Sabtu, Desember 03, 2011

Tema National Geographic Desember 2011: Alkitab Raja James (King James Bible)

Alkitab yang dicetak 400 tahun lalu ini ikut membentuk bahasa Inggris dan mengangkat posisi “para penguasa”. Namun, alkitab ini juga menghormati kebebasan perseorangan. Di dunia barat, tak ada buku lain yang lebih berpengaruh daripada alkitab ini.
Foto oleh Jim Richardson
Rome Wager berdiri di depan arena rodeo di sebuah pe­ter­nakan kecil yang berlokasi tidak jauh dari Suaka Navajo di New Mexico. Dia di­kelilingi sekelompok koboi muda. Dengan gesper besar warna perak di pinggang dan kumis panjang terpilin ke bawah di kedua ujung mulutnya, Wager mengangkat tinggi-tinggi Alkitab dengan tangan kirinya. Sementara para koboi muda melepaskan topi dan meletakkannya di lutut mereka.
“Cerita-cerita saya selalu dimulai dengan awal yang agak berbeda,” ujar Brother Rome tatkala mereka berjongkok di halaman yang penuh debu. “Tetapi, Tuhan selalu membantu saya menyampaikannya dengan jelas.”
Sebelum menjadi pendeta Baptis, Wager adalah seorang pengendara banteng dan saddle-bronc profesional. Ia memiliki rekor patah tulang di tubuh yang jumlahnya melampaui jumlah tulang di tubuhnya. Wager yang ber­darah campuran Belanda dan Seneca dari sang ayah, ditambah Lakota dari garis ibunya lalu bercerita tentang sejarah hidupnya yang liar. Tumbuh di sebuah peternakan di South Dakota, Walter muda gemar berkelahi. Ia juga dipukul, ditembak, dan ditikam. Dia jadi juara gulat dan tinju, lalu mulai mengenal minuman keras. “Dulu saya budak alkohol,” dia mengaku.
Akan tetapi, kehidupannya sebagai seorang koboi terasa hampa. Ia lalu mulai mencari mak­na kehidupan. Hingga pada suatu hari di sebuah ruang penjara Montana, dia menghabiskan waktu dengan membaca Alkitab.
“Saya melihat buku itu di penjara. Kemudian, saya melihat Dia membuatkan saya rumah di surga… Dia merasuki hati saya.”
Anak-anak Membaca Alkitab Raja James
Kata-kata yang dituturkannya dengan lembut mampu memesona orang yang mendengarnya. Para pengendara rodeo itu pun tertunduk. Mereka mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Walter, sang pengkhotbah, dengan penuh perhatian. Padahal, yang keluar dari mulut Walter bukanlah sesuatu yang biasa di­ucapkan di kawasan Barat Amerika kala itu. Kata-kata yang mampu “menyihir’ para pen­dengar­nya itu berasal dari Inggris, diter­jemah­kan 400 tahun yang lalu oleh sekelompok pen­deta berjubah hitam. “2 Korintus 5. ‘Oleh karena itu, jika manusia ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: masa lalu sudah mati, lihatlah, segala sesuatu menjadi baru.’”
Kata-kata dalam Alkitab Raja James me­rupa­kan perpaduan dari dua budaya asing. Bukan teks asli, melainkan terjemahan naskah berbahasa Yunani dan Ibrani kuno, yang diucap­kan berabad-abad yang lalu dan berjarak ribuan kilometer, yang muncul di satu sudut berdebu di dunia baru dengan makna yang sama—megah tetapi terasa hangat, seperti suara alam semesta yang menembus dan terdengar di dalam bagian telinga yang paling dalam.
Untuk dapat mendengarkan kekuatan kata-kata itu, seseorang tidak harus menjadi Kristen—sederhana dalam kosa kata, bergema luas, ber­irama agung dan sangat menyentuh emosi.Alkitab Raja James telah menjadi fondasi bagi pembentukan bahasa Inggris. Si kaya dan si miskin, orang-orang fasik, orang licik dan culas, sampah dunia, menyimpan ke­baikan sampai saat-saat terakhir, pakaian dan perhiasan terburuk, dunia semu kaum hartawan, dan peluang-peluang yang sangat tipis: Semua itu disampaikan kepada kita oleh para penerjemah yang menuntaskan karya menakjubkan mereka 400 tahun yang lalu.
Kitab ini mencapai keberhasilan yang luar biasa di seluruh dunia. Dimulai pada Maret 1603, angka cetaknya me­lampaui buku berbahasa Inggris mana pun. Setelah memerintah sangat lama, Ratu Inggris Elizabeth I akhirnya wafat. Inilah saat yang telah lama dinantikan oleh sepupu se­kali­gus ahli warisnya, Raja James VI dari Skot­landia. Saat itu, Skotlandia adalah kerajaan termiskin di Eropa. Sebaliknya, Inggris adalah kerajaan yang beradab, subur, dan kaya. Ketika James mendengar kabar bahwa akhirnya dia akan mewarisi takhta Inggris, dia digambarkan sebagai “seorang papa yang akhirnya tiba di Tanah yang Dijanjikan.”

Sepanjang abad ke-16, Inggris mengalami re­formasi yang tidak stabil karena terus-menerus dilanda pergantian rezim, antara Protestan dan anti-Protestan. Pertentangan ini mengakibatkan Inggris memiliki dua kitab yang berbeda versi.
Pertama adalah Alkitab Jenewa, yang di­terbitkan di Jenewa pada 1560 oleh sekelompok kecil pengikut Calvin ber­kebangsaan Skotlandia dan Inggris. Kitab ini ditulis berdasarkan ter­jemahan awal William Tyndale, yang tewas pada 1536 sebagai martir karena membela ke­yakinannya. Meski disukai kaum puritan, alkitab ini banyak menyepelekan kaum bangsawan yang dinyatakan secara berulang dalam catatan pinggirnya. Misalnya, dengan menyatakan ketika seorang raja berani memerintah, maka dia bertindak seperti seorang tiran.
Raja James menyukai Alkitab Jenewa karena nilai pengetahuannya, tetapi tidak menyukai bagian alkitab yang bernada anti-bangsawan. Kemudian, untuk menandinginya, gereja peng­ikut Elizabeth menerbitkan Alkitab Pendeta (Bishop Bible). Alkitab yang memunculkan gambar besar sang ratu di halaman depan ini di­susun dan diterjemahkan dengan tergesa oleh belasan pendeta pada 1568. Bisa ditebak, alkitab ini mendukung kaum bangsa­wan. Akan tetapi, tidak seorang pun mau menggunakannya. Sebab, gaya bahasa yang digunakan dalam Alkitab Jenewa tidak disukai oleh para pendeta karena dinilai terlalu lugas. Mereka lebih menyukai ungkap­an yang sedikit berbunga-bunga. Karena sering digunakan, Alkitab Jenewa yang masih ada sekarang sudah lusuh. Sementara, Alkitab Pendeta biasanya masih se­bersih saat alkitab-alkitab itu dicetak.
Perpecahan yang telah berlangung turun-temurun inilah yang ingin dibenahi Raja James. Menerbitkan alkitab baru adalah solusinya. Aturan-aturan dasar pun dikeluarkan pada 1604. Isinya, tidak boleh ada catatan pinggir yang kontroversial; tidak boleh ada kata-kata yang tidak dipahami rakyat biasa; teks harus akurat dan benar dan dipandu orang-orang pandai. Untuk mewujudkannya, Raja membentuk ko­mite penerjemah dengan anggota yang cukup banyak, yakni sekitar 54 cendekiawan yang me­wakili semua pihak, mulai dari kaum Puritan hingga perwakilan yang paling terpandang dari kalangan gereja. Kemudian, kelompok ini dibagi lagi dalam enam subkomite. Masing-masing di­minta menerjemahkan enam bagian berbeda dari Alkitab.
Meskipun para penerjemah dipilih berdasar­kan keahlian mereka dalam bahasa-bahasa kuno, banyak di antara mereka yang sudah me­nikmati kehidupan kaya dan beragam.
John Layfield, misalnya, pernah berperang melawan Spanyol di Puerto Riko. Sebuah pe­tualangan yang menyebabkannya terpesona oleh keindahan Karibia yang masih perawan. Lalu, George Abbot adalah seorang pengarang buku laris panduan jelajah dunia. Ada juga Had­rian à Saravia yang berdarah Flemish dan Spanyol. Beberapa di antara mereka juga pernah menjelajahi Eropa; sementara yang lain­nya bahasawan Arab. William Bedwell dan Henry Savile, cendekiawan bangsawan yang dikenal sebagai “majalah berjalan”, adalah pakar matematika. Ada juga pecandu alkohol ber­nama Richard “Belanda” Thomson, ahli ba­ha­sa Latin cemerlang yang terkenal sebagai “pemabuk Inggris-Belanda tak bermoral.” Lalu, di antara perwakilan terpandang dari ge­reja terdapat seorang lelaki murung yang di­khianati istrinya, John Overall, kepala gereja St. Paul. Menurut teman-temannya, ia terlalu sering berbicara dalam bahasa Latin sehingga hampir melupakan bahasa Inggris. Kesalahan Overall adalah menikahi seorang gadis terkenal yang menawan hati, yang kemudian meninggalkannya karena berselingkuh dengan bangsawan yang justru tidak bisa berbahasa Latin, Sir John Selby. Itu adalah dunia di mana tak ada jurang pemisah antara politik dan agama.
Terjemahan Al­kitab yang mencerminkan Kitab Suci asli, yang mudah diperoleh rakyat biasa, dan me­wujud­kan keagungan Tuhan merupakan alat politik paling ampuh di Inggris pada abad ke-17. “Kami berharap Alkitab ini mencerminkan Kitab Suci yang asli yang dapat dipahami bahkan oleh orang yang tak berpendidikan sekalipun,” kata para penerjemah dalam prakata Alkitab terbitan 1611 itu. Gaya bahasa yang sederhana inilah—yang menyebabkan Brother Rome Wager lancar berkomunikasi dengan para koboi muda—yang menjadi sasaran para penerjemah Raja James.
Setiap anggota dari keenam subkomite me­ner­jemahkan sendiri-sendiri seluruh bagian ter­tentu dari Alkitab. Kemudian, masing-masing membawa terjemahannya ke rapat subkomite. Di rapat inilah berbagai versi terjemahan di­bandingkan, lalu ditetapkan satu versi ter­jemahan. Selanjutnya, versi itu diserahkan ke komite revisi umum untuk seluruh Alkitab, yang mengadakan rapat di Stationers’ Hall di London.
Di sini, para cendekiawan yang melakukan revisi meminta versi yang diusulkan itu di­baca­kan dengan suara keras—tanpa melihat teks—sementara di pangkuan mereka terdapat terjemahan sebelumnya dalam Bahasa Inggris dan berbagai bahasa lain. Hanya telinga dan pikiranlah yang menjadi alat bantu editorial. Mereka menginginkan Kitab Suci itu terdengar wajar. Jika hal ini tidak terpenuhi pada rapat dengar pertama, terjadi diskusi editorial yang berlangsung alot—yang luar biasa, umumnya mereka berdiskusi dalam bahasa Latin dan kadang Yunani. Komite revisi menyajikan versi akhir kepada dua pendeta, kemudian kepada uskup senior Gereja Inggris, dan akhirnya, se­tidaknya secara teoretis, kepada Raja.
Alkitab Raja James adalah buku yang dicipta­kan oleh dunia di mana dunia itu diciptakan. Hubungan erat ini terasa sangat nyata dalam be­berapa ruangan di jantung kota London. Di dalam Westminster Abbey, gereja terbesar kaum bangsawan Inggris,Very Reverend Dr. John Hall, kepala gereja Westminster yang ber­pakaian pantalon abu-abu dan berkacamata dapat ditemui di kantor pimpinan gereja yang dilindungi panel dan berkarpet. Di sini, pen­dahulu­nya kepala gereja dari abad ke-17, Lancelot Andrewes, memimpin subkomite yang menerjemahkan lima buku pertama kitab Per­janjian Lama. Di ruangan-ruangan ini pula, kalimat pembuka “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” terdengar untuk pertama kali.
John Hall memimpin upacara pernikahan Pange­ran William dan Kate Middleton di ge­reja ini pada April tahun ini. Suasananya sung­­guh berbeda dengan suasana khotbah Rome Wager di depan para koboi di lapangan berdebu di New Mexico. Namun bagi Hall, ada sesuatu pada Alkitab Raja James yang dengan mulus menjembatani jurang perbedaan di antara mereka. Dia membaca Alkitab Raja James ketika masih kecil, dan mulai membacanya kembali belum lama ini. “Ada saat-saat tertentu ketika membacanya,” ujarnya, “yang membuat saya begitu terharu hingga meneteskan air mata. Saya menyukai kisah setelah Yesus disalib dan bangkit kembali, lalu beliau muncul di hadapan para rasul saat mereka berjalan menuju Emmaus. Para rasul tidak mengenalnya, tetapi mereka bercakap-cakap, dan di akhir kisah itu mereka berkata kepada Yesus, ‘Tinggallah bersama kami karena hari sudah menjelang malam.’ Kalimat itu—begitu sederhana, begitu langsung, dan begitu mantap—sangat mendalam maknanya bagi saya selama bertahun-tahun. Bahasanya sarat misteri dan keagungan, namun juga men­cerminkan pimpinan yang penuh kasih, dan di situlah letak kekuatan buku ini.”
Awalnya, terjemahan baru Alkitab itu tidak meraih sukses besar saat per­tama kali terbit. Warga Inggris lebih senang menggunakan Alkitab Jenewa yang sudah mereka kenal dan sukai. Lagi pula, terbitan demi terbitan Alkitab baru itu sarat dengan kesalahan cetak. Alkitab Durjana terbitan 1631 yang terkenal terlewat mencantumkan kata yang sangat penting (kata “not” yang berarti “tidak”) dalam Keluaran 20:14, sehingga tercetak, “Engkau boleh berzina.” Akibatnya, percetakan harus membayar denda sangat besar.
Namun, pada pertengahan 1600-an, Al­kitab Raja James secara efektif berhasil meng­ganti­kan semua alkitab pendahulunya dan men­jadi Alkitab utama di negara-negara ber­bahasa Inggris. Tatkala para saudagar dan koloni Inggris meluas melintasi Atlantik dan merambah Afrika dan anak benua India, Alkitab Raja James ikut pula tersebar bersama mereka. Alkitab itu menjadi barang dagangan, digunakan se­bagai bungkus cerutu, obat, manisan, hingga selongsong peluru, dan akhirnya dipasarkan sebagai “buku yang dibaca Raja Anda.”
Masyarakat Alkitab di Inggris dan Amerika mendistribusikan Alkitab Raja James ke se­luruh dunia. Masyarakat Alkitab Inggris dan asing yang bermarkas di London, misalnya, mengapalkan lebih dari seratus juta eksemplar dalam kurun 80 tahun setelah berdiri pada 1804.
Namun, ada sisi gelap di balik kisah Al­kitab yang sangat sukses ini. Sepanjang se­­­jarah­nya, alkitab ini digunakan dan di­manipulasi, oleh orang baik maupun jahat, yang memanfaatkannya untuk meraih ke­untungan pribadi. Sebagian besar isi alkitab ini menyangkut kebebasan, belas kasih, dan pe­­­­­ne­bus­an dosa. Namun, bagian-bagian itu di­­imbangi oleh bahasa yang menyiratkan ke­gigihan balas dendam dan kekuasaan.  Sebagai Alkitab kerajaan, buku ini juga men­jadi alkitab para budak sehingga selalu bersifat ambivalen di kawasan yang pernah menjadi jajahan Inggris.
Di antara puing-puing dan rong­sok­an mobil di Trench Town dan Taman Tivoli di West Kingston, Jamaika, setiap rumah dipagari agar tidak terlihat dari jalan. Di samping itu, rumah juga dipasangi dinding tinggi dari besi bergelombang yang dipaku ke papan kasar. Kawasan yang dikuasai oleh gembong narkoba yang dilindungi polisi ini memiliki angka pem­bunuhan tertinggi di dunia. Inilah provinsi yang dikuasai hukum rimba, kemiskinan parah, dan ketakutan. Dilihat dari tatanan sosialnya, dengan segelintir orang kaya yang berkuasa dan banyaknya kaum papa, sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan keadaan Inggris awal abad ke-17.
Ini adalah salah satu pusat musik reggae—yang dilahirkan dan menjadi gaya hidup kaum Rastafari—dan Alkitab Raja James. Seperti di­katakan Mutabaruka, DJ dan penyair dari Jamaika, “Hal pertama yang dikenal orang di negara jajahan ini adalah Alkitab Raja James.” Padahal, mereka bukan penganut Kristen. Sejak 1930-an mereka percaya bahwa kaisar Etiopia saat itu, Haile Selassie, adalah Tuhan.
Namanya Ras Tafari sebelum 1930, ketika dia dijuluki “Raja para Raja, Singa dari Yudea, Utusan Tuhan.” Semua gelar itu terdapat dalam Alkitab bagi Sang Juru Selamat. Masyarakat pulau itu sudah lama menggunakan Alkitab Baptis. Pada pertengahan abad ke-20, di saat warga Jamaika mencari Injil penebusan baru, keyakinan tersebut mendadak menjadi masuk akal. Ras Tafari adalah sang penyelamat, Tu­han di alam nyata, dan Etiopia adalah Tanah Perjanjian. Bagi warga Rastafari, yang sangat sadar akan sejarah perbudakan kaum berkulit hitam, Jamaika adalah Babilonia, yang setara dengan kota tempat bangsa Israel diperbudak. Kebebasan dan penebusan tidak akan dialami di surga, sebagaimana yang selalu dikatakan kaum Kristen, melainkan di dunia.
“Pengalaman pada masa perbudakan ikut berperan,” kata Mutabaruka, “karena manusia butuh diselamatkan dan mendapatkan pene­busan. Warga Rasta tidak percaya kepada Tuhan yang menciptakan langit. Penebusan mereka berada dalam karakter manusia. Ketika bangsa Eropa datang dan berkata, ‘Yesus di langit,’ orang Rasta menolaknya dengan tegas.” (Yesus di langit bagi orang Rasta sama dengan kisah tentang Kebangkitan Yesus.) “Dia berkata, ‘Ketika engkau melihat saya, engkau melihat Tuhan.’ Tidak ada Tuhan di langit. Manusia adalah Tuhan, Afrika adalah Tanah Perjanjian.”
Michael “Miguel” Lorne adalah seorang pe­nasihat hukum Rastafari yang selama 30 tahun bekerja untuk “kaum miskin dan papa” di daerah yang paling keras di Kingston. Meski dinding kantornya dipenuhi gambar tentang Afrika dan kaisar Etiopia itu, jendelanya ber­teralis dan pintu depannya berkunci tiga dan di­­perkuat pintu baja.
“Alkitab sering digunakan untuk menaklukkan para budak,” ujar Lorne. Tam­pak­nya seperti membenarkan kaum ku­lit putih memperbudak kaum kulit hitam. “Imbalanmu adalah surga, kamu harus menerima ini sebagai takdirmu,” katanya.
Lorne terlihat baik, tegar, dan penuh inspirasi. “Kami mendambakan dunia yang tidak mem­bedakan orang berdasarkan warna kulitnya seperti saat ini. Itulah salah satu keindahan Rastafari. Kami yang pernah menderita, di­kasari, dan dipukuli, telah memperjuangkan ganti rugi dan perbaikan selama bertahun-tahun. Namun, kami tidak akan menggunakan kekerasan untuk memperolehnya.”
Warga Rastafari yang saleh membaca Alkitab Raja James setiap hari. Lorne pun sudah me­nuntas­kannya. Evon Youngsam, anggota Dua Belas Suku Israel, salah satu “cabang” (mansion) gerakan Rastafari di Kingston, yang kantor pusatnya berseberangan dengan rumah tua Bob Marley di kota, belajar membaca Alkitab Raja James di pangkuan neneknya. Dia lalu mengajari anak-anaknya membaca dengan menggunakan alkitab itu. Para penganut paham Bobo Shanti, mansion Rastafari lainnya, hidup di kompleks permukiman mereka yang terpencil di kaki bukit Blue Mountains di luar Kingston. Mereka menyanyikan kidung Mazmur setiap hari. Suasana permukiman kelompok ini tenang dan hangat, nyaris seperti biara. Tetapi penganut paham Rastafari lainnya justru mempunyai gaya hidup yang sangat berbeda. Mereka mengikuti sikap tidak toleran yang terdapat dalam be­berapa bagian Alkitab itu.
Alkitab Raja James selalu memiliki dua sisi. Kitab ini berasal dari kekuasaan kaum bangsa­wan, dan digunakan untuk menakut-nakuti rakyat yang lemah. Namun, tak dapat di­sangkal buku itu juga menyajikan keindahan, kemurahan hati, dan kebaikan dalam kehidupan kaum kaya maupun papa. Asal-usulnya ambi­valen—untuk kaum Puritan dan pendeta, si mampu dan tak mampu, untuk kelugasan dan kemuliaan, untuk menyampaikan kata-kata Tuhan kepada manusia, sekaligus meningkatkan posisi para penguasa—dan ambivalensi ajaran ini merupakan warisannya yang sejati.
Tambahan Artikel dari Tulang Elisa Jusuf BS

ALASAN-ALASAN YANG JELAS untuk mempertahankan “King James Version” 

(= Authorized Version)

Mengapa kita harus tetap memakai “Authorized Version” (= versi resmi) dari Alkitab daripada versi-versi  modern yang sekarang banyak tersedia? Pertanyaan ini sering ditanyakan dan inilah beberapa jawabannya:
  1. “Authorized Version” didasarkan pada “teks” yang lebih baik
  2. “Authorized Version” adalah terjemahan yang lebih akurat
  3. “Authorized Version” dibuat dalam bahasa Inggris yang lebih tepat
  4. “Authorized Version” membawa sebuah kesaksian yang lebih kuat
  5. “Authorized Version” telah melayani sebagai terjemahan bahasa Inggris standar

“Authorized Version” didasarkan pada “teks” yang lebih baik

Yang dimaksudkan dengan “teks” adalah Alkitab dalam bahasa Ibrani dan Yunani, dari mana terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris dan bahasa-bahasa yang lainnya dibuat. Sebuah teks yang baik adalah suatu salinan yang dapat dipercaya sebagai salinan yang setia kepada arti dari kata-kata yang asli diinspirasikan oleh Allah. Teks Ibrani Perjanjian Lama dan teks Yunani Perjanjian Baru tersedia dalam edisi cetak, yang didasarkan pada salinan tulisan tangan yang dikenal sebagai “manuskrip”. Edisi Ibrani dan Yunani yang digunakan oleh penerjemah “Authorized Version” didasarkan hanya pada beberapa manuskrip.
Pada abad-abad yang lalu, sejak 1611, ketika “Authorized Version” diterbitkan, beberapa ribu manuskrip telah ditemukan yang mana sebelumnya tidak digunakan oleh para penerjemah awal. Mayoritas naskah tersebut telah terbukti cocok dengan “Authorized Version”, dan secara keseluruhannya, penggunaan teks untuk penerjemahan versi ini telah diteguhkan.
Sejak abad ke-18 dan seterusnya, para sarjana telah menggunakan lebih banyak manuskrip Yunani yang sangat tua yang berisi bentuk teks yang berbeda. Dua manuskrip yang banyak dikenal adalah “Codex Vaticanus”, yang ditemukan di perpustakaan kepausan di Roma, dan “Codex Sinaiticus” yang ditemukan di sebuah biara di Gunung Sinai. Kebanyakan terjemahan Alkitab yang modern telah meninggalkan atau mengubah banyak ayat untuk disesuaikan dengan salinan naskah abad ke-4 ini. Asumsi di balik perubahan teks tersebut adalah prinsip bahwa “naskah tertua pastilah yang terbaik”. Namun, usia naskah sama sekali tidak dapat menjamin bukti kualitasnya. Salinan lebih kuno yang telah ditemukan menunjukkan bentuk teks yang digunakan di Mesir pada abad 3 dan 4, dan ada suatu bahaya yang besar bahwa teks tersebut mengalami perubahan oleh pengaruh lokal. Dengan mengikuti bentuk teks tersebut maka versi modern telah menghidupkan kembali kesalahan kuno. Ratusan kata-kata dalam Perjanjian Baru telah dihilangkan, juga dua bagian yang panjang (Markus 16.9-20 dan Yohanes 7.53-8.11) dan lagi puluhan ayat lengkap lainnya.
Di sisi yang lain, banyak manuskrip yang selanjutnya (yang dikatakan lebih baru) merupakan salinan yang setia pada naskah-naskah yang diteruskan dari tangan ke tangan selama ratusan tahun di banyak daerah yang memakai bahasa Yunani. Naskah-naskah ini dikenal sebagai “teks mayoritas” atau “teks tradisional”. “Authorized Version” ini sebagian besar didasarkan pada bentuk teks yang ini, yaitu yang paling aman dan paling dapat dipercaya.

“Authorized Version” adalah terjemahan yang lebih akurat

Karena para penerjemah memandang Alkitab dengan rasa hormat bahwa Alkitab adalah Firman yang diilhamkan oleh Allah, maka para penerjemah merasa bahwa mereka harus sangat hati-hati untuk menerjemahkannya dalam bahasa Inggris semua yang telah ditulis oleh para penulis yang telah diilhami oleh Allah. Mereka sadar akan adanya perintah yang ketat dalam Ulangan 4.2, bahwa umat Allah seharusnya tidak menambah Firman-Nya atau mengambil apa pun dari Firman-Nya. Versi modern cukup sering melakukan kedua kesalahan ini, dan akibatnya pembaca akan kehilangan.
Pada bagian-bagian yang lain, kecenderungan yang sama untuk menambah dan mengambil kata-kata yang diilhami Allah juga ditemukan dalam versi modern populer yang lainnya. Bagaimanapun juga, “Authorized Version” tetap sangat dekat dengan yang asli dan merupakan panduan yang dapat diandalkan untuk melihat apa yang sebenarnya ditulis oleh para penulis yang diilhami di bawah bimbingan Roh Kudus, dan juga panduan yang dapat diandalkan untuk mengerti apa yang mereka maksudkan.

“Authorized Version” dibuat dalam bahasa Inggris yang lebih tepat

Alkitab adalah Firman Allah yang Kudus, dan penerjemahan harus dibuat dalam bahasa yang tepat sesuai dengan Penulis Ilahi. Alkitab ditulis oleh orang suci Allah yang “berbicara sebagaimana mereka digerakkan oleh Roh Kudus” (2 Petrus 1,21), sehingga penerjemahan harus menggunakan bahasa dan gaya yang tepat sesuai dengan para penulis yang diilhami. Alkitab berbicara tentang banyak hal yang penting dan serius, seperti kehidupan kekal, kebinasaan kekal – dijauhkan dari hadirat Tuhan, dosa dan keselamatan, orang-orang berdosa yang terhilang dan Juruselamat Ilahi, Putra yang Abadi dari Allah yang kekal. Oleh sebab itu, sebuah terjemahan harus dibuat dalam bahasa dan gaya yang sesuai dengan materi pelajaran.
Karena Alkitab adalah Firman Allah, maka Alkitab harus bisa dibaca baik di hadapan publik maupun secara pribadi, dan harus diingat. Sebab itu sebuah terjemahan harus dibuat dalam bentuk bahasa Inggris yang cocok untuk dibaca di hadapan publik maupun secara pribadi – dan juga mudah untuk dihafalkan. Irama dari “Authorized Version” adalah penghormatannya dan mengagungkan Allah, dan mengandung proporsi yang sangat besar dari kata-kata singkat dan sederhana sesuai dengan asal kata-kata Anglo-Saxon yang terus menerus memberikan “dasar” kosakata bagi bahasa kita dalam penggunaan sehari-hari, dan semua hal ini sama-sama membuat versi ini paling cocok dalam semua hal.
“Putra Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19.10); “Dia yang memiliki Putra memiliki hidup, dan dia yang tidak memiliki Putra Allah tidak memiliki hidup” (1 Yohanes 5.12). Pernyataan-pernyataan yang besar ini diberikan kepada kita dalam kata-kata sederhana dan semua hanya terdiri dari satu suku kata, dan banyak hal dari “Authorized Version” ini ditulis dengan sederhana, kosakata bahasa Inggris yang “tidak dimakan usia” dan seorang anak pun dapat membaca, belajar, dan memahaminya.

“Authorized Version” membawa sebuah kesaksian yang lebih kuat

untuk Ketuhanan Tuhan Yesus Kristus daripada yang bisa kita temukan dalam versi modern lainnya. Beberapa naskah kuno yang disukai oleh para sarjana modern telah meninggalkan atau mengubah beberapa bagian yang paling penting yang menyatakan bahwa Penebus kita adalah seimbang dan sama kekalnya dengan Allah, dan bahwa Ia sendiri adalah “Tuhan yang menjelma menjadi daging”. Kesaksian besar dalam 1 Timotius 3.16 ini menjadi lemah atau hilang di hampir setiap versi modern. Di banyak terjemahan kesaksian dari Markus 1.1 juga hilang, di mana dalam “Authorized Version” kita membaca “permulaan Injil Yesus Kristus, Putra Allah”. Versi modern cenderung untuk menghilangkan atau mempertanyakan apakah Dia adalah “Putra Allah” (lihat juga Yohanes 6.69 dan 9.35). Dalam Ibrani 1.8, Allah Bapa menyatakan bahwa Putra adalah Allah: “Kepada Putra Ia berkata: tahta-Mu, o Allah, adalah selama-lamanya”. Dalam versi modern kesaksian ini melemah atau hilang.
Dalam Perjanjian Lama, “Authorized Version” menulis dalam Yesaya 9.6 bahwa nama Juru Selamat yang akan datang akan disebut “Ajaib, Penasehat, Allah perkasa, Bapa yang kekal, Pangeran Perdamaian”. Banyak versi modern mengubah bagian ini sehingga Mesias tidak disebut “Allah perkasa”. Moffatt menyebut-Nya tidak lebih dari “pahlawan Ilahi”.
Dalam Roma 9.5 “Authorized Version” mengatakan bahwa Kristus adalah “atas semua, Tuhan memberkati selama-lamanya”, sedangkan versi modern cenderung untuk mengubah ini secara menyeluruh sehingga hanya Allah yang dikatakan “atas semua” dan “diberkati untuk selama-lamanya”, dan Kristus tidak dikatakan sebagai Allah.
Bagian lain yang juga diubah adalah mengenai pribadi Kristus yang bisa ditemukan dalam Yesaya 7.14 dan Matius 1.23, di mana versi modern kadang-kadang menuliskan “wanita muda” dan bukan “perawan”, sehingga mengaburkan doktrin bahwa Kristus dilahirkan dari seorang perawan. Banyak versi juga menghilangkan kata “sulung” dalam Matius 1.25, di mana “Authorized Version” memberikan kesaksian yang jelas bahwa Yesus adalah Putra sulung Maria.
Kelahiran dari seorang perawan ini selanjutnya juga dipertanyakan dalam Lukas 2.33, di mana versi modern merujuk kepada Yusuf sebagai “bapak” dari Yesus.
Dalam kitab Mikha (5.2), nabi berbicara tentang suatu kelahiran Penguasa di Betlehem yang keluar dari dahulu, dari kekekalan, hal ini jelas mengacu pada sifat kekal dari Putra Allah. Dalam terjemahan NIV hal ini menjadi – “yang asalnya dari dahulu kala, dari zaman kuno”, yang dengan mudah bisa memberikan kesan pada pembaca bahwa Kristus adalah makhluk ciptaan. Kesalahan yang sama juga terjadi dalam terjemahan Revised Standard Version dan versi modern lainnya.

“Authorized Version” telah melayani sebagai terjemahan bahasa Inggris standar

diakui di seluruh dunia yang berbahasa Inggris sebagai sumber dan dasar untuk pemberitaan Injil yang efektif, dan sebagai otoritas tertinggi dalam semua masalah kontroversi. Tidak ada versi lain yang bisa menggantikan posisi tersebut dalam hal ini. Para penginjil terbesar dan ekspositor Alkitab selama 350 tahun terakhir telah menggunakan versi ini untuk pelayanan mereka, dan dengan cara itu Allah telah memberkati jutaan orang dengan terang dan kebenaran dari Injil Kristus.
Ada ratusan ribu orang Kristen di Afrika, India, Timur Jauh dan Hindia Barat, yang menggunakan versi ini dan tidak ingin versi yang lain. Selama beberapa tahun terakhir, Trinitarian Bible Society telah mengirim ratusan ribu salinan “Authorized Version” ke Afrika, di mana salinan itu dibaca oleh orang Afrika yang berbahasa Inggris. Ini adalah Alkitab yang mereka ketahui dan mereka cintai, dan sumber di mana Injil diberitakan kepada mereka. Perlawanan mereka terhadap versi modern yang kurang dapat diandalkan ditunjukkan dengan lebih bijaksana oleh mereka daripada yang sudah banyak dilakukan di negeri kita sendiri, yang telah terlalu mudah mengadopsi satu ataupun terjemahan lain dari versi modern yang jauh lebih rendah daripada “Authorized Version”.
Ada lebih dari seratus versi bahasa Inggris modern. Tidak diragukan lagi bahwa dalam setiap terjemahan itu ada beberapa bagian yang mungkin diterjemahkan lebih jelas dan mungkin ada beberapa bagian sulit yang dibuat menjadi lebih jelas tetapi keuntungan tersebut tidak sebanding dengan kelemahan dan kerugian yang telah disebutkan. Adalah benar untuk tetap menjaga “Authorized Version”, bukan karena ketuaannya, tetapi karena versi ini lebih baik daripada versi lain yang ditawarkan untuk menggantikannya. Alkitab adalah karunia Allah yang berharga yang harus kita syukuri. Keunggulan, kesetiaan, kekuatan, dan buah-buahnya, telah teruji dalam pengalaman jutaan pembacanya. “Authorized Version” tidak boleh menyerah untuk ditukar dengan versi yang lebih rendah.
Orang-orang yang berbahasa Inggris mendapat kesempatan selama 400 tahun ini (1611—2011) untuk membaca Alkitab dalam terjemahan yang baik dan sangat keberkatan. Tetapi sekarang kita di Indonesia juga mendapat kesempatan ini, lewat KJI (King James Indonesia), terjemahan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, yang dibuat oleh LAI dan majalah pelajaran Alkitab Tulang Elisa (tahap I Perjanjian Baru: Matius s.d. Wahyu, dan tahap II akan menyusul, yaitu Perjanjian Lama: Kejadian s.d. Maleakhi).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar