang seperti apakah yang ingin  diberitakan Munson dan  Lyman  kepada  orang  Batak dengan  menempuh perjalanan  laut  sekitar setengah  tahun  dan  berjalan  kaki sekitar satu  minggu itu? Pastilah  Munson dan  Lyman  ingin memberitahu  orang Batak  bahwa Tuhan Yesus  sangat  mengasihi mereka. Mereka  ingin  sampaikan  bahwa bukan  hanya  orang  Batak  saja  yang telah  berdosa dan kehilangan kemuliaan  Allah, tetapi  semua  manusia di  bumi telah  jatuh  ke  dalam  dosa.  Dan dosa hanya dapat di selesaikan dengan penghukuman. Tetapi Allah berjanji akan mengirim Juruselamat untuk menggantikan manusia menanggung hukuman itu. Dan sebelum  kedatangan Sang  Juruselamat, ia digambarkan dengan  binatang  korban  yang  disembelih di atas mezbah. Kemudian Sang Juruselamat  tiba, namaNya Yesus,  dan ia  memberikan diriNya  dihukumkan  di atas  kayu  salib.


Setiap  orang  yang  mengaku  diri orang  berdosa,  menyesal  atas  dosa-dosanya, dan mengaminkan Yesus sebagai  pengganti  dirinya  untuk dihukumkan,  maka ia  akan  dihitung  sebagai  orang  yang  dosa-dosanya telah dijatuhi  hukuman sehingga  ia  tidak berdosa lagi.  Setiap orang yang hidup sebelum penyalibanNya harus percaya kepada Sang Juruselamat yang  akan datang,  sedangkan  yang  hidup sesudah penyalibanNya percaya  kepada Sang Juruselamat yang sudah datang. 

Orang-orang yang bertobat dan percaya  tersebut  dipandang  sebagai  orang yang  tidak  berdosa  lagi, dan disebut sebagai  orang-orang  kudus. Masuk Sorga hanya melalui bertobat dan percaya kepada  Yesus Kristus. Bertobat itu artinya mengaku diri orang berdosa dan  menyesal, sedangkan percaya adalah mengaminkan  bahwa Yesus  Kristus telah  dihukumkan  menggantikan kita. Jadi, jalan  masuk Sorga ialah melalui bertobat dan percaya saja. Tidak  perlu ada penambahan apapun,termasuk tidak perlu menambahkan  perbuatan  baik, baptisan dan segala  macam  perbuatan  manusia. 

Orang Kristen  harus  berbuat  baik, tetapi bukan berbuat baik untuk masuk Sorga.  Orang  Kristen  berbuat baik untuk membuktikan diri sebagai orang yang  telah  mendapatkan  kepastian masuk  Sorga  dan  telah memiliki  Roh Kudus  di  dalam  hati. Ketika  Yesus  Kristus  dihukumkan di  kayu  salib,  Ia  menanggung dosa seisi dunia (Y oh.1:29), dari dosa  Adam hingga dosa manusia terakhir .  Karena Adam  maka  semua manusia  jatuh  ke dalam dosa, dan karena Kristus maka semua  dosa  yang  disebabkan  oleh Adam  telah diselesaikan  (Rom.5:18-19).   Dosa bayi, orang yang lahir  cacat mental, down-sindrom, telah diselesaikan oleh Yesus  Kristus. Tetapi  jika mereka  t i dak  meni nggal   saat   bayi melainkan  tumbuh  hingga  akil-balik dan  melakukan  dosa,  maka  mereka bukan  l agi   ber dosa  kar ena  Adam melainkan  karena perbuatan  mereka sendiri.  Itulah  sebabnya  bayi  tidak perlu  bertobat  dan  memang belum  bisa bertobat, kalau  meninggal maka akan masuk  Sorga.

Munson  dan  Lyman  pasti  akan mengajarkan  bahwa  bayi  tidak  perlu dibaptis  karena  tidak  ada keperluan mereka  dibaptis.  Pembaptisan  bayi adalah  kesalahan  yang  Martin  Luther bawa keluar dari Gereja Roma Katho-lik. Dan karena untuk mengakomodasi pembaptisan  bayi  maka  pembaptisan yang seharusnya  diselamkan  ke  dalam air mereka ganti dengan diteteskan air. Padahal arti kata baptis adalah masuk ke dalam air,  sedang jika  diteteskan air itu  kata  bahasa  Yunaninya  ialah  rantis.

Jadi,  untuk  masuk  Sorga  sesungguhnya  tidak  membutuhkan  baptisan. Baptisan  di perintahkan  oleh orang yang  akan  menjadi  murid  (Mat.28:19-20). Bayi, dan orang yang  sedang  sakit tidak bisa  menjadi murid,  oleh  sebab  itu mereka tidak  perlu  dibaptiskan.  Nanti, ketika  bayi  mencapai  umur akil-balik, dan yang sakit menjadi sembuh, mereka  akan  mengambil  keputusan  untuk diri  mereka  untuk  dibaptiskan. 

Munson dan Lyman juga akan mengajarkan  tentang  keimamatan  setiap orang  percaya. Dari Adam sampai Musa,  setiap  ayah  adalah  imam  bagi keluarganya  dan  sekaligus  sebagai tiang  penopang  dan  dasar kebenaran (TPDK). Dan dari  Musa sampai  Yohanes Pembaptis, Harun dan keturunannya adalah imam dan bangsa  Israel  adalah  TPDK. Sejak Yohanes  tampil,  keimamatan  Harun dihentikan (Luk 16: 16, Mat 11:13). Kemudian  dari  Yohanes  sampai  hari pengangkatan (Rapture), setiap orang percaya  adalah  imam (I  Pet.2:9),  dan jemaat  lokal  adalah  TPDK  (I  Tim.3:15).

Pada  saat  Kristus  putus  nafas,  tabir Bait Allah  terbelah  karena  tidak  diperlukan  lagi  jabatan  imam atau  ruang pemisah antara orang percaya dengan Allah.  Setiap  orang  percaya  adalah orang  kudus, dan anak  Allah.  Tidak diperlukan  pengantara  antara  anak-anak Allah dengan Bapa mereka. Doa berkat di akhir kebaktian, dan berbagai tindakan  pemberkatan  adalah  kesalahan Gereja Roma  Katholik yang lupa diprotes  oleh  Martin  Luther. Sebutan pemberkatan nikah sesungguhnya adalah istilah Katholik,  sedangkan yang  benar  seharusnya  peneguhan nikah. Orang  Protestan  harus  berlapang dada, kalau mereka boleh memprotes kesalahan Katholik, mereka seharusnya  juga  terbuka  untuk  diprotes atas  hal-hal  yang  belum sesuai  Alkitab.

Pengajaran-pengajaran  alkitabiah inilah  yang  ingin  disampaikan  oleh Samuel  Munson  dan  Henry Lyman ketika mereka berangkat dari Boston menuju  tanah  Batak.  Sayang  seribu sayang,  terjadi kesalahpahaman sehingga  pengajaran alkitabiah tidak tersampaikan. Tetapi  kasih  Tuhan  kepada  orang Batak  sungguh besar,  sehingga  dua puluhan  tahun  kemudian  Tuhan  mengirim  Nomensen.  Walau pengajarannya tidak tepat  sesuai  dengan Alkitab,  na-mun  ia  membawa  orang-orang  Batak lebih  dekat kepada  kebenaran yang  sebenar-benarnya.  Setidaknya  ia  memperkenalkan  Alkitab, Tuhan Yesus, dan berbagai  hal kepada orang  Batak. Kini  GBI A  GRAPHE  melanjutkan pengajaran  Munson  dan Lyman. Pengajaran yang ingin disampaikan oleh mereka itulah  yang  sekarang  dikumandangkan oleh GRAPHE. Kiranya orang-orang Batak  akan  memakai  pikiran  dan  hati  yang  diberikan  Tuhan  untuk berpikir dan merenung. Karena Tuhan  sedemikian  mengasihi  orang  Batak,  maka sepatutnya orang Batak mengasihi Tuhan  dan mengasihi  firman-Nya,  bukan  adat  atau  organisasi.***

Sumber: Dr. Suhento Liauw, Th.D dalam Jurnal Teologi PEDANG ROH Edisi 80, Juli-September 2014

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar