Sabtu, Mei 19, 2012

BELILAH KEBENARAN

Banyak orang tahu bahwa di Tanah Abang ada jual pakaian, dan juga tahu bahwa di gedung JCC ada jual komputer, tetapi tidak ada seorang pun bisa memiliki baik pakaian maupun komputer hanya karena tahu di mana ada jual pakaian dan komputer. Banyak orang juga tahu bahwa GRAPHE mengajarkan kebenaran, bahkan kami mendengar pengakuan dari theolog maupun pengkhotbah bahwa doktrin yang diajarkan oleh GRAPHE sungguh benar dan sangat alkitabiah.
Namun, dengan hanya tahu tentang kebenaran, itu sama sekali tidak membuat orang tersebut memiliki kebenaran tersebut. Seseorang harus mengeluarkan biaya minimum untuk memperoleh sesuatu yang diingininya. Salomo berkata, “Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.” (Ams 23:23). Maksud Salomo, untuk menjadi pemilik kebenaran, seseorang harus berkorban sesuatu, dan setelah mendapatkannya, jangan melepaskannya lagi.
Mutiara Yang Indah
Tuhan Yesus dalam Injil Matius pasal 13 menceritakan tujuh perumpamaan, dan salah satunya ialah tentang mutiara yang indah.
Tuhan mengumpamakan Kebenaran Injil dengan mutiara yang sangat mahal harganya. Orang yang menemukan mutiara tersebut sampai menjual seluruh miliknya dan membeli mutiara itu. Ia merasa patut menjual seluruh miliknya dan membeli mutiara tersebut untuk dibawa pulang ke rumahnya agar dinikmati seluruh keluarga bahkan sanak-familinya.
Betapa Tuhan harapkan ada orang yang menemukan Injil yang benar dan menilainya sedemikian tinggi sehingga layak baginya untuk menjual seluruh miliknya demi mendapatkan Injil yang benar tersebut untuk dibawa pulang bagi keluarga dan sanak-familinya. Bahkan sesungguhnya sebuah mutiara masih belum cukup untuk dibandingkan dengan Injil yang benar karena Injil yang benar jauh melebihi nilai sebuah mutiara. Tentu Tuhan tidak salah memakai mutiara sebagai suatu bandingan. Mungkin saat itu pembudidayaan mutiara tidak seperti sekarang sehingga nilai sebuah mutiara yang indah yang lebih berharga dari nilai zaman sekarang. Namun sesungguhnya tidak ada satu benda pun yang nilainya sebanding dengan Injil Keselamatan.
Kami dapatkan ada peserta seminar yang tersentak oleh kebenaran yang disampaikan GRAPHE, berusaha agar di tempatnya juga bisa diselenggarakan seminar yang sama. Namun sedikit sekali yang rela membayar harga untuk penyelenggaraan seminar tersebut. Padahal penyelenggaraan seminar tentu tidak sampai menghabiskan seluruh hartanya. Andai kata usaha itu harus menghabiskan seluruh hartanya, namun sekeluarga serta sanak-familinya bisa diselamatkan, bukankah nilai itu sesungguhnya sesuatu yang pantas?
Persoalan yang dihadapi kekristenan kini sebenaranya adalah kekristenan dalam keadaan rusak parah. Oleh theologi Calvinistik yang mengajarkan predestinasi telah mematikan keinginan untuk menyelamatkan orang lain. Sebagian orang Kristen berpikir bahwa Allah telah memilih sejumlah orang masuk Sorga dan sejumlahnya masuk Neraka, sehingga usaha
penginjilan dan seminar tidak akan merubah siapapun dari Neraka ke Sorga lagi.
Terlebih lagi setelah angin Pluralisme bertiup kencang, maka niat untuk menyelamatkan pemeluk agama lain pudar sirna. Logikanya, kalau ada kebenaran di dalam kitab suci agama lain, dan kalau umat agama lain toh ujung-ujungnya akan masuk Sorga, dan kalau orang-orang yang tinggal di kutub atau di hutan akhirnya akan dapat pemaafan, maka mengapa kita harus bersusah-payah membawa Injil pulang untuk mereka? Mengapa perlu “membeli mutiara” dan bawa pulang untuk orang-orang yang tidak mengerti nilainya dan tidak memerlukannya?
Calvinisme dan Pluralisme, serta “garam tawar” dari gereja-gereja Injili telah mengikis semangat membagikan Injil Kebenaran kepada orang lain. Sikap suam-suam kuku orang Kristen ini telah menyebabkan mereka tidak antusias terhadap kebenaran. Mereka tidak peduli apakah gereja mereka mengajarkan kebenaran atau bukan. Bahkan ada yang sudah tahu persis bahwa gerejanya salah namun ia tenang-tenang saja. Intinya, mereka tidak melihat keindahan dan nilai tinggi dari mutiara doktrin yang benar.
Ladang Yang Ada Harta
Sebelum perumpaman tentang mutiara, Tuhan terlebih dulu bercerita tentang ladang yang ada harta terpendam di dalamnya. Ketika seseorang mengetahui ada sebidang tanah dengan harta terpendam di dalamnya, yang tentu jauh lebih bernilai dari semua harta yang dimilikinya, maka ia pun menjual semua hartanya dan membeli ladang tersebut.
Yang Tuhan maksudkan dengan ladang di perumpamaan ini ialah jemaat lokal, atau Rahasia Kerajaan Sorga. Ketika seseorang menemukan sebuah jemaat dengan pengajarannya yang benar-benar alkitabiah, maka tindakannya yang tepat ialah menjual rumah, bahkan seluruh yang dimilikinya untuk pindah ke lokasi gereja yang alkitabiah tersebut.
Dengan bertempat tinggal dekat gereja yang alkitabiah, jiwa seluruh anggota keluarganya akan terselamatkan. Bahkan secara jangka panjang itu pasti membawa kebaikan bagi seluruh keturunannya. Mereka pasti tidak hanya akan menerima berkat rohani, melainkan juga tidak akan kekurangan berkat materi dan jasmani (Maz. 37:25).
Membayar Harga Kebenaran
Namun mengetahui ada mutiara yang indah, menemukan ladang yang terdapat harta terpendam di dalamnya, tidak akan
secara otomatis menjadikan yang mengetahuinya sebagai pemilik. Jelas sekali harus ada keputusan yang diambil untuk memiliki mutiara yang indah atau ladang yang ada harta terpendam di dalamnya.
Hal terutama yang harus dimiliki oleh orang yang menemukan “mutiara” maupun “ladang” ialah sebuah keputusan hati untuk berpihak kepada kebenaran. Tanpa hati yang berpihak kepada kebenaran penemuan itu tidak ada arti apapun. Karena Alkitab bebas berada di tangan setiap orang, maka setiap orang akan membacanya serta akan membuat kesimpulan untuk dirinya. Diantara kesimpulan-kesimpulan yang dibuat, bahkan oleh theolog yang terkena sekalipun, ketika disuguhkan kepada tiap-tiap orang, maka tiap-tiap orang harus mencernanya. Tidak ada seorang pun nanti di Neraka boleh menyalahkan orang lain karena keberadaannya di sana. Dan juga tidak ada seorang pun yang masuk Sorga yang boleh menyalahkan orang lain karena kemuliaan atau hadiahnya yang kurang.
Tiap-tiap orang harus mendengarkan penguraian Alkitab dan tiap-tiap orang harus mencermati penguraian Alkitab dan tiap-tiap orang harus memutuskan menerima atau menolak penguraian Alkitab yang disampaikan kepadanya. Jika seseorang setelah mencerna semua uraian Alkitab dan menyimpulkan yang didengarnya lebih benar daripada yang sedang dipercayainya, maka seharusnya ia menjadi percaya pada kesimpulan baru yang lebih benar. Sebagaimana seorang non-Kristen mendengarkan Injil dan menjadi percaya harus meninggalkan imannya yang lama, demikian juga kekristenan yang belum tepat sesuai dengan Alkitab harus meninggalkan doktrin lamanya.
Jika Kristen yang belum tepat sesuai Alkitab tidak rela meninggalkan doktrin yang salah, bagaimana bisa masuk akal baginya untuk berharap mereka yang non-Kristen bisa meninggalkan agama mereka yang salah untuk percaya kepada Injil?
Hal kedua adalah jumlah harga yang harus dikeluarkan seseorang demi mendapatkan kebenaran. Ada orang yang telah memiliki posisi sebagai orang terpandang di kalangan umat agamanya. Ketika ia mendengarkan Injil Kebenaran yang dapat menyelamatkan jiwanya, ia tidak bisa tidak melepaskan segala hormat dan kenikmatan posisinya. Demi Injil yang benar ia sangat mungkin akan kehilangan teman, posisi, uang, fasilitas, bahkan bisa sampai kehilangan keluarga. Betapa mahal Injil Kebenaran itu baginya. Tetapi sesungguhnya semua harga yang dibayarnya itu adalah nilai yang rendah karena semua itu hal-hal yang sementara. Ia sesungguhnya secara jangka panjang telah sangat beruntung karena telah mendapatkan jaminan hidup yang kekal.
Kalau kita ibaratkan sebuah radio, tuning gelombangnya adalah masalah doktrin, sedangkan volume suaranya adalahsemangat. Kalau kita menghidupkan radio, tuning gelombangnya tidak tepat, sementara volume suaranya kita besarkan, maka itu pasti tidak enak di telinga kita. Suara yang terpancarkan akan bising sekali. Tetapi jika tuning gelombangnya tepat, maka suaranya akan terdengar sangat jernih, sehingga dengan volume suara yang tidak terlalu besar pun semua berita yang dipancarkan akan terdengar jelas.
Demikianlah gambarannya dengan kekristenan yang tidak tepat sesuai dengan Alkitab. Semua kerajinan dan semangat akan sia-sia kalau ternyata doktrinnya tidak tepat sesuai Alkitab. Oleh sebab itu hendaknya setiap orang Kristen menyadari bahwa yang terpenting itu bukanlah semangat dan segala usaha serta jerih lelah. Yang terpenting adalah ketepatan pengajaran. Kalau pengajaran di sebuah gereja tidak tepat sesuai Alkitab, maka segala kerajinan, bahkan persembahan yang diberikan oleh anggotanya akan sia-sia belaka. Tidak ada gunanya seseorang menyalakan radio dengan volumenya hingga full sambil tuning gelombangnya tidak tepat.
Ketika seorang Kristen dari gereja yang salah atau kurang tepat doktrinnya bertemu dengan doktrin yang alkitabiah, maka ia harus mengambil sikap. Ia harus membayar harga seperti umat non-Kristen yang bertemu Injil Kebenaran. Jika ia tidak berani membayar harga, apa yang diketahuinya tidak akan berguna baginya. Ia bisa saja sudah banyak teman di gereja lamanya yang salah, bahkan sudah punya posisi atau jabatan. Biasanya jabatan sengaja diberikan oleh pemimpin gereja yang salah untuk mengikat anggotanya agar tidak pindah ke gereja yang lebih benar. Tuhan Yesus mau ketika seseorang menemukan ladang yang ada harta terpendam di dalamnya, menjual seluruh hartanya dan membeli ladang itu sebagai bukti dia tahu dan cerdas menilai segala “sumber alam yang lebih berharga” (doktrin).
Pantaskah Mengajar Orang Kristen Pindah Gereja?
Sepatutnya gereja bukan berlomba dalam aspek gedung, atau musik, apalagi AC dan lain sebagainya yang bersifat materi, jasmani dan duniawi. Gereja sepatutnya berlomba pada aspek pengajaran (doktrin). Karena kalau gedung yang diperlombakan atau apapun yang materi, jasmnai dan duniawi, maka semua pemimpin gereja akan mengejar hal itu. Tetapi jika gereja memperlombakan aspek pengajaran maka niscaya gereja-gereja Tuhan akan semakin benar doktrinnya. Iblis sangat tidak ingin gereja berlomba dalam aspek pengajaran maka menghembuskan slogan “jangan menyebut gereja lain salah”. Bahkan lebih hebat lagi Iblis meniupkan konsep bahwa kebenaran rohani itu relatif dan semua gereja ada argumentasinya, semuanya tidak tahu siapa salah dan siapa benar. Sering kali kita mendengar pernyataan pemimpin gereja bahwa satu gereja dengan yang lain seperti orang-orang buta yang mau mengenal gajah. Bayangkan, mereka mengaku diri mereka buta.
Dr. Suhento Liauw sering berkata kepada anggota jemaat Graphe. Jika anda temukan ada gereja yang lebih benar, silakan pindah ke sana. Dan jangan lupa memberitahukannya karena beliau pun ingin ikut pindah ke sana. Setiap orang Kristen harus diajar, bahkan dirangsang untuk mengejar kebenaran, mengutamakan kebenaran. Dan kalau bertemu kebenaran, berani membayar harganya. Dan setelah membeli, jangan menjualnya lagi, sebab harga kebenaran lebih dari harga properti manapun, harganya pasti akan naik terus.***
Sumber: Dr. Suhento Liauw, Th.D, Jurnal Theologi PEDANG ROH Edisi 71 April-Mei-Juni 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar