Jumat, Mei 20, 2011

10 Hambatan Iman

Apakah Iman Anda tidak bertumbuh? Mungkinkah Iman Anda dari tahun ke tahun sedikit mengalami kemajuan, atau bahkan mengalami stagnasi - tidak mundur,  juga tidak maju? Hal itu dikarenakan kita gagal mengenali hambatan-hambatan yang menghalangi pertumbuhan Iman kita. Iman tidak berhenti  ketika kita mengambil keputusan percaya dan bertobat kepada Yesus Kristus. Iman harus di jalani, iman harus bertumbuh, berbuah, sampai mencapai tingkat kedewasaan iman. Alkitab dalam 2 Petrus 3:18 dan Efesus 4: 14-15 memerintahkan kita agar bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan Yesus Kristus, dan mencapai kedewasaan penuh.

Dalam perjalanan iman menuju kedewasaaan penuh, iblis dengan tipuan muslihatnya menyebarkan ranjau, jebakan, guna menghambat pertumbuhan iman kita. Iblis tidak akan pernah berhenti mengganggu kita sampai kita terkapar jatuh. Bagaimana mengenali hambatan-hambatan Iman, apa saja yang menjadi hambatan-hambatan iman kita?

1. Mengabaikan kehidupan batin kita bersama Kristus sementara kita memusatkan perhatian pada penampilan luar.
Sepertinya kita hidup di zaman di mana orang-orang lebih memusatkan perhatian pada penampilan luar, ketimbang ketulusan hati. Seperti ketika Anda melihat orang menjual mobil bekas yang telah disulap, yang tanpak luar mengkilap, bagus dan menarik, tetapi setelah Anda memakainya beberapa minggu kemudian, semua yang buruk yang tersembunyi mulai menampakkan diri, dan Anda pasti kecewa. Filosofi dunia adalah: “tidak pernah mendapat kesempatan kedua untuk membuat kesan pertama.” Yang penting menurut dunia adalah kesan pertama.

Prinsip di atas sangat bertentangan dengan Alkitab. Tuhan sama sekali tidak tertarik dengan bagian luar kita, jika itu berbeda dengan hati kita. Bahkan Tuhan mengutuk mereka yang kehidupan luarnya tampak rohani, namun pada hakikatnya kehidupan rohani mereka kering dan gersang, bahkan penuh dengan sampah (Lukas 11:39; 1 Samuel 16:7).

Kehidupan kekristenan adalah dari dalam ke luar. Kehidupan yang dari luar ke dalam adalah kemunafikan. Yang menjadi pertanyaan bagaimana kita mengubahnya dan menjalani kehidupan dari dalam ke luar?
a. Perbaharuilah komitmen kita kepada nilai-nilai kerajaan Allah. Kita harus rendah hati mengakui keadaan ini, bahwa dunia telah membutakan mata kita, sehingga kita menganut sistem nilai duniawi, yang mahir membersihkan bagian luar cawan agar tampil baik di mata orang Kristen lain.
b. Dengan mengembangkan kehidupan batin bersama Yesus. Seperti raja Daud yang selalu merindukan hadirat Tuhan, demikianlah pula kita harus selalu merindukan air hidup, yakni Yesus Kristus; Maz 42:2-3. Rasul Paulus, meskipun ia seorang rasul dan tahu banyak kebenaran Allah, namun yang terpenting baginya adalah mengenal Kristus lebih dekat dalam persekutuan yang intim dengan Tuhan (Fil. 3:10-11).

c. Tinggal dalam firman Tuhan. Bagaimana caranya kita mengenal Tuhan dengan baik dan benar? Tinggallah di dalam Firman Tuhan. Jadikan Alkitab sebagai kesukaaan (Maz 1:2; 19:8-9), sebagai cermin (Yak 1:22-25), dan sebagai kompas penunjuk arah. Alkitab adalah perkataan Allah yang hidup dan berkuasa. Bacalah, renungkanlah, dan aktualisasikanlah firman Tuhan dalam keseharian hidup Anda.
d. Membangun kehidupan doa sebagai percakapan dua arah. Salah satu tanda seseorang memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan adalah kehidupan doa. Alkitab dan doa tidak boleh dipisahkan. Dalam doa kita berkomunikasi dengan Tuhan, dan melalui Alkitab, Allah berkomunikasi dengan kita. Kita hanya akan mengenal seseorang jika kita berkomunikasi dengan dia, begitu juga kita dengan Tuhan.

2. Orang Kristen mencoba berhasil dengan memisahkan diri dari tubuh Kristus. (1 Kor 12:12-27; Ibr 10:24-25).
Dosa manusia yang paling dasar yaitu tuntunan untuk bebas secara total dari siapapun dan apapun (seperti Lucifer). Mereka seperti pasangan yang ingin hidup bersama tanpa ikatan pernikahan. Mereka mengunjungi gereja, tapi tidak mau berkomitmen dengan gereja. Dalam Kej. pasal 3, iblis menjalankan rencananya untuk memisahkan Adam dan Hawa dari persekutuan dengan Allah. Dan sekarang iblis terus berusaha memisahkan orang-orang Kristen dengan tubuh Kristus. Gereja/jemaat adalah keluarga Allah, dan setiap orang percaya harus bergabung dalam komunitas keluarga Allah (Ef. 2:19). Dalam komunitas keluarga Allah kita diberi hadiah kelahiran yang mengagumkan, yaitu nama keluarga, hubungan akrab, warisan keluarga (Fil 4:19).

Mengapa kita harus menyatukan diri ke dalam tubuh Kristus? Paling sedikit ada tiga alasan mengapa kita perlu menjadi bagian dari tubuh Kristus.
(1). Ada nasihat dan dorongan (Ibr 10:24-25; 1 Tes 5:11). Gereja bertanggung jawab mengajarkan kebenaran Allah kepada anggotanya, dan mendorong mereka agar hidup dalam kehendak Tuhan. Jika ada yang menyimpang, sudah menjadi tanggung jawab gereja untuk menegur dan menasehati anggotanya tersebut agar berbalik dari jalan yang salah, dan kemudian mendorong para anggota untuk menjalani kehidupan yang benar di dalam Kristus.
(2). Persekutuan (KPR 2:42). Persekutuan bukanlah pertemuan biasa atau obrolan basa-basi. Persekutuan (koinonia) adalah “menjalani kehidupan bersama-sama dalam kejujuran dan kebenaran.” Persekutuan membuat kita bersatu, terbuka, jujur dan saling memperhatikan.
(3). Tanggung jawab. Tuhan memberikan kita tugas dan tanggungjawab sebagai anggota-anggota keluarga Allah. Setiap anggota memiliki tanggungjawab yang tidak boleh diabaikan. Tanggungjawab itu adalah: menghadiri kebaktian secara teratur, mendukung gereja, menaati otoritas Pemimpin gereja, dan bertanggungjawab melestarikan kebenaran Allah dengan menjaganya agar tetap murni dan memberitakan Injil.

3. Orang percaya gagal mengintegrasikan Kristus dalam setiap segi kehidupan (Luk 16:13).
Orang-orang yang tidak mengintegrasikan Kristus ke dalam setiap segi-segi kehidupan adalah orang Kristen berkepribadian ganda. Dari satu sisi mereka kelihatan rohani, disisi yang lain kelihatan duniawi. Alkitab mengecam orang-orang demikian dengan menyebut mereka sebagai orang-orang yang “mendua hati.” (Yakobus 1:8; 4:4). Orang-orang yang berkepribadian ganda terbagi dua, yaitu pribadi sekuler dan pribadi rohani. Mereka begitu rohani ketika berada dalam gereja, dan begitu duniawi tatkala mereka kembali menjalani kehidupan mereka sehari-hari.

Ada pula yang menampakkan kekristenannya ketika berada dalam komunitas Kristen, namun menyembunyikannya ketika dia berada di luar komunitas tersebut. Memang, mereka tidak munafik seperti orang pertama, tetapi menyembunyikan identitas sebagai anak Allah secara pasif telah bertindak munafik. Orang percaya adalah garam dan terang dunia. Terang bukan untuk disembunyikan, dan garam bukan untuk disimpan dalam lemari. Yesus harus terlihat orang dalam hidup kita. Bahkan, orang-orang yang tidak percaya harus merasakan dampak dari kehadiran Kristus dalam hidup kita di segala aspek. Kita harus menghidupi kehidupan tunggal bersama Yesus (Fili 1:21). Yesus Kristus harus hidup, menyatu dan terlihat dari pikiran, perasaan, dan kehendak.
a. Dalam pikiran. Milikilah pikiran Kristus (Fil 2:5). Ubah pikiran kita dari sekuler kepada yang kudus, dari duniawi kepada Kristus. Kita harus menolak sistem pikiran dunia dan mencari pembaharuan  rohani dalam proses pikiran. (Rm 12:12; Kol 3:2; Ef 4:22-24). Bila pikiran Tuhan menjadi pikiran kita, kita akan berpikir mengenai semua situasi kehidupan dalam konteks kerajaan Allah.

b. Dalam perkataan. Milikilah perkataan Kristus (Yak 3:10-11; Ef 4 :29; Ef 5:2; Kol 3:8; mat 12:36). Bila Tuhan yang memerintah mulut kita maka teguran kitapun akan dibaharui dalam kasih dan perhatian kepada orang yang hendak kita tegur.
c. Dalam perbuatan. Milikilah perbuatan Kristus (1 Yoh 2:6). Yesus Kristus adalah pribadi yang rendah hati, tulus, jujur, dan kudus. Dia membenci perbuatan dosa, namun mengasihi orang berdosa. Kita diperintahkan agar hidup seperti Yesus hidup (1 Yoh. 2:6). Siapa diri kita di gereja harus menjadi siapa diri kita di tempat lain.

4. Orang Kristen meremehkan pengaruh dari luar terhadap pertumbuhan mereka (1 Kor 15:33; Ams 4:14).
Setiap orang percaya sedang berperang melawan kuasa-kuasa pengaruh jahat dari hubungan-hubungan yang tidak kudus. Dari manakah pengaruh-pengaruh jahat itu muncul?

a. Dari hubungan yang tidak baik (Maz 1:1) yaitu berjalan disamping orang fasik, berdiri dijalan orang berdosa, lalu duduk dengan pencemooh. Terjadi perubahan dari orang kudus menjadi orang berdosa menjadi pencemooh. Hubungan yang tidak kudus menyeret ke dalam cara berpikir mereka (orang berdosa). Orang percaya bukan dari dunia, tetapi berada di dunia (Yoh 17:15-18). Orang percaya tidak boleh mengisolasi diri dari orang yang tidak percaya, tetapi memisahkan diri dari cara hidup orang berdosa. Orang percaya juga tidak boleh mencoba menerapkan iman ke dalam gaya hidup dan persahabatan yang lama (2 Kor 10:3). Jelas sekali bahwa Tuhan memerintahkan orang percaya agar tidak boleh bersahabat dengan dunia, apalagi bersatu dengan dunia (2 Kor 6:14, Rom 12:2; 1 Yoh.2:15-18). Orang percaya harus menjadi pengaruh, tanpa dipengaruhi. Kita harus peka kepada Roh Kudus sehingga kita menemukan keseimbangan yang penting di dalam dunia, tetapi bukan berasal dari dunia.

b. Dari Media & Musik. Riset membuktikan bahwa Media adalah salah satu sarana pemurtadan yang paling efektif di dunia. Media secara halus memikat dan menjerat kita sampai akhirnya kita terperangkap. Apakah musik yang kita dengar menghilangkan kesukaan kita akan hal-hal rohani? Bagaimana dengan TV, Film yang kita tonton? Bagaimanakah dengan majalah-majalah dan buku yang kita baca? Tentu saja, Media: TV, Majalah, Internet, bukanlah barang haram, tetapi sudahkah kita memperlengkapi diri kita dengan anti-virus, yang cepat mendeteksi pengaruh-pengaruh jahat yang iblis tebarkan melalui media? Dapatkah kita memisahkan mana yang baik ditonton, dan mana yang baik dibaca? Ingat, Dosa terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah!!! Waspadalah!!! Jika TV membuat Anda jauh dari Tuhan, sebaiknya Anda menghindarinya.

5. Orang-orang percaya tidak mengutamakan hal-hal yang utama (Titus 3:9-11).
Salah satu tipu muslihat iblis untuk menghambat pertumbuhan iman kita adalah pengalihan perhatian. Iblis itu ahli strategi dalam soal bagaimana menjatuhkan orang-orang Kristen. Iblis punya banyak cara menjebak kita. Salah satu jebakan yang paling ampuh adalah mengalihkan perhatian kita dari hal-hal yang utama kepada hal-hal yang tidak utama. Buktinya semakin banyak orang percaya terjebak pada: hal-hal, sebab-sebab, dan gerakan-gerakan.

Yang terutama dalam kehidupan Kristen adalah  mengenal Kristus dan membagikan kasihnya kepada dunia. Jangan membiarkan hal-hal minor menyelubungi gambaran besar mengenai apa yang sedang di lakukan Allah dan apa yang Allah ingin kita lakukan.

Ada 3 pengalihan perhatian yang saat ini digunakan iblis untuk menghambat pekerjaan Tuhan dan iman kita:
a. Organisasi. Gereja tidak boleh diperkecil menjadi aturan yang akan membuatnya menjadi lembaga sekunder. Ruang gerak Roh Kudus tidak boleh dipersempit oleh aturan, kebijakan manusia. Aturan, kebijakan, petunjuk harus menempati posisi minimum sehingga Yesus memiliki otonomi maksimum dalam memimpin kita.
b. Doktrin. Dalam Alkitab ada ajaran yang mutlak, inti yang harus dipertahankan mati-matian, namun ada yang tidak mutlak. Keselamatan hanya di dalam Yesus Kristus, Alkitab adalah Wahyu Allah yang bebas dari kesalahan, memberitakan Injil, menyatukan diri ke dalam gereja lokal, Yesus Kristus adalah Allah Tritunggal adalah doktrin-doktrin yang mutlak, tanpa kompromi harus kita pertahankan. Sedangkan doktrin yang berada  di lingkaran kedua: Akhir zaman (premillenium, amillenium dan posmillenium), Haram & Halal tentang makanan, Hari-hari raya (Kol 2:16). Memperdebatkan hal-hal yang kurang penting adalah pemborosan.
c. Politik. Tidak ada yang salah dengan politik. Orang Kristen harus berpolitik secara kebangsaan. Tetapi ada resiko, keterlibatan dalam dunia politik dapat mengalihkan dari hal-hal yang utama. Kita harus menjaga prioritas kita (Kol 1:28-29).

6. Hambatan iman yang keenam yaitu, Orang percaya laut mati, Orang Kristen hanya menerima terus menerus tetapi sedikit atau sama sekali tidak memberi (2 Kor 8:1-5).
Orang Kristen demikian tidak ubahnya seperti Laut mati, yang hanya menerima air, tapi tidak untuk menyalurkannya. Mereka berprinsip Waduk, terus-menerus menerima, tapi tidak memberi seperti halnya Pipa. Akibatnya, mereka terserang penyakit Obesitas rohani/ kegemukan rohani karena tidak punya saluran untuk menyalurkan masukan rohani yang diterima. Tipe orang Kristen demikian dalam gereja ialah mereka yang sekedar hadir hari minggu, mereka mencatat dan menyimak khotbah-khotbah yang disampaikan, bahkan mengerti banyak kebenaran Alkitab, akan tetapi semua yang mereka tahu tidak diaplikasikan, tidak diterapkan, atau tidak ditaati oleh mereka.

Mereka tahu bahwa melayani Tuhan dan memberitakan Injil adalah tugas dan tanggungjawab mereka, tapi mereka sengaja mengabaikannya. Mereka mungkin juga tahu bahwa tidak mengembalikan persepuluhan adalah tindakan menipu Allah, tetapi juga diabaikan.

Orang percaya yang tidak menyibukkan diri dalam pelayanan cenderung menjadi sok sibuk, suka mencampuri urusan orang lain dan cepat sekali tersinggung. Sebaliknya, mereka yang belajar melayani dalam gereja lokal cenderung sabar, mengerti orang lain, dan ingin menolong orang lain.

Agar penyakit ini sembuh, orang percaya harus melibatkan diri dalam pelayanan. Melayani membuat kita rendah hati karena melayani orang lain akan menghancurkan kesombongan kita (Fil. 2:3-2). Melayani membuat kita bergantung pada Tuhan (Paulus 2 kor 12:9-10). Melayani membuat kita puas.

7. Hambatan yang ketujuh adalah orang-orang percaya hidup oleh perasaan, bukan oleh iman.
Mereka adalah tipe orang Kristen Roller coaster, perjalanan hidup yang dikendalikan oleh perasaan atau emosi. Kita hidup di tengah budaya yang terobsesi dengan apa yang kita rasakan. Sering kali kita bertemu dengan orang-orang yang tidak mengakui kenyataan buruk, membohongi keadaan diri mereka yang sebenarnya. Sepertinya kelihatan begitu sangat rohani apabila seseorang terus meyakinkan dirinya luar biasa sementara pada kenyataannya dirinya sedang dirundung masalah.

Mengakui kenyataan pahit, mungkin kegagalan atau keadaan yang tidak kunjung baik bukanlah berarti Anda kurang Iman. Kita harus jujur apapun kondisinya. Beriman kepada Yesus Kristus tidak harus menyangkali kenyataan yang terjadi, melainkan mengakuinya dan kemudian menyerahkan sepenuhnya kepada-Nya.

Di sinilah letak perbedaannya, ketika kita memercayai Firman Tuhan dan menyerahkan persoalan kita kepada Tuhan, kita akan menjadi kuat dan perasaan kita akan menjadi positif, bukan karena kita mencoba meyakinkan diri kita tetapi itu semua karena ada dasar, ada fakta yang meyakinkan dan menguatkan hati kita.
Iman itu ibarat kereta api. Fakta/kebenaran mewakili mesin lokomotif. Perasaan mewakili gerbong tukang rem. Kehendak/ketaatan mewakili bahan bakar yang menghidupkan mesin. Kita harus meletakkan apa yang kita ketahui mendahulukan apa yang kita rasakan. Perasaan kita harus dituntun oleh apa yang kita ketahui, bukan sebaliknya.

8. Orang Kristen tidak membereskan dosa dengan cepat dan menyeluruh (Ibr 12:1).
Identitas baru Anda sebagai anak Allah tidak menjamin bahwa Anda bebas dari dosa. Anak-anak Tuhan memang bukan lagi orang berdosa yang akan dihukum, namun bukan pula pendosa-pendosa yang cenderung melakukan dosa. Ketika kita bertobat, Allah mengubah hati kita menjadi baru dan mengubah paradigma kita sehingga kecenderungan yang tadinya ingin melakukan dosa hilang.

Tetapi penting untuk kita ketahui ialah, Tuhan tidak mengubah tubuh kita dan menghilangkan ingatan kita akan semua hal yang buruk yang kita ketahui. Nah, pertempuran rohani terjadi di sini, antara hati kita yang baru berlawanan dengan sifat kedagingan kita yang ingin melakukan dosa serta pikiran-pikiran yang masih menyimpan kenangan-kenangan yang berdosa.

Dalam pergumulan ini tidak sedikit orang yang telah lahir baru jatuh ke dalam dosa. Tuhan sangat tahu akan hal ini. Itu sebabnya Ia terus memperingatkan kita agar berhati-hati dan selalu waspada pada keinginan daging dan pikiran-pikiran yang negatif.

Nah, jika seorang Kristen jatuh ke dalam dosa, secepat mungkin orang tersebut harus membereskan atau mengakui dosanya dan kesalahannya kepada Tuhan. Tindakan cepat demikian menghalangi kita melakukan dosa-dosa yang lebih besar dan lebih buruk. Ingat! Semua dosa-dosa besar dimulai dengan langkah pertama.
Kalau kita tidak belajar menyelesaikan masalah-masalah dengan cepat dan menyeluruh, maka dengan mudah kita dapat terjerumus ke dalam dosa tanpa kita sadari.

Dosa itu agresif dan posesif, menipu dan memperdaya (Ibr. 3:13). Sekali Anda membiarkan dosa masuk ke dalam hidupmu, seperti kanker, itu akan menjalar sampai pada akhirnya Anda akan sulit menyembuhkannya. Sekecil apa pun dosa itu, dosa tetaplah dosa. Jangan meremehkannya.

Berikut ini adalah akibat-akibat yang terjadi jika kita membiarkan dosa tinggal dalam hidup kita: Dosa mendatangkan hukuman (Ibr 12:5-8), (1 Kor 11:28-32); Dosa menghapus sukacita dari orang percaya/merusak persekutuan dengan Allah (Maz 51:10-11); Dosa menyebabkan kehilangan Roh Kudus; Dosa dapat membuat Allah tidak mendengarkan doa-doanya (Yes. 59:1-2); Dosa menghapus semangat orang percaya untuk memenangkan jiwa (Contoh: Lot); Dosa membawa cela bagi Kristus, Alkitab & kekristenan.

Jika hari ini ada dosa yang belum Anda bereskan, akuilah, sekecil apapun dosa itu, dan secepat mungkin bereskan tanpa ada yang tertinggal (1 Yoh. 1:9).

9. Orang-orang Kristen yang membiarkan kekecewaan dan masalah atau tragedi membuat mereka pahit hati, bukan membuat lebih baik. Ibrani 12:19.

Menjadi Kristen bukanlah akhir dari persoalan, bahkan menjadi Kristen adalah babak baru dari kehidupan yang unik, ada sukacita, ada dukacita, ada tangis dan ada pula tawa.
Kehidupan Kristen adalah kehidupan yang seimbang antara kesukaan dan kesusahan. Allah tidak menjanjikan taman bunga mawar tanpa duri. Kehidupan akan menjadi lebih mudah, juga lebih sulit dengan masuknya Yesus dalam hati kita (Mat. 11:28-29). Tragedi kehidupan dalam kehidupan orang percaya diijinkan Tuhan untuk membentuk kita menjadi serupa dengan gambar Kristus (Roma 8:29-30).

Sayang sekali, banyak dari orang percaya pada akhirnya menjauh dari kasih karunia karena mereka salah menanggapi masalah-masalah yang menimpa mereka. Alih-alih berintrospeksi, mereka kecewa, menyalahkan orang, bahkan menyalahkan Tuhan.
Masalah atau tragedi dalam hidup orang percaya bisa terjadi karena beberapa hal: Itu bisa dikarenakan dosa-dosa yang kita sembunyikan sehingga memaksa Allah mendisiplinkan/menghajar kita (Ibr. 12:5-6). Itu juga bisa terjadi karena Tuhan ingin menguji iman kita seperti Ayub, Paulus, agar iman kita bertumbuh kuat dan dewasa. Dan terakhir bisa jadi karena keputusan-keputusan kita yang salah tanpa melibatkan Tuhan.

Saat ketika tragedi hidup menimpa Anda, segeralah memeriksa diri Anda, apakah itu karena dosa Anda, atau karena Allah sedang membentuk Anda agar semakin serupa dengan karakter-Nya. Jika itu datangnya dari Tuhan maka kita patut mengucap syukur sebab tangan-Nya yang berkuasa sedang menyempurnakan kita. Bagaimana kita bisa tahu? Roma 8:28 dengan jelas memberitahu kita bahwa dalam segala sesuatu Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia.

10. Orang-orang Kristen tidak/kurang menerima kasih karunia yang tak terbatas dan pengampunan penuh/sempurna dari Tuhan.
Seorang wanita di West Palm Beach, Florida, ditemukan mati pada usia 71 tahun. Laporan dari petugas yang memeriksa tentang sebab musabab terjadinya kematian justru tragis. Penyebab kematiannya adalah kekurangan makanan. Berat tubuh wanita tua itu hanya sekitar 25 kilogram.

Pekerjaan sehari-hari wanita ini adalah meminta-minta sisa makanan dari para tetangganya dan pakaian yang dikenakannya diperoleh dari Bala keselamatan. Dari luar dia tampak sebagai seorang wanita yang tidak memiliki uang sepeser pun, seorang janda tua yang terlupakan dan memelas. Tetapi, masalahnya bukanlah demikian.

Dibalik keberadaannya yang kotor, padanya ditemukan dua buah kunci yang memberi petunjuk bahwa ia mempunyai deposito di dua bank lokal. Dan apa yang mereka dapatkan, sungguh sulit untuk dapat dipercaya. Kotak simpanan deposito yang pertama berisi 700 sertifikat, ditambah dengan ratusan surat yang hampir mencapai jumlah tiga ratus juta rupiah. Kotak deposito yang kedua tidak berisi sertifikat, tetapi berisi lebih banyak uang tunai, sekitar 900 juta rupiah. Kotak deposito itu juga masih ditambah dengan harta kekayaan yang bila diakumulasikan dapat mencapai lebih dari satu miliar rupiah. Wanita itu, biar bagaimanapun adalah seorang miliuner, tetapi ia mati karena kelaparan di sebuah tempat yang tidak terurus.

Ketika seseorang diselamatkan, Allah mengaruniakan anugerah yang tak terbatas kepada setiap orang percaya, baik di bumi maupun di sorga (Fil. 4:19; Mat. 6:33 & Ef. 1:3). Identitas kita sebagai orang percaya menunjukkan betapa penting/khusus/spesial/istimewanya kita dihadapan Tuhan. Kita diangkat menjadi anak Allah (Yoh 1:12); kita adalah ciptaaan baru (2 Kor 5:17); bait Roh Kudus (1 Kor 6:19); Warga kerajaan sorga (Fil. 3:20). Orang-orang kudus/Imamat yang rajani/imam (1 Pet. 2:9).

Kita telah dibeli Kristus dengan nyawanya, kita telah disucikan, diampuni semua dosa-dosa kita, kita telah dimerdekakan, diadopsi menjadi anaknya, tetapi acapkali sikap dan tindakan kita tidak mencerminkan betapa istimewanya kita di dalam Kristus. Namun sedikit sekali orang percaya yang menyadari kebenaran ini. Banyak orang Kristen bersikap dan bertindak seperti anak sulung dalam Lukas 15 dan nubuatan Yesus dalam Matius 19:30, yang mengeluh dalam kelimpahan, miskin dalam kelebihan. Mereka telah menyia-nyiakan kasih karunia Allah.

Potensi, kesempatan, berkat rohani yang Allah berikan memungkinkan orang-orang percaya berhasil menghidupi kehidupan di dunia ini. Janji penyertaan dan pemeliharaan dan karunia-karunia rohani serta berkat-berkat jasmani dikaruniakan untuk melengkapi orang-orang percaya agar berhasil, menjalani kehidupan rohani yang berbuah, melayani Tuhan dengan efektif. Apalagi Roh Kudus tinggal di dalam hati kita adalah kasih karunia yang amat sangat besar, yang dapat memberikan manfaat rohani yang tak ternilai bagi orang-orang percaya. Alkitab juga adalah karunia terbesar yang diberikan Tuhan kepada kita.

Tuhan juga memberikan kita hak istimewa untuk datang berkomunikasi serta meminta apa yang menjadi kebutuhan kita melalui doa. Apakah masih ada yang kurang? Kalau begitu mengapa kita tidak memanfaatkan atau menghargai kasih karunia ini? Jangan sia-siakan kasih karunia Allah dalam hidup kita. Bersihkan hidup kita dari masa lalu, kebiasaan lama, pola pikir lama. Layanilah Tuhan dalam kasih karunia-Nya. Ingatlah selalu siapa diri kita di dalam Kristus, milik siapa kita? Dan akhirnya, bersyukurlah kepada Tuhan dalam segala hal. (By Gmb. Alki F. Tombuku, Gembala GBIA Komunitas Depok)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar