Senin, Juli 09, 2012

Umat Kristen dan Politik




Bila dalam skala nasional manusia Indonesia ramai membicarakan Pilpres 2014, di DKI (Daerah Khusus Ibukota) Jakarta masa kini orang ramai berbincang soal Pemilukada DKI 2012 yang akan digelar tiga hari lagi. Bagaimana sikap umat kristen ditengah gejolak politik pemilihan kepala daerah/negara itu, pasif, ikut aktif, atau berkelompok mengambil langkah prakmatis berpihak kepada salah satu pasangan calon pilpres/pilkada?

Pemilukada DKI 2012
Menarik mengamati Pemilukada DKI 2012 yang sedang digelar hari-hari ini. PDS (Partai Damai Sejahtera) menyatakan diri berpihak kepada pasangan inkumben nomor 1 sebagai konsekwensi keberpihakannya kepada partai penguasa, namun partai yang mengklaim diri sebagai mewakili umat kristen itu mengalami ketidak damaian ditubuhnya sendiri karena ada sempalan yang lebih condong menolak Foke demi keberpihakkan kepada calon lainnya.

GBI yang merupakan sinoda gereja dengan jemaat terbesar di Indonesia (entah jemaat baru atau jemaat dari sinode lain), ketua sinodanya secara terang-terangan menyatakan diri berada dibelakang calon nomor 1 karena dianggap melindungi eksistensi umat kristen di Jakarta, sebaliknya banyak kalangan kristen yang berpihak pada calon nomor 3 yang mantan walikota Solo. Tidak tanggung-tanggung, tabloid kristen Reformata dalam edisinya yang terbaru memuat setengah halaman iklan pasangan cagub/cawagub Joko dan Ahok. Alasan yang mendukung cagub & cawagub ini adalah a.l. karena Ahok adalah seorang kristen.

Yah, demikianlah gambaran umat kristen di Indonesia mau berpolitik praktis tetapi tidak sehati, dan masing-masing pihak ingin membela jagoannya yang menurut mereka paling menguntungkan golongan mereka.

Keterlibatan umat kristen dalam politik terjadi karena beberapa penyebab, a.l. pertama terdesak oleh kebutuhan untuk bersatu karena merasa terpinggirkan. Mereka beranggapan bahwa dengan bersatu mereka bisa ikut mencapai tujuan religius mereka sekaligus tujuan duniawi. Kedua karena memiliki tujuan agar bisa ikut berkuasa, namun sejarah perpolitikan di Indonesia yang melibatkan partai-partai agama pada umumnya dan partai PDS khususnya menunjukkan bahwa jerat-jerat kekuasaan dan uang bisa meruntuhkan iman kristiani dan kesatuan umat. Ingat saja PDS yang mengaku mewakili umat kristen itu selama hidupnya selalu dirundung ketidak damaian dan ketidak sejahteraan, demikian juga GBI sekalipun ketua sinodanya memaksakan diri untuk mendukung salah satu calon ternyata ditolak oleh sebagian umat dikalangan sinoda GBI sendiri.

Sikap Ambigu Umat Kristen
Di Amerika sekarang juga lagi ramainya kampanye pemilihan presiden. Di kalangan partai republik, dua calonnya yang top, yaitu Santorini dianggap mewakili kristen dan Mitt Romney dianggap mewakili faham Mormon yang dianutnya. Kelompok-kelompok Injili & Kharismatik di Amerika Serikat cenderung mengelu-elukan Santorini, tapi apa daya, pemilu internal partai memenangkan Mitt Romney yang Mormon itu. Kalangan Injili & Kharismatik yang berpihak jadinya serba salah, lalu sekarang mau memilih yang mana?

Ketika sekarang parta Republik harus berhadapan dengan partai Demokrat, maka timbul masalah baru karena Obama beragama kristen! Apakah karena kekristenannya umat kristen harus memilihnya dan menolak Mitt Romney yang dianggap menganut ajaranan sesat Mormon? Mati langkah kembali dihadapai umat kristen, soalnya baru-baru ini Obama menyatakan dukungannya pada pernikahan sesama jenis, sesuatu yang dianggap haram oleh kebanyakan kalangan Injili dan Kharismatik. Lalu kalau begitu memilih yang mana? Masalah ini menjadikan umat kristen menjadi ambigu bila harus berpolitik praktis sehingga suaranya akan selalu terbelah.

Memang umat kristen menghadapi dilema, bila tidak berkelompok secara politik mereka bisa dijadikan bulan-bulanan oleh pihak lain, namun berpihak secara kelompok adalah riskan bagi umat kristen karena resikonya harus dibayar mahal. Di beberapa negara Afrika, suku-suku kristen yang bersatu menghadapi suku-suku Islam dibantai dan diusir ke mancanegara, soalnya umat kristen tidak terbiasa bermain pedang dan hanya memegang alkitab, sedangkan pihak lain biasa memegang kitab suci ditangan kiri dan pedang ditangan kanan. Umat kristen di Suria juga menghadapi resiko yang sama, dalam konflik pemerintah presiden Assad dan para revolusioner, umat kristen karena alasan pragmatis memihak presiden Assad karena merasa dibawah pemerintahannya mereka merasa dilindungi eksistensinya. Hasilnya sudah bisa diperkirakan bila kaum revolusioner menang, apa yang akan terjadi dengan mereka? Ibarat pelanduk mereka akan mati terinjak-injak ditengah dua gajah yang berkelahi, demikian juga nasib umat kristen akan terjepit dan bila mereka berpihak kepada salah satu pihak mereka akan menerima pembalasan dari pihak lainnya.

Lalu Bagaimana ?
Memang posisi umat kristen dalam berpolitik serba salah, ikut kena tidak ikut kena, namun Alkitab memberi kita beberapa petunjuk pada umat pilihan Tuhan. 
Pertama, dalam suratnya kepada kitab Roma, rasul Paulus memberikan petunjuk agar kita menghormati pemerintah diatas kita. Rasul Paulus mengingatkan bahwa pemerintah adalah wakil Allah dibumi (13:1), dan tugas pemerintah adalah berfungsi sebagai hamba Allah untuk kebaikan bersama dan menjadi alat Allah untuk melawan kejahatan (13:4). Bahkan, nabi Yeremia menulis agar sekalipun kita berada dibawah pemerintah penjajah sekalipun, kita tetap harus mendoakan untuk kota karena kesejahteraannya adalah kesejahteraan kita juga (29:7). Jadi dengan kata lain keikut sertaan kita dalam pemilukada dan pemilu harus ditujukan untuk memilih pemerintahan yang paling memenuhi kriteria diatas.

Kedua, lalu cagub atau capres mana sebaiknya kita pilih? Janganlah kita hanya memilih karena agama atau partai seseorang karena sudah terbukti bahwa banyak pejabat kristen juga melakukan hal yang sama dengan pejabat non kristen setelah mereka berkuasa! Tuhan berfirman kepada Musa melalui mertuanya Yitro (Keluaran 18:13-27), agar kita memilih pemimpin yang cakap, takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, yang benci kepada suap, dan mereka yang bisa mendelegasikan wewenangnya kepada mereka di bawahnya yang memenuhi kriteria yang sama.

Berdasarkan kedua kriteria tentang pemerintahan dan calon-calon pemimpin diatas, marilah kita menjadi wargakota dan warganegara yang baik, memilih pemimpin-pemimpin kita dengan bertanggung jawab dan mendoakan mereka, dan agar pemimpin yang memenuhi kedua kriteria diataslah yang terpilih menjadi pemimpin kita !

A m i n !
Salam kasih dari YABINA ministry (www.yabina.org), Ir. Herlianto, M.Th

Baca juga artikel terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar