Sabtu, September 07, 2013

MENURUT ALKITAB BABI ITU HARAM

Ditulis oleh : Dr. Suhento Liauw, DRE, Th.D
Diterbitkan oleh : GBIA GRAPHE

Alkitab Perjanjian Lama Melarang Memakan Daging Babi
Suatau hari, pada saat saya surfing internet, dan tanpa sengaja saya melihat video cuplikan yang mempertontonkan sesuatu yang sangat mengerikan. Ketika seiris daging babi mentah disiram dengan cocacola, cacing-cacing menggeliat keluar dari daging tersebut. Bulu kuduk saya berdiri dan langsung terasa mual diperut saya. Terlebih ketika saya membayangkan seandainya cacing-cacing itu masuk ke dalam perut saya. Terasa mau muntah, sehingga saya segera berpindah ke situs lain.

Sejak saat itu saya bertekad menjelaskan tentang perintah Tuhan mengenai mengkonsumsi daging babi. Ada banyak pertanyaan muncul di pikiran saya sehubungan dengan daging babi. Rasa ingin tahu itu mendorong saya menyelidiki perintah Tuhan sehubungan dengan daging babi.

Banyak orang Kristen tidak tahu bahwa Alkitab, yaitu di kitab Perjanjian Lama, menyatakan bahwa daging babi itu haram. Mereka menyangka hanya di dalam Alquran saja babi itu diharamkan. Sangat mungkin ketidaktahuan ini disebabkan karena banyak orang Kristen tidak pernah membaca kitab Imamat.

Karena di kitab Imamat dinyatakan bahwa daging babi itu haram, maka orang Yahudi sampai hari ini masih tidak memakan daging babi. Mereka sangat ketat mengawasi makanan yang dikonsumsi umat mereka, bahkan mereka mengawasi makanan yang dibawa oleh turis. Seorang teman bercerita, karena ia tidak bisa makan tanpa sambal, maka ketika ke Israel ia tetap membawa sambal, dan ketika sedang makan, ia mengeluarkan sambal dari tas jinjingnya, dan kepergok oleh petugas restoran. Petugas tersebut bertanya, apakah sambal yang dibawanya adalah makanan halal, dan apakah ada mengadung unsur babi ?

Tercatat dalam sejarah dan terlihat di berbagai kelompok masyarakat serta terbukti dalam fakta bahwa suku bangsa primitif sangat suka mengkonsumsi daging babi. Banyak suku bangsa di bumi yang menjadikan babi alat ritual penyembahan mereka. Bahkan ada suku yang suka mengkonsumsi darah babi yang segar.

Mereka tidak mengerti bahwa daging babi, apalagi darahnya yang masih segar, sesungguhnya adalah makanan yang sangat berbahaya. Ada banyak kuman bahkan virus di dalam darah babi yang belum dimasak. Dan yang sangat mengerikan ialah telur cacing pita. Jika telur itu sampai menetas di dalam perut kita, maka itu akan menjadi malapetaka hebat bagi hidup kita.

Kemudian ada yang berkila, jika masalahnya hanyalah kesehatan dan kebersihan, bagaimana jika dimasak dengan cara yang benar hingga betul-betul aman untuk dikonsumsi? Di zaman modern ini, alat memasak sudah sedemikian canggih, bahkan ada yang dengan sistem pressed-cooker sehingga tidak mungkin ada cacing, kuman atau virus yang tersisa.

Kelihatannya pada saat Allah mengharamkan daging babi, itu bukan sekedar kebersihan dan kesehatan. Ada unsur ibadah di dalam pelarangan mengkonsumsi makanan tertentu. Untuk itu setiap orang yang ingin mengikuti perintah Allah secara sempurna, harus berusaha mencari tahu alasan di balik pelarangan mengkonsumsi daging tertentu.

Berikut ini kutipan bagian dari Hukum Taurat
Kitab Imamat 11:1

11:1 Lalu TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun, kata-Nya kepada mereka: 11:2″Katakanlah kepada orang Israel, begini: Inilah binatang-binatang yang boleh kamu makan dari segala binatang berkaki empat yang ada di atas bumi: 11:3 setiap binatang yang berkuku belah, yaitu yang kukunya bersela panjang, dan yang memamah biak boleh kamu makan. 11:4Tetapi inilah yang tidak boleh kamu makan dari yang memamah biak atau dari yang berkuku belah: unta, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu.11:5 Juga pelanduk, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu. 11:6 Juga kelinci, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah, haram itu bagimu. 11:7 Demikian juga babi v hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. 11:8 Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu. 11:9 Inilah yang boleh kamu makan dari segala yang hidup di dalam air: segala yang bersirip dan bersisik di dalam air, di dalam lautan, dan di dalam sungai, itulah semuanya yang boleh kamu makan. 11:10 Tetapi segala yang tidak bersirip atau bersisik di dalam lautan dan di dalam sungai, dari segala yang berkeriapan di dalam air dan dari segala makhluk hidup yang ada di dalam air, semuanya itu kejijikan x bagimu. 11:11 Sesungguhnya haruslah semuanya itu kejijikan bagimu; dagingnya janganlah kamu makan, dan bangkainya haruslah kamu jijikkan.11:12 Segala yang tidak bersirip dan tidak bersisik di dalam air, adalah kejijikan bagimu. 11:13Inilah yang harus kamu jijikkan dari burung-burung, janganlah dimakan, karena semuanya itu adalah kejijikan: burung rajawali, ering janggut dan elang laut; 11:14 elang merah dan elang hitam menurut jenisnya; 11:15 setiap burung gagak menurut jenisnya; 11:16 burung unta, burung hantu, camar dan elang sikap menurut jenisnya; 11:17 burung pungguk, burung dendang air dan burung hantu besar; 11:18 burung hantu putih, burung undan, burung ering; 11:19burung ranggung, bangau menurut jenisnya, meragai dan kelelawar. 11:20 Segala binatang yang merayap dan bersayap dan berjalan dengan keempat kakinya adalah kejijikan bagimu. 11:21 Tetapi inilah yang boleh kamu makan dari segala binatang yang merayap dan bersayap dan yang berjalan dengan keempat kakinya, yaitu yang mempunyai paha di sebelah atas kakinya untuk melompat di atas tanah. 11:22 Inilah yang boleh kamu makan dari antaranya: belalang-belalang h menurut jenisnya, yaitu belalang-belalang gambar menurut jenisnya, belalang-belalang kunyit menurut jenisnya, dan belalang-belalang padi menurut jenisnya. 11:23 Selainnya segala binatang yang merayap dan bersayap dan yang berkaki empat adalah kejijikan bagimu. 11:24 Semua yang berikut akan menajiskan i kamu–setiap orang yang kena kepada bangkainya, menjadi najis sampai matahari terbenam, 11:25 dan setiap orang yang ada membawa dari bangkainya haruslah mencuci pakaiannya, dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam , 11:26 yakni segala binatang yang berkuku belah, tetapi tidak bersela panjang, dan yang tidak memamah biak; haram semuanya itu bagimu dan setiap orang yang kena kepadanya, menjadi najis. 11:27 Demikian juga segala yang berjalan dengan telapak kakinya di antara segala binatang yang berjalan dengan keempat kakinya, semuanya itu haram bagimu; setiap orang yang kena kepada bangkainya, menjadi najis sampai matahari terbenam. 11:28 Dan siapa yang membawa bangkainya, haruslah mencuci pakaiannya dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam. Haram semuanya itu bagimu. 11:29 Inilah yang haram bagimu di antara segala binatang yang merayap dan berkeriapan di atas bumi: tikus buta, tikus, dan katak menurut jenisnya 11:30 dan landak, biawak, dan bengkarung, siput dan bunglon. 11:31 Itulah semuanya yang haram bagimu di antara segala binatang yang mengeriap. Setiap orang yang kena kepada binatang-binatang itu sesudah binatang-binatang itu mati, menjadi najis sampai matahari terbenam. 11:32 Dan segala sesuatu menjadi najis, kalau seekor yang mati dari binatang-binatang itu jatuh ke atasnya: perkakas kayu apa saja atau pakaian atau kulit atau karung, setiap barang yang dipergunakan untuk sesuatu apapun, haruslah dimasukkan ke dalam air dan menjadi najis sampai matahari terbenam, kemudian menjadi tahir pula. 11:33 Kalau seekor dari binatang-binatang itu jatuh ke dalam sesuatu belanga tanah, maka segala yang ada di dalamnya menjadi najis dan belanga itu harus kamu pecahkan. 11:34 Dalam hal itu segala makanan yang boleh dimakan, kalau kena air dari belanga itu, menjadi najis, dan segala minuman yang boleh diminum dalam belanga seperti itu, menjadi najis. 11:35 Kalau bangkai seekor dari binatang-binatang itu jatuh ke atas sesuatu benda, itu menjadi najis; pembakaran roti dan anglo haruslah diremukkan, karena semuanya itu najis dan haruslah najis juga bagimu; 11:36 tetapi mata air atau sumur yang memuat air, tetap tahir, sedangkan siapa yang kena kepada bangkai binatang-binatang itu menjadi najis. 11:37 Apabila bangkai seekor dari binatang-binatang itu jatuh ke atas benih apapun yang akan ditaburkan, maka benih itu tetap tahir. 11:38Tetapi apabila benih itu telah dibubuhi air, lalu ke atasnya jatuh bangkai seekor dari binatang-binatang itu, maka najislah benih itu bagimu. 11:39 Apabila mati salah seekor binatang yang menjadi makanan bagimu, maka siapa yang kena kepada bangkainya menjadi najis sampai matahari terbenam. 11:40 Dan siapa yang makan dari bangkainya itu, haruslah mencuci pakaiannya, dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam; demikian juga siapa yang membawa bangkainya haruslah mencuci pakaiannya, dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam. 11:41 Segala binatang yang merayap dan berkeriapan di atas bumi, adalah kejijikan, janganlah dimakan. 11:42 Segala yang merayap dengan perutnya dan segala yang berjalan dengan keempat kakinya, atau segala yang berkaki banyak, semua yang termasuk binatang yang merayap dan berkeriapan di atas bumi, janganlah kamu makan, karena semuanya itu adalah kejijikan. 11:43 Janganlah kamu membuat dirimu jijik oleh setiap binatang yang merayap dan berkeriapan dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan semuanya itu, sehingga kamu menjadi najis karenanya. 11:44 Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi. 11:45 Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus. 11:46 Itulah hukum tentang binatang berkaki empat, burung-burung dan segala makhluk hidup yang bergerak di dalam air dan segala makhluk yang mengeriap di atas bumi, 11:47yakni untuk membedakan antara yang najis dengan yang tahir, antara binatang yang boleh dimakan dengan binatang yang tidak boleh dimakan. “

Ibadah Orang Yahudi Sudah Kadaluarsa
Sampai hari ini orang Yahudi yang memakai topi kecil di kepala mereka tidak memakan daging babi dan berbagai daging binatang yang tersebutkan di dalam kitab Imamat. Namun mereka tidak tahu alasan mengapa Allah menetapkan daging binatang tersebut haram untuk dikonsumsi. Mereka hanya mengikuti dengan tanpa berpikir untuk mencari maknanya.

Mereka juga melakukan sembahyang tiga kali sehari dengan cara sujud. Mereka tidak mengerti bahwa sembahyang demikian adalah ibadah lahiriah. Mereka memiliki kiblat dalam sujud yaitu mengarah ke Yerusalem, sesuai dengan doa raja Salomo (Sulaiman). Orang Yahudi tidak tahu bahwa menghadap ke Yerusalem itu karena Allah telah berjanji untuk mengirim Juruselamat, dan Juruselamat itu akan memulai pelayananNya dari Yerusalem.

Orang Yahudi melakukan ibadah lahiriah, jasmaniah, secara ritual simbolik. Penekanan ibadah mereka ialah secara lahiriah. Hasilnya tentu mereka tidak tahu makna di balik semua tata-ibadah mereka. Kalau dikatakan bahwa mereka beribadah secara lahiriah tanpa pengertian, maka mereka akan marah, tetapi itu sungguh-sungguh betul.

Tentu bukan hanya orang Yahudi yang melakukan ibadah secara tanpa pengertian. Ada banyak umat agama dari berbagai agama yang melakukan ibadah tanpa memakai akal budi. Mereka bahkan tidak waspada, dan tidak pernah berpikir, kalau-kalau agamanya bukan dari Sang Pencipta, mungkinkah nabi mereka sebenarnya tidak mendapat wahyu dari Sang Pencipta ?

Seandainya seseorang sangat tekun menjalankan ibadah agamanya, dan kemudian ternyata agamanya bukan diinspirasikan oleh Sang Pencipta melainkan musuh dari Sang Pencipta yang melakukan tipu muslihat, bukankah ia akan celaka.

Misalnya orang Yahudi. Mereka adalah penerima wahyu. Tidak bisa disangkal bahwa Musa adalah penerima Taurat berserta seluruh aturan tata-ibadah. Tetapi karena mereka tidak mengerti makna ibadah lahiriah mereka yang sesungguhnya merupakan gambaran (simbolik) sedangkan hakekatnya ada di dalam kitab Injil, maka ibadah lahiriah mereka yang sebenarnya sudah kadaluarsa tetap mereka jalankan. Seharusnya mereka mengikuti Injil yang mengajarkan ibadah hakekat rohaniah, yaitu ibadah dengan hati.

Orang Yahudi terjebak dalam hasutan iblis untuk menolak Sang Hakekat yang datang menggenapkan seluruh ibadah simbolik yang mereka jalankan ribuan tahun. Orang Yahudi tidak menyalakan akal budi mereka dan berpikir bahwa iblis memiliki kepentingan atas peribadatan manusia. Iblis bisa berpura-pura menjadi Allah dan mengangkat seseorang menjadi nabi bahkan menghadirkan kitab suci untuk menyesatkan manusia. Orang-orang Yahudi tidak pernah berpikir bahwa iblis sanggup menciptakan suatu agama untuk menarik manusia.

Tetapi manusia yang berhikmat selalu mencari kebenaran, banyak berpikir dan banyak menilai. Manusia berhikmat berusaha mencari tahu agama yang datang dari Allah dan yang dari iblis. Kiranya pembaca diberi hikmat untuk hal yang sangat penting ini.

Alasan Penciptaan Manusia
Allah selain menciptakan alam semesta, juga menciptakan dua mahluk yang bisa berpikir dan berhati nurani serta berkehendak bebas, yaitu malaikat dan manusia. Dua mahluk ini bisa melakukan hal yang positif maupun negatif baik terhadap sesamanya dan juga terhadap Penciptanya. Lalu mengapakah Allah mau menciptakan mahluk yang bisa bersikap negatif terhadapNya?

Jika mahluk yang Allah ciptakan hanya bisa bersikap positif kepada Allah, maka mahluk itu akan bagaikan robot yang telah diprogramkan untuk hanya menyembah pembuatnya. Penyembahan demikian tentu tidak ada artinya. Tetapi jika mahluk itu bisa menyembah atau menghujat, dan akhirnya mahluk itu memilih menyembah, maka penyembahan itu akan terasa sangat nikmat. Itulah alasan utama Allah menciptakan manusia dan malaikat yang bisa menyembahNya maupun menentangNya.

Manusia Jatuh Ke Dalam Dosa
Malaikat terlebih dulu menentang Allah. Selanjutnya mereka disebut Setan, yang artinya musuh. Kemudian Adam dan Hawa, pasangan manusia pertama, diperdaya dan jatuh ikut menentang Allah. Tentu baik malaikat maupun manusia patut dihukumkan. Allah menciptakan Neraka untuk menghukum Setan, bukan untuk menghukum manusia. Tetapi manusia yang lebih mendengarkan Setan pantas pergi ke tempat yang disediakan untuk Setan.

Manusia yang telah memakan buah terlarang akan mati, sesudahnya jiwa dan rohnya akan pergi ke tempat Setan karena manusia lebih percaya kepada Setan.

Penyelamatan Dari Allah
Tetapi karena manusia tertipu oleh Iblis (sebutan lain untuk Setan yang artinya pendusta), dan telah menyesal, maka Allah menjanjikan penyelamatan. Namun manusia yang telah berdosa tidak mungkin diampuni begitu saja. Sesuai dengan sifat Allah yang maha suci, Ia tidak terhampiri oleh dosa. Dan sesuai dengan sifatNya yang maha adil, dosa harus dijatuhi hukuman atau dosa hanya dapat diselesaikan dengan penghukuman. Dan sesuai dengan sifatnya yang maha kasih, Allah berinisiatif mengusahakan jalan penyelamatan, atau menanggung hukuman atas manusia.

Jalan satu-satunya yang sesuai dengan seluruh sifat Allah ialah DiriNya sendiri datang mengenakan tubuh manusia menerima penghukuman. Ia tidak mungkin menyuruh malaikat menjadi Juruselamat bagi manusia karena itu bertentangan dengan sifat adilNya dan sifat kasihNya. Allah memutuskan DiriNya sendiri yang akan menjadi Juruselamat.

Sebelum kedatanganNya sebagai Juruselamat, dan penjatuhan hukuman kepada Sang Juruselamat, dosa Adam dan Hawa bisa diselesaikan, yaitu dengan mengaku salah dan menyesal (bertobat), dan percaya kepada janji Allah untuk mengutus Juruselamat yang akan dihukumkan menggantikan mereka. Mereka jatuh ke dalam dosa karena tidak percaya kepada Allah melainkan lebih percaya kepada iblis. Jika mereka ingin sesudah mati pergi kepada Allah di Sorga, mereka harus percaya Allah bahwa Ia akan mengirim Juruselamat untuk dihukumkan menggantikan mereka.

Perintah Ibadah Simbolik
Keselamatan itu datang dari iman kepada Allah Pencipta langit dan bumi. Dan sebagai bukti mereka beriman, mereka harus membangun sebuah mezbah, dan menyembelih seekor binatang sebagai korban dosa. Manusia jatuh kedalam dosa, Sang Juruselamat akan menjadi penanggung dosa, dan sebelum Sang Juruselamat tiba, seekor binatang korban (domba) dipakai sebagai simbolnya. Binatang itu disebut korban karena ia adalah korban kesalahan manusia. Itulah ibadah simbolik yang pertama dan sederhana, yaitu menyembelih domba di atas mezbah sebagai korban dosa. Ibadah simbolik ini telah dilakukan sejak Adam, Nuh, Abraham, dan Musa. Bisakah pembaca melihat hubungan dari ibadah penyembelihan binatang korban ini dengan janji kedatangan Juruselamat yang dikorbankan di kayu salib?

Allah membawa orang Yahudi keluar dari Mesir untuk membentuk sebuah bangsa yang diberi tugas untuk menjaga ibadah simbolik hingga yang disimbolkan tiba, sambil memberitakannya kepada segala bangsa. Ketika tiba di gunung Sinai, Allah turunkan hukum Taurat kepada Musa. Isi hukum itu mengajarkan ibadah simbolik yang lebih sempurna melalui tata-ibadah di Kemah Suci, dan kemudian oleh Salomo dibuat Bait Suci. Allah ingin mengajarkan bahwa Ia adalah Allah yang kudus, yang tak terhampiri dosa sekecil apapun. Bahwa dosa harus dijatuhi penghukuman karena Allah itu Adil, dan hukuman itu akan ditanggung Allah sendiri (Sang Juruselamat) karena Allah itu kasih.

Dalam rangka mengajarkan tentang kekudusan hati, Allah memakai kekudusan tubuh sebagai alat peraga. Dan karena masih dalam bentuk ibadah simbolik, maka kekudusan badan/jasmani dijadikan alat pendidik. Oleh sebab itu mereka tidak boleh menyentuh bangkai, dan harus ada pengaturan makanan yang halal dan haram.

Jadi pengaturan makanan yang halal dan haram itu untuk mengajarkan kekudusan dan sekaligus untuk menghindarkan mereka dari berbagai penyakit yang bisa timbul dari makanan. Bahkan penyakit kusta, karena manusia belum tahu obatnya dan sangat menular, dijadikan simbol kutuk. Orang yang terjangkit penyakit kusta harus disingkirkan dari masyarakat.

Pengajaran Perjanjian Baru Tentang Makanan
Ketika Yohanes (Yahya) menunjuk kepada Yesus, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa isi dunia”, maka berakhirlah ibadah simbolik Perjanjian Lama karena yang disimbolkan telah tiba, dan telah dihantarkan oleh Yohanes (Mat. 11:13, Luk. 16:16). Saat itu Sang Domba Allah belum dikorbankan, tetapi dalam rangka menuju ke situ. Oleh sebab itu Yesus berkata kepada perempuan Samaria, “saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembahan-penyembahan benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembahan-penyembahan demikian”. (Yoh 4:23). Maksud Yesus ialah saat menyembah dengan hati, bukan dengan badan, sedang tiba.

Dalam mempersiapkan penyembahan dengan hati, Yesus Kristus mengajarkan banyak hal, seperti membiarkan murid-muridNya tidak puasa, karena puasa adalah bagian dari ibadah simbolik jasmaniah. Ia juga membiarkan murid-muridNya makan dengan tanpa mencuci tangan. Ketika dikritik orang Yahudi tentang makanan, Ia menjawab mereka bahwa makanan itu masuk ke perut dan nanti akan dikeluarkan di toilet. Makanan tidak menajiskan hati karena makanan tidak masuk ke dalam hati. Makanan hanya masuk ke dalam perut dan paling-paling membuat sakit secara jasmani. Dan Yesus menyatakan tidak ada makanan yang haram lagi (Markus 7:18-19). Larangan memakan makanan haram adalah paket ibadah simbolik jasmaniah. Jadi, ketika simbol utama, yaitu Sang Juruselamat yang disimbolkan dengan domba (binatang korban) tiba dan mengorbankan diriNya di kayu salib, maka seluruh paket ibadah simbolik tergenapi. Hukum Taurat telah tergenapi, bukan dibatalkan, sekali lagi digenapi. Ellen White telah membuat kesalahan karena menerima wahyu liar dari iblis sehingga menggiring sebagai orang Kristen kembali ke zaman ibadah setengah simbolik.

Ketika Yesus Kristus disalibkan, dosa seisi dunia, dari Adam hingga manusia terakhir ditimpakan ke atasNya sebagai korban dosa. Manusia Perjanjian Lama, seperti Adam, Henokh, Nuh, Abraham, Musa yang percaya kepada Juruselamat yang akan datang, dosa mereka terselesaikan. Yesus Kristus, Sang Juruselamat yang adalah pribadi Allah sendiri yang menghampakan diri menjadi manusia, telah menyatakan kasihNya untuk menanggung hukuman dosa umat manusia. Kita yang hidup sesudah penyalibanNya, jika mengaku diri sebagai orang berdosa dan menyesal atas dosa kita, serta mengaminkan bahwa Ia adalah Juruselamat kita yang telah menggantikan kita dihukumkan, juga akan bersama mereka memperoleh keselamatan dan masuk Sorga.

Dari Adam hingga manusia yang terakhir, tidak ada seorang pun yang masuk Sorga karena amal atau perbuatan. Semua orang yang masuk Sorga adalah karena iman kepada Sang Juruselamat yang dihukumkan untuk menanggung dosa dunia. Yang hidup sebelum penyalibanNya beriman kepada Juruselamat YANG AKAN DATANG. Sedangkan yang hidup sesudah penyalibanNya beriman kepada Juruselamat YANG SUDAH DATANG.

Ibadah sesudah kedatangan Sang Juruselamat bukan lagi dalam bentuk simbolik dan lahiriah, melainkan secara hakekat dan rohaniah. Bukan menyembah dengan badan melainkan dengan hati, oleh sebab itu tidak perlu berkiblat ke suatu lokasi melainkan mengkiblatkan hati kepada Allah di Sorga. Karena menyembah dengan hati, maka tidak perlu ada waktu ibadah, karena setiap saat dengan hati yang menjunjung tinggi dan menghormati Allah adalah penyembahan yang tiada henti. Oleh sebab itu tidak diperlukan juga lokasi tertentu untuk beribadah karena ibadah dengan hati terjadi dimana saja dan kapan saja. Orang Kristen yang benar tidak membutuhkan rumah ibadah karena ibadahnya dengan hati dan terjadi setiap saat di lokasi mana saja. Hari Minggu pagi misalnya, itu bukan acara ibadah, itu adalah acara kumpul berjemaat. Menyebut acara berjemaat seperti kebaktian hari Minggu pagi dan Rabu malam atau yang lain sebagai acara ibadah itu kesalahan karena terpengaruh konsep ibadah simbolik lahiriah. Dan tidak ada unsur makanan yang membuat hati kita tidak kudus karena makanan tidak masuk ke dalam hati melainkan ke dalam perut. Yang penting dimasak dengan sungguh agar segala kuman, virus, dan cacing betul-betul mati.

Apakah Anda telah beribadah di dalam roh dan kebenaran, atau telah beribadah dengan hati? Jika Anda beribadah dengan badan dan dalam betuk ritual simbolik, Anda tidak mungkin masuk Sorga. Dengarkan perkataan Yesus kepada orang Yahudi: “Maka Aku berkata kepadamu : Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (Mat.5:20). Apakah hidup keagamaan ahli Taurat dan orang Farisi? Yaitu menyembah secara simbolik, lahiriah, dan tidak mengaminkan bahwa Yesus Kristus, Sang Juruselamat, telah menanggung dosa mereka. Renungkanlah.

Jadi, menurut Alkitab Perjanjian Lama, babi itu haram. Babi diharamkan itu sehubungan dengan ibadah simbolik lahirah. Ketika Juruselamat yang disimbolkan itu tiba, maka ibadah simbolik telah selesai, dan kini telah memasuki ibadah hakekat rohaniah dengan hati. Dalam ibadah hakekat rohaniah, tidak ada unsur makanan yang bisa membawa pengaruh pada hati. Rasul Paulus hanya memerintahkan untuk hanya memakan makanan yang berguna dan jangan memakan makanan yang membuat ketagihan.

Kemudian ada orang muncul, dan berkata bahwa ia mendapat wahyu, dan ilham, dan juga menyatakan bahwa dirinya adalah nabi, serta mengharuskan pengikutnya mengakuinya nabi. Ia kemudian mengambil sebagian pengajaran Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tentu akhirnya menghasilkan pengajaran yang bersifat simbolik tanpa makna.

Pertanyaan kita ialah, benarkan ia nabi, dan mendapat wahyu dari Allah? Atau benarkah Allah memberi wahyu kepadanya, bagaimana jika ada oknum lain yang menyamar sebagai Allah yang berikan wahyu kepadanya ?

Jika ada seorang yang bernama Budi turun dari gunung dan berkata bahwa ia mendapat wahyu dan meminta semua kerabatnya mengakui bahwa ia adalah nabi. Kemudian seluruh kerabatnya dan bahkan seluruh kampungnya mengakuinya nabi. Yang tidak mau mengakuinya mereka bunuh. Dan akhirnya semakin meluas sehingga separuh dunia ini mengakuinya nabi. Padahal Allah sama sekali tidak menurunkan wahyu kepadanya. Betapa banyak orang tertipu bukan? Renungkanlah!

Kiranya melalui uraian singkat ini pembaca bisa terangsang untuk menyelidiki dan membandingkan pengajaran yang sedang pembaca imani dengan pengajaran yang kami sampaikan. Harapan kami pembaca bisa mendapatkan kepastian masuk Sorga karena itulah yang terutama bagi manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar