Kamis, Januari 14, 2010

DOSA YANG TAK TERAMPUNI

Studi Biblika-Sistematika atas Matius 12:31-32

Hali Daniel Lie**

Pendahuluan

Di dalam doktrin keselamatan, kita mengetahui bahwa melalui iman kepada Yesus Kristus kita diselamatkan oleh anugerah Allah. Dengan perkataan lain, anugerah Allah di dalam Yesus Kristus akan memimpin kita untuk beriman kepada-Nya. Demikianlah caranya manusia diselamatkan.

Melalui Yoh. 14:6, Yesus menegaskan: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Tanpa melalui Yesus Kristus tidak ada seorang pun yang mempunyai akses kepada Bapa. Pada diri-Nya satu-satunya jalan, satu-satunya kebenaran dan satu-satunya hidup. Jelas sekali di sini, keselamatan hanya melalui Yesus Kristus.

Tidak perlu diperdebatkan lagi, Yoh. 3:16 merupakan ayat emas yang paling banyak dihafalkan oleh orang-orang Kristen, baik anak Sekolah Minggu, remaja-pemuda maupun orang dewasa. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Setiap orang, barang siapa atau siapa pun yang percaya kepada Yesus Kristus akan diselamatkan.

Kalau sudah sedemikian kenyataannya, kenapa masih disebut-sebut adanya dosa yang tak dapat diampuni? Dosa macam apakah itu yang begitu beratnya sampai tak terampuni? Adakah kemampuan Yesus Kristus untuk mengampuni dosa manusia memiliki keterbatasan? Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, marilah kita mengikuti uraian-uraian dalam tulisan ini. Di bagian pertama kita akan menyaksikan Yesus Kristus sendiri memperingatkan tentang dosa yang tak terampuni. Dilanjutkan pada bagian kedua, kita akan mengadakan studi yang terperinci atas nas Alkitab yang terdapat pada Mat. 12:31-32. Lantas pada akhirnya, kita mesti mempelajari maksud dari pernyataan Yesus Kristus mengenai dosa menghujat Roh Kudus, dan mengapa sampai Dia menegaskan bahwa dosa ini tak terampuni.

Dosa Yang Tak Terampuni

Penulis tidak tahu apa yang tebersit di dalam pikiran dan benak saudara-saudari sewaktu membaca ayat berikut ini: “Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni.” Tidak berhenti sampai di situ saja, ayat di atas langsung dilanjutkan dengan peringatan yang lebih keras lagi: “Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.“ Kedua ayat di dalam Mat. 12:31-32 ini diucapkan melalui mulut Yesus sendiri.

Sepengetahuan penulis, tidak sedikit orang Kristen yang sempat dibuat terperanjat sewaktu mereka membaca kedua ayat tersebut. Timbul ketakutan yang luar biasa di dalam hati mereka!

CHURCH MEMBERSHIP

Updated January 13, 2010 (first published November 25, 2004) (David Cloud, Fundamental Baptist Information Service,fbns@wayoflife.org) -

From time to time I receive questions about church membership such as the following:

“I’ve tried to do some research about working in a church before being a member and I have heard a lot about ‘you should be a member before working in the church,’ so I was just wanting to know if you could help me to understand where the Bible talks about that topic.”

BROTHER CLOUD’S REPLY ABOUT CHURCH MEMBERSHIP

Church membership is largely a matter of practicality, like many other things in the assembly. If a church does not have membership, how can it know who is in the church and who is out?

Church membership is taught in Acts 2:41 -- “Then they that gladly received his word were baptized: and the same day there were added unto them about three thousand souls.”

Those who were saved and baptized were added to the church. That is church membership.

There are four reasons why we need church membership:

First, we need church membership because each church is a body and family.


Rabu, Januari 13, 2010

THE DANGERS OF SOCIAL NETWORKING

January 12, 2010 (Fundamental Baptist Information Service, P.O. Box 610368, Port Huron, MI 48061, 866-295-4143, fbns@wayoflife.org) -
The following is by Ron Williams (hesed@kconline.org) and is reprinted from the Hephzibah Happenings, http://www.hephzibahhouse.org --

"And whatsoever ye do in word or deed, do all in the name of the Lord Jesus, giving thanks to God and the Father by him" (Colossians 3:17).

A grief-stricken and broken-hearted father approached me after a church service in which I had preached. He asked if he could share with me concerning his son, so I could possibly use the story as a warning to other parents and young people.

Like many other parents, he and his wife thought little or nothing of the computer in their son's bedroom, nor of his closed bedroom door, nor of his countless hours online.

It was only when he turned 18 that they discovered he had been heavily involved with occultic website and with personalities on chat rooms and blogs that had won his interest and ultimate allegiance. These distraught parents were helpless to prevent him from leaving their Christian home and consort with his new "friends" he had made on the web.

This young man was a graduate of a Christian school, and a member of a faithful family that was a regular part of a fundamental, independent Baptist church. He is now a part of a "gothic" circle of friends, dressing in black clothes, having disdained his Christian legacy. He has turned a deaf ear to the appeals of his parents to repent and come back to the truths he had been taught during his plastic and formative years.

The Modern Monster

The god of this world has a myriad of seductive and alluring temptations available today, and our young people are especially vulnerable. One of the most prominent and ubiquitous temptations is the internet. Decades ago, young hearts were warned against pool halls, dance halls, motion pictures, card playing, etc. As morally dangerous as these things were, they pale in significance as compared to the insidious dangers a teenager faces via his computer. What was only available in unsavory places before and after WWII, is now available to a twelve-year old in his bedroom by the click of a mouse.

Absent Parents

Modern families are not a cohesive unit as they once were. The stresses and pressures on the modern home are multi-faceted. Mothers have left their homes, husband and children for a career in the work place; what precious time left over in her life is inadequate for her to be a successful wife and mother (Mark 3:25).

Keotentikan Naskah Perjanjian Baru

PRAKATA :
Orang sering bilang bahwa Injil sudah dipalsukan, sudah tidak asli lagi, tapi orang tersebut tidak bisa menunjukkan Aslinya, hanya bisanya "Ngomong Doang".
Pembuktian suatu BB (Barang Bukti) apakah BB tersebut palsu atau otentik maka persyaratan nya adalah mutlak harus ada bahan pembanding, tidak bisa tanpa bahan pembanding, lalu ujuk-ujuk dibilang PALSU!
Mungkinkah ada orang yang munafik dengan cara menunjukkan kepunyaan orang lain tidak asli guna menutupi ketidakasliannya sendiri alias Kamuflase, ini perlu dianalisis lebih jauh!

Keotentikan Naskah Perjanjian Baru

Pengantar
Kritikus Alkitab mempertanyakan keotentikan/ keabsahan Perjanjian Baru. Ada yang bilang cerita Perjanjian Baru adalah rekayasa pribadi yang tidak historis. Ada yang bilang Injil hanya mitos atau legenda. Atau ada juga yang bilang Yesus memang ada, tetapi tidak pernah disalib maupun bangkit.
Apakah Perjanjian Baru itu otentik, berasal dari sumber yang sah? Mungkinkah ada distorsi sejarah yang mengubah peristiwa asli?

Ada 3 hal yang menentukan otoritas keotentikan naskah Perjanjian Baru :
1. Penyelidikan manuskrip-manuskrip (naskah-naskah salinan kuno) Perjanjian Baru.
2. Perbandingan manuskrip-manuskrip Perjanjian Baru dengan manuskrip-manuskrip kuno yang lain.
3. Penanggalan naskah asli Perjanjian Baru.

Penyelidikan manuskrip-manuskrip yang berhubungan dengan Perjanjian Baru

Ada banyak manuskrip yang berlimpah dan akurat untuk Perjanjian Baru dibandingkan dengan naskah-naskah kuno lainnya. Ada banyak manuskrip yang disalin dengan keakuratan lebih tinggi dan penanggalan yang lebih awal daripada manuskrip naskah-naskah kuno lainnya.

Sabtu, Januari 09, 2010

CELANA YANG BASAH

Doni, seorang anak laki-laki kecil berusia 9 tahun, sedang duduk di bangku kelasnya ketika tiba-tiba celananya menjadi basah dan sebuah genangan air ada di antara kakinya. Doni berpikir jantungnya akan berhenti karena dia tidak pernah membayangkan hal ini. Sebelumnya dia belum pernah mengompol dan dia tahu jika teman-temannya tahu dia akan menjadi bahan ejekan teman-temannya seumur hidupnya.


Menyadari keadaannya, Doni mulai menundukkan kepalanya dan berdoa kepada Tuhan,"Tuhan Yesus, sekarang aku berada dalam keadaan darurat. Aku memerlukan bantuan-Mu karena lima menit dari sekarang aku akan menjadi bahan tertawaan teman-temanku. Amin."

Setelah selesai berdoa, dia mengangkat mukanya dan melihat ibu guru sedang memperhatikannya. Ketika bu guru mulai mendekatinya, seorang temannya yang bernama Susie membawa sebuah akuarium ikan emas bulat yang berisi air. Susie berjalan di depan bu guru dan secara sengaja menumpahkannya di atas pangkuan Doni. Doni menjadi marah meskipun dalam hatinya dia berteriak,"Terima kasih, Tuhan! Terima kasih, Tuhan!"

Dengan sekejap hal yang harusnya memalukan berubah menjadi simpati.

Berita Mingguan 09 Januari 2009

TELEVISI ADALAH LERENG YANG LICIN
Televisi adalah lereng yang licin. Ia semakin lama semakin memburuk, dan mayoritas rumah tangga Kristen sedang menyerah takluk kepada lagu godaan Hollywood. Seperti katak yang berada dalam kuali yang memanas perlahan, umat Allah yang tidak peduli tentang separasi dari kebobrokan Hollywood telah menjadi tidak sensitif lagi terhadapnya. Seorang teman misionari sedang makan bersama seorang gembala sidang Baptis fundamental dan istrinya beberapa tahun lalu ketika topik mengenai film Titanic (rating PG-13) muncul. Ketika misionari itu menyatakan pendapatnya bahwa film itu fasik, istri gembala sidang itu mengatakan bahwa mereka telah menonton film itu dan menikmatinya. Misionari itu bertanya apa pikiran mereka tentang ketelanjangan yang ada di film tersebut, dan istri gembala itu mengatakan bahwa itu dilakukan "dengan cita rasa tinggi." Ini menggambarkan betapa duniawinya banyak gereja Baptis fundamental (EDITOR: Apalagi gereja-gereja lain). Jika gembala-gembala sidang dan istri-istri mereka menikmati sebuah film yang menonjolkan hubungan sebelum pernikahan dan ketelanjangan, apa yang kira-kira ditonton oleh anggota gereja biasa! Alkitab mengatakan bahwa gembala sidang harus menjadi contoh bagi kawanan domba (1 Pet. 5:3). Celakalah khalayak ramai gembala sidang dan diaken dan guru-guru sekolah minggu yang nyaman dengan limbah sampah Hollywood dan yang tidak mengajari umat mereka takut akan Allah dan separasi dari dunia ini.

CAMPING MENETAPKAN TANGGAL LAIN LAGI BAGI KEDATANGAN KEDUA YESUS KRISTUS
Harold Camping, seorang yang sangat kebingungan dan pemimpin dari Family Radio Network, mengklaim bahwa Kristus akan kembali lagi tanggal 21 Mei 2011. Ini adalah kali kedua Camping membuat sebuah prediksi gila. Di dekade sebelumnya ia memprediksikan bahwa Kristus akan kembali lagi tanggal 6 September 1994, dan saya tidak perlu memberitahu anda bahwa hal itu tidak terjadi. Anda tentunya berpikir bahwa kesalahan kelas kakap seperti ini akan menghentikan karir bernubuat dan mengajarnya, tetapi di zaman penuh kesesatan ini, ada cukup banyak orang-orang naif yang tidak mengerti Alkitab yang siap mendukung penyesat-penyesat seperti ini.

Aplikasi "Nyeleneh" Ilmu Ekonomi


KOMPAS.com - Adam Smith pernah menulis di bukunya yang termasyhur, "The Wealth of Nations" (1776), bahwa hanya manusia yang melakukan transaksi ekonomi. Dengan kata lain, Adam Smith yakin hanya manusia yang bisa memahami konsep uang sebagai alat tukar. Benarkah demikian?

Terinspirasi pernyataan Adam Smith, Profesor Keith Chen dari Universitas Yale bereksperimen memperkenalkan konsep uang kepada sekelompok monyet capuchin. Caranya dengan memberi mereka beberapa keping uang logam dan mengajarkan bahwa uang tersebut dapat ditukarkan dengan sejumlah barang.

Setelah eksperimen berbulan- bulan, monyet akhirnya paham uang logam di tangan mereka memiliki nilai. Mereka bisa membeli sejumlah barang dengan mengembalikan uang logam tersebut secara baik-baik kepada tim peneliti.

Monyet ternyata memiliki preferensi berbeda-beda ketika membeli barang. Seperti layaknya manusia, monyet juga berupaya meraih kepuasan maksimal dalam keterbatasan sumber daya yang dimiliki.

Chen selanjutnya memperkenalkan konsep price shock. Ia juga menguji dampak income shock dengan mengurangi "pendapatan" seekor monyet setiap hari. Bagaimana respons mereka? Apakah monyet juga memahami konsep gejolak ekonomi?