Kamis, Mei 29, 2008

Berita Mingguan WAY OF LIFE

MENGUNJUNGI MARKAS PBB
Pada tanggal 7 Mei, saya mengunjungi markas PBB sementara saya kebetulan singgah sebentar di kota New York dalam perjalanan dari Istanbul ke Buffalo, New York. (Saya baru saja menghabiskan satu minggu di Turki mengunjungi tempat-tempat Ketujuh Jemaat atau gereja dalam kitab Wahyu, lalu satu setengah hari di Athena, dan menuju ke beberapa konferensi Alkitab di Amerika Serikat). PBB didirikan pada tahun 1945 untuk mendatangkan perdamaian di dunia. Sebuah patung di taman PBB yang menghadap Sungai Timur menggambarkan seorang laki-laki yang sedang mengubah pedang menjadi bajak. Hal ini diambil dari Yesaya 2:4 dan Mikha 4:3, tetapi hal ini tidak akan terjadi sebelum Yesus Kristus, Sang Raja Damai, datang kembali untuk mendirikan Kerajaan-Nya. Ada patung lain dekat pintu masuk PBB yang menggambarkan sebuah pistol dengan larasnya terikat menjadi simpul, yang menandakan bahwa tujuan PBB adalah menghapuskan kekerasan. Alkitab mengatakan bahwa tidak ada damai bagi orang yang jahat (Yesaya 48:22-57:21), dan PBB tidak memiliki kuasa untuk menyelesaikan masalah inti kekacauan dunia saat ini, yang adalah kondisi hati manusia yang berdosa. Tak mengejutkan, PBB dipenuhi dengan filosofi New Age. Perhatikan Ruangan Meditasi di PBB. Awalnya, ruangan ini adalah suatu kapel doa non-denominasi dan diadakan atas dukungan dan usulan J.C. Penney, pemilik Department Store yang milyuner. Pada tahun 1956-1957, kapel tersebut digantikan oleh sebuah ruangan meditasi New Age. Ruangan ini dibangun dengan bentuk sebuah piramid terpotong, dan blok besi seberat enam setengah ton ditaruh ditengah-tengah ruangan itu, dan bagian atasnya diterangi oleh satu sinar yag berasal dari langit-langit. Sinar itu menggambarkan "hikmat ilahi," dan blok besi menggambarkan mezbah yang kosong mewakili "Allah yang disembah dalam berbagai bentuk" (http://www.aquaac.org/un/sprtatun.html).

Selasa, Mei 20, 2008

SERI DOKTRIN ALKITAB ALKITABIAH (Bagian 3-Ending)

Serangan Iblis
Textum Receptum (TR) adalah naskah PB yang dipakai oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia, dan diterjemahkan ke berbagai bahasa oleh misionaris modern yang dipelopori oleh misionaris Baptis, William Carey, ke India dan akhirnya banyak misionaris ke seluruh penjuru dunia. Selama kurang lebih 380 tahun, Iblis tidak menemukan cara untuk menghalangi tersebarnya firman Tuhan ke seluruh dunia walaupun dilakukannya juga serangan kecil-kecilan yang tidak membawa efek terhadap TR.

Karl Lachmann dari Jerman tercatat adalah orang pertama yang menerbitkan edisi PB yang sifatnya menyerang TR pada tahun 1831. Setelah dua edisi teks pengritik/Critical Texts (CT) diterbitkannya ternyata tidak ada yang menggubrisnya. Pada tahun 1857 Samuel Prideaux Tregelles di Inggris juga menerbitkan Critical Text untuk menyerang TR. Kemudian Constanstin Tischendorf seorang yang menemukan naskah Codex Sinaiticus turut menerbitkan teks PB yang bersifat menyerang keakuratan TR.

Serangan yang kelihatannya memakan banyak korban adalah yang dilakukan Iblis melalui dua orang, yaitu Brooke Foss Westcott seorang Bishop gereja Anglikan, dan Fenton John Anthony Hort seorang dosen dari Cambridge University. Untuk mempersingkat nama mereka, biasanya hanya ditulis Westcott-Hort (WH). Mereka menerbitkan Critical Text (CT) untuk menyerang Textum Receptum (TR) pada tahun 1881. Mereka mendasarkan edisi yang mereka terbitkan pada naskah yang diberi nama (aleph) yang ditemukan di Sinai yang juga disebut Sinaiticus dan naskah yang diberi nama B yang kata mereka tersimpan di perpustakaan Vatikan.

Minggu, Mei 18, 2008

ISRAEL- HOMOSEKS- BACA ALKITAB

Berikut ini disadur dari Way of Life Ministry

ISRAEL BERUMUR ENAM PULUH TAHUN
Minggu ini, negara Israel modern merayakan kemerdekaannya yang keenam pulu. Pada pukul 12:00 AM tengah malam, 14 Mei, 1948, negara yang lemah itu mengumumkan kenegaraannya dengan deklarasi berikut: "Panggilan kami tertuju kepada semua umat Yahudi di seluruh dunia untuk bangkit ke sisi kami.....dan untuk berdiri bersama kami dalam perjuangan besar pemenuhan impian generasi-generasi akan penyelamatan Israel." Sebelas menit kemudian, Presiden AS, Harry Truman mengumumkan bahwa ia mengakui negara Israel. Orang-orang Yahudi bersukacita di seluruh dunia. Di Roma, mereka berparade di bawah bangunan Arch of Titus yang kuno tersebut, yang dibangun hampir 2000 tahun yang lalu untuk merayakan penaklukan Yerusalem oleh tentara Roma pada tahun 70 M, dan yang mengandung gambar-gambar tawanan Yahudi dan benda-benda dari Bait Yahudi. Setelah melewati dua milenium penganiayaan, orang Yahudi kembali lagi dan mereka masih berbicara dalam bahasa kuno mereka! Ini adalah salah satu hal yang paling menakjubkan dalam sejarah, dan membuktikan bahwa Alkitab diilhami secara ilahi, karena telah memprediksikan semua ini 4000 tahun yang lalu. Seluruh sejarah Israel telah dinubuatkan oleh Musa dan dicatat dalam kitab Ulangan. Allah memperingatkan bahwa jika Israel melanggar hukumNya, ia akan "dicabut dari tanah" dan diserakkan "ke antara segala bangsa dari ujung bumi ke ujung bumi" (Ul. 28:63-64). Di sanalah orang Yahudi "tidak akan mendapat ketenteraman di antara bangsa-bangsa itu dan tidak akan ada tempat berjejak bagi telapak kakimu; TUHAN akan memberikan di sana kepadamu hati yang gelisah, mata yang penuh rindu dan jiwa yang merana. Hidupmu akan terkatung-katung, siang dan malam engkau akan terkejut dan kuatir akan hidupmu" (Ul. 28:65-66). Ini adalah deskripsi yang akurat mengenai sejarah Israel selama dua milenium. Yerusalem dihancurkan pada tahun 70 M oleh tentara Roma di bawah Jendral Titus, dan pada tahun 135 M, Yerusalem dibajak habis oleh perintah Kaisar Hadrian karena pemberontakan orang Yahudi yang dipimpin oleh Bar Kochbar. Orang-orang Yahudi lalu terserak-serak ke ujung bumi dan tidak menemukan peristirahatan. Mereka dibenci oleh orang Muslim, dan dikerja dan dianiaya oleh Gereja Yunani Ortodoks dan Roma Katolik selama seribu tahun. Hitler mencoba untuk melenyapkan mereka. Lebih mementingkan bangsa Arab, Inggris berusaha menghalangi mereka kembali ke tanah mereka setelah Perang Dunia II. Mayoritas duni ini masih bersikap berlawanan terhadap Israel dan berita-berita tentang krisis Timur Tengah secara umum dibuat untuk memojokkan Israel. Tetapi, nubuat Alkitab telah memberitahu lebih dahulu bahwa Israel akan dikembalikan ke tanahnya dan dia akan tetap sebagai suatu negara bahkan setelah mengalami semua ini, dan itulah yang terjadi pada tahun 1948. Tidak pernah dalam sejarah dunia suatu suku bangsa berserak-serak ke seluruh dunia dan dianiaya selama 2000 tahun dan masih bisa kembali lagi sebagai suatu bangsa. Nubuatan Alkitab menggambarkan pemulihan Israel dalam dua bagian. Pertama, dia akan kembali lagi ke tanah mereka dalam kondisi tidak percaya. Kemudian, dia akan bertobat. Nubuatan yang menakjubkan dalam Yehezkiel 37:1-14 menggambarkan kedua tahap ini. Israel digambarkan sebagai lembah yang penuh tulang, tetapi lalu dibangkitkan. Pertama-tama, tulang-tulang itu diberikan urat dan daging dan mereka berdiri tetapi tidak memiliki nafas, dan selanjutnya Allah memberikan nafas kepada tulang-tulang mati tersebut, dan mereka menjadi hidup. Bagian pertama dari nubuatan ini sudah digenapi. Israel sudah kembali ke tanah mereka sebagai suatu bangsa, tetapi mereka masih dalam ketidakpercayaan. Mereka terus menolak Mesias mereka, Yesus Kristus. Mereka tidak memiliki Bait ataupun tatanan keimamatan, dan tidak memiliki penyembahan yang hakiki. Semasa Kesesakan Besar, Allah akan membuat Israel bertobat dan akan menghembuskan nafas kehidupan rohani kepada mereka dan mereka akan hidup. Eksistensi Israel yang terjaga hingga hari ini adalah suatu mujizat yang besar dan adalah bukti yang tidak terbantahkan bahwa Alkitab diilhami secara ilahi, dan mengingatkan kita bahwa kita semua perlu bersiap-siap akan kedatangan Kristus.

AKTIVIS HOMOSEKSUAL MENARGETKAN GEREJA-GEREJA
Soulforce, sebuah grup aktivis homoseksual, terus berupaya memasukkan agenda mereka ke dalam gereja-gereja, sekolah-sekolah, dan organisasi-organisa si Kristen. Programnya saat ini, yaitu The American Family Outing, menargetkan enam gereja mega, termasuk gereja The Potter's House (T.D. Jakes), Willow Creek Community Church (Bill Hybels), dan Lakewood Church (Joel Osteen). Salah satu anggota Soulforce yang high-profile adalah Jay Bakker, putra dari Jim dan Tammy Faye Bakker. Sebelem kematiannya tahun 2007, Tammy Faye menjadi seorang aktivis hak-hak homoseksual. Soulforce sedang menekan gereja-gereja agar menerima homoseksual dengan cara yang tidak menghakimi. Jay Bakker mengatakan, "Mari kita menyingkirkan perbedaan-perbedaan kita dan berbagai kasih dan pengharapan Kristus" ("Gay Group Reaches Out to Lakewood," Houston Chronicle, 8 Mei, 2008). Membagi kasih Kristus adalah satu hal, tetapi tidak berani menghakimi dosa adalah hal lain lagi. Gereja-gereja seharusnya menerima orang berdosa manapun agar ia dapat mendengar Injil, tetapi keanggotaan dalam jemaat hanyalah bagi mereka yang telah dilahirbarukan melalui pertobatan kepada Allah dalam iman kepada Yesus Kristus (Kis. 20:21), dan kelahiran kembali akan mengubah pandangan seseorang terhadap dosa. Di antara anggota-anggota jemaat di Korintus, ada yang sebelumnya pernah terlibat dalam homoseksualitas, tetapi mereka telah bertobat dan berubah (1 Kor. 6:9-11). Tammy Faye Bakker tampil dalam suatu acara "gay-pride" nasional, termasuk dalam kontes meniru Tammy Faye, di mana dia "dikelilingi oleh lelaki dalam kostum wanita" (Charisme News, November 2002). Tammy memberitahu para hadiri bahwa "ada Allah yang mengasihi mereka dan memelihara mereka," tetapi dia tidak memberitahu mereka bahwa homoseksualitas adalah dosa dan bahwa Allah menuntut pertobatan. Setelah suami pertama Tammy Faye, Jim Bakker, masuk penjara karena menipu para pengikutnya sebanyak $158 juta, dia menceraikannya dan menikah kembali dengan Roe Messner, seorang teman keluarga. Tentang para pengritiknya yang menyerukan agar dia lebih jelas lagi melawan homoseksualitas, Tammy Faye berkata, "Saya pikir gereja haruslah menjadi rumah sakit, dan bukan pengadilan." Pada kenyataannya, gereja adalah kedua-duanya, rumah sakit sekaligus pengadilan. Gereja Perjanjian Baru mengundang "barangsiapa yang mau" untuk menerima tawaran keselamatan yang cuma-cuma dari Kristus dan dilahirkan kembali, etapi gereja juga menghakimi orang-orang yang mengaku percaya, tetapi yang berjalan dalam kebenaran (1 Kor. 5).

ORANG TUA, DIDIK ANAK-ANAKMU UNTUK MEMBACA ALKITAB
Berikut ini disadur dari Training Your Children to Turn Out Right, sebuah buku yang sangat bagus oleh David Sorenson – "Hai para orang tua terkasih, kebiasaan yang paling penting yang anda bisa tanamkan dalam anak-anakmu adalah kebiasaan untuk datang kepada Firman Allah pagi dan malam. Perhatikan bahwa saya menggunakan istilah "kebiasaan." Ini memang disengaja. Masalah membaca Firman Tuhan adalah sesuatu yang harus dijadikan kebiasaan. Kebiasaan dibangun melalui tindakan yang berulang kali, tetapi agar anak-anak membangun kebiasaan membaca Alkitab setiap hari, maka anda sebagai orang tua, harus melakukan langkah-langkah agar tindakan ini masuk dalam kehidupan mereka. Anda tidak bisa hanya memberitahu mereka untuk melakukannya, lalu berharap bahwa mereka akan melakukannya. Anda harus membuat suatu program, sebuah jadwal, dan memberikan insentif untuk membantu memotivasi mereka masuk ke dalam Alkitab..... .Selama bertahun-tahun, saya kadang mendapatkan orang yang berkata, "Ya, menurut saya kita harus membaca Alkitab karena kita ingin, bukan karena kita harus." Diserang oleh dunia, kedagingan kita, dan juga Iblis, akan ada jauh lebih banyak hari saat kita tidak merasa ingin membaca Alkitab dari pada hari-hari kita merasa ingin. Jika kita melakukan segala sesuatu hanya karena saat itu kita merasa ingin untuk melakukannya, maka kita sedang menjalani kehidupan rohani yang sangat dangkal. Sebaliknya, kita harus membaca Firman Tuhan karena itu kewajiban kita, karena itu hal yang benar dilakukan, dan karena itu adalah kehendak Allah. Bagaimana perasaan kita pada hari yang bersangkutan, itu tidak relevan..... Kita juga perlu menanamkan sikap dan filosofi yang demikian ke dalam anak-anak kita.....Ketika kami memulai putri-putri kami dalam program pembacaan Alkitab tiap hari mereka, kami menaruh pembatas buku di 1 Yohanes. Ketika mereka baru pertama kali mulai, kami menargetkan mereka membaca satu ayat di pagi hari, lalu satu ayat di sore hari. Pada awalnya, kami ikut membaca bersama mereka dan membantu mereka membaca....Sambil mereka semakin maju dalam kemampuan membaca mereka, kami meningkatkan target menjadi tiga ayat sehari saat mereka kelas 1 SD....Saat mereka sekitar kelas 3 atau 4 SD, mereka mulai membaca satu pasal sehari. Ketika mereka mecapai kelas 6 SD, mereka diharuskan membaca dua pasal sehari, satu di pagi hari, satu di malam hari. Ketika mereka masuk SMP, mereka membaca empat pasal sehari. Program seperti ini akan membuat seseorang membaca Alkitab seluruhnya dalam satu tahun. Program ini berlanjut hingga masa-masa SMA mereka.....Beban agar kebiasaan ini dapat terbentuk dalam anak-anak sepenuhnya ada pada pundak kita sebagai orang tua. Sebagai orang tua, kita harus memeriksa hal ini secara rutin" (Training Your Children to Turn out Right, 1995, hal. 15-19).

from GITS Buletin, DR. Steven E. Liauw

Jumat, Mei 16, 2008

BANGKITLAH BANGSAKU




Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.

Bertempat di Lapangan Sepakbola Kridosono, sebanyak kurang lebih 2000 orang Percaya berkumpul untuk menaikkan Doa Syafaat dalam acara GERAKAN DOA ORANG PERCAYA (GDOP) pada hari Senin, 12 Mei 2008 pukul 18.00-20.30 WIB. Acara outbound dengan tema BANGKITLAH BANGSAKU bagi Tranformasi Indonesia dan Bangsa-Bangsa, dapat terselenggara berkat kerjasama dari gereja-gereja sejogja dan Jaringan Doa Nasional (JDN) dengan melibatkan PMK-PMK dan Persekutuan-persekutuan Doa dan Joy Fellowship di Jogjakarta. Menurut keterangan Panitia, Gerakan Doa ini serentak diadakan di 223 kota di Indonesia dan juga lebih kurang 213 Negara-negara di dunia. Dimulai dengan puji-pujian, sebanyak 2000 jiwa memuji dan menyembah Tuhan dengan penuh sukacita. Meski hanya duduk di atas rumput dengan beralas kertas Koran, tidak mengurangi minat dan antusias para hadirin yang datang. Dengan semangat 45, Worship Leader dan semua backing vocal dan singer berpadu dengan iringan Tim Musik yang rata-rata terdiri dari anak-anak muda yang bersemangat mampu mengajak hadirin yang mengikuti untuk bersorak-sorai dan meneriakkan HALELUYA! AMIN!. Turut melayani, Paduan Suara Mandarin Jogjakarta yang beranggotakan bapak-bapak dan ibu-ibu yang merupakan gabungan aktivis-aktivis dari gereja-gereja se-Jogja, Paduan Suara ini sudah dikenal lewat Album dan Konser mereka di Gedung Societit, Taman Budaya. Mereka menaikkan lagu-lagu rohani familiar dalam bahasa Mandarin sehingga mampu membuat para hadirin ikut bernyanyi pula. Didukung juga oleh Tim Dancer dari berbagai PMK dan JOY Fellowship yang berjumlah lebih kurang 70 orang. Tampak yang hadir dari berbagai macam suku bangsa dan provinsi yang ada di seluruh Indonesia, hal ini terlihat dari plakat-plakat Provinsi yang disusun menurut barisan asal daerah.

Memasuki sesi Firman Tuhan, Pdt Petrus menyampaikan bahwa perlu adanya kesatuan di kalangan gereja-gereja di Jogjakarta untuk bersama-sama bergandengan tangan berdoa bagi pemulihan dan transformasi Jogjakarta dan Indonesia. Permasalahan bangsa ini terus menggunung dan begitu banyak. Untuk itu sangat perlu bagi Orang Percaya untuk mulai berdoa dengan Kegairahan Tuhan dan Doa orang Percaya haruslah Doa yang mendeklarasikan Firman Tuhan dan Doa mengimani Janji-Janji Allah dalam Alkitab. Acara Doa Bersama ini memang rutin diadakan setiap tahun mulai dari tahun 2005 di Jogjakarta.

Ikut hadir perwakilan dari Gubernur Sri Sultan Hamengkubowono X, yang membacakan kata sambutan dari Sri Sultan. Juga tampak Pdt. Petrus Maridjo yang asli Jogja selaku Penbimas Kristen yang baru, menggantikan Pdt. Ardjita, yang turut mendukung sepenuhnya dan memberi kata sambutan. Hadir juga Pak Daud, Pdt. James Tanda, Pdt. C Sirait, hamba-hamba Tuhan dari berbagai gereja di Jogjakarta dan Direktur Andi Offset yang juga tokoh penting di Jogjakarta, yaitu Bapak J.H. Gondowidjojo yang memang dikenal sebagai Pendoa Syafaat yang mendirikan Bukit Doa di Kaliurang dan menulis buku-buku tentang Pendoa, Hati Bapa, Lawatan Roh Allah, dan Sekolah Doa. Dipimpin oleh para pendeta dan pendoa syafaat, mulailah acara Doa Syafaat digelar, mulai dari Pendoa dari Gereja Bala Keselamatan, GBI, GPdI, dll.


Setelah ditayangkan slide Video tentang Kegerakan Doa di Jogjakarta mulai dari Video tahun 2005 sampai 2007, Pdt Jimmy Pieter menjelaskan pentingnya Menara Doa Kota (MDK) yang berdoa tanpa putus-putusnya 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, dan 365 hari dalam setahun, dengan mengacu pada Yeremia 27:7 dan II Tawarikh 7:14, serta Doa Tuhan Yesus dalam Yohanes 17 bagi Kesatuan Tubuh Kristus, dampak MDK bagi Kesatuan Gereja-gereja yang dapat menghasilkan pertobatan jiwa, Kehidupan Kristiani yang berdampak bagi masyarakat, Gereja yang menjadi berkat bagi Bangsa dan Negara, diawali dengan kegerakan Doa. Sekretariat Menara Doa Kota (MDK) Jogja beralamat di Jl. Bumijo 24A, dengan telepon 563387. Pdt Jimmy mengajak semua yang hadir untuk mau menyediakan waktu 2 jam dalam seminggu, untuk dapat datang ke MDK dan berdoa bersama-sama dengan tidak terputus selama 24 jam sehari.

Rony Sofian, salah seorang hamba Tuhan dari GKKK Jogjakarta, yang menghadiri acara ini memberikan komentarnya sebagai berikut: “Puji Tuhan.. GDOP kembali bisa diadakan di kota Jogja dalam rangka Global Day Of Prayer International, serentak dengan gereja-gereja di seluruh dunia. Melihat pelaksanaannya pada hari Senin 12 Mei yg lalu & jumlah peserta dari berbagai gereja di kota Jogja yang hadir, patut bersyukur kepada Tuhan untuk para panitia yang telah mempersiapkan dan menyelenggakannya dengan baik. Semoga tahun depan ada lebih banyak lagi gereja yang dilibatkan/terlibat sehingga lebih banyak lagi yang hadir dan mendukung acara ini. Mengingat nama acaranya (GDOP Int'l) alangkah baiknya jika pokok-pokok doa yang dipanjatkan tidak hanya tentang Kekristenan di Indonesia dan pemulihan bangsa Indonesia saja namun juga meliputi pokok-pokok doa yang lebih luas, misalnya kekristenan di negara2 lain, pelayanan misi di berbagai belahan dunia dan peranan orang Kristen dalam merawat dan menjaga kelestarian bumi ciptaan Tuhan ini. Mari terus berdoa, Tuhan memberkati..

Akhirnya sesudah Doa Berkat dan pengutusan, maka semua orang percaya kembali ke komunitasnya masing-masing dan dihimbau lebih berapi-api dalam menjadi berkat.

Dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.

Kamis, Mei 15, 2008

"TUJUH TAHUN" ATAU "TIGA TAHUN"?

Mana yg benar “Tujuh Tahun atau Seven Years” atau “Tiga Tahun”
pada ayat 2 Samuel 24:13 dengan I Tawarikh 21:12?


I Tawarikh 21:12 (Alkitab LAI)
21:12 tiga tahun kelaparan atau tiga bulan lamanya melarikan diri dari hadapan lawanmu, sedang pedang musuhmu menyusul engkau, atau tiga hari pedang TUHAN, yakni penyakit sampar, ada di negeri ini, dan malaikat TUHAN mendatangkan kemusnahan di seluruh daerah orang Israel. Maka sekarang, timbanglah jawab apa yang harus kusampaikan kepada Yang mengutus aku."

I Tawarikh 21:12 (KJV)
21:12 Either three years' famine; or three months to be destroyed before thy foes, while that the sword of thine enemies overtaketh thee; or else three days the sword of the LORD, even the pestilence, in the land, and the angel of the LORD destroying throughout all the coasts of Israel. Now therefore advise thyself what word I shall bring again to him that sent me.

2 Sam 24:13 Kemudian datanglah Gad kepada Daud, memberitahukan kepadanya dengan berkata kepadanya: "Akan datangkah menimpa engkau tiga tahun kelaparan di negerimu? Atau maukah engkau melarikan diri tiga bulan lamanya dari hadapan lawanmu, sedang mereka itu mengejar engkau? Atau, akan adakah tiga hari penyakit sampar di negerimu? Maka sekarang, pikirkanlah dan timbanglah, jawab apa yang harus kusampaikan kepada Yang mengutus aku." (Alkitab terbitan LAI-TB)

2 Samuel 24:13 menurut Alkitab Indonesia (Indonesian Literal Translation):
Dan Gad datang kepada Daud, dan memberitahukannya, dan berkata kepadanya, “Akan datang tujuh tahun kelaparan kepadamu di negerimu. Atau engkau akan melarikan diri dari hadapan musuh-musuhmu selama tiga bulan, dan mereka itu mengejarmu. Atau tiga hari tulah akan melanda negerimu. Sekarang pertimbangkanlah, dan lihatlah apa yang harus aku kembalikan kepada Dia yang mengirimkan perkataan kepadaku.””

2 Samuel 24:13 (KJV)
So Gad came to David, and told him, and said unto him, Shall seven years of famine come unto thee in thy land? or wilt thou flee three months before thine enemies, while they pursue thee? or that there be three days' pestilence in thy land? now advise, and see what answer I shall return to him that sent me.

Teman, jika kita membandingkan Alkitab LAI dengan Alkitab KJV, NIV, dll. Untuk ayat I Tawarikh 21:12, kata “tiga tahun” disemua terjemahan Alkitab Indonesia dan Inggris sama semua, menulis “tiga tahun”

Yang berbeda adalah ketika di ayat 2 Samuel 24:13, dalam Alkitab King James Version (KJV), NASB (New American Standard Bible), NKJV (New King James Version), ASV (American Standard Version), CEV (Contemporary English Version) 1995, ERV, American KJV, DRB, Darby Bible Translation, Webster Bible Translation, World English Bible, Young's Literal Translation, GOD'S WORLD TRANSLATION, Jewish Publication Society Tanakh, Alkitab LAI Terjemahan Lama, Naskah asli MT (Naskah Asli Bhs Ibrani: Masoretik Teks), Alkitab Indonesia ILT (Indonesian Literal Translation), Alkitab Indonesia (IMTV=Indonesian Majority Text Version), semuanya menulis “Tujuh tahun” berbeda dengan Alkitab NIV, dll menulis “Tiga tahun”. Mana yang benar?

Jadi KJV, NKJV, ASV, NASB, dll dan Alkitab ILT (Indonesian Literal Translation), Alkitab Indonesia IMTV, Alkitab LAI BIS menulis “seven years” atau “tujuh tahun”

Alkitab LAI terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) tahun 1985 menulis:
2 Samuel 24:13 Gad datang menghadap dan memberitahukan kepadanya perintah TUHAN itu, katanya, "Mana yang Baginda pilih: Negeri ini ditimpa bencana kelaparan selama tiga *Beberapa terjemahan kuno: tiga; Ibrani: tujuh.* tahun, atau Baginda lari dikejar-kejar musuh selama tiga bulan, atau negeri ini diserang wabah penyakit selama tiga hari? Putuskanlah sekarang apa yang harus kusampaikan kepada TUHAN."

Disini LAI bijaksana dengan memberitahu bahwa dalam naskah Ibrani Majority Text (Kebanyakan Teks/naskah salinan/naskah Byzantine/Received Text) menulis “Tujuh Tahun”, meski LAI berdasarkan naskah salinan lain (Alexandrian/Minority/WH Text) menulis “tiga tahun” Jadi bagaimana?

Mengacu pada Text Byzantine/Majority/Received Text/Masoretic Text/MT yang diterima luas oleh semua kalangan Bapa Gereja zaman Reformasi dan semua kalangan Fundamentalis serta yg mengimani Alkitab tanpa salah sedikitpun dan dipelihara TUHAN, maka yang benar untuk ayat 2 Samuel 24:13 adalah “Tujuh tahun” sedangkan I Tawarikh 21:12 “Tiga tahun”. Apa yg tertulis dalam naskah Teks Kebanyakan yg diterima/teks yg dipelihara Allah, maka tetap seperti yg tertulis.

Lalu bagaimana, kan jadi berbeda? Satu menulis 7 tahun, ayat lain menulis 3 tahun? Mari kita bahas beberapa kemungkinan jawaban untuk hal ini.

Di situs di bawah ini mencoba memberi penjelasan itu: www.kjv-only.com
2 Samuel 24:13 and 1 Chronicles 21:12 "Could You Repeat The Choices?"

There are two accounts in the Old Testament of the same story of David taking a census of the Israelites, one in 2 Samuel 24 and the other in 1 Chronicles 21. God is displeased with David's actions and offers him three choices as punishment. There is an interesting "problem" that arises when studying these passages, for the three choices of punishment do not match in each account in the KJV:
2 Samuel 24:13 (KJV) "So Gad came to David, and told him, and said unto him, Shall seven years of famine come unto thee in thy land? or wilt thou flee three months before thine enemies, while they pursue thee? or that there be three days' pestilence in thy land? now advise, and see what answer I shall return to him that sent me."
1 Chronicles 21:12 (KJV) "Either three years' famine; or three months to be destroyed before thy foes, while that the sword of thine enemies overtaketh thee; or else three days the sword of the LORD, even the pestilence, in the land, and the angel of the LORD destroying throughout all the coasts of Israel. Now therefore advise thyself what word I shall bring again to him that sent me."
What makes this "contradiction" interesting is that it is not a translational issue, but perhaps a copyist issue - the "contradiction" appears in the Hebrew that the KJV was translated from as well. However, the "contradiction" does not appear in the LXX (the ancient Greek translation of the Old Testament). This article is not an attempt to prove one or the other as correct, but to explain what's going on here.
Here's how the comparison looks in 3 popular versions, including the KJV:
Verse
KJV
NIV
NASB
2 Samuel 24:13
seven
three
seven
1 Chronicles 21:12
three
three
three

As you can see, the NIV does not contain the "contradiction", as each verse has "three". However, a footnote in the NIV shows us that this is because the translators of the NIV have chosen in this instance to follow the LXX instead of the available Hebrew manuscripts so as to eliminate the "contradiction", noting that the LXX has "three" while the Hebrew has "seven". I'm not sure whether they were correct or not, but as the KJV translators said, "doth not a margin do well to admonish the Reader to seek further, and not to conclude or dogmatize upon this or that peremptorily?"
Although we cannot be 100% certain, "three years" in 2 Samuel 24:13 may be correct for the following combination of reasons:
- it matches the 1 Chronicles 21:12 account.
- it fits the pattern of choices better: 3 years, 3 months, 3 days.
- it matches the LXX, which is older than the available Hebrew.
- the Hebrew letter Zayin, used for "seven", may have been mistaken for the Hebrew letter Giymel, used for "three", by a copyist somewhere down the line.
Of course, the last reason could be easily reversed (ie. perhaps Giymel is mistaken for Zayin). However, because of the first three reasons given, translating it "three" has more support.

Why then does the LXX have "three" while the Hebrew has "seven"? A few reasons are possible, although we can't know for sure because we don't have the Hebrew manuscripts used to produce the LXX:
- perhaps because the Hebrew originally had "three", which was later unintentionally changed (after the LXX was produced) because of the Giymel/Zayin similarities.
- perhaps the Hebrew originally had "seven", but the LXX translators thought they would "correct" the "contradiction".
- perhaps the LXX translators accidentally mistook the Zayin as a Giymel, thus translating "seven" as "three".
So, the issue is somewhat unresolved, due to our lack of the originals for comparison. Although there is a possibility that "seven" is the correct number, it seems the original most likely had "three".
A thought-provoking side note...
A simple comparison of these two verses provides a good example of the same event and message given by someone, but by using different words. If one was to get really sticky over the issue of "inerrancy", one would have to examine which words of the message were really the ones spoken by Gad:
Differences in what was spoken by Gad
2 Samuel 24:13 (KJV)
1 Chronicles 21:12 (KJV)
"famine come unto thee in thy land?"
"famine"
"before thine enemies"
"destroyed before thy foes"
"while they pursue thee"
"while that the sword of thine enemies overtaketh thee"
"three days' pestilence"
"three days the sword of the LORD, even the pestilence"
[not preset]
"and the angel of the LORD destroying throughout all the coasts of Israel"
"now advise, and see"
"Now therefore advise thyself"
"what answer I shall return"
"what word I shall bring again"
Choices worded as questions
Choices worded as a list (not questions)
In other words, for 100% accuracy and inerrancy, did Gad say "they" or "sword of thine enemies"? Did he mention "destroy" in the second choice or not? Did he say "pestilence" or "sword of the LORD, even the pestilence"? Did he mention the "angel of the LORD destroying" in the third choice or not? Where the choices given as questions or not?
Did Gad say "pursue" or "overtake"? There is a big difference in meaning between those two words - one can be overtaken without being pursued, and one can be pursued without being overtaken.
If the KJV-only position is about the exact "words" of God, which "words" were really spoken by Gad in this event? I guess I'm pointing this out to make you think: what really is "inerrancy"? I realize this is "straining at (out?) a gnat", but it at least shows that differing words can be used and still be considered "true". Why can the KJV and Hebrew use differing words to tell of an event but another version is considered "in error" when it does the same thing?

www.kjv-only.com/2sam24_13.html

Kesimpulan:
2 Samuel 24:13 tetap “Tujuh Tahun” dan memang berbeda dengan I Tawarikh 21:12 tertulis ”Tiga Tahun”.

Saya dan semua orang Kristen yg memegang Naskah MT (Masoretik Teks untuk PL, bahasa Ibrani) dan TR (Textus Receptus untuk PB, bahasa Yunani) sebagai Naskah yg dipelihara Allah tanpa salah, maka mengacu yg benar tetap ”Tujuh tahun” pada ayat 2 Samuel 24:13 sesuai dengan Naskah asli MT (Naskah Asli Bhs Ibrani: Masoretik Teks), Alkitab King James Version (KJV), NASB (New American Standard Bible), NKJV (New King James Version), ASV (American Standard Version), CEV (Contemporary English Version) 1995, ERV, American KJV, DRB, Darby Bible Translation, Webster Bible Translation, World English Bible, Young's Literal Translation, GOD'S WORLD TRANSLATION, Jewish Publication Society Tanakh, Alkitab LAI Terjemahan Lama (LAI-TL), Alkitab Indonesia ILT (Indonesian Literal Translation), Alkitab Indonesia (IMTV=Indonesian Majority Text Version), dan ”tiga tahun” pada 1 Tawarikh 21:12

Ada yang menjawab seperti ini:
The Hebrew text of 2 Samuel 24:13 reads “seven years of famine,” but the Greek translation of this text (the Septuagint) and the parallel text in 1 Chronicles 21:12 reads “three years of famine.” I am inclined to accept the “three year” option, especially since there seems to be some emphasis on the number three here: three years of famine; three months of defeat at the hand of their enemies; three days of pestilence at the hand of God.

Naskah asli Ibrani untuk ayat 2 Samuel 24:13 menulis, ”Tujuh tahun kelaparan” tetapi terjemahan Yunani dari Teks PL Ibrani (disebut Septuaginta) dan paralel dengan teks 1 Tawarikh 21:12 menulis ”Tiga tahun kelaparan.” Saya memutuskan untuk menerima pilihan ”Tiga Tahun,” khusunya sejak kelihatan disana ada beberapa penekanan angka pada angka tiga di sini: tiga tahun kelaparan, tiga bulan melarikan diri dari musuh, tiga hari penyakit sampar dari Tuhan.

Untuk jawaban ini, perlu kita diketahui Septuaginta adalah teks terjemahan dari Naskah asli Ibrani PL, Jadi Septuaginta bukanlah teks superior dari Naskah Ibrani. Jadi kita tetap berpedoman pada Naskah asli Ibrani PL (Masoretik Teks), yang menulis “Tujuh tahun kelaparan”

Jadi, kami dan banyak sarjana Alkitab memilih jawaban di bawah ini:

Answering The Atheist

October 7, 2001 / Volume 1, Issue 31
THE ATHEIST'S COMPLAINT:
How many years of famine were threatened? In 2 Samuel 24:13, we read, "So God came to David and told him, and said unto him, shall seven years of famine come unto thee in thy land? or will thou flee three months before thine enemies, while they pursue thee?..." However, 1 Chronicles 21:11 reads, "So God came to David, and said unto him, Thus saith the LORD, choose thee, either three years of famine or three months to be destroyed before thy foes, while that the sword of thine enemies overtaketh thee..."
Is there a contradiction?
RESPONSE:
Certainly, with a hurried look, 2 Samuel 24:13 and 1 Chronicles 21:11 seem to be contradictory. However, I would suggest that the questioner slow down and read the Scriptures more carefully (and in context), for these texts are in full agreement.
David's choices of punishment for his sin before the Lord were:
- 1 - three years of famine;
- 2 - three months to be destroyed before his enemies;
- 3 - three days of pestilence in the land.
In the 1 Chronicles 21 account, these three choices are given to David. Notice, that the latter two choices are parallel in the 2 Samuel 24 account, but the first choice is different, both in the number of years mentioned and in the way the punishment is worded. The Lord there does not invite David to chose 3 years of famine, but rather asks, "...shall seven years of famine come unto thee in thy land?"

Dalam I Taw 21:11, ada tiga pilihan diberikan kepada Daud. Perlu diperhatikan, bahwa 2 pilihan terakhir sama dengan ayat 2 Samuel 24, namun pilihan pertama berbeda, baik dalam jumlah tahun yang disebutkan dan juga cara hukuman di tulis. Tuhan disini tidak mengundang Daud untuk memilih 3 tahun kelaparan, namun malah bertanya, “…akan datang tujuh tahun kelaparan kepadamu di negerimu?”

In 2 Samuel 21:1, it is written, "...there was a famine in the days of David three years, year after year; and David enquired of the LORD. And the LORD answered, It is for Saul, and for his bloody house, because he slew the Gibeonites." Three years of famine had already occurred. Add to this the current year (the time which passed from 2 Samuel 21:1 to 2 Samuel 24:13), and then the three years of famine as recorded in 1 Chronicles 21:11, and you have seven years of famine.

Dalam 2 Samuel 21:1, tertulis, “Semasa Daud memerintah, terjadilah bala kelaparan hebat yang berlangsung selama tiga tahun penuh. Lalu Daud meminta petunjuk TUHAN mengenai hal itu, dan TUHAN berkata, "Bala kelaparan itu ialah karena kesalahan Saul dan keluarganya, mereka telah membunuh orang-orang Gibeon."

Tiga tahun kelaparan sudah terjadi. Tambahkan tahun berjalan (waktu dari 2 Samuel 21:1 sampai 2 Samuel 24:13), dan kemudian tiga tahun kelaparan yang tercatat di I Tawarikh 21:11, dan akan kita dapatkan tujuh tahun kelaparan.

There is no contradiction.
Jadi, Tidak ada kontradiksi.

Sumber dari: http://www.lookinguntojesus.net/ata20011007.htm

Demikian jawaban dan klarifikasi atas pertanyaan.


http://dedewijaya.blogspot.com

Jika anda diberkati dengan artikel2 tersebut, jadikanlah blog diatas link di web atau blogger anda. Terimakasih. GBU

If you are cheerful, you feel good; if you are sad, you hurt all over
Happiness makes you smile; sorrow can crush you

Mari bergabung bersama milist : diskusi-alkitab@googlegroups.com

Rabu, Mei 14, 2008

SERI DOKTRIN ALKITAB ALKITABIAH (Bag 2)

Gulungan di Laut Mati (Dead Sea Scroll)

Pada tahun 1947 dunia kekristenan dikejutkan dengan ditemukannya Dead Sea Scroll (DSS). Seorang bocah Baduin yang berusaha mencari dombanya yang hilang tanpa sengaja memasuki gua di Wadi Qumran, sebelah Barat Daya laut Mati. Di dalam gua yang gelap, ia tersandung pada gulungan benda yang panjangnya 2 kaki dan tebalnya 10 inci. Para gembala itu menjualnya ke toko antik di Bethlehem yang membeli beberapa gulung, dan seorang Archbishop dari gereja Orthodox Syria membeli sisanya. Beberapa orang ahli menelitinya dan menyimpulkan bahwa itu tidak ada nilainya. Tetapi E.L Sukenik, dari Hebrew University di Yerusalem, mengenal keunikan gulungan itu dan membeli tiga gulungan. Gulungan lain dibawa ke American School of Oriental Research, diteliti oleh J.C Trever dan W.F. Albright, seorang arkeolog Alkitab, akhirnya pada tahun 1948 menyadari bahwa itu adalah gulungan kitab-kitab PL.

Pada akhit tahun 1951 kembali di sekitar gua-gua laut Mati, yaitu di gua Wadi Murabba’at ditemukan lagi gulungan-gulungan lain diantaranya juga terdapat gulungan Teks masoretik. Pada tahun 1952 dilakukan eksplorasi yang lebih intensif dan di gua yang terletak di sebelah Barat Khirbet Qumran ditemukan hampir keseluruhan kitab PL kecuali kitab Ester.

SERI DOKTRIN ALKITAB ALKITABIAH (Bag 1)

ALKITAB BAHASA ASLI
Tiap-tiap orang Kristen pasti mempunyai rasa ingin tahu (curiosity) tentang Alkitab bahasa asli. Terlebih ketika Alkitab terjemahan tidak menyelesaikan persoalan, maka timbul pikiran untuk melihat Alkitab dalam bahasa aslinya. Alkitab bahasa asli adalah otoritas puncak (final Authority) untuk menyelesaikan segala macam perdebatan teologia maupun percekcokan doctrinal. Semua Alkitab terjemahan hanya memuat kebenaran secara konsep (conceptual) bukan kebenaran secara arti kata dan tata bahasa (literal and grammatical). Oleh sebab itu jika melakukan pembahasan Alkitab secara etimologi, maka harus kembali ke Alkitab bahas asli karena peralihan bahasa menyebabkan perubahan bentuk kata dan juga susunan kalimat.

Patut disadari bahwa ada perbedaan antara satu bahasa dengan yang lain. Ada bahasa yang banyak vocabulary-nya dan ada bahasa yang sedikit. Kita tidak mengatakan bahwa Alkitab hasil terjemahan akan salah atau kurang bermutu, tetapi hanya ada kekurangan dalam menyampaikan semua ide penulis. Misalnya (agape) dan (fileo) dalam bahasa Indonesia kedua-duanya tetap diterjemahkan dengan kata “kasih” saja.