Sabtu, Mei 14, 2011

APAKAH ORANG KRISTEN PERLU BELAJAR FILSAFAT?


Orang Kristen memiliki sikap yang berbeda-beda dalam relasinya terhadap filsafat non Kristen. Sebagian bersikap antipati, yang lain sangat positif dan sebagian lagi “terbuka namun kritis” terhadap filsafat. Dalam tulisan singkat ini, kita akan menyoroti masing-masing sikap tersebut dan berinteraksi dengan pemikiran tokoh gereja mula-mula tentang isu ini.

Pertama, terdapat orang Kristen yang antipati terhadap filsafat! Bagi kelompok ini, filsafat adalah hikmat dunia dan Alkitab adalah hikmat Tuhan. Keduanya saling bertentangan seperti air dan minyak dan tidak pernah menghasilkan sintesis. Mereka yang mau hidup dalam Tuhan harus menjauhkan diri bahkan memusuhi filsafat. Ayat yang sering dikutip adalah Kolose 2:8, Hati-hatilah,supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.”

Sikap seperti ini biasanya muncul karena ketulusan ingin hidup benar sesuai firman Tuhan. Kelompok ini sering kali percaya bahwa belajar filsafat berarti menuju kesesatan dan hikmat dunia. Jika ada teman mereka yang ingin belajar filsafat, maka saran mereka adalah “jangan, nanti kamu sesat!” Hal ini terkadang bisa dimaklumi karena mereka telah menyaksikan beberapa orang yang belajar filsafat akhirnya meninggalkan Tuhan atau menjadi sangat kritis terhadap Alkitab. Jika ada theolog yang belajar filsafat maka kelompok ini segera mengingatkan, “hati-hati nanti kamu berubah menjadi sinkretis dan tidak biblikal.”

Sikap seperti ini telah digemakan oleh tokoh gereja bernama Tertulian. Sebagai seorang pembela iman (apologet) Kristen, Tertulian adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah gereja. Ia adalah pencetus istilah latin “Trinitas” yang mengacu pada Tuhan sesembahan orang Kristen.  Bagi Tertulian, filsafat dunia adalah sumber dari bidat atau ajaran sesat. Ia menyebutkan nama-nama tokoh yang sesat  seperti Valentinus, Marcion dan menunjukkan bahwa kesesatan mereka bersumber karena mereka terpengaruh oleh filsafat misalnya filsafat stoic dan Epicurus. Oleh Karena itu, Tertulian beretorika, “apakah persamaan antara Atena dan Yerusalem? Antara Akademi dan Gereja?” Dengan pernyataan ini, Tertulian ingin mengatakan bahwa filsafat yang disimbolkan dengan Atena dan Akademi (sekolah yang didirikan oleh filsuf Plato pada tahun 387 SM) adalah lawan dari iman Kristen dan Gereja. Atena dan Yerusalem tidak memiliki persamaan.

Sikap seperti ini, berdasarkan pengamatan penulis, lebih banyak ditemui di kalangan tertentu. Khususnya, di kalangan para pengkhotbah dari gereja aliran tertentu, sikap seperti ini muncul akibat dari rasa takut bahwa jemaat akan sesat jika belajar filsafat. Hal ini bisa dimaklumi karena pendidikan teologi dari sang pendeta/pengkhotbah ketika ia berada di seminari atau mengikuti kursus Alkitab tidak memuat pelajaran filsafat. Beberapa bahkan tidak pernah sekolah teologi sama sekali. Tidak mengherankan jika kemudian mereka tidak melihat pentingnya belajar filsafat sama sekali. Seperti Tertulian, mereka lebih melihat dampak buruk dari filsafat, yaitu kemungkinan orang tersesat karenanya. Jika sang pendeta memiliki pandangan seperti ini, maka tidak mengherankan jika ini pula yang menjadi sikap jemaatnya.

Penganut pandangan seperti ini berpotensi menemui beberapa masalah. Pertama, jika mereka harus melayani orang yang memiliki pengetahuan tentang filsafat, maka cukup sering dalam dialog akan terjadi kebuntuan. Penganut pandangan anti filsafat biasanya tidak mau belajar filsafat dan akibatnya tidak mampu berinteraksi dan meyakinkan orang tersebut bahwa Kekristenan sendiri adalah sebuah filsafat hidup yang terbaik dibandingkan dengan filsafat lain. Tentu saja bagi penganut pandangan ini, hal ini tidak menjadi masalah. Toh, yang terpenting adalah proklamasi firman yang penuh kuasa bbegitulah cara pikir kelompok ini. Bukan wawasan yang terpenting tapi kesetiaan dalam memberitakan Alkitab, begitulah keyakinan mereka. Namun demikian, dari sisi orang yang dilayani, mereka akan merasa bahwa orang Kristen yang tidak bersedia belakar filsafat tersebut akan dianggap “tidak tahu apa-apa” atau “fanatik” dan kadang-kadang kelompok intelektual tertentu paling ogah berdiskusi atau mendengarkan orang Kristen yang demikian. Hal ini tentu berpotensi menjadi sebuah hambatan dalam penginjilan khususnya kepada kaum intelektual yang menyukai filsafat.

Masalah kedua dapat muncul ketika orang Kristen yang anti filsafat tiba-tiba karena situasi tertentu belajar filsafat dan “terhipnotis” olehnya. Misalnya, seorang Kristen yang “steril” dan tidak pernah belajar filsafat tiba-tiba mendapat kesempatan studi ke luar negeri di mana dosennya menggempur dia dengan berbagai filsafat anti Kristen. Pada saat itu, mungkin terjadi sebuah kegoncangan iman yang besar karena orang Kristen tersebut baru menyadari bahwa filsafat itu menarik. Atau ketika seorang Kristen yang dahulunya anti filsafat lalu menenggelamkan dirinya dalam karya-karya filsafat anti Kristen, walaupun ia sendiri belum memiliki fondasi yang cukup memadai tentang Kekristenan. Akibatnya, mudah ditebak, ia mudah berbalik pandangan dan menentang Alkitab. Hal seperti ini adalah kisah yang cukup umum di sekitar kita, khususnya di kalangan kaum terpelajar.  
  
Sikap kedua  adalah sikap sangat positif terhadap filsafat, kebalikan terhadap sikap pertama yang anti filsafat. Secara positif hal sering terjadi karena memang terdapat semacam pengalaman “orgasme intelektual” ketika membaca buku filsafat. Orang-orang ini secara tulus kagum kepada pemikiran para filsuf kuno maupun modern. Mereka benar-benar merasa semakin berhikmat setelah belajar filsafat. Filsafat menolong mereka untuk berpikir kritis, progresif dan satu lagi, terlepas dari subyektifitas alias obyektif, demikianlah keyakinan mereka (yang terakhir jelas klaim berlebihan). 

Secara negatif, tentu saja ada orang-orang tertentu yang sebenarnya belajar filsafat untuk membangun harga diri. Bagi kelompok ini, ada semacam rasa bangga jika dapat mengutip, memahami dan menuliskan perkataan para filsuf. Tentu saja tidak semua orang yang cinta filsafat seperti ini, namun sebagian orang memang demikian (mungkin mereka tidak punya alasan lain untuk dibanggakan!). Daftar alasan yang membuat orang Kristen tertentu sangat cinta filsafat tentu bisa sangat panjang dan cara terbaik adalah bertanya pada mereka yang termasuk dalam kategori ini.

Sikap sangat positif terhadap filsafat ini dekat dengan pandangan Clement dari Alexandria (150-215 M) tokoh gereja mula-mula. Di jamannya, ketika filsafat Yunani amat berpengaruh, ia mengajarkan bahwa filsafat adalah penuntun kepada kebenaran Kristus bagi orang Yunani sama seperti hukum taurat adalah penuntun kepada kebenaran Kristus bagi orang Yahudi. Ia berkata, “Karena filsafat berperan sebagai ‘penuntun’ untuk membawa orang Yunani kepada Kristus, sama seperti hukum taurat bagi orang Ibrani.”

Dalam pemahaman Clement, Kristus adalah penggenapan dari filsafat seperti halnya Kristus adalah penggenapan dari Perjanjian Lama. Apa yang dipuja-puja orang dalam filsafat menemui puncaknya dalam Kristus. Dengan demikian, belajar filsafat tentu sesuatu yang sah dan bermanfaat.

Pandangan Clement ini menarik namun perlu diberi tanda awas. Filsafat non Kristen memang terkadang dapat mencerminkan sebuah kebenaran secara samar-samar di mana Kristus adalah penggenapannya secara utuh, namun demikian harus diingat bahwa filsafat non Kristen pada hakekatnya tidak netral dan mengandung unsur yang beroposisi terhadap ajaran Alkitab.

Misalnya, filsafat Taoisme (bedakan dengan agama Tao) berbicara tentang Tao sebagai sesuatu yang misterius yang merupakan induk dari segala sesuatu. Banyak orang Kristen dengan cepat menunjuk bahwa yang misterius dalam filsafat Tao itulah yang digenapkan dalam Kristus sang Logos yang menjadi manusia. Pendekatan seperti ini menarik dan benar dalam taraf tertentu namun menyimpan bahaya untuk secara mudah mengklaim “semua yang lain” telah digenapkan secara sempurna dalam Kristus. Teori seperti ini tentu saja telah dikritik oleh penganut pluralisme seperti John Hick.    

Bagi kelompok yang sangat positif terhadap filsafat ini juga muncul bahaya bahwa kecintaan membaca Alkitab berpotensi digeser oleh kecintaan membaca buku filsafat. Hal ini tentu merupakan sebuah tanda awas. Secara tak sadar, orang Kristen yang berada dalam kelompok ini dapat meninggalkan wawasan dunia yang alkitabiah (biblical worldview) dan atau mencampurnya dengan wawasan dunia lain.

Mahasiswa teologi, pengajar, dan pendeta termasuk yang paling sering menghasilkan kelompok ini selain pelajar filsafat tentunya. Penulis pernah berdiskusi tentang sebuah topik dengan seorang pendeta dan menemukan bahwa nama-nama seperti Wittgenstein, Nietzsche, Derrida lebih menjadi acuan daripada Alkitab. Semua penafsiran penulis berdasarkan Alkitab tidak dibahas namun sang lawan bicara terus mengutip nama-nama filsuf seolah-olah acuan tertinggi dalam kebenaran adalah pandangan filsuf dan bukan Alkitab. Fakta bahwa seorang pendeta lebih senang mendiskusikan sebuah topik dari perspektif filsafat dan tidak berniat menafsirkannya dari kaca mata Alkitab adalah sesuatu yang mengherankan dan disesalkan.

Sikap ketiga terhadap filsafat adalah sikap selektif atau “terbuka namun kritis”. Sikap ini dikembangkan misalnya oleh Agustinus, bapa gereja Barat yang dihormati oleh Gereja Katolik, Protestan dan Ortodoks Timur.

Sebagai seorang yang dahulunya amat dipengaruhi oleh filsafat Manichaeism dan setelah itu Neo-Platonisme, Agustinus percaya bahwa orang Kristen tidak perlu anti terhadap semua filsafat. Dalam tulisannya, On Christian Doctrine, Agustinus berkata, “Jika mereka yang disebut para filsuf,khususnya Platonis, telah mengatakan sesuatu yang benar dan konsisten dengan iman kita, kita seharusnya tidak menolaknya, tetapi memakainya untuk kepentingan kita…” Jika Tertulian yang anti filsafat menunjukkan nama-nama orang Kristen yang belajar filsafat dan menjadi sesat, sebaliknya Agustinus menunjukkan bahwa ada banyak tokoh Kristen yang belajar filsafat dan menjadi berkat bagi Kekristenan. Di antaranya ia menyebutkan nama-nama seperti Cyprian, Lactantius, dan Marius Victorinus.

Lebih jauh lagi, Agustinus menunjuk pada Musa yang juga belajar hikmat “dunia”. Dalam Kisah Para Rasul 7:22 dikatakan, “Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya.” Menurut Agustinus, fakta bahwa Musa terdidik dalam hikmat Mesir menunjukkan bahwa belajar filsafat dapat berguna untuk kepentingan orang Kristen dalam pelayanan. Agustinus berkata bahwa filsafat dunia tidak semuanya berisi pengajaran yang salah dan tidak masuk akal…ini juga berisi beberapa ajaran yang sangat baik, cocok digunakan sebagai kebenaran, dan nilai-nilai moralitas yang sangat baik.”

Lebih lanjut ia percaya bahwa adalah Tuhan sendiri yang sebenarnya menyebarkan kebenaran-kebenaran filsafat tersebut di seluruh dunia dan kemudian ditemukan oleh orang-orang non Kristen untuk kemudian dipakai secara tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, tugas orang Kristen adalah mengambil filsafat yang baik dan memakainya untuk proklamasi Injil. Pandangan Agustinus yang kemudian juga dipercaya oleh Aquinas, theolog abad pertengahan ini dikenal dalam kalimat populer “segala kebenaran adalah kebenaran Allah.” Kebenaran apa pun termasuk dalam filsafat non Kristen adalah milik Allah yang patut dihargai.

Dalam Perjanjian Baru sendiri terdapat fakta menarik bahwa Paulus mengutip dari penulis kafir dalam tulisannya. Sebagai contoh, nasehatnya yang terkenal “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1Kor.15:33) dipercaya sebagai sebuah kutipan dari seorang bernama Menander yang berasal dari abad ke-4 sebelum Masehi. Fakta bahwa Paulus dapat mengutip tulisan kafir dan memakainya dalam konteks argumen untuk kebangkitan Yesus tentu menunjukkan bahwa belajar hikmat dunia termasuk filsafat adalah sah dan dapat digunakan untuk kepentingan Kristen.

Oleh karena itu, sikap antipati terhadap filsafat tampaknya bukan merupakan pilihan yang bijaksana. Sebaliknya, sikap sangat positif terhadap filsafat juga berbahaya mengingat fakta bahwa filsafat non Kristen tidak dibangun di atas dasar netralitas. Sikap terbuka tapi kritis tampaknya adalah yang terbaik walaupun masih menyimpan potensi untuk secara tak sadar membuat iman Kristen menjadi tercampur dengan filsafat non Kristen.

Dalam sikap ketiga ini, kita tetap menguji segala filsafat dalam terang Alkitab,  namun bersedia mengakui hal-hal yang positif dalam filsafat. Kita selalu mengingat bahwa kebenaran-kebenaran tertentu dalam filsafat merupakan kebenaran Allah pula. Filsafat dapat dipergunakan sebagai alat dalam teologi dan pelayanan seperti yang dicontohkan oleh Paulus sendiri. Dengan demikian belajar filsafat adalah sesuatu yang bernilai untuk dilakukan oleh orang Kristen.



Sumber: Notes di Facebook penulis.
  

Profil Penulis: Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div. adalah Kepala Pusat Kerohanian (Pusroh) dan dosen Filsafat Agama dan Christian Worldview di Universitas Kristen Petra, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Ekonomi (S.E.) di UK Petra, Surabaya dan Master of Divinity (M.Div.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang. Beliau mendapat sertifikat dari Ravi Zacharias International Ministry, Academy of Apologetics, India. Saat ini, beliau sedang studi program Master of Theology (M.Th.) dalam bidang Theologi Sistematika di Biola University, La Mirada, California, U.S.A.


Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio

“Tuhan sering kali menggunakan dosa-dosa orang lain untuk menyingkapkan kelemahan kita sendiri.”
(Rev. Bob Kauflin, Worship Matters, hlm. 382)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar