Tampilkan postingan dengan label MUSIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MUSIK. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Juli 13, 2013

Berita Bulan MEI 2013

KATAK YANG LUAR BIASA(Berita Mingguan GITS 4 Mei 2013, sumber: www.wayoflife.org)
Berikut ini dari Creation Moments, 18 April 2013: "Satu jenis katak air Australia yang langka memiliki salah satu sistem yang paling luar biasa untuk membesarkan anak-anaknya di dunia binatang. Jika makhluk lain mencoba metode yang sama, pastilah anak-anaknya akan mati. Katak ini adalah suatu jenis katak Australia yang begitu langka, sehingga ia hanya memiliki nama Latin. Begitu telur-telur katak ini keluar dan dibuahi, katak betina akan menelan telur-telur itu. Kadang-kadang ia akan menunggu hingga telur-telur itu mulai berkembang. Namun, begitu anak-anaknya itu berada di perutnya, ia tidak akan makan lagi hingga delapan minggu. Setelah delapan minggu, anak-anaknya yang kecil akan keluar dari mulutnya. Mengapakah katak-katak muda itu tidak tercerna di dalam perut ibu mereka?

Begitu anak-anaknya berada di perutnya, mereka mulai mengeluarkan jaringan halus zat-zat kimia dari mulut mereka. Di antara zat-zat kimia yang dikeluarkan ini, salah satunya akan membuat perut sang ibu berhenti memproduksi asam. Dengan kata lain, katak-katak muda itu mengubah perut ibu mereka, dari suatu organ untuk mencerna makanan, menjadi suatu tempat bayi yang nyaman dan terlindungi. Para ilmuwan sangat kagum akan sistem katak ini karena tidak ada makhluk lain di alam yang mampu melakukan ini."

Kamis, Januari 26, 2012

Revolusi Ibadah dan Musik Gereja

Hazrat Inayat Khan dalam bukunya, "Dimensi Mistik Musik dan Bunyi" mengangkat pandangan para pemikir Timur, bahwa ada empat perkara yang memabukkan. Pertama, mabuk kecantikan, masa muda dan kekuatan. Kedua, mabuk kekayaan. Ketiga, mabuk kekuasaan, kewenangan, dan perintah. Dan yang keempat, mabuk pengetahuan, belajar mengejar ilmu setinggi mungkin. Tetapi, keempat hal yang memabukkan ini musnah seperti bintang di hadapan matahari karena adanya mabuk musik. Alasannya, karena musik menyentuh bagian terdalam dari diri manusia. 

Untuk membuktikan hal itu, diangkatnya kisah syair Hafiz dari Persia, bahwa, ketika Tuhan menciptakan tubuh, lalu roh diminta untuk masuk ke dalam tubuhnya, tetapi roh orang itu menolak. Maka Tuhan memerintahkan para malaikat menyanyi, dan ketika mendengarkan para malaikat menyanyi, roh masuk ke dalam tubuh yang ia takutkan menjadi sebuah penjara. Hal ini menunjukkan, roh manusia gampang diperdaya oleh musik. Sama halnya dengan Confusius (551-479 BC) menghubungkan musik dengan hati manusia dan dunia kekal. Demikian juga Plato (427-347 BC) menekankan pentingnya pendidikan melalui musik, karena "Irama dan harmoni meresapi jiwa manusia secara kuat." 

Konon hal ini bukan rahasia lagi, para ahli kebatinan dari berbagai aliran dan zaman paling menyukai musik, sebab musik dianggap sebagai suatu kekuatan dan bahkan menjadi pusat kultus atau upacara ritual mereka. Karena itulah para Sufi menganggap musik sebagai sumber meditasi. Kaitan musik dengan dunia rohani bukanlah suatu hal yang baru, juga bukan hanya dimonopoli oleh orang Kristen. Jika demikian, dimana letak perbedaan musik gereja, musik dunia dan musik kepercayaan-kepercayaan agama lainnya? 

Senin, Januari 03, 2011

DARLENE ZSCHECH AND CONTEMPORARY PRAISE MUSIC

Darlene Zschech (pronounced check) is a prominent voice in the contemporary praise movement. For 25 years she was “worship pastor” at Hills Christian Life Centre, Sydney, Australia, and has published many popular worship albums under the Hillsong Music label. She is also associated with Integrity Music and the Hosanna label. In 2010, Darlene and her husband became senior pastors of Church Unlimited, another Pentecostal church near Sydney, but she continues to be involved in music projects with Hillsong.

The co-pastors of Hills Christian Life Centre are Brian Houston and his wife, Bobbie. The church features a 12-piece rock band with five back-up singers and a positive prosperity message. In 2002, the church took in $10 million in tithes alone, not to speak of the sale of music and materials. Brian Houston’s book “You Need More Money” teaches the way to prosperity through giving and “kingdom living.” Houston says, “If you believe in Jesus, He will reward you here as well [as in Heaven]” (“The Lord's Profits,” Sydney Morning Herald, January 30, 2003). His wife and co-pastor Bobbie has a tape set titled “Kingdom Women Love Sex,” which doubtless is a top seller. (When I inquired about it at the Hills Christian Life Centre bookstore in October 2004, I learned that the name has been changed to “Kingdom Women Love & Value Their Sexuality.”

Selasa, Oktober 19, 2010

CONTEMPORARY MUSIC BRINGS GREAT CHANGES TO CHURCHES

Enlarged September 30, 2010 (first published August 11, 2003) (David Cloud, Fundamental Baptist Information Service, P.O. Box 610368, Port Huron, MI 48061, 866-295-4143, fbns@wayoflife.org)

Contemporary Christian Worship music is spreading across all denominational lines, and when it enters a church it brings more than a change in music. It brings a worldly philosophy of Christianity and a gradual lowering of all standards of morality and doctrine.

The late Gordon Sears, who had an evangelistic music ministry for many years and ministered with Rudy Atwood, was saddened before his death by the dramatic change that was occurring in many fundamental Baptist churches. He warned: “When the standard of music is lowered, then the standard of dress is also lowered. When the standard of dress is lowered, then the standard of conduct is also lowered. When the standard of conduct is lowered, then the sense of value in God’s truth is lowered.”


Minggu, Mei 30, 2010

The Character and Philosophy of Rock Music

When I was converted in 1973 from a life of foolish rebellion, one of the first things the Lord dealt with me about was my music. I began listening to rock in 1959 and had lived and breathed it for many years. I started on 50s rock and country rock-a-billy and journeyed through 60s rock and part way through 70s rock before I was saved. When the Beatles appeared on the Ed Sullivan Show, I was in the 9th grade. The year I graduated from high school was “the summer of love.” When I was drafted into the Army two years later, the Woodstock movie was sweeping the land. During the year and a half I spent in Vietnam, I was stationed at Tan Son Nhut Airbase outside of Saigon. I was a clerk in a military police unit attached to MACV headquarters, the control center for the entire South Vietnam U.S. military operation. We lived at the R&R out-processing center, and the unit’s job was to keep drugs from leaving the country on soldiers bound for R&R and in personnel containers being shipped to the States.

Rabu, Februari 17, 2010

MUSIK: SALAH SATU JENIS RAGI DI TANGAN IBLIS

Musik Duniawi Dalam Gereja Rohani

Banyak orang tidak sadar bahwa Iblis sedang berusaha keras menyusupkan hal-hal duniawi ke dalam gereja, agar gereja menjadi duniawi. Lebih banyak lagi yang tidak sadar bahwa Iblis berupaya memasukkan musik duniawi ke dalam gereja. Dan ternyata ia sangat sukses, karena orang Kristen tidak peduli tentang hal ini. Ketika Iblis berhasil memasukkan musik yang duniawi ke dalam gereja, ia akan perlahan-lahan mengubah gereja itu menjadi gereja duniawi.

Salah satu alasan iblis begitu sukses menyusup masuk ke dalam gereja ialah perangkapnya yang sangat hebat, dan banyak orang Kristen yang masuk dalam perangkap itu. Iblis sengaja menghembuskan paham bahwa “musik adalah netral/amoral.”

Artinya musik itu tidak baik dan juga tidak buruk, atau dengan kata lain “tidak punya nilai moral.” Yang membuatnya baik atau buruk ialah pemakainya. Kata mereka bahwa itu hanya pada kata-katanya, isi hati penyanyinya, dsb. Ini adalah kebohongan yang ditelan bulat-bulat oleh kebanyakan orang Kristen.

Banyak orang suka pada konsep ini, karena dengan demikian ia dapat mendengarkan musik apapun yang ia sukai, tanpa perlu takut apakah musik yang ia sukai baik atau buruk secara moral. Dengan meluasnya konsep ini, musik-musik yang bersifat duniawi masuk dengan leluasa ke dalam gereja, dibawah samaran kata-kata yang rohani. Gereja menerima begitu saja lagu-lagu yang kata-katanya penuh dengan “Yesus”, “Haleluya”, “Bapa”, dll., namun bentuk alunan musiknya bersifat kedagingan.

Musik Jahat Vs. Baik

Musik tidaklah netral! Penganut paham “musik adalah netral” mengatakan bahwa nada dan not, seperti do re mi, tidak baik ataupun jahat secara moral. Memang demikian, tetapi seperti huruf “b” dan “o” adalah netral, tetapi ketika dirangkai dengan huruf lain menjadi kata “b-o-d-o-h”, tiba-tiba rangkaian huruf itu mempunyai makna dan konotasi. Musik juga demikian. Do re mi adalah not-not, balok-balok bangunan, yang ketika dirangkai menjadi melodi, kemudian diberi irama menjadi musik yang mempunyai makna dan konotasi.

Minggu, Januari 31, 2010

Southern Gospel Music

Updated January 28, 2009 (first published December 10, 1998) (David Cloud, Fundamental Baptist Information Service, P.O. Box 610368, Port Huron, MI 48061, 866-295-4143, fbns@wayoflife.org)

Southern gospel is not a single style of music, but is a classification for a broad range of harmonizing, country-tinged Christian music that originated in the southeastern part of the United States. Some Southern gospel is lovely and spiritual and seeks not to entertain the flesh but to edify the spirit. (There are also quartets that are not Southern gospel in style; an example is the Old Fashioned Revival Hour Quartet that was featured on Charles Fuller’s radio program.) We praise the Lord for all Christian music, Southern or otherwise, which doesn’t sound like the world, which has scriptural lyrics, which seeks solely to glorify Jesus Christ and edify the saints, and which is produced by faithful Christians. Sadly, though, much of the Southern gospel incorporates worldly pop, country, ragtime, jazz, boogie-woogie, and rock rhythms, and is oriented toward entertainment. It is the latter that is closely akin to Contemporary Christian Music. As a matter of fact, commercial Southern gospel today is one of the branches of the larger CCM world.

I grew up with Southern gospel. The Southern Baptist churches my mom and dad attended in Florida would have all-day sings on some Sundays. Following the morning service, we would have a glorious “dinner on the ground,” featuring tables piled high with the tastiest dishes the church ladies could concoct. The kids would romp around as the tables were prepared, then the pastor would pray and everyone would gorge himself on whichever foods suited their fancy. The variety was incredible. When the meal was finished and the tables cleared, everyone gathered back in the church auditorium for the sing. There would be some congregational singing and then the quartets would start up. Usually these were local groups, but sometimes a professional group would be available. I always liked the congregational singing best.

HISTORY OF SOUTHERN GOSPEL

As we will see, Southern gospel brought four significant changes to Christian music in North America in the 1920s, ‘30s, ‘40s and ‘50s. (1) They commercialized it. (2) They took it out of the churches and put it into hands of publishers and promoters. (3) They jazzed it up with worldly styles. (4) They turned it into entertainment. Gospel music publisher Harper and Associates advertised their Southern gospel music as “Family entertainment with a message, entertainment that a Fair or civic organization can sponsor and not feel like they’re getting too churchy.” This sounds exactly like the Contemporary Christian Music approach. The Stamps Quartet of the 1930s “not only sang the most popular gospel songs of the day, but gave an all-around entertainment program” (Bob Terrell, The Music Men, p. 39).


Senin, November 09, 2009

GEREJA ALKITABIAH DAN MUSIKNYA

Pembahasan hari ini tentang mendengarkan musik yang sehat. Dan topik ini akan dibagi menjadi 2 bagian. Pada edisi ini kita akan membahas musik yang sehat dan yang tidak sehat. Apakah efeknya terhadap kita? Bagaimana kita mengidentifikasi musik yang tidak sehat itu? Dan juga bagaimana mengidentifikasi musik yang sehat? Kita akan melihat manakah musik yang sehat dan yang tidak sehat.

Mari kita memulainya dari pertanyaan: Memangnya ada musik yang sehat dan yang tidak sehat? Bukankah semua musik itu sebenarnya sama saja? Bukankah musik itu netral? Mungkin banyak orang berpikir bahwa musik itu netral. Bahwa nada C di musik yang satu itu sama sehatnya dengan nada C di musik yang lain. Bahwa musik itu sehat atau tidak sehat sangat tergantung apakah orang yang mendengarkannya suka atau tidak suka lagu itu. Kalau dia tidak suka dengan lagu itu,musik itu tidak baik, tetapi sebaliknya jika dia suka dengan musik itu dia akan merasa bahwa musik itu sehat. Tetapi benarkah demikian? Sebenarnya musik adalah suatu bahasa non-verbal, bahasa emosi, suatu bahasa yang me-nyampaikan dan mempengaruhi emosi dan bukan hanya mempengaruhi emosi, bahkan juga dapat mempengaruhi kita secara fisik.

Sebelum ini saya sudah melakukan riset melalui internet dan kebanyakan penelitian di luar negeri menyatakan bahwa musik itu dapat mempengaruhi kita baik itu secara emosional maupun fisik. Dan pembuat film di Hollywood pun sebenarnya sangat mengerti prinsip ini bahwa musik adalah suatu alat yang demikian kuat untuk mempengaruhi para penonton sehingga musik dalam satu film itu menempati suatu prioritas yang cukup tinggi dan merupakan satu bagian yang penting dalam film itu. Karena selain suatu film menggam-barkan adegan-adegan yang terdiri dari gambar dan juga kata-kata, musik background-nya sangat mempengaruhi para penonton. Musik dalam satu film bisa membuat para ibu yang menonton telenovela menangis tersedu-sedu atau juga bisa menciptakan keadaan tegang atau bisa memberikan suatu perasaan happy atau memberikan perasaan sedih.

Musik adalah alat yang begitu kuat untuk mempengaruhi para pendengar. Oleh sebab itu kita tahu bahwa musik itu adalah sesuatu yang demikian mempengaruhi kita maka ada baiknya kita mempelajari bagaimana efek-efek atau pengaruh dari musik itu terhadap diri kita.

Saya juga mengerti jika beberapa pembaca yang bertanya-tanya, mengapa Stasiun Radio Berita Klasik (RBK) suka sekali memperdengarkan lagu-lagu klasik dan bukannya lagu-lagu seperti Rock & Roll atau Heavy Metal, Rap, dsb.

Ini juga yang mungkin akan kita bahas, karena ini menyangkut selera, kebiasaan, kesukaan. Ini mungkin suatu masalah yang cukup sensitif. Namun demikian, apa yang akan saya katakan ini tidak ada maksud untuk menjelekkan siapa-siapa, atau kelompok musik manapun, tetapi lebih bertujuan untuk memberikan suatu wacana yang dapat dipikirkan bagi para pembaca sekalian dan supaya para pembaca dapat membuat keputusan berdasarkan informasi yang saya berikan. Tentunya saya tidak dapat memaksa siapapun juga untuk memiliki kesukaan2 yang sama dengan saya, memaksa untuk meninggalkan kebiasaannya, tetapi silakan para pendengar sendiri yang menilainya dan mencernanya dan kemudian mengambil keputusan sendiri berdasarkan informasi ini. Ini adalah informasi yang merefleksikan pengalaman dan juga penelitian yang dilakukan oleh berbagai orang yang kompeten dalam bidang musik.

Perbandingan antara Heavy Metal dan musik klasik karya Mozart (di radio diperdengarkan). Klip musik Heavy metal menggambarkan suasana yang hingar bingar yang menyampaikan suatu ketegangan, sedangkan klip musik klasik oleh Mozart menggambarkan suasana yang riang. Tanpa perlu dikatakan, efek yang dihasilkan oleh kedua musik ini bukanlah oleh kata-kata musik itu, karena memang tidak ada kata-katanya, tetapi lebih pada sifat dari musik itu sendiri. Jadi musik bisa menyampaikan suatu perasaan tegang atau riang. Seperti yang saya katakan tadi, musik adalah alat yang kuat mempengaruhi kita, dia dapat mempengaruhi tubuh kita. Musik tertentu akan memberikan efek tertentu dan musik lain akan memberikan efek yang lain juga.

Bagaimana detak jantung anda ketika mendengar musik Rock & Roll? Apakah detak jantung anda menjadi melambat, tenang ataukah sebaliknya jantung anda menjadi berdetup-detup kencang? Saya kira kesannya akan sama, kalau kita mendengarkan musik-musik seperti itu, misalnya Heavy metal atau Hard Rock, tubuh kita merespon dengan mempercepat detak jantung, dan juga menghasilkan adrenalin. Jadi, musik tidak netral, Musik mempengaruhi tubuh. Dan ada eksperimen yang dilakukan oleh Dorothy Retalach. Dorothy Retalach mempublikasikan sebuah buku berjudul The Sound of Music at Plants (Bunyi Musik pada Tumbuhan), dan di dalam bukunya dia menjelaskan tentang eksperimen-eksperiman yang dia lakukan di Colorado, Woman's College dan dalam eksperimen itu dia mendapatkan suatu hasil yang sama sekali tidak dia duga sebelumnya. Dalam eksperimennya yang pertama, dia menggunakan tiga ruangan yang berisi tanaman. Di ruangan yang pertama, dia memainkan suatu nada yang konstan selama 8 jam. Di ruangan yang kedua, dia memainkan nada yang sama selama 3 jam secara terputus-putus. Dan di ruangan ketiga, dia tidak memainkan nada apapun juga. Di dalam ruangan yang pertama tanaman-tanaman yang mendengarkan nada-nada yang konstan selama 8 jam sehari mati dalam waktu 14 hari. Dan tanaman ruangan kedua ternyata tumbuh sangat subur dan sehat bahkan lebih dari tanaman-tanaman yang tidak diperdengarkan nada sama sekali. Hasil ini sangat mirip dengan eksperimen yang dulu pernah dilakukan oleh perusahaan Mozart di tahun 1940-an untuk menentukan efek dari musik pada para pekerja pabrik.

Ketika musik itu diperdengarkan secara non-stop dan terus-menerus, para pekerja sepertinya lebih capek dan kurang produktif. Namun sebaliknya kalau musik itu diperdengarkan hanya pada saat-saat tertentu saja, dengan ada interval-intervalnya, para pekerja lebih produktif dan sigap daripada apabila tidak ada musik sama sekali.

Pada eksperimen berikutnya, Dorothy Retalach menggunakan dua ruangan. Di masing-masing ruangan dia taruh sebuah radio. Radio pertama memperdengarkan musik rock yang konstan selama 3 jam sehari dan di ruangan yang lain radio kedua memperdengarkan musik-musik yang kalem, lembut dan tenang. Dalam beberapa hari saja sudah terlihat perbedaan yang sangat mencolok. Dalam 5 hari, tanaman-tanaman yang mendengarkan musik-musik yang tenang dan kalem tumbuh dengan subur dan batang-batangnya mulai membengkok ke arah radio tersebut.

Namun sebaliknya di dalam ruangan lain yang mendengarkan stasiun rock pertumbuhannya sangat terhambat dan setengah dari daun-daunnya terlalu kecil. Setelah 14 hari, tanaman-tanaman yang mendengarkan musik yang tenang dan kalem ternyata sudah makin berkembang, sehat, hijau. Namun sebaliknya dengan yang diperdengarkan lagu rock, ternyata semua tanaman di situ makin lama makin tidak sehat, daunnya tidak hijau lagi dan batang-batangnya malah membengkok, menjauhi radio itu. Melalui eksperimen tersebut kita bisa melihat bahwa memang musik rock memiliki efek, dan ternyata efeknya negatif. Bahkan ada efek terhadap tumbuh-tumbuhan yang menurut kita tidak bisa mendengar dan merasa, apalagi manusia yang memiliki pikiran dan otak yang begitu kompleks yang bisa mendengarkan dan begitu mudah terpenga-ruh oleh musik. Bukankah efek-efeknya akan lebih terlihat dan lebih jelas bagi manusia daripada pada tanaman?

Menarik sekali eksperimen-eksperimen yang dilakukan oleh Ibu Dorothy Retalam ini. Dan dari eksperimen-eksperimen ini sebenarnya mengkonfirmasi pandangan bahwa memang musik-musik rock, terutama musik rock yang memiliki beat yang keras, hard rock, memiliki efek yang negatif terhadap tanaman dan juga manusia. Tetapi apakah yang salah dari musik hard rock itu? Apakah hanya karena kata-katanya? Sebenarnya permasalahannya bukan hanya pada kata-katanya saja, namun lebih kepada beat-nya.

Sebuah musik mempunyai 3 komponen dasar yaitu melodi, harmoni dan ritme / beat. Ketiga komponen ini merupakan dasar dari musik. Dan komponen yang ketiga yaitu ritme merupakan komponen musik yang berkorespondensi dengan bagian fisik manusia. Jadi, beat itu mempengaruhi tubuh manusia dan bisa mempengaruhi detak jantung kita. Apabila irama dari lagu itu memiliki beat yang cepat dan keras, tentu akan membuat detak jantung kita semakin cepat. Tetapi beat yang kalem dan lembut, itu justru akan memberikan efek yang sebaliknya yaitu menenangkan kita.

Lalu apanya yang bermasalah dengan hard rock itu? Masalahnya adalah pada beat-nya. Di dalam sebuah musik yang sehat seharusnya terjadi keseimbangan antara ketiga komponen tersebut yaitu harmoni, melodi, ritme. Tetapi yang kita dengarkan dari musik rock yang keras itu ada suatu ketimpangan yaitu bahwa musik hard rock memiliki beat yang sangat dominan dibandingkan melodi dan harmoninya. Kita masih ingat contoh klip musik tadi dimana yang terdengar adalah beat-nya yang mendentum dan komponen itu sedemikian dominannya sehingga komponen itu menutupi komponen yang lain yaitu harmoni dan melodinya. Dan beberapa eksperimen menunjukkan bahwa jenis musik yang semacam ini justru bukannya membuat tanaman menjadi sehat dan hijau, melainkan menjadi mati. Dan bukan hanya itu saja, musik rock seperti ini juga dapat menyebabkan ketagihan. Anda tidak percaya? Anda bisa membuat eksperimen sendiri di rumah.

Mungkin apabila anda gemar mendengarkan musik yang seperti ini, anda sudah sering mendengarkannya berjam-jam dalam satu hari. Cobalah anda buat eksperimen: Putuskan semua jenis musik ini selama 30 hari. Perhatikan apa yang akan terjadi! Orang yang sudah terbiasa dengan musik semacam ini jikalau dia putus secara tiba-tiba maka dia akan mengalami gejala-gejala sama dengan orang-orang yang mengalami gejala putus obat. Mengapa bisa demikian? Karena beat yang keras itu sebenarnya membangkitkan respon dalam tubuh kita, tubuh kita merasa tegang sehingga tubuh kita menghasilkan adrenalin, suatu zat yang berfungsi untuk merangsang saraf simpatis dalam tubuh kita dan sistem saraf simpatis inilah yang berfungsi mengatur respon-respon di dalam tubuh kita yang berkaitan dengan adanya bahaya. Jadi contohnya kalau kita sedang menghadapi satu tekanan atau bahaya maka tubuh kita akan merespon dengan menghasilkan lebih banyak adrenalin yaitu untuk membuat otot-otot kita lebih tegang, siap untuk digunakan misalnya untuk lari dan juga pupil mata kita akan membesar, dan juga sistem pencernaan kita akan ditekan, kita akan merasa lebih siap dan sigap, karena sistem saraf simpatis mengontrol apa yang kita sebut sebagai sistem fight or flee (bertarung atau kabur).

Adrenalin inilah yang membuat jantung kita berdetak dengan cepat, adrenalin inilah yang membuat perasaan senang seperti nge-fly. Adrenalinlah yang dihasilkan oleh tubuh manusia ketika seseorang naik roller coaster, ketika seseorang seolah-olah sedang jatuh, sehingga orang itu merasa seru sekali. Dan adrenalin ini bisa menimbulkan suatu perasaan senang. Itulah sebabnya mengapa laki-laki dikenal suka mengebut atau bertinju, karena dalam melakukan hal seperti itu adrenalin dalam tubuh kita mengalir sedemikian derasnya sehingga memberikan suatu perasaan enak pada diri kita. Dalam kasus mendengarkan musik rock & roll ini, ia juga memproduksi adrenalin. Dan jika seseorang sudah terbiasa mendengarkan musik yang keras berjam-jam sehari maka tubuhnya akan terbiasa memproduksi adrenalin dalam jumlah yang cukup tinggi dan tubuhnya akan terbiasa pada level adrenalin yang tinggi. Sehingga apa yang terjadi jika tiba-tiba musik itu diberhentikan? Tentunya level adrenalinnya akan turun dan bagi tubuhnya yang sudah terbiasa dengan level adrenalin yang tinggi, kehilangan adrenalin secara tiba-tiba akan membuatnya merasa lemas atau pusing, sulit berkonsentasi, suatu gejala yang mirip dengan orang yang hampir kehabisan efek obatnya. Anda boleh coba sendiri di rumah.

Musik rock menyebabkan efek yang sama seperti orang yang ketagihan dengan obat-obat candu. Dan seolah-olah tidak cukup saja segala keburukan dari musik hard rock itu. ternyata ada satu lagi karakteristik lain dari musik hard rock ini yang merusak tubuh kita yaitu volume atau besarnya suara dari musik rock itu. Biasanya dalam konser-konser rock kita mendengar dentuman yang begitu keras, sedemikian kerasnya hingga mencapai 130-160 desibel. Ini sebenarnya adalah suara yang luar biasa kerasnya. Kalau kita bandingkan, bahkan pesawat supersonik pun pada saat dia take off hanya mencapai tingkat suara 130 db sedangkan kebanyakan konser rock mencapai 140 db. Dan 130 db itu disebut sebagai ambang batas rasa sakit bagi telinga kita. Jadi jika kita mendengarkan suara yang berkekuatan sekitar 130 db maka kita akan merasa sakit, bayangkan orang-orang yang berdiri di depan speaker dari suatu konser rock! Betapa kerasnya suara itu. Kalau kita percaya bahwa tubuh manusia diciptakan oleh Allah yang Maha Kuasa dan ternyata Allah yang Maha Kuasa telah memberikan kita suatu gendang telinga yang mampu menahan suara hingga kira-kira 130 db baru dia akan merasakan sakit, tentunya sangat logis kalau kita berpikir bahwa sang Pencipta memang mendesain manusia tidak mendengarkan musik yang lebih keras daripada itu, sehingga Dia menciptakan telinga manusia yang mampu menahan volume sekeras itu tanpa merasakan sakit. Apabila seorang mendengarkan musik dan kemudian dia merasa sakit, itu merupakan suatu peringatan bagi tubuhnya bahwa itu sudah terlalu keras. Ada penelitian yang mengatakan bahwa mendengarkan suara yang lebih dari 150 db selama 15 menit akan menyebabkan kerusakan pendengaran yang permanen. Jadi, ditinjau dari sudut itu pun musik rock yang demikian keras itu merupakan musik yang tidak sehat bagi telinga kita. Namun sebenarnya permasa-lahan tidak berhenti di situ. Bukan hanya musik rock saja yang merupakan musik yang tidak sehat. Ada banyak jenis musik lain yang merupakan musik-musik yang tidak sehat.

Banyak gereja meninggalkan musik rohani yang sehat dan indah, mereka terseret oleh iblis ke dalam musik pop, rock, melalui tipuan kata-katanya yang tetap rohani. Tanpa mereka sadari mereka telah mengundang iblis ke dalam gereja, mempersilakan ia masuk melalui irama musik duniawi. Iblis terlalu cerdik bagi sebagian orang Kristen, sehingga ia begitu gampang menipu mereka. Dr. Suhento Liauw berkata, "jika irama musik di gereja anda tidak dapat dibedakan lagi dari irama musik dunia, maka kalau bukan dunia semakin rohani, sangat mungkin gereja anda semakin duniawi. (bersambung).

Artikel ini disalin dari siaran:
Radio Berita Klasik AM 828 Jabodetabek yang dibawakan oleh Ev. Andrew Liauw, S.Ked., M.Div. Beliau adalah putra bungsu Dr. Suhento Liauw, seorang Sarjana Kedokteran yang sedang menyelesaikan kedokteran umum sekaligus sedang menyelesaikan program M.Th. di GITS. Karena nilai bahasa Yunaninya mendekati sempurna, ia dipercaya mengajar bahasa Yunani sekalipun sedang belajar.

PEDANG ROH Edisi LIII (ke-53) Tahun XIII Oktober-November-Desember 2007