Minggu, Desember 28, 2014

Refleksi atas Dua Natur Yesus Kristus

Telah dimuat di dalam majalah Euangelion, Euangelion, juni 2009

Refleksi atas Dua Natur Yesus Kristus
Salah satu doktrin Kristen penting dalam Kristologi adalah mengenai natur Yesus Kristus. Di dalam diri Yesus Kristus, tercakup dua natur sekaligus, yakni keilahian dan kemanusiaan. Natur ilahi dan natur manusia menyatu di dalam Satu Pribadi. Hal ini nyata terlihat ketika Dia hidup di bumi Palestina, itulah masa inkarnasi. Marilah kita mempelajari doktrin dua natur Yesus Kristus ini lebih lanjut!

Keilahian-Nya
Ada banyak ayat di dalam Alkitab yang berbicara tentang keilahian Yesus. Marilah kita memeriksa beberapa di antaranya! Rasul Thomas yang tidak mempercayai kebangkitan Yesus, namun setelah dengan mata kepalanya melihat lalu memanggil-Nya sebagai Tuhanku dan Allahku (Yoh 21:28). Yesus mempunyai hak untuk mengampuni dosa (2:5-7); tiada seorang manusia pun yang begitu arogan sampai mengampuni dosa sesamanya manusia kecuali orang itu sendiri adalah Allah. Yesus memerintahkan angin ribut agar reda sehingga air danau menjadi tenang (Mat 11:26). Berkali-kali Yesus menyembuhkan orang-orang sakit. Bukan itu saja, selama hidup dan pelayanan-Nya Yesus malah membangkitkan tiga orang dari kematian: Lazarus, saudara Marta dan Maria (Yoh 11:43), anak seorang janda di kota Nain (Luk 7:14), anak perempuan Yairus (Mrk 5:41; Luk 8:54).

Bukti-bukti di dalam ayat-ayat tersebut, ada yang secara langsung dan ada yang secara tidak langsung, menegaskan keilahian Pribadi Yesus Kristus. Fakta-fakta di atas tidak lain dari sifat-sifat Allah adanya. Di bawah kolong langit ini semua suku bangsa dan semua agama mengakui Yesus sebagai guru yang agung, nabi yang berwibawa dan pendiri agama. Akan tetapi masih banyak orang yang menolak Diri-Nya adalah Allah. Biarlah mereka yang masih menolak keallahan Yesus Kristus mau meluangkan waktu untuk membawa riwayat hidup Yesus di dalam keempat kitab Injil (kitab Matius, kitab Markus, kitab Lukas & kitab Yohanes). Niscaya mereka akan menyadari bahwa sungguh Yesus adalah Allah!

Kemanusiaan-Nya
Ada banyak ayat di dalam Alkitab yang membicarakan kemanusiaan Yesus Kristus. Marilah kita melihat beberapa saja di antaranya! Yesus pernah merasakan lapar (Mat 4:2, setelah Dia berpuasa empat puluh hari), rasa haus (Yoh 19:28, setelah dua belas jam lebih tidak minum), rasa kelelahan sampai tertidur lelap (Luk8:23, setelah seharian Dia berjalan berkeliling sambil mengajar & melayani). Yesus menyembah dan berdoa kepada Allah Bapa (Yoh 17). Yesus  mempunyai tubuh yang terdiri dari daging dan tulang (Luk 24:31). Ketika dipakukan di atas kayu salib Dia menderita kesakitan yang luar biasa, diejek, kehausan sampai akhirnya Yesus menghembuskan nafas terakhir (Mat 27:50; Mrk 15:37; Luk 23:46, Yesus menyerahkan nyawa kepada Allah Bapa).

Ayat-ayat yang tersebut di atas, entahkah secara langsung ataupun secara tidak langsung, membuktikan kemanusiaan Pribadi Yesus Kristus. Fakta-fakta di atas merupakan ciri-ciri sosok manusia. Yesus menghadapi dan mengalami problematika hidup sebagaimana yang setiap individu manusia di bawah kolong langit ini hadapi. Yesus sendiri sudah pernah merasakan beraneka ragam kesusahan hidup di dunia yang rusak dan kacau ini. Saudara-Saudari sekalian, Yesus tahu dan telah merasakan sendiri kesusahan hidup! Dia terlebih dahulu sudah merasakan apa yang engkau rasakan.

Penyatuan Kedua Natur
Kedua natur ini berada di dalam satu Pribadi, Yesus Kristus. Banyak orang, terutama para penentang kekristenan, mempertanyakan hal ini. Bagaimanakah mungkin natur manusia dan natur Allah bisa menyatu di dalam satu pribadi? Menjelaskan eksistensi kedua natur ini di dalam satu pribadi memang bukanlah suatu perkara yang mudah. Di dalam sejarah gereja telah muncul berbagai upaya untuk menerangkan kedua natur ini. Tidak jarang usaha itu menghasilkan pemahaman yang salah sehingga lahirlah berbagai bidat dan sekte.

Dalam tulisan ini kita tidak akan menguraikan pemahaman yang salah dari beberapa bidat dan sekte di dalam sejarah gereja berkenaan dengan upaya mereka menjelaskan kedua natur Kristus. Cukuplah di sini kita menegaskan formulasi yang telah disusun oleh para bapa gereja. Dalam lima abad permulaan gereja, dua natur Kristus telah membingungkan banyak orang Kristen. Untuk memberikan jawaban dan penjelasan, bapa-bapa gereja telah mencurahkan banyak tenaga dan pikiran. Sumbangsih terbesar berkenaan dengan kedua natur Yesus Kristus dihasilkan dalam Konsili Chalcedon yang berlangsung pada tanggal 8 Oktober sampai 1 November 451. Keputusan konsili Chalcedon ini menegaskan bahwa natur Allah dan natur manusia “inconfusedly, unchangeably, indivisibly, inseparably.” Maksudnya, di dalam satu Pribadi Yesus Kristus, kedua natur tersebut tidak bercampur aduk, tidak berubah-ubah, tidak terbagi-bagi, tidak terpisah-pisah. Sampai hari ini, formulasi inilah yang paling dapat dipertanggungjawabkan kebenaranya.

Refleksi bagi Kita Semua
Lantas sekarang, apa kepentinganya kita memahami dua natur Yesus Kristus itu? Pada satu pihak, tidaklah cukup apabila kita hanya memandang Dia sebagai seorang nabi yang luas biasa, seorang pengajar yang agung maupun Si tabib ulung yang pengobatannya amat murajab. Lebih dari itu semua, Dia benar-benar adalah Allah. Dengan memahami keilahian Yesus Kristus, kita patut bersandar sepenuhnya kepada Dia. Dialah Allah Yang Mahakuasa (omnipotence), Mahahadir (omnipresence), Mahamengetahui (omniscience). Dia layak menerima segala sembah sujud dari kita umat manusia. 

Di lain pihak, dengan memahami kemanusiaan Yesus Kristus, Dia menjadi contoh teladan yang sempurna bagi kita semua. Saudara-saudariku sekalian, siapakah tokoh idolamu selama ini? Bintang film? Ilmuwan? Negarawan? Seberapapun luhur, agung dan mulianya tokoh-tokoh idolamu itu belumlah seberapa bila dibandingkan dengan Yesus Kristus sendiri. Selain Yesus Kristus, semua mereka yang lain mempunyai cacat celahnya masing-masing. Oleh sebab itu, jangan pernah tidak menempatkan Yesus Kristus sebagai tokoh idolamu! Dialah suri teladan yang sempurna bagi kita semua. Rasul Paulus dengan berani mengajak orang untuk mengikuti teladannya karena dia sendiri telah terlebih dahulu mengikuti teladan dari Yesus Kristus sendiri (1Kor 11:1).

Bandung, Oktober 2007
Hali Daniel Lie, Ph.D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar