Jumat, Juli 11, 2014

Kondisi Gereja-gereja Abad 20 & 21

Baik William Robinson,   James Riely,  maupun Thomas  Twort, yang  datang  ke  Nusantara tahun  1813, semuanya  mengajarkan  bahwa  Alkitab  adalah  satu-satunya  firman  Tuhan,  atau Alkitab adalah kanon tertutup.  Mereka mengajarkan  bahwa setelah  Alkitab selesai  ditulis  oleh  penulis  terakhir yaitu Rasul Yohanes  di  pulau  Patmos sekitar akhir  abad  pertama,  maka selanjutnya tidak ada lagi  proses pewahyuan.  Tentu  tidak  mungkin  ada orang  yang  membatasi  Allah  melainkan Allah yang membatasi anak-anak-Nya  agar  mereka tidak  percaya  kepada sembarangan  wahyu.

Kami  sering  bertemu  dengan  orang Kristen  yang  ketika  ditanya,  “apakah mereka  percaya  Alkitab satu-satunya firman  Allah?”  Mereka  segera  menjawab, “percaya dong.” Tetapi kemudian kami bertanya lagi, “kalau begitu Anda tidak  percaya  pada  nubuatan  dan bahasa  lidah  yang  sekarang  merajalela di gereja-gereja?”  Lalu  mereka  biasanya menjawab, “percaya, karena Allah maha kuasa dan tidak terbatas, Ia bisa saja  berbicara kepada  pengkhotbah itu sesuai  dengan  kehendakNya.” Lihatkah  pembaca  bahwa ada kontradiksi di dalam jawaban mereka? Di  satu  pihak  mereka  percaya  bahwa proses pewahyuan telah  berhenti  sejak kitab Wahyu selesai dituliskan, artinya Alkitab  kita adalah  sebuah  kanon tertutup. Namun  di  pihak  lain  mereka tetap  percaya  bahwa  Allah  masih turunkan  wahyu  sehingga  masih  ada nubuatan  dan  bahasa  lidah  dari  Allah.

Semua  gereja sebelum  tahun 1905,  percaya  bahwa  proses  pewahyuan sudah selesai, bahwa Allah tidak menurunkan wahyu lagi  sesudah  Wahyu  22:21,  dan  bahwa  Alkitab  adalah kanon  tertutup  serta  satu-satunya  firman  Allah.  Tetapi  pada  tahun  1884, Richard G. Spurling merindukan fenomena gereja abad Pertama, dan pada tahun  1886  menyelenggarakan  acara untuk  menuntut  tingkat  kerohanian seperti gereja  mula-mula.  Kemudian Charles Parham  pada  tahun  1897 mengklaim mendapatkan karunia untuk menyembuhkan.  Dan  puncaknya  pada  tahun  1905  William  J. Seymor, seorang  mantan  budak, menyelenggarakan  kebaktian  pencurahan Roh  Kudus  dengan  melompat-lompat sampai lantai  rumah roboh. Kemudian mereka membeli gedung di 312 Azusa Street, dan dari situlah  pengajaran tentang  bahasa lidah,  nubuatan, penglihatan  dan  berbagai  bentuk  proses pewahyuan,  disebarkan  ke  seluruh dunia.

Jika  kita  percaya  bahwa  Alkitab adalah  satu-satunya  firman  Tuhan,  dan Alkitab  adalah  kanon tertutup,  berarti kita  percaya  bahwa  proses  pewahyuan berhenti  setelah  sampai  kitab  Wahyu 22:21. Sesudahnya  tidak  ada  proses pewahyuan  lagi  dan  jika  proses  pewahyuan  jalan  terus  maka  Alkitab bukan satu-satunya firman Tuhan. Dan kalau Alkitab bukan satu-satunya firman Tuhan dan bukan kanon tertutup,  maka Alkitab bukan satu-satunya kebenaran dari  Allah.  Ini  tidak  mungkin!

Karena keyakinan kita bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman  Tuhan, maka  kita  melihat  bahwa siapapun yang  sesudah  peristiwa  di  pulau  Patmos  masih  menerima  wahyu,  baik berupa penglihatan, mimpi, suara atau apapun juga,  maka itu  pasti bukan dari Yesus Kristus Tuhan  kita.  Itu  adalah tindakan sabotase dari  iblis. Tentu  tidak perlu ada pihak yang tersinggung  melainkan  merenung. Dan  juga  tidak perlu ada pihak yang tanpa  akal sehat mempercayai  nubuatan-nubuatan  masa kini sambil  percaya  bahwa Alkitab  satu-satunya  firman  Tuhan.

Misionari Baptis, William Robinson dan teman-temannya,  yang datang ke Nusantara pada tahun  1813 pasti akan kaget  bila  mengetahui  bahwa  banyak gereja  di  Nusantara  bahkan  gereja-gereja  Baptis sekarang percaya  bahwa nubuatan  masih  jalan  terus.  Mereka pasti   akan  terperanjat  bila  melihat gereja-gereja Baptis  yang  mereka  rintis telah  terpengaruh  gerakan William Seymor dan mulai menggunakan nyanyian yang  kata-katanya  masih terdengar  rohani  namun  irama  musiknya jenis  pop,  rock,  yang  bukan  himne.

GBIA GRAPHE  bertekad  memegang  teguh  prinsip  serta  pengajaran yang dibawa oleh  misionari  Baptis pada  tahun  1813.  GBIA GRAPHE percaya  bahwa  Alkitab  adalah  satu-satunya  firman  Tuhan,  bahwa Alkitab adalah  kanon  tertutup  yang  artinya selain Alkitab  tidak  ada  firman Tuhan. Dan Tuhan telah menghentikan proses pewahyuan ketika pewahyuan sampai pada  Wahyu  22:21.

Kami   ingin  pembaca  mengerti bahwa  bukan  hanya  gereja  Baptis, bahkan  semua  gereja  lain,  sebelum tahun  1905,  telah  memegang  teguh bahwa  Alkitab  adalah  satu-satunya firman  Tuhan,  bahwa  Alkitab adalah sebuah  kanon  tertutup  yang  artinya tidak  ada  tindakan  penambahan  wahyu lagi  dari  Allah karena  Alkitab  sudah cukup  untuk  menjadi standar  ukur  kebenaran.  Kalau  sesuatu  ditetapkan sebagai standar,  maka  tidak  mungkin ada  penambahan  atau  pengurangan.

Hal yang sangat aneh terjadi di kalangan  sebagian  orang  Kristen,  yang sering berkata bahwa mereka percaya proses  pewahyuan telah  berhenti, namun  mereka  juga  percaya  bahwa rhema  masih  terus berjalan.  Mereka yang  berargumentasi  demikian  hanya dapat  membohongi  pengikut  mereka yang  tidak mengerti  bahasa  Yunani. Rhema  itu  artinya kata atau perkataan.

Pernyataan  mereka  sama  dengan bahwa  Allah  tidak  mau  mengungkapkan  (memberi  wahyu)  sesuatu lagi namun  Dia  masih  mau  berkata-kata terus.  Renungkanlah,  bukankah  pernyataan demikian saling bertentangan? Kalau  percaya  Alkitab  satu-satu-nya  firman  Tuhan,  itu  berarti  percaya bahwa  proses pewahyuan  telah  berhenti  karena  kalau  pewahyuan  tidakberhenti  maka  tidak  mungkin  Alkitab bisa satu-satunya firman  Tuhan. Kalau pewahyuan  jalan  terus,  maka akan  adakitab  lain  sesudah  kitab Wahyu.

Ada yang lalu berkata, “yang tertulis  sudah selesai tetapi yang lisan  masih  ada.”  Ini  argumentasi  yang sangat tidak  masuk  akal  karena  dari  lisan  menjadi  tulisan  itu  tinggal selangkah,  apa lagi  di  zaman sekarang  yang  sudah ada  rekaman  suara  maupun  video. Sudahkah Anda bisa faham  bahwa segala fenomena nubuatan, penglihatan dan lain sebagainya sesungguhnya adalah sabotase iblis yang dimulai melalui Richard Spurling, dan kemudian diteruskan melalui Charles Parham dan  William  Seymor?

GBIA GRAPHE demi menghormati  dan  mengenang  para misionari Baptis yang paling awal memasuki Nusantara,  menjaga doktrin  yang  mereka  bawa  agar  tetap utuh  tak  bercacat  hingga  saat ini. Alkitab adalah satu-satunya  firman Tuhan,  dan  setelah  penulisan  Alkitab selesai maka hanya melalui Alkitablah Tuhan  berbicara  kepada  manusia, tidak  melalui  alat-alat  lain  lagi.***

Sumber: Dr. Suhento Liauw, Th.D dalam Jurnal Teologi PEDANG ROH Edisi 80, Juli-September 2014

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar