Jumat, Juli 23, 2010

KOMPAS ETIKA

Bagaimana caranya agar kita berhasil menjawab atau memberikan jalan keluar terhadap persoalan-persoalan etika secara objektif ? Bagaimana kita memecahkan suatu masalah etika dengan cara yang benar, tepat dan alkitabiah? Bagaimana kita mampu menilai benar tidaknya sutu permasalahan? Dibutuhkan suatu pedoman penuntun. Apa itu? Kompas Etika. Pakar teologia dan seorang apologetor ternama, Norman Geisler memberikan hasil kajiannya selama lebih dari setengah abad sebagai konselor dibidang etika sebagai berikut:

Pentingnya Kompas Etika

Pertama, tanpa kompas kita bisa tersesat, karena kita menyimpang dari jalan moralitas yang benar. Kedua, kompas mempunyai titik-titik yang pasti – utara selalu berarti utara dan selatan selalu berarti selatan. Hanya dengan mengikuti titik-titik yang pasti inilah kita akan menemukan jalan kita. Allah, melalui firman-Nya, memberi kita hal-hal yang mutlak atau titik-titik yang pasti. Ketiga, kompas adalah alat penunjuk arah yang akan menunjukkan arah yang benar kepada kita. Yang penting kita harus menemukan titik-titik pasti, atau hal-hal yang mutlak ini, supaya kita tetap berada di jalan yang benar.

PERLUNYA KOMPAS ETIKA

Kompas Etika adalah panduan bertahap dalam membuat keputusan etis. Keputusan etis memiliki konsekuensi, jangka pendek, jangka panjang, maupun yang abadi. Maka, kita tidak boleh salah langkah. Langkah-langkah dalam membuat keputusan yang tepat harus diikuti secara berurutan.

Kompas Etika pedoman praktis yang mudah dimengerti dan diingat. Kadang-kadang Anda membutuhkan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu untuk membuat satu keputusan yang sulit. Di waktu lain, Anda hanya membutuhkan waktu satu jam. Jadi ketika Anda duduk di kantor sambil menatap dinding, Anda dapat mengingat langkah-langkah dalam Kompas Etika.

Kompas Etika memperhitungkan konsep-konsep etis yang perlu dipikirkan dalam membuat satu keputusan. Pedoman ini membimbing Anda kepada hikmat etis dalam Kitab Suci yang memampukan Anda mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi, mengkaji pilihan-pilihan, memahami kebaikan yang lebih tinggi, dan menerima hikmat yang diberikan Roh Kudus.

ISI KOMPAS ETIKA

1. Pelajari fakta-faktanya

Dalam membuat keputusan etis yang tepat, pastikan Anda mempunyai semua fakta yang diperlukan, kemudian pelajari semuanya dengan cermat. Ketika kita membuat keputusan tanpa mengetahui semua faktanya, kita sendiri yang akan menanggung resikonya. Alkitab memberi kita hikmat sebagai berikut:

  • Pengertian mendatangkan berkat, tetapi kurang pengertian hanya mendatangkan kebodohan.”Akal budi adalah sumber kehidupan bagi yang mempunyainya, tetapi siksaan bagi orang bodoh ialah kebodohannya”(Ams.16:22).
  • Temukan semua fakta sebelum Anda memberi tanggapan.”Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya”(Ams.18:13).
  • Rajin-rajinlah mengembangkan rencana-rencana Anda, maka Anda akan beruntung.”Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan”(Ams.21:5).
  • Perhitungkan dulu sebelum Anda melakukan apapun. “Siapakah diantara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelasaikan pekerjaan itu?”(Luk.14:28).

Secara umum, maksud ayat-ayat tersebut adalah bahwa Anda tidak boleh melangkah sebelum tau hal-hal yang dituntut dari diri Anda dan alasannya. Cari dulu keseluruhan faktanya sampai Anda mengetahui fakta mana saja yang relevan. Bila Anda tidak yakin akan suatu keputusan, mintalah nasehat dari teman-teman yang mempunyai pengetahuan tentang hal itu. Ajukan sebanyak mungkin pertanyaan.

Salah satu cara terbaik untuk mengajukan pertanyaan dan memastikan Anda mempunyai semua fakta yang diperlukan adalah dengan menggunakan teknik “mengucap kembali”. Mengucap kembali mempunyai tiga langkah:

  • Ungkapkan. Biarkan ia mengungkapkan pandangnya.
  • Ulangi. Ulangi dengan kata-kata Anda sendiri maksud orang itu menurut Anda. “Coba saya ulangi. Tadi kamu bilang bahwa saya seharusnya….?”
  • Setujui. Bila orang itu berkata, “Bukan begitu,” ucapkan kembali sekali lagi sampai lawan bicara Anda sepakat. Itu berarti Anda sudah mendengarkan, dan lawan bicara Anda juga tahu bahwa Anda mendengarkan dirinya.

Ini merupakan salah satu langkah utama untuk memastikan Anda sudah memahami semua fakta yang benar untuk mengambil satu keputusan tepat.

2. Cari Kebenarannya

Langkah kedua dalam mengambil satu keputusan etis yang tepat adalah dengan mendengarkan Allah: Apa yang dikatakan Alkitab mengenai hal tersebut? Apakah sifatnya “hitam putih”?, yaitu Alkitab dengan jelas mengatakan, “Janganlah kamu”? Atau bersifat “abu-abu”, artinya Alkitab tidak secara khusus membicarakannya? Bila keterangan dalam Alkitab tampak tidak begitu jelas, ada langkah-langkah yang harus diikuti dalam mencari kehendak Allah di Kitab Suci.

  • Pertama, carilah hikmat dari Alkitab.
  • Kedua, berdoalah meminta hikmat maka Allah akan memberikannya. Rasul Paulus menulis, “Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna”(Kol. 1:19).

Yakobus menasehati, “Tetapi apabila diantara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakan kepada Allah, – yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit” (Yak. 1:5).

3. Periksa Keragu-raguan Anda

Langkah ketiga ini adalah mempertanyakan apakah ada sesuatu berkenaan dengan keputusan kita yang harus dipertimbangkan dulu sebelum kita melangkah lebih jauh.

  • Pertama, kita harus bertanya, “Mengapa saya ragu? Apakah saya ragu karena saya tahu apa yang dikatakan Alkitab tetapi tidak tahu cara melakukannya?” Ketika ketakutan kita atas konsekuensi dalam melakukan kebenaran mulai melumpuhkan diri kita, ingatlah beberapa bimbingan Alkitab berikut:

“Adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus” (Gal.1:10).

“Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk memercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita” (1Tes. 2:4).

  • Kedua, ketika keputusan kita mungkin menyakiti orang lain, kita juga perlu bertanya, “Bagaimana jika hal itu terjadi terhadap saya?” Ini adalah cara lain untuk menerapkan Hukum yang Terutama, “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka” (Luk.6:31).

4. Temukan kebaikan yang lebih tinggi.

Langkah keempat dalam membuat keputusan etis yang tepat adalah dengan mengenali kebaikan yang lebih tinggi. Cara pikir menurut kebaikan lebih tinggi ini menyatakan bahwa ada satu prioritas nilai-nilai: Allah lebih bernilai dari manusia, dan manusia lebih bernilai daripada yang bukan manusia. Pada tahap ini, kita harus menemukan dan menaati hukum yang lebih tinggi yang dapat diterapkan pada dilema etis kita.

  • Apakah kasih kita kepada Allah melebihi kasih kepada manusia? Mengasihi Allah adalah perintah terbesar dan tertinggi (Mat. 22:36-38). Sementara kita diperintahkan untuk mengasihi baik Allah maupun sesama kita, kasih kita kepada Allah harus melebihi kasih kita kepada manusia. Mengasihi Allah dalam situasi ini berarti mengenal pikiran Allah dan menaatinya sepenuhnya.
  • Apakah kasih kita kepada sesama melebihi kasih kepada hal lainnya? Jangan pernah menganggap hal-hal di dunia ini sebagai harta dan memperlakukan sesama manusia sebagai benda (Mat. 22:39; Tim. 6:17-19). 1 Timotius pasal 6 mengatakan bahwa Allah telah memberi, melalui pekerjaan kita, harta benda untuk kita nikmati, tetapi harta benda ini harus ditempatkan pada perpektif yang benar.Membohongi orang-orang dalam bisnis supaya diri kita atau perusahaan kita memperoleh harta adalah perbuatan yang salah.
  • Apakah kita mengasihi sesama lebih dari mengasihi diri sendiri? Sementara kita dapat mengasihi diri kita sendiri, kita harus mengasihi Allah diatas segalanya, kemudian mengasihi sesama kita, dan yang terakhir mengasihi diri kita sendiri (Luk. 10:27). Hukum Kasih menetapkan satu pola baku untuk kita ikuti dalam hal mengambil banyak keputusan bisnis (Mat. 7:12). Menanyakan, “Bagaimana perasaan saya bila berada di posisinya saat ini?” sering kali membuat pilihan etis menjadi jelas.

Jadi , langkah keempat ini adalah tentang menemukan kewajiban moral mana yang lebih tinggi. Bila mungkin, kita harus mencari cara untuk dapat memenuhi kedua kewajiban itu. “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!”(Rm. 12:18). Namun, bila dua atau lebih kewajiban moral berkembang menjadi pertentangan yang tak terelakan, kita harus mengikuti kewajiban yang lebih besar.

5. Pertimbangkan konsekuensi dan alternatif kreatif.

Langkah kelima dalam membuat satu keputusan etis yang tepat adalah dengan mempertimbangkan dua pertanyaan sangat penting ini: Apa saja konsekuensi tindakan Anda, dan apa saja alternatif yang lebih aman yang tersedia?

  • Apa saja konsekuensinya? Seperti yang kita lihat di bab 4, etika Kristen itu berdasarkan kewajiban (deontologis) bukan berpusat pada tujuan, alias yang menentukan adalah hasil-hasilnya (teleologis). Ini bukan berarti orang Kristen tidak memikirkan hasil. Yang etis akan memakai cara-cara yang baik untuk mencapai hasil akhir terbaik. Lebih bijaksana bila kitapun memerhatikan konsekuensi atas tindakan itu. Apa efek dari tindakan ini terhadap orang lain dan diri saya? Apa efek jangka pendeknya? Bagaimana dengan efek jangka panjangnya?

Apakah ada pilihan alternatif lainnya? Daniel mengemukakan satu alternatif untuk menyikapi arah keliru yang disarankan atasannya (Dan. 1:11-13). Supaya dapat memunculkan pilihan alternatif, Anda harus mmengetahui tiga hal:

  • Apa tujuannya? Apa tujuan utama yang ingin dicapai atasan Anda? Beberapa eksekutif hanya peduli pada keuntungan semata? Mengetahui hal-hal yang paling diinginkan atasan adalah titik awal untuk menyelesaikan masalah.
  • Apakah ada cara yang lebih baik? Apakah ada cara yang lebih baik untuk mencapai tujuan itu? Dapatkah Anda mencapai hasil yang sama dengan menggunakan metode-metode etis? Daniel tahu bahwa atasannya sangat menginginkan tubuh-tubuh yang sehat secara fisik dan menyodorkan pilihan yang memenuhi tujuan itu (Dan. 1:10-21).

Apakah ada pendekatan bijak? Bagaimana cara Anda mengemukakan pandangan dan alternatif positif Anda merupakan hal yang sangat penting.

6. Teguh bagi Allah

Langkah terakhir dalam membuat satu keputusan etis yang tepat adalah dengan memutuskan untuk berpihak kepada Allah, apapun yang terjadi. Berpihak kepada Allah berarti Anda harus membuat dua keputusan:

  • Tanamkan dalam hati bahwa Anda akan berpihak kepada Allah, apapun yang terjadi. Anda harus berkomitmen untuk berpihak kepada Allah sebelum Anda menghadapi satu dilemma etis:

“Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya”(Dan. 1:8). Daniel sudah mengambil keputusan. Ia menyimpan tekad itu dalam hatinya. Ia menentukan pilihan secara sadar dengan sengaja bahwa ia tidak akan menajiskan dirinya dengan makanan raja.

“Karena itu, saudara-saudaraku yang terkasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Kor. 15:58).

“Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!” (1 Kor. 16:13).

“Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan” (Ef. 6:13-14).

  • Ingatlah bahwa penderitaan membawa kemuliaan. Tuhan berjanji penderitaan karena melakukan kebenaran akan membawa kita kepada kemuliaan dengan Allah suatu hari nanti.

“Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai percobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu-yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api – sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hhari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya (1 Pet. 1:6-7).

“Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya” (1 Pet. 4:13; bdk. 2 Kor. 4:17).

“Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia” (1 Pet. 4:19).

Kesimpulan

Kompas ETHICS adalah panduan langkah demi langkah dalam membuat kepetusan-keputusan etis. Kompas ETHICS akan menghasilkan konsep-konsep etis yang tepat, yang perlu dipertimbangkan untuk membuat keputusan etis yang benar. (By. Gbl. Alki F. Tombuku)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar