Kamis, Februari 04, 2010

EARLY BAPTISTS REQUIRED FAITHFUL CHURCH ATTENDANCE

Republished February 3, 2010 (first published July 10, 2001) (David Cloud, Fundamental Baptist Information Service, P.O. Box 610368, Port Huron, MI 48061, 866-295-4143, fbns@wayoflife.org) -

Church members today often display an amazingly cavalier attitude toward church attendance. It is not uncommon for churches that run 200 in attendance on Sunday mornings to have only half of that number back on Sunday night and even fewer for the mid-week service. Church membership was treated much more seriously in Baptist churches four hundred years ago.

The following is from Adam Taylor’s The History of the English General Baptists [London: 1818], Volume I:

The general Baptists of the 16th and 17th centuries so respected the nature and importance of assemblies for public worship that the wilful neglect of them was considered as disorderly conduct, which called for the censure of the church. A constant inspection was exercised over the attendance of the members: persons were appointed to take down the names of the absentees, and report them to the elders; and nothing but reasons of obvious importance were admitted as a sufficient apology for their non-attendance. When the societies grew numerous, the members were ranged into districts, according, to the proximity of their habitations: and proper persons appointed to superintend each district. If any member did not appear in his place, on the Lord’s-day, he was certain of a visit, in the course of the week, from one of the inspectors of the district, to call him to account for his absence. These regulations were rendered effectual, by being acted upon with steadiness, impartiality, and decision; and, for nearly a century, contributed much to the order and prosperity of the general baptist churches.

In 1655, an “Order” was made, by the general consent of the congregation at Fenstanton, that “if any member of this congregation shall absent himself from the assembly of the same congregation, upon the first day of the week, without manifesting a sufficient cause, he shall be looked upon as an offender, and proceeded with accordingly. At the same meeting, it was devised, that, if any member should, at any time, have any extraordinary occasion to hinder him from the assembly, he would certify the congregation of the same before hand, for the prevention of jealousy.” And, in 1658, the same society, after considering the case of a wife who had been kept back, by the threatenings of her husband, concluded “that, unless a person was restrained by force, it was no excuse for absenting himself from the assemblies of the congregation.” Resolutions of a similar purport are frequent in the records of these churches: and numbers of cases prove that they were constantly enforced.

Rabu, Februari 03, 2010

BAGAIMANA KALAU GEREJA DIBAKAR?

Pada tanggal 7 Januari 2010, dari jam 09.00 hingga 10.00, di Channel TV Discovery, menayangkan peliputan Hubungan Agama dan Kekerasan. Di saat penulis jeda sejenak dari menulis Pedang Roh ini penulis mengamati bahwa betul seperti yang disampaikan pembawa acara bahwa telah banyak korban manusia atas nama agama (Allah/Tuhan). Ditayangkan hasil penyelidikan Archeology tentang kekejaman dewa-dewi yang meminta persembahan manusia, bahkan bayi.

Memang pada zaman Perjanjian Lama, Jehovah demi menegakkan sebuah bangsa yang bertugas mengingatkan semua bangsa tentang janji Allah telah bertindak tegas. Dan hukum Taurat adalah satu-satunya hukum mapan tertulis pertama. Barang siapa yang melanggarnya, sebagaimana semua kitab hukum, maka sanksi akan dijatuhkan.

Kemudian Sang Juruselamat datang. Ia datang untuk menyelamatkan, bukan untuk menghukum. Itulah yang Dia katakan kepada perempuan yang tertangkap saat berbuat zinah. Yesus Kristus mengajar kepada pengikutNya untuk memberi pipi kiri jika ditampar pipi kanannya.

Lalu, bagaimanakah kalau gedung gereja kita dibakar? Apakah kita suruh mereka bakar juga rumah kita? Dari kedatanganNya sebagai Juruselamat hingga hari pengangkatan, murid-muridNya tidak iperbolehkan melakukan kekerasan atas namaNya, atau atas nama agama. Jangan membunuh orang atau bahkan tidak boleh melakukan apapun yang bersifat kekerasan atas nama Yesus seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang Kristen di masa lalu. Perang Salib itu sebuah kesalahan. Sama sekali tidak dibenarkan untuk berperang demi agama.

Tindakan itu pasti akan mencemarkan nilai agama. Gereja Katolik, Reformed, Anglikan, telah pernah melakukan kekerasan atas nama gereja. Sekali lagi itu adalah kesalahan. Kita berharap agar pemimpin masa kini mereka dapat menyadari kesalahan itu.

Sebaliknya ada kesalahan kebalikan dari para pemimpin mereka sekarang. Mereka malah melarang jemaatnya berjuang untuk kemerdekaan dan kebebasan. Padahal kemerdekaan adalah hak asasi setiap manusia. Siapapun yang kehilangan hak asasi manusia, akan masuk kategori bukan manusia.

Kita tidak boleh melakukan kekerasan atas nama agama. Tetapi kita boleh berjuang atas nama kemanusiaan dan kebebasan. Itulah yang dilakukan oleh Soekarno-Hatta dan Soedirman. Patrick Henry, pahlawan kemerdekaan USA, dengan seruannya yang sangat terkenal “give me liberty or give me death.” Maksudnya, daripada hidup terjajah, lebih baik mati saja. Konsep inilah yang ada di kepala semua perjuang kemerdekaan dari kutub Utara hingga Selatan termasuk di dalam kepala Soekarno-Hatta dan sederet nama pahlawan Indonesia.

Berkumpul bernyanyi dan berdoa adalah kegiatan yang tidak mengganggu siapapun. Apalagi jika tidak memasang loudspeaker di atas atap. Siapapun yang tidak bebas melakukan hal tersebut sama dengan belum merdeka.

Kita tidak boleh berbuat kekerasan, apalagi membunuh orang atas nama agama. Tindakan itu akan mencemarkan agama kita. Tetapi kita boleh bahkan harus melawan penindasan demi kemerdekaan dan kebebasan. Itu adalah hak asasi manusia. Di muka bumi ini tidak boleh ada penjajahan dalam bentuk apapun. Jika anda tidak bebas berkumpul di Minggu pagi untuk bernyanyi, itu tandanya anda belum merdeka. Artinya masih perlu melakukan perang kemerdekaan. George Washington, Soekarno, Soedirman, mereka semua membunuh orang demi kemerdekaan.

Kita sering mendengar pernyataan bahwa tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. Pernyataan ini, tentu masih perlu pembuktian. Orang Kristen adalah orang-orang yang cinta damai. Oleh sebab itu tidak boleh berinisiatif menyerang orang (Roma 12:18).

Kita mempercayakan keamanan dan keselamatan kita kepada negara. Dan untuk itulah maka kita membayar pajak. Tetapi jika negara tidak sanggup melindungi kita, tentu kita harus bertindak. Tidak ada hukum yang menghukum seseorang yang membunuh penjahat (perusak) yang masuk rumahnya (Kel.22:2).

Tuhan sama sekali tidak mengajar kita, ketika perampok masuk rumah dan memperkosa istri kita (pipi kanan), lalu kita suruh dia perkosa juga putri kita (pipi kiri).

Sekali lagi, orang Kristen tidak boleh membunuh bahkan tidak boleh memukul orang demi agama. Juga tidak boleh membunuh bahkan melakukan kekerasan atas alasan pribadi.

Tetapi demi mempertahankan diri, demi kemanusiaan, demi kemerdekaan, kebebasan, demi negara yang adil, maka orang Kristen yang jadi tentara boleh menembak orang.

Jika orang melarang engkau berkumpul, dan membakar tempat anda berkumpul, anda diam saja, anda pengecut!

Sumber: Pedang Roh Edisi 62 Tahun XV Januari-Februari-Maret 2010

INJIL ANAK-ANAK SKEWA

Juga beberapa tukang jampi Yahudi, yang berjalan keliling di negeri itu, mencoba menyebut nama Tuhan Yesus atas mereka yang kerasukan roh jahat dengan berseru, katanya: "Aku menyumpahi kamu demi nama Yesus yang diberitakan oleh Paulus." Mereka yang melakukan hal itu ialah tujuh orang anak dari seorang imam kepala Yahudi yang bernama Skewa. Tetapi roh jahat itu menjawab: "Yesus aku kenal, dan Paulus aku ketahui, tetapi kamu, siapakah kamu?" Dan orang yang dirasuk roh jahat itu menerpa mereka dan menggagahi mereka semua dan mengalahkannya, sehingga mereka lari dari rumah orang itu dengan telanjang dan luka-luka (Kis.19:13-16).

Anak-anak Skewa, seorang imam Yahudi, jelas bukan orang Krisen lahir baru. Mereka tidak mengaminkan bahwa diri mereka adalah orang berdosa, dan bahwa Yesus Kristus telah dihukumkan di kayu salib menggantikan mereka. Mereka tidak mengerti Injil Keselamatan Yesus Kristus.

Namun mereka sudah sering mendengar tentang nama Yesus. Kalau kondisi zaman sekarang mungkin mereka sekolah di Sekolah Kristen, atau mereka adalah orang-orang yang sudah sering menghadiri kebaktian di berbagai gereja, namun tidak mengerti Injil yang benar sehingga belum diselamatkan atau belum dilahirkan kembali ke dalam Yesus Kristus.

Anak-anak Skewa mungkin pernah mendengar atau bahkan menyaksikan Rasul mengadakan mujizat atau melihat murid Tuhan berdoa dan mujizat terjadi. Wow, luar biasa nama itu, rupanya dengan hanya menyebut Yesus saja orang sakit bisa sembuh, pikir mereka. Akhirnya mereka mencoba-coba memakai nama Yesus mengusir iblis. Hasilnya sangat mengagetkan mereka. Iblis bukannya lari melainkan berkata bahwa Yesus mereka kenal, dan Paulus mereka ketahui, lalu siapakah kamu. Ini tidak berarti iblis tidak mengenal bahwa mereka itu anak-anak Skewa, melainkan itu lebih berarti “kami tidak takut kamu.”

Injil anak-anak Skewa bukan injil untuk menyelamatkan orang, melainkan injil yang menggembar-gemborkan kekuasaan, atau injil perdukunan rohani. Anak-anak Skewa tidak peduli pada berita tentang dosa, tentang pertobatan, beritatentang penyaliban Kristus untuk menanggung hukuman dosa. Yang dipedulikan oleh anak-anak Skewa hanyalah bagaimana mereka terlihat jago, hebat, mengesankan, singkat kata, gayanya meyakinkan, menggetarkan.

Kalau mereka hidup di abad 21 pasti mereka mengadakan KKR mujizat, dengan tambahan kata-kata promosi “bisa mengusir Setan,” orang-orang yang maju ke ke depan akan dibuat bertumbangan, dan saat pulang bisa membawa pulang “jimat” untuk dioleskan di tempat-tempat tertentu untuk mengusir iblis, menghilangkan sakit.

Lucifer memang melakukan kesalahan saat dia menggagahi anak-anak Skewa. Dia terlalu emosi, tidak rela diolok-olok oleh anak-anak ingusan. Kini Lucifer telah jauh lebih berpengalaman, dia malahan memanfaatkan “anak-anak Skewa” untuk membajak nama Yesus, menjadi dukun rohani.

Bukankah masa kini banyak orang melakukan seperti yang hal dilakukan oleh anak-anak Skewa? Bukankah ada banyak orang yang tidak lahir baru memakai nama Yesus mengusir iblis? Mengapa iblis tidak menggagahi mereka? Jawabannya, Lucifer kini sudah jauh lebih pintar, lebih berpengalaman. Dan tentu setelah ribuan tahun ia jadi lebih pintar bermain sandiwara.

Anak-anak Skewa tidak peduli pada kebenaran. Injil mereka hanyalah menggembar-gemborkan kuasa dan mujizat. Masa kini ada orang Kristen yang berpikir bahwa kalau tidak ada mujizat terjadi atas nama Yesus, maka tidak ada bukti bahwa Yesus hidup atau Yesus hebat. Orang Kristen demikian biasanya adalah yang malas mempelajari Alkitab.

Yesus Kristus mengadakan mujizat adalah demi menggenapi nubuat bahwa apabila Mesias hadir maka, “mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai” (Yes.35:5-6). Dan Yesus Kristus mengusir setan untuk menunjukkan bahwa Ia berkuasa atas Setan. Yesus Kristus telah memberitahukan murid-muridNya bahwa jika orang itu tidak terima kebenaran maka iblis akan kembali dan membawa tujuh temannya. Itulah sebabnya sekarang Ia tidak menyuruh kita mengusir iblis melainkan memberitakan kebenaran dan kalau orang menerima kebenaran maka ia otomatis akan terlepas atau dimerdekakan (Yoh.8:31-32).

Rasul-rasul mengadakan mujizat adalah karena mereka Rasul Kristus dan menerima wahyu sebelum kita memiliki sebuah standar firman Tuhan (Alkitab). Dan hanya Rasul saja yang diberi KARUNIA untuk mengadakan mujizat (II Kor.12:12).

Nah, sekarang pembaca pasti dapat mengerti mengapa pada akhir zaman Tuhan berkata bahwa Ia tidak mengenal mereka yang melakukan tiga hal berikut; membuat mujizat, bernubuat, dan mengusir setan (Mat.7:22-23). Seharusnya tidak ada orang yang menggembar-gemborkan diri bisa melakukan mujizat karena Tuhan tidak memberikan Karunia melakukan mujizat selain kepada Rasul-rasul. Dan seharusnya tidak ada orang yang bernubuat karena setelah pewahyuan sampai kitab Wahyu pasal 22:21 proses pewahyuan telah dihentikan. Dan kini kebenaran telah di tangan kita, dan orang-orang harus dimerdekakan oleh kebenaran, bukan dengan show of power model anak-anak Skewa.

Injil yang benar kini telah tertulis dalam Alkitab. Kita memberitakan Yesus Kristus yang disaksikan oleh para Rasul. Kita tidak bertemu dengan Yesus Kristus melainkan percaya pada kesaksian para Rasul. Kita percaya bahwa tulisan para Rasul diilhami Yesus Kristus melalui bukti karunia melakukan mujizat. Itulah sebabnya kita memperlakukan tulisan Paulus sebagai firman Tuhan tetapi tulisan orang tua kita atau pengkhotbah anu bukan firman Tuhan.

Tetapi kini muncul banyak “anak-anak Skewa” zaman akhir yang tidak mengerti Injil yang benar, namun dengan penuh yakin diri seperti anak-anak Skewa mengumumkan KKR mujizat, mengumumkan diri sebagai spesialis pengusir setan dan lain sebagainya. Zaman sekarang beredar lebih banyak injil anak-anak Skewa, yaitu injil yang tidak mementingkan kebenaran, melainkan lebih mementingkan show of power dan berbagai atraksi supranatural. Mereka menjelaskan Alkitab alakadarnya saja, cetek-cetek saja, tetapi penekanan mereka pada mujizat, kuasa mengusir setan, kuasa membuat orang miskin jadi kaya, lengkap dengan “jimatnya”. Pembaca, waspadalah! ***

Sumber: Pedang Roh Edisi 62 Tahun XV Januari-Februari-Maret 2010

INJIL GALATIA

Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia (Gal.1:6-8).

Rasul Paulus mensinyalir di Galatia telah berkembang injil lain yang berbeda dengan Injil yang telah diberitakannya. Injil ini dilihat Rasul Paulus sangat membahayakan kekristenan yang masih bayi. Rasul Paulus menyatakan bahwa sebenarnya itu bukan injil, melainkan tipu-muslihat iblis yang memutarbalikkan Injil.

Di Galatia tetap diajarkan tentang memegang hari-hari tertentu dan kelihatannya masih mengajarkan untuk memegang teguh ketetapan hari Sabat (Gal.4:10). Injil Galatia juga mengajarkan orang Kristen harus tetap melakukan sunat sesuai hukum Taurat (Gal.5:3-4).

Ini nyata sekali, injil Galatia tidak memahami maksud dan tujuan hukum Taurat dan ibadah simbolik yang diperintahkan dalam kitab Taurat dan kitab para Nabi. Mereka tidak memahami pernyataan Tuhan Yesus bahwa segala sesuatu yang tertulis dalam kitab Taurat, kitab para Nabi dan Kethubim adalah tentang diriNya (Luk.24:44).

Seharusnya setiap orang yang mengerti kebenaran menyadari bahwa perintah ibadah simbolik penyembelihan binatang korban adalah untuk mengingatkan umat manusia bahwa Allah berjanji untuk mengirim Juruselamat yang akan dihukumkan seperti binatang korban menanggung dosa umat manusia.

Ibadah simbolik ini pertama diperintahkan untuk dijaga oleh seorang ayah, namun kebobrokan manusia pada zaman Nuh membuktikan kegagalan para ayah. Kemudian Allah membangun sebuah bangsa sebagai penjaga ibadah simbolik melalui keturunan Abraham. Setiap laki-laki yang termasuk bangsa yang bertugas sebagai penjaga ibadah simbolik ditandai dengan disunat. Tuhan hampir membunuh Musa ketika ia bertugas memimpin bangsa itu keluar dari Mesir namun tidak menyunatkan anaknya. Zipora, sang istri yang penuh hikmat, berhasil menyelamatkannya dengan memohon kepada Jehovah agar menganggap mereka sebagai pengantin baru.

Setiap orang yang mencintai kebenaran harus mengerti bahwa perintah tentang makanan yang diharamkan beserta berbagai peraturan Perjanjian Lama adalah paket dari ibadah simbolik yang sifatnya mengingatkan manusia pada janji Allah. Melalui pelarangan makanan Allah mengajarkan makna kesucian hati yang dituntut Allah.

Sejak kedatangan Yesus Kristus, Juruselamat yang dijanjikan Allah, maka seluruh rangkaian ibadah simbolik tergenapi (terpenuhi), dan selesailah tugasnya. Itulah sebabnya kini tidak perlu lagi melakukan acara penyembelihan binatang korban karena Domba Allah, pusat dari seluruh ibadah simbolik, telah dikorbankan. Umat manusia memasuki ibadah hakekat, menyembah Allah secara rohani dan bersifat kebenaran (Yoh.4:23). Itulah sebabnya kita meninggalkan ibadah yang menekankan waktu, tempat, dan postur tubuh. Kini kita menyembah dengan hati, tanpa dibatasi waktu sehingga tidak ada ketentuan hari tertentu, artinya kapan saja bahkan setiap saat. Sikap hati kita setiap saat itulah ibadah kita. Otomatis tidak ada keharusan di tempat tertentu, dan dengan bentuk postur tertentu (berlutut).

Gereja Advent adalah gereja modern yang mengajarkan injil Galatia. Bahkan banyak gereja juga terlibat dalam pelestarian injil Galatia. Gereja-gereja pembaptis bayi tidak mengerti makna praktek sunat yang Allah perintahkan kepada Abraham, sebagian mereka memakai kasus sunat untuk membenarkan tindakan mereka membaptis bayi.

Banyak gereja tidak mengerti tentang peralihan ibadah dari simbolik ke hakekat dengan tetap memasukkan upacara-upacara simbolik kepada acara kebaktian mereka. Ada yang berkata, “mari kita masuk ke dalam penyembahan!” Ada juga yang meminta hadirin mengangkat tangan untuk melakukan penyembahan. Bahkan hampir semua orang Kristen menyebut acara kebaktian hari Minggu sebagai acara ibadah. Ini sebuah bukti bahwa mereka tidak mengerti bahwa ibadah orang Kristen adalah ibadah hakekat, yaitu bentuk penyembahan dengan hati, yang terjadi setiap saat dalam hidup mereka. Adalah kesalahan jika seseorang melihat acara hari Minggu pagi sebagai penyembahan(ibadah). Kelihatannya selain terpengaruh injil Galatia juga terpengaruh konsep Islam. Orang Kristen tidak beribadah hanya pada hari Minggu, melainkan SETIAP SAAT dalam hidup mereka. Sikap hati setiap saat di hadapan Tuhan itulah ibadah yang sesungguhnya.

Bahkan Lembaga Alkitab Indonesia terpengaruh konsep Islam yang mirip injil Galatia dalam menerjemahkan Alkitab. LAI menambahkan kata ibadah padahal tidak ada kata itu di bahasa aslinya (contoh: Ibr.10:25).

Banyak pemimpin gereja masih melarang jemaatnya memakan darah, bahkan mungkin masih ada (Advent) yang seperti Petrus, tidak membolehkan dirinya memakan makanan-makanan yang diharamkan di kitab PL (Kis.10:9-18). Petrus pun saat itu masih belum mengerti sepenuhnya kebenaran Perjanjian Baru dengan ibadah Hakekat. Memang wahyu dari Allah bersifat progresif, diturunkan secara bertahap. Kebenaran diungkapkan secara bertahap, karena mereka akan shock setelah seribu lima ratus tahun tidak boleh makan babi, darah, lalu secara tiba-tiba menjadi boleh. Oleh sebab itu dalam rapat di Yerusalem masih diputuskan tidak boleh makan darah (Kis.15:20). Padahal Tuhan Yesus sendiri telah membuat pernyataan yang sangat tegas bahwa tidak ada yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang lagi (Mrk.7:18-19). Mereka sungguh belum faham bahwa di zaman ibadah hakekat kesucian yang dituntut bukan lagi kesucian jasmani melainkan kesucian hati maka tidak ada sangkut-pautnya lagi dengan sesuatu yang masuk ke dalam mulut melainkan hanya yang keluar dari mulut.

Masih banyak gereja yang menyelenggarakan acara doa-puasa, dan lain sebagainya yang adalah praktek-pratek acara ibadah simbolik. Ada pengkhotbah yang berpuasa hari Sabtu agar memiliki kekuatan untuk berkhotbah hari Minggu. Konsep ini telah membuat acara puasa sebagai aktivitas dalam dunia perdukunan yang mendatangkan kekuatan magis. Berdoa puasa semalam suntuk katanya akan lebih didengar Tuhan. Ini adalah praktek asketikisme budhisme, yang intinya menyiksa diri untuk menimbulkan belas kasihan dari Tuhan, semacam tindakan mogok makan menuntut sesuatu dari pihak pemerintah.

Ternyata injil Galatia yang dikutuk oleh Rasul Paulus tidak mati melainkan masih hidup, bahkan berkembang dalam berbagai bentuk dan rupa hingga di abad ke-21. Pembaca yang saya kasihi, waspadalah, ingat injil ini dikutuk oleh Rasul Paulus. Supaya mengerti dengan mantap segala sesuatu tentang ibadah yang benar yaitu yang hakekat, anda perlu membaca buku-buku terbitan GRAPHE, anda bisa melihat-lihat di <www.grapheministry.org>.

Sumber: Pedang Roh Edisi 62 Tahun XV Januari-Februari-Maret 2010

Injil Perut

Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata- mata tertuju kepada perkara duniawi (Fil.3:18-19).

Dunia Berhala

Jika sungguh-sungguh direnungkan, apakah hakekat dari penyembahan berhala? Mengapa orang sampai tertarik menyembah berhala, atau menyembah iblis, padahal tahu bahwa itu adalah iblis? Rasul Paulus dalam suratnya kepada orang-orang kudus di Kolose, ia mengatakan: “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (Kol.3:5-6).

Rupanya Rasul Paulus nyatakan melalui ilham Roh Kudus, bahwa penyembahan berhala itu sama dengan keserakahan. Mengapa demikian? Karena pada hakekat-nya semua bentuk penyembahan berhala adalah meminta berkat materi, jasmani dan duniawi. Mengapa orang-orang pergi ke gunung Kawi? Apakah karena mereka mencintai hantu gunung Kawi? Tidak mungkin! Seluruh usaha mereka yang bersusah payah mendaki dan memenuhi persyaratan yang diberikan adalah demi mendapatkan berkat materi, jasmani dan duniawi.

Bandingkan penyembahan berhala dengan Theologi Sukses yang intinya adalah mendapatkan berkat materi, jasmani dan duniawi. Pada prinsipnya adalah sama, yaitu mengharapkan berkat materi, jasmani, dan duniawi.

Pembaca yang budiman, penulis persilakan memperhatikan khotbah yang disampaikan di gereja anda masing-masing. Adakah Pendeta anda menyinggung masalah materi? Adakah pendeta anda menggembar-gemborkan bahwa Tuhan akan memberkati jemaatnya secara materi? Adakah pendeta anda berusaha menarik orang dengan berkata bahwa Tuhan akan memberkati mereka secara materi? Adakah pendeta anda mencoba memberikan contoh orang-orang yang diberkati secara materi untuk menarik orang? Perhatikanlah!

Kalau ada maka sangat mungkin anda sedang dalam gereja yang memberitakan injil perut. Injil yang dipelintir untuk menarik orang-orang dengan iming-iming berkat materi. Dan orang-orang datang berduyun-duyun ke gereja demikian sama seperti mereka datang berduyun-duyun ke rumah berhala.

Saya tidak berkata bahwa Tuhan tidak akan memberikan berkat materi atau orang Kristen akan selalu hidup susah secara materi. Berkat Tuhan diturunkan dengan penuh hikmat dan penuh kebenaran. Berkat Tuhan diberikan kepada orang yang mengasihi Tuhan bukan kepada yang mengejar berkat Tuhan. Mengasihi Tuhan dan melaksanakan firmanNya harus lebih diutamakan daripada berkatNya. Bahkan tanggung jawab anak-anak Tuhan ialah mengasihiNya, sedangkan urusan berkat adalah hak prerogatif Tuhan. Adalah sikap kedurhakaan jika seseorang datang kepada Tuhan karena menginginkan berkat daripada mengasihiNya.

Injil perut ini kini banyak dikumandangkan oleh gereja-gereja dan pendeta-pendeta yang menjanjikan berkat, dan bicara berkat dan berkat terus. Tentu yang datang kepada mereka tidak mendapatkan berkat melainkan kehilangan materi karena biasanya pendeta demikian adalah orang-orang yang matanya tertuju pada materi dan tidak segan-segan melakukan apa saja demi mendapatkan materi. Mereka biasanya menjadikan orang yang memiliki cerita sukses sebagai contoh orang yang diberkati oleh pelayanan mereka. Tentu itu adalah kesaksian subyektif yang tidak mungkin dapat dibuktikan kebenarannya.

Cerita-cerita subyektif demikian jugalah yang menggerakkan banyak orang untuk mencoba. Seperti seorang bocah yang bernama Ponari yang memiliki sebuah batu yang digembar-gemborkan berkekuatan gaib, dan telah menarik perhatian ribuan orang dari berbagai wilayah Indonesia.

Mujizat Palsu

Bersamaan dengan gembar-gembor berkat materi, penyembahan berhala juga kental dengan mujizat-mujizat palsu, lengkap dengan berbagai jimat dari berupa batu hingga berupa minyak. Para dukun biasanya berani menyakinkan orang-orang yang datang kepadanya dengan berkata“pasti sembuh” dan kalau ternyata tidak sembuh biasanya ia tinggal mencari kambing hitamnya. Kalau terjadi kesembuhan, biasanya adalah penyakit yang bersifat psikis atau kejiwaan, dan pasti akan dibesar-besarkan serta dijadikan bukti kekuatan yang dimilikinya. Mereka biasanya memiliki “media” yang bisa berupa batu, gigi binatang, minyak atau air untuk membuat mangsanya yakin dan tersugesti.

Pembaca yang berhikmat, bukankah sudah banyak pendeta yang melakukan praktek perdukunan dengan nama Yesus? Mereka mencoba-coba dan berharap-harap ada yang sembuh. Biasanya penyakit psikis dan kejiwaan (stress) atau kesalahan diagnosa dokter yang belum dikonfirmasi, dinyatakan sembuh dan digembar-gemborkan.

Padahal sangat jelas telah dikatakan dalam II Kor 12:12 bahwa karunia melakukan mujizat adalah BUKTI KERASULAN yang artinya hanya dimiliki oleh rasul saja. Jadi secara logis setelah tidak ada rasul maka tidak ada lagi karunia melakukan mujizat.

Saya sama sekali tidak berkata bahwa tidak bisa terjadi mujizat, melainkan tidak ada lagi KARUNIA MELAKUKAN MUJIZAT. Tentu mujizat bisa saja terjadi sebagai wujud jawaban doa. Artinya tidak ada orang yang mengklaim sebagai yang diberi karunia melakukan mujizat, melainkan semua orang boleh berdoa dan Tuhan kiranya yang menjawab doa. Tentu berarti tidak harus doa seorang pengkhotbah melainkan bisa doa siapa saja. Karena Tuhan menjawab doa, apa saja bisa terjadi, namun tidak boleh ada orang yang menyombongkan diri, mengangkat diri sebagai orang yang diberi karunia melakukan mujizat, karena itu adalah karunia khusus rasul.

Keduniawian Menonjol

Biasanya satu paket dalam injil perut ialah keduniawian yang menonjol. Hidup yang menekankan materi dan jasmani serta menghidupi gaya hidup yang duniawi. Model pakaian, rambut, caramake-up Kristen duniawi hampir tidak dapat dibedakan dari manusia duniawi. Demikian juga dengan film yang ditonton dan musik yang didengar. Bahkan di dalam gereja yang memberitakan injil perut biasanya musiknya sangat hingar bingar dan hampir tidak dapat dibedakan dari musik di night-club. Sebenarnya, jika irama musik gereja anda tidak dapat dibedakan dari irama musik dunia, maka kalau bukan dunia sudah semakin rohani pasti gereja anda yang semakin duniawi.

Pembaca yang berhikmat, sebenarnya anda gampang menemukan gereja injil perut karena gereja demikian sedang populer. Ia ada dimana-mana, bahkan saya sangat kuatir anda sedang berada di dalamnya. Waspadalah! ***

Sumber: Pedang Roh Edisi 62 Tahun XV Januari-Februari-Maret 2010

INJIL FILIPI

Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik. Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil, tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara. Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita (Filipi 1:15-18).

Injil Iri Hati

Rasul Paulus mensinyalir ada injil yang agak aneh beredar di Filipi. Ternyata selain ada Injil yang benar dan yang diberitakan dengan tulus ikhlas dan maksud yang baik, terdapat juga injil yang diberitakan dengan maksud tidak ikhlas atau kepentingan sendiri.

Orang-orang yang memberitakan injil tidak ikhlas itu berpikir bahwa dengan berbuat itu mereka akan menambah berat hukuman Paulus. Mungkin mereka berkata, “Paulus mengatakan bahwa Yesus, seorang Nazaret yang telah dihukum mati adalah raja, adalah juruselamat manusia. Siapa pun yang mau masuk Sorga harus melalui Yesusnya Paulus” dengan nada mengejek dan dengan maksud agar kaisar dan para raja tersinggung sehingga memperberat hukuman Paulus.

Tetapi yang menarik di sini adalah bahwa tuduhan mereka terhadap berita yang disampaikan Rasul Paulus ternyata benar dan itu adalah kebenaran. Memang benar bahwa Yesus Kristus adalah raja, dan memang benar bahwa Dia adalah Juruselamat satu-satunya. Terhadap Injil yang mereka sampaikan tentu Rasul Paulus tidak keberatan karena memang benar, hanya mereka membawakannya dalam sikap sinis dan dengan maksud yang jahat.

Jika anda search di Internet nama Suhento Liauw, kalau mereka belum menghapusnya, anda akan bertemu dengan blog yang berjudul “Suhento Liauw MEMBUAL Karena Yesus Hanya Menebus Dosa Orang Pilihan.” Di dalam blog Hai-hai itu mereka membahas bahwa Dr. Suhento Liauw telah membual karena mengatakan bahwa Yesus Kristus menebus dosa seisi dunia. Menurut mereka, tentu kaum Calvinis, Yesus hanya menebus dosa orang-orang pilihan saja.

Kasus ini mirip dengan kasus di Filipi, dimana tuduhan mereka terhadap Injil yang diberitakan Rasul Paulus sesungguhnya adalah kebenaran. Demikian juga dengan tuduhan mereka terhadap Injil yang diberitakan oleh Dr. Liauw, itu adalah kebenaran. Mengenai Yesus Kristus menebus dosa seisi dunia, itu bukan tidak ada dasar ayatnya, coba baca ayat-ayat berikut;

Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia (Yoh.1:29).

Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya (I Tim.4:10).

Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia (Ibr.2:9).

Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia (I Yo.2:2).

Perbedaan antara orang Filipi dengan kelompok Calvinis yang menuduh Dr. Suhento Liauw adalah bahwa orang Filipi masih dalam kerangka Injil yang benar hanya maksud/tujuan tidak tulus, sedangkan Calvinis mungkin kebalikannya yaitu tujuannya masih baik namun injilnya justru yang salah.

Kelompok Calvinis karena saking menjunjung tinggi John Calvin telah kehilangan akal sehat dan menjadi buta, tidak sanggup membaca dan memahami ayat-ayat Alkitab yang sangat gamblang dan jelas bahwa Yesus Kristus dihukumkan di kayu salib bagi dosa seisi dunia. Akal sehat mereka tersendat sehingga memaksakan bahwa Yesus Kristus disalibkan hanya untuk orang-orang pilihan saja sambil memelintir ayat-ayat di atas yang sudah sangat jelas.

Tujuan Salah Atau Injilnya Salah

Injil kelompok Calvinis (gereja Reformed & Presbyterian) itu tidak seperti Injil Filipi melainkan kebalikannya. Sebenarnya itu terjadi di Roma ketika Rasul Paulus dipenjarakan. Tetapi karena diungkapkan di dalam surat kepada jemaat Filipi, saya menyebutnya Injil Filipi. Injil Filipi adalah Injilnya (doktrin Keselamatannya) masih benar tetapi motivasinya salah. Sedangkan Injil Calvinisme adalah motivasinya masih benar, namun Injilnya (doktrin Keselamatannya) salah. Coba renungkan yang manakah yang lebih berbahaya, Injilnya benar dengan motivasinya salah atau motivasinya benar dengan injil yang salah? Injil yang benar, diberitakan dengan motivasi yang salah, masih dapat menyelamatkan orang yang mendengarkan Injil itu. Tetapi injil yang salah dengan motivasi yang benar tidak dapat menyelamatkan orang yang mendengarkannya sekalipun disampaikan dengan maksud tujuan yang murni.

Inilah yang menyebabkan penulis sangat kuatir dengan injil calvinistik yang telah merusak kekristenan di Eropa. Jika seseorang mendengar bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu dalam sebuah dekritnya di dalam kekekalan, maka kesimpulannya ialah bahwa Allahlah yang telah menetapkan orang miskin dan kaya, orang cacat dan sehat, penindas yang tertindas, termasuk semua kejahatan yang muncul di muka bumi. Daripada mempercayai Allah yang sedemikian jahat ini, lebih baik percaya tidak ada Allah (atheis).

Jumlah persentase orang Kristen di Eropa yang menghadiri kebaktian semakin menurun. Yang hadir kebaktian saja sedikit sekali (sekitar 5%), bayangkan hanya berapakah jumlah mereka yang benar-benar lahir baru. Injil Calvinisme yang mengajarkan bahwa Allah menetapkan Adam jatuh ke dalam dosa, menghancurkan nalar sehat dan meruntuhkan keharuman pribadi Allah sebagai pencipta yang maha kasih. Injil ini telah menyebabkan berkembangnya atheisme, karena ketika nalar sehat mereka tidak bisa terima keberadaan Allah yang demikian, batu akal sehat mereka mengayun ke sisi lain, yaitu tidak ada Allah.

Injil yang benar sekalipun disampaikan dengan motivasi yang salah ia masih tetap akan menyelamatkan pendengarnya. Itulah sebabnya Rasul Paulus tidak keberatan dengan injil demikian karena isi Injilnya benar. Tetapi sebaliknya injil yang salah sekalipun dengan motivasi yang tulus ia tidak dapat menyelamatkan, ia akan meruntuhkan kekristenan dan akan menenggelamkan pendengarnya ke dalam neraka. Waspadalah!

Sumber: Pedang Roh Edisi 62 Tahun XV Januari-Februari-Maret 2010

AWAS! INJIL TIPU MUSLIHAT!

Manusia pada dasarnya diciptakan sebagai mahkluk berpengertian, berkesadaran diri dan berkehendak bebas. Dengan demikian manusia bukan hanya bisa menyembah apa saja yang disukainya, bahkan bisa menciptakan sesuatu untuk disembah dirinya dan manusia lain. Dan manusia bukan hanya bisa percaya kepada ajaran yang salah, bahkan juga mampu membelokkan ajaran yang benar atau menciptakan ajaran yang sesat untuk diikuti manusia lain.

Ketika murid-murid Tuhan ingin tahu tanda-tanda kedatangan Sang Guru, Tuhan Yesus menjawab dengan menempatkan intensitas penyesatan sebagai tanda utama kedatanganNya, dengan berkata "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang” (Mat.24:4-5).

Pertama, Tuhan mengingatkan agar murid-muridNya yang hidup pada periode waktu menjelang kedatanganNya, hidup sebagai orang percaya yang penuh waspada. Jangan tertidur bahkan jangan bodoh karena menjelang kedatanganNya intensitas penyesatan akan semakin tinggi, dan akan muncul berbagai pengajaran yang aneh-aneh.

Tentu ajaran kekristenan tidak terlepas dari jamahan Lucifer. Celakalah orang yang tidak waspada yang tidak menaruh curiga pada setiap pengajaran dan yang tidak berusaha mempelajari dan mencermati berbagai ajaran.

Kedua, Tuhan memberitahukan kita bahwa penyesat akan memakai namaNya. Hal ini seharusnya menyadarkan kita bahwa kita tidak boleh asal percaya kepada ajaran-ajaran yang mengatasnamakan Yesus/Yeshua Hamasiah atau dengan kata lain, urusan nama atau sebutan sudah diberitahu oleh Tuhan bahwa itu akan dibajak. Jadi tidak boleh didasarkan pada sebutan atau penamaan melainkan harus memperhatikan isi ajarannya.

Ketiga, penyesat itu akan berkata “akulah mesias.” Arti kata mesias sama dengan kristus atau orang yang diurapi. Jadi penyesat itu akan berkata, atau orang lain akan mengatakan, dia orang yang diurapi. Menjelang kedatangan Tuhan, ketika intensitas penyesatan semakin tinggi, penyebutan orang yang diurapi akan semakin marak sebagai bentuk penyamaran atau pembiasaan istilah orang yang diurapi sehingga orang-orang tak berhikmat semakin bingung tentang tanda-tanda kedatangan Sang Yang Diurapi yang asli.

Anti Kristus/Mesias, yaitu penentang Kristus/Mesias yang menyamar sebagai Kristus/Mesias. Banyak orang tidak menyadari arti kata “anti”, dalam bahasa Yunani itu selain menentang juga artinya menggantikan. Jadi anti-Kristus atau anti-Mesias adalah orang yang menentang Kristus dengan menyatakan bahwa dirinya adalah Kristus, atau orang yang diurapi.