Jumat, April 03, 2009

KESAKSIAN INJIL KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI?

BAB 4

KESAKSIAN INJIL KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI?

Oleh George S. Bishop, D.D.,

East Orange, New Jersey

Pokok pembicaraan saya adalah Kesaksian Injil kepada diri mereka sendiri - - pembuktian diri mereka sendiri – saksi yang dibawanya, yang melumpuh-kan tanpa keikutsertaan siapapun.

Izinkan saya memperluas tentang saksi ini di bawah judul-judul berikut:

Keabadian

Kuasa

Doktrin yang teramat penting

Pernyataan langsung.

1. KEABADIAN – “Saya telah menulis!” Semua buku lain telah mati.

Sedikit sekali buku kuno masih bertahan, dan lebih sedikit dari yang sedikit

itu memiliki pengaruh. Sebagian besar dari buku-buku dari mana telah kami mengutip ditulis pada tiga atau bahkan satu abad terakhir.

Namun, ini ada Buku yang suaranya dari sebelum dunia telah menjadi tua, ketika suara-suara berbicara di taman Eden. Sebuah Buku yang telah berta-han dengan cahaya, vitalitas, semangat, popularitas dan pantulan pengaruh yang bukan saja tetap melainkan semakin bertambah. Sebuah Buku yang telah melewati segala guncangan tanpa terkilir, dan segala tungku api dari segala abad – seperti sebuah lemari besi berisi dokumen di setiap sudut, tanpa mengalami kerusakan, atau bau hangus. Ini adalah Buku yang dapat dikatakan, seperti mengenai Kristus sendiri yang Abadi: “Engkau telah membawa embun di atas masa muda-Mu dari rahim sang Subuh”. Sebuah buku yang sama kunonya seperti buku-buku dari Hari Purba, dan yang apabila segala yang kita lihat dan sebut alam semesta telah tiada, akan terus berbicara dengan suara menggelegar agung, dan berbisik dengan suara lembut tentang cahaya dan suara musik tentang kasih, karena ia telah mem-balut dirinya dengan masa lalu yang abadi, dan membuka serta memperluas dari dalam dirinya hari depan yang abadi; dan seperti matahari yang menyi-nari segalanya, akan tetap berlalu, sementara abad-abad tetap berjalan, tak berubah, mustahil diubah: Wahyu Allah.

2. Keabadian berada di dalam halaman-halaman ini, dan OTORITAS TELAH MEMETERAII-NYA. Ini merupakan soal kedua. Sebuah standar.

Tidak berguna berbicara tentang tidak ada standar. Alam menunjukkan ada. Hati nurani berteriak membutuhkannya – hati nurani yang, tanpa hukum, terus menerus melakukan perang internal dan menyakitkan antara menya-lahkan atau jika tidak, memaafkan diri sendiri.

Harus ada Standar, dan sebuah Standar yang Terilhami – karena Ilham me-rupakan Intisari dari Otoritas, dan otoritas/kuasa adalah perimbangan dari ilham – lebih terilhami, lebih besar pula kuasanya, lebih sedikit, lebih sedikit. Bahkan sang rasionalis Rothe, seorang oposisi yang gigih, telah menyetujui “bahwa Alkitab yang bukan hasil dari ilham langsung tidak mempunyai ke-kuatan mengikat”.

Oleh karenanya ilham/wahyu verbal dan langsung merupakan “Thermopylae

dari iman menurut Kitab Injil. Tanpa nafas tiada suku kata; tanpa suku kata tiada kata; tanpa kata tiada Kitab, tanpa Kitab tiada agama.

Kita pertahankan, dari mula hingga akhir, bahwa tidak mungkin ada kemaju-an pada Wahyu – tiada terang baru. Apa yang ditulis pada mulanya, tetap tertulis hari ini, dan akan tetap ada selamanya. Apa yang keluar dari pikiran Allah adalah lengkap sempurna. “Tidak ada sesuatu yang dapat ditambah-kan atau di kurangi”; ipse dixit-nya pasti, final. “Jika ada yang menambah-kan kepada hal-hal ini, Allah akan menambahkan kepadanya kutukan-kutukan yang tertulis di dalam Kitab ini; dan jika ada yang mengurangi kata-kata dari Buku Ramalan ini, Allah akan mengurangi bagiannya dari Kitab Ke- hidupan dan dari Kota Kudus, dan dari hal yang tertulis di dalam Buku ini”.

Alkitab adalah Sabda Allah, dan bukan hanya MENGANDUNGNYA. Itu jelas.

Karena Alkitab menamakan dirinya sendiri Sabda Allah. “Taurat Tuhan itu sempurna” kata sang Pemazmur. Dan lagi, “Sabda-Mu adalah pelita bagi kakiku” “Dengan apakah seorang pemuda akan menyucikan jalannga? Dengan mengindahkannya menurut Perintah Allah”. “Rumput akan mati” kata Yesaya, “bunganya akan layu, tetapi Sabda Allah kita bertahan sela- manya”.

Tidak hanya Kitab Injil dinamai Sabda Allah, tetapi ia dibedakan dari semua buku yang lain justru oleh judul itu. Ia dibedakan demikian di dalam Mazmur 119 dan di mana pun kontras antaranya dan semua buku manusia diperda-lam dan dipertahankan.

Jikalau kita tidak mau menamakan Alkitab Sabda Allah, maka kita tidak da-pat menamakannya sesuatu yang lain. Apabila kita menuntut suatu des-kripsi yang setepat-tepatnya dan tidak terbuka terhadap patil-patil kritik sembarangan, maka Bukunya tetap anonim. Kita tidak lagi dapat mengata- kan “Injil Kudus” karena kejahatan-kejahatan yang tercatat di dalamnya tidak kudus, karena ungkapan-ungkapan seperti “Kutuk Allah dan matilah” dll. dari mulut Iblis dan dari orang-orang jahat, tidaklah kudus. Tetapi, Alkitab adalah “kudus” karena tujuan dan cara-caranya adalah kudus. De- mikian juga, Alkitab adalah Sabda Allah, karena datangnya dari Allah, ka- rena kata-katanya telah ditulis oleh Allah, karena ia merupakan satu-satunya penjelas Allah; satu-satunya peraturan bagi prosedurNya dan Buku yang pada akhirnya menurut mana kita diadili.

(1) Alkitab adalah kuasa, karena di dalamnya, dari sampul ke sampul, Allahlah Pembicaranya. Belum lama ini seorang pemimpin dari yang disebut ortodoksi mengatakan kepada hadirin yang padat, “Alkitab itu benar. Siapa pun harus percaya apa yang benar. Apa bedanya, siapa yang menulisnya?” Bedanya, saudara-saudara, sikap Allah yang sungguh-sungguh menggugah jiwa. Teman saya boleh mengatakan kepada saya apa yang benar, istri saya boleh mengatakan kepada saya apa yang benar, namun apa yang mereka katakan itu bukan khidmad. Kekhidmadan terjadi apabila Allah menatap muka saya – Allah ! dan di belakang-Nya nasib abadi – dan berbicara deng-anku mengenai jiwaku! Di dalam Alkitab Allah bersabda, dan Allah dide-ngarkan, dan manusia dilahirkan kembali oleh Sabda Allah. Demikian, iman datang karena mendengarkan dan mendengarkan Sabda Allah”. Adalah Wahyu Allah yang didengarkan oleh iman, dan pada Allah yang telah diung- kapkan, iman bersandar.

(2) Alkitab adalah Sabda Allah. Datangnya kepada kita diberitakan oleh

Keajaiban-keajaiban dan di dahului oleh api. Ambillah Perjanjian Lama – Gunung Sinai; ambil Perjanjian Baru – Pantekosta. Maukah Allah mengu- lurkan tangan-Nya dan menulis pada tablet dalam memberi, dan menu-runkan lidah-lidah api dalam memproklamirkan sebuah wahyu, yang sebuah partikel dan secarik pun bukan milik-Nya? Dengan kata lain, apakah Ia mau mengadakan mujizat dan menurunkan lidah-lidah api untuk menonjolkan suatu karya yang hanya dari manusia, atau bahkan sebagian manusiawi dan sebagian Ilahi. Betapa tak layak bagi Allah, betapa tak beriman, betapa mus-tahilnya perkiraan demikian!

(3) Alkitab muncul dengan kekuasaan di dalam kata-katanya yang penuh kuasa dan mengagungkan di dalam amanatnya. Allah di dalam Alkitab bersabda dari sebuah angin ribut dan dengan suara Elias. Bukti ilham literer apa yang bisa lebih besar daripada yang terdapat di dalam cara yang penuh kuasa dan bernada perintah para nabi dan rasul yang memungkinkan mere- ka – orang-orang miskin, tak dikenal, dan tanpa pengaruh, nelayan, tukang- tukang batu, pemilik losmen, buruh harian – untuk dengan berani mengajari dunia dari Firaun dan Nero ke bawah? Dapatkah ini disebabkan oleh sesu-atu yang kurang dari Allah yang berbicara di dalam diri mereka – oleh dorongan dan penguasaan Allah yang dahsyat? Siapa yang dapat percaya?? Siapa yang tidak terpesona oleh kekuatan dan kebijaksanaan Allah? Kata-kata-Nya ada di dalam tulang-belulang saya”, ada yang berseru. “Saya tidak dapat diam. Singa telah mengaum, siapa tidak akan takut? Tuhan telah bersabda, siapa bisa bertahan untuk tidak meramal?”

(4) Alkitab adalah puncak kekuasaan karena dari mula hingga akhir ia merupakan proyeksi mulia dari perintah-perintah Allah pada skala yang

terluas. Sapuan Alkitab adalah dari penciptaan para malaikat sampai sebuah surga baru dan dunia baru melewati sebuah danau api. Betapa banyak keja-dian! Betapa besar ruang diatas sapuan itu atau bahkan jangkauan pikiran- ke-depan manusia, kritik atau kerja-sama! Betapa merupakan sebuah labirin

dengan tiap tikungan yang terkecil dan terhalus mempengaruhi pengam-punan seluruhnya, oleh karena sebuah rantai tidak pernah lebih kuat dari sebuah mata-rantainya yg terkecil! Lalu siapa berani bicara sebelum Allah bersabda? “Aku akan mengeluarkan peraturannya!” Itu telah me- ngesampingkan segala-galanya yang membuat peraturan itu seakan-akan sebuah perpanjangan dari Dia yang menyatakannya. “Aku akan mengeluarkan peraturannya”. Apabila kita pertimbangkan bahwa Alkitab adalah sebuah proyeksi tepat dari perintah-perintah Allah ke dalam waktu yg akan datang, argumen itu terlihat mengangkat, sampai mencapai klimax; dan memang ia sampai kepada pokok persengketaan, karena hal yang tersulit bagi kita untuk dipercaya tentang Allah adalah bahwa Ia mengeta-hui tepat, benar-benar tahu karena Ia telah menetapkan, hari depan. Tiap sifat Allah lebih mudah dimengerti dari pada sifat Maha Mengetahui-Nya yang tak pernah salah. Oleh karena itu “Aku akan mengeluarkan peraturannya” membutuhkan pengilhaman langsung.

(5) Alkitab adalah puncak kekuasaan karena kitab-kitab pada akhir ran-tainya membuktikan ilham yang diperintahkan bagi tiap matanya. Banding- kan kejatuhan di kitab Kejadian – satu mata rantai – dengan kebangkitan kembali di dalam Apokalips, mata rantai lain. Bandingkan ciptaan lama di dalam bab-bab pertama Perjanjian Lama dengan ciptaan baru di dalam bab-bab akhir dari Perjanjian Baru. “Kita buka halaman-halaman pertama dari Alkitab” kata Vallotton, “dan kita menemukan di sana resital penciptaan dunia oleh Sabda Allah mengenai kejatuhan manusia, mengenai pembuang-annya jauh dari Allah, jauh dari surga, dan jauh dari pohon kehidupan. Kita buka halaman-halaman akhir dari 66 jilid kitab tertanggal 4000 tahun kemu-ian. Allah masih tetap berbicara, Dia masih tetap mencipta. Ia menciptakan sebuah surga baru dan sebuah dunia baru. Manusia ditemukan di sana, terpulihkan. Ia telah dikembalikan kepada hubungan dengan Allah, ia berada kembali di surga, di bawah naungan pohon kehidupan. Siapa yang tidak terkesan oleh persesuaian aneh dari akhir dengan permulaan itu? Bukankah yang satu merupakan prolog, dan yang lain epilog dari sebuah drama, yang maha besar juga unik”?

(6) Sebuah argumentasi lain mengenai kuasa tertinggi Injil adalah sifat investigasi yang menantang Sabda Allah. Alkitab mengundang pemeriksaan yang terketat. Halaman-halamannya yang terbuka mengobarkan seruan “Se- lidikilah Injil!” Ereunao – “Carilah”. Ini adalah sebuah istilah seorang olahra-gawan, dan dipinjam dari lomba lari. “Telusurilah” , “Ikutilah jalannya”, -

telusuri Sabda dalam segala penggunaan dan liku-liku-Nya. Enduslah Dia sampai ke arti yang terjauh, seperti seekor anjing mengendusi kelenci.

“Mereka mencari,” kata Santo Lukas lagi di dalam Kisah para Rasul menge-nai orang-orang Berea. Disana terdapat sebuah kata lain, Anakrino – “mereka membagi-bagikan”, menganalisa, menyaring, menumbuk seperti di dalam sebuah lumpang – hingga pikiran yang terakhir.

Betapa khidmatnya tantangan ini! Buku mana selain Kitab Suci yang berani mengeluarkan sebuah tantangan seperti itu? Jika suatu buku telah ditulis oleh manusia, ia akan dikuasa oleh manusia. Orang dapat menelusuri, me- lobang-lobanginya, menyaringnya lalu meninggalkannya, hancur. Namun Kitab Suci, sebuah kitab yang dijatuhkan dari surga, adalah “dinafasi Allah”.

Ia membesar, meluas, dipenuhi dgn tubuh Allah. Allah telah menulis-nya, dan tak seorangpun dapat menghabiskannya. Gunakan mikroskopmu, gunakan telekopmu, arahkan kepada materinya Injil. Mereka memisahkan, tetapi tidak merusak benang-benangnya. Mereka menyebar luas kabut-kabutnya, tetapi menemukan itu adalah kelompok-kelompok bintang. Mereka tidak sampai kepada tanda kemiskinan di dalam Injil. Mereka sama sekali tidak menemu-kan kekasaran kainnya, ataupun keterbatasan horison- nya seperti selalu terjadi apabila diadakan ujian semacam dilakukan pada suatu karya manusia. Letakkan setetes air atau sebuah sayap lalat, di bawah mikroskop. Semakin kuat lensanya semakin banyak tetes air itu membesar hingga menjadi sebuah lautan berisi molekul-molekul lincah. Semakin tinggi kekuatannya, semakin halus, semakin seperti sutra jadinya tissu sayap lalat itu , sampai ia menjadi hampir sehalus benarg emas dan sutra tipis sayap kerubi. Demikian-lah halnya dengan Sabda Allah. Semakin banyak penyelidikan - semakin banyak keilahiannya, semakin banyak pembedahan – semakin banyak pula kesempurnaannya. Kita tidak mungkin mengadakan ujian yang terlalu mendalam, tidak pula menggunakan sinar yang terlalu tajam, ataupun batu uji yang terlalu menuntut.

Kitab Injil berada di atas segala upaya bukan hanya untuk menghabiskan, tetapi untuk memahaminya. Tak ada akal manusia yang dengan mencari, dapat menemukan sepenuhnya tentang Allah. “Karena manusia mana mengetahui hal-ihwal seseorang kecuali roh yang ada di dalamnya? demikian pula hal-ihwal tentang Allah tak seorang mengetahuinya kecuali Roh Allah”.

3. Hal ini membawa kita kepada soal ketiga. Injil memberi kesaksian

mengenai Asal-usul Ilahi-nya dengan DOKTRIN YG MELAMPAUI SEGALANYA, SINAR YANG MELAMPAUI SEGALA SINAR, KECEMERLANGANNYA SENDIRI, CAHAYA ILAHINYA, KESAKSIAN ROH.

Kita seharusnya berharap menemukan suatu Kitab yang datang dari Allah, ditulis dengan ujung batu jaspis dan batu sardine – dilingkari halo dari terangnya bukit-bukit abadi. Kita seharusnya mencari sesuatu mengenai Kitab itu, yang secara langsung memberikan keyakinan, should carry overwhelmingly and everywhere by its bare, naked witness – by what it simply is. That just as God, by stretching out a hand to write upon the “plaister” of a Babylonian palace, stamped, through mysterious and disjointed words, conviction of Divinity upon Beshazzar, and each one of his one thousand “lords”; so after that same analogue – why not? – God should stretch out His hand along the unrolling palimpsests of all the ages, dan menulis di atasnya dengan huruf-huruf yang lebih besar, yang, dengan diam-diam dikenali setiap jiwa manusia, mengatakan, tidak hanya “Ini adalah Kebenaran”, tetapi “Ini adalah Kebenaran, yang difirmankan oleh Allah”.

Injil adalah Firman Allah oleh karena Ia adalah Kitab Keabadian – pengung-kapan apa yang alam, tanpanya, tidak akan pernah peroleh, dan tanpa pe- ngetahuan tentangnya, alam akan hilang.

Kebutuhan jiwa yang terbesar adalah penyelamatan. Pengetahuan mengenai Allah itulah yang dapat meyakinkan kita mengenai “ketenangan “ di sini dan di alam baka. Pengetahuan seperti itu tidak dimiliki oleh alam di luar Alki-tab. Di mana-mana meraba-raba di dalam kegelapan, manusia dihadapkan kepada dua fakta yang tak berubah. Satu, rasa bersalahnya, yang seraya ia melihat ke bawah, tenggelam semakin dalam. Yang lain, pengadilan Allah, yang seraya ia mendongak, naik semakin tinggi. Abadi di sini berlawanan dengan abadi di sana – tanpa ada jembatan di antara keduanya. Alam tidak menolong dengan jembatan. Ia sama sekali tidak bicara tentang Penebusan Dosa.

Berdiri dengan Uriel di bawah matahari, kita kemukakan usul bahwa Injil adalah Ilahi dalam pesan-Nya karena diutarakannya tiga keabadian: Rasa bersalah abadi, Kekudusan abadi dan Penebusan dosa abadi.

Sebuah buku harus sendirinya abadi jika menghayati keabadian, dan sebuah buku harus Ilahi yang menggabungkan secara ilahi keabadian-keabadian.

Rasa bersalah abadi! Apakah rasa bersalahku tanpa dasar? Apakah neraka lebih dalam? Apakah secara introspeksi, terdapat sebuah nadir yang lebih dalam, lebih tanpa dasar? Rasa bersalah abadi! Itulah yang membuka, yang runtuh di bawah kakiku semakin hati-hati aku membenahi hatiku sendiri – watakku, sejarahku. Bersalah abadi! Betapa jauhnya aku berada di bawah tingkat memaafkan-diri, atau “kritik” mengerikan dari Kitab yang menyata- kan ini! Itulah aku. Tenggelam tanpa batas, dan di bawahku sebuah Tophet (Neraka) abadi. Aku tahu itu. Segera setelah dinyatakan oleh Alkitab, aku tahu, dan dengannya aku mengenali Alkitab Ilahi yang bersaksi itu. Aku tahu, tak tahu bagaimana – oleh sebuah naluri, atau hati nurani, oleh suatu penerangan, oleh kuasa Roh Allah, oleh Firman di luar, dan oleh keyakinan yang terkilas di dalam diriku yang mengiakan.

Dan, terbalik di atasku, sebuah Abadi terhubung – Allah! Apa yang dapat lebih tinggi? Puncak apa lebih tinggi? Kubuh tanggungjawab apa yang lebih menakutkan atau lebih menyeramkan? Allah Abadi di atasku – akan datang untuk menilai aku! Sedang di perjalanan sekarang. Aku harus menemui-Nya Aku tahu itu. Aku tahu segera setelah Alkitab menyatakannya. Aku tahu – tak tahu bagaimana – oleh naluri. Bahkan manusia alam harus membayang-kan itu pada dirinya apabila digambarkan demikian, dan harus takut.

“Satu Allah dalam kemegahan, serta sebuah dunia yg membara” Allah yang Kudus abadi di atasku, datang untuk mengadili aku. Itu adalah keabadian kedua.

Lalu yang ketiga dan yang melengkapi Segitiga dan membuat sisi-sisinya sama abadi dan ilahi sama dengan penebusan abadi – Allah Penyelamat abadi di atas kayu salib memberi jawaban kepada Allah di atas singgasana –Yesusku – Pelindungku, Yehovaku untuk selama-lamanya.

Dengan ketiga keabadian ini – terutama yang terakhir Penebusan abadi, yang kepadanya seluruh diriku mengeluarkan jeritan kelelahanku yang terakhir – dengan sisi ketiga dari Segitiga raksasa ini – sisi yang jika aku tidak dibantu, aku tidak akan pernah mengetahui Alkitab membuktikan dirinya adalah Geometri jiwa. Matematika tunggal, Wahyu Allah.

Kita berpegang pada keyakinan bahwa ketiga hal ini – Rasa Bersalah, Allah, dan Penebusan – diletakkan dalam posisi bintang keterangan tambahan dan kebersamaan, berbicara dari langit, lebih nyaring daripada bintang, menga-takan: “Pendosa dan penderita, Wahyu ini adalah Ilahi”.

Mari kita ambil posisi terbuka bahwa sehelai halaman yang terlepas dari Injil Allah, lalu ditemukan di pinggir jalan oleh seseorang yang belum pernah melihat-nya, akan segera meyakinkan orang itu bahwa kata-kata yang aneh dan ajaib itu datangnya dari Allah.

Injil adalah bukti mereka sendiri. Kita meyakini bahwa matahari tidak mem-butuhkan kritik – kebenaran tidak pula membutuhkan lonceng penyelam. Apabila matahari bersinar, ia bersinar. Apabila Allah bersabda, buktinya berada di dalam aksen kata-kata-Nya.

Bagaimana para nabi dahulukala mengetahui waktu Allah berfirman kepada me- reka, bahwa itu adalah Allah? Apakah mereka menguji dengan sangat kritis suara itu yang menggetarkan tiap tulang mereka, dan membuat daging mereka meleleh di atasnya? Apakah mereka memasukkan Allah, boleh dikatakan, - seperti yang rupanya telah dilakukan oleh beberapa orang mo- dern kita – kedalam sebuah botol pelebur emas atau sebuah botol penyu-ling seorang ahli kimia, untuk membuktikan bahwa Dia adalah Allah? Apakah mereka anggap perlu untuk meletakkan tandatangan Allah di depan sebuah pipa-tiup pemeriksaan filosofis kegelisahan, untuk mengeluarkan dan membuat terlihat yang tidak terlihat? Sarannya saja sudah suatu keedanan.

Injil adalah pembuktian mereka sendiri. Penolakan Alkitab berdasarkan pe- nampilannya yang sederhana sudah cukup untuk mengutuk orangnya dan jika diteruskan, akan dikutuknya dia karena :

“Kemuliaan menyepuh emas

halamannya yang kudus

Mulia, laksana matahari;

Ia memberi terang kepada segala usia;

Ia memberi, namun tak pernah meminjam.”

4. Kemuliaan terbentang di atas permukaan Injil, namun kemuliaan ini apabila diperiksa dengan teliti, terlihat memiliki sifat-sifat tertentu dan menguraikan pembuktian-pembuktian di dalam dirinya sendiri, pernyataan

tegas, yang bersama-sama menggambarkan kembali Keilahian-Nya yang tinggi, serta menetapkan hak-Nya.

Ini adalah pokok kita yang keempat: INJIL MENYEBUTKAN DIRINYA SENDIRI ILAHI. Mereka tidak hanya menganggapnya demikian, mereka mengutarakannya. Dan ini: “Demikianlah sabda Tuhan”, adalah intrinsik

- sebuah saksi di dalam saksi, dan kepadanya tergantung sesuatu yang lebih daripada keyakinan – kepercayaan, atau lahir dari Roh, kecuali iman.

Argumen yang timbul dari pengakuan-diri oleh Injil adalah kumulatif.

(1) Alkitab menyatakan bahwa, sebagai Buku, Ia datang dari Allah. Dan dengan berbagai cara Ia menekankan pernyataan ini.

Satu hal: ia mengatakan demikian. Dahulu Allah berfirman melalui para nabi.

Sekarang Allah berfirman melalui Putera-Nya”. Perihal Inspirasi, di dalam pernyataannya yang pertama, adalah perihal Wahyu sendiri. Andaikata Kitab itu Ilahi, maka apa yang ia firmankan mengenai dirinya adalah Iliahi. Injil adalah ter-ilhami karena mereka katakan bahwa mereka terilhami. Persoalannya adalah hanya kesaksian Ilahi, dan urusan kita sama mudah-nya, hanya percaya kesaksian itu. “Inspirasi sama dengan sebuah

kenyataan”, kata Haldane, “seperti juga pembenaran oleh iman. Keduanya bersandar sama-sama pada kekuasaan Injil, yang merupakan kuasa ter-akhir mengenai hal ini seperti mengenai hal apa saja. “Apabila Allah ber-firman, dan apabila Ia mengatakan “Aku berfirman!”, ya itu segalanyalah. Dia pasti didengar dan dituruti.

Di dalam Injil Allah berfirman, dan berfirman tidak hanya melalui wakil. Ki- tab Imamat adalah sebuah contoh dari hal ini. Ayat demi Ayat di Kitab Imamat dimulai dengan “Dan Allah berfirman, demikian:”; dan demikian terus di seluruh kitab. Musa hanyalah seorang pendengar, seorang penulis. Pembicara yang menyatakan diri-Nya sendiri adalah Allah.

Di dalam Injil Allah Sendiri turun dan berfirman, tidak hanya di Perjanjian Lama, dan juga tidak hanya melalui seorang wakil. “Perjanjian Baru membe- rikan kepada kami,” kata Dean Burgon, “ sebuah gambaran agung mengenai Yang Berlanjut Usia memegang seluruh Kitab Injil Perjanjian Lama di dalam tangan-Nya, dan menjelaskannya Sendiri. Dia, Firman yang telah menjadi daging, yang pada mulanya ada pada Allah, dan yang adalah Allah – Maha Kuasa yang sama itu dijelaskan di dalam Injil seolah Ia memegang ‘Benda

Kitab itu’ di dalam tangan-Nya, membuka dan melepaskan lipatan-lipatannya serta menjelaskan seluruhnya mengenai Dirinya sendiri”

Kristus di mana-mana menerima Injil, dan berbicara mengenai Injil, keseluruhannya – Hukumnya, Nabi-nabinya, dan Mazmurnya, seluruh Kanon Perjanjian Lama – sebagai Orakel hidup dari Allah. Ia menerima dan mengabsahkan semua yang tertulis, dan bahkan menonjolkan keajaiban-keajaiban yang oleh para fakir dianggap paling tidak mungkin. Dan semua itu dilakukan-Nya atas dasar kekuasaan Allah. Ia mengabaikan penulisnya – tidak diperhitungkannya. Dalam semua kutipan-Nya dari Perjanjian Lama, hanya empat dari para penulisnya yang Ia sebutkan namanya. Yang penting bagi-Nya ialah bukan yang membuat laporan, tetapi Sang Pendiktenya.

Dan posisi Penyelamat kita yang mengagungkan Injil sebagai “penyambung lidah” Allah yang hidup, terus-menerus dipertahankan oleh para Rasul dan Gereja apostolik. Berkali-kali, di dalam Kitab Kisah Para Rasul, di dalam semua Surat ditemukan ungkapan-ungkapan seperti “Ia berfirman”, “Allah berfirman”, “Orakel Allah”, Roh Kudus berfirman”, “Benar Roh Kudus ber- firman melalui Nabi Esaias”.

Surat kepada kaum Ibrani memberikan gambaran yang bagus sekali menge-nai hal ini, di mana seraya menguraikan seluruh ekonomi ritual Mosaik, sang penulis menambahkan “Roh Kudus yang menunjukkan”. Lebih jauh lagi, dan mengutip kata-kata Nabi Yeremiah, ia memperkuatnya dengan u- capannya: Roh Kudus juga menjadi saksi kepada kami”. Argumen kerajaan pada Mazmur 95 ia akhiri dengan “Maka, seperti difirmankan oleh Roh Kudus, Hari ini akan engkau dengar suara-Nya”. Di dalam seluruh Surat, siapa pun penulis yang dikutib tulisannya, kata-kata kutipan itu dikembalikan kapada Allah.

(2) Namun sekarang, mari kita lebih mendekat, kepada pernyataan yang sangat presis, dan pasti serta tanpa ragu-ragu. Apabila Injil sebagai Kitab adalah Ilahi, jadi apa yang mereka katakan tentang mereka sendiri, adalah Ilahi. Apa kata mereka?

Di dalam penyelidikan ini, biarkan kita meletakkan jari kita pada dua buah kata, dan selalu dua buah – kunci apostolik menuju seluruh posisi Gereja:

“Grafik” – tulisan, tulisan, Tulisan itu – bukan seseorang, atau sesuatu di belakang Tulisan itu. Tulisan itu. “Grafik” itu yang telah di ilhami.

Dan apa yang dimaksud dengan di ilhami? “Theopneustos”, di nafasi Allah.

“Di nafasi Allah!” Tergoncangkan seluruh dasar. Allah turun seperti letusan pipa-pipa sebuah organ – dengan suara seperti angin puyuh, atau dengan suara lebut berbisik laksana nada-nada Aeolis, dan seraya berfirman, Ia mengambil sebuah tangan, dan di dalam tangan-Nya sendiri dijadikan-Nya sebuah pena seorang penulis yang sangat penurut.

Pasa Grafe Theopneustos! “Semua tulisan kudus”. Lebih tepat lagi “Setiap

Tulisan kudus” setiap tanda di atas perkamennya, “telah dinafasi Allah”. Demikian kata Paulus.

Pasa Grafe Theopneustos! Pernyataan kudus ini bukanlah dari alat pemban-tu, tetapi dari Penulisnya; bukan dari seorang perantara, tetapi dari produk- nya sendiri. Ia merupakan satu-satunya pertahanan tertinggi dari apa yang tertinggal di atas halaman ketika Ilham telah selesai. “Apa yang telah tertu-lis”, ucap Yesus. “bagaimana engkau membacanya?” Manusia hanya dapat membaca apa yang telah tertulis.

Pasa Grafe Theupneustos! Allah bukan mengilhami manusia, tetapi bahasa.

Ungkapan “manusia yang terilhami” tidak terdapat di dalam Alkitab. Injil tidak pernah menggunakannya. Injil mengatakan bahwa “orang-orang suci tergerak untuk” -- pheromenoi – tetapi tulisan, manuskrip mereka, apa yang telah mereka bubuhkan dan tinggalkan di atas kertas, itu yang ternafasi-Allah. Orang bernafas di atas sepotong kaca. Nafasnya menempel di sana, membeku dan tetap di sana; membuat ú menjadi sebuah gambar dari es. Itulah maksudnya. Tulisan di kertas di bawah tangan Paulus ditiup, dinafasi ke dalam halaman itu seperti Roh Allah memberi nafas kepada Adam.

Khirograf itu adalah suara penjelmaan Allah, sama benarnya seperti daging Yesus yang sedang tidur di atas bantal adalah penjelmaan Allah.

Kita berdiri di atas keyakinan bahwa pada perkamen yang asli, selaput tiap kalimat, kata, garis, tanda, titik, titik-sapuan pena, itota telah di letakkan di sana oleh Allah.

Mengenai perkamen yang asli. Pasti tidak ada perkamen-perkamen lain yang lebih tua usianya. Bahkan jika kita menuruti memikiran extra-Injiliah berat bahwa Musa atau Matius menuliskan dari ingatan mereka atau dari buku-buku lain hal-hal yang telah mereka tinggalkan bagi kami; tetap saja, dalam hal manapun, pilihan, pengungkapan, pembentukan dan liku-liku ucapan di atas selaput adalah pekerjaan Allah tanpa bantuan.

Tetapi apa? Marilah kita berhenti mengandai-andai dengan extra-Injiliah yang sombong. Yesaya yang menyala, Yehezekiel yang perfervid, peman-dang roda? (wheel-gazing), Sto Paulus yang berapi-api, mirip bidadari terangkat naik, naik, naik terus sampai ke Surga yang oleh dia sendiri disebut “surga ketiga” – apakah mereka hanya pembuat copy, hanya “redaktor” yang ber- gerak sendiri? Saya rasa tidak. Pena mereka menuntut, membujuk, bergerak kesana kemari oleh sapuan sebuah aliran yang ilahi, meregangkan baju kulit mereka seperti kepunyaan Lukas di atas kubu Santo Petrus, menuju Surga yg tertinggi, tersayapi dari singgasana Allah.

Kita tetap berkeyakinan bahwa perkamen yang asli – selaput tulisan setiap kalimat, kata, garis, tanda, titik, titik-sapuan pena, iota diletakkan di sana oleh Allah.

Di atas perkamen yang asli. Orang boleh menghancurkan perkamen itu. Waktu dapat menghancurkannya. Mengatakan bahwa selaput-selaput itu telah Menderita di tangan manusia, hanyalah mengatakan bahwa segala yang Ilahi harus menderita, seperti juga pola Tabernakel menderita ketika diserahkan ke dalam tangan kita. Namun, untuk mengatakan bahwa penulis-annya telah menderita – kata-kata dan aksaranya – sama saja mengatakan bahwa Yehova telah gagal.

Yang tertulis tetap ada. Seperti juga tulisan sebuah palimpsest, ia tetap

bertahan dan akan muncul kembali, tak peduli dalam keadaan bagaimana, perubahan apapun terjadi untuk memporak-porandakan, menggelapkan, mencacati, atau menghapusnya. Bahkan suatu THEOS yang kesepian (Allah yg menyatakan diri-Nyai dalam rupa manusia (Timotius 3:16)) ditulis oleh Roh Allah di atas Uncial “C” Agung seperti, telah saya lihat dengan mata kepalaku sendiri - sederhana, jelas, berkilau mulai dari belakang tinta pucat dan menutupi tinta Ephraim, orang Syria – mustahil dapat dikubur. Seperti hantu Banquo, ia akan naik, dan Allah Sendiri akan menggantikannya, dan, dengan sebuah sabetan palu, memukul tangan-tangan yang menghilangkan. Perkamen, selaput, kerusakan, tulisan, kata abadi seperti Allah. Cabutilah plester dari istana Balshazzar namun Mene! Mene! Tekel! Upharsin! Tetaplah. Mereka tetap ada.

Mari kita ulang lagi, dan dari permulaan, dan melihat apa yang Injil mengatakan mengenai dirinya sendiri.

Satu hal: mereka mengatakan bahwa Allah berfirman, “dari dulu dan terus-menerus, di dalam diri para rasul” . Kita boleh jika diinginkan, menjadikan “en” instrumental – memang juga ia lebih sering instrumental --- yaitu “oleh” para rasul, tetapi di dalam kedua hal, di dalam diri mereka atau oleh mereka, Pembicaranya adalah Allah.

Sekali lagi, Injil mengatakan bahwa hukum yang diumumkan, doktrin-doktrin yang diajarkan, cerita-cerita yang dicatat, oleh para penulis itu – dan di atas segalanya, ramalan-ramalan mereka mengenai Kristus – bukanlah milik mereka; tidak bersumber dari mereka, atau diciptakan oleh mereka dari sumber-sumber apapun dari luar – bukan apa yang dengan cara apapun mereka ketahui sebelumnya, atau mereka pahami, tetapi datang langsung dari Allah; mereka hanya sebagai penerima, hanya bersama Allah seraya Allah bergerak di dalam diri mereka.

Beberapa dari Pembicara di Alkitab, seperti Balaam, Nabi Tua dari Bethel, Caiaphas, tercekam dan dipaksa berlawanan dengan kemauan mereka sendiri, dan dengan sangat enggan, mengutarakan apa yang sama sekali tidak terpikirkan atau terasakan oleh mereka. Pembicara lain lagi – sebetulnya semua – dibuat rabun mata terhadap orakel-orakel, perintah-perintah dan penglihatan-penglihatan yang mereka utarakan. “Mencari apa, waktun kapan, Roh Allah yang di dalam mereka, mengatakannya!”, dengan kata lain para nabi sendiri tidak mengetahui apa yang mereka tulis. Gambaran apa dapat lebih mengesankan daripada melihat nabi itu sendiri memperhatikan dengan terheran-heran, melihat tandatangannya sendiri – seperti telah ditinggalkan di atas meja – relekwi dari sebuah tangan aneh dan supernatural? Bagaimana gambaran itu tidak mengangkat Alkitab dari tangan-tangan manusia dan diletakkan pada tempatnya kembali, sebagai tempat penyimpanannya yang asli, di dalam tangan Allah.

Sekali lagi; dikatakan “Sabda Allah datang” kepada penulis yang ini yang itu. Tidak dikatakan bahwa Roh datang, yang memang betul, tetapi bahwa Sabdanya sendiri datang, yaitu Dabar-Jehova. Dan dikatakan pula: “Hayo Haya Dabar”, bahwa ia benar-benar datang, pada pokoknya, “essendo fuit” - demikian kata Pagninus, Montanus, Polanus – yaitu, ia datang: kecambah benih dan kulitnya, serta bunga – seluruhnya – kata-kata yang diajarkan oleh Roh Kudus – yaitu “INJIL”.

Sekali lagi; disangkal, dan dengan sangat keras, bahwa kata-kata itu adalah milik manusianya – yaitu sang wakil. “Kata-kata itu ada di lidah saya” dinya-takan oleh Santo Paulus bahwa “Kristus berkata-kata di dalam nya” (2 Ko-rintus 13:3). “Siapa yang telah membuat mulut manusia. Bukankah Aku, Allah yang membuatnya? Aku akan menaruh kata-kata-Ku ke dalam mulutmu”. Itu sangat menyamai apa yang telah di nodai sebagai “teori mekanis”. Benar-benar membuat sang penulis tak lebih dari pada sebuah alat, meskipun bukan alat yang tidak sadar, atau enggan atau tidak spontan. Apakah bahasa dapat lebih jelas menyatakan atau membela suatu inspirasi langsung yang diucapkan?

Sesuai dengan fakta, sekali lagi dikatakan bahwa Sabda itu datang kepada para penulis tanpa pelajaran apapun – “sekonyong-konyong” – seperti de- ngan Amos di mana dia diambil sedang menggembalakan dombanya.

Sekali lagi; ketika dengan demikian sabda itu datang kepada para nabi mereka tidak berkuasa untuk menyembunyikannya. Itu merupakan sebuah “api di dalam tulang belulangnya” yang harus bicara atau menulis, menurut Yeremia, atau ditelan wadah manusiawinya.

Dan untuk lebih menjelaskan hal ini, dikatakan bahwa orang-orang kudus itu sedang pheromenoi, “tergerak” atau terbawa oleh suatu aliran supernatural dan merasa bahagia luar biasa (yang tidak dapat dilukiskan) – sebuah delectatio scribendi. Untuk sekejap pun mereka tidak dapat menggunakan akalnya, kebijakannya, fantasi, ingatan atau penilaiannya sendiri untuk mengatur, menata, atau menyingkirkan, atau menghapus. Mereka hanyalah tukang mencatat yang cerdas, sadar, pasif, plastis, penurut, persis dan akurat. Mereka merupakan orang-orang yang menulis dengan tinta berbeda-beda. Mereka mewarnai karya mereka dengan warna-warni kepribadian mereka, atau lebih baik dikatakan Allah mewarnainya, setelah membuat penulis seperti tulisannya, dan penulisnya untuk tulisan yang khusus itu; dan karena karya itu mengalir melalui mereka seperti air yang dialirkan melalui pipa gelas berwarna kuning, hijau, merah, ungu, akan menjadi kuning, ungu dn hijau, dan merah.

Allah telah menulis Injil, seluruh Injil dan Injil sebagai suatu keseluruhan. Dia menulis tiap kata benar-benar seperti Ia menulis Dekalog (Sepuluh Perintah) di atas lempengan-lempengan batu.

Kritik yang lebih tinggi mengatakan kepada kita – “ Pemberangkatan Baru” mengatakan kapada kita – bahwa Musa telah di-ilhami, tetapi Dekalog tidak. Tetapi KELUARAN dan ULANGAN lebih dari tujuh kali menyatakan Allah telah merentangkan ujung jari-Nya dari Surga dan meninggalkan tanda-tanda, coretan, huruf-huruf, dan goresan di atas batu-batu itu. (Keluaran 24:12):

“.....tinggallah di sana, maka Aku akan memberikan kepadamu lem-pengan batu , yakni hukum dan perintah, yang telah Kutuliskan untuk diajarkan kepada mereka”.

“ Dan Tuhan memberikan kepada Musa, setelah Ia selesai berbicara

dengan dia di Gunung Sinai, kedua lempengan Hukum Allah,

lempengan batu, yang ditulisi oleh jari Allah”. (KELUARAN 31:18).

Lempengan-lempengan itu adalah pekerjaan Allah dan tulisan itupun adalah tulisan Allah, yang diukir di atas lempengan-lempengan itu. (ULANGAN 4:12).

“Tuhan telah berbicara kepadamu dari tengah api dan Ia menyatakan

kepadamu Perjanjian-Nya, bahkan Sepuluh Perintah-Nya dan Dia telah

menulisnya di atas dua lempengan Batu” (KELUARAN 9:10)

“Kata-kata itu telah diucapkan oleh Allah, dan Ia menulisnya pada dua

Lempengan batu, dan diberikannya kepada saya” (KELUARAN 9:10).

“Dan Allah telah memberikan kepada saya dua lempengan batu yang ditulisi dengan jari Allah”!

Tujuh kali, dan kepada orang bagi siapa menulis itu merupakan insting, bagi manusia yang terutama merasa terkesan, bukan oleh suara-suara yang menghilang, tetapi terkesan oleh kata-kata yang tetap dan tertulis, dan yang sendiri tidak dapat menahan keinginan untuk meletakkan kata-kata mereka sendiri ka atas suatu tempat. Biarpun batu atau kulit pohon jika kertas tidak mereka miliki; tujuh kali, kepada orang untuk siapa menulis merupakan suatu dorongan dan yang cenderung untuk keyakinan mereka mengandalkan apa yang mereka namakan “pembuktian dokumenter”. Yaitu buku-buku, Allah mun cul dan menyatakan “Aku telah menulis!”.

Injil apakah dengan alat menusiawi atau tanpa itu, dengan Musa atau tanpa Musa, telah ditulis oleh Allah. Ketika Allah selesai, Musa tidak harus apa-apa selain menurunkan tulisan Allah. Itulah doktrin kita. Injil – jika sepuluh buah kata, ya seluruhnya – jika hukum, lalu Injil – tulisan, Tulisan Itu, GrafikNya – Hai Graphai ungkapan-ungkapan yang telah diulang lebih dari limapuluh kali di dalam Perjanjian Baru saja – ini, inilah telah di-ilhami.

Saudara-saudara, bahaya zaman sekarang – disebut “down-grade” dari doktrin, dari keyakinan, dari perasaan moral – penurunan yang semakin tetap paten, semakin dinyatakan blak-blakan – apakah tidak menemukan tapaknya yang pertama di dalam pegangan kitayang telah hilang pada ilham Sabda Allah?

Apakah tidak ditemukan sebuah keyakinan baru di akar tiap-tiap obat yang kita inginkan, seperti ketiadaannya berada pada akar tiap kerusakan yang kita sesali.

Diterjemahkan seorang ibu, Tim Penerjemah THE FUNDAMENTALS

KEMULIAAN MORAL YESUS KRISTUS BUKTI PENGILHAMAN

BAB 3

KEMULIAAN MORAL YESUS KRISTUS BUKTI PENGILHAMAN

(THE MORAL GLORY OF JESUS CHRIST A PROOF OF INSPIRATION)

Oleh WILLIAM G. MOOREHEAD, D.D.

Rektor Xenia Theological Seminary, Xenia, Ohio

Kemuliaan-kemuliaan Tuhan Yesus Kristus terdiri dari tiga bagian: yang Pokok, yang resmi dan yang moral. Kemuliaan-Nya yang pokok ialah mengenai Dia sebagai Putera Allah, sederajat dengan Bapa-Nya. Kemuliaan-Nya yang resmi ialah yang melekat pada-Nya sebagai Perantara/Mediator. Itu merupakan hadiah yang telah dianugrahkan kepada-Nya, promosi mulia yang Dia terima ketika Dia dengan jaya telah menyelesaikan karya besar-Nya. Kemuliaan moral-Nya terdiri dari kesempurnaan-kesempurnaan yang merupakan ciri-ciri hidup dan pelayanan-Nya di dunia, kesempurnaan yang melekat pada setiap hubungan yang ditopang-Nya, dan di dalam setiap keadaan di mana Ia berada. Kemuliaan-kemuliaan pokok dan resmi-Nya pada umumnya tertutup selama Ia berada di dunia. Kemuliaan moral-Nya tidak mungkin disembunyikan; Dia tidak mungkin kurang dari sempurna, itu adalah milik-Nya, itu adalah Dia sendiri. Kesempurnaan-Nya ini sekarang menerangi setiap halaman dari keempat Injil seperti pernah ia menerangi setiap jalan yang Ia lalui.

Tesis yang kita mulai untuk menjelaskan dan membuktikan hal ini ialah demikian: bahwa kemuliaan moral Yesus Kristus seperti diperlihatkan di keempat Injil tidak mungkin hasil karya intelek manusia tanpa bantuan, bahwa hanya Roh Allah yang mampu membuat gambaran Putera Manusia yang tiada bandingannya. Pembicaraan tema ini terdiri dari dua bagian:

I. Sebuah survei singkat mengenai kemuliaan moral Kristus seperti diperlihatkan di dalam Injil.

II. Penerapan argumentasi.

KEMULIAAN MORAL KRISTUS: KEMANUSIAAN YESUS

I. Kemuliaan moral Yesus muncul di dalam perkembangan-Nya sebagai Putera Manusia. Sifat yang Ia terima adalah sifat kita, terkecuali dosa dan kecenderungannya. Kemanusiaan-Nya adalah nyata dan sejati, sesuatu yang harus melalui berbagai tingkat pertumbuhan seperti semua anggota dari rasnya. Dari semenjak kecil hingga remaja, dari remaja hingga dewasa, terjadi perkembangan baik dalam kekuatan tubuh maupun kemampuan mental-Nya; namun kemajuannya terjadi secara rapi. “Tidak terdapat kecenderungan tidak sehat yang membekasi usia muda yang terkudus ini”. Dia mulanya seorang anak, lalu seorang laki-laki, bukan laki-laki dengan usia anak.

Sebagai Anak Manusia Ia memiliki semua kelemahan yang tidak berdosa yang terdapat pada kita. Dia merasakan kebutuhan yang biasa pada kita semua: kebutuhan akan makan, akan istirahat, akan simpati manusia dan pertolongan ilahi. Ia tergantung pada Yusuf dan Maria, Ia penyembah di sinagoge dan di Bait, Ia menangisi kota yang bersalah dan berkeras hati, serta menangis di dekat makam seorang terkasih. Ia menyatakan ketergantungan-Nya kepada Allah melalui doa.

Tidak terdapat yang lebih pasti dari pada kenyataan bahwa kisah-kisah Injil memperlihatkan Yesus sebagai seorang laki-laki sejati, seorang anggota ras kita yang nyata. Tetapi segera setelah kita mengakui kebenaran ini kita dihadapkan kepada yang lain yang menempatkan kisah-kisah ini terpisah dan tak terjamah di dalam bidang literatur. Hal yang kedua ini ialah: pada tiap-tiap tingkat perkembangan-Nya, dalam tiap situasi hidup, di dalam setiap bagian pelayanan-Nya, Ia benar-benar sempurna. Tiada satupun kesalahan melekat kepada bagian manapun dari hidup-Nya, tiada satupun awan menutupi bagian manapun, di manapun tidak terdapat kesalahan.

Tiada sesuatu pun yang lebih mengherankan, lebih tak pernah ada contoh-nya, daripada perbedaan antara Yesus dan perselisihan dan ketidaksesuaian di sekitar-Nya, antara Dia dan mereka yang paling dekat kepada-Nya, para rasul, Yohanes Pembaptis, serta ibunya, Maria. Semua berada jauh di bawah Dia.

MANUSIA TELADAN

2. Injil memuliakan Tuhan kita jauh di atas segala manusia lain sebagai manusia mewakili yang ideal, teladan manusia. Pada penilaian para sejarawan, tidak terdapat apapun yang demikian jelasnya sebagai ras, karakter nasional – tiada yang lebih tidak terhapuskan.

Orang-orang yang paling besarpun tidak mampu membebaskan dirinya dari pengaruh-pengaruh di tengah mana mereka dilahirkan dan dibesarkan. Keanehan-keanehan ras dan spirit zamannya meninggalkan jejak di dalam karakter mereka yang tidak dapat hilang. Hingga serat tubuhnya yang terakhir dari keberadaanNya, Luther dari Jerman, Calvin Perancis, Knox Skotlandia; Agustine membawa stempel seorang Roma dan Chrysostom tentu saja seorang Yunani. Paulus dengan kebesaran hati dan simpati-simpatinya adalah seorang Yahudi, tetap seorang Yahudi. Yesus Kristus adalah Satu-satunya yang pantas berhak disebut Manusia universal/katolik. Tak ada yang lokal, yang berlaku sebentar, yang mengindividualkan, baik nasional maupun terikat pada satu aliran, mengerdilkan ukuran karakter-Nya yang mengagumkan.

“ Ia berada di atas segala asal-usul, darah, horison sempit yang - agaknya- membatasi hidup-Nya; oleh karena Dia adalah manusia dasar yang dengan kehadiran-Nya segala perbedaan ras, jarak usia, ragam peradaban dan derajat-derajat budaya mental tidak ada artinya”. (Liddon).

Dia adalah milik segala abad. Ia saudara semua orang, apakah mereka menggigil di atas salju lingkaran kutub, atau terengah-engah di bawah panasnya ekuator yang membakar, karena Dia adalah Putera Manusia, Putera Umat Manusia, keturunan ras yang sejati.

SIFAT TIDAK-MEMENTINGKAN-DIRI DAN MARTABAT

3. Kemuliaan moral Tuhan terlihat dari sifat tidak mementingkan diri sendiri dan martabat pribadi-Nya. Sama sekali tiadanya egoisme dalam bentuk apapun di dalam karakter Tuhan Yesus merupakan sebuah segi lain yang luar biasa dalam Injil. Dia sering mendapat kesempatan untuk memuaskan ambisi seandainya watak-Nya tercemar oleh nafsu yang satu itu. Namun “Kristus tidak memuaskan bahkan diriNya sendiri”, “Dia tidak mencari kemuliaan-Nya sendiri”, Dia datang tidak “untuk melakukan kehendak-Nya sendiri”. Tubuh dan jiwa-Nya dengan segala kemampuan dan kegiatannya masing-masing telah diabdikan kepada tujuan tertinggi dari misi-Nya. Pengorbanan-diri-Nya mencakup seluruh deretan pemikiran manusiawi-Nya serta kegiatan-Nya: dan terjadi terus selama hidup-Nya; dan ungkapan yang tertinggi adalah wafat-Nya yang memalukan di atas kayu salib di Kalvari.

Keindahan aneh dari sifat-Nya yang tidak mementingkan diri-Nya sendiri seperti yang digambarkan di dalam kisah-kisah Injil terlihat dari tidak pernah menonjolkan diri-Nya dan meremehkan publisitas. Di dalam kerendahan hati-Nya, Ia seakan seperti mereka yang pada dasarnya puas dengan obskuritas (keadaan tidak dikenal); seakan Ia tidak memiliki keinginan akan keunggulan seperti yang lazim terdapat pada orang-orang yang benar-benar besar; sama besar keinginan dan kehati-hatian-Nya agar bahkan mujizat-mujizat-Nya jangan sampai menambah reputasi-Nya. Akan tetapi, di tengah segala kerendahan hati sampai berkorban-diri-Nya Dia tidak pernah kehilangan martabat pribadi-Nya, begitu pula harga-diri yang cocok bagi-Nya. Dia dilayani oleh yang rendah dan yang tinggi, kadang-kadang Ia lapar, namun ia memberi makan massa di gurun-gurun, Ia tidak mempunyai uang, tetapi Ia tak pernah mengemis dan Ia memberikan uang logam yang ditemukan-Nya di mulut seekor ikan, untuk disumbangkan kepada pemerintah. Ia dapat meminta secangkir air dari sebuah sumur, tetapi itu supaya Ia dapat menyelamatkan satu jiwa.

Ia tidak pernah lari dari musuh; Ia mundur dengan tenang atau lewat tanpa terlihat. Rasa bermusuhan tak pernah menggairahkan atau mengkhawatirkan-Nya. Ia selalu tenang, tenteram. Ia terlihat tidak banyak memperdulikan diri-Nya, perkara-Nya sendiri, atau kesenangan atau keselamatan-Nya sendiri, tetapi segalanya bagi kehormatan dan kemuliaan Bapa. Apabila massa, berhasrat besar dan berharap, mendesak-Nya sambil berteriak “Hosana bagi Putera Daud”, Ia tidak bergembira; apabila semua mundur karena terbius oleh kata-kata-Nya yang penuh kuasa, Ia tidak bersedih. Ia tidak mengingini tempat di antara manusia, Ia tenang dan puas menjadi pelayan Allah, Orang yang penurut dan rendah hati. Ia tetap benar dikatakan bahwa “Ia tidak membahagiakan diri-Nya Sendiri”.

Namun, menembus segala penolakan-diri-Nya yang mengagumkan, terkadang berkedip seberkas dari keagungan yang tak terhingga dan martabat tertinggi yang ada pada-Nya karena Ia adalah Putera Allah. Kata-kata Van Oosterzee adalah benar di samping indah dan penuh arti: “Putera Raja yang hari ini tinggal di Istana Bapa-Nya adalah juga yang esok hari, oleh karena kasih-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang pemberontak di sebuah sudut Kerajaan, dengan meninggalkan kemuliaan-Nya sebagai putera mahkota, datang untuk tinggal di antara mereka, sebagai hamba ***, dan hanya dapat dikenali dari keagungan wajah-Nya dan bintang kerajaan di dada-Nya, apabila jubah yang sederhana itu tersingkap sejenak, tampaknya tanpa disengaja”.

KEUNGGULAN ATAS PERTIMBANGAN DAN CAMPURTANGAN MANUSIA

4. Injil memperlihatkan Tuhan Yesus sebagai di atas penilaian dan campurtangan manusia. Apabila ditantang oleh para rasul dan oleh para musuh, seperti sering terjadi, Yesus tidak pernah minta maaf, tidak pernah membela diri, tidak pernah mengaku bersalah. Ketika para rasul yang sangat takut akan badai, membangunkan-Nya dan bertanya: “Apakah Guru tidak perduli kami tenggelam?”, Ia tidak menyalahkan diri-Nya, juga tidak membela ketidakpedulian-Nya yang nampak terhadap rasa takut mereka. Marta dan Maria, secara bergantian, berkata dengan sangat sedih, “Seandainya saja Guru ada di sini, saudaraku tidak wafat”. Tidak ada satupun pelayan Injil di seluruh dunia, yang dalam keadaan demikian tidak akan menjelaskan atau mencoba menjelaskan mengapa ia tidak dapat langsung berangkat ke rumah duka waktu dipanggil ke sana. Tetapi Yesus tidak menjelaskan ketidakhadiran-Nya, juga tidak kelambatan-Nya sampai dua hari di tempat di mana Ia berada, waktu pesan mendesak dari kakak-beradik itu tiba. Dalam keadaan sangat yakin akan kebenaran cara-cara-Nya, Ia hanya menjawab, “Saudaramu akan bangkit kembali”. Petrus pernah mencoba untuk menegur Dia, “Kiranya dijauhkan dari diri Anda, Tuhan, ini tidak boleh terjadi pada-Mu”. Petrus harus belajar bahwa adalah Iblis yang menyuruhnya mengucapkan teguran itu. Ia pun tidak menarik kembali sepatah kata pun, ketika orang-orang Yahudi dengan benar menyimpulkan dari bahasa-Nya bahwa Ia “seorang manusia yang menyamakan diri-Nya dengan Allah” (Yohanes 10:30-36). Ia menunjukkan penggunaan nama Elohim (Allah) kepada para hakim di bawah teokrasi; namun Ia tanpa dapat dibantah menyatakan bahwa gelar Keilahian-Nya lebih tinggi daripada, dan berbeda ragamnya dari yang dimiliki para hakim Yahudi. Dengan demikian untuk kedua kalinya Ia sampai kepada pernyataan-Nya yang telah mengakibatkan ketidaksukaan begitu hebat, dengan mempermaklumkan kesamaan-Nya dengan Bapa, yang menyangkut Keilahian-Nya sendiri yang sebenarnya. Orang-orang Yahudi memahami-Nya. Ia tidak menarik kembali apa yang mereka anggap penghujatan, dan kembali mereka menginginkan hidup-Nya. Ia tidak pernah bersalah, dan tidak pernah menarik kembali.

Demikian pula Ia lebih tinggi dari campurtangan manusia. Ia tidak pernah minta didoakan, bahkan kepada para pengikut-Nya atau teman-teman terdekat-Nya, apalagi ibu-Nya Maria. Di Getsemani, Ia minta ketiga orang untuk berjaga dengan-Nya, Ia tidak minta mereka berdoa untuk Dia. Ia perintahkan mereka untuk berdoa supaya tidak kena godaan, tetapi Ia tidak meminta mereka untuk berdoa agar Ia tidak usah atau agar Ia dibebaskan dari pada-nya. Paulus berkali-kali menulis, “Saudara-saudara berdoalah untuk kami” “Doakanlah saya”. Tetapi demikian itu bukanlah bahasa Yesus. Penting pula disebutkan bahwa Tuhan tidak menempatkan orang-orang-Nya sama tinggi-nya dengan Ia sendiri di dalam doa-Nya. Ia tetap mempertahankan jarak antara martabat dan ketinggian Pribadinya dan mereka. Di dalam campur-tangan-Nya Ia tidak pernah menggunakan kata ganti orang dalam bentuk jamak. Apabila Ia memohon sesuatu Ia selalu berkata, “Saya (I)”, “Aku (Me)”, “Ini (These)” dan “mereka yang telah Engkau berikan kepadaKu”, tidak pernah “kami (“we” and “us”)” seperti apabila kita bicara dan harus bicara di dalam doa-doa kita.

KETIDAKBERDOSAAN YESUS

4. Ketidakberdosaan Juru Selamat kita adalah saksi untuk kemuliaan moral-Nya. Injil memberikan kapada kita sebuah fakta tunggal dan unik di dalam sejarah manusia – seorang manusia yang benar-benar tanpa dosa! Di dalam hal kelahiran-Nya yang tanpa cela, pada waktu kanak-kanak, remaja dan dewasa, di muka umum atau pribadi, dalam kematian dan dalam hidup, Ia tidak tercela. Dengarkan beberapa saksi. Diantara ada kesaksian oleh para musuh-Nya. Selama tiga tahun yang panjang para Farisi telah mengamati mangsa mereka. Seperti ditulis oleh seorang lain, “Di tiap kerumuman orang terdapat para Farisi, sembunyi di belakang setiap pohon. Mereka memeriksa para pengikut-Nya, mereka meriksa berulang-ulang orang-orang yang ada di sekitar-Nya. Mereka menyelidiki hidup pelayanan-Nya, hidup pribadi-Nya, jam-jam istirahat-Nya. Lalu mereka mengajukan satu-satunya tuduhan yang dapat mereka temukan – bahwa Ia kurang hormat kepada Kaisar. Hakim Roma yang pasti tahu, membatalkannya”. Terdapat seorang mata-mata lagi – Yudas.

Andaikata terdapat satu saja kegagalan di dalam karier Pembebas kita, di dalam hebatnya pergumulan jiwa Yudas, ia pasti mengingatnya untuk menghibur dirinya, namun kepahitan keputuasaannya yang membuat hidupnya tidak tertahankan lagi, adalah “Saya telah mengkhianati darah yang tak berdosa”.

Terdapat juga kesaksian para teman-Nya. Para pengikut-Nya bersikukuh bahwa selama mereka bergaul dengan-Nya, hidup-Nya tanpa cela. Seandainya terdapat satu saja cacat, pasti mereka menemukannya, dan sejarawan yang jujur seperti mereka pasti akan mencatatnya. Orang yang paling bersih dan keras yang hidup pada waktu itu (Yohanes Pembaptis-red), mundur untuk membaptis Yang Paling Kudus dan dalam kesadaran ketidakberhargaannya dia mengatakan:” Saya yang perlu dibaptis oleh Tuan, tapi Tuan datang kepada saya?”. Juga tidak boleh diabaikan kesaksian-Nya sendiri: Yesus tidak pernah sekalipun mengaku berdosa. Ia tidak pernah meminta maaf. Namun bukankah Dia yang secara tajam menegur kecongkakan orang-orang Farisi? Bukankah Dia di dalam pengajaran-Nya, seakan mengabaikan segala kesalehan yang tidak didasarkan pada patah hati? Namun, Dia tidak pernah memberi tanda, Dia tidak pernah mengucap doa yang memberi kesan sekecil apapun adanya bekas kesalahan. Dia menggambarkan kutukan bagi pendosa yang tidak dapat diperbaiki dan tidak menyesal dengan warna-warni yang sangat menyeramkan di seluruh Alkitab, tetapi Ia sendiri tidak merasa khawatir dan Ia tidak pernah mengutarakan rasa takut terhadap penghukuman yang akan datang. Ketenangan jiwa-Nya, persahabatan-Nya dengan Allah Yang Maha-tinggi tidak pernah terganggu maupun terhenti. Apabila Ia mendorong kesedihan pada orang lain dan airmata penyesalan, itu ialah untuk dosa-dosa mereka; apabila Ia mengerang dalam penderitaan, itu bukanlah untuk dosa-dosa-Nya sendiri, tetapi dosa-dosa orang lain. Ia menantang musuh-musuh-Nya yang paling membenci-Nya untuk membuktikan kesalahanNya (Yohanes 8:46). Dan ini belum semuanya.

Ada yang mengatakan, “Jiwa seperti juga tubuh mempunyai pori-pori, dan pori-pori itu selalu terbuka. Secara insting, tanpa disadari, mau tidak mau, kekerdilan ataupun kebesaran pikiran seseorang yg terdalam, selalu menampakkan diri”. Dari inti dan pokok yg terdalam sifat moral selalu mengeluarkan lingkaran-lingkaran pengaruh ke sekitarnya, yang mengelilingi dirinya dengan atmosfir yg memperlihatkan dirinya. Pada diri Yesus Kristus memperlihatkan-diri ini bukan tidak sengaja, atau kebetulan atau dipaksakan: hal itu dilakukan dengan sangat sengaja. Ia dikelilingi oleh iklim kekudusan yg tinggi, oleh keterpisahan dari dunia dan cara-caranya, keterpisahan dari kejahatan dalam segala bentuk dan derajat, seperti belum pernah diperlihatkan oleh siapapun yg pernah hidup. Meskipun berasal dari keturunan leluhur yg tidak murni, Ia tidak membawa serta noda dosa kepada dunia, dan meskipun Ia berbaur dengan orang-orang berdosa dan mengalami godaan-godaan hebat, Ia tidak melakukan dosa, Ia tidak terkena noda. Ia tidak hanya tidak ternodai, melainkan mustahil dinodai. Ia merupakan seberkas sinar yg setelah meninggalkan sumber sinarnya dapat menembus media yg terkotor dan tetap tidak ternodai ataupun tersentuh. Ia mengalami semua keadaan manusia yg sebenarnya di dalam dosa dan kesengsaraannya, namun Ia tetap mempertahankan kesucian tak terhingga dari surga. Di dalam sejarah umat manusia tidak ada yg dapat menandingi atau menyamai-Nya.

GABUNGAN DAN KORELASI KEBAJIKAN

6. Gabungan dan korelasi yg sangat halus antara kebajikan dan kesempurnaan di dalam Tuhan Yesus merupakan satu lagi segi yg menakjubkan di dalam cerita-cerita Injil. Terdapat mereka yg telah memperlihatkan ciri karakter yg luar biasa; mereka yg oleh karena bakat-bakat luar biasa telah mencapai ketinggian-ketinggian yg tak mampu dicapai oleh kebanyakan orang. Tetapi, siapa di antara orang-orang yg paling berkuasa telah menunjukkan dirinya tetap tenang dan bersikap berimbang dalam segala pancaindranya dan kuasanya. Di dalam diri mereka yg paling besar dan baik pun terdapat ketidaksamaan dan ketidakseimbangan. Pada umumnya, kekurangan dan sifat-sifat buruk manusia berada dalam rasio terbalik dari kebajikan dan kekuasaan mereka. “Tubuh yg tertinggi memberikan bayangan yg terpanjang”. Di dalam Yesus Kristus tidak terdapat ketidakrataan. Pada Dia tidak ada kelebihan imajinasi di atas perasaan, kelebihan intelek di atas imajinasi, kelebihan kemauan di atas intelek. Di dalam Dia terdapat keserasian antara tenaga tubuh dan jiwa yang tak terputus-putus, di dalam mana melayani yg harus melayani, dan memerintah yg harus memerintah, dan semua bekerja menuju suatu akhir yg gemilang. Di dalam Dia setiap kerahiman adalah sempurna, tak ada yg berlebihan, tak ada yg tidak pada tempatnya dan tidak ada yg kurang. Keadilan-Nya dan belas kasihan-Nya, kasih-Nya yg tiada tara dan kebenaran-Nya, kekudusan-Nya dan pemberian maaf-Nya tidak pernah beradu, yg satu tak pernah meredupkan yg lain. Kekukuhan-Nya tak pernah merosot menjadi keras kepala, ataupun ketenangan-Nya menjadi ketidakperdulian. Kelembutan-Nya tidak pernah menjadi kelemahan, begitu juga ketinggian jiwa-Nya tak menjadi lupa kepada orang lain. Di dalam diri pelayan-pelayanNya yang terbaik pun kebajikan dan kerahiman tidak merata dan sering beradu. Paulus mengalami saat-saat lemah dan bahkan jengkel. Tampaknya ia pernah menyesal bahwa ia pernah menganggap dirinya seorang Farisi didalam Sanhedrin Yunani dan mohon pertolongan kepada partai itu, karena di hadapan prokonsul (Gubernur militer) Felix ia berkata, “Atau biarlah yang di sini mengatakan apakah mereka menemukan adanya tindakan jahat pada diri saya, ketika saya berdiri di hadapan Pengadilan , kecuali untuk satu kali ini, bahwa saya berseru sambil berdiri di antara mereka, mengenai kebangkitan orang-orang mati, saya dipanggil untuk ditanyai oleh anda hari ini”. Yohanes, rasul Kasih, bahkan ingin memanggil api dari sorga untuk menelan orang-orang Samaria yang tidak ramah. Bahkan Ibu Maria harus belajar bahwa diapun tidak bisa mendikte Dia mengenai apa yang harus atau tidak Ia lakukan. Di dalam diri Yesus terdapat keseimbangan yang sempurna, keseimbangan yang sangat mengagumkan pada tiap-tiap kemampuan, dan karunia dan kewajiban dan kuasa. Di dalam seluruh hidup-Nya cara bekerja dalam satu hari tidak pernah menghalangi yg lain, mengajar selama satu jam tidak pernah beradu dengan yang lain. Sambil menunjukkan bahwa Ia menguasai kekuatan-kekuatan alam yg dahsyat, dan Raja dari dunia yg tidak terlihat, Ia memalingkan diri-Nya dan sisihkan kemuliaan-Nya untuk memeluk anak-anak kecil dan memberkati mereka. Sementara Ia harus berjalan di tengah jebakan-jebakan yg secara diam-diam telah disebar untuk kaki-Nya, oleh musuh-musuh-Nya, Ia mampu menghadapi tiap keadaan, dan dapat menyesuaikan diri pada tuntutan setiap saat. “Ia tidak pernah bicara apabila lebih baik diam. Ia tidak pernah diam dimana lebih baik untuk bicara, dan selalu Ia meninggalkan tempat perselisihan sebagai pemenang.” Sikap agung-Nya yg tidak dibuat-buat, seperti digambarkan begitu bagusnya di dalam Injil, dibawa-Nya selama seluruh hidup-Nya, dan terlihat baik di tengah-tengah kemiskinan dan cemooh, di Getsemani dan Kalvari maupun di Bukit Transfigurasi (Perubahan Rupa) dan pada kebangkitan dari kubur.

KEMAHAKUASAAN & KEMAHATAHUAN

7. Para evangelis tidak segan menganggap Tuhan Yesus memiliki sifat-sifat Ilahi, terutama Kemahakuasaan dan Kemahatahuan. Mereka menganggap itu sebagai hal yang wajar seperti sesuatu yang dapat dan harus diharapkan dari pribadi yang begitu tinggi seperti Tuhan Yesus. Betapa luar biasanya kuasa yang Ia gunakan apabila Ia senang melakukannya. Hal itu bahkan meliputi kekuatan alam. Atas perintah-Nya badai menjadi tenang, dan amukan laut terhenti. Dengan senangnya Ia berjalan di atas air seperti di tanah yg kering. Hal ini sampai juga pada dunia roh jahat. Pada kehadiran-Nya setan berteriak ketakutan dan melepaskan cengkeramannya pada korbannya. Kuasa-Nya juga sampai pada dunia penyakit. Tiap macam penyakit pergi atas perintah-Nya, dan Ia sembuhkan yg sakit baik jika Ia berada di dekat ataupun jauh dari mereka. Demikian pula kematian, tiran yg tidak dapat ditawar-tawar, atau pun dilemahkan oleh airmata, atau ditahan oleh kuasa manusia, langsung melepaskan mangsanya ketika diperintah oleh Putera Allah.

Tetapi, Yesus pasti dan sepenuhnya memiliki serangkaian pengetahuan dan kekuatan yg melebihi manusia. Ia mengenal orang, mengenal mereka seperti Allah mengenal mereka. Jadi, Ia melihat sampai ke hati Natanael ketika ia berdiri di bawah pohon ara, Ia melihat ke dalam laut dan uang logam di mulut ikan tertentu, Ia melihat seluruh hidup yang telah lewat dari wanita di dekat sumur, meskipun Ia belum pernah ketemu dengannya. Yohanes menceritakan kepada kita bahwa “tidak perlu seorang pun memberi kesaksian kepada-Nya tentang Manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia” (Yoh.2:25).

Ia mengenal dunia roh jahat. Ia tahu benar ulah Iblis dan setan-setan. Dikatakan-Nya kepada Petrus “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum. Tetapi aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur” (Lukas 22: 31,32).

Ia sering berbicara langsung kepada roh-roh jahat yang menguasai orang, dan memerintahkan mereka untuk diam, keluar dan tidak memasuki lagi mangsa-mangsanya. Ia mengenal BapaNya seperti tak seorang biasa mana pun dapat mengenal-Nya.

“Semua telah diserahkan kepada-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya”.

Akan ditemui kesulitan apabila kita berusaha untuk mempersatukan pengetahuan yang tak terbatas ini mengenai manusia, mengenai dunia yang tak terlihat dan mengenai Allah sendiri, yang dimiliki oleh Putera Allah, dengan pernyataan di dalam Injil Markus bahwa Ia tidak mengetahui hari ataupun jam kedatangan-Nya kembali. Tetapi kesulitan itu tidak lebih besar dari pada yg lain di dalam Injil Yohanes, di mana kita diceritakan bahwa wajah-Nya basah dengan airmata, sementara suara Yang Mahakuasa berseru: “Lazarus keluarlah”. Di dalam kedua kasus itu yg ilahi dan yg manusia terlihat menjadi satu, namun tetap beda.

Demikianlah beberapa kilauan dari kemuliaan moral Kristus yg bersinar di mana-mana di dalam halaman-halaman Keempat Injil. Sejumlah kecil sekali terkumpul di sini. Namun, betapa menakjubkan gambaran yg diperlihatkan! Di dalam sejarah kita tidak sesuatu pun yg menyamainya. Di sini disajikan kepada kita SATU makhluk yg adalah seorang manusia yang benar dan tulen, namun Ia juga adalah manusia idaman, wakil, manusia pola, yg menuntut kesamaan di dalam keumuman kemanusiaan-Nya dengan semua orang, tak berdosa, namun penuh kelembutan dan belas kasihan, lebih tinggi dari yg tertinggi, namun membungkuk kepada yg terendah dan kepada yg paling membutuhkan, sempurna dalam kata dan cara-Nya, selama hidup-Nya dan dalam kematian-Nya!

Siapa yg mengajari para evangelis untuk melukis gambar ini? Pena yg menggariskan kemuliaan-kemuliaan Yesus – bisakah itu lain daripada sebuah pena yg terilhami? Pertanyaan ini menuntun kita kepada bagian kedua tugas kita, yg segera dapat diselesaikan.

PENERAPAN ARGUMENTASI

Tak ada yang lebih jelas daripada aksioma yang sangat umum, bahwa setiap akibat memerlukan musabab yg cukup. Melihat sebuah mesin, rumit, halus, tepat dalam setiap geraknya, kita tahu bahwa itu pasti sebuah hasil seorang mekanik yg handal. Melihat sebuah karya seni, kita tahu bahwa itu adalah hasil seorang artis unggul. Hanya seorang pemahat yg jenius seperti Angelo dapat menghasilkan “Musa” dan hanya seorang pelukis dengan tangan, mata dan otak seorang Raphael dapat melukis “Transfigurasi”. Hanya seorang pujangga dengan bakat-bakat seorang Milton mampu menulis “Paradise Lost”.

Berikut adalah empat catatan pendek mengenai hidup duniawi Tuhan kita. Yg dibicarakan hanya pelayanan-Nya di depan umum, bahkan dinyatakan bahwa tulisan itu tidak menceritakan semua yg telah Ia perbuat di dalam pekerjaan-Nya yg resmi (Yohanes 21:25). Para penulis memorial ini adalah orang-orang yg namanya terkenal sekali di seluruh dunia, tetapi lebih dari nama-nama mereka kita tidak tahu. Yg pertama adalah seorang pemungut cukai di bawah pemerintahan Roma, yg kedua dipercaya pada umumnya, adalah Yohanes Markus yg untuk beberapa waktu menjadi pembantu Paulus dan Barnabas, dan kemudian menjadi kawan dan rekan kerja Petrus; yg ketiga adalah seorang tabib dan teman baik dan rekan kerja dari Paulus; dan yg keempat adalah seorang nelayan. Dua dari mereka, Matius dan Yohanes adalah rasul Yesus, apakah yang lain, Markus dan Lukas, pernah melihat-Nya selama Ia tinggal di dunia, tidak dapat dipastikan.

Keempat orang itu, yg tidak terlatih dalam seni menulis, tidak mengenal ideal-ideal kepurbakalaan, menulis buku2 kenangan mengenai hidup Yesus. Tiga dari mereka kebanyakan meliput hal-hal yang sama, kejadian-kejadian, percakapan dan mujizat-mujizat yg sama. Sementara mereka dipenuhi dengan rasa kagum terhadap Guru mereka, namun mereka tidak pernah sekalipun membesar-besarkan sifat-sifat-Nya yg hebat. Apa yg mereka lakukan hanyalah meliput tindakan-tindakan dan pembicaraan-Nya dengan hampir tidak pernah mengeluarkan ungkapan apa-apa. Memang, seorang dari mereka, Yohanes, mencampuri ceritanya dengan komentar reflektif, tetapi Yohanes dengan sangat hati-hati menghindari mengeluarkan kata-kata pujian. Di dalam ceritanya ia hanya berhenti untuk menerangkan suatu referensi mengenai sebuah ucapan Tuhan yg sangat dalam artinya, atau untuk menekankan suatu kebenaran yg sangat penting. Namun, tanpa usaha sekecil-kecilnya untuk menggambarkan sebuah karakter, keempat orang ini telah menghasilkan sesuatu yg tidak pernah atau tidak mungkin dihasilkan oleh siapapun – mereka telah menyuguhkan kepada dunia potret seorang Manusia Ilahi, Penyelamat Agung.

Matius menggambarkan Dia sebagai Mesias Yang Dijanjikan, kebanggaan Israel, Putera Daud, Putera Abraham, Tokoh di dalam siapa perjanjian dan janji-janji semua terpenuhi; Tokoh yang melakukan segala kebaikan. Markus memperlihatkan Dia sebagai Hamba Luarbiasa dari YAHWEH yg melakukan pekerjaan yg diabaikan oleh manusia; dan memenuhi kebutuhan semua yg ada di sekitar. Lukas menggambarkan Dia sebagai Kawan manusia dengan kasih yg begitu dalam dan komprehensif, belas kasihan-Nya begitu ilahi sehingga tenaga penyelamatan-Nya mencapai baik orang Yahudi ataupun bukan, yg terendah sampai yg tertinggi, si pencuri, si pelacur maupun yg beradab, bermoral, yg besar. Yohanes menggambarkan Dia sebagai Putera Allah, Sabda menjadi daging, sebagai terang untuk dunia gelap, sebagai roti untuk dunia kelaparan, sebagai Hidup untuk dunia mati. Matius menulis untuk orang Yahudi, Markus untuk orang Roma, Lukas untuk orang Yunani dan Yohanes untuk orang Kristen, dan mereka semua menulis untuk semua keluarga dan golongan, dan lidah dan bangsa di seluruh dunia dan untuk selamanya. Yg tidak dapat dilakukan oleh para filsuf, pujangga, sarjana atau artis, yg telah gagal dilakukan oleh orang-orang dengan daya pikir tertinggi, oleh genius yg paling hebat, dapat dilaksanakan oleh empat orang tidak terlatih – mereka telah menyuguhkan kepada dunia Putera Manusia dan Putera Allah dengan segala kesempurnaan dan kemuliaan-Nya.

SEBUAH FAKTA YG HARUS DIJELASKAN

Bagaimana bisa terjadi bahwa orang-orang yg tidak terpelajar dan bodoh ini (Kisah para Rasul 4:13) dapat menyelesaikan tugas yang begitu besarnya?

Marilah kita tetap pegang aksioma umum kita bahwa setiap akibat harus mempunyai musabab yang cukup. Penjelasan apa akan kita berikan untuk hasil yg gemilang ini? Dapatkah dianggap pekerjaan mereka berasal dari orang2 jenius? Tetapi banyak orang sebelum dan sesudah zaman mereka memiliki kejeniusan sangat tinggi, dan orang berbakat itu telah bekerja di bidang-bidang serupa dengan bidang keempat evangelis kita itu. Orang-orang terhebat dari bangsa-bangsa kita – dari Kaldea, Mesir, India, China ataupun Yunani – telah mencoba meggambarkan sebuah karakter sempurna - telah berusaha sekuat tenaga untuk menggambarkan seseorang mirip Allah. Dan apakah hasilnya? Jika ia tidak ternodai dengan nafsu dan brutalitas orang yg telah jatuh, ia seorang penonton yg tanpa belas kasihan dan perasaan memandang kesengsaraan dan kesusahan dunia. Dalam kedua kasus ini, karakter tersebut memperoleh rasa takut, tetapi bukan kasih sayang dan kepercayaan orang lain.

Kembali kita bertanya, Bagaimana para evangelis mengatasi kesulitan kemanusiaan yg amat besar ini dengan keaslian dan presisi yg begitu sempurna? Menurut akal sehat hanya mungkin dua jawaban:

1. Di hadapan mereka terdapat Kristus yg pribadi dan historis. Untuk membuat manusia-Allah dari Injil sama tak mungkinnya dengan orang menciptakan sebuah dunia. Ucapan yg hampir tidak sopan dari Theorore Parker di dasarkan pada kebenaran mutlak: “Untuk memalsukan Yesus dibutuhkan seorang Yesus”.

2. Mereka menulis dengan terilhami oleh Roh Allah. Tidak mugkin lain. Tidak cukup untuk mengatakan bahwa Contoh Ilahi ada di depan mereka: mereka harus memiliki sesuatu lebih dari itu, jika tidak, mereka tidak mungkin berhasil.

Anggap saja bahwa keempat orang itu : Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, secara pribadi hadir pada pelayanan Injil Yesus, bahwa mereka melihat-Nya, mendengar-Nya dan menemani Dia selama tiga tahun. Namun menurut pengakuan mereka sendiri, mereka tidak memahami-Nya. Mereka bersaksi bahwa para pengikut, para Rasul di antaranya, hanya mendapat pengertian yg sangat minim tentang orang-Nya dan misi-Nya dari pengajaran-Nya yg sangat tegas. Mereka sampaikan kepada kita mengenai sebuah ketidakmampuan dan kelemahan dalam segala ketakutan mereka terhadap-Nya, Matahari kebenaran menyinari mereka dan sekitar mereka, dan mereka bahkan melihat lebih sedikit! Ia berkali-kali memberitahu mereka mengenai kematian-Nya yg mendekat dan kebangkitan-Nya kembali, namun mereka tidak memahami-Nya, mereka bahkan mempertanyakan di antara mereka sendiri, apa artinya bangkit dari kematian (Markus 9:10) – kasihan mereka! Namun, orang-orang ini, suatu waktu begitu buta dan bebal, telah menulis empat karya kecil tentang pribadi dan pekerjaan Tuhan Yesus, yg oleh studi dan riset mengenai Umat Kristen selama 1800 tahun tidak dapat dituntaskan, dan yg kritik yg memusuhi-Nya sama sekali gagal untuk mendiskreditkan.

Namun ini masih belum semuanya. Orang-orang lain telah mencoba menggubah Hidup dan Karya Yesus. Bandingkan itu dengan karya keempat Injil kita.

INJIL-INJIL PALSU

Kisah-kisah Injil hampir tak pernah menyebutkan berapa lama Yesus tinggal di Nazareth. Kerena kekosongan yg terjadi ini gereja menjadi tidak sabar. Selama empat abad pertama banyak diusahakan untuk mengisi kekosongan ini. Beberapa di antara injil-injil yg palsu itu masih tetap ada, terutama yg mengenai masa kecil dan remaja Sang Penyelamat, dan dapat diambil pelajaran untuk memperhatikan bagaimana mereka berhasil yg mencoba menyingkap selubung yg menutupi masa kecil Kristus. Biarlah orang lain menyebutkan kontras antara catatan-catatan Perjanjian Baru dengan injil-injil palsu itu:

“ Perkaranya demikian: Injil-injil kita memberi kita sebuah gambaran

yg gilang-gemilang tentang seorang Penyelamat perkasa, injil-injil

dongeng tentang penyelamat yg keji. Di dalam Injil kita Ia memper-

lihatkan kearifan yg luarbiasa, di dalam injil dongeng sebuah ke-

dunguan yg hampir sama luarbiasanya. Di dalam Injil kita Ia didan-

dani dengan segala keindahan kekudusan; di dalam injil dongeng aspek

karakter ini sama sekali tidak ada. Di dalam Injil kita, tak satu pun

noda dosa mencemarkan karakter-Nya, di dalam injil dongeng bocah

Yesus bersifat picik dan jahat. Injil kita memperlihatkan kepada kita

sebuah moralitas yg mahamulia, sedangkan tak seberkas sinar pun

menerangi injil para pendongeng. Mujizat-mujizat yg satu dan yg

lain merupakan kontras pada setiap titik”. (Row).

Injil-injil ini telah ditulis oleh orang-orang yang hidup tidak lama setelah masa apostolik, oleh orang-orang Kristen yg ingin menghormati Sang Penyelamat dalam segala apa yg mereka ucapkan tentang Dia; oleh orang-orang yg menghadapi gambaran Dia seperti yg diberikan oleh Injil. Namun orang-orang ini, banyak dari mereka lebih terpelajar daripada para Rasul, dengan keuntungan dua atau 3 abad pemikiran dan pelajaran Kristiani, tidak mampu membuat sebuah sketsa khayalan tentang Yesus Anak tanpa menyinggung rasa kesopanan kita, dan menggoncangkan rasa moral kita. Jarak antara Injil-injil dari Perjanjian Baru dan Injil-injil palsu itu diukur dengan jarak antara hasil dari Roh Allah dan hasil pemikiran manusia yg telah jatuh.

“HIDUP-HIDUP KRISTUS” YANG TAK TERILHAMI

Mari kita ambil ilustrasi yg lain. Abad ke-19 sangat subur di dalam menghasilkan apa yg biasa disebut “Hidup-hidup Kristus”. Berbeda dengan empat “Hidup” di dalam Injil, barangkali yg terkomplit dan terbaik dari yg ditulis oleh orang-orang berbicara Inggris,- Andrew, Geikie, Hanna dan Edersheim -, penulis Injil-injil kita tidak memiliki model untuk membingkai karya mereka. Jalan yg mereka tempuh belum pernah diinjak oleh kaki manusia. Para penulis “Hidup Kristus” tidak hanya mempunyai cerita-cerita tak tertandingi ini sebagai pola mereka dan sumber utama dari semua bahan mereka, tetapi tak terhitung banyaknya “Hidup-hidup” lain semacam itu yang seakan-akan memberi usul mengenai bentuk dan konstruksi, kultur dan pene-litian selama delapanbelas abad yg ada di belakang mereka. Tetapi, apakah ada satupun yang berani sekejap saja menempatkan “Hidup-hidup” ini se-bagai saingan Injil-Injil kita? Banyak informasi dan bantuan dapat diperoleh dari pekerjaan sarjana-sarjana Kristen itu, dan orang-orang lain yang telah bersusah payah di bidang yang sama, namun berapa jauhnya mereka semua itu berada di bawah catatan Perjanjian Baru, tiada gunanya diperlihatkan. Memang, semua tulisan macam itu sudah kuno dan hampir tidak dibaca, meskipun mereka masih masih muda usianya; begitu cepat karya manusia busuk dan mati.

Mari kontrasnya kita perhatikan yang meliputi ukuran atau massa. Buku Andrew terdiri dari 615 halaman; Geikie lebih dari 1,200; Hanna lebih dari 2,100, Edersheim 1,500 halaman. Keempatnya digabung memberi tidak kurang dari 5,490 halaman, cukup pada hari-hari sibuk sekarang ini, untuk memerlukan satu bulan hanya sekali baca.

Bagster mencetak keempat Injil dengan 82 halaman; Oxford dengan 104 hal.; Amer. Rev. 129. Di dalam Bagster Matius hanya terdiri dari 23, Markus 13, Lukas 25 dan Yohanes 21. Kurang dari 100 halaman dari keempat Injil dibanding lebih dari 5400 dari keempat “Hidup”.

Tak terhitung banyaknya tulisan, kecil dan besar, dalam bentuk komentar-komentar, ekposisi, catatan, keragaman dan sejarah telah ditulis di dalam catatan-catatan pendek ini. Bagaimana dapat terjadi bahwa begitu banyak kebijakan dan pengetahuan telah Ia kumpulkan di tulisan-tulisan kecil ini? Siapa yang mengajari para evangelis kemampuan super-manusiawi mengenai expansi dan kontraksi, mengenai penggambungan dan pemeng-galan, mengenai penyingkapan di dalam kata dan penyingkapan lagi di bawah kata-kata? Siapa yang telah mengajari mereka sehingga dapat menggambarkan pribadi dan karya Tuhan Yesus hingga gambaran itu memuaskan orang yang paling dungu dan yang paling terpelajar, disesuaikan kepada pikiran yang terendah kapasitasnya, dan yang dapat menjangkau paling luas? Dari mana mereka memperoleh kecekatan yang tak terbatas yang mereka perlihatkan di dalam mengelompokkan kejadian-kejadian, pembicaraan-pembicaraan dan tindakan-tindakan sedemikian cara sehingga di hadapan kita terlihat keelokan abadi dari sebuah hidup yang sempurna. Hanya terdapat satu jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini, tidak mungkin ada yang lain. Roh Allah yang hidup memenuhi pikiran mereka dengan kebijakan yang tak mungkin salah, dan menguasai cara ber- bicara mereka yang manusiawi. Bagi Roh yang kreatif itu, yang telah mengisi dunia ini dengan organisme hidup yang begitu kecil sehingga hanya mikroskop dapat mengungkapkan keberadaannya, bukanlah sesuatu yang sulit untuk memberi kami potret Putera Manusia yang Maha-Agung dalam kompas yang begitu terbatas. Bagi manusia itu mustahil.

INSPIRASI TERDAPAT DI SELURUH ALKITAB

Sekarang, kalau diakui bahwa keempat Injil itu terilhami, kita terpaksa menurut segala akal sehat untuk mengakui bahwa seluruh sisa Perjanjian Baru pun terilhami. Karena semua komunikasi yang terdapat di Kisah Para Rasul, Surat-surat dan Wahyu semua telah berada di dalam Injil dlm bentuk benih, seperti juga Pentatuk menyimpan benih bagi Perjanjian Lama.

Jika Roh Kudus yang membuat Keempat Injil, maka tak kurang tak bukan Ia juga yang membuat seluruh Perjanjian Baru. Kalau Dia pencipta benihnya, maka Dia juga yang mengembangkannya menjadi buah masak. Jika Dia membuat benihnya, maka Dia juga harus memberi pertumbuhannya. Me-ngenai kebenaran yang fundamentil ini para penulis komunikasi-komunikasi yang lebih baru memberi kesaksian yang sangat tegas. Paulus, Yohanes, Yakobus, Petrus dan Yudas masing-masing menyatakan bahwa apa yang harus mereka sampaikan datang dari Kristus melalui Roh-Nya.

Tambahan lagi, jika kita mengakui inspirasi Perjanjian Baru, maka kita juga harus mengakui hal itu untuk Perjanjian Lama. Karena, satu hal telah di- tetapkan oleh studi keimanan dan reset mendalam para sarjana evangelik, yaitu bahwa Injil di dalam Perjanjian Lama mengandung benih pewahyuan yang terdapat di Perjanjian Baru. Bapa Latin berkata mendalam dan benar ketika ia menyatakan, “Perjanjian Baru tersembunyi di dalam Yang Lama, dan Yang Lama tersingkap di dalam Yang Baru”. Yudaisme kuno memiliki satu suara tertinggi bagi orang-orang terpilih, dan suara itu bersifat ramalan.

Suara itu adalah kata yang signifikan, Tunggu. Seakan-akan ia mengingat-kan Israel bahwa institusi Mosaik hanyalah temporer dan khas, dan bahwa sesuatu yang jauh lebih baik dan kudus akan menggantikannya, dan karena itu dikatakannya Tunggu. Tunggu, Imam yang benar akan datang, Imam yang lebih besar dari pada Aron, lebih besar dari Melkisedek – yang mana hanya bayangan tipis, gambaran buram. Tunggu, dan Nabi yang benar, se- perti Musa, lebih besar dari Musa, akan datang. Tunggu, dan pengorbanan yang sungguh, yang membuat semua pengorbanan lain menjadi seperti gambar yang remang-remang, akan dilaksanakan dan dosa dihilangkan. Jika ada orang yang menolak inspirasi Perjanjian Lama, cepat atau lambat ia akan menolak inspirasi Perjanjian Baru. Karena kedua itu terikat tak terpisahkan. Jika yang satu jatuh, akan jatuh pula yang lain. Sekarang pun akibat-akibat pembawa malapetaka dari jalannya prosedur itu telah nampak di antara Umat Kristen. Bertahun-tahun sudah perselisihan mengamuk me-ngenai kelayakan dipercaya, integritas dan otoritas Perjanjian Lama. Tidak lama setelah itu seorang yang di-identikkan dengan party penyerang yang diatur menghadapi Injil itu, menyatakan bahwa kemenangan telah diperoleh dan tinggal sekarang menentukan jumlah ganti rugi. Sangat dapat diperha-tikan bahwa pergumulan itu memang banyak berkurang terhadap Perjanjian Lama, meskipun tidak terlihat tanda-tanda melemahnya iman terhadapnya pada pihak anak-anak setia Tuhan, dan sekarang perkelahiannya ditujukan dengan lebih dahsyat kepada Perjanjian Baru, dan terutama sekali mengenai Pribadi Tuhan Yesus Kristus. Orang-orang yang Kristen setidaknya dalam nama, yang memegang jabatan tinggi di universitas besar dan bahkan sekolah-sekolah Teologi, tidak ragu mencurigai catatan Perjanjian Baru mengenai kelahiran suci Tuhan Yesus, kebangkitan-Nya dari kematian, dan janji-Nya akan kembali ke dunia ini dalam keagungan dan kuasa. Orang tidak dapat meninggalkan Perjanjian Lama tanpa mengendurkan pegangan- nya cepat ataupun lambat, pada yang Baru.

Kristus adalah inti dari seluruh Injil, seperti juga Dia adalah inti dari semua maksud dan nasehat Allah. Keempat evangelis mengangkat hidup dan kemuliaan moral Putera Manusia, dan menempatkannya di sisi gambar Mesias yang telah disketsa oleh para nabi, yang historis di samping yang bersifat ramalan, dan mereka perlihatkan betapa tepatya kecocokan keduanya. Selama Injil tetap tidak dirusak, dan tetap diyakini oleh anak-anak Allah, maka tetap juga doktrin otoritas tertinggi Alkitab terjamin.


Allah telah bersabda kepada para leluhur melalui para nabi: Dia sekarang bersabda kepada kita dalam Putera-Nya yang telah Ia jadikan Ahliwaris dari segala hal. Dalam kedua hal baik melalui para nabi atau pun melalui Putera-Nya, yang bersabda adalah ALLAH.

Diterjemahkan seorang ibu, Tim Penerjemah THE FUNDAMENTALS.